text

Selamat Datang di Blog SMP N 2 Kepil Wonosobo ... Sekolah SEJUTA IMPIAN, ... Awali Suksesmu Dari Sini ... Mulailah segala sesuatu dengan BISMILLAH ...
Tampilkan postingan dengan label Oase Otobiografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Oase Otobiografi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 September 2022

Oase -13 : Merdeka Mengajar di Masa Merdeka Belajar, Perjuangan Guru

Kegiatan penanda-tanganan kesepakatan Anti Perundungan dilaksanakan oleh seluruh warga  SMPN 2 Kepil pada hari Senin, 29 Agustus 2022. Sungguh miris rasanya mendengar cerita perundungan/pembullyian murid kepada gurunya. Kami bisa mengerti dan memahami bagaimana berkecamuknya rasa dalam hati teman-teman guru yang diperlakukan sangat tidak sopan seperti itu. Oleh karena itu kami mohon ijin menuliskan  hal ini menjadi artikel bebas bertema Oase, Perjuangan Guru dalam Era Merdeka Mengajar Di Masa Merdeka Belajar. Kata "merdeka" yang dulu sangat kuat pengaruhnya dalam memotivasi perjuangan, kini banyak disalahgunakan oleh banyak pihak. Sebagian memahami merdeka berarti bebas sebebas-bebasnya, bebas berkata apa saja, bebas melakukan apa saja dan bebas berbuat apa saja tanpa memperdulikan aturan dan norma yang ada. Tak ayal banyak terjadi penyimpangan dalam kehidupan, tak terkecuali di dunia pendidikan. Maka sudah sangat tepat jika pemerintah menggalakkan kesepakatan menolak pembullyian, perundungan dan juga kekerasan seksual di sekolah. Korban perundungan atau pembullyian bukan saja menimpa mereka yang lemah, tetapi bisa juga mereka yang kuat. Bahkan yang lebih parah ketika perundungan bukan hanya antar murid tetapi dilakukan oleh murid kepada guru yang seharusnya sangat dihormati oleh murid-muridnya.

Guru itu manusia biasa yang punya hati yang bisa emosi. Saat sekolah dulu, mungkin kita pernah mendapati guru yang terlihat sedih atau murung, dan kita tidak berani bertanya ada apa, apa yang terjadi, apa penyebabnya. Jika pembaca kebetulan keluarga guru atau punya teman dekat seorang guru, maka sedikit banyak pasti tahu bagaimana sejatinya kehidupan seorang guru, apalagi jika pembaca ternyata seorang guru. Bagaimana kehidupan dan kepribadian guru sesungguhnya bisa diintip aktifitasnya di ruang guru. Di sana akan ditemui berbagai macam karakter guru, ada menikmati rehat dengan santai, bercanda tawa atau berakting lucu, tetapi ada juga masih serius dengan pekerjaannya, ada lagi yang hobi bercerita banyak hal seakan tahu semua seluk kehidupan, tetapi ada juga guru yang sangat pendiam dan enggan bersuara, sementara itu ada juga yang suka mengeluh seakan orang paling susah, tetapi ada juga yang adem-ayem seakan tak pernah punya masalah. Inilah uniknya guru, dibalik penampilan prima, mereka tetaplah manusia biasa yang tak lepas dari masalah, bisa sedih, galau, jengkel, marah atau kecewa.

Lanjut, terkait marah atau kecewa pernahkah pada masa sekolah dulu membuat guru marah, kecewa atau bersikap tidak hormat. Sungguh, sikap tidak hormat kepada guru adalah sikap tercela seorang murid. Merasa tidak dihormati, tidak dihargai dan diremehkan adalah hal paling menyakitkan hati guru, dimana guru merasa seakan dihina oleh muridnya. Berkaitan dengan tema kali ini kita akan sedikit belajar dari seorang teman yang bernama Pak Qomar (nama samaran). Pak Qomar menceritakan secara khusus kepada kami untuk dijadikan inspirasi, diawali dari peristiwa yang dialaminya saat ia duduk di kelas III-A1 SMA swasta di Yogyakarta, sekitar 30 tahun yang lalu. Ia merasa bersalah karena ikut-ikutan mendemo salah satu gurunya yang tidak berkenan masuk di kelasnya karena sesuatu hal, dan kejadian itu justru membuat gurunya marah dan merasa dipermalukan. Sebenarnya ia dan teman-temannya satu kelas sudah meminta maaf kepada beliau (Pak Agus, Guru B. Indonesia), tetapi ia tetap merasa bersalah dan merasa sangat menyesal. Kami bisa merasakan betapa hancur perasaannya, betapa sakit hatinya dan pastinya menjadi peristiwa yang sulit dilupakan.

Cerita berlanjut, Qodarulloh setelah sekitar 12 tahun berlalu kejadian yang sama terulang, tetapi saat itu Pak Qomar adalah guru yang diperlakukan tidak hormat oleh salah satu muridnya di SMK. Sang murid spesial ini berinisial N, nama yang masih saja melekat dalam ingatannya walau ia telah memaafkannya.  Masih terbayang saat murid itu meremehkan, merendahkan dan menghinakan dirinya dihadapan sekitar 30-an murid lainnya. Mungkin anak itu merasa lebih kaya karena anak dari seorang  juragan/peternak ayam petelur yang sukses. Pak Qomar muda yang pernah memegang Ban Hitam Karate itu serasa mendidih darahnya ketika dipermalukan oleh muridnya sendiri. Alhamdulillah, ia bersyukur masih bisa menahan dan mengendalikan emosinya. Tidak terbayang apa yang akan terjadi jika guru muda itu emosi, kiranya cukup dengan 2-3 jurus maka murid itu akan tersungkur berkalang tanah. Ia merenung, beristighfar dan menyesalkan mengapa ini harus terjadi. Ia hanya diam,  dan peristiwa ini belum ia ceritakan kepada siapapun sebelumnya. Ia sempat down dan malu, percaya diri menurun. Katanya, ternyata berat menjadi guru. 

Mengeluh, Ternyata Berat Menjadi Guru

Ternyata memang berat menjadi guru, pekerjaannya banyak, bermacam-macam, berkelanjutan hingga terkadang harus dibawa pulang. Membuat RPP, menyiapkan materi ajar, masuk kelas untuk mengajar, melakukan tes, mengolah nilai dan masih mengerjakan administasi lainnya. Belum lagi jika ada kelas yang susah diatur, butuh energi dan mental ekstra dimana hal itu adalah beban tersendiri, terlebih lagi jika ada murid yang bersikap meremehkan atau berani pada guru seperti pada cerita di atas. Hal begini mungkin tidak terjadi pada sekolah bonafid, sekolah pavorit atau sekolah besar yang berada di kota, yang semuanya sudah terseleksi dan terkondisi dengan baik. Sangat berbeda dengan sekolah kecil di kampung yang level kualitasnya masih di bawah, yang lingkungan kurang kondusif. Di sekolah kecil seperti ini beratnya beban yang dipikul guru sangat terasa, sudah gajinya tak seberapa tidak sebanding dengan besarnya tanggung jawab. Terasa lebih berat lagi apa yang dialami Pak Qomar di atas, muridnya yang waktu itu hanya membayar 150 rupiah untuk 1 jam pelajaran, berani melakukan tindakan keji, tidak berakhlak dan tidak beradab kepada guru yang seharusnya dihormati. Hal-hal seperti inilah yang bisa merusak keikhlasan, menyemai penyesalan, menabur kegalauan hingga menyuburkan iklim bagi guru untuk mengeluhkan keadaan. 

Guru mengeluhkan keadaan sebenarnya bukanlah hal baru, bukan pula hal yang tabu. Mengeluh atau bahasa jawanya ngudoroso adalah hal biasa. Kenyataan seperti ini nyatanya ada di kehidupan guru, mungkin saja sedang ada masalah di sekolah atau di rumah. Hanya saja diantara satu dengan yang lainnya berbeda-beda dalam menyikapi masalahnya. Ada yang mampu menyimpan dengan rapi seakan tidak punya masalah dan tidak pernah mengeluh seakan tidak punya beban sama sekali, tetapi ada juga yang hingga dijuluki tukang mengeluh saking seringnya mengeluh. Tapi kiranya perlu direnungkan jika menghadapi kemungkinan adanya pertanyaan terkait hal guru mengeluh, bolehkah? wangunkah? dan adakah? Pertama, bolehkah guru mengeluh, ya pastinya boleh dan sah-sah saja jika guru mengeluh. Kedua, wangunkah guru mengeluh, ya wangun saja, karena itu manusiawi. Ketiga, adakah guru yang mengeluh, ya tentu saja ada, tidak hanya satu dua, banyak malah. Mungkin fenomena ini sesuai dengan ungkapan "mengeluh membuat perasaan menjadi lega dan plong". Bermacam-macam hal yang menjadi bahan keluhan, mulai dari mengeluhkan tubuh yang capek, mengeluh sakit, mengeluh keuangan, mengeluh keluarga (anak, pasangan atau orangtua), mengeluhkan kondisi alam, mengeluhkan pekerjaan, hingga mengeluhkan beratnya perjalanan. 

Mengeluhkan beratnya perjalanan, inilah yang kami rasakan sebagai guru yang rumahnya paling jauh, jarak tempuh 100 km tiap hari, menyeberang 197 sungai (meliputi sungai besar/kecil, selokan dan got), melintasi 9 kecamatan, 3 kabupaten dan 2 propinsi. Membutuhkan 60-90 menit sekali jalan dengan kecepatan yang tergantung dengan kondisi perjalanan, kondiri kendaraan dan kondisi kesehatan. Jika kondisi normal maka walau jaraknya jauh terasa biasa, tetapi jika kondisi hujan maka akan berbeda ceritanya, dan berbeda lagi jika kondisi ngantuk saat berkendara (hampir setiap hari saat pulang), dan menjadi lebih berat lagi jika kondisi tubuh sedang sakit. Inilah resiko guru pelaju, sakit tidak diakomodir oleh aplikasi Presensi Android berbasis lokasi, harus hadir bersama Androidnya di lokasi bekerja bagaimanapun kondisinya. Itulah yang pernah kami alami ketika Qodarulloh diberi anugerah sakit, dalam kondisi tubuh lemah tetap berangkat karena tidak ingin dicatat membolos (tidak presensi). Suatu saat kondisi tubuh benar-benar tidak mampu lagi untuk dipaksakan untuk berdiri dan naik motor  ke sekolah maka bolos (tidak presensi) menjadi pilihan terakhir (sudah 2 kali bolos). Saat seperti ini kadang muncul perasaan seakan kami adalah guru yang paling susah, paling menderita, paling sengsara, paling berat sehingga paling berhak mengeluh. 

Merasa paling berhak, itulah rasa yang menjebak hati kita, seakan kita satu-satunya, seakan tidak ada orang lain yang juga menderita, padahal di luar sana masih banyak orang lain (guru) mengalami hal serupa, bahkan bisa jadi lebih susah dan perjuangannya lebih berat. Seperti ibu guru SD yang pernah kami tuliskan di edisi terdahulu, ia harus sudah bersiap sejak sebelum subuh, lalu naik motor menuju penitipan sepeda, lanjut menunggu untuk naik bis, turun dari bis masih harus naik ojek ke SD yang berada di lereng gunung di Temanggung. Hal itu dilakukan tiap hari, bertahun-tahun dan itu dijalani dengan baik. Ternyata yang bisa menjadi masalah seseorang ada banyak hal, tidak saja tentang jauh dekatnya perjalanan. Yang rumahnya tidak sejauh kami, bahkan mungkin kurang dari 5 kilometer bukan berarti tanpa masalah, ada saja ujian kesulitan yang menjadi masalah kehidupan. Ada yang diberi sakit, ada yang diberi kesulitan ekonomi akibat bunga yang berbunga, ada juga yang terkait keluarga (anak, pasangan atau orangtua) dan masih banyak lagi. Saat diberikan masalah atau kesulitan, yang perlu diyakini bahwa kita bukanlah satu-satunya orang yang menderita.

Sungguh, kita bukan satu-satunya orang yang menderita, sebagai guru kita tak usah mencari jauh-jauh, coba perhatikan murid-murid kita. Lihat baju, celana/rok, dan sepatu mereka, maka kita akan mengelus dada manakala melihat sepatu yang robek, kumal atau bahkan ujungnya terbuka seperti mulut buaya. Orangtuanya bukan tidak tahu atau tidak mau membelikan, tetapi tidak tau harus bagaimana lagi, hanya sebatas berkata "besok ya jika sudah ada rejeki". Lebih detil lagi jika silaturahmi ke rumahnya (home visit) maka air mata akan mengalir menyaksikan kondisi rumahnya, dimana kamar tamu, kamar tidur dan dapur tanpa sekat berkumpul menjadi satu. Makanan dan pakaian yang penting ada, memang mau menuntut kepada siapa. Jangankan minta dibelikan sepatu, sekedar mau cerita bahwa pensilnya hanya tinggal 2 senti saja sang anak tidak sampai hati. Itulah kenyataan yang ada di sekeliling kita, banyak orang di luar sana yang tidak sedang baik-baik saja. 

Kami tidak akan menuliskan kesimpulan apapun sebagai penutup karena pada dasarnya tulisan ini hanyalah motivasi untuk diri sendiri. Hakekatnya setiap manusia diberikan ujian, ada yang terlihat ringan, ada yang terasa sangat berat, ada yang berulang-ulang dan terkadang datang silih berganti. Sayangnya, datang silih bergantinya ujian membuat seseorang melupakan karunia Alloh yang lain yang sangat banyak, yang bahkan tak terhitung jumlahnya. "Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, Allah benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS An-Nahl : 18).  Dan satu hal yang membuat tidak sadar betapa banyaknya nikmat Alloh adalah karena kurangnya rasa syukur. “Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhoi; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.” (QS An-Naml: 19). Dari dua ayat Al-Quran tersebut cukuplah menjadi hujah bahwa tidak ada yang lebih baik dan lebih utama dari bersyukur. 

Bersyukur, hanya itu yang dapat kami (penulis) sampaikan. Bagaimana tidak bersyukur, jika kami yang hanya anak dari petani dan buruh serabutan, yang saat SD-nya tukang mencari rumput dan kayu bakar, yang saat SMP-nya ikut menjadi buruh cangkul dan gali sumur, dan yang saat SMA-nya masih kembali merumput, buruh cangkul dan juga buruh bangunan, akhirnya bisa menyelesaikan kuliah walau sambil terus merumput dan jadi kuli bangunan di saat libur. Bagaimana tidak bersyukur, kami yang sehari setelah wisuda langsung mau diajak bekerja di perumahan elit Tionghoa dengan pangkat  LETU (laden tukang), yang tak lain pembantu tukang, mengaduk semen, membawa material itu - akhirnya diterima bekerja sebagai guru, bagaimana kami tidak bersyukur. Mari kita terus bersyukur, dalam situasi yang sudah merdeka ini kita tetap dituntut harus berjuang, berjuang menjadi pendidik yang berusaha untuk bisa memberi motivasi anak-anak menuju sukses di masa depan, insyaAlloh.

Selasa, 16 Maret 2021

Oase -12 : Marwah Guru, Refleksi Guru di Masa Pandemi

Dalam beberapa hari ke depan jika diukur dengan  hitungan hari, maka jumlah hari anak-anak tidak berangkat ke sekolah dan hanya belajar di rumah sudah genap satu tahun. Satu tahun dalam masa pandemi, anak-anak sekolah terpisah dan jauh dari guru, begitu juga guru tidak bisa mengajar siswa dengan semestinya. Situasinya sangat berbeda, terkungkung dalam kecemasan dan ketidakpastian, terasa kosong dan hampa, sangat jauh dari yang diharapkan. Pandemi ini menyebabkan berbagai keterbatasan dalam banyak hal, mulai dari sektor kesehatan, pendidikan, sosial, ekonomi, religi hingga pariwisata. Sektor pendidikan adalah salah satu yang paling berdampak, membuat perubahan yang cukup frontal dalam kegiatan pembelajaran, mulai dari pola, model, media hingga metodenya. Bagi seorang guru yang berjiwa pendidik, situasi ini terasa asing, tidak nyaman dan sangat tidak menyenangkan. Rasanya ada sesuatu yang hilang dari kehidupannya, kehilangan peran pendidik, kehilangan kedekatan hati, dan kehilangan kebahagiaan  dalam membimbing anak didik dalam belajar tentang banyak hal.

Proses pembelajaran dalam masa pandemi ini memang masih bisa berlangsung dan berjalan dengan model pembelajaran jarak jauh (PJJ), tetapi dari sisi rasa, nuansa dan semangatnya sangat jauh berbeda. Bercampur bermacam rasa berkecamuk dalam dada, ada emosi yang tertahan, ada rindu yang terpendam, ada juga galau tak karuan karena berada dalam ketidak-kepastian. Pandemi yang semula diprediksi dan diharapkan segera berlalu ternyata berkepanjangan dan tak tahu akan sampai kapan. Sungguh, guru tanpa murid serasa kosong, gelap gulita ibarat langit mendung yang tak berbintang, harapan seakan hampa seperti tak bersambutnya cinta seorang prajurit pada seorang gadis yang ternyata putri raja. Murid adalah nafas bagi kehidupan seorang guru, wahana berbagi asa kehidupan, tempat mencurahkan perhatian dan kasih sayang untuk berbagi ilmu, pengetahuan, keterampilan dan spiritual. Tanpa murid, maka guru akan banyak kehilangan nilai-nilai kehidupan, termasuk citra dan marwahnya.

Marwah guru itulah yang sekarang sedang berangsur pudar, diterjang pandemi yang mengoyak-ngoyak dunia pendidikan menjadi terlihat ambyar. Hal ini sangat terasa ketika beberapa pekan yang lalu penulis bertemu dan berbagi cerita dengan seorang teman seperjuangan, yang pernah bekerja bersama dalam waktu yang cukup lama. Sekitar 20 tahun lalu penulis sering ikut bekerja dalam beberapa proyek bangunan, dimana penulis menjadi pembantu tukang (laden) sementara teman tersebut adalah salah satu tukang di antara  tukang senior lainnya. Dalam berbagi cerita itu ada satu kalimatnya yang terasa mengaduk-aduk rasa, "enak ya jadi guru, ora bendino kerjo tapi bayare podo", artinya "enak ya jadi guru, tidak tiap hari kerja tapi gaji tetap sama". Kalimat itu disampaikan dengan lugas, lepas tanpa beban dan tanpa rasa sungkan karena merasa dekat, merasa pernah sama-sama bekerja kasar di proyek bangunan. Penulis yang pernah hidup kasar bersama mereka sungguh terhenyak dengan kata-kata itu, dan nyatanya apa yang dikatakannya sedikit banyak ada benarnya. Itulah kesan yang muncul di masyarakat terkait dengan marwah guru di masa pandemi.

Di masa pandemi marwah guru terasa menurun cukup drastis, karena dipandang sebagai pihak yang diuntungkan. Bisa jadi ini berawal dari adanya penampakan yang ekstrim di sekolah antah berantah, kecamatan mega hitam, kabupaten gelap gulita, dimana situasi sekolah yang lebih banyak terlihat sepi, tak nampak guru dengan aktifitas yang wajar sesuai tanggung jawabnya. Beberapa bahkan tak canggung berpenampilan layaknya seorang pensiunan, juragan atau pengusaha yang sedang liburan. Jarang berangkat ke sekolah, seperti bukan seorang guru, pagi hari sudah keliling melihat sawah garapan, sekali berangkat sudah jam 9, dan jam 11 bingung ingin segera menghilang untuk pulang, inilah yang menjadi indikasi kinerja guru dinilai menurun. Dampak yang muncul kemudian adalah kecemburuan sosial terhadap guru yang seakan-akan guru sangat enak, bebas tugas karena tidak berangkat ke sekolah, tidak perlu ongkos bisa, tidak keluar bensin tapi penghasilan tetap mengalir. Seakan guru adalah profesi yang diistimewakan, yang pendapatannya tidak terpengaruh oleh adanya pandemi terutama guru PNS. Sebagai seorang guru yang masih memiliki hati nurani, guru yang dilengkapi intuisi dan kepekaan rasa, kita tidak layak untuk menutup mata dan telinga, apalagi berlagak dan berargumen untuk membela dan menyucikan diri. Lalu apa yang sebaiknya dilakukan oleh guru di tengah pandemi ini, apakah menikmati saja kesempatan yang ada atau bersikap lain yang rasanya tidak sejalan dengan keinginan menikmati kehidupan.

Menikmati kehidupan yang nyaman bagi seorang guru adalah manusiawi, yang juga membutuhkan berbagai kenikmatan dan kebahagiaan, sama seperti manusia lain pada umumnya. Tatkala melihat orang lain yang enjoy dan seakan bebas tanpa beban, hadir juga rasa capek merasakan beban kerja yang terasa susul menyusul. Di saat seperti itu terkadang hadir "bisikan" mengapa harus bersusah payah, enakan ikut santai-santai sajalah. Tetapi, kesadaran tersentak dengan sentilan teman yang tukang batu, yang memberikan pelajaran bahwa guru adalah sosok tidak boleh seenaknya, harus bersikap sesuai dengan marwahnya. Bahwa guru harus melakukan kebaikan dengan atau tanpa penghargaan, guru harus hadir memberikan pelajaran dengan ada atau tidaknya pengawasan, guru harus menjadi motivator dan suri tauladan di mana pun berada.  Apapun yang terjadi guru diharapkan hadir dan berperan sebagai suluh dan penerang yang bisa memberikan cahaya, bagaikan lilin dalam kehidupan. 

Bagaikan lilin dalam kehidupan, itulah ibarat keberadaan guru, yang memiliki karakter dan kepribadian yang berbeda-beda. Karakater dan kepribadian itu yang kemudian terwujud dalam sikap, tindakan dan ucapan dalam kehidupan sehari-hari, yang sadar atau tidak dibaca, diamati dan dicatat oleh anak didik, oleh teman dan oleh masyarakat. Untuk itu barangkali perlu memahami makna dan filosofi yang terkandung dalam percakapan empat lilin berikut ini. 

"Ceritanya dalam kamar ada empat lilin yang menyala, sedikit demi sedikit habis meleleh, suasana begitu sunyi sehingga terdengarlah percakapan mereka. Lilin pertama berkata: “Aku adalah Perubahan, namun manusia tak mampu berubah, maka lebih baik aku mematikan diriku saja!” Demikianlah sedikit demi sedikit sang lilin padam. Lilin kedua berkata: “Aku adalah Iman, sayang aku tak berguna lagi, manusia tak mau mengenalku, untuk itulah tak ada gunanya aku tetap menyala”, begitu selesai bicara, tiupan angin memadamkannya. Dengan sedih giliran Lilin ketiga bicara: “Aku adalah Cinta, Tak mampu lagi aku untuk tetap menyala. Manusia tidak lagi memandang dan mengganggapku berguna. Mereka saling membenci, bahkan membenci mereka yang mencintainya, membenci keluarganya” Tanpa menunggu waktu lama, maka matilah Lilin ketiga. Suasana menjadi semakin redup, tanpa terduga, seorang anak saat itu masuk ke dalam kamar, dan melihat ketiga Lilin telah padam. Karena takut akan kegelapan itu, ia berkata: “ Ehh apa yang terjadi?! Kalian harus tetap menyala, Aku takut akan kegelapan!” Lalu ia menangis tersedu-sedu. Dengan terharu Lilin keempat berkata: “Jangan takut, janganlah menangis, selama aku masih ada dan menyala, kita tetap dapat selalu menyalakan ketiga Lilin lainnya: Akulah harapan”. Dengan mata bersinar, sang anak mengambil Lilin Harapan, kemudian menyalakan kembali ketiga Lilin lainnya, berpendar menjadi cahaya.

Menjadi cahaya yang terus berpendar, lilin yang tak pernah padam walau nyala apinya hanya temaram, tetapi bisa memberikan penerang dalam gelap, itulah filosofi dari Lilin Harapan. Itulah pesan bagi siapapun yang menjadi guru, bahwa sesungguhnya ia adalah harapan terakhir ketika yang lain jatuh berguguran. Yah, yang tidak pernah mati hanyalah harapan yang ada dalam hati kita, maka jangan lupa untuk selalu berdoa agar bisa menjadi guru harapan, guru yang menjadi dambaan anak didik, orangtua dan masyarakat. Minimal semoga kita dapat menjadi alat, seperti halnya sang anak tersebut, yang dalam situasi yang sulit bukan lari dan ikut bersembunyi, tetapi terpanggil untuk ikut menghidupkan kembali Iman, Cinta, dan Perubahan dengan Harapan! Di tangan guru ada harapan, di pikiran guru ada impian, di hati guru ada masa depan. Guru adalah aset bangsa yang tak ternilai karena hati guru selalu menyala dan terang, terlebih di masa pendemi ini guru harus hadir membawa harapan.

Harapan untuk menjadi salah satu lilin itu terasa berat bagi penulis, mengingat banyaknya kekurangan, mulai dari minimnya kemampuan diri, lemahnya motivasi dan rendahnya rasa peduli. Alhamdulillah, di SMPN 2 Kepil masih ada banyak lilin-lilin yang bisa menjadi pegangan dan menambah kekuatan untuk bertahan. Mungkin masih ada satu dua yang tergolong lilin pertama, lilin kedua atau lilin ketiga, tetapi tentang siapa-siapanya penulis tidak tahu. Yang justru penulis tahu adalah mereka yang menjadi lilin keempat, sang Lilin Harapan. Ada kepala sekolah (Bapak Hadi Wiyono, S.H., M.Pd.) yang visinya jauh ke depan, banyak ide dan kaya terobosan untuk tetap eksis dan tidak pernah berhenti berkarya membangun sekolah di berbagai lini walau di masa pandemi. Selanjutnya ada guru senior (Bapak Widodo, S.Pd.) yang selalu berangkat ke sekolah tidak peduli jadwalnya piket atau tidak, yang menurut beliau bahwa guru itu ya harus berangkat dan bertugas di sekolah. Ada juga yang guru yunior (Ibu Zulaikho Wahyu Utami, S.Pd) yang tidak pernah merasakan WFH, tiap hari berangkat dengan beban pekerjaan BOS yang tak pernah ada habisnya. Ada lagi staf Tata Usaha (Bapak Suronto) yang always ready dan always update berbagai aplikasi pendataan bagi guru dan sekolah sehingga sering menjadi rujukan pertanyaan dan konsultasi banyak admin dari berbagai sekolah. Adalagi pakar administrasi dan perangkat pembelajaran (Ibu Isti Supriyanti, S.Pd. dan Ibu Ruti Sumarni, M.Pd.) yang tak surut memberikan bimbingan dan pelatihan di sela-sela kegiatan pembelajaran. Serta beberapa guru senior maupun yunior lainnya dengan karya-karya inovasi baik dalam pembelajaran dan pelayanan kepada anak didik sehingga sekolah terlihat aktif dalam masa pandemi.

Masa pandemi seperti ini sepintas memang terlihat menguntungkan bagi guru, ini bagi mereka yang kurang peka, karena sesungguhnya di masyarakat posisi guru itu terhujat. Tidak sedikit orangtua yang mengeluhkan minimnya layanan pendidikan yang diberikan guru bagi anak-anak mereka. Guru yang tidak peka ini terlihat santai, jarang berangkat, berangkat siang tidak lama lalu pulang dan tidak peduli dengan gejolak yang terjadi di masyarakat. Inilah yang mungkin masuk kategori lilin pertama, kedua dan ketiga, yang sibuk dengan aktivitas baru yang sangat berbeda. Sangat berbeda dengan lilin keempat Lilin Harapan, mereka bekerja tanpa membatasi waktu, bahkan malam pun masih harus melanjutkan pekerjaan dan pelayanan. Mereka tidak berfikir untung rugi, apalagi sampai berfikir saya dapat apa, saya untung berapa. Ketika berkomunikasi dan konsultasi dengan mereka-mereka sang Lilin Harapan, serasa mendapat banyak ilmu, nasehat dan  pencerahan. 

Berikut ini beberapa kesimpulan yang dapat penulis rangkum, semoga bisa kembali sedikit membuka wawasan dan menyadarkan penulis khususnya dan semua guru pada umumnya terkait upaya menjaga dan mengembalikan marwah guru;

  1. Bersyukur, inilah rasa yang pertama kali harus ditanamkan, tentu bukan sekedar mengucapkan kata syukur. Tidak banyak yang berkesempatan bekerja sebagai guru, karena realitanya ada ribuan calon guru yang mengantri untuk profesi ini. Tentunya yang mesti lebih bersyukur adalah guru GTT atau negeri yang sudah mendapat tunjangan sertifikasi, dan yang harus lebih bersyukur lagi adalah mereka yang berstatus guru negeri dan bersertifikasi. Ada banyak sekali alasan untuk tidak menafikkan karunia dan nikmat yang diberikan kepada guru. Syukur pertama karena guru masih tetap dapat bekerja dan mendapatkan gaji, disaat banyak orang menganggur dan tidak mempunyai penghasilan di masa pandemi ini. Syukur kedua adalah karunia sebagai guru, profesi mulia dan bisa menjadi jalan kebaikan, profesi yang didambakan ribuan calon guru lainnya. Syukur ketiga bahwa jumlah jam kerja yang tidak memberatkan hanya 24 jam dalam seminggu itupun sebagian dilakukan dengan BDR, bisa dibandingkan dengan yang diceritakan seorang guru saat mengajar di sekolah swasta dengan beban kerja 52 jam seminggu dan nyaris ada jam kosong, yang dengan jam segitupun angka gajinya jauh dibandingkan dengan PNS, apalagi PNS bersertifikasi. Nah, itu baru sebagian, belum hal-hal yang lainnya. Kurang apalagi, nikmat mana lagi yang kau dustakan?
  2. Motivasi, itulah rasa yang kedua yang harus kembali ditumbuhkan. Rasa yang saat ini tak jauh beda  antara motivasi belajar murid dan motivasi mengajar guru. Motivasi adalah ruh paling utama dalam proses belajar mengajar, di mana anak didik sangat perlu motivasi untuk belajar hal-hal baru yang akan bermanfaat bagi masa depan mereka. Demikian juga guru sangat perlu motivasi agar bisa ikhlas dalam mengajar, agar bisa mencurahkan perhatian dan kasih sayang dalam membimbing belajar anak didiknya. Guru tanpa motivasi tentu tidak akan bisa berbuat banyak, karena sejatinya seorang guru dihadirkan sebagai motivator untuk memberikan motivasi bagi anak didiknya. Motivasi itu yang akan menjadikan guru semangat mengabdi, semangat melakukan inovasi, semangat dalam belajar dan semangat dalam melayani.
  3. Peduli, inilah rasa yang ketiga yang harus dirawat dan disuburkan kembali. Disaat banyak orang dilanda rasa aman dan nyaman dengan situasi yang menguntungkan diri sendiri, maka rasa empati akan tumpul, rasa pedulinya memudar dan menjadi kurang peduli dengan keadaan yang terjadi. Kenikmatan, fasilitas dan kenyamanan telah mengubah kepribadiannya, merasa bahwa semua diperoleh karena jerih payahnya semata sehingga ia merasa berhak menikmati sepuasnya. Tidak sadar bahwa ada kewajiban yang harus ditunaikan, lupa bahwa ada orang lain yang membutuhkan perhatian, uluran tangan dan bantuannya. Peduli itulah yang membuat seorang guru di Madura mendatangi anak didiknya, peduli itu pula yang membuat seorang guru wali kelas meminjamkan Laptop dan Androidnya untuk mengerjakan soal PTS online kepada beberapa anak didiknya. Peduli itu juga yang hadir tatkala guru menghubungi siswa menanyakan kesulitan dalam belajar dan membantu memberikan penyelesaian. Intinya, jika ada kepedulian maka akan sangat banyak yang bisa dilakukan guru pada masa pendemi seperti ini.

Akhirnya, sebagai guru kecil yang minim pengalaman penulis hanya bisa berharap dan berdoa, "Semoga kita bisa membuka diri dan menyadari bahwa kita adalah guru, bagaikan lilin penerang, seberapapun redup dan temaram cahaya yang kita pendarkan sangat dinanti dan diharapkan". Ada banyak yang bisa dilakukan oleh guru di masa pandemi seperti ini, seberapapun kebaikan yang dilakukan, sekecil apapun bantuan yang diulurkan dan sesingkat apapun perhatian yang diluangkan adalah bentuk kepedulian seorang guru, dan itu akan menjadi motivasi yang istimewa dan sangat diharapkan oleh anak didik dan orangtuanya. Tindakan kecil dan sederhana dengan sendirinya akan menjadi bentuk dedikasi seorang guru yang akan mengembalikan marwah guru, guru yang bisa hadir sebagai penerang dalam kegelapan. Oleh karena itu, mari kembali kita tanamkan rasa syukur dengan sesungguhnya, kita tumbuhkan motivasi mengajar dengan sebaik-baiknya dan menyuburkan rasa peduli yang tinggi, untuk menjaga marwah guru.

Marwah guru tidak hanya terikat dengan pembelajaran di kelas dan aktifitas di sekolah, tetapi bagaimana guru bisa hadir di tengah masyarakat. Guru sebagai sosok yang dipandang memiliki iimu dan wawasan yang luas, mempunyai pengaruh dan kharisma yang kuat, maka seorang guru diharapkan bisa hadir memberikan sumbangsih solusi bagi permasalahan yang ada di masyarakat. Sangat mungkin masih ada anak-anak yang terlantar, bukan hanya sekolahnya tetapi bahkan mungkin kebutuhan makan kesehariannya. Dalam kondisi seperti ini sosok guru dibutuhkan untuk hadir, tidak harus berbentuk tindakan yang langsung mengeluarkan uang pribadi untuk membantu, tapi bagaimana guru bisa menjadi sosok yang bisa menggugah, menyadarkan dan menggerakkan banyak orang untuk terpanggil membantu orang yang ditimpa kesulitan secara bersama-sama, serta memberikan solusi dan langkah dalam penyelesaian masalah.

Menjadi bagian dalam penyelesaian masalah dan bukan menjadi bagian dari masalah, itulah kata kuncinya. Di awali dengan berani bersikap rendah hati mengakui kekurangan diri, serta berusaha untuk lebih peka dan lebih peduli dengan apa yang tengah terjadi. Tidak perlu berbusa-busa membela diri, tidak perlu menunjukkan apa yang sudah dilakukan untuk mendapat pengakuan baik. Lakukan saja kebaikan itu, lakukan lagi, tambahi dan terus lakukan sekecil apapun. Dengan begitu insya-Alloh marwah guru bisa dikembalikan pada posisi yang semestinya. Semoga belum terlambat, bukankah dalam setiap kejadian yang Alloh hadirkan pasti terselip sebuah pesan, dan bukankah dalam setiap permasalahan yang menghadang pasti menyiratkan sebuah makna. Selamat bekerja, selamat berkarya, selamat beraktifitas, semoga sukses selalu.

Sabtu, 30 Desember 2017

Oase -11: Guru Yang Baik Bukan Sebatas Harapan, Tapi Keniscayaan

Desember sebagai bulan penghujung tahun akan segera berlalu, itu artinya tahun 2017 akan segera berakhir dan berganti dengan tahun baru 2018. Sebagian besar anak muda dan masyarakat menyambut pergantian tahun dengan cara begadang malam melewati jam 00,00 sambil menyalakan kembang api dan mercon, dalam suasana gegap gempita dan berpesta pora. Namun sejatinya pergantian tahun adalah hal biasa, dan yang terbaik untuk dilakukan adalah menjadikannya momen untuk melakukan muhasabah dan introspeksi terkait banyak hal yang telah terjadi pada tahun yang akan berlalu. Adapun bagi dunia pendidikan mengandung arti bahwa semester 1 (satu) pada tahun pelajaran 2017/2018 telah berakhir dan akan memasuki masa semester 2 (dua). Rapor telah diterimakan kepada siswa/orangtua siswa, satu tugas terkait penilain telah tertunaikan, baik yang menggunakan e-Rapor yang berbasis web ataupun yang menggunakan aplikasi sederhana berbasis desktop (Excel). Karena penilaian adalah bagian dari tugas guru, maka harus rela dan harus dijalani dengan segenap rasa tanggung jawab.

Jika tulisan ini sampai ke Anda sebelum malam pergantian tahun semoga bisa menjadi bahan evaluasi sebelum meninggalkan tahun 2017, namun jika Anda baru membaca setelah melewatinya, semoga bisa menjadi bekal membangun motivasi diri untuk menapaki tahun 2018 agar menjadi pribadi yang jauh lebih baik. Tulisan ini sudah mulai diketik saat UAS/PAS berlangsung, namun belum bisa kami tuntaskan karena berbagai pekerjaan yang lebih membutuhkan perhatian. Alhamdulillah, akhirnya tulisan ini selesai juga, kami kerjakan saat malam menjelang pagi, dimana pada saat yang sama sebagian besar teman-teman kami sedang beristirahat di hotel dalam rangkaian Tour de Bali dalam acara yang bertajuk Family Gathering SMPN 2 Kepil. Kami urung (tidak jadi) ikut rombongan ke Bali karena alasan kesehatan yang mendadak "drop", inilah kuasa manusia yang hanya sebatas rencana, sedangkan selebihnya adalah kudrat dan iradat dari Alloh Yang Maha Kuasa. Dibalik semua ini pasti ada banyak hikmah dan pelajaran yang bisa diambil, insya-Alloh.

Kembali ke topik utama, dengan pembagian rapor siswa berarti telah selesai seluruh rangkaian kegiatan belajar mengajar selama satu semester. Waktu pembelajaran efektif dijadwalkan selama 18-20 minggu yang kemudian diakhiri dengan kegiatan evaluasi yang berupa ulangan akhir semester (UAS) atau penilaian akhir semester (PAS). Bagi siswa evaluasi ini akan menghasilkan angka-angka yang melambangkan pencapaian kompetensi selama satu semester baik itu aspek sikap, pengetahuan dan keterampilan. Hasil akhirnya berupa skor dan predikat siswa pada tiap mata pelajaran, dengan keterangan tuntas KKM atau tidak, predikatnya sangat baik, baik, cukup atau kurang, juga muncul deskripsi sikap spiritual dan sosialnya. Suka cita, kaget dan mungkin juga ada rasa kecewa bisa berkumpul menjadi satu ketika rapor itu diterima oleh siswa. Begitulah hasil evaluasi, apapun hasilnya rapor ini sangat dinantikan oleh setiap siswa juga orangtuanya, yang dengan rapor itu akan diketahui bagaimana hasil belajar siswa tersebut selama satu semester. Kira-kira itulah esensi keberadaan rapor sebagai media komunikasi sekolah/guru kepada siswa/orangtua.

Muncul pertanyaan, apakah ketika rapor telah selesai dibagikan maka serta merta selesai sudah semua tugas sekolah dan guru? Jika dilihat secara sepintas, dari sisi tanggung jawab pekerjaan dan kelembagaan maka jawabnya Ya dan Benar. Namun sejatinya ada hal lain yang urgen dilakukan oleh sekolah, terutama guru. Bahwa sesungguhnya ada serangkaian penilaian (evaluasi) yang berlaku untuk guru, evaluasi ini bertujuan agar diperoleh instrumen/data yang akan berguna untuk pembelajaran pada semester berikutnya, lebih jauh lagi untuk tahun-tahun selanjutnya. Nah, inilah yang akan kita bagikan sebagai bahan pelajaran bersama, sebuah tulisan khas dengan tema Oase : Evaluasi akhir tahun.. Tulisan kali ini tidak bertujuan untuk mendiskreditkan seseorang atau menjustifikasi orang tertentu, namun bersifat umum kepada siapapun kita yang berprofesi sebagai guru/pendidik, semoga bisa membantu kita melihat bagaimana kita sebenarnya.

Kekurangan Diri Tak Nampak
Melihat kekurangan dan kesalahan orang lain adalah pekerjaan paling mudah, apalagi orang yang tidak disukai dan ini yang kebanyakan dilakukan oleh seseorang . Semua kesalahan dan kekurangan orang lain dapat diketahui dan diingatnya dengan detil, bahwa si A begini, si B begitu, si C begini, begitu, dan seterusnya hingga si Z yang begitu dan begini. Namun sangat sedikit yang mau melihat kekurangan dan kesalahan diri sendiri dan ini sangat sulit dilakukan. Kiranya pepatah "Semut di seberang lautan nampak - Gajah di pelupuk mata tak nampak" sangat sejalan dengan hal ini. Secara praktis, untuk mengetahui kekurangan dan kesalahan diri bisa dilakukan dengan beberapa hal berikut: 1) instrospeksi diri, 2) bantuan/saran orang lain, 3) paksaan/kekerasan. Beberapa orang dapat dengan mudah membaca dan mengaca diri lewat cara pertama (introspeksi) karena kepekaan hatinya yang terasah oleh kebiasaan baiknya, beberapa yang lain membutuhkan cara kedua (bantuan/saran orang lain yang dipercayainya) dengan penjelasan yang rinci dan panjang untuk menunjukkan kesalahan/kekurangan dirinya, kemudian yang terakhir adalah orang yang tingkat kepekaan nurani sangat rendah dan cenderung tumpul sehingga harus dipaksa dengan cara kekerasan untuk bisa sadar, bangun dan memahami betapa banyak kesalahan dan kekurangan diri, seperti sebuah Quote yang terkenal, "Kadang kita perlu ditampar terlebih dahulu supaya sadar". Tamparan bisa datang dari Alloh Yang Maha Kuasa yang menimpa diri kita atau dari sesama manusia dalam bentuk yang bermacam-macam.

Sebagai seorang guru yang terbiasa mendidik siswa, juga terbiasa menilai siswa semestinya kita tidak perlu cara yang ketiga, cara kedua saja sudah cukup, dan akan lebih utama bila mampu dengan cara pertama. Jika kita mau mengambil ibroh (contoh) benda yang jatuh di kolam pasti akan muncul reaksi berupa riak/ombak, maka sebagai guru kita bisa melakukan introspeksi diri dengan membaca reaksi dari lingkungan sekitar dimana kita berinteraksi selama bekerja. Gejala/reaksi yang muncul disekitar nya adalah data yang berguna, yang bagi seorang guru setidaknya ada 4 instrumen tolok ukur yang bisa digunakan sebagai kaca benggala untuk menilai diri sendiri, -urutan menunjukkan prioritas- yaitu: 1) siswa, 2) teman kerja, 3) pimpinan dan 4) masyarakat. Cukup dengan membaca reaksi yang terjadi pada 4 instrumen tersebut, maka guru akan tahu bagaimana harkat diri sesungguhnya, karena disini terjadi penilaian alami, realistik, original dan tanpa manipulasi. Kita ambil contoh satu saja pada instrumen yang merupakan prioritas utama yaitu siswa, siswa adalah cermin yang paling jujur, mereka akan menunjukkan suka bila mereka suka. demikian sebaliknya jika mereka tidak suka. Guru yang baik pasti disukai bahkan diidolakan oleh siswa, dimana mereka merasa memperoleh kedamaian saat gurunya tersenyum ramah kepadanya, merasa mendapat dorongan motivasi dan semangat baru saat dibimbing mempelajari sebuah ilmu pengetahuan baru baginya, dan merasa diperhatikan saat mendapatkan perhatian, kasih sayang dan sentuhan dari guru yang serasa orangtua kandungnya.

Tentunya tak satupun guru yang berharap masuk kategori yang buruk, yang kurang bermutu, yang kurang disukai siswa, yang kurang terampil, yang kurang profesional, yang bekerja sesuka hati dan semaunya sendiri serta yang hanya berorientasi pada gaji dan tunjangan sertifikasi. Kata-kata joke "Layamutu wala yahya", sering diplesetkan dengan "Ora mutu ngentek-enteke biaya", bisa diartikan tidak bermutu tapi menghabiskan biaya yang besar. Maka menjadi guru yang baik adalah sebuah keniscayaan, sebuah keharusan, bukan lagi sebatas harapan dan bukan sebatas impian. Gelar guru sebagai "pahlawan tanpa tanda jasa" tidak terjadi begitu saja, tapi karena sarat makna yang luar biasa. Tugas yang diberikan pada guru bukan sembarang tugas, tugas itu berupa "amanah" untuk mendidik calon generasi penerus pemimpin bangsa. Maka guru yang baik menjadi kunci pertama dan utama untuk bisa menghasilkan siswa cerdas, terampil dan berkarakter.

Jika dilihat dari gelar pendidikan, baik yang S1, S2 atau bahkan S3, kita sebagai guru mungkin sudah tergolong tinggi dan bahkan bisa merasa tinggi apalagi jika dibandingkan dengan tetangga, teman sebaya atau kerabat kita yang hanya lulusan SD, SMP atau SMA, Demikian juga jika dilihat dari sisi jabatan, pangkat, pengalaman dan peran di masyarakat membuat kita (guru) dipandang sudah mumpuni, apalagi dengan adanya embel-embel yang berupa gelar pendidikan yang menempel pada nama kita, bahkan beberapa orang gelarnya lebih dari situ masih ditambah dengan gelar keagamaan semisal Haji atau Kyai. Banyak yang kemudian menjadi merasa besar dan bangga dengan sebutan guru, embel-embel dan pandangan  mulia di masyarakat. Namun sebenarnya justru sebutan, embel-embel dan pandangan itulah yang menjadi tabir yang dapat menutupi mata hati kita untuk melihat diri sesungguhnya, Banyak di antara kita yang terlena dan terbuai serta terpedaya sehingga menjadi lupa mengaca diri dan malas mengasah kemampuan diri.

Berikut ini beberapa hal yang semoga bisa menjadi kesimpulan akhir tahun 2017 sebagai bekal untuk menebalkan niat yang terselip dalam sanubari, untuk menggaris-bawahi motivasi gerak tangan dan langkah kaki serta untuk menulis ulang semangat untuk membangun kinerja yang lebih baik di tahun 2018 yang segera menjelang;
  1. Kebaikan harus dipaksakan. Untuk menjadi baik tidak mudah dan tidak ringan, ada banyak godaan dan rintangan. Jika tidak dipaksakan maka kita akan cenderung malas, memilih diam dan menunda hingga waktu yang tidak jelas. Dalam islam ada banyak kebaikan dan keutamaan antara lain membaca Al-Quran, sholat jamaah, sholat sunah rawatib, sholat tahajud, puasa sunah, shodaqoh, haji dan umroh, namun berapa banyak yang mampu melakukannya karena tak mau memaksakan diri untuk melaksanakan. Begitu pula sebagai guru jika kita tak memaksa diri unuk berubah dan berusaha memperbaiki diri maka kita tidak akan berubah dan selamanya kita akan seperti saat ini, bahkan mungkin semakin lama semakin buruk dan terpuruk.
  2. Meluruskan niat. Hati dan pikiran manusia sangat mudah terpengaruh dan sangat mudah untuk berubah. Situasi dan kondisi, perubahan keadaan dan tuntutan kebutuhan banyak berpengaruh dalam perubahan niat yang bisa saja berbelok atau berbalik arah dari awalnya. Niat yang benar karena Alloh, niat yang tulus, ikhlas untuk bekerja mendidik siswa harus senantiasa dijaga dan ditanamkan dalam hati setiap hari, setiap waktu dan setiap saat, dari awal pagi saat berangkat hingga siang/sore saat pulang. Benar salahnya niat dan lurus bengkoknya niat akan menjadi pompa motivasi kerja kita, akan berpengaruh pada proses kerja kita dan sangat menentukan hasil kerja dan kinerja kita.
  3. Membuang malas. Malas adalah penyakit yang nampaknya halus namun sangat akut dan butuh penanganan serius. Banyak kesalahan yang dilakukan karena malas, banyak malpraktek yang  terjadi juga karena malas dan bamyak kerugian ditimbulkan karena ulah orang yang malas. Guru juga manusia yang sangat mungkin terjangkit malas, indikasinya  malas masuk kelas, malas mengajar, malas belajar hal baru untuk mengupgrade kompetensi diri, malas berpikir, malas berkarya dan malas berinovasi. Dampak terburuk adalah ketika malas mengajar, maka kemudian memberi pelajaran atau tugas kepada siswa tidak sesuai tema, tidak sesuai dengan standar kompetensi  dan tidak sesuai dengan silabus (jaman dulu GBPP). Tugas atau pekerjaan yang tidak sesuai dengan kaidah saintifik kurikulum terbaru misalnya : mencatat buku sampai habis, meringkas satu buku utuh atau membuat soal sejumlah tertentu). Maka malas ini harus diperangi, dan obat yang paling mujarab adalah "Tekun", orang cerdas yang malas bisa dikalahkan oleh orang biasa yang tekun.
  4. Rendah hati. Menjadi sosok guru yang rendah hati ternyata sulit dan lebih mudah menjadi yang sebaliknya, guru yang angkuh dan sombong, merasa hebat dan selalu benar. Sebenarnya seiring waktu yang terus bergulir, pengetahuan dan kemampuan yang dulu pernah kita miliki bisa jadi saat ini sudah basi dan ketinggalan jaman, kita yang dulu lincah, enerjik dan terampil sangat mungkin kalah oleh mereka yang lebih muda. Namun angkuh dan sombong mampu menutup dan  memanipulasi semuanya sehingga kita masih sering lupa diri, masih sering bernada tinggi, bersuara keras dan membusungkan dada menunjukkan bekas-bekas kehebatan kita yang bisa jadi saat ini sudah tidak hebat lagi. Rendah hati bisa muncul dalam sosok guru yang bijak, yang sabar dan pemaaf, yang mudah menerima masukan dan siap dibetulkan jika dianggap salah serta tidak arogan ketika merasa benar.
Pertanda baik atau buruknya guru terlihat secara jelas pada karakternya (watak) yang merupakan kumpulan sifat yang dominan dan bersifat permanen. Merubah karakter buruk adalah perjuangan berat, dan hanya bisa dirubah dengan cara merubah kebiasaan. Kesulitan, rintangan, hambatan dan tantangan akan terus ada, maka yang diperlukan untuk merubah diri ke arah yang lebih baik adalah tetap berpijak pada alas niat, tetap berfokus pada loop semangat, tetap berpegangan pada tali tekun dan tetap menapaki tangga rendah hati. Memang tak ada sosok guru yang sempurna, namun kita tidak boleh mengambil hal buruk menjadi payung untuk berlindung agar tetap merasa nyaman dalam keburukan. Dan dari kenyataan bahwa di luar sana sangat banyak guru yang baik, yang berprestasi baik skala nasional, regional atau bahkan internasional, artinya jika kita mau - maka kita pun pasti bisa untuk menjadi guru yang baik, setidaknya meningkat menjadi lebih baik.

Sebagai penutup Oase kali ini, kembali kami tandaskan bahwa tulisan ini tidak untuk mengkritisi siapapun, tidak untuk menjustifikasi pihak manapun dan juga tidak untuk menguliti seseorangpun, namun sejatinya adalah sebuah ajakan kebersamaan, sebuah semangat untuk membangun dan memperbaiki motivasi dan meluruskan niat kita sebagai guru/pendidik, mengoptimalkan karya dan memaksimalkan kinerja melalui pendidikan bagi anak negeri. Teruslah berbuat kebaikan, meski kadang tidak dihargai atau bahkan dicemooh. Hakikatnya perbuatan baik itu untuk diri kita juga, karena Allah akan membalas melebihi yang kita harapkan. Inilah sedikit yang bisa kami tuliskan harapan kami semoga ada satu, dua atau tiga pembaca yang bisa mengambil manfaatnya untuk memotivasi diri menjadi lebih baik. Maka marilah kita berusaha menjadi guru terbaik bagi mereka, kita sambut mereka dengan segenap asa, kita hantarkan mereka kepada gerbang ilmu, pengetahuan dan keterampilan dan kita dorong mereka untuk menggapai sukses mereka, semoga ini semua bisa menjadi catatan kebaikan dan tergolong amal jariyah bagi kita yang menjadi penolong kita di akhirat kelak.Selamat bekerja, selamat beraktifitas, semoga sukses.

Rabu, 28 Juni 2017

Oase -10: Ngudoroso - Sesungguhnya Memang Tidak Mudah Menjadi Guru

Alhamdulillah, masih dalam nuansa Idul Fitri di hari ke 4 kembali kami mulai membuat tulisan ini. Tulisan kali ini masuk dalam kategori Oase, sebagai jeda atas tulisan utama yang bertajuk Inovasi. Sekedar informasi, tulisan seri inovasi yang terakhir (Inovasi 7 : PKn dan IPS - Humaniora) yang Alhamdulillah telah dibaca lebih dari 400 kali, yang kami tidak tahu pasti siapa saja pembacanya dan sebarannya dari mana saja. Hanya satu harapan, semoga yang sedikit dan sederhana ini bisa bermanfaat bagi pembaca, bagi sekolah dan bagi masyarakat yang peduli pada pendidikan. Semoga berikutnya kami bisa segera menyusulkan seri inovasi 8 tentang rumpun seni dan keterampilan. Rencana berikutnya telah kami siapkan seri baru dengan tajuk Puzzle Pendidikan masih harus antri menunggu seri Inovasi selesai secara keseluruhan yang akan berakhir pada seri ke-12. Selanjutnya kami sampaikan selamat menikmati sajian Oase 10 kali ini.

Cerita pengantar, 1) Suatu saat penulis mendengarkan cerita tentang perjuangan seorang guru SD (Sekolah Dasar) yang 5 tahun lagi memasuki masa pensiun. Anda mungkin tak pernah berfikir atau membayangkan jika ada guru SD, seorang ibu yang sudah berusia 55 tahun, yang rumah tinggalnya di Sleman namun tempat mengajarnya di daerah Temanggung, itupun bukan di kota tapi di desa di wilayah pegunungan yang jauh dari kota. Setiap harinya -acara touring- dimulai sejak pagi buta, sehabis subuh "tit" ia sudah harus bersepeda motor (dulunya malah hanya sepeda ontel) menuju jalan raya, lalu menitipkan motornya di tempat penitipan sepeda untuk selanjutnya naik bis hingga Temanggung, kemudian dilanjutkan dengan angkutan desa atau terpaksa naik ojek jika terasa terlambat. 2) Di tempat lain ada teman guru dari Bantul dan mengajar sebuah SMP Negeri di pedalaman wilayah Kalikarung Wonosobo. Setelah 3 tahun berlalu dan dirasa capek dengan laju PP (pergi-pulang) dengan jarak +- 200 km setiap hari, akhirnya ia naik bus dari Bantul - Blabak, selanjutnya ia mengambil sepeda motor yang dititipkan di Palbapang Blabak, bersepeda motor hingga tempat mengajarnya, dengan begitu ia bertutur "lumayan" bisa istirahat dan tidur sejenak di dalam bus. Mungkin bagi mereka yang rumahnya dekat sekolah, yang tidak lebih dari 10 menit sampe sekolah, atau yang hanya dengan melompat sampai sekolah akan berkata "salahe sopo duwe omah adoh", 'ngopo kok ora ngekos", namun bagi para pelaju ada alasan tersendiri yang kadang hanya bisa dimengerti oleh mereka para pelaju, mengapa harus laju, mengapa tidak kos atau kontrak rumah. 

Jika Anda pernah bepergian jauh, dan harus pulang hari itu juga, maka akan bisa merasakan apa yang mereka rasakan. Sebuah rutinitas yang terkadang menjemukan dan melelahkan, sangat menyita waktu, menguras tenaga, menyedot konsentrasi dan diliputi rasa was-was serta kekhawatiran dengan banyaknya kejadian kecelakaan lalu lintas.Terlebih lagi jika anda seorang pegawai, pekerja atau karyawan yang harus menempuh perjalanan yang jauh, terutama yang mengendarai motor akan merasakan betapa perjalanan itu banyak menyimpan catatan yang beraneka warna dengan segala suka duka. Dalam perjalanan yang penuh resiko ini, mau tidak mau harus menjaga kewaspadaan dan kehati-hatian. Rasa kantuk yang sering dirasakan adalah kendala tersendiri, tak ingin berhenti agar lekas sampai tujuan namun mata sering tidak bisa diajak kompromi, maka berbelok arah untuk sekedar tidur sesaat di masjid atau bahkan berhenti di pinggir jalan lalu tidur di atas motor adalah hal biasa (menjadi kebiasaan) bagi orang-orang seperti ini.  

Kepasrahan, membenahi niat dan memperbanyak istighfar akan menjadi penguat dan menambah semangat dalam menempuh perjalanan. Ada kebahagiaan ketika sampai tempat tujuan lalu berjumpa dengan siswa dan teman sekantor yang ramah dan bersahabat. Ada kerinduan ketika perjalanan pulang menjumpai dan bersama lagi dengan istri, anak dan keluarga. Perjalanan yang jika dikalkulasi menjadi mahal, apalagi jika dibandingkan dengan mereka yang rumahnya tak jauh dari sekolah. Bensin yang tidak sedikit, oli yang menjadi cepet ganti, ban yang sering kempes bahkan terkadang bocor. Lihatlah rata-rata jaket mereka yang tak pernah ganti hingga cepet usang dimakan usia dan teriknya matahari, atau mantol yang cepat rusak/sobek tergerus air dan angin saat hujan. Inilah dinamika perjalanan yang hanya dirasakan oleh mereka para pelaju. Sebuah pilihan yang hanya dirasakan oleh mereka yang mengalami, karena itulah yang terbaik bagi mereka.

Dua Sumber Inspirasi
Pertama, razia polisi lalu lintas. Dari sekian masalah yang menjadi beban para pelaju, ada satu hal yang paling terasa membebani dan harusnya tidak terjadi, yaitu adanya razia polisi yang hampir terjadi setiap hari, di beberapa lokasi sekaligus dan seringnya tanpa dilengkapi pemenuhan syarat legal berupa papan pemberitahuan dan surat tugas yang sah. Pengendara selalu saja kalah argumen dan berada pada pihak yang salah dan harus rela meskipun terpaksa mengeluarkan uang untuk membayar denda tilang atau "uang damai". Inilah yang secara masif dan mengakar terjadi yang puncaknya menjadi nilai buruk kepolisian, sebagai lambang kekecewaan kepada lembaga pelindung dan pengayom masyarakat.
Kedua, keluhan anak tentang sekolah. Sebagai orang tua, suatu saat kita berusaha share, bercerita dan sebaliknya mendengarkan anak yang bercerita kejadian di sekolahnya. Dari sekian ceritanya yang paling menyayat adalah jika anak mengatakan ada satu dua guru yang rasanya kurang disukai. Guru yang jarang hadir dan hanya memberikan catatan karena sedang kurang sehat, atau hadir namun jarang masuk kelas karena kesibukannya dan hanya memberi tugas namun jarang dikoreksi dan tidak pernah memberikan apresiasi dan motivasi.

Tulisan seri Oase kali ini adalah murni curahan pribadi bahwa ada rasa beban berat sebagai guru untuk bisa memberikan pelayanan terbaik bagi siswa. Fase titik balik itu muncul dan sangat terasa ketika beberapa bulan yang lalu, kami mendapat karunia sakit yang menurut istri adalah sakit yang dirasakan sebagai kondisi paling drop selama 13 tahun berumah tangga. Kondisi sakit yang membuat diri terpaksa harus off dan ijin kerja hampir seminggu lamanya. Namun begitu, pada hari ke 4 tetap memaksakan diri untuk berangkat ke tempat kerja dalam kondisi yang masih sangat lemah dan kepala pusing semata-mata hanya ingin menunjukkan diri -bahwa kondisi diri telah lebih baik, agar teman-teman kantor tidak perlu bezuk ke rumah, kasihan kalau mereka harus jauh-jauh datang ke rumah yang berjarak 56 km dari sekolah. Memaksakan diri berangkat, sambil menahan kepala yang rasanya mau terjungkal, akhirnya sampai juga di sekolah setelah berkendara lebih dari 100 menit (kondisi normal 70-75 menit). Sesampai di sekolah, di meja telah penuh dengan tumpukan buku tugas, hasil pekerjaan siswa. Nah dalam kondisi yang paling terpuruk, dalam dingin yang mencekam dan kepala yang rasanya berputar-putar itulah menjadikan diri sangat sensitif dan kemudian melihat betapa selama ini banyak menelantarkan mereka, mengurangi hak mereka, mengabaikan kerinduan mereka dan meninggalkan tanggung jawab ruhani mereka. 

Tulisan ini bukan untuk mengkritisi siapapun, teman guru, teman kantor, senior atau pimpinan di manapun, namun lebih kepada koreksi kepada diri pribadi yang belum bisa berbuat yang terbaik. Ini hanya gulungan rasa yang muncul ketika saya menempatkan diri sebagai orang tua dari siswa-siswa kita. Saya tidak tega, tidak sampai hati bahkan tidak rela jika anak saya sendiri berada dalam kondisi yang demikian. Bukan masalah berapa banyak biaya yang dikeluarkan, bukan masalah pilihan sekolah, namun lebih kepada masalah amanah dan kepercayaan. Tak satupun orangtua berharap anaknya terabaikan atau dikecewakan, demikian halnya anak dari seorang guru sekalipun. Saya yang kebetulan PNS mungkin tidak terlalu masalah dari segi biaya karena dipercaya untuk hutang di bank, namun bagaimana dengan orangtua siswa yang lain yang sangat beragam pekerjaan dan penghasilan mereka. Ada yang hanya pembantu rumah tangga, penjual sayuran atau bahkan kuli bangunan yang hasilnya tak bisa dipastikan. Mereka memilih sekolah kita karena berharap dan beranggapan inilah pilihan terbaik bagi anak mereka, lembaga yang status dan kelasnya sudah terpercaya, sekolah yang nama besarnya sudah terkenal di dunia maya, bahkan dalam beberapa hal menjadi rujukan bagi sekolah di sekitarnya. Harapan besar dan amanah ratusan siswa dan masyarakat telah diserahkan kepada sekolah yang "dibidani" banyak orang hebat di dalamnya.

Secara pribadi, sebagai seorang guru ada rasa prihatin dan merasa sangat bersalah dengan apa yang kami lakukan selama ini. Banyak hal yang belum di-optimalkan, belum di-maksimalkan dan lebih banyak kepentingan siswa yang terabaikan dan belum terlayani dengan baik. Mungkin juga situasi kelas yang kurang kondusif, sarana yang kurang tertata dan siswa yang kurang disiplin karena kurang penanganan oleh guru kelas atau wali kelas yang kurang inovasi dalam pengelolaan kelasnya. Satu yang paling kami takutkan adalah akumulasi dari berbagai rasa para siswa yang menumpuk menjadi rasa kecewa, dan berikutnya pasti akan sampai kepada orang tua mereka. Kami sebagai guru yang pada saat yang sama sekaligus juga orang tua dari siswa menjadi sangat sensitif pada kejadian seperti ini. Dalam kondisi ini sebagai orang tua hanya bisa bersabar dan memberikan motivasi agar anak tetap semangat belajar. Untuk memberikan kritik dan masukan, orang tua harus berfikir seribu kali demi menjaga anaknya agar terbebas dari intimidasi atau kekhawatiran lain yang akan terjadi. Ketidaknyaman siswa dan berkurangnya kepercayaan orang tua adalah bentuk kekecewaan pada sekolah, sebagai lembaga pendidikan calon pemimpin masa depan.

Berikut kami tuliskan beberapa hal yang merupakan harapan dari orang tua siswa, yang juga sangat diharapkan oleh siswa pada sosok gurunya. Apabila beberapa harapan ini tidak mereka dapatkan dari sosok gurunya maka sangat mungkin akhirnya menjadi beberapa kekecewaan seperti yang terjadi pada oknum polisi atau guru seperti contoh di atas. Harapan tersebut antara lain sebagai berikut;

  • Disiplin dalam hal waktu. Inilah faktor utama pembentuk krediblitas sebuah lembaga, instansi juga diri pribadi. Jujur, harusnya malu jika menyuruh siswa agar disiplin, marah jika ada siswa yang terlambat, dan murka jika ada yang tidak tertib, namun kita tidak pernah instrospeksi apa kita sudah disiplin, apa kita sudah tertib. Jangankan hadir lebih pagi sebelum masuk lalu berdiri siap menyalami siswa, sekedar hadir tepat waktu saja beberapa masih belum bisa, bahkan beberapa dengan tenangnya datang terlambat beberapa menit setelah bel masuk, tidak ada rasa sungkan, tidak ada rasa malu apalagi rasa bersalah sedikitpun..
  • Sikap, perilaku dan perkataan. Seringkali guru yang merasa berkuasa penuh bak raja di dalam kelas, dapat berbuat sesuai ego pribadi, bukan lagi semangat mendidik, membimbing dan melayani namun sebaliknya bisa memerintah sekehendak hati bahkan mengancam hingga mengintimidasi. Perkataan kasar atau kotor yang tidak seharusnya keluar dari sosok guru yang dihormati, hanya karena merasa kehormatannya terusik karena salah memahami hakikatnya dirinya untuk melayani.
  • Tauladan. Inilah hakikat pendidikan yang paling tinggi, yang masih banyak tidak dijiwai oleh guru. Banyak guru yang masih suka memerinah dengan mata melotot, suara keras, atau kata-kata kotor dan nada ancaman. Padahal ada satu metode yang paling ampuh untuk menyuruh, mengajak dan mengarahkan siswa, yaitu keteladanan saat di depan, yang diikuti dengan gandengan saat bersamaan dan dikuatkan dengan dorongan saat di belakang. Dalam hal ini Filosofi Ki Hajar Dewantara terasa sangat pas, ing ngarso sung tulodho - ing madyo mangun karso - tut wuri handayani.
Menjadi guru yang ideal dan idola adalah harapan bagi yang masih punya intuisi dan nurani pada panggilan profesi. Menjadi sosok guru yang hebat, yang cerdas dan yang bijaksana sama halnya dengan harapan para ibu STW, yang umumnya ingin menjadi sosok yang awet muda, selalu sehat, mempesona, selalu bahagia, terpenuhi segala keinginan dan mendapatkan yang terbaik adalah harapan setiap orang. Apalagi jika ditambahi karunia kecerdasan yang tinggi, kemampuan komunikasi verbal yang fasih dan sifat supel, maka tak mengherankan jika kemudian menjadi sosok yang selalu diidolakan oleh siapa saja. Namun dalam kehidupan di dunia yang fana ini tidak ada satupun manusia (makluk) yang sempurna, yang baik dalam segala hal dan bisa selalu menjaga diri dalam kebaikan. Siapapun dia, sehebat apapun ilmunya, secerdas apapun otaknya dan seberapapun banyak kekayaannya, tidak akan serta merta membuat diri menjadi pribadi sempurna.

Kami menyadari sepenuhnya terlampau banyak kesalahan dan kekurangan kami. Rasanya belum layak untuk disebut sebagai guru, sosok yang digugu dan ditiru. Dalam asa ingin meniru dan  menjadi sosok utama berikut; 1) high performance seperti Ibu Ruti Sumarni yang cerdas, energik dan berdedikasi tinggi, 2) low profil seperti Pak Satiyun yang sabar, bijaksana, pasrah, dingin dan tulus tanpa ambisi apalagi sampai mencari keuntungan pribadi, 3) nobel attitude seperti Ibu Rini Utami yang rajin, tekun, santun, ramah dan rendah hati dalam segala kondisi, 4) hidden worker seperti Pak Ronto bekerja sendiri dan sering lembur di malam hari untuk melayani banyak orang - tanpa deklarasi, tanpa harus busungkan dada untuk menunjukkan jati diri, 5) neat and orderly seperti Bu Isti Supriyanti dengan perencanaan dan catatan yang rapi,  teratur dan tersimpan dengan sangat baik. Beliau-beliau ini adalah sumber inspirasi dan sumber motivasi bagi kami untuk mengabdi dan mendedikasikan diri dalam pembinaan generasi melalui pendidikan di negeri Indonesia tercinta ini.

Dengan penuh kesadaran dan segenap penyesalan atas semua yang telah terlewatkan, secara pribadi penulis ingin menyampaikan "PERMOHONAN MAAF" atas semua kekurangan dan kesalahan yang telah terjadi selama ini.
  • Murid-murid kami, mohon maafkan kami yang sering/banyak meninggalkan kelas - baik karena tugas diklat, tugas pendampingan, tugas sekolah, karena kepentingan pribadi, atau hanya karena malas. Maafkan kami yang belum bisa mengajar, mendidik dan membimbing secara optimal hingga kami tidak mampu menjadi sosok guru yang baik - apalagi guru yang menginspirasi, sekali lagi maafkan guru-mu ini.
  • Orang tua murid dan masyarakat, mohon dimaafkan jika kami dan teman-teman kami masih belum mampu melayani dengan sepenuh hati, jika kami belum bisa mengasihi dan menyayangi siswa layaknya pengganti orang tua di sekolah, satu harapan doakan kami agar bisa lebih baik lagi.
  • Demikian juga kesalahan yang kami lakukan kepada teman-teman kami sesama guru, karyawan dan teman pendidik yang pernah bergaul, berinteraksi atau pembaca yang membaca tulisan-tulisan kami.
Satu harapan, kami dan teman-teman kami - pimpinan, guru dan karyawan - bahwa kami ingin berbenah diri, bertekad untuk memperbaiki diri untuk mengabdikan ilmu dan diri kami untuk pendidikan yang lebih baik di sekolah ini, di wilayah ini, di negeri ini. Kami ingin seperti guru SD yang tetap semangat mengabdi - semoga kami bisa melakukan yang terbaik di sisa-sisa umur kami untuk berbagi ilmu dan berbagi manfaat, karena kami yakin tidak akan ada yang hilang dan terbuang dalam setiap langkah, sikap, perilaku dan tindakan yang dilakukan untuk kebaikan, kalaupun tidak diperoleh di dunia, maka insya-Alloh akan diterimakan di akherat kelak. Kami tidak ingin citra buruk menimpa sekolah kami, teman-teman kami dan murid-murid kami, karena kami juga yakin tidak satu keburukan-pun yang luput dari catatan-Nya dan pasti akan diberi balasan setimpal, yang bisa dirasakan di usia tua atau kelak di alam yang lain. Nasehat, saran dan masukan akan menjadi pemicu dan pemacu untuk tegaknya pembelajaran yang kondusif, oleh karena itu, mari wujudkan sekolah yang aman dan nyaman, serta terbuka untuk perbaikan dan kemajuan. 
Selamat beraktifitas, semoga sukses <72712-73085>.

Kamis, 06 Oktober 2016

Oase -9: Nothing is perfect - Jangan Menunggu Sempurna

Tema tulisan kali ini terinspirasi dari beberapa cerita yang kami dengarkan beberapa bulan yang lalu. Diawali  dari cerita tentang seseorang yang biasa dipanggil Pak Tri, ketika dalam perjalanan pulang yang sudah larut dan di rumah belum ada masakan siap saji, maka beliau berfikir harus membeli beberapa bungkus nasi, sayur dan lauk untuk dimakan ketika sudah sampai rumah. Ketika sudah melewati restoran ternama beliau jalan terus memilih restoran lain di depan sana masih ada. Begitu sampai restoran yang dituju ternyata tutup maka pilihan berubah ke warung Padang sekitar 1 km di depan sana sangat enak, namun sesampainya di sana ternyata sudah habis, ya sudah, toh di depan sana masih ada satu lagi warung Padang yang sambal rendangnya sangat nikmat. Alhasil semakin lama semakin malam, semakin menuju kampung yang di wilayah pegunungan tak dapat ditemui lagi restoran atau warung Padang, bahkan angkringan sekalipun. Akhirnya sampai rumah tak jadi membawa nasi bungkus sesuai harapan. Cerita kedua ketika pak Iyun yang sedang dalam perjalanan ke rumah neneknya. Jika sudah masuk waktu sholat Ashar rencananya akan mampir di masjid Mustaqim, pikirannya berubah nanti saja di masjid Al-Huda, berikutnya berubah lagi nanti saja sekalian kalo sudah di rumah neneknya, repot banyak bawaan dan pakaian kotor pikirnya. Singkat cerita, ketika adzan Magrib ternyata masih di perjalanan dengan kondisi harus mendorong motor – karena ban depan bocor. Sudah berjalan 3 km belum mendapat tukang tambal ban - karena di wilayah pegunungan yang jauh dari pemukiman, dan akhirnya sholat Ashar tidak tertunaikan hingga di penghujung waktu. Kiranya pemikiran ini pula yang terjadi ketika seorang gadis yang cantik, pintar dan terpelajar serta berasal keluarga berada, namun belum juga menikah hingga usia kepala lima. Mungkin karena banyaknya pilihan yang tersedia, ditambah keyakinan bisa mendapatkan yang terbaik, dan anggapan waktu masih panjang. Inilah beberapa realita, yang berikutnya akan kita ambil uraian hikmahnya.

Sebelum masuk ke substansi pokok, mari sejenak kita cermati beberapa realita yang terjadi akhir-akhir ini. Sekitar sebulan ini terjadi beberapa peristiwa yang menjadi headline berita, menghiasi layar kaca (televisi) dan surat kabar. Setidaknya ada tiga hal dengan bidang yang berbeda yang membuat berbeda pula sudut pandang dan penanganannya. Pertama, sidang Jessica yang sudah sebulan lebih makin hari bukan makin fokus, sebaliknya makin kabur, makin tak jelas vonis akhirnya dan baru kemarin dibacakan tuntutan jaksa penuntut umum (JPU) untuk kemudian akan dibacakan pembelaan terdakwa (pledoi) pada hari Rabu minggu depan. Kedua, kasus yang menimpa motivator kondang Mario Teguh yang dipojokkan oleh seorang anak yang berusia 31 tahun yang mengaku sebagai anaknya kandungnya dan selama ini telah ditelantarkan oleh bapaknya. Ketiga, Dasrul seorang guru SMAN 2 Makassar yang dihajar hingga berdarah-darah oleh wali murid, hanya karena pengaduan murid yang tidak terima dengan perlakuan fisik guru kepadanya. Kejadian guru Dasrul ini mungkin bisa mewakili beberapa kasus antara guru, siswa dan wali murid yang banyak terjadi di tanah air.

Satu hal yang perlu kita ingat dan kita pegang kuat-kuat, siapapun dan bagaimanapun adanya kita - kita tetap hanya penonton, hanya pengamat dan bukan ahli ataupun saksi. Kebenaran dari ketiga kasus di atas bukanlah area kewenangan kita, baik untuk menilai, mengkritisi apalagi men-justifikasi. Untuk kasus kopi Vietnam, secara fakta awal dari hasil penyidikan di TKP telah mengarah sebagai tersangka, namun tidak menutup kemungkinan jika Jessica yang dari keluarga kaya raya dengan menyewa pengacara mahal dengan berbagai dalih dan alibi serta penguatan ahli yang bisa mengaburkan delik - bisa membuat dirinya terbebas dari segala tuntutan. Demikian pula dengan Mario Teguh yang kata-kata motivasinya sangat inspiratif, kita tidak tahu secara pasti, kita juga tidak punya kapasitas dan kewenangan untuk memastikan apakah Ario Kiswinar ini benar anak biologisnya, atau anak yang hanya mencari sensasi karena memang secara administrasi ia benar anaknya karena dikuatkan dengan akta kelahiran, akta nikah dan kartu keluarga. Pun dengan Dasrul sang guru yang harus tersakiti jasmani dan rohani karena perlakuan wali murid yang mau menang sendiri. Kebaikan Dasrul dan guru-guru lain yang tersangkut kasus yang sejenis seakan hilang, sirna dan tergantikan dengan predikat buruk yang mencoreng nama baiknya.

Dalam menanggapi masalah yang terjadi, seringnya kita mudah terbawa arus dan mengambil “buih” sebagai pegangan. Buih, itulah yang banyak menjadi bahan paling mudah menjustifikasi tanpa melihat apa yang sebenarnya terjadi. Biasanya hal seperti ini terjadi tanpa sadar dan sering dilakukan, bukan karena suka, namun karena mudah. Banyak orang lebih suka mencari dan melakukan hal yang mudah dan menjauhi hal dianggap sulit. Menilai, menyalahkan dan mengkritik orang lain itu sangat mudah, sebaliknya introspeksi dan memperbaiki diri jauh lebih sulit, makanya jarang dilakukan. Membajak karya orang juga jauh lebih mudah dari membuat sendiri yang tentunya butuh pemikiran dan alur logika yang "Njlimet", waktu yang panjang dan tenaga yang tak terukur berapa jumlahnya.  Hal yang sangat mudah lainnya adalah "menunda", yang akan menjadi bahasan kali ini. Sangat mudah untuk mengatakan sebentar, nanti saja, besok saja dan banyak kata lain yang semakna untuk menunda. Tulisan Oase -8 dengan tema “menulis ceritera tentang diri” menjadi tulisan seri Oase yang paling banyak dibaca - lebih dari 350 kali.  Oase -9 kali ini mengangkat tema “Jangan menunda - jangan menunggu yang sempurna”, semoga bermanfaat.

Kembali ke tiga headline, ada tiga area yang berbeda yang kemudian mempengaruhi stigma (pandangan) masyarakat. Jessica yang dari kalangan keluarga kaya yang berusaha bebas dengan bantuan pengacara handal membuat masyarakat acuh, jenuh dan tidak tertatik bahkan cenderung pesimis dengan vonis akhir peradilan ini. Adapun untuk Mario Teguh yang seorang publik figur, pakar motivasi paling hebat dan dikagumi, menyebabkan pecah dan tercerai berainya para fans yang merasa kecewa, yang sebenarnya belum jelas kejadian sebenarnya. Kekecewaan itu muncul secara frontal yang berbentuk bully dan hujatan keji atas segala kebaikan dan isi motivasi yang telah dijadikan rujukan dan isnpirasi selama +- 9 tahun ini. Berbeda lagi Dasrul yang seorang guru, banyak pihak yang merasa peduli, merasa simpati, selanjutnya mengumpat dan menghujat pelaku penganiayaan guru. Kok ada orang yang tega dan bisa berbuat keji pada guru, figur penuh kharisma, guru sebagai sosok yang digugu dan ditiru. Inilah yang kemudian perlu kita cermati, mengapa sosok yang seharusnya dihormati karena kemuliaannya, namun dengan mudahnya seorang wali murid menganiaya dan menghakimi dengan tangan besi.

Singkatnya, inilah yang namanya musibah, yang bisa terjadi dan menimpa siapa saja, kapan saja dan di mana saja. Tidak hanya sosok pengusaha kaya raya semacam Jessica, atau publik figur motivator yang banyak dikagumi kehebatannya, atau guru yang kharismatik dan dihormati, bahkan pejabat publik, aparat, tokoh masyarakat hingga rakyat biasa. Alibi bisa disusun rapi, alasan dibuat meyakinkan dan pembelaan diri bisa didramatisir oleh pengacara ahli, namun itu semua tidak lebih baik dari pada kepasrahan, tawakal dan introspeksi diri sendiri. Kesadaran bahwa musibah yang terjadi adalah “ayat” dari Tuhan, yang bisa dimaknai sebagai peringatan, sebagai pelajaran, atau sebagai bencana untuk menggugah kesadaran. Selayaknya pepeatah “ada api ada asap”, maka musibah yang terjadi bukan tanpa sebab, tanpa tujuan dan tanpa ijin dari Alloh penguasa segala kehidupan alam semesta ini.

Inilah episode dan sekuel kehidupan manusia - termasuk guru, roda kehidupan bergulir tiada henti, dimana martabat dan kemuliaan bisa dengan mudah terkoyak karena terlena dan terbuai oleh rayuan kenikmatan, hasrat akan kekayaan dan balutan kenyamanan jabatan. Dari cerita Pak Tri, Pak Iyun dan beberapa peristiwa headline di atas dapat kami tarik benang merah - sebagai refleksi yang kami himpun menjadi beberapa point sebagai berikut:
  1. Tak seorang pun yang tidak memiliki masalah, setiap kita memiliki masalah yang berbeda kadar besar kecilnya. Masalah adalah sebagian dari kehidupan dan pasti diberikan sesuai dengan kelas dan bidangnya. Masalah kecil yang tidak diatasi sejak dini bisa berubah menjadi masalah besar dan jika kadarnya besar dan terus bertumpuk dan akhirnya akan menjadi musibah yang tidak hanya berdampak pada diri sendiri, namun merembet, menjalar dan berkembang menjadi masalah yang tidak dapat terselesaikan dengan cara sederhana.  
  2. Jika masalah menimpa, terkadang kita merasa sendiri, banyak orang menjauhi bahkan seakan mencemooh kita, padahal tidak demikian adanya. Sudah jatuh tertimpa tangga pula, itu hanyalah perasaan kita pada kondisi yang sangat terpukul. Jika kemudian yang terjadi tidak sesuai harapan dan tidak seindah impian, maka yakin saja bahwa ini adalah yang terbaik untuk kita, karena kita tidak pernah tahu skenario yang telah ditetapkan-Nya. Maka yang terbaik adalah bersandar kepada pencipta semesta ini dengan segenap kepasrahan, tawakal dan menerima setiap kejadian dengan keyakinan bahwa ini adalah peringatan, teguran atau jeweran dari Alloh untuk segera menyadari kesalahan, segera berbenah memperbaiki diri.
  3. Penyebab utama terjadinya masalah / musibah adalah kelalaian. Kelalaian bisa terjadi secara sadar atau tanpa sengaja, bisa juga karena penyalah-gunaan wewenang atau lepas kendali karena emosi, bisa juga dorongan nafsu atau himpitan keadaan yang tidak teratasi. Di sinilah kita harus mengaca diri, mawas diri dan selalu berhati-hati agar tidak lalai dan terjebak dalam tirani diri sendiri. Belajar dan terus berusaha memperbaiki karakter, sikap dan perilaku, agar tidak menjadi watak yang sulit berubah seperti pepatah jawa "Ciri wanci lelai ginowo mati" - yang berarti watak buruk tidak akan berubah sampai mati, Naudzubillahi min dzalik.
  4. Kesadaran sering “datang terlambat”, baru tersadar setelah sekian juta kilometer perjalanan, baru tersadar setelah sekian ribu hari dilalui, baru tersadar setelah sisa waktu pengabdian semakin menipis. Menunda, itulah sumber bencana yang nyata, karena begitu mudahnya mengulur waktu, begitu ringannya mengatakan besok dan begitu asyiknya menikamti berbagai kemudahan dan melupakan bahwa kita semua sedang mengalami ujian, menjalani penilaian dan menulis catatan tentang diri yang cepat atau lambat pasti akan dimintai pertanggung-jawaban.
  5. Ternyata, siapapun diri kita, sebaik apapun kualitas kita - kita tidak bisa memastikan bisa melakukan sesuatu yang terbaik pada tempat terbaik dan waktu terbaik. Tidak ada cara instan untuk menjadi baik apalagi menjadi terbaik. Untuk sebuah kebaikan, untuk suatu keutamaan maka lakukan segera di saat kesempatan pertama datang, jangan tunda dan menunggu kesempatan kedua atau ketiga, karena kita tidak bisa memastikan mendapat kebaikan yang sama pada kesempatan berikutnya.
Kemuliaan guru bukan diukur dari kepandaian dan rentetan gelarnya, bukan dari jabatan dan posisinya, bukan dari usia dan senioritasnya, bukan dari gaji, kendaraan dan rumah megahnya. Berapa banyak pribadi yang merasa pandai, merasa senior, memiliki posisi, namun hanya berorientasi gaji akhirnya menjadi pribadi yang kurang disegani murid-muridnya, kurang dihormati sesama teman kerja dan kurang dihargai oleh masyarakat sekitarnya. Kemuliaan, inilah harta termahal seseorang, apalagi bagi seorang guru. Kemuliaan guru terletak pada rasa pengabdian guru untuk mengajar dan mendidik siswa, teman kerja dan masyarakat. Rasa pengabdian itu yang mendorong jiwa untuk bersusah payah menempuh jarak, membelah derasnya hujan dan menepis teriknya matahari. Rasa pengabdian itu yang membangun keikhlasan  mengajar tanpa banyak keluhan karena berbagai keterbatasan atau kurangnya penghargaan. Rasa pengabdian itu yang membangkitkan motivasi untuk terus belajar memperbaiki kualitas diri agar menjadi guru idaman, guru membanggakan dan bukan guru yang mengecewakan.

Sebagai penutup kami tuliskan penggalan syair lagu karya Ebiet G. Age "Kita mesti bersyukur bahwa kita masih diberi waktu, entah sampai kapan tak ada yang bakal dapat menghitung, hanya atas kasih-Nya, hanya atas kehendak-Nya kita masih bertemu matahari". Selagi masih ada waktu, mari lakukan yang terbaik, jangan menunda dan jangan menunggu yang sempurna karena tiada kesempurnaan dalam hidup ini selain Alloh Yang Maha Sempurna. Kuasa kita adalah berusaha untuk melakukan yang terbaik. "Nothing is perfect", tiada yang sempurna selagi masih bernama manusia. Selalu bersyukur dan selalu optimis menapaki hari demi hari dalam pengabdian ini. Demikian coretan Oase -9 kali ini, semoga bermanfaat, selamat bekerja semoga sukses. <59060>

Sabtu, 25 Juni 2016

Oase Ramadhan (8) : Menulis Ceritera Tentang Diri Sendiri, Inilah Saatnya Memulai

Ramadhan hari ke-20. Sungguh, hari-hari di bulan suci ini adalah kesempatan untuk melakukan introspeksi diri, untuk mengaca dan membaca diri, untuk muhasabah dan selanjutnya untuk memperbaiki diri menjadi insan yang lebih baik, sebagai mana salah satu ganjaran yang diharapkan bagi orang yang berpuasa akan kembali menjadi suci pada hari raya idul fitri, yang segera akan datang, tinggal menunggu sebentar lagi.. Alhamdulillah, di bulan ramadhan ini, di hari ke-20 puasa, di bulan yang penuh berkah ini kami berusaha untuk bisa kembali menuliskan satu tema yang sudah lama ingin kami tuliskan namun belum kesampaian karena kondisi dan berbagai hal membuat tulisan ini belum bisa tayang di web sekolah yang sederhana ini. Oase -8, Menulis Ceritera Tentang Diri, inilah tema kita kali ini, semoga bisa menambah wawasan dan semangat dalam menjemput hari yang fitri.

Mengawali tema oase ini kami ingin sedikit berbagi cerita hal yang mungkin bisa terjadi di mana saja. Beberapa waktu lalu kami menulis sebuah status di media sosial terbesar di Indonesia, yang terjadi berikutnya muncul banyak komentar dan beragam yang umumnya bersifat positif. Dari sekian banyak komentar tersebut ada satu komentar istimewa yang kemudian menjadi inspirasi dan selanjutnya menjadi bahan utama tulisan Oase 8  kali ini. Komentar tersebut secara lengkap berbunyi demikian "Begitulah kehidupan pak... kita ini sedang menulis ceritera... untuk di ceritakan lagi dialam lain". Beliau membuat komentar tersebut atas tulisan status kami yang mengungkapkan rasa terhadap kerendahan hati seseorang, demikian tulisan status kami tersebut : "Harapan dan doa teman guru yang tawadhu' - Jika sudah baik, jadikan saya istiqomah dan semoga bisa memberi manfaat kepada yang lain - Jika belum baik, bukakan hati dan pikiran saya untuk bisa belajar dan mengambil hikmah atas segala kejadian - Jika di tempat ini tidak bisa menjadi baik, berikanlah tempat baru yang bisa membuat diri lebih mendidik, lebih baik dan lebih mendewasakan".

Sekuel kehidupan bisa berubah-ubah, tergantung pada rekaman peristiwa. Benar adanya bahwa apa yang ada dan terjadi saat ini adalah hasil dari cerita yang pernah kita tulis pada tahun-tahun yang telah berlalu. Ketika ada seorang guru yang kemudian menjadi guru pavorit (paling disukai) bagi siswa karena baik, ramah, santun atau pandai, cerdas, terampil - tentukan bukanlah hasil sulapan atau trik sesaat, namun hasil rekam jejak yang ada pada memori siswa. Demikian pun yang terjadi ketika ada siswa yang saat itu duduk di kelas 9A (Rini) yang bisa menirukan beberapa guru dengan secara spesifik dan sangat mirip, tentu bukan pula sebuah rekayasa tanpa ada ujung pangkalnya. Lebih lanjut, dan ini yang lebih parah adalah ketika dari sebuah survei diperoleh data yang merujuk kepada status seseorang menjadi figur yang tidak disukai karena dianggap buruk atau tidak semestinya. Hal itu mungkin saja terjadi karena siswa menilai ia galak, pemarah, acuh dan kurang perhatian,  - dan tentu saja tidak ada hipnotis yang dilakukan agar siswa menilai buruk pada gurunya. Dan inilah yang kami maksud dengan sekuel kehidupan, segala sesuatu bisa saja terjadi. Semua bisa terjadi, kapan saja, dimana saja dan pada siapa saja. Bahwa bisa saja kali ini kita dinilai buruk, namun di lain waktu bisa berubah menjadi baik, demikian sebaliknya dari baik bisa menjadi buruk.

Prof. Dr. Khoirul Anwar pemilik paten di Jepang atas sistem telekomunikasi 4G berbasis OFDM (Orthogonal Frequency Division Multiplexing) yang kini bekerja di Nara Institute of Science and Technology, Jepang. Dia mengurangi daya transmisi pada orthogonal frequency division multiplexing. Hasilnya, kecepatan data yang dikirim bukan menurun seperti lazimnya, melainkan malah meningkat. Hasil penelitiannya tersebut mampu menurunkan power sampai 5dB=100 ribu kali lebih kecil dari yang diperlukan sebelumnya.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/ella_zulaeha/ilmuwan-indonesia-mendunia-lebih-terkenal-di-negeri-orang_550fdf39813311d334bc613d
Prof. Dr. Khoirul Anwar pemilik paten di Jepang atas sistem telekomunikasi 4G berbasis OFDM (Orthogonal Frequency Division Multiplexing) yang kini bekerja di Nara Institute of Science and Technology, Jepang. Dia mengurangi daya transmisi pada orthogonal frequency division multiplexing. Hasilnya, kecepatan data yang dikirim bukan menurun seperti lazimnya, melainkan malah meningkat. Hasil penelitiannya tersebut mampu menurunkan power sampai 5dB=100 ribu kali lebih kecil dari yang diperlukan sebelumnya.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/ella_zulaeha/ilmuwan-indonesia-mendunia-lebih-terkenal-di-negeri-orang_550fdf39813311d334bc613d
Tak seorangpun dapat menerima apalagi bangga jika dianggap, di-cap, di-stempel buruk. Dan faktanya yang terjadi adalah kebanyakan mereka tidak sadar jika cap itu ada dan menempel pada dirinya, bisa jadi memang tidak tahu namun mungkin juga karena tidak mau tahu. Kita tetap harus berfikir positif, bahwa bukan berarti sesorang yang buruk akan selalu buruk dan tidak bisa merubahnya menjadi yang sebaliknya baik. Hal ini karena sebenarnya setiap kita sudah diberi dan dilengkapi dengan berbagai kehebatan dan kelebihan untuk menutupi kelemahan dan kekurangan. Kalau kemudian seseorang menjadi sangat baik dan menghasilkan berbagai karya hebat, spektakuler dan monumental itu karena dia menjaga dan memposisikan diri untuk selalu berada dalam kehidupan yang baik, yang produktif, yang berdaya guna dan yang bermanfaat bagi banyak orang. Mungkin terlalu tinggi jika harus berkaca pada Prof. Dr. Ing. BJ. Habibie, M.Eng dengan desainnya yang dipakai dan diadopsi perusahaan Boeng dan industri pesawat terbang sedunia, atau juga Prof. Dr. Eng. Khoiril Anwar assisten profesor di Jepang, aslinya dari Kediri yang kemudian dikenal dengan penemu teknologi 4G - LTE. Mereka terlalu hebat, terlalu baik dan terlalu tinggi untuk dibandingkan dengan diri kita.

Kita tetap harus mengukur baju pada badan sendiri, artinya kita mengukur kemampuan diri sendiri, yang sesungguhnya dan pasti kita mempunyai berbagai kelebihan. Kita tinggal menggali potensi diri, memompa semangat untuk berkarya, berprestasi dengan penuh integritas diri. Menjadi yang terbaik ? Syukur kalau bisa, namun sejatinya tidak harus. menjadi yang terbaik. Sebaiknya tidak usah berfikir untuk menjadi yang terbaik, karena tak akan pernah bisa dan akan membuat kita kecewa. Seperti pepatah "Di atas langit masih ada langit", di luar sana yang baik atau yang lebih baik itu banyak - bahkan sangat banyak. Tugas kita adalah melakukan hal terbaik yang bisa kita lakukan, melakukan sesuatu dengan penuh dedikasi, penuh totalitas dan penuh integritas diri. Kenapa harus ada integritas diri (kejujuran), .... ya karena jika kebaikan atau prestasi yang diperoleh tanpa integritas diri, diperoleh karena mengakali atau tidak jujur justru akan menjadi bumerang yang akan menyusahkan diri sendiri.

Mapan, Aman, Nyaman
Inilah hal kebanyakan menjadi kendala sesorang untuk berkarya dengan optimal sehingga bisa berkarya sesuatu yang hebat dan istimewa. Tidak ada salahnya jika orang berharap hidup mapan, aman dan nyaman, dan ini adalah wajar (sunatulloh), namun tetap harus pada fase dan koridor yang semestinya. Menjadi salah dan semakin parah ketika orientasi hidup mapan, aman dan nyaman namun mengabaikan kebenaran, etika dan mengabaikan perasaan orang-orang di sekitarnya. Ketika hanya berorientasi mapan, maka segala daya upaya dilakukan untuk sebuah kemapanan yang bahkan mungkin bisa dengan cara dibeli. Demikian juga dengan aman, yang malas sekalipun bisa mudah mendapatnya, apalagi jika merasa bisa membayar berapapun demi status yang penting aman. Idaman. Terlebih orang yang berorientasi nyaman, mereka tak mau susah-susah mikir, mau susah payah bekerja, dan tak mau tahu bagaimana orang lain pada saat yang sama susah, menderita atau bahagia. Jika kita hanya berfikir untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri, kemapanan diri sendiri, aman untuk diri sendiri dan kenyamanan yang dinikmati sendiri, maka akan banyak membuat masalah bagi yang lain dan bahkan mungkin menyusahkan dan menyengsarakan orang lain.

Di sinilah dibutuhkan kepekaan diri, kepedulian diri dan kehalusan nurani, bahwa kita tidak hanya hidup sendiri, bahwa kita tidak hanya berpikir untuk kepentingan diri sendiri. Momen ramadhan adalah waktu terbaik untuk memulai menuliskan ceritera diri, ceritera tentang diri kita sendiri. "Laallakum tattakun", menjadikan kamu sekalian bertaqwa. Puasa bukan sekedar menahan lapar dan haus dari subuh hingga maghrib. Pada hakikatnya puasa lebih melatih kita peka pada lingkungan, bagaimana rasanya mereka yang tak punya sesuatu untuk sekedar makan, bagaimana rasanya orang susah yang serba kekurangan. Kita dilatih untuk lebih halus perasaannya, lebih lembut hatinya dan lebih murah hati untuk memberi. Puasa berhasil akan menjadikan diri jauh dari egois, tamak/serakah serta menjadi pribadi yang punya empati dan mudah peduli.

Momentum Ramadhan ini adalah awal yang tepat untuk memulai ceritera baru tentang kita, tentang diri kita, sikap kita, kedewasaan kita, moral dan spiritual kita, lengkap dengala hal baik dan hal buruknya dan kita sendiri yang akan menuliskannya. Inilah yang akan menjadi awal ceritera diri kita ke depan, setiap hari kita akan menulis ceritera tentang diri kita, sehingga setahun ke depan kita akan mempunyai catatan baru, lembaran baru yang akan dibaca oleh siswa-siswa kita, oleh teman-teman kita, oleh tetangga kita dan oleh saudara-saudara kita bahwa kita telah berubah, kita menjadi bertambah baik dari tahun sebelumnya. Jika ini terjadi terus menerus dari tahun ke tahun, dari waktu ke waktu, maka bukan tidak mungkin kita akan menjadi pribadi idaman yang sangat didambakan setiap insan. Puasa yang sejatinya untuk menjadikan seseorang naik keimanannya hingga derajat taqwa pada implikasinya bukan hanya taqwa sendirian, bukan sukses sendiri, bukan hebat sendiri, namun taqwa bersama, sukses bersama dan hebat bersama. Mari kita sambut hari-hari ke depan dengan berbagai karya dan prestasi yang lebih baik. Selamat berpuasa, selamat berkarya semoga sukses. <985>

Sabtu, 19 Maret 2016

Oase -7: Pioner, Bukan Ahli Namun Inilah Langkah Tepat Menjemput Sukses

Seri tulisan Inovasi baru sampai pada edisi ke-4 dan masih tertahan sekitar 5 tulisan, namun terpaksa kami tunda karena situasi dan kondisi yang belum memungkinkan untuk menyelesaikannya. Sekedar untuk review seri inovasi yang telah terbit, berikut kami tampilkan kembali link 4 seri yang sudah kami tayangkan; Inovasi-1, Inovasi-2, Inovasi-3 dan Inovasi-4. Terinspirasi figur guru besar fakultas kedokteran UGM - Prof. drg. Etty Indriyati, Ph.D, sosok hebat yang pakar dan ahli dalam bidang antropologi forensik dan paleoantropologi, kami membuat tulisan Oase-7 yang mengangkat tema seluk beluk perjuangan menjadi pioner walau dalam kondisi kekurangan dan keterbatasan. Terlepas dari masa-masa  sulit untuk mewujudkan sebuah hal yang terlihat langka itu, namun ternyata yang terjadi selanjutnya sungguh di luar dugaan dan bahkan sama sekali tidak terbayangkan sebelumnya. Sebelum masuk ke prolognya, ijinkan saya untuk bercerita perjalanan, sebagian berbau pribadi – bukan untuk unjuk diri yang tak seberapa ini, hanya satu harapan semoga bisa menginspirasi dan menambah semangat menapaki episode pengabdian ini.

Tahun 2005 saya diberi tugas oleh kepala sekolah untuk membuat konsep dan desain site plant sekolah SMK Maarif ke depan, tugas itu bertajuk Desain Site Plant Maarif Tahun 2010. Konsep site plant itu berupa bangunan yang terintegrasi, bangunan berlantai dua yang lengkap dan futuristik mulai dari ruang kantor tata usaha, ruang tamu dan ruang kepala, 1 ruang guru, 15 ruang kelas, 2 lab komputer, 1 aula besar,  3 bengkel permesinan lengkap dengan tata letak mesin dan kelengkapannya, ruang security hingga lapangan tenis indoor. Alhamdulilah, setelah sekitar 2-3 minggu akhirnya desain  itu terwujud secara sederhana dengan menggunakan program Autocad 2000, dengan komputer “jangkrik” yang berbasis sistem operasi Windows 98. Saat itu belum ada aplikasi grafis 3 dimensi seperti yang marak saat ini semisal 3D Max, Revit Architecture, Archicad, Tekla, Rhinoceros atau Google SketchUp. Tidak banyak, bahkan masih sangat jarang (asing) orang yang mampu dan menguasai program Autocad 2000 yang membutuhkan imajinasi geometri, perhitungan dimensi dan berbagai bentuk tampilan proyeksi, karena memang belum lazim digunakan serta berbagai keterbatasan teknis lainnya. .

Gambar desain site plant yang kami kerjakan tersebut dapat dilihat secara 3 dimensi, dapat dilihat per bagian, per ruang, per tingkat/lantai bahkan dapat dilihat secara "peritilan", artinya dapat dilepas perbagian dan dapat dirangkai kembali. Pada perjalanan berikutnya desain itu lalu dijadikan acuan pembangunan gedung dan sarana prasarana kampus stemakid yang dapat dilihat seperti sekarang ini. Pada akhir tahun 2006, desain site plant tersebut dipamerkan oleh kepala sekolah kepada direktorat SMK yang waktu itu menyempatkan diri berkunjung ke kampus stemakid. Sungguh tak terbayangkan sebelumnya bahwa desain itu akan dilihat pejabat direktorat, bahkan kemudian mendapat respon positif dengan akan digulirkannya bantuan untuk realisasi rencana pembangunan gedung tersebut. Saat bersamaan juga disaksikan oleh beberapa pejabat dinas pendidikan Kab. Magelang, dan salah satu dari mereka menyatakan bahwa pada desain site plant tersebut adalah satu-satunya desain sekolah dengan tampilan 3 dimensi yang ada di kabupaten Magelang. Alhamdulillah, semua yang terjadi adalah karunia Alloh semata dan merupakan berkah yang tiada terkira.

Kepala sekolah yang visioner dan piawai dalam komunikasi adalah salah satu keunggulan sekolah kami. Tidak berselang lama, maka tahun berikutnya (2006) sekolah kami mendapat undangan ke Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan Jakarta (Dikmenjur, sekarang berubah menjadi Direktorat Pembinaan SMK). Maka kemudian kami bertiga (kepala sekolah, wakil kepala sekolah dan diri saya)  berangkat ke Direktorat Jakarta untuk presentasi best practice dan rencana ke depan. Untuk kepentingan ini saya kembali ditugasi untuk membuat profil dan bahan tayang yang mengusung tema “Berani Tampil Beda”, yang kemudian kami presentasikan di depan pejabat dewan penilai di Direktorat Jakarta. Terus terang sebenarnya saat itu saya merasa pesimis dengan apa yang kami miliki, dengan apa yang kami buat dan kami presentasikan, apalagi jika dibanding dengan 30-an sekolah lain se Indonesia yang melakukan presentasi pada hari yang sama.

Apa yang terjadi kemudian sungguh di luar bayangan saya yang sama sekali tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Beberapa bulan kemudian SMK ini dinyatakan layak dan ditunjuk menjadi sekolah penerima paket Program Jardiknas yang berarti menjadi pusat pengembangan IT (ICT Center) di Kabupaten Magelang dalam program Jaringan Pendidikan Nasional (Jardiknas). Dampak berikutnya, saya ditunjuk menjadi koordinator ICT Center Kab. Magelang, dan konskuensinya harus wira-wiri di wilayah Jawa Tengah, hingga forum yang berskala nasional di Malang Jawa Timur. Tahun berikutnya saya harus siap ditunjuk untuk bertugas menjadi Ketua Jurusan Teknik Komputer Jaringan (TKJ), hal ini karena sekolah membuka jurusan baru, sementara belum ada guru yang spesialis bergelar sarjana komputer. Bak pepatah  tiada rotan akar pun jadi, maka saya yang tidak memiliki latar belakang pendidikan jurusan komputer dengan segala apa adanya siap tidak siap - mau tidak mau harus menjalani.

Sejak saat itu perkembangan SMK Maarif Kota Mungkid maju pesat dan semakin dikenal luas. Terlebih lagi sebagai ICT Center diberi kewenangan mengelola/mengendalikan jaringan internet dari program jardiknas, membagi koneksi internet serta menyalurkan ke sekolah-sekolah dan kantor pemerintah yang menjadi klien. Konskuensi berikutnya sebagai ICT Center berperan dan bertugas mengadakan pelatihan pemanfaatan ICT bagi sekolah-sekolah di wilayah Kab. Magelang.  Maka mulai tahun 2007 secara marathon kami mengadakan pelatihan ICT bagi guru, pustakawan, dan TU dari beberapa sekolah SD, SMP dan SMU. Beberapa sekolah bahkan "bedol sekolah" selama satu minggu membawa seluruh guru dan karyawan untuk belajar pemanfaatan ICT ke sekolah kami. Kami dibantu beberapa teman kami dipaksa keadaan untuk menjadi nara sumber dan memberikan pelatihan ICT bagi sekian jumlah guru, pustakwan dan TU.

Inilah episode perjalanan manusia yang ternyata bisa terjadi di luar nalar dan di luar bayangan. Saat ini, ketiga orang pernah meretas jalan ke Direktorat Jakarta sudah tidak aktif lagi di sekolah ini. Kepala sekolah saat itu (Bapak Drs Sugeng Riyadi, M.S.T) sekarang sudah menjadi pejabat di Disdikpora Kab. Magelang sebagai kepala bagian ketenagaan, adapun wakil kepala sekolah saat itu (Ibu Mustikawati, S.Pd) sekarang bertugas menjadi guru senior (PNS) di SMKN Windusari Magelang, dan saya (Pak Mar) hijrah menjadi guru yunior di SMPN 2 Kepil Wonosobo. Satu pesan kepala sekolah saat itu adalah "Bekerja ikhlas sajalah, maka yang berikutnya adalah kewenangan sing ngecet lombok", yang tidak pernah tidur dan selalu membalas setiap kebaikan dengan kebaikan yang lebih banyak.

SMK Maarif Kota Mungkid yang beralamat di jalan Mayor Unus Kota Mungkid, Desa Deyangan Kec. Mertoyudan saat ini telah menjadi sekolah besar dan cukup bergengsi. Jumlah murid hampir mencapai 900 siswa yang tersebar dalam 24 kelas adalah jumlah yang besar untuk sekolah swasta di wilayah pedesaan. Pada saat PSB sementara sekolah swasta lain sibuk mencari murid baru, sekolah ini bisa memilih calon murid baru, dan sebagian lainnya terpaksa ditolak karena kuota sudah terpenuhi. Bangunan gedung yang megah, kelengkapan peralatan praktik dan bengkel yang memadai adalah salah satu daya tarik sekolah ini. Data terakhir di tahun ajaran 2015/2016 membuka jurusan baru dengan struktrur kelas sebagai berikut :
  • Kelas 10 terdiri lima jurusan ;  TKI (1), TKR (2), TSM (1), TKJ (3) dan TPM (4)
  • Kelas 11 terdiri tiga jurusan ; TKR (1), TKJ (2) dan TPM (4)
  • Kelas 12 terdiri dua jurusan ; TKJ (2) dan TPM (4)
Sekolah yang mempunyai peran lain sebagai ICT Center semakin melekat kuat pada sekolah ini dan saat ini menjadi rujukan untuk pembelajaran terkait teknologi IT serta menjadi langganan tempat pelatihan dan ujian berbasis internet. Inilah episode perjalanan dan perputaran waktu yang bisa membuat sebuah lembaga maju dan berkembang pesat sesuai dengan usaha dan karya yang diupayakan untuk memperoleh hasil yang optimal.

Benang merah yang ingin saya tarik sebagai kesimpulan dan untuk selanjutnya dapat diterapkan di setiap sekolah lainnya – terutama sekolah kami saat ini (SMPN 2 Kepil) adalah sebagai berikut :
  1. Jangan remehkan visi. Sekolah yang mayoritas guru-stafnya yang visioner sangat berpeluang untuk menjadi sekolah maju dan besar. Mereka fokus pada kemajuan sekolah dan berorientasi pada layanan prima (kepuasan siswa) salah satu bentuk pribadi yang visioner.
  2. Jangan takut menjadi pioner, tidak ada ruginya menjadi pendahulu. Memang resikonya adalah ribet dan harus banyak mencoba, namun ilmu dan pengalaman yang diperoleh adalah sesuatu yang sangat mahal harganya bagi sebuah kesuksesan. Menjemput Sukses adalah prinsip yang lebih tepat dari pada menunggu sukses. Inilah yang terjadi dengan SMPN 2 Kepil sebagai pilot project K-13, banyak hal baru yang dilakukan, banyak kesulitan yang dialami, namun demikian banyak manfaat yang diperoleh dan menjadikan sekolah ini
  3. Jangan takut berbeda, karena sejatinya kita memang tidak sama. Yang sama itu sudah biasa, yang baru dan berbeda itu yang luar biasa. Di sinilah kata INOVASI ditekankan, betapa peradaban bertambah maju karena adanya inovasi, kita menikmati berbagai kemudahan di berbagai bidang karena proses inovasi. Oleh karena itu sebagai guru yang berperan sebagai fasilitator dalam proses transfer ilmu dan keteladanan, maka inovasi sangat diperlukan untuk membuat situasi pembelajaran menjadi lebih aktual dan menarik. Demikian selanjutnya maka hasilnya akan lebih terasa dampaknya pada peserta didik. Inovasi sebuah keniscayaan yang harus kita upayakan masing-masing diri dalam melaksanakan tugas dan pekerjaan kita, tentu saja bertahap sedikit demi sedikit mengikuti tahapan yang kita mampu dan yang kita bisa.
  4. Jangan lupakan niat untuk ikhlas dan tulus dalam pekerjaan. Memang berat dan bukan perkara mudah untuk memiliki pribadi yang hebat ini, namun sebenarnya mudah bila memahami hakekat dan tujuan dalam bekerja. Hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya ; bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya. (Laskar Pelangi : Andrea Hirata). Prinsip berkarya yang tulus dan ikhlas, tanpa menghitung untung berapa, berapa kali hadir dan berapa besar honor. Bagi merekan yang suka itung-itungan maka berat untuk menerima falsafah adiluhung ini, karena lebih suka yang instan dan hasilnya langsung dan nyata.
SMP Negeri 2 Kepil termasuk pionir dalam beberapa hal, oleh karenanya sekolah ini mempunyai khans untuk maju lebih cepat, untuk sukses lebih hebat. Beberapa personil guru dan staf yang memiliki pandangan maju serta visoner adalah bekal kuat untuk siap melaju pesat menjemput sukses bagi sekolah ini. Ada Bu Ruti Sumarni, M.Pd, yang giat membuat terobosan kegiatan di saat sekolah lain belum memulai, ada Pak Suronto staf TU yang piawai di bidang IT dan selalu update informasi yang bermanfaat bagi guru, siswa dan sekolah, ada Bu Isti Supriyanti, S.Pd yang aktif dalam kegiatan Pilot Project K-13 sekaligus nara sumber nasional bersama Bu Ruti, ada Pak Bambang Nuryanto, S.Pd, M.M.Pd (Plt Kepsek) yang aktif dan update segala hal terkait kebijakan baru, serta rekan-rekan guru lain yang aktif dan respek untuk belajar dan berinovasi dalam pembelajaran, yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu. Mungkin slogan "Berani Mencoba dan Tampil Lebih Dahulu" bisa menjadi tag line tambahan untuk membuat suasana sekolah ini bertambah hidup, kreatif dan inovatif.

Demikian tulisan Oase-7 ini, semoga panjangnya tulisan ini tidak membuat pembaca bosan dan jengah untuk bisa mengambil makna utamanya. Di luar sana sangat banyak pengalaman dan hkmah yang belum kita ketahui karena kedangkalan pengetahuan kita, atau kerendah-hatian mereka yang pandai menyimpan selaksa kehebatan. Jangan terlalu risau dengan komentar dan pendapat orang lain, karena betapapun baik yang Anda lakukan untuk orang lain, akan selalu ada orang yang mencela, tetaplah upayakan yang terbaik. Tulisan atas dasar pengalaman yang kami bagikan ini mungkin kecil dan tidak berarti, namun kami berharap semoga bisa memberikan penguatan motivasi dan inspirasi untuk bisa meraih kemajuan dan kesuksesan bersama. Siapkan diri untuk menjadi pionir di bidang kita masing-masing demi kemajuan pendidikan. Selamat beraktifitas, semoga sukses. <39455>