
Pembaca web SMPN 2 Kepil, selamat datang dan bertemu kembali dengan
sajian tulisan seri inovasi yang dalam draft coretan kami terdiri dari
12 seri. Tulisan seri inovasi terakhir adalah seri -4, yang berfokus
pada perlunya sosialisasi terhadap konsep sebagai media kontrol dan
sarana koreksi sebelum di-implementasikan dalam pelaksanaan tugas
sehari-hari. Di sela-sela kesibukan kami terkait kesanggupan untuk
merampungkan aplikasi penilaian K-13 bagi beberapa sekolah lain, kami
sempatkan untuk menyelesaikan tulisan ini yang sempat tertahan sekitar 7
bulan lamanya, Alhamdulillah akhirnya Inovasi seri -5 dapat kami
tayangkan pada hari-hari terakhir bulan Agustus ini. Semoga sajian
berikut bisa menambah wawasan, membuka cakrawala pemikiran dan
syukur-syukur bisa menjadi inspirasi untuk membuat sesuatu yang baru dan
inovatif dalam pembelajaran, yang untuk edisi ini kami spesialkan untuk
rumpun bahasa. Bukan untuk membatasi, namun untuk memudahkan dan
menghemat pemaparan, maka untuk seri kali ini secara spesifik akan kami
fokuskan kepada guru rumpun bahasa, namun demikian tetap terbuka dan
bisa diadopsi untuk semua mata pelajaran. Kepada para guru senior dan
master di bidang studi rumpun bahasa, tulisan ini tidak bermaksud
mengkritisi apalagi menggurui, sama sekali tidak, kami hanya sebatas
berbagi apa yang ada dalam benak kami.
Untuk membuka tulisan ini, sejenak mari kita tengok realita di luar
dunia pendidikan. Jika kita masuk ke dalam dunia bisnis otomotif, maka
kita bisa melihat bahwa mereka selalu mengusung tema inovasi, teknologi,
safety dan semua hal yang terbaru, karena hal inilah yang merupakan
magnet kuat dalam pemasaran sebuah produk, khususnya otomotif. Bagi
perusahaan yang bergerak di bidang otomotif -utamanya mobil- faktor
varian produk merupakan hal utama dan menjadi fokus penting dalam teknik
marketing, yang sering dikenal dengan psikologi pasar. Karakteristik
dan tipe konsumen yang bermacam-macam menjadi latar belakang dibuatnya
produk mobil dengan berbagai varian (tipe), hal ini tidak lain untuk
mengakomodir selera dan kemampuan daya beli masyarakat terhadap sebuah
mobil. Sebagai contoh, di kelas premium untuk tipe SUV ada Toyota
Fortuner seri 2.5 G, 2.7 G dan TRD, ada Mitsubishi Pajero dengan seri
GLX, GLS, Exceed dan Dakar, sedangkan pada tipe MPV ada Kijang Innova
dengan seri E, G dan V. Adapun untuk di kelas menengah untuk tipe MPV
ada Daihatsu Xenia terbaru dengan seri D, M, X dan R di kelas tertinggi.
Begitu juga pada Toyota Avanza dimulai seri E, G, S dan Velos pada
kelas tertinggi. Senada dengan itu berbagai merek lain seperti Nissan,
Suzuki, KIA dan Isuzu juga melakukan hal yang sama. Mereka membuat
berbagai tipe varian di atas dibuat bukan sekedar gaya-gayaan semata,
namun berdasarkan analisis dan psikologi pasar yang didasarkan pada
animo, selera dan daya beli masyarakat yang kemudian menjadi segmentasi
pasar.
Toyota Avanza dikenal sebagai mobil sejuta umat karena memang paling
laris sepanjang sejarah penjualan mobil. Hal ini bukan terjadi dengan
istilah "kebetulan", atau laris manis karena hasil jopa-japu dukun sakti
dari lereng Sindoro, namun memang terobosan segmentasi pasar yang
tepat. Secara umum konsumen mobil di Indonesia adalah kelas menengah,
mereka menginginkan mobil yang muat banyak penumpang, nyaman harga
terjangkau dan irit BBM (faktor utama). Makanya, begitu varian Avanza
muncul langsung diserbu para konsumen, apalagi update model dengan
facelite yang diperbaharui, jumlah konsumen semakin bertambah tiap
tahunnya. Sejalan dengan itu keluar mobil yang sama persis yaitu Xenia
dengan payung Daihatsu. Inilah hebatnya sang produsen - dalam hal ini
Astra, yang berkolaborasi dengan Toyota dan Daihatsu. Terakhir
diketahui bahwa Toyota Avanza dan Daihatsu Xenia adalah mobil yang sama
dengan merek yang berbeda, dibuat dengan beberapa seri yang berbeda dan
tentunya harga yang berbeda-beda. Begitu juga pada tipe SUV diketahui
bahwa Toyota Rush dan Daihatsu Terios adalah varian dari pabrikan yang
sama- Astra Daihatsu Motor. Inilah teknik marketing yang hebat untuk
bisa menjangkau segmen pasar (konsumen) yang berbeda-beda, namun
tujuannya sama - Laku, Laris dan Untung.
Nah, selanjutnya kita kembali masuk ke pendidikan, ke sekolah, ke kelas
dan ke siswa dalam pembelajaran. Siswa di dalam satu kelas sangat
beragam, siswa di satu sekolah yang berjumlah ratusan tentu jauh lebih
beragam. Berbagai macam karakter, tipe dan intelegensi yang berbeda yang
disebabkan latar belakang orang tua mereka. Ada yang orang tuanya
berpendidikan tinggi, tingkat ekonomi menengah ke atas. Ada yang
pendidikan orang tuanya sedang dan tingkat ekonomi menengah.ke bawah.
Namun ada juga yang pendidikan dan ekonominya rendah bahkan
memprihatinkan. Dari berbagai latar belakang yang berbeda itu tentu akan
berdampak berbeda pula pada tingkat pemahaman, tingkat daya tangkap dan
tingkat antusias siswa terhadap pembelajaran. Bakat mereka beragam
bentuknya, minat mereka tidak sama, tingkat intelegensi mereka juga
berbeda-beda. Ada siswa yang hanya dengan sekali baca atau sekali dengar
dia paham dan langsung mampu menguasai, ada juga yang masuk kategori
menengah yang dengan 2 -3 kali pengulangan baru bisa paham, namun ada
juga yang sudah berkali-kali pengulangan masih belum mengalami perubahan
yang berarti. Di sinilah dibutuhkan kejelian dan kepekaan bagi seorang
guru.
Menurut pandangan beberapa guru senior, pada dasarnya "mengajar" adalah
pekerjaan mudah, dengan syarat apabila semua persiapan mengajar yang
meliputi materi, teknik mengajar dan penguasaan kelas sudah dikuasai,
apalagi bagi guru yang sudah berpengalaman. Di suatu tempat mungkin bisa
terjadi dan muncul anggapan "
guru bagaikan raja di ruang kelas", sehingga bisa berbuat apa saja"
.
Semua siswa harus tunduk dan patuh dengan perintah guru, mau diisi
kegiatan dan materi apasaja manut, mau dibuat seperti apa dan dibawa ke
manaaja ngikut, kelas itu sangat tergantung pada kehendak guru. Namun
apakah pola yang seperti ini cocok dan sejalan dengan tujuan pendidikan,
bahwa pendidikan bukan untuk mendidik menjadi jiwa feodal, jiwa yang
mengangkat juragan dan merendahkan pelayan, jiwa membuat dinding tebal
bagi bangsawan dan rakyat jelata. Di sinilah dibutuhkan kebesaran hati
guru sebagai seorang pendidik. Bagi guru yang jiwanya sudah terpanggil
untuk mendidik maka menyampaikan ilmu pengetahuan adalah kebutuhan,
membimbing siswa dengan budi pekerti adalah kewajiban yang menumbuhkan
kemuliaan.
Namun memang kondisi di dalam kelas tidak selalu mulus sesuai harapan.
Ada beberapa kesulitan yang sering muncul di dalam perjalanan. Di
kelompok A berisi siswa yang pandai, penurut dan mudah diatur sehingga
mengajar siswa yang seperti ini serasa damai dan menyenangkan. Di
kelompok B adalah kumpulan siswa yang masuk kategori umum, biasa saja
dengan kemampuan yang juga umum. Di kelompok C terdiri dari siswa yang
cenderung diam, cenderung introvert serta menutup diri. Dan terakhir di
kelompok D banyak diisi siswa yang ekstrovet yang mengalami hambatan
belajar dan susah untuk dikendalikan. Di sisi lain guru juga berisi
empat macam jenis pribadi yang mempunyai kadar psikologi yang sama
dengan siswa. Oleh karena itu kecermatan dalam memahami serta kedewasaan
dalam bersikap adalah kunci keberhasilan dalam proses pembelajaran,
pengajaran dan pengasuhan yang sesuai dengan psikologi dan karakter
pendidikan. Pertanyaan besarnya "Bagaimana mengemas pembelajaran dengan
kondisi siswa yang multi kondisi, multi intelegensi serta multi
psikologi?"
Fokus Kompetensi Rumpun Bahasa
Dalam pembelajaran bahasa Indonesia, secara ringkas kompetensi yang
diutamakan adalah kemampuan mendengarkan, berbicara, membaca dan
menulis. Dalam bahasa Inggris kompetensi yang diajarkan adalah reading,
speaking dan writing yang harus diperkaya dengan kemampuan listening.
Dalam bahasa Jawa materi juga tak jauh beda dengan bahasa Indonesia,
namun pelafalan yang kadang tidak sama dengan tulisan yang ada dalam
tulisan. Khusus untuk bahasa Inggris konteksnya lebih tinggi tingkat
kesulitannya karena semuanya adalah berasal dari asing barik tulisan,
ejaan hingga pelafalannya. Maka tiap sekolah, tiap kelas bahkan tiap
siswa bisa berbeda dalam fokus pembelajaran agar bisa lebih optimal.
Guru mata pelajaran tidak harus berfikir untuk bisa memaksakan diri
untuk bisa optimal di segala aspeknya, seperti sudah menjadi rahasia
umum bahwa untuk mapel bahasa ini sulit untuk bisa meraih nilai sempurna
(100). Di sinilah dibutuhkan kejelian dan kecermatan guru untuk bisa
mengambil kebijakan terkait pemilihan dan fokus kepada salah satu aspek
yang kemungkinan (khans) bisa lebih dioptimalkan.
Beberapa guru berikut mungkin bisa menjadi contoh untuk bisa diambil
sebagai contoh / model dalam pembelajaran dan bisa menginspirasi sehingga berani
mengembangkan ide, berkreasi dan membuat inovasi dalam pembelajaran.
Yang pertama,
Ibu
Saraa Suaib Hanafi, guru bahasa Inggris SMP Al-Azhar 9 Kemang Jakarta
adalah salah satu guru yang kreasi dan inovasinya sukses dan diakui
dunia dan membawanya menjadi pemenang dalam ajang international yang
bertajuk Microsoft Global Education. Proyek kolaborasi
"Peace Postcard",
memacu siswa untuk membuat tulisan dengan bahasa Inggris berbentuk
ajakan, seruan atau brosur yang berisi pesan "Kedamaian Dunia" dalam
bentuk kartu pos. Aspek writing mencuat luar biasa melalui media ini.
Inovasi kreatif Ibu Saara ini kemudian membuat dirinya diundang untuk
tampil di Metro TV dalam acara
Kick Andy, dengan tajuk Guru Hebat. Yang kedua, masih
dalam bahasa Inggris ada
Ibu Badriah dari SMAN 1 Cianjur, mengajak
siswa untuk menulis dalam bentuk dialog jurnal tentang sesuatu yang
simple, bebas dan tidak kaku. Awalnya para siswa membuat berbagai tulisan bahasa Inggris
versi Cianjur, contohnya "I will write litle-litle in english for you,
this is not good but i will try because english is difficult." Mereka
membuat catatan komunikasi dialog jurnal dengan guru dengan gaya dan
pola yang bebas, tanpa harus terkungkung dengan grammar dan tata bahasa.
Dan ternyata dalam proses habituasi yang memakan waktu 8 bulan mereka
mampu membuat tulisan ide, gagasan dan paparan dalam bahasa Inggris yang
luar biasa. Dari dua contoh ini maka secara umum sekolah, dalam hal ini
guru bahasa Inggris bisa mengoptimalkan siswa dalam bentuk karya
writing atau speaking saja.
Nah untuk mata pelajaran bahasa Indonesia yang nota bene bahasa ibu,
bahasa harian dan bahasa bangsa dan bahasa kebanggaan tentu akan sangat
terbuka lebar untuk memaksimalkan karya dan prestasi bagi siswa.
Orientasi kepada penyampaian seluruh materi sesuai KD yang telah diatur
adalah suatu keharusan. Namun demikian, dengan berbagai pertimbangan
kita bisa memilih untuk lebih fokus pada sisi tertentu misalanya
menggenjot siswa dalam bentuk karya tulis. Jika siswa sudah kenal dengan
menulis, tahu dengan media untuk membuat tulisan, dan tahu tata cara
menuangkan tulisan yang baik maka mereka bisa berbuat sesuatu yang luar
biasa. Jangan heran jika kemudian kita mendapati di antara mereka yang
ternyata punya gagasan, ide, inovasi, kreasi dan bakat yang luar biasa.
Nah, di sinilah perlunya memberikan mereka pandangan, membukakan mereka
jalan serta menuntun mereka di langkah awal mereka agar bisa belajar,
berlatih dan berkarya melalui tulisan. Sebagai langkah awal mungkin dari
karya yang paling sederhana, semisal pantun, puisi, cerpen hingga
artikel.
Satu hal yang perlu dirubah dan perlu dibuat inovasi adalah
"ending"
atas karya mereka. Bagaimana karya hebat mereka bisa diketahui dan
dinikmati banyak orang, bisa diapresiasi dan selanjutnya bisa didukung
untuk lebih dikembangkan menjadi lebih baik lagi. Karya hebat mereka
selama ini hanya tersimpan dalam memori guru mapel, atau hanya tersimpan
di atas meja guru, atau yang lebih parah adalah yang belum sempat
dibaca, belum sempat dinilai sudah langsung masuk lemari atau berserakan
di kumpulan tugas yang tertumpuk di lantai. Dan hal ini banyak terjadi
di hampir setiap mata pelajaran. Ending tugas yang monoton dalam bentuk
kertas inilah yang perlu di carikan model lain sebagai bentuk inovasi,
semisal menggunakan media elektronik yang bersifat real time dan
on-line. Berikut ini nama aplikasi yang bisa digunakan untuk
pembelajaran yaitu ; Moodle, Joomla Chamilo, Claro hingga Quiper Video
adalah sebagian kecil dari ratusan aplikasi berbasis on-line. Namun
nama-nama itu mungkin masih sangat asing baik dari segi nama maupun
penggunaan dalam keseharian. Nah ada satu aplikasi yang paling mudah dan
cukup familiar serta kompatibel bagi guru maupun siswa, yaitu WhatsApp.
Dengan sedikit
"dalil & dalih" maka bisa dipastikan sebagian
besar siswa akan sanggup untuk memiliki HP Android yang bisa untuk
aplikasi WhatsApp, kalaupun belum bisa semua, maka bisa 2-3 siswa bisa
bergabung dengan 1 perangkat yang sama. Nah dengan membuat Grup dalam
mapel inilah, bisa difungsikan sebagai wahana siswa dalam berkarya.
Tentu saja untuk ini perlu pengawalan dan pembuatan AD/ART yang ketat
agar aplikasi ini tidak berbelok arah dari tujuan sebenarnya, seperti
yang kebanyakan terjadi di Grup WA saat ini.
Salah satu kelemahan yang biasa bersemayam pada diri kita sebagai guru
adalah adanya sikap apriori kepada siswa, bahwa mereka kecil, mereka
baru belajar sehingga belum bisa berbuat yang istimewa. Ini adalah
sebuah kesalahan besar yang harus segera kita sadari. Bahwa kita harus
lebih apresiatif terhadap siswa, karena pada dasarnya setiap mereka
memiliki potensi dan bakat yang istmewa. Bukan tidak mungkin jika siswa
bisa berkarya yang lebih hebat dari gurunya. Siswa menjadi juara
Menyanyi, Cipta Lagu atau Solo Gitar, siswa yang menjadi juara Catur,
Bulu Tangkis atau Karate, siswa menjadi juara IMO (Matematika), siswa
menjadi juara Desain Grafis, siswa menjadi juara Pidato dan Karya Tulis
Remaja, dan juara-juara lainnya sementara gurunya biasa-biasa saja dan
belum pernah menjadi juara apapun. Kita sebagai guru bisa jadi hanya
menang usia, sehingga belajar lebih dahulu, tahu lebih dahulu. Urusan
mengumpan bola (toser) dan menyemes dalam Volly bisa jadi siswa lebih
jago dari gurunya, urusan program Visual Basic bisa jadi siswanya lebih
piawai dari gurunya, dan berbagai bidang studi lainnya. Bukan berarti
merendahkah dan meremehkan siapapun, namun justru di sinilah kehebatan
guru diuji, ditantang untuk bisa memilih model, memilih siswa dan
memilih wahana untuk menunjukkan karya dengan menjadikan siswa
berprestasi, karena konsepnya "
siswa yang hebat hanya muncul dari guru yang hebat".
Masih banyak pilihan karya hebat dari rumpun bahasa ini, ada pidato,
baca puisi, monolog, pidato bahasa Inggirs, debat bahasa Inggris, pidato
bahasa Jawa, mocopat serta pembawa acara berbahasa Jawa. Semuanya baik
dan terbuka untuk dikembangkan dan ditawarkan bagi siswa sebagai
alternatif pembelajaran bagi mereka. Sebagai penutup uraian seri Inovasi
ke-5 ini, berikut beberapa kesimpulan sederhana :
- Kami yakin Bapak/Ibu sudah berkarya yang besar dan hebat, telah
melaksanakan tugas dengan tulus dan sebaik-baiknya, namun mungkin perlu
membuat sebuah inovasi karya yang Multi Option agar bermacam-macam siswa
dengan latar belakang yang heterogen bisa tercover dan bisa
optimalisasi diri sesuai minat dan bakat mereka.
- Kami yakin juga jika proses kreasi sudah dilalui, namun mungkin
jenuh, bosan dan capek. Nah Variasi Tugas akan memancing kreasi siswa,
akan memperkaya wawasan dan pengalaman bagi siswa yang pada akhirnya
akan menjadikan mereka hebat, gurunya hebat dan sekolah ikut hebat.
Berbagai literatur tentang model pembelajaran dan sosok guru hebat
sangat mudah diakses dan diperoleh dari internet, mari kita manfaatkan
sebaik-baiknya.
- Kami percaya 100 persen jika cara mengajar sudah bagus, terbukti
dengan adanya sertifikasi profesi, namun untuk membukakan jalan dan
kesempatan bagi siswa untuk bisa lebih jauh memandang dunia, lebih bebas
memilih cara berkarya dan lebih luas menyebarkan dan mengembangkan
karya, mari kita gunakan media yang ada untuk memfasilitasi mereka agar
lebih hebat, lebih terbuka dan lebih mendunia. WhatsApp, Joomla, Moodle,
Blog, Youtube atau Quiper bisa dijadikan alternatif untuk berkarya,
kita-lah kunci pembukanya.
- Mereka adalah amanah bagi kita, lahan amal dan perjuangan bagi kita.
Sukses mereka ada di tangan mereka, namun kita bisa lebih mulia dan
ikut bahagia jika turut andil dengan mendidik mereka.
Rumpun bahasa adalah rumpun yang sangat penting dalam proses transfer ilmu. Beberapa tokoh dalam tulisan mereka menyebutkan bahwa bahasa adalah kunci dari segala ilmu, karena ilmu tersampaikan menggunakan bahasa, baik yang menggunakan lisan ataupun tulisan. Maka bisa dikatakan jika bahasa adalah kunci pembuka ilmu, baik untuk belajar dan menyebarkan ilmu, ilmu apapun. Oleh karena itu
memberikan wadah yang mudah, simple, sederhana namun menarik perlu disiapkan sebagai bentuk inovasi dan menjadi daya tarik bagi siswa untuk belajar berkarya. Contoh mudahnya adalah mading (majalah dinding), jurnal (catatan harian) atau sekedar kartu pos untuk menyampaikan pesan, ide dan gagasan tentang diri mereka. Coba lakukan dan lihat hasilnya, sesuatu yang luar biasa.
Sebelum kami akhiri, perkenankan kami mohon maaf kepada para guru yang
serumpun, tulisan ini hanyalah opini dan motivasi, bukan dimaksudkan
untuk mengajari apalagi menggurui. Terima kasih kami sampaikan kepada Bu Ruti Sumarni,
M.Pd, Bu Siti Rukhoyah, S.Pd, Bu Yani Widayati, S.Pd, calon-M.Pd, Bu Sayekti
Laras S., S.Pd, Bu Tika Fibri Dwiyanti, S.Pd, Bu Sri Hartati, S.Pd, Bpk
Edi Wineto, S.Pd, dan Bpk Widodo, S.Pd - atas masukan dan paparan terkait
rumpun bahasa. Semoga kami dapat segera menyusun tulisan seri Inovasi berikutnya untuk
rumpun MIPA (sains). Akhir kata selamat berkarya, selamat berkreasi dan
ber-inovasi, semoga sukses, Merdeka. <58986-650>