text

Selamat Datang di Blog SMP N 2 Kepil Wonosobo ... Sekolah SEJUTA IMPIAN, ... Awali Suksesmu Dari Sini ... Mulailah segala sesuatu dengan BISMILLAH ...
Tampilkan postingan dengan label Inovasi Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inovasi Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Oktober 2020

Kesiapan Sekolah untuk Pembelajaran Jarak Jauh di Masa Pandemi

Masa pandemi Covid-19 sudah 6 bulan terlewatkan, setengah tahun lebih, bagi sekolah artinya sudah mencapai satu semester lamanya. Sejak wabah corona melanda negeri ini, sontak merubah hampir semua aktifitas kehidupan, membuat berbagai perubahan yang berbeda dari yang biasanya. Ini terjadi hampir di semua lini, mulai dari sektor ekonomi industri, sektor pariwisata, sektor pertanian, sektor perdagangan, sektor ibadah religi,  dan juga sektor pendidikan. Selain ekonomi, sektor pendidikan merupakan bidang yang merasakan dampak terburuk akibat wabah corona ini, dimana sekolah-sekolah ditutup tidak boleh mengadakan  kegiatan pembelajaran di dalam atau lingkungan sekolah. Semua dilaksanakan dalam rangka social distancing, menjaga jarak dan menghindari kerumunan yang dikhawatirkan menjadi sebab dan sumber penularan (klaster baru).

Dari sekian banyak bidang yang ada, maka bidang pendidikan adalah yang paling parah merasakan dampaknya dimana kegiatan pendidikan tidak bisa dijalankan sebagaimana mestinya. Aspek terkait dengan aturan dilarang mengadakan kerumunan dan susahnya menjaga jarak adalah alasan paling kuat untuk merumahkan murid dan guru. Akhirnya semua kegiatan pembelajaran dirubah pola dan model pelaksanaannya dari pembelajaran tatap muka menjadi pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang sekarang banyak dikenal dengan istilah pembelajaran dalam jaringan (daring) menggunakan media internet. Ada banyak ragam dan model yang digunakan oleh guru untuk memberikan layanan pembelajaran kepada murid-muridnya, dengan model yang beragam di setiap sekolah.

Keberagaman model pembelajaran jarak jauh ini sangat berkait erat dengan tiga hal yang menjadi unsur utama dalam pembelajaran, yang jika meminjam istilah dalam sistem komputer ketiganya dapat dibedakan sebagai berikut. 

  1. Hardware, perangkat keras yaitu kondisi dan ketersediaan sarana prasarana yang mendukung dalam pembelajaran jarak jauh, yang identik dengan perangkat komunikasi yang bisa digunakan untuk akses internet. Perangkat ini harus tersedia dalam kondisi yang baik pada guru maupun pada murid. Perangkat ini meliputi komputer, laptop, gadget, jaringan internet, wifi atau paket data seluler. 
  2. Software, yaitu perangkat lunak yaitu kondisi dan ketersediaan perangkat aplikasi yang dimiliki dan dikuasai untuk pembelajaran online, yang ini sudah banyak tersedia gratis di internet. Sebagai contoh yang disediakan oleh google antara lain formulir, classroom, documen, spreadsheet, slide, blog hingga youtube. 
  3. Brainware, perangkat otak yaitu kondisi dan ketersediaan sumber daya manusia (orang), yaitu guru, murid, dan jajaran manajemen sekolah. Maksudnya adalah kesiapan manusianya untuk melaksanakan pembelajaran jarak jauh yang terkait dengan pengetahuan, keterampilan dan pengalaman dalam mengoperasikan aplikasi berbasis online tersebut.
Untuk mewujudkan pembelajaran jarak jauh yang efektif di masa pendemi Covid-19 ini maka pihak menajemen SMPN 2 Kepil terus berbenah diri. Yang terkait dengan kebijakan maka jajaran pimpinan SMPN 2 Kepil selalu berkoordinasi dengan dinas pendidikan, yang terkait dengan media pembelajaran berbasis online maka dilaksanakan workshop/pelatihan berbagai pembelajaran online.

Semangat para guru untuk berlatih berbagai media pembelajaran online kepada peserta didik walau dalam banyak keterbatasan adalah kekuatan ekstra bagi jajaran pimpinan SMPN 2 Kepil untuk bisa survive dan tetap semangat berkontribusi untuk memberikan layanan pendidikan yang terbaik kepada siswa dan masyarakat. Tetap semangat berkarya dengan tetap menjaga protokol kesehatan demi kesehatan dan keselamatan semua warga sekolah dan masyarakat.
Selamat bekerja, selamat berkarya, semoga sukses selalu.

Selasa, 28 Februari 2017

Inovasi -7 : Laboratorium Agama, PKn dan IPS - Wahana Pembentuk Karakter

Alhamdulillah, kata yang paling tepat mengiringi banyaknya karunia dan nikmat yang Alloh berikan. Di antara banyak karunia dan nikmat itu ada dua yang istimewa. Pertama, adanya suara adzan Dhuhur yang berkumandang di speaker sekolah di setiap hari Senin hingga Kamis. Suara adzan dipilihkan dari suara muadzin cilik yang tayang di Adzan Magrib OVJ Trans 7, suara itu sangat merdu dan menyentuh hati untuk segera memenuhi panggilan sholat. Hal ini terjadi karena program sholat Dhuhur berjamaah yang dicanangkan telah disetujui dan sudah mulai dilaksanakan sejak hari Selasa 7 Februari 2017, insya-Alloh akan menjadi program unggulan baru yang akan memberi warna baru dalam proses pembentukan pribadi siswa di SMP Negeri 2 Kepil. Rasanya benar-benar damai dan menyejukkan melihat murid sholat berjamaah bersama guru-guru dan karyawan sekolah. Kedua, tulisan seri inovasi bisa kembali kami tuliskan, yang sedianya tayang di pertengahan Januari 2017 terpaksa urung terkendala bahan dan motivasi. Tulisan seri yang ke-7 kali ini secara spesifik berfokus pada rumpun humaniora yang meliputi mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), Pendidikan Agama dan Budi Pekerti (PABP) serta Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Sebenarnya masih ada satu lagi yang bisa dimasukkan dalam rumpun humaniora ini yaitu Bimbingan Konseling (BK), namun kami telah siapkan edisi khusus untuk BK pada tulisan seri inovasi yang ke-9, yang merupakan perpaduan antara ilmu psikologi dan pendidikan. Semoga tulisan sederhana ini bisa menambah wawasan dan membuka cakrawala baru khususnya bagi rekan guru rumpun humaniora.

Bagi yang berminat untuk download suara adzan dari Muadzin Cilik Bule pada acara OVJ Trans 7 dapat klik tautan berikut. Download Adzan Cilik Bule OVJ Trans 7.

Sebagai pembuka ijinkan penulis bercerita, beberapa minggu yang lalu penulis bertanya kepada salah satu murid pria apakah dia sholat, ia menjawab tidak sama sekali, maka penulis katakan, "Sungguh itu terlihat di wajahmu, sholatlah maka wajahmu akan terlihat bersih dan bercahaya". Wajahnya yang kusam dan terlihat kotor biasanya karena tidak pernah tersentuh air wudhu dan tidak pernah dipakai sujud. Dan secara umum di banyak kelas terjadi demikian, banyak siswa yang belum menjalankan sholat. Sebagai pembanding kita bisa melongok, di tempat lain, di cerita lain yang terjadi sekitar tujuh bulan yang lalu penulis bertemu seorang kakak beradik dalam suatu sholat Jum’at di Masjid Miftakhul Huda, Prembulan Tegalarum Borobudur. Sang kakak - yang seumuran kelas 7 atau 8 SMP - langsung mengajak bersalaman dengan disertai cium tangan pertanda khidmat (hormat), pada kami yang sama sekali belum dikenalnya. Wajahnya terlihat bersih, tatapan matanya teduh, nampak sekali sikapnya yang ramah, sopan dan penuh rasa santun. Dan di balik sikap tawadhuknya tersirat lautan ilmu, namun ia tetap rendah hati, tak sedikitpun nampak rasa sombong, acuh tak acuh atau rasa eksklusif. Hal inilah yang membuat rasa kagum dan tertegun dengan remaja yang istimewa ini, di saat sekarang sangat jarang dijumpai remaja dengan pribadi yang seperti ini. Rasa kagum akan sikapnya yang sopan, santun dan hormat pada orang lain, terutama pada yang lebih tua, menjadi inspirasi tersendiri. Betapa bahagia dan bangga orangtuanya memiliki buah hati yang demikian. Saya yakin tak satupun orang tua atau yang merasa lebih tua yang tidak mendambakan anak dengan pribadi yang utama seperti di atas.
 

Di tengah kondisi pendidikan yang terus berganti regulasi dan kurikulum, satu hal yang tidak boleh ganti adalah tujuan pendidikan yaitu mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Sangat tepat dan sejalan dengan realita di atas, maka kali ini secara spesifik membahas rumpun ilmu humaniora, humanis atau kemanusiaan. Jika pada rumpun bahasa adalah kunci ilmu, rumpun saint / eksak adalah dasar/pokok ilmu, maka humaniora / humanis adalah ruhnya ilmu, yang berisikan pendidikan budi pekerti, ruhani dan norma sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Maka keberadaan rumpun ilmu humaniora ini sangat dibutuhkan peranan, eksistensi dan aktualisasinya dalam dunia pendidikan di manapun dan di tingkat apapun. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), Pendidikan Agama & Budi Pekerti (PABP) dan Ilmu Pengetahuan Sosial mempunyai ruang lingkup yang berbeda, namun bermuara pada hal sama, yaitu norma yang berisi keutamaan dan kemuliaan. Tidak ada pertentangan antara satu dengan yang lain.
 

Terus terang saja, di era komunikasi global, di tengah kondisi yang serba terbuka dan penuh dengan dekadensi moral maka untuk mendidik anak-anak, terlebih remaja adalah pekerjaan yang tidak mudah, bahkan boleh dikatakan sulit. Di sisi lain, pendidikan yang berisikan kebaikan dan kemuliaan tidak serta merta dapat langsung disaksikan hasilnya. tantangan terasa menjadi beban tersendiri bagi guru yang bersangkutan, terutama ketika nilai-nilai kebaikan yang diajarkan tidak langsung dilaksanakan oleh siswa dengan berbagai alasan. Banyak guru, terutama mapel rumpun humaniora mengeluhkan sulitnya pembelajaran dan transformasi ilmu tentang norma, adab dan aturan kepada murid, terlebih dalam praktik kehidupan sehari-hari. Seperti ilmu tingkat dewa yang hanya ada di angkasa, laksana bunga indah namun tak kunjung berbuah, atau memelihara hewan yang dagingnya tak enak dimakan. Ilmu tentang keutamaan, norma dan kesusilaan seakan hanyalah teori yang jauh dari aplikasi, impian yang jauh dari harapan. Maka dibutuhkan inovasi agar rumpun ilmu ini dapat diajarkan secara terintegrasi, sehingga antara teori dan aplikasi dapat terwujud satu sistem yang terpadu. Inilah tantangan, dan dalam setiap tantangan ada kesempatan untuk meraih harapan.

Secara teori, pembentuk pribadi anak, terutama remaja terdiri pada tiga lingkungan yaitu, rumah, masyarakat dan sekolah. Pengaruh ketiganya pada masing-masing anak berbeda kondisinya, sangat tergantung dengan intensitas dan kualitasnya. 1) Rumah, inilah domain orangtua dalam memberikan pendidikan jati diri, pengisian ruhani dan pembentukan pribadi pada setiap anak. Orangtua memiliki kewenangan dan otoritas penuh dalam pembentukan jiwa dan pribadi anak. Faktor ekonomi, budaya, rohani dan pendidikan orang tua turut berpengaruh, namun faktor budaya dan rohani adalah yang paling besar pengarunya dalam pembentukan pribadi. 2) Masyarakat, inilah domain masyarakat yang sangat heterogen, baik kultural, ekonomi dan pendidikan. Pada situasi tertentu lingkungan sosial sangat dominan, mencapai hampir 80% pembentuk kepribadian remaja. Teman sebaya dan teman senior punya pengaruh yang sangat kuat dalam proses perubahan kejiwaan. 3) Sekolah, inilah domain pendidik, pengajar dan pembimbing di sekolah. Inilah lingkungan terbaik dan paling kondusif untuk pembentukan pribadi anak-anak dan remaja. Keberadaan guru yang dianggap mempunyai kharisma, keilmuan, psikologi dan kewenangan penuh dalam area sekolah adalah modal utama yang sangat ampuh. Perintah dan ajakan guru secara absolut (mutlak) akan dilakukan dan diikuti oleh siswa.
 

Dalam tataran aplikasi dalam dunia pendidikan, maka gabungan ketiga lingkungan menjadi satu sistem adalah lingkungan yang terbaik dalam pembentukan pribadi remaja. Inilah yang diterapkan oleh lembaga pendidikan dengan pola asrama (boarding school), karena ketiga lingkungan yang sudah didesain dalam satu sistem dan kultur yang kondusif. Banyak sekolah baik negeri maupun swasta yang sudah menerapkan pola asrama, untuk wilayah sekitar kabupaten Magelang contohnya SMA Taruna Nusantara, SMP-SMA Nurul Fikri, SMA Van-Lith Muntilan dan banyak pondok pesantren baik yang modern (PPM) atau yang klasik. Di kota lain semisal Bogor, Bekasi, Banten, Jakarta, Yogyakarta hingga Surabaya banyak sekolah sejenis dengan ragam, kelebihan dan keunggulan masing-masing. Pola asrama ini juga diterapkan pada sekolah yang tergolong lembaga kedinasan. Dan yang mengherankan justru banyak orangtua murid yang berminat untuk mendaftarkan putra-putri mereka pada sekolah berasrama, yang sudah barang tentu lebih mahal, tidak lain mereka ingin agar anaknya bisa belajar pada sekolah yang tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan dan teknologi semata, namun lebih kepada penempaan diri pribadi yang lebih unggul karena pendidikan di sini tidak hanya pagi sampai siang, namun 24 jam dari pagi sampai pagi lagi. Bisa dibayangkan beratnya perjuangan dalam pendidikan yang jadwalnya penuh dengan aturan yang sangat ketat.
 

Untuk sekolah umum (non asrama) kita bisa mencoba belajar dari kampus salah satu PTN di Yogyakarta. Bila pembaca memasuki kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (UIN SUKA), di halaman depan akan langsung melihat papan / plakat bertuliskan “Laboratorium Agama Masjid Sunan Kalijaga”. Sebuah kata yang simpel namun sarat makna, masjid di kampus ini yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat ritual peribadatan, namun sebagai laboratorium aplikasi dalam seluruh aspek kehidupan beragama. Belajar dari UIN SUKA, maka kita juga bisa menerapkan dan mengembangkan masjid / mushola yang ada di sekolah sebagai Laboratorium Agama yang bisa digunakan sebagai ruang utama praktek pembelajaran agama dan pembentukan karakter siswa. Melalui Laboratorium Agama masjid / mushola sekolah ini, guru bisa mengajarkan pada siswa untuk mendekat dan bersentuhan langsung dengan pembelajaran praktik yang membuat mereka dekat dengan Alloh, dekat dengan sesama dan merasakan makna hidup yang sebenarnya. Hal inilah yang kemudian menjadi inspirasi untuk dibuat kesimpulan tulisan kali ini, secara sederhana kami uraikan sebagai berikut:
  1. Propaganda kebaikan, bahwa kebaikan dan keutamaan harus terus didengungkan dan dijadikan program yang harus diaktualisasikan - walau dari sedikit demi sedikit, dan harus dijalankan - walau hanya setapak demi setapak. Siswa SMP yang tergolong usia remaja umumnya masih labil dan sangat butuh perhatian, maka untuk menanamkan kebaikan harus kerap diingatkan, senantiasa disuruh, sering diajak serta tidak bosan diajari dalam melakukan suatu kebaikan,  ibaratnya untuk menyuruh minum obat 3 kali sehari ya harus 3 kali diingatkan, 3 kali diajak dan 3 kali ditemani untuk minum obat, agar anak benar-benar minum obal 3 kali dalam sehari.
  2. Hidupkan Laboratorium Agama Masjid Sekolah, dengan cara mengajak mereka melakukan sholat, minimal sekali dalam sehari yaitu sholat dhuhur berjamaah. Insya-Alloh akan berdampak positif, dalam proses pembinaan mental dan kepribadian siswa akan menjadi lebih mudah. Manfaat sholat berjamaah bersama siswa bagi guru diantaranya menjadikan guru lebih tawadhuk, lebih berbobot, lebih bersih dan bercahaya, lebih kharismatik dan kondisi emosi lebih tenang, hal ini akan menambah rasa khidmat (hormat) siswa pada guru. Di masjid itu tidak ada kasta atau derajat, murid bisa duduk sejajar dengan guru, rakyat sebaris lurah, tukang sayur boleh berdiri di shof lebih depan dari kepala KUA dan seterusnya. Pelajaran berharga dalam sholat berjamaah adalah semua sama sebagai hamba yang rukuk dan sujud pada Alloh semata. Maka jangan ragu, mari sukseskan program ini untuk menjadi lebih baik, Prinsipnya : "Jagalah sholat, walaupun kita bukan orang yang baik, kelak, sholat itulah yang akan membuat kita menjadi baik".
  3. Field Study, bagian penting dalam pembelajaran PKn dan IPS. Laboratorium PKn dan Laboratorium IPS. mutlak dibutuhkan untuk tegaknya norma sosial berbangsa dan bernegara, sebagaimana praktik di laboratorium matematika gaya Pak Eko Sarwono dan praktikum di laboratorium IPA ala Bu Dyah Purwaningrum. Laboratorium PPKn di SMPN 1 Bantul bisa menjadi contoh dan acuan, begitu pula Laboratorium IPS bisa berinovasi dengan bentuk dan wahana yang lebih sesuai. Pada prinsipnya belajar tidak terbatas hanya di kelas, tetapi juga di luar keas seperti kegiatan field study, artinya siswa pergi ke sebuah desa dan belajar peduli kehidupan desa, atau kunjungan ke kantor desa, kecamatan, puskesmas atau lembaga sosial dan kemasyarakatan (laboratorium sosial) seperti yang pernah dilaksanakan oleh salah satu guru IPS di sekolah ini beberapa tahun yang lalu.
  4. Pembiasaan (habituation), perilaku baik atau buruk terbentuk oleh kebiasaan yang dibentuk oleh pembiasaan. Siswa yang berkata jorok, bersikap buruk dan tidak punya sopan santun karena ia terbiasa berada dalam lingkungan yang serba boleh, dimana keburukan dibiarkan saja tanpa kendali yang berarti. Sebaliknya mereka yang santun karena terbiasa dalam kondisi yang kondusif untuk banyak melakukan kebaikan-kebaikan. Norma-norma baik agama, susila maupun sosial memang harus selalu diajarkan, ditegakkan dan dijunjung tinggi sebagai hal utama, oleh karena perlu dilakukan proses inovasi, kreasi dan modifikasi lingkungan agar kondusif.
  5. Butuh totalitas, tidak tanggung-tanggung, setengah hati atau menggantung. Kesuksesan program hanya bisa diwujudkan bila telah dicoba, dievaluasi, disempurnakan dan ditindak lanjuti. Faktor keteladanan sangat berpengaruh dan memegang peranan penting, guru yang hanya menyuruh akan berbeda efeknya dengan yang mengajak, menunggui, mengajari dan membimbing serta memberi penguatan. Untuk prinsip ini jangan takut di depan, jangan enggan menjadi pioner, jangan malas menjadi penyeru agar jangan dikatakan "gedhang uwoh pakel" yang artinya "omong gampang nglakoni angel". Jangan sampai kita menyuruh anak-anak untuk sholat jamaah dan melakukan kebaikan-kebaikan namun kita tidak turut serta melaksanakan dan ikut serta menjaganya. Di tahun-tahun awal guru harus rela hadir mengecek kelas, menggiring dan mengajak mereka hingga ke tempat sholat. Pastikan kita hadir dan ada di antara mereka, karena memang mereka butuh kehadiran kita, ajakan kita, sentuhan kita dan teladan kita.
Jangan berharap kesempurnaan, dan jangan menunggu hingga datangnya kondisi yang sempurna yang layak untuk memulai kebaikan. Justru pada kondisi yang belum kondusif inilah kita dibutuhkan proses kreatif dan inovatif untuk mewujudkan lembaga pendidikan yang kondusif dan visioner. Tidak penting siapa yang menjadi pencetus ide atau penggagas program, yang lebih penting adalah siapa yang siap bergabung dan mendukung program yang visinya adalah kebaikan dan keutamaan. Mari, kita sebagai insan pendidikan untuk menjadi pibadi seperti yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantara. Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani. Dimanapun posisi kita, baik di depan, di tengah atau pun di belakang kita tetap bisa memberikan sumbangsih bagi tegaknya pendidikan. Kita memang harus benar-benar stand by, sigap dan tanggap untuk mendukung setiap program kebaikan dan keutamaan, terlepas apakah itu rumpun kita atau bukan, bidang kita atau bukan, yang pasti selama masih bidang pendidikan.
 

Kata kunci tulisan ini adalah upaya membentuk karakter siswa dengan akhlak terpuji, yang ditandai dengan taat kepada Alloh SWT, hormat, sopan dan santun kepada guru, orang tua dan orang yang lebih tua. Inilah kondisi ideal yang diidamkan setiap orang tua siswa dan masyarakat. Untuk membentuk sekolah seperti itu memang tidak mudah, tidak semudah membalik telapak tangan, namun tanpa ada cita-cita dan usaha maka mustahil terwujud dengan sendirinya. Semua kembali pada besarnya usaha, bila ada sekolah lain yang bisa, maka sekolah kitapun bisa. Demikian, tulisan tentang rumpun humaniora (sosial) yang bagian akhirnya justru dapat kami selesaikan ketika kondisi badan sedang kurang sehat setelah 4 hari opname (di rumah sendiri). Tulisan ini agak panjang karena memang butuh agak banyak uraian dan pengembangan, semoga bisa menambah wawasan, pandangan dan yang terpenting semangat untuk siap menjadi pasukan pendukung dalam penegakan norma dan aturan di sekolah agar teruwujud sekolah yang kondusif sebagai kawah candra dimuka bagi siswa-siswa di wilayah Kepil dan sekitarnya. Selamat beraktifitas, selamat berkarya, semoga sukses. <61769>

Rabu, 30 November 2016

Inovasi -6 : Praktik - Model Belajar Paling Menarik, Aktual dan Menantang


Tulisan ini kami selesaikan ketika wacana penghapusan UN (Moratorium UN) yang diluncurkan oleh Mendikbud Prof. Muhadjir Effendi. Salah satu alasan utama yang ada di kalangan siswa dan memicu polemik adalah karena UN itu menakutkan, takut nilainya jelek, takut tidak lulus, inilah alasan klise yang justru menjebak dan membuat situasi pendidikan tidak berada pada posisi yang seharusnya. Siswa belajar masih sebatas orientasi nilai, sebatas mencapai KKM dan masih berkisar pada pernyataan lulus. Hal ini berdampak pada proses pembelajaran di kelas yang juga masih berorientasi pada nilai ketika lulus, sehingga waktu, tenaga, pikiran dan sumber daya tereduksi pada mata pelajaran yang berorientasi lulus UN. Dari sekian mapel yang diajarkan di sekolah setingkat SMP hanya ada empat mapel yang di-UN-kan. Hal ini membuktikan betapa pentingnya mapel Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika dan IPA dalam standar transformasi pendidikan di jenjang SMP. Terkait tema tulisan kali ini, ternyata dua dari empat mata pelajaran yang di-UN-kan adalah rumpun MIPA, Matematika dan IPA, satu kehormatan dan sekaligus beban bagi guru pengampu mapel ini.

Untuk mengawali paparan seri Inovasi ke-6 kali ini, mari sedikit membuka cakrawala tentang kajian ilmiah yang pernah dipublikasikan 26 Juni 2006, fakta tentang molekul air yang merupakan senyawa yang terbentuk dari 2 atom Hidrogen dan 1 atom Oksigen (H2O). Secara kasat mata bentuk fisik air sama saja, baik yang berasal dari gunung, laut, sumur, sungai, danau ataupun dari langit ketika turun hujan. Namun jika dilihat lebih teliti, dengan bantuan mikroskop maka akan berbentuk hexagonal (kristal segi enam). Dan inilah yang dilakukan Prof. Dr Mazaru Emoto dari Jepang, dimana beliau telah melakukan penelitian dari berbagai jenis air dari berbagai tempat di beberapa tempat di dunia. Beberapa hal yang kemudian menjadikan penemuan terbaru dan sangat populer adalah bahwa air itu bersifat aktif dan reaktif, bersifat hidup dan dapat berinteraksi terhadap suara atau perilaku yang diterapkan padanya. Dalam publikasi hasil penelitian tersebut disampaikan bahwa ari yang diberikan kata-kata baik, sayang, cinta atau doa akan berbentuk kristal yang sangat bagus, sebaliknya jika didengarkan kata-kata kotor atau buruk maka bentuk kristal menjadi buruk atau bahkan hancur. Dan dari sekian ratus sample air di dunia, ternyata yang memiliki STRUKTUR KRISTAL TERBAIK adalah yang air yang diambil dari sumur ZAM-ZAM yang diambil dari masjidil haram di Mekah.

Dengan berharap rahmat dari Alloh, kami mencoba memulai kembali membuat coretan untuk tema seri Inovasi, yang kali masuk pada seri ke-6. Sungguh, ini adalah seri inovasi terberat yang kami buat, karena kami harus menulis tentang sesuatu yang notabene subyeknya adalah guru MIPA - sosok akademisi dengan tingkat intelegensi tinggi, sosok yang sangat jeli pada uraian materi, sangat kuat memegang prosedur dan sangat disiplin dalam masalah waktu, serta sangat kental dengan sintesa dan analisis pada masalah yang dihadapi. Inilah yang menjadi beban karena kami harus menulis sesuatu yang ditujukan pada para master, para senior dan para guru yang sangat ahli dan menguasai tentang ilmu yang sangat tinggi dan penuh dengan nuansa ilmiah. Namun demikian, kami tetap berusaha menulis karena kami melihat dari sisi lain yang mungkin tidak terlihat dan tidak disadari oleh sebagian dari mereka tentang kaidah transformasi ilmu pada siswa di sekolah menengah. Semoga tulisan yang sederhana ini akan membuka cakrawala baru dan bisa sedikit menambah khasanah ilmu untuk tambahan referensi, semoga bermanfaat.

Rumpun MIPA - Ilmu Dasar Utama yang Abstrak
Jika ditinjau dari kategori keilmuan, maka MIPA adalah rumpun khusus - ilmu pengetahuan yang berbeda dengan ilmu pengetahuan lainnya, karena proses, metode,  kajian dan sifatnya. Ada 4 ciri khas keilmuan yang menjadikan MIPA menjadi kelompok ilmu pengetahuan yaitu; obyektif, metodik, sistematik dan universal. Inilah yang kemudian menjadikan rumpun MIPA seakan-akan ilmu yang sulit, rumit, pelik dan menakutkan. Tak berhenti sampai di sini, dalam perkuliahan di perguruan tinggi hingga pembelajaran di kelas juga menjadi sesuatu yang terlihat eksklusif, di mana hanya disukai oleh mereka yang pintar, disiplin, serius dan terlihat tertutup. Bahkan muncul kesan hanya orang yang jenius, pintar sekaligus "kutu buku" yang bisa masuk jurusan ini, dan hanya jurusan teknik, akuntansi dan kedokteran saja yang mampu mengimbangi atau melampaui jurusan yang satu ini. Kesan inilah yang kemudian menjadi beban siswa dalam pembelajaran. Pertanyaannya, adakah metode dan trik agar pembelajaran MIPA menjadi sesuatu yang terkesan mudah, sederhana, asyik dan menarik. Bahasan tulisan ini tidak untuk mengulas atau mengusik pembelajaran oleh guru matematika dan IPA, namun hanya sekedar memberi sedikit gambaran yang mungkin belum dilakukan dan ternyata menjadi sesuatu yang menjadi daya tarik dan daya dorong menjadikan suatu yang berbeda dan memacu pembelajaran menjadi lebih baik.

Faktor Berpengaruh dalam Pembelajaran
Ada beberapa faktor yang berpengaruh pada proses pembelajaran di kelas, namun ada dua hal yang paling berpengaruh yaitu guru dan metode pembelajaran. Faktor pertama adalah guru. Ini faktor paling utama dan paling berpengaruh, dan faktor guru ini pula yang menjadi daya tarik utama pembelajaran. Guru yang dipavoritkan oleh siswa sangat dinanti kedatangannya oleh siswa, bahkan tidak jarang dijemput oleh siswa agar segera masuk kelas, sangat berkebalikan dengan guru yang kurang disukai siswa. Adapun daya tarik guru bukanlah semata-mata karena segi fisik; cantik, tinggi semampai ditambah kata semlohai, atau ganteng, tubuh tegap ditambah kata perkasa, sebagaimana artis, namun lebih kepada kompetensi kepribadian guru secara personal. Contoh ekstrim, guru yang gendut (seperti penulis), berwajah kusut, bertampang galak dan berperangai kasar pasti bukan guru pavorit bagi siswa, atau bahkan masuk kategori yang tidak disukai, walaupun sebenarnya guru tersebut pintar.

Faktor kedua adalah metode dalam pembelajaran, baik yang berupa model pembelajaran, teknik pembelajaran, media pembelajaran serta variasi dan inovasi dalam pembelajaran. Metode yang monoton dan bersifat feodal, pemberian tugas yang asal-asalan (misalnya siswa disuruh membuat soal), tugas yang memberatkan atau yang tidak sesuai dengan tuntutan mata pelajaran tentu menjadi pembelajaran yang stagnan dan membosankan. Dalam perkembangan ilmu pembelajaran ada metode Quantum Learning dan Quantum Teaching, yang intinya adalah pembelajaran dan pengajaran yang menyenangkan, inilah yang perlu diupayakan. Banyak cerita tentang keajaiban (amazing) yang terjadi, dimana guru yang awalnya terlihat biasa saja, bahkan yang pada awalnya terkesan galak dan membosankan, namun ketika ia membuat perubahan yang diawali dengan menyadari hakikat pembelajaran yang baik, dilanjutkan dengan introspeksi drir dan kemudian mampu move-on serta mulai melakukan perubahan dalam pembelajaran, maka kemudian pembelajaran di kelas yang ia ampu menjadi kelas pavorit, kelas unggulan dan kelas yang diidolakan, baik oleh siswa, oleh sesama guru hingga oleh beberapa sekolah dan pemerintah.

Matematika dan IPA - Mapel Prospektif
Dalam pemetaan ketercapaian kompetensi, dua mapel inilah yang secara persentase paling mungkin dan mempunyai banyak peluang untuk mendapatkan prestasi puncak, nilai sempurna dengan angka 100. Bukan sebagai pembanding, namun hanya sekedar informasi jika salah satu sekolah yang berjarak 15 km ke arah timur dari sekolah kami, yang secara geografis dan administratif berbeda kabupaten, terdapat sekolah bagus dan hebat dengan prestasi yang membanggakan. Yah, SMP Negeri 1 Salaman pada kelulusan tahun lalu terdapat 32 siswa dengan nilai 100 untuk matematika dan 6 siswa dengan nilai 100 untuk IPA, yang kemudian menjadikan sekolah tersebut menjadi sekolah terbaik di kabupaten Magelang. Inilah yang menjadi salah satu daya tarik sekolah ini, sehingga menjadi incaran lulusan SD pada saat penerimaan siswa baru, termasuk putra-putri guru-guru dari sekolah kami.

Adalah Joko Susilo, M.Pd (biasa dipanggil Pak Cilo) yang menjadi sosok guru pavorit untuk mapel matematika, dan menjadi inspirasi sukses. Itulah pengakuan yang disampaikan oleh Jati Prasetiawan, S.Pd - salah satu mantan siswanya yang sekarang sudah menjadi guru matematika di SMPN 2 Wonoboyo Satu Atap - Temanggung. Menurut pengakuan mantan muridnyanya ini, salah satu hal yang menjadi ciri khas dan daya tarik pelajaran matematika adalah modul matematika yang berupa catatan tangan sang guru. Tulisan yang khas, dengan huruf delapan yang unik dan 4 kolom setiap lembarnya. Setiap materi / bab baru, maka sang guru membuatkan catatan tangan khusus, dan setiap siswa dapat memfoto-copy cukup dengan membayar Rp 2.000. Catatan yang disusun sendiri oleh guru lebih mudah diikuti daripada buku paket, karena guru lebih tahu karakter dan kondisi siswa secara langsung dan guru juga lebih mudah menjelaskan materi yang telah dibuatnya sendiri.

Dari Salaman bergeser sekitar 20 km ke arah barat daya, ada SMPN 19 Purworejo ada guru inovatif dan inspiratif - Juli Eko Sarwono, Cara mengajarnya tergolong unik dan berbeda, Pak Eko tidak hanya menjelaskan matematika dengan teori di papan tulis, namun lebih berorientasi pada pembelajaran praktek, langsung bersentuhan benda sesungguhnya. Ada caping, kukusan dan topi yang berbentuk kerucut ketika ia membahas materi tentang kerucut. Ia hadirkan alat yang nyata dan sebagai alat peraga, bahkan sepeda motornya dibawa masuk kelas untuk menjelaskan tentang materi lingkaran. Kelasnya menjadi kelas unggulan, kelas yang pavorit dan sangat disukai oleh siswanya. Wajah riang, penuh semangat dan serasa tanpa beban tampak pada raut murid-muridnya. "Saya mencoba membuat matematika menjadi menyenangkan, jika murid sudah suka, transfer ilmu akan mudah," ujarnya. Sebagai apresiasi, kemudian pihak Pemda bersama sekolah menyediakan kelas khusus yang kemudian menjadi laboratorium matematika. Atas inovasinya, menjadikan beliau dinobatkan sebagai guru berprestasi  Good Practices dari USAID, yang kemudian banyak diundang menjadi pembicara di berbagai forum ilmiah hingga tampil di layar kaca dalam acara Kick Andy.

Jika di mata pelajaran matematika ada Pak Cilo dan Pak Juli Eko, maka di IPA juga ada guru yang hebat, dari SMPN 2 Semarang, Dra. Dyah Purwaningrum. Penulis pernah berbincang dengan guru IPA yang satu ini ketika bersama dalam sebuah diklat pengembangan kurikulum sekitar 2 tahun yang lalu. Sosok Bu Dyah yang low profile namun penuh dengan ide pembaruan di bidang pendidikan, khususnya pada mata pelajaran IPA mengantarnya terpilih menjadi salah satu utusan propinsi Jawa Tengah dalam program English Language Culture & Training Programs yang diadakan oleh University of Southern Queensland dan tinggal serta belajar di Australia sekitar tiga bulan. Beberapa file diberikan kepada kami, yang intinya bagaimana mengemas pembelajaran menjadi menjadi seuatu yang nyata, menarik dan ilmiah. Hal itu bisa dengan cara membuat baik animasi, video atau sesuatu yang bersifat inovatif. Namun khusus untuk IPA maka model interaksi langsung dengan benda nyata adalah hal paling menarik dan paling mengenai sasaran, baik melalui praktikum di laboratorium, observasi ke kebun tanaman, kolam atau sungai tempat habitat binatang air atau yang sejenisnya. Konsep dasarnya bahwa IPA adalah pengetahuan alam, maka wahana yang paling cocok adalah tentang alam melalui praktikum atau penelitian, karena dengan melihat dan praktik secara langsung akan menjadi pengalaman yang akan selalu diingat oleh mereka.

Konsep itulah yang diterapkan dalam pembelajaran Bu Dyah, yang kemudian mampu menggali bakat yang luar biasa pada siswa-siswanya. Awal Februari tahun 2016 ini dua siswanya yang masih duduk di kelas VII SMP Negeri 2 Semarang mendapatkan medali perunggu dan medali emas dalam ASEAN+3 Center for the Gifted in Science (ACGS) di Korea baru-baru ini. Mereka adalah Addiya Izza Ahya Setiyono dan Faadhil Inayatur Rahman Harahap. Addiya Izza Ahya Setiyono yang mengaku baru pertama kali mengikuti lomba Internasional, bersama kelompoknya mempresentasikan Green Energi, satu tim terdiri dari 8-9 orang dan semuanya dari negara yang berbeda. Lain dengan Addiya, Faadhil dan tim mempresentasikan energi dari unsur kimia, biologi dan fisika. “Anak-anak bisa berhasil karena belajar dari video ide-ide ilmuwan. Peserta yang presentasinya paling baik dari seluruh dunia hanya ada 2 negara, yaitu Indonesia dan Singapura, mereka mendapat penghargaan Davinci dan tidak setiap tahun diadakan. Bahkan sebagai reward-nya peserta juga akan mendapat beasiswa hingga S1.

Pembelajaran yang Menyenangkan
Konsep dasar pembelajaran yang baik sebenarnya simple dan sederhana, yaitu bagaimana membuat kondisi pembelajaran yang menyenangkan, pelajaran yang sangat dinantikan dan membuat siswa serasa haus ilmu pengetahuan dan keterampilan, sebagai bekal pendidikan di tingkat yang lebih tinggi. Tiga sosok guru di atas tentu saja tidak serta harus ditiru, tidak mutlak untuk dijadikan acuan karena kita bukan mereka, kita tidak berada pada lingkungan mereka dan kita tidak sama dengan mereka. Namun semangat mereka, ide mereka dan inovasi mereka bisa menjadi inspirasi untuk bisa berbuat sesuatu yang lebih baik, lebih berharga dan lebih bermakna.

Khusus untuk mata pelajaran Matematika mendekatkan benda nyata kepada siswa, menyederhanakan konsep dan menjauhkan dari kesan rumit,t adalah hal yang perlu diupayakan. Dari record yang pernah kami jumpai langsung, catatan sederhana dari guru justru menjadi point positif yang berpengaruh pada respek siswa dalam pembelajaran, di samping unsur ketepatan guru dalam menjelaskan kepada siswa yang beragam. Sementara dari teknologi  pembelajaran ada aplikasi baru bernama GEOGEBRA, yang saat ini di beberapa sekolah sebelah timur (kab. Magelang) sudah digunakan untuk pembelajaran. Memang butuh tambahan waktu, tenaga dan pemikiran untuk mewujdkan pola pembelajaran yang inovatif seperti ini, namun jika hasilnya memuaskan dengan naiknya prosentase keberhasilan siswa meraih angka sempurna maka akan terbayar lunas dengan kepuasan dan kebanggaan bahwa pembelajaran matematika yang menyenangkan membawa hasil yang memuaskan, walaupun jika UN dihapuskan.

Adapun untuk IPA, maka mengkondisikan pembelajaran dengan situasi scientifik adalah suatu keharusan, yang bahkan sudah ada sebelum K-13 lahir. Kegiatan pemebelajaran yang berupa pengamatan, bertanya, pengumpulan informasi, asosiasi dan komunikasi adalah iklim utama scientifik, maka kegiatan IPA yang berbentuk riset / penelitian harus dilakukan dan digalakkan, tidak harus yang besar, tidak harus yang sulit. Dimulai dari hal yang sederhana dan simpel, karena yang dibangun adalah pola pikirnya, adalah habituasinya, adalah budayanya sehingga sikap ilmiah sebagai ciri ilmu pengetahuan bisa diterapkan dalam setiap kegiatan. Jika ini sudah terbentuk maka bukan tidak mungkin akan banyak ditemukan hal-hal baru yang bersifat ilmiah yang selama ini tidak pernah terpikirkan ternyata ada di sekitar kita. Fakta yang ditemukan Prof. Mazaru Emoto bahwa air adalah hidup dan berbentuk kristal yang berbeda-beda adalah bentuk ilmu terpendam yang baru terkuak ketika dilakukan penelitian. Di sisi lain bukan tidak mungkin bisa ditemukan siswa dengan bakat "mutiara terpendam" seperti yang pernah dibimbing Pak Satiyun pada beberapa tahun lalu yang berhasil maju di tingkat kabupaten.

Sebagai penutup, barangkali ada baiknya jika pembaca dapat membaca atau melihat video inspiratif dari Prof Yohanes Surya, pendiri Surya Institut. Ia adalah contoh orang yang miskin yang berhasil sukses karena kerja kerasnya, yang membuahkan beasiswa S2 dan S3 di Amerika, menjadi ilmuwan dan profesor di bidang Fisika. Prof. Surya menyatakan bahwa kunci negara kita akan menjadi negara besar dan maju jika pembelajaran sains dan teknologi yang kuat. Dan salah satu kekurangan dalam pembelajaran sains, dan ini yang banyak terjadi adalah 'monoton", sehingga terkesan ruwet, njlimet dan membosankan. Padahal jika bisa mampu membuat inovasi dalam pembelajaran, justru mapel sains ini bisa menjadi pelajaran yang asyik dan menyenangkan. Kuncinya, sains (MIPA) bukan "hafalan", akan lebih baik jika siswa menemukan sendiri rumus dan konsep dalam ilmu sains tersebut. Ia teah membuktikan bahwa tidak ada siswa yang bodoh, banyak siswa-siswa dari Papua yang sukses meraih medali emas di ajang olimpiade fisika internasional. Itulah konsep dasar lahirnya pendekatan Scientifik dalam kurikulum 13 (K-13). Beberapa catatan kecil berikut mungkin saja berguna sebagai bahan untuk renungan dan merubah diri (move-on) untuk lebih baik lagi.
  • Kerja keras, hanya dengan kerja keras untuk bisa mencapai sukses. Untuk meraih sukses diri terlebih mensukseskan orang lain dibutuhkan kerja keras, lebih keras dari yang biasanya. Tidak ada kata sukses bagi orang yang malas. Merasa diri belum optimal adalah kunci awal untuk menjadi lebih baik dan siap untuk lebih sukses. Rasa bahwa kita hebat, baik karena kecerdasan kita, karena pengalaman kita, karena jam terbang kita atau karena status guru inti, guru tutor, instruktur kabupaten atau nasional dan sejenisnya akan menjadikan rasa besar dan tinggi. Rasa besar dan rasa tinggi ini yang menutup diri untuk terus tumbuh dan berkembang, bahkan menutupi kondisi yang sesungguhnya masih banyak kekurangan. Selanjtunya, merasa telah banyak berbuat, telah banyak berjasa dan saatnya mengakhiri perjuangan. Rasa terlalu menghargai diri dengan tumpukan karya di masa lalu sangat melemahkan semangat dan motivasi untuk terus tumbuh dan berkarya yang terbaik. Dampak buruk dari sikap ini bukan pada diri sendiri saja, namun menyebar pada lingkungan kita, terutama mereka para yunior yang seharusnya berjiwa muda, bermental pejuang dan semangat baja, tak terkecuali siswa-siswa kita.
  • Belajar dan terus belajar, belajar dengan pengalaman. Siapapun kita pasti bisa, kita masih punya waktu untuk terus belajar, terus berupaya  melakukan yang terbaik. Selayaknya hukum kekekalan energi, maka setiap kebaikan akan menjadi energi baik yang akan kembali kepada kita sebagai kebaikan, begitu pula sebaiknya. Kita tidak bisa pastikan ilmu mana atau amal mana yang akan membawa kebaikan bagi kita kelak, namun yang pasti setiap kebaikan yang kita lakukan dengan tulus ikhlas maka kelak kita akan menikmatinya, maka lakukan saja. Kesehatan hasil dari energi baik, begitu juga dengan kecukupan rejeki, ketenangan, kedamaian dan kemuliaan.
  • Butuh perjuangan. Tidak takut dan phobia pada kesulitan dan tantangan. Alloh memotivasi 2 kali dalam surat An Nashr 5-6, bahwa sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan. Maka siapa yang ingin diberi kemudahan, jangan takut menghadapi kesulitan, karena kesulitan akan berlalu dan berganti dengan kemudahan. Begitulah jalan kehidupan, memang didesain untuk naik dan naik, bagi yang ingin menikmati dinamika kehidupan.
Demikian tulisan seri Inovasi ke-6 yang spesifik membahas rumpun MIPA, kami tulis bukan untuk memberi pencerahan, bukan untuk memberi wawasan ataupun pengajaran, namun hanya sebatas menuangkan apa yang kami anggap bisa dilakukan. Pola USAID yang pernah dilatihkan bisa diadopsi dan dimodifikasi, atau model lain yang lebih cocok sesuai karakteristik KD atau indikator.  Bapak/Ibu guru rumpun MIPA tentu sudah jauh lebih paham, jauh lebih tahu dan lebih pengalaman, namun bukan tidak mungkin kita bisa lakukan sesuatu yang mungkin lebih inovatif dari yang sudah dilaksanakan, dengan satu harapan utama menciptakan iklim "siswa senang belajar" dalam kondisi "pembelajaran yang asyik dan menyenangkan.
Selamat bekerja, selamat beraktifitas semoga sukses. <HSJS  #670-905>.

Rabu, 31 Agustus 2016

Inovasi -5 : Variasi Bentuk dan Karya dalam Pembelajaran

Pembaca web SMPN 2 Kepil, selamat datang dan bertemu kembali dengan sajian tulisan seri inovasi yang dalam draft coretan kami terdiri dari 12 seri. Tulisan seri inovasi terakhir adalah seri -4, yang berfokus pada perlunya sosialisasi terhadap konsep sebagai media kontrol dan sarana koreksi sebelum di-implementasikan dalam pelaksanaan tugas sehari-hari. Di sela-sela kesibukan kami terkait kesanggupan untuk merampungkan aplikasi penilaian K-13 bagi beberapa sekolah lain, kami sempatkan untuk menyelesaikan tulisan ini yang sempat tertahan sekitar 7 bulan lamanya, Alhamdulillah akhirnya Inovasi seri -5 dapat kami tayangkan pada hari-hari terakhir bulan Agustus ini. Semoga sajian berikut bisa menambah wawasan, membuka cakrawala pemikiran dan syukur-syukur bisa menjadi inspirasi untuk membuat sesuatu yang baru dan inovatif dalam pembelajaran, yang untuk edisi ini kami spesialkan untuk rumpun bahasa. Bukan untuk membatasi,  namun untuk memudahkan dan menghemat pemaparan, maka untuk seri kali ini secara spesifik akan kami fokuskan kepada guru rumpun bahasa, namun demikian tetap terbuka dan bisa diadopsi untuk semua mata pelajaran. Kepada para guru senior dan master di bidang studi rumpun bahasa, tulisan ini tidak bermaksud mengkritisi apalagi menggurui, sama sekali tidak, kami hanya sebatas berbagi apa yang ada dalam benak kami. 

Untuk membuka tulisan ini, sejenak mari kita tengok realita di luar dunia pendidikan. Jika kita masuk ke dalam dunia bisnis otomotif, maka kita bisa melihat bahwa mereka selalu mengusung tema inovasi, teknologi, safety dan semua hal yang terbaru, karena hal inilah yang merupakan magnet kuat dalam pemasaran sebuah produk, khususnya otomotif. Bagi perusahaan yang bergerak di bidang otomotif -utamanya mobil- faktor varian produk merupakan hal utama dan menjadi fokus penting dalam teknik marketing, yang sering dikenal dengan psikologi pasar. Karakteristik dan tipe konsumen yang bermacam-macam menjadi latar belakang dibuatnya produk mobil dengan berbagai varian (tipe), hal ini tidak lain untuk mengakomodir selera dan kemampuan daya beli masyarakat terhadap sebuah mobil. Sebagai contoh, di kelas premium untuk tipe SUV ada Toyota Fortuner seri 2.5 G, 2.7 G dan TRD, ada Mitsubishi Pajero dengan seri GLX, GLS, Exceed dan Dakar, sedangkan pada tipe MPV ada Kijang Innova dengan seri E, G dan V. Adapun untuk di kelas menengah untuk tipe MPV ada Daihatsu Xenia terbaru dengan seri D, M, X dan R di kelas tertinggi. Begitu juga pada Toyota Avanza dimulai seri E, G, S dan Velos pada kelas tertinggi. Senada dengan itu berbagai merek lain seperti Nissan, Suzuki, KIA dan Isuzu juga melakukan hal yang sama. Mereka membuat berbagai tipe varian di atas dibuat bukan sekedar gaya-gayaan semata, namun berdasarkan analisis dan psikologi pasar yang didasarkan pada animo, selera dan daya beli masyarakat yang kemudian menjadi segmentasi pasar.

Toyota Avanza dikenal sebagai mobil sejuta umat  karena memang paling laris sepanjang sejarah penjualan mobil. Hal ini bukan terjadi dengan istilah "kebetulan", atau laris manis karena hasil jopa-japu dukun sakti dari lereng Sindoro, namun memang terobosan segmentasi pasar yang tepat. Secara umum konsumen mobil di Indonesia adalah kelas menengah, mereka menginginkan mobil yang muat banyak penumpang, nyaman harga terjangkau dan irit BBM (faktor utama). Makanya, begitu varian Avanza muncul langsung diserbu para konsumen, apalagi update model dengan facelite yang diperbaharui, jumlah konsumen semakin bertambah tiap tahunnya. Sejalan dengan itu keluar mobil yang sama persis yaitu Xenia dengan payung Daihatsu. Inilah hebatnya sang produsen - dalam hal ini Astra, yang berkolaborasi dengan Toyota dan Daihatsu.  Terakhir diketahui bahwa Toyota Avanza dan Daihatsu Xenia adalah mobil yang sama dengan merek yang berbeda, dibuat dengan beberapa seri yang berbeda dan tentunya harga yang berbeda-beda. Begitu juga pada tipe SUV diketahui bahwa Toyota Rush dan Daihatsu Terios adalah varian dari pabrikan yang sama- Astra Daihatsu Motor. Inilah teknik marketing yang hebat untuk bisa menjangkau segmen pasar (konsumen) yang berbeda-beda, namun tujuannya sama - Laku, Laris dan Untung.

Nah, selanjutnya kita kembali masuk ke pendidikan, ke sekolah, ke kelas dan ke siswa dalam pembelajaran. Siswa di dalam satu kelas sangat beragam, siswa di satu sekolah yang berjumlah ratusan tentu jauh lebih beragam. Berbagai macam karakter, tipe dan intelegensi yang berbeda yang disebabkan latar belakang orang tua mereka. Ada yang orang tuanya berpendidikan tinggi, tingkat ekonomi menengah ke atas. Ada yang pendidikan orang tuanya sedang dan tingkat ekonomi menengah.ke bawah. Namun ada juga yang pendidikan dan ekonominya rendah bahkan memprihatinkan. Dari berbagai latar belakang yang berbeda itu tentu akan berdampak berbeda pula pada tingkat pemahaman, tingkat daya tangkap dan tingkat antusias siswa terhadap pembelajaran. Bakat mereka beragam bentuknya, minat mereka tidak sama, tingkat intelegensi mereka juga berbeda-beda. Ada siswa yang hanya dengan sekali baca atau sekali dengar dia paham dan langsung mampu menguasai, ada juga yang masuk kategori menengah yang dengan 2 -3 kali pengulangan baru bisa paham, namun ada juga yang sudah berkali-kali pengulangan masih belum mengalami perubahan yang berarti. Di sinilah dibutuhkan kejelian dan kepekaan bagi seorang guru.

Menurut pandangan beberapa guru senior, pada dasarnya "mengajar" adalah pekerjaan mudah,  dengan syarat apabila semua persiapan mengajar yang meliputi materi, teknik mengajar dan penguasaan kelas sudah dikuasai, apalagi bagi guru yang sudah berpengalaman. Di suatu tempat mungkin bisa terjadi dan  muncul anggapan "guru bagaikan raja di ruang kelas", sehingga bisa berbuat apa saja". Semua siswa harus tunduk dan patuh dengan perintah guru, mau diisi kegiatan dan materi apasaja manut, mau dibuat seperti apa dan dibawa ke manaaja ngikut, kelas itu sangat tergantung pada kehendak guru. Namun apakah pola yang seperti ini cocok dan sejalan dengan tujuan pendidikan, bahwa pendidikan bukan untuk mendidik menjadi jiwa feodal, jiwa yang mengangkat juragan dan merendahkan pelayan, jiwa membuat dinding tebal bagi bangsawan dan rakyat jelata. Di sinilah dibutuhkan kebesaran hati guru sebagai seorang pendidik. Bagi guru yang jiwanya sudah terpanggil untuk mendidik maka menyampaikan ilmu pengetahuan adalah kebutuhan, membimbing siswa dengan budi pekerti adalah kewajiban yang menumbuhkan kemuliaan.

Namun memang kondisi di dalam kelas tidak selalu mulus sesuai harapan. Ada beberapa kesulitan yang sering muncul di dalam perjalanan. Di kelompok A berisi siswa yang pandai, penurut dan mudah diatur sehingga mengajar siswa yang seperti ini serasa damai dan menyenangkan. Di kelompok B adalah kumpulan siswa yang masuk kategori umum, biasa saja dengan kemampuan yang juga umum. Di kelompok C terdiri dari siswa yang cenderung diam, cenderung introvert serta menutup diri. Dan terakhir di kelompok D banyak diisi siswa yang ekstrovet yang mengalami hambatan belajar dan susah untuk dikendalikan. Di sisi lain guru juga berisi empat macam jenis pribadi yang mempunyai kadar psikologi yang sama dengan siswa. Oleh karena itu kecermatan dalam memahami serta kedewasaan dalam bersikap adalah kunci keberhasilan dalam proses pembelajaran, pengajaran dan pengasuhan yang sesuai dengan psikologi dan karakter pendidikan. Pertanyaan besarnya "Bagaimana mengemas pembelajaran dengan kondisi siswa yang multi kondisi, multi intelegensi serta multi psikologi?"

Fokus Kompetensi Rumpun Bahasa
Dalam pembelajaran bahasa Indonesia, secara ringkas kompetensi yang diutamakan adalah kemampuan mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis. Dalam bahasa Inggris kompetensi yang diajarkan adalah reading, speaking dan writing yang harus diperkaya dengan kemampuan listening. Dalam bahasa Jawa materi juga tak jauh beda dengan bahasa Indonesia, namun pelafalan yang kadang tidak sama dengan tulisan yang ada dalam tulisan. Khusus untuk bahasa Inggris konteksnya lebih tinggi tingkat kesulitannya karena semuanya adalah berasal dari asing barik tulisan, ejaan hingga pelafalannya. Maka tiap sekolah, tiap kelas bahkan tiap siswa bisa berbeda dalam fokus pembelajaran agar bisa lebih optimal. Guru mata pelajaran tidak harus berfikir untuk bisa memaksakan diri untuk bisa optimal di segala aspeknya, seperti sudah menjadi rahasia umum bahwa untuk mapel bahasa ini sulit untuk bisa meraih nilai sempurna (100). Di sinilah dibutuhkan kejelian dan kecermatan guru untuk bisa mengambil kebijakan terkait pemilihan dan fokus kepada salah satu aspek yang kemungkinan (khans) bisa lebih dioptimalkan.

Beberapa guru berikut mungkin bisa menjadi contoh untuk bisa diambil sebagai contoh / model dalam pembelajaran dan bisa menginspirasi sehingga berani mengembangkan ide, berkreasi dan membuat inovasi dalam pembelajaran. Yang pertama, Ibu Saraa Suaib Hanafi, guru bahasa Inggris SMP Al-Azhar 9 Kemang Jakarta adalah salah satu guru yang kreasi dan inovasinya sukses dan diakui dunia dan membawanya menjadi pemenang dalam ajang international yang bertajuk Microsoft Global Education. Proyek kolaborasi "Peace Postcard", memacu siswa untuk membuat tulisan dengan bahasa Inggris berbentuk ajakan, seruan atau brosur yang berisi pesan "Kedamaian Dunia" dalam bentuk kartu pos. Aspek writing mencuat luar biasa melalui media ini. Inovasi kreatif Ibu Saara ini kemudian membuat dirinya diundang untuk tampil di Metro TV dalam acara Kick Andy, dengan tajuk Guru Hebat. Yang kedua, masih dalam bahasa Inggris ada Ibu Badriah dari SMAN 1 Cianjur, mengajak siswa untuk menulis dalam bentuk dialog jurnal tentang sesuatu yang simple, bebas dan tidak kaku. Awalnya para siswa membuat berbagai tulisan bahasa Inggris versi Cianjur, contohnya "I will write litle-litle in english for you, this is not good but i will try because english is difficult."  Mereka membuat catatan komunikasi dialog jurnal dengan guru dengan gaya dan pola yang bebas, tanpa harus terkungkung dengan grammar dan tata bahasa. Dan ternyata dalam proses habituasi yang memakan waktu 8 bulan mereka mampu membuat tulisan ide, gagasan dan paparan dalam bahasa Inggris yang luar biasa. Dari dua contoh ini maka secara umum sekolah, dalam hal ini guru bahasa Inggris bisa mengoptimalkan siswa dalam bentuk karya writing atau speaking saja.

Nah untuk mata pelajaran bahasa Indonesia yang nota bene bahasa ibu, bahasa harian dan bahasa bangsa dan bahasa kebanggaan tentu akan sangat terbuka lebar untuk memaksimalkan karya dan prestasi bagi siswa. Orientasi kepada penyampaian seluruh materi sesuai KD yang telah diatur adalah suatu keharusan. Namun demikian, dengan berbagai pertimbangan kita bisa memilih untuk lebih fokus pada sisi tertentu misalanya menggenjot siswa dalam bentuk karya tulis. Jika siswa sudah kenal dengan menulis, tahu dengan media untuk membuat tulisan, dan tahu tata cara menuangkan tulisan yang baik maka mereka bisa berbuat sesuatu yang luar biasa. Jangan heran jika kemudian kita mendapati di antara mereka yang ternyata punya gagasan, ide, inovasi, kreasi dan bakat yang luar biasa. Nah, di sinilah perlunya memberikan mereka pandangan, membukakan mereka jalan serta menuntun mereka di langkah awal mereka agar bisa belajar, berlatih dan berkarya melalui tulisan. Sebagai langkah awal mungkin dari karya yang paling sederhana, semisal pantun, puisi, cerpen hingga artikel.

Satu hal yang perlu dirubah dan perlu dibuat inovasi adalah "ending" atas karya mereka. Bagaimana karya hebat mereka bisa diketahui dan dinikmati banyak orang, bisa diapresiasi dan selanjutnya bisa didukung untuk lebih dikembangkan menjadi lebih baik lagi. Karya hebat mereka selama ini hanya tersimpan dalam memori guru mapel, atau hanya tersimpan di atas meja guru, atau yang lebih parah adalah yang belum sempat dibaca, belum sempat dinilai sudah langsung masuk lemari atau berserakan di kumpulan tugas yang tertumpuk di lantai. Dan hal ini banyak terjadi di hampir setiap mata pelajaran. Ending tugas yang monoton dalam bentuk kertas inilah yang perlu di carikan model lain sebagai bentuk inovasi, semisal menggunakan media elektronik yang bersifat real time dan on-line. Berikut ini nama aplikasi yang bisa digunakan untuk pembelajaran yaitu ; Moodle, Joomla Chamilo, Claro hingga Quiper Video adalah sebagian kecil dari ratusan aplikasi berbasis on-line. Namun nama-nama itu mungkin masih sangat asing baik dari segi nama maupun penggunaan dalam keseharian. Nah ada satu aplikasi yang paling mudah dan cukup familiar serta kompatibel bagi guru maupun siswa, yaitu WhatsApp. Dengan sedikit "dalil & dalih" maka bisa dipastikan sebagian besar siswa akan sanggup untuk memiliki HP Android yang bisa untuk aplikasi WhatsApp, kalaupun belum bisa semua, maka bisa 2-3 siswa bisa bergabung dengan 1 perangkat yang sama. Nah dengan membuat Grup dalam mapel inilah, bisa difungsikan sebagai wahana siswa dalam berkarya. Tentu saja untuk ini perlu pengawalan dan pembuatan AD/ART yang ketat agar aplikasi ini tidak berbelok arah dari tujuan sebenarnya, seperti yang kebanyakan terjadi di Grup WA saat ini.

Salah satu kelemahan yang biasa bersemayam pada diri kita sebagai guru adalah adanya sikap apriori kepada siswa, bahwa mereka kecil, mereka baru belajar sehingga belum bisa berbuat yang istimewa. Ini adalah sebuah kesalahan besar yang harus segera kita sadari. Bahwa kita harus lebih apresiatif terhadap siswa, karena pada dasarnya setiap mereka memiliki potensi dan bakat yang istmewa. Bukan tidak mungkin jika siswa bisa berkarya yang lebih hebat dari gurunya. Siswa menjadi juara Menyanyi, Cipta Lagu atau Solo Gitar, siswa yang menjadi juara Catur, Bulu Tangkis atau Karate, siswa menjadi juara IMO (Matematika), siswa menjadi juara Desain Grafis, siswa menjadi juara Pidato dan Karya Tulis Remaja, dan juara-juara lainnya sementara gurunya biasa-biasa saja dan belum pernah menjadi juara apapun. Kita sebagai guru bisa jadi hanya menang usia, sehingga belajar lebih dahulu, tahu lebih dahulu. Urusan mengumpan bola (toser) dan menyemes dalam Volly bisa jadi siswa lebih jago dari gurunya, urusan program Visual Basic bisa jadi siswanya lebih piawai dari gurunya, dan berbagai bidang studi lainnya. Bukan berarti merendahkah dan meremehkan siapapun, namun justru di sinilah kehebatan guru diuji, ditantang untuk bisa memilih model, memilih siswa dan memilih wahana untuk menunjukkan karya dengan menjadikan siswa berprestasi, karena konsepnya "siswa yang hebat hanya muncul dari guru yang hebat".

Masih banyak pilihan karya hebat dari rumpun bahasa ini, ada pidato, baca puisi, monolog, pidato bahasa Inggirs, debat bahasa Inggris, pidato bahasa Jawa, mocopat serta pembawa acara berbahasa Jawa. Semuanya baik dan terbuka untuk dikembangkan dan ditawarkan bagi siswa sebagai alternatif pembelajaran bagi mereka. Sebagai penutup uraian seri Inovasi ke-5 ini, berikut beberapa kesimpulan sederhana :
  • Kami yakin Bapak/Ibu sudah berkarya yang besar dan hebat, telah melaksanakan tugas dengan tulus dan sebaik-baiknya, namun mungkin perlu membuat sebuah inovasi karya yang Multi Option agar bermacam-macam siswa dengan latar belakang yang heterogen bisa tercover dan bisa optimalisasi diri sesuai minat dan bakat mereka.
  • Kami yakin juga jika proses kreasi sudah dilalui, namun mungkin jenuh, bosan dan capek. Nah Variasi Tugas akan memancing kreasi siswa, akan memperkaya wawasan dan pengalaman bagi siswa yang pada akhirnya akan menjadikan mereka hebat, gurunya hebat dan sekolah ikut hebat. Berbagai literatur tentang model pembelajaran dan sosok guru hebat sangat mudah diakses dan diperoleh dari internet, mari kita manfaatkan sebaik-baiknya.
  • Kami percaya 100 persen jika cara mengajar sudah bagus, terbukti dengan adanya sertifikasi profesi, namun untuk membukakan jalan dan kesempatan bagi siswa untuk bisa lebih jauh memandang dunia, lebih bebas memilih cara berkarya dan lebih luas menyebarkan dan mengembangkan karya, mari kita gunakan media yang ada untuk memfasilitasi mereka agar lebih hebat, lebih terbuka dan lebih mendunia. WhatsApp, Joomla, Moodle, Blog, Youtube atau Quiper bisa dijadikan alternatif untuk berkarya, kita-lah kunci pembukanya.
  • Mereka adalah amanah bagi kita, lahan amal dan perjuangan bagi kita. Sukses mereka ada di tangan mereka, namun kita bisa lebih mulia dan ikut bahagia jika turut andil dengan mendidik mereka.
Rumpun bahasa adalah rumpun yang sangat penting dalam proses transfer ilmu. Beberapa tokoh dalam tulisan mereka menyebutkan bahwa bahasa adalah kunci dari segala ilmu, karena ilmu tersampaikan menggunakan bahasa, baik yang menggunakan lisan ataupun tulisan. Maka bisa dikatakan jika bahasa adalah kunci  pembuka ilmu, baik untuk belajar dan menyebarkan ilmu, ilmu apapun. Oleh karena itu memberikan wadah yang mudah, simple, sederhana namun menarik perlu disiapkan sebagai bentuk inovasi dan menjadi daya tarik bagi siswa untuk belajar berkarya. Contoh mudahnya adalah mading (majalah dinding), jurnal (catatan harian) atau sekedar kartu pos untuk menyampaikan pesan, ide dan gagasan tentang diri mereka. Coba lakukan dan lihat hasilnya, sesuatu yang luar biasa.

Sebelum kami akhiri, perkenankan kami mohon maaf kepada para guru yang serumpun, tulisan ini hanyalah opini dan motivasi, bukan dimaksudkan untuk mengajari apalagi menggurui. Terima kasih kami sampaikan kepada Bu Ruti Sumarni, M.Pd, Bu Siti Rukhoyah, S.Pd, Bu Yani Widayati, S.Pd, calon-M.Pd, Bu Sayekti Laras S., S.Pd, Bu Tika Fibri Dwiyanti, S.Pd, Bu Sri Hartati, S.Pd, Bpk Edi Wineto, S.Pd, dan Bpk Widodo, S.Pd - atas masukan dan paparan terkait rumpun bahasa. Semoga kami dapat segera menyusun tulisan seri Inovasi berikutnya untuk rumpun MIPA (sains). Akhir kata selamat berkarya, selamat berkreasi dan ber-inovasi, semoga sukses, Merdeka. <58986-650>

Sabtu, 21 November 2015

Inovasi -4 : Sosialisasi Konsep Sebagai Media Kontrol dan Koreksi

Dalam suatu perusahaan, yang menjadi indikasi tingkat kemajuan sebuah perusahaan berada pada perubahan yang terus menerus. Perusahaan yang monoton dan tidak mengadakan perubahan akan mati secara perlahan-lahan. Perubahan mutlak dilakukan pada berbagai sisi dan bidang yang dianggap krusial. Salah satu bentuk perubahan dapat dilihat dalam bentuk iklan (advertising), yang sebagiannya berupa tag line perusahaan atau sering disebut slogan. Sebagai contoh Suzuki pernah mengusung slogan "Inovasi Tiada Henti", berubah dan terus berubah, dan yang terakhir slogan Suzuki adalah "Way of Life". Begitu juga dengan Honda dengan "One Heart", Telkom dengan "The world in your hand", PLN dengan "Listrik untuk hidup yang lebih baik", Pegadaian dengan "Mengatasi masalah tanpa masalah" dan masih banyak lagi. Demikian juga di dunia pendidikan (sekolah) yang juga ikut membuat tag line (slogan) sebagai wujud visi untuk berubah menjadi lebih baik. Slogan "Berani Tampil Beda" adalah satunya, yang menjadi trade mark salah satu sekolah berkembang di Kabupaten Magelang. Slogan ini juga dipakai oleh SDN Ibu Jenab 1 Cianjur. Ternyata slogan tidak hanya sebatas kata biasa, namun merupakan ruh yang mampu menghidupkan jiwa para pengusungnya sehingga benar-benar berdampak positif ditandai dengan banyaknya prestasi yang diraih. Inilah esensi dari pentingnya konsep untuk terus melakukan inovasi.

Sebagai  penguatan kembali tentang pentingnya konsep baru sebagai bentuk perubahan, bahwa untuk mengusung sebuah konsep baru itu tidak harus sama sekali baru, tidak harus sama sekali murni karya sendiri, dan tidak harus menunggu datangnya ilham di tengah tidur malam. Konsep baru bagi siswa dan sekolah kita bisa diperoleh dari mana saja, dari siapa saja dan kapan saja. Bisa diadopsi dari sekolah lain, bisa dari modifikasi karya guru yang lain, bisa dari hasil studi banding di kabupaten lain atau bahkan dari hasil browsing di internet atau media elektronik yang lain. Intinya bahwa konsep itu telah kita kaji, telah kita revisi,telah kita uji dan telah kita modifikasi sendiri sesuai dengan situasi dan kondisi.

Alhamdulillah, hanya atas karunia-Nya semata kami bisa eksis untuk melanjutkan melanjutkan tulisan ini. Pada edisi sebelumnya membicarakan konsep yang merupakan ruh utama inovasi. Tidak banyak yang bisa bertahan pada fase ini, walau sekedar membaca atau menyimak. Apa lagi yang berani memegang teguh sebuah konsep yang baru, sebagian besar memilih pergi dan lari karena takut terbebani. Namun bagi mereka yang memiliki rasa peduli dan menyadari betapa pentingnya perubahan,  mereka akan bertahan dengan segenap kesabaran untuk membuat sebuah konsep baru yang berbeda. Konsep yang jelas tujuannya (goal), konsep yang jelas aplikasinya, konsep yang berorientasi semata-mata untuk kebaikan banyak orang (terutama siswa), konsep yang up to date dan berkesinambungan. Mari, kembali kita lanjutkan bahasan seri Inovasi ini, dan untuk tulisan yang ke-4 ini akan berfokus pada sosialisasi / publikasi.

Setiap rencana baru, setiap perubahan, setiap langkah menuju kemajuan sebaiknya dilakukan proses sosialisasi dari konsep yang ditawarkan. Ini yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan maju, oleh lembaga pendidikan bonafide, oleh organisasi non profit yang sukses dan bahkan oleh toko/supermarket yang sangat mengutamakan pelayanan. Sosialisasi dilakukan pada semua tingkatan dari level paling bawah (karyawan) hingga level tertinggi (manager / direktur). Sosialisasi adalah sarana uji publik (studi kelayakan) terhadap sebuah konsep, gagasan, atau ide yang bersifat baru. Hal yang paling mendasar dari proses sosialisasi adalah bertujuan agar sebuah rencana, sebuah ide, sebuah gagasan, dimengerti dan dipahami oleh seluruh elemen dan unsur dalam suatu lingkup kerja tertentu.

Sebagai bahan pembanding, sedikit kami akan memberi beberapa gambaran tentang pentingnya sosialisasi / uji publik ini. Pertama, bila seorang mahasiswa hendak membuat tugas akhir (skripsi), maka wajib baginya untuk mengadakan seminar dari judul tugas akhir yang akan dilakukannya. Pada seminar itu akan ada pertanyaan, sanggahan, saran dan masukan sebagai bahan koreksi untuk kelanjutan penelitian dan penyelesaian tugas akhir tersebut. Kedua, seorang guru produktif di SMK jurusan mesin produksi harus/wajib membuat Job-sheet (lembar kerja) dan dipresentasikan pada setiap awal semester atau tahun ajaran. Job-sheet, semakna dengan istilah “Gambar Teknik” adalah bahasanya orang teknik. Dalam dunia teknik mesin pada umumnya berupa lembaran berupa gambar benda kerja yang akan dikerjakan / dibuat siswa dalam praktik di bengkel kerja sekolah. Dalam job-sheet tercantum gambar yang lengkap dan jelas, jelas ukurannya, jelas bahannya, jelas metode pengerjaannya, jelas waktunya dan jelas aturan penilaiannya. Pada muara akhirnya, dengan job-sheet itu dapat dihitung berapa kebutuhan bahan dan berapa biayanya. Dari dua contoh di atas kiranya kita bisa mengambil kesimpulan mengapa, untuk apa dan bagaimana pentingnya sosialisasi/uji publik sebuah konsep.

Sosialisasi bukan bertujuan untuk PAMER yang isinya unjuk kebolehan, lomba kemampuan, gaya-gayaan atau bangga-banggaan. PAMER hanya berorientasi memperoleh pujian semata dan anti terhadap kritik. Hal ini sangat berseberangan dengan hakikat sosialisasi yang lebih berfokus untuk proses uji publik yang lebih bertujuan untuk koreksi. Dalam proses uji publik ini sangat berpeluang mendapatkan saran, masukan dan dukungan yang merupakan sarana untuk koreksi dari sebuah rencana, konsep atau gagasan baru. Secara rinci tujuan dari sebuah sosialisasi / publikasi adalah sebagai berikut.
  • Proses sosialisasi berfungsi sebagai pengenalan dan pemaparan. Suatu ide, gagasan, konsep dan pemikiran yang bersifat baru, konstruktif dan inovatif terkait suatu hal baru sangat perlu untuk dikenalkan dan dipaparkan sehingga semua elemen mengetahui adanya suatu yang baru, yang diharapkan  akan bermanfaat bagi kelancaran sebuah proses menuju taraf yang lebih baik. Jangan terjadi ada kegiatan baru yang menimbulkan berbagai masalah dengan efek domino hanya karena tidak adanya sosialisasi kepada publik.
  • Proses sosialisasi berfungsi sebagai media kontrol dan kendali. Kontrol dan kendali berfungsi untuk memantau apakah konsep itu sudah bagus, kurang bagus, atau tidak layak hingga perlu pembenahan. Fungsi kontrol juga sangat dibutuhkan sebagai kajian dan analisa terhadap berbagai aspek yang terkait termasuk alokasi waktu dan pembiayaan. Jangan sampai suatu konsep baru menyebabkan biaya yang over kuota sehingga memberatkan bagian pengelola anggaran.
  • Proses sosialisasi berfungsi menguji relevansi dan kontekstual. Suatu kegiatan harus cocok dan ada relevansinya dengan kegiatan induknya dan tidak berseberangan jalur dengan kegiatan utamanya, inilah yang dimaksud dengan adanya relevansi. Sedangkan kontekstual artinya muatan kegiatan bersifat terbaru dan tidak kadaluarsa. Relevansi dan kontekstual bisa diartikan sesuai dengan aturan dan regulasi yang ada. Berikut ini adalah conoth bentuk kegiatan yang tidak relevan dan tidak kontekstual, misalnya untuk praktik di mapel TIK jangan sampai materi dan kegiatannya hanya mengetik surat terus-menerus hingga 6 kali pertemuan, atau dalam mapel IPA mempelajari gerak edar planet hingga 7 kali pertemuan, atau mapel penjaskes kegiatannya hanya volly hingga 8 kali pertemuan, begitu pula untuk mapel-mapel lainnya.
“Tak ada gading yang tak retak” atau istilah asing “No body is perfect” adalah senjata paling ampuh untuk berlindung dan berlepas diri dari proses perubahan. Memang tak ada manusia yang paripurna, tak ada jiwa yang sempurna, karena kita manusia biasa yang pastinya punya berbagai kelemahan dan kekurangan. Namun sesungguhnya kelemahan yang paling besar adalah tidak adanya kemampuan untuk menyadari di mana kekurangan diri, dan hal ini berakibat rendahnya kemampuan diri untuk berubah memperbaiki diri serta lemahnya motivasi untuk melakukan inovasi. Oleh karena itu kita butuh orang lain untuk mengoreksi dan mengevaluasi diri kita. Di sinilah peran dan fungsi sosialisasi, publikasi dalam rangka koreksi terhadap jati diri.

Jika di perusahaan selalu ada meeting yang rutin dan terjadwal, jika di perguruan tinggi ada seminar judul skripsi terkait sebuah rencana penelitian, dan jika di SMK ada job-sheet berbagai gambar kerja, maka selayaknya di sekolah umum lainnya –termasuk kita- untuk melakukan  sosialisasi, publikasi atau uji publik terhadap konsep, ide dan gagasan baru kita. Intinya dalam sosialaisasi adalah adanya proses komunikasi yang baik yang dilakukan di awal periode, sebagai bentuk evaluasi awal dari sebuah konsep yang akan dilaksanakan dalam satu waktu tertentu. Jangan takut untuk melakukan sosialisasi, publikasi dan uji publik dari konsep bagus yang belum terungkap dan ide cemerlang yang pernah tersirat, karena sesuangguhnya teman-teman guru dan terutama siswa menunggu karya hebat kita. Ibu Yani dengan english day-nya, Ibu Prihatin dan Ibu Rini add teaching IPA-nya, Pak Yus dengan prototipe demografi-nya. Sosialisasi, publikasi dan uji publik adalah kesempatan bagi mereka yang ingin berbenah, ingin perbaikan dan ingin pembaharuan untuk menghasilkan karya dan kerja terbaik dalam mendidik anak-anak yang telah diamanahkan orang tua mereka. Mari terus melakukan inovasi menuju perubahan yang lebih baik, insya-Alloh. Selamat beraktifitas, semoga sukses <35240>

Jumat, 30 Oktober 2015

Inovasi -3 : Membuat Konsep Baru yang Lebih Baik - Pentingnya Sebuah Konsep

Alhamdulillah, tulisan seri inovasi yang ke-3 sudah bisa kami selesaikan. Sedikit kami cuplikkan bahwa pada tulisan seri inovasi yang pertama mengangkat tentang urgensi inovasi bagi pendidikan, kemudian dilanjutkan seri yang ke-2 yang mengambil tema tentang keutamaan memiliki karakater / jiwa yang baik sebagai bekal dasar untuk bisa melakukan inovasi. Sebagai seri lanjutan, maka pada tulisan seri ke-3 ini kami akan menguraikan pentingnya konsep baru dan bagaimana kita harus mempersiapkan konsep dalam proses inovasi, khususnya dalam pembelajaran bagi siswa. Tulisan ini keluar pada saat yang tepat karena bersamaan dengan dikirimnya 5 guru SMPN 2 Kepil dalam pelatihan USAID yang memang bertujuan untuk menjadi guru yang inovatif dan kreatif sehingga sangat mendukung tugas guru mulai dari persiapan hingga dalam proses pembelajaran.

Pertengahan tahun 95-an ketika kami awal-awal belajar di fakultas teknik UNY saat itu ada anekdot (kelakar) tentang sebuah jurusan di perguruan tinggi yang terasa lucu, yaitu jurusan "Sastra Nuklir". Jika jurusan itu bernama Teknik Nuklir, kemungkinan besar menjadi jurusan yang sangat bagus, karena ada kata teknik, yang pada saat itu jurusan teknik adalah salah satu jurusan yang dianggap pavorit, dan kata nuklir, yang merupakan ilmu yang sangat langka dan modern. Namun karena ditempel dengan kata sastra maka kemudian maknanya menjadi berbeda. Anekdot "Sastra Nuklir" lebih mendekati arti sebagai jurusan ilmu nuklir yang banyak mengarang, tanpa laboratorium memadai dan jauh dari teknologi. Inilah gambaran sebuah jurusan yang dibuat tanpa konsep dan persiapan yang memadai, sehingga terkesan asal jalan, asal ada (sangat apa adanya) dan cenderung jauh dari sasaran kualitas. Hal ini yang beberapa waklu lalu marak terjadi di "perguruan tinggi abal-abal" yang kemudian menjadi latar belakang dibekukan operasionalnya oleh kementerian dikti dan riset.

Dalam dunia properti (pembangunan rumah) dikenal berbagai macam jenis dan kategori rumah, yang dalam istilah arsitektur sering dikenal dengan nama model minimalis, klasik, mewah, modern hingga kontemporer. Jika seseorang mau membangun atau membuat rumah, maka yang paling mendasar adalah adanya gambar rencana dalam bentuk desain atau denah. Gambar rencana meliputi ukuran rumah, jumlah lantai, jumlah kamar dan tata letak yang akan menentukan detil gambar rencana pondasi. Gambar rencana harus jelas. Jika gambar rencana tidak jelas, apalagi tidak konsisten maka akan menyusahkan bagi tukang batu, tukang kayu dan pekerja yang terlibat dalam pembangunan rumah tersebut. Tidak boleh merubah ukuran ruang ketika pekerjaan sudah berjalan 50 %, karena akan berdampak pada banyak hal yang lain. Maka di sinilah peran dari sang arsitek, dia harus benar-benar membuat desain atau rencana gambar yang fix, up to date, dan telah dipastikan cocok dengan keinginan yang akan menempati rumah tersebut. Biasanya dalam proses persiapan desain seorang arsitek harus banyak berkomunikasi dengan calon pemilik rumah. Kesiapan konsep yang matang akan menjadi patokan dan menentukan keberhasilan sebuah kegiatan.

Konsep semakna dengan tema, alur dan gambaran singkat tentang rencana suatu kegiatan atau pekerjaan. Konsep dapat menjelaskan secara gamblang sebuah pekerjaan besar dan menguraikan tiap-tiap bagian secara detil. Sebuah konsep bisa diurai dalam bentuk sekuel-sekuel yang terperinci yang walau secara singkat namun dapat menjelaskan hingga bagian terkecil. Bagi guru, mungkin ada yang bertanya "Mengapa, apa perlu membuat konsep sendiri, kan sudah ada RPP, sudah ada silabus. Apa harus mengganti semua RPP, Silabus dan kelengkapannya ? Seperti kurang kerjaan saja. Tentunya bukan seperti itu bentuk inovasinya, mari kita coba urai bersama-sama.

Konsep baru dalam persiapan dan pelaksanaan pendidikan di kelas bukan untuk meniadakan perangkat yang sebelumnya telah ada. RPP, Silabus dan kelengkapan lainnya merupakan administrasi dasar yang tetap harus ada. RPP dan Silabus adalah perangkat administrasi yang sudah baku, bentuk dan hirarkhinya sudah ditentukan dari pusat yang memiliki kewenangan penuh atas kebijakan pendidikan. Namun selebihnya untuk urusan materi, konten (isi), muatan (lokal dan sentral), teknik dan yang berkaitan dengan penerapan di kelas menjadi kebijakan otonomi tiap sekolah, masing-masing individu guru di kelas. Nah, kehadiran sebuah konsep baru merupakan kebutuhan untuk menjadikan  RPP, Silabus dan kelengkapan lainnya menjadi sesuatu yang hidup, sesuatu yang dinamis dan selalu berkembang seiring perjalanan waktu dan perkembangan zaman.

Jangan berfikir terlalu ekstrim, jangan berfikir terlalu tinggi yang tak terjangkau hingga seakan konsep baru ini akan merubah semuanya, sama sekali bukan. Sederhana aja, konsep baru hanyalah bentuk penyegaran dalam pola pembelajaran agar selalu baru, up to date dan tidak kadaluarsa atau ketinggalan zaman. Bagaimana rasanya jika ketika seorang guru mengajar di kelas siswanya banyak yang tidur karena cara mengajarnya monoton (cerus/cerlu = ceramah terus/cerita melulu), atau materi yang diajarkan tidak menarik (karena tidak di update), atau metode CBSA yang tidak pernah berubah (cbsa = catat buku sampai abis). Bisa dibayangkan apa jadinya jika dalam pelajaran yang durasi 2-3 jam hanya diberi pengantar 15 menit, kemudian selebihnya acara bebas tanpa kendali yang terprogram karena kurangnya variasi metode pembelajaran, yang terjadi bisa diamati adanya siswa bosan, siswa belajar sekenanya, semaunya dan hanya menghabiskan waktu yang terasa sangat lama. Hal seperti inilah yang kami maksud dengan pembaharuan konsep. Artinya perlu dibuat dan dirancang sebuah konsep baru terkait berbagai cara, teknik, materi dan metode dalam pembelajaran yang akan dilaksanakan dalam kurun waktu tertentu.

Konsep baru, bisa berbentuk rencana baru, namun bukan berarti keluar dari substansi inti. Pembuatan konsep baru ini sebaiknya dilakukan di awal semester sebelum pembelajaran di mulai, namun demikian bisa juga di sisipkan di tengah semester seiring dengan datangnya "ilham" yang mungkin bisa saja datang di tengah perjalanan. Konsep baru ini bisa dirancang berdasarkan analisis terhadap pola dan pengalaman pembelajaran yang telah dilakukan selama ini. Apa yang sudah baik, apa yang kurang dan apa yang sama sekali belum sesuai dengan harapan. Perlu juga kiranya dengan bijak dan berbesar hati untuk bersedia melihat, menyaksikan, membaca dan membandingkan dengan tempat lain, sekolah lain, guru lain yang lebih dalam hal kualitas, baik dari sisi prosesnya, inputnya maupun outputnya.

Tidak harus serta merta semua berubah, tidak juga harus frontal, bisa dimulai dari beberapa point penting atau beberapa sekuel utama, atau pada bagian tertentu yang dirasa sudah siap dan paham. Sebagai gambaran mungkin kita bisa memulai untuk memperbarui konsep dalam bentuk sebagai berikut :
  • Metode yang baru, pendekatan langsung kepada bentuk jadi, bentuk nyata dan bentuk yang dikenal sehari-hari. Metode ini yang pernah diterapkan guru matematika asal Purworejo, Bp Juli Eko Sarwono yang ternyata membawa hasil yang luar biasa dalam pembelajaran matematika, hingga membawanya tampil di Kick Andy dan beberapa acara televisi. Pelatihan USAID adalah kesempatan yang sangat bagus bagi guru untuk bisa belajar berbagai metode mengajar yang menarik dan menyenangkan. Saat ini 5 guru SMPN 2 Kepil yang mengikuti pelatihan USAID yaitu ; Bp. Edi Wineto, Bp Agus Yuswantoro, Ibu Ratna Yuli, Ibu Laras dan Ibu Zulaikho.
  • Bahan ajar yang baru, semisal membuat file presentasi. Semangat Bp Edi Wineto, S.Pd yang mau bertanya dan belajar bersama kami dalam membuat file presentasi (power point) perlu diacungi jempol dan bisa ditiru oleh guru yang lain. Bagaimana pun bentuknya, suatu karya hasil buatan sendiri akan lebih mantab dan meyakinkan dalam proses transformasi ilmu. Maka jangan takut berkarya, hasil yang baik hanya bisa diperoleh dengan tekun dalam berproses dan banyaknya pengalaman.
  • Alat yang baru, contohnya LCD Proyektor atau benda kerja. Melalui tayangan video atau gambar siswa akan lebih bisa melihat langsung benda sesungguhnya. Selain itu membawa barang asli, semisal peragaan langsung berbagai alat musik oleh guru mata pelajaran akan menambah khazanah dan kepercayaan siswa terhadap kemampuan dan kapasitas guru dalam proses transformasi ketrampilan seni dan budaya.
  • Teknik baru, semisal pembelajaran di luar kelas. Ibu Prihatin Handayani, S.Pd dan Ibu Rini Utami, S.Pd yang keduanya mengajar mata pelajaran IPA pernah melakukan ini, para siswa di ajak melakukan pengamatan dan penelitian tanaman di halaman adalah suatu langkah baru yang perlu dikembangkan secara lebih intensif dan terprogram.
  • Ide baru (gagasan kegiatan), semisal ide tentang "English Day" - ini yang sempat disampaikan Bu Yani Widayati, S.Pd. Ini ide bagus, konsep baru yang bagus yang harus bisa dimulai kalau ingin terwujud. Ide baru yang tak pernah dimulai akan menjadi ide yang kadaluarsa, dan terlambat dalam membuat perubahan. 
  • Tambahan baru (suplemen), semisal pelajaran gamelan, group band, paskibra, membuat aneka masakan, seni tari dan vocal group. Pemberian tambahan ilmu baru yang diajarkan secara intensif akan sangat memberikan warna dan ruh baru bagi kemajuan sebuah mata pelajaran. Suplemen ini bisa menjadi keunggulan yang merupakan ciri khas sekolah yang pada gilirannya akan mengangkat citra dan nama baik sekolah.
Masih banyak hal baik yang bisa disiapkan dalam membuat konsep baru dalam pembelajaran. Intinya semua berawal dari kemauan untuk memperbarui diri, untuk melakukan inovasi, menjadikan diri sumber inspirasi dalam pembelajaran bagi siswa di Sirandu ini. Kami yakin (kita), bila kita mau, insya-Alloh kita mampu. Sebagai pedoman dasar agar tidak terlalu menjadi bayangan yang menakutkan adalah "Bila sekolah lain bisa, mengapa kita tidak - bila guru lain bisa mengapa kita tidak". Guru-guru di sekolah lain yang sudah lebih maju adalah manusia juga, sama seperti kita. Artinya, mungkin saja kualitasnya juga sama dengan kita (tidak jauh berbeda), hanya masalah kesiapan mental dan kesadaran untuk menempa diri, mengasah visi dan memperbaharui misi untuk bisa menjadi pribadi yang siap memberikan yang terbaik untuk anak-anak negeri. Slogan "mengajar seadanya, sebisanya, semaunya dan ala kadarnya", atau menganggap mengajar sebagai kebiasaan "pekerjaan biasa sekadar memenuhi jam mengajar" alangkah baiknya dengan penuh kesadaran direvisi kembali.

Kuncinya pada kesadaran dan rasa peduli. Kesadaran bahwa guru / pendidik adalah pekerjaan mulia dan hanya akan mulia bila dilaksanakan dengan sepenuh jiwa raga. Peduli, kadang kita sangat peduli dengan anak sendiri, namun kurang peduli dengan anak orang lain yang menjadi anak didik kita. Jika secara pribadi tidak rela jika anak kita belajar di sekolah kurang bagus, kurang inovatif, dan kurang bermutu - maka sebagai guru kita harus berupaya untuk menjadi guru yang bagus, yang inovatif dan bermutu dengan ditandai tumbuh kembangnya semangat inovasi yang terus menerus dalam membangun sekolah untuk menjadi sekolah yang lebih maju. Kita tentu tidak ingin dikenal sebagai guru sastra penjaskes, sastra matematika, sastra IPA, sastra IPS, sastra seni budaya dan sastra lainnya, karena predikat sastra yang paling tepat dan menjadi hak sepenuhnya adalah jurusan bahasa. Sekian, sampai jumpa pada edisi berikutnya, inovasi -4. Selamat mempersiapkan diri untuk lebih maju, selamat beraktifitas, semoga sukses. <34580>