text

Selamat Datang di Blog SMP N 2 Kepil Wonosobo ... Sekolah SEJUTA IMPIAN, ... Awali Suksesmu Dari Sini ... Mulailah segala sesuatu dengan BISMILLAH ...
Tampilkan postingan dengan label Lentera Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lentera Hikmah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 September 2019

Lentera Hikmah -10 : Menyemai Cinta di Sekolah, Inspirasi Survei Spero 2019

Diawali dengan ungkapan mendiang mantan presiden RI ke- 3, Prof. Dr. Ing. BJ Habibie tentang cinta, "Tanpa cinta kecerdasan itu berbahaya dan tanpa kecerdasan cinta itu tidak cukup". Mantan kepala negara sekaligus ilmuwan yang dikenal dunia internasional karena ilmu dan keahliannya dalam bidang teknologi pesawat terbang ini mengakui bahwa cinta bukan segala-galanya, namun memang cinta mempunyai peranan yang sangat penting, karena mempunyai efek yang luar biasa. Cinta, tentu cinta yang bukan sembarang cinta, cinta yang sejati, cinta dalam arti luas, bukan cinta monyet dan bukan cinta yang berlandaskan nafsu semata. Ada juga ungkapan lain yang berbunyi bahwa kekuatan paling besar yang dimiliki seorang manusia adalah kekuatan cinta yang murni. Begitulah, memang kita semua butuh cinta, karena ada sejuta energi dan kekuatan luar biasa dalam cinta. Inilah tema tulisan kita kali ini, seri lentera hikmah dengan tajuk Menyemai Cinta dalam Pembelajaran, selamat menikmati.

Mencintai dan dicintai orang lain adalah sesuatu hal yang indah dan menyenangkan. Tidak bisa disangkal bahwa kita butuh cinta, kita ada dan lahir di dunia ini karena cinta, kita menjadi besar karena cinta, kita bekerja karena dan untuk cinta, kita bertahan hingga usia senja juga karena cinta, bahkan setiap hari kita munajat dan beribadah kepada-Nya juga karena cinta. Kekuatan cinta itu benar-benar luar biasa, bahkan jika ditelisik lebih lanjut, cinta mampu memberikan kekuatan-kekuatan yang tidak terduga. Cinta dalam arti yang sebenarnya, cinta yang membangun kekuatan jiwa, cinta yang berperan dalam meraih cita-cita. Membicarakan cinta, mungkin terkesan melankolis, namun ternyata sangat besar kekuatannya dan sangat dahsyat efeknya.

Tulisan ini dibuat berdasarkan dua survei yang kami lakukan kepada siswa-siswa kami. Survei yang pertama dilaksanakan pada bulan Maret 2015, dan survei yang kedua dilaksanakan pada awal April 2019. Kedua survei ini masih tergolong amatiran dan sangat sederhana, dengan tujuan untuk memperoleh data dari siswa terkait beberapa hal, yang diharapkan bisa menjadi masukan berharga bagi guru dan sekolah. Survei dilaksanakan dengan format berbentuk angket dan dilaksanakan dalam pembelajaran, dengan kemasan sedemikian rupa sehingga siswa dapat memberikan jawaban yang sejujurnya tanpa malu, takut atau tertekan. Alhasil, ternyata banyak hal dapat diungkap dalam survei ini, dan yang utama diperoleh gambaran atau potret guru dalam pandangan siswa.

Survei yang pertama (2015) dikemas dalam daftar isian berbasis aplikasi Ms. Word dengan hasil akhir berupa file yang kemudian dikirim menggunakan e-mail (internet). Rangkuman hasil survei ini pernah terbit dalam artikel Manajemen -12, Semangat Perjuangan Untuk Kesuksesan Bersama, yang intinya diperoleh data guru terpavorit sebagai berikut; Pak Yosep Luhvendi, S.Pd di urutan pertama (24), Pak Drs. Kardan di urutan kedua (23) dan Bu Ruti Sumarni, S.Pd di urutan ketiga (17). Alasan utama menjadi guru pavorit adalah; # baik, ramah, santun, dan  # pandai, cerdas, terampil. Adapun data kebalikannya kami tidak menyebut nama/merek (terkait kode etik), namun muncul 1 sosok dengan angka fantastis, 44 responden menyatakan tidak menyukai sosok ini dari total responden sebanyak 91 siswa, itu artinya hampir separuh siswa tidak suka, dengan alasan utama guru tidak disukai; # galak / pemarah dan # acuh / kurang perhatian.

Survei yang kedua (terbaru, 2019) juga berbentuk angket dan merupakan pengembangan dari survei yang pertama. Survei kedua dilaksanakan secara full online berbasis aplikasi Google Form, yang link-nya terhubung dalam artikel Angket Kelas IX, Wahana Bercermin Bagi Guru dan Sekolah. Dalam form tersebut kami sediakan beberapa pertanyaan dengan model jawaban yang beragam, ada yang memilih satu jawaban yang tersedia (drop-down), ada yang isian singkat (jawaban pendek) dan ada yang uraian (jawaban panjang). Beberapa pertanyaan terkait terkait pengelolaan lingkungan sekolah, layanan administrasi sekolah dan juga pengelolaan kelas oleh wali kelas. Lebih spesifik lagi adalah munculnya beberapa nama guru yang menjadi guru terpavorit lengkap dengan alasan-alasannya dan yang sebaliknya yang tidak disukai berikut alasan-alasannya.

Inilah hasil survei terbaru (2019), dari jumlah responden sebanyak 88 siswa (dari total 95 siswa kelas IX) diperoleh beberapa data sebagai berikut;
  • Tiga sosok guru favorit teratas adalah 1. Bapak Eko Sutomas, S.Pd. (33), 2. Ibu M.I. Isti Supriyanti, S.Pd. (11) dan 3. Ibu Yani Widayati, M.Pd. (9)
  • Secara umum alasan menjadi guru favorit adalah ; # ramah, # telaten, # sabar, # tidak mudah marah, # komunikatif
  • Sedangkan tiga sosok yang kurang disukai tidak kami sebutkan namanya, cukup angkanya saja, yaitu; 20, 11, 9 dan disusul beberapa angka di bawahnya 
  • Adapun alasan guru kurang disukai, yaitu; # galak, # suka marah, # marai ngantuk, # suka menghukum, # mutungan, # sering main HP
Sebelum masuk pada kesimpulan, perkenankan kami mohon maaf atas beberapa hal. Pertama, jika tulisan kali ini dirasa cukup panjang (jujur saja, tulisan ini adalah yang terberat proses penyusunannya dan terlama waktunya). Kedua, jika isinya menyinggung atau bahkan menghunjam ke hati, sungguh bukan itu tujuan kami. Ketiga, jika ada data yang dianggap tidak sesuai harapan, perlu kami sampaikan bahwa tujuan survei ini bukan untuk menunjukkan siapa yang kompeten dan yang tidak kompeten, juga bukan untuk men-justifikasi siapa yang baik dan yang buruk.

Kami yakin, bahwa semua guru di sekolah kami sudah baik, sudah kompeten, sudah berpengalaman, bahkan beberapa sangat baik, luar biasa dan istimewa, serta tak ada satupun yang terindikasi kurang baik. Namun demikian, penilaian dari anak juga tidak bisa dianggap sampah, tidak penting dan dikesampingkan begitu saja. Rekaman penilaian dari anak-anak adalah gambaran nyata kondisi pribadi beberapa gurunya yang terjadi pada saat itu, yang bisa saja benar adanya, namun ada juga kemungkinan salah. Jika muncul penilaian yang kurang baik, sangat mungkin saat itu sedang terjadi perubahan kepribadian, yang bisa berubah kapan saja dengan seribu kemungkinan yang menjadi penyebabnya. Oleh karena itu, dalam menyikapi data hasil survei ini marilah kita mencoba untuk bersikap dewasa, obyektif, sportif dan tetap berfikir positif.

Seorang pendidik (guru) adalah sosok spesial dan biasanya menjadi tokoh di masyarakat atau ditokohkan oleh masyarakat, hal ini karena seorang pendidik dianggap sebagai sosok yang banyak ilmu dan pengalaman, apalagi yang senior. Namun demikian, guru tetaplah manusia biasa yang tak luput dari kekurangan dan kesalahan. Oleh karena itu sikap mawas diri perlu terus dilakukan, dan hasil kedua survei di atas kiranya bisa menjadi bahan untuk introspeksi dan menilai diri sendiri. Disadari atau tidak, ternyata dalam proses pembelajaran selama ini mereka (siswa-siswa) bukan hanya mencatat dan merekam materi yang diajarkan, namun juga mencatat, merekam dan menyimpan dalam memori mereka tentang siapa gurunya. Bisa jadi mereka hapal betul siapa kita, tutur kata kita, gaya berpakaian kita, sikap dan karakter kita, bahkan motivasi dan kinerja kita. Lalu apa hubungannya dengan judul diatas tentang cinta.

Hubungannya sangat signifikan, mereka anak-anak biasa yang punya indera, punya hati, dan punya rasa. Inilah yang kiranya perlu kita sadari bersama, bahwa pada hakikatnya siswa kita di sekolah sama dengan anak kita di rumah. Di rumah, anak kita selain butuh makan, minum, pakaian dan tempat tinggal, mereka juga butuh kasih sayang. Mereka butuh untuk dihargai keberadaannya, butuh diperhatikan aksinya, butuh untuk didengarkan ceritanya, butuh duduk dan jalan bersama, serta hal yang bersifat kebersamaan lainnya. Intinya mereka membutuhkan limpahan kasih dan sayang orang tuanya, yang dapat dikemas dalam satu kata "cinta". Di sekolah, siswa-siswi juga mengharap hal yang sama. Mereka butuh ilmu IPA, Matematika, Bahasa, Agama, Prakarya dan mapel-mapel lainnya termasuk Te-i-ka, karena memang mata pelajaran tersebut penting. Namun ada satu hal yang tidak kalah penting dan tidak boleh dikesampingkan yaitu hadirnya cinta dalam proses pembelajaran. Cinta dalam pembelajaran bisa berwujud  kumpulan motivasi, motivasi untuk beribadah, motivasi untuk belajar, motivasi untuk menggapai cita-cita, motivasi untuk kehidupan yang lebih baik, dan motivasi-motivasi untuk kebaikan lainnya.

Konsep dasarnya, hanya cinta yang akan melahirkan cinta, dan tidak mungkin berlaku sebaliknya. Oleh karena hati adalah tempat tumbuhnya cinta, berkembang serta bersemayamnya, maka untuk menyemai, menyebarkan dan menuai cinta juga harus melibatkan hati. Demikian pula pembelajaran harus melibatkan cinta yang ditandai dengan adanya perhatian, kelembutan dan kesabaran. Guru yang mengajar dengan penuh perhatian,  kelembutan, kesabaran inilah yang sebenarnya dirindukan oleh mereka. Faktanya, secara  psikologis anak-anak lebih suka diberikan kata motivasi dari pada caci maki, lebih senang disentuh dari pada sikap acuh tak acuh, lebih bahagia disapa dari pada dibiarkan saja, dan lebih bangga diberikan apresiasi dari pada dibuli. Kiranya itulah yang dilakukan Pak Eko (guru BK senior, memasuki masa pensiun tahun depan - Juni 2020) sangat paham masalah ini, sehingga beliau terpilih menjadi guru terfavorit.

Nama panggilan beliau adalah Pak Haji Eko, pengalaman dan kiprahnya di dunia pendidikan sudah tidak diragukan lagi, berpindah dari sekolah yang satu ke sekolah lain, termasuk berpengalaman pernah mengajar di daerah terpencil, Timor Timur.  Sosoknya yang supel dan rendah hati, nampak ramah dan sabar, pandai mengambil hati dan bijak dalam memotivasi, serta bisa ngemong sehingga anak-anak merasa dihargai, disayangi, diperhatikan dan dilindungi. Itulah yang menjadikan anak-anak akrab dan dekat kepada beliau, karena anak-anak merasa nyaman dan aman di dekat beliau yang dianggap seperti orangtua sendiri. Terlepas dari kekurangan beliau, beliau adalah guru kami, sosok senior yang hebat, sosok yang sangat bijaksana.

Tidak mudah untuk membuat kesimpulan yang integral,  namun kiranya beberapa hal berikut semoga bisa menjadi kesimpulan sederhana dalam tulisan kali ini;
  • Menjadi pendidik (guru) itu memang berat, tuntutan administrasinya banyak, tuntutan mental spiritual harus paripurna. Wajar, jika hati sedang sumpek dan tidak kondusif maka udara rasanya jengah, rasanya jadi saya adalah guru paling susah, mudah emosi inginnya marah-marah, hingga putus asa gak usah jadi guru sajalah. Percayalah sebenarnya tidak seberat yang dibayangkan, beban kita masih belum apa-apa dibandingkan yang lain.
  • Jika terasa capek dan lelah, bayangkan betapa lebih capeknya mereka yang rumahnya jauh dengan jarak 50-70 km (bahkan ada yang lebih) dengan waktu tempuh lebih dari 1 jam, mereka yang waktu dan energinya banyak terbuang dalam perjalanan, juga berbagai resiko dalam perjalanan. Bersabarlah, masih banyak yang lebih berat perjuangannya, bersyukurlah masih banyak yang kondisinya lebih melelahkan. 
  • Jika mudah marah dan emosi menghadapi siswa yang ekstra-aktif (susah diatur), bayangkan seorang guru mengajar 3 kelas bersamaan (biasa di daerah terpencil), atau pikirkan bagaimana repotnya guru yang mengajar siswa berkebutuhan khusus di SLB, atau sekedar merenung bagaimana berat dan susahnya menjadi seorang guru penyandang disabilitas (tuna netra) yang mengajar di sekolah umum. Bersabarlah, kita yang merasa normal dan mengajar sekolah umum, bagaimanapun jauh lebih ringan masalahnya.
  • Jika rasa malas dan bosan menjalar, barangkali kita perlu "merakyat" agar tahu bahwa di luar sana banyak orang menganggap mulia pekerjaan ini. Banyak dari mereka bersedia antri bertahun-tahun untuk bisa menjadi guru (apalagi yang PNS + Sertifikasi), bahkan jika bisa dengan cara membeli banyak dari mereka yang bersedia untuk membayarnya dengan harga tinggi. Bersyukurlah dan jangan sia-siakan amanah yang Alloh berikan ini.
  • Jika ada siswa bermasalah, susah diaturlah dan berbagai keluh kesah,  memang itulah tantangan pekerjaan guru sebenarnya. Latar belakang siswa yang heterogen membawa masalah yang juga heterogen pula. Hal ini berdasar kajian psikologi bahwa tidak ada orang yang tidak punya masalah, artinya semua orang punya masalah, hanya berbeda-beda bentuk dan kadarnya. Inilah tantangan guru untuk belajar, ujian kesabaran mencapai kebijaksanaan dan tangga motivasi untuk melakukan inovasi. 
Umumnya orang merasa senang jika dikatakan hebat, super, istimewa dan luar biasa. Sebaliknya akan tersinggung atau sakit hati jika dikoreksi atas kekurangan dan kesalahannya. Tidak mudah untuk bisa legowo dan nglenggono. Bahkan menjadi sangat sulit bagi mereka yang merasa benar karena merasa lebih tinggi derajatnya. Namun jika berkenan untuk merenung sejenak, membuka diri dan menyadari bahwa tidak ada orang yang baik 100 persen, kiranya akan menyadari bahwa setiap kita punya kekurangan dan kesalahan. Selanjutnya jika ada niat dan usaha untuk berubah menjadi lebih baik, insya-Alloh akan diberikan kemudahan. Targetnya bukan untuk menjadi yang terbaik (terfavorit), karena ada banyak parameter dan rivalnya sangat banyak. Fokusnya lebih kepada usaha maksimal untuk menjadi yang lebih baik dari sebelumnya, menguatkan semangat dan motivasi untuk melakukan yang terbaik.

Sebagai penutup,  mari kita sikapi masalah dengan proporsional, masalah di sekolah jangan menjadi beban pribadi apalagi sampai membuat diri menjadi frustasi. Setiap masalah pasti ada solusi, marilah kita hadapi bersama, kita bicarakan bersama dan kita carikan solusinya. Satu hal yang paling prinsip adalah tetap tenang, jangan terbawa emosi. Sebisa mungkin menjauhi kekerasan, baik kekerasan verbal maupun tindakan, dan lebih utama dengan sikap yang lemah lembut (Cuplikan ayat suci Al-Qur'an Surat Ali "Imron : 159). Adapun terhadap kesalahan yang sudah terlewatkan (terlanjur), maka cukupkan dengan introspeksi, perbanyak istighfar dan berusaha memperbaiki diri. Karena sesungguhnya yang membuat seorang terhina, terutama bukanlah kesalahannya, melainkan kekehnya untuk tidak mau mengaku keliru, memohon ampun, dan memperbaiki keadaan.

Akhirnya, marilah kita belajar mengubah diri, sedikit demi sedikit menjadi pendidik yang penuh cinta. Takaran cinta adalah "pengorbanan", dimana wujudnya "lebih banyak memberi dan tanpa mengharap balas", dan bukan sebaliknya banyak menuntut. Marilah kita ikut berperan dan ikut mengambil bagian dalam menyemai cinta di kelas-kelas dalam pembelajaran, dengan menebar kasih sayang di taman-taman lingkungan sekolah. Manfaat waktu senggang untuk memperhatikan dan menelisik mereka, barangkali masih ada di antara mereka yang bajunya lusuh, sobek atau tidak layak pakai, atau mungkin dari mereka yang terlihat galau, sedih, murung atau pucat yang ternyata belum sarapan pagi, barangkali di rumah belum ada sarapan pagi, atau bahkan mungkin sama sekali tidak ada bahan makanan untuk dimasak karena kondisi ekonomi. Pastikan tidak ada lagi wajah-wajah galau, sedih dan muram karena kurang perhatian.
Selamat berkarya, selamat bekerja, semoga sukses ... insya-Alloh.

Sabtu, 20 Oktober 2018

Lentera Hikmah -9 : Siswa Menginspirasi - Guru Terinspirasi, Dibolak-balik Sama Baiknya

Alhamdulillah, kami segenap civitas akademika SMPN 2 Kepil ikut berucap syukur atas karunia  yang diberikan Alloh SWT kepada salah satu alumni kita, yang telah mengikuti wisuda di kampus ikatan dinas terpavorit di bilangan Bintaro Jakarta Selatan. Yah, hari Kamis 18 Oktober 2018 adalah hari istimewa bagi ananda Reni Fatmayani, salah satu alumni yang merupakan lulusan terbaik SMPN 2 Kepil tahun 2014. Ia diwisuda setelah berhasil menyelesaikan pendidikan di STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara), perguruan tinggi kedinasan di bawah kementerian keuangan. Kedua orang tuanya yang tinggal di desa Cadukan Kepil Wonosobo turut hadir menyaksikan dan mendampingi prosesi wisuda tersebut. Rasa bahagia, haru, bangga dan berbagai rasa syukur bertumpuk menjadi satu. Kedua orangtuanya merasa "lega", karena sebuah tahapan telah berhasil dilalui dengan sangat baik dan rasanya terbayar lunas semua perjuangan selama ini. Dengan prosesi wisuda itu berarti ananda Reni Fatmayani secara otomatis langsung diangkat menjadi calon pegawai negeri sipil (CPNS) di departemen keuangan republik Indonesia. Inilah tema tulisan seri lentera hikmah kali ini, selamat menikmati, semoga bermanfaat.

Sedikit kilas balik, sekitar 21 bulan yang lalu, tepatnya tanggal 03-01-2017 jam 22:19 ia mengirim inbox di FB yang intinya sharing dan konsultasi tentang rencana pendidikan pasca SMA. Inbox itu berlanjut hingga beberapa hari setelahnya dan akhirnya ia diterima dan memilih untuk menjalani program ikatan dinas di STAN walau di saat yang sama ia juga diterima di Fakultas Teknik UGM.  Salah satu penggalan pesan dalam inboxnya yang sungguh diluar pikiran saya, berbunyi "Pak Mar itu bukan saja hanya sebagai guru yang telah memberikan pembelajaran TIK kepada saya, namun bapak adalah guru yang sangat menginspirasi". Tiada kata yang lebih baik untuk diucapkan selain Alhamdulillah, bahwa semua kebaikan dari Alloh, kita hanyalah perantara saja. Dorongan terbesar ananda tersebut untuk meraih sukses sejatinya adalah dari orang tua, dimana sukses itu akan dipersembahkan kepada kedua orangtua. Hal ini juga ia tulis di inbox, "Saya akan berjuang semaksimal yang saya bisa. Saya akan mempersembahkan yang terbaik buat kedua orang tua saya pak". Sejujurnya, saya yang menjadi wali kelasnya selama 3 tahun sejak di kelas 7 hingga di kelas 9, merasa tidak berperan apa-apa, yang pasti saya tahu ia adalah siswa yang rajin dan tekun, yang sangat menjaga sopan santun serta punya semangat dan motivasi untuk melakukan yang terbaik.

Saat ini beberapa teman seangkatannya waktu di SMP sedang menjalani pendidikan di perguruan tinggi, antara lain Rudi Aalam Formas (FT UNY), Wahyu Dwi Utami (Poltekes), Adi Susanto (FT UNES). Adapun teman lainnya yang tidak saya sebutkan bukan berarti tidak hebat, karena ukuran sebenarnya bukan sekolah atau kuliah dimana, melainkan pada perjuangan untuk meraih masa depan. Beberapa anak mungkin merasa beruntung atau bahkan sangat beruntung dengan bisa melanjutkan pendidikan, sementara itu beberapa bahkan lebih banyak yang lainnya mungkin merasa kurang beruntung karena berbagai keterbatasan sehingga tidak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. 

Sebagai informasi saja, bukan anjuran atau himbauan, hanya menyampaikan realita bahwasanya banyak orang yang kurang beruntung terkait kesempatan pendidikan. Jika kita mau sedikit lebih peduli, sangat mungkin kita temukan di sekitar kita anak yang hebat, yang sebenarnya pinter dengan kecerdasan di atas rata-rata, namun terpaksa kandas tidak bisa melanjutkan pendidikan karena berbagai kendala. Ada tiga kendala terbesar yang biasanya dialami oleh mereka, 1) masalah keuangan, 2) kurangnya motivasi dan 3) psikologi. Inilah realita yang ada dan terjadi di sekitar kita, di luar sana, di luar ruang kerja kita, di luar kantor kita, mungkin saja di sekolah kita, di kelas kita, atau di ujung kampung kita dan bahkan mungkin di sekitar rumah kita, banyak anak dari keluarga miskin yang sebenarnya hebat dan berbakat namun terbentur tembok kendala. Mereka membutuhkan donasi, suluh, asuh, motivasi dan inspirasi untuk bisa meraih masa depan yang lebih baik.

Tak seorangpun (anak) bermimpi atau berharap untuk dilahirkan dari orangtua miskin. Kemiskinan, bukanlah sebuah pilihan, dan tidak ada yang salah dengan kemiskinan. Bagi yang belum pernah merasakan bagaimana menjadi orang miskin, mungkin tidak akan pernah mengerti bagaimana susahnya menjalani hidup yang penuh kekurangan. Mereka, anak-anak dari keluarga miskin bukan tidak ingin sukses dan hidup berkecukupan, namun mereka benar-benar tidak berdaya. Mereka bahkan tidak berani untuk sekedar bermimpi memiliki baju baru, tas dan sepatu baru apalagi sepeda baru, mengingat kondisi orangtuanya yang memang tidak ada untuk itu. Lantai berubin tanah, daun jendela dari anyaman bambu, tempat tidur tanpa kasur, dan ruangan tanpa bilik kamar adalah kondisi harian yang tak pernah terpikirkan untuk direnovasi. Bahkan sekedar untuk makan saja orang tua mereka terkadang harus berhutang, harus bekerja keras, memeras keringat dan membanting tulang. Bisa dibayangkan, sungguh bisa terjadi ketika kondisi yang benar-benar "tidak ada", pensil sang anak yang panjangnya tinggal 2 senti pun tak mampu mengganti (red: pengalaman pribadi). Walau sebenarnya orangtua sadar bahwa sekolah anak-anak adalah satu-satunya harapan agar anak-anak mereka tidak seperti mereka, namun di sisi lain serasa menjadi masalah dan menambah berat beban kehidupan.

Di balik kondisi kemiskinan orangtua ada banyak kisah sukses yang bisa menjadi motivasi mereka meraih sukses dalam kehidupan. Ada Misyatun dari Purbalingga, yang tinggal hanya bersama ibunya yang buruh tani dengan upah Rp 30.000 sehari, dan demi meraih cita-citanya ia rela menjalani sekolah sambil bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Keuletan dan ketekunannya membukakan jalannya, diawali dari kemurahan hati majikannya, bantuan dari wali kelasnya dan perhatian dari kepala sekolahnya serta beasiswa ketika di perguruan tinggi pada akhirnya mengantarkan ia meraih sukses dalam hidupnya. Dalam kisah lain ada Birul Qodriyah dari Bantul DIY, saat itu orangtuanya yang hanya bekerja sebagai buruh tani dengan upah sekitar Rp 5.000 - Rp 10.000 per hari, sangat sulit baginya untuk menyandang status mahasiswa. Akhirnya melalui Program Beasiswa Bidik Misi Birul Qodriyah menjadi mahasiswa berprestasi UGM 2013, menjadi Mahasiswa Terinspiratif Nasional dan menjadi Duta Keperawatan Indonesia, jalan terang telah terbuka untuk meraih cita-citanya. Dua kisah di atas telah membuktikan bahwa sukses bisa diraih oleh siapa saja, termasuk mereka yang miskin dan hidup penuh dengan kekurangan.

Disinilah dibutuhkan kepekaan nurani, kepedulian diri dan keterpanggilan hati untuk menjadi bagian dari solusi. Kita bisa hadir dalam bentuk donasi, bisa hadir dalam bentuk suport motivasi atau juga bisa hadir dalam bentuk jalinan konsultasi psikologi. Seorang wali kelas yang memberikan uang Rp.50.000 kepada Misyatun saat SMP adalah contoh wali kelas yang sungguh menginspirasi, ada efek psikologi berupa penguat motivasi yang nilai manfaatnya jauh lebih besar dari nilai uangnya. Bagi mereka, kehadiran kita bisa menjadi figur inspirasi dalam mengubah nasib. Inilah yang menjadi kunci keberhasilan dalam pendidikan, yaitu hadirnya pendidik yang inspiratif. Inspirasi ini yang sering absen di sekolah-sekolah, seakan kegiatan pembelaran hanya berisi pelajaran menghapal, menghitung atau latihan gerakan jasmani semata, padahal ada banyak masalah lain yang juga perlu dicarikan solusi. Di sisi lain teryata permasalahan siswa-siswa beragam dan komplek, oleh karena itu sosok guru diharapkan bisa hadir dalam bentuk-bentuk yang bisa menginspirasi bagi mereka. Kehadiran sosok inspiratif ini sangat penting, karena kehadirannya bisa menjadi penguat saat mereka lemah, bisa meluruskan saat mereka salah arah, bisa meneguhkan saat mereka bimbang dan ragu, bisa menenangkan saat mereka galau dan gelisah, dan bisa mendoakan mereka saat menjalani berbagai ujian dan cobaan.

Dari kisah perjalanan sukses ananda Reni Fatmayani dan tokoh lain dalam tulisan ini, sebagai guru atau tenaga kependidikan dapat kita ambil beberapa catatan yang bisa kita jadikan hikmah dan pelajaran antara lain :
  1. Ketekunan adalah kunci meraih sukses. Ketekunan bahkan bisa mengalahkan kepandaian yang tidak diiringi dengan ketelitian dan kesabaran. Siapapun kita saat ini, pada posisi apapun kita saat ini akan bisa meraih prestasi yang lebih baik jika kita mau belajar dan bekerja dengan penuh ketekunan, Tidak untuk menjadi apa dan siapa, namun untuk menjadi diri kita yang lebih baik dari saat ini. Ketekunan itu juga yang perlu kita tanamkan kepada siswa agar menjadi karakter sebagai modal utama mereka meraih masa depan.
  2. Lebih peduli (care) kepada siswa. Kepedulian itu yang akan membangun karakter guru menjadi lebih halus perasaanya, lebih peka dan lebih dekat dengan siswa. Dengan rasa peduli kita akan mampu masuk ke kehidupan siswa secara lebih mendalam, bisa mengerti dan memahami berbagai kekurangan pada siswa baik ekonomi, motivasi dan psikologis, sehingga bisa turut andil dan memberikan sesuatu yang dibutuhkan oleh siswa.
  3. Tidak mencari predikat guru inspiratif. Menjadi guru yang menginpirasi adalah prestasi, sangat baik dan perlu diupayakan karena pentingnya sosok inspiratif ini bagi siswa, namun demikian tidak serta menjadi target dan tujuan utama dalam proses pembelajaran. Jalani saja tugas/peran guru dan tenaga kependidikan dalam memberikan pelayanan terbaik dan optimal dalam bidang pendidikan dengan karya terbaik yang bisa dilakukan. 
Saat ini kita bisa merasakan akibat dari apa yang pernah kita lakukan di masa lampau, dan suatu saat kelak kita akan merasakan apa yang kita lakukan hari ini. Ada pepatah "hasil tidak pernah mengingkari proses", artinya hasil baik atau buruk sangat bergantung pada apa yang kita lakukan. Jangan salahkan siswa jika mereka menilai buruk pada kita, jangan paksa mereka untuk hormat dan santun pada kita yang juga kurang peduli pada mereka. Dari sini mendapat satu pelajaran bahwa sebagai seorang pendidik ternyata masing-masing siswa-siswi kita mencatat dan mengingat dengan kuat apa yang pernah kita lakukan pada mereka. Kebaikan memang tidak mudah dilakukan karena selalu diliputi oleh kesulitan, tantangan dan hambatan, namun demikian tetaplah lakukan kebaikan. Berhenti kutuki kegelapan, mulailah nyalakan lilin (Anies Baswedan).

Senin, 26 Maret 2018

Lentera Hikmah -8 : Menyiasati Absensi Finger Print - Aktualisasi Integritas Diri

Tugas berat seorang pemimpin sebuah lembaga adalah mengelola anak buah yang memiliki watak yang berbeda-beda untuk bisa memiliki visi yang sama. Seorang pemimpin pasti berharap semua orang yang dipimpinnya baik, kompeten, jujur dan disiplin, agar bisa memberikan pelayanan yang optimal. Hal inilah yang menjadi inspirasi pertama tulisan kali ini, berawal dari sebuah keluh kesah seorang  kepala madrasah di kabupaten Magelang, sekitar satu setengah bulan lalu. Isinya kurang lebih begini, "Harus bagaimana lagi cara ngatasi orang yang "cerdik", orangnya dicari tidak ada di tempat tugas namun data absensi kehadirannya tertib, paginya finger paling awal dan pulangnya finger paling akhir". Jika ditilik data presensi sebelum digunakan mesin finger print kondisinya jauh lebih parah, rata-rata baru hadir pukul 08.00 atau paling awal pukul 07.30 namun dalam tanda tangan absensi tercatat hadir pukul 06.30, begitu juga dengan jam kepulangan, pukul 12.00 sudah sering hilang namun tercatat di atas pukul 14.00.

Jika yang di atas adalah contoh sosok yang kurang bisa diteladani, maka di tempat lain ada sosok yang justru menjadi pembangkit motivasi dan sumber inspirasi. Pribadi yang sederhana, yang selalu mengasah kompetensi, yang menjaga kedisiplinan dan menjunjung tinggi kejujuran. Inilah yang menjadi inspirasi kedua, sosok yang kepadanya kita harus belajar banyak hal. Sebut saja Pak Udin, seorang guru PNS/DPK yang menjadi kepala sekolah di salah satu SMA swasta di kabupaten Magelang dengan lima hari kerja. Jarak 15 kilometer tak menghalangi beliau untuk hadir di sekolah pukul 06.30 pagi, dan pulang setelah pukul 16/00 sore setiap harinya. Jumlah jam wajib yang menjadi syarat halalnya rejeki benar-benar beliau jaga, dengan tetap berada di sekolah sambil mengerjakan berbagai pekerjaan yang harus diselesaikannya. Jika suatu saat merasa jumlah totalnya kurang karena kepentingan dinas atau pribadi maka beliau merasa wajib untuk menggantinya di hari lain dengan cara tetap bekerja dan berada di sekolah, walau ia harus sendirian. Tak banyak sosok demikian, dari contoh ini kita bisa ambil hikmah bahwa sebenarnya jika kita mau maka kita pasti bisa, untuk berbuat lebih baik, selagi masih bisa, masih sempat dan selagi belum terlambat. Inilah tema tulisan kali ini, seri lentera hikmah dengan tema integritas, selamat menikmati.


Memulai Finger Print

Terhitung mulai tanggal 6 Maret 2018, SMP Negeri 2 Kepil sudah menggunakan mesin finger-print sebagai alat presensi bagi guru & karyawan. Kehadiran mesin absensi berbasis sidik jari ini memunculkan berbagai harapan baik - tentunya bagi yang berfikir postif - agar lebih teratur dan disiplin, walau tak dipungkiri pasti muncul pula sikap apatis dan pesimis dari sebagian yang berfikir negatif. Maka menjadi prioritas untuk membangun sikap optimis seluruh elemen dan unsur sekolah bahwa hadirnya mesin finger print ini adalah solusi terbaik untuk memperbaiki kualitas pelayanan kepada siswa dan masyarakat. Bagi yang sudah terbiasa disiplin datang awal seperti Pak Aris Winarna dan Ibu Ruti Sumarni kehadiran mesin absensi ini tidak menjadi masalah, namun akan terasa menjadi masalah bagi terbiasa datang terlambat dan pulang awal.

Memang, setiap perubahan sistem yang menyebabkan munculnya hal baru pasti akan memunculkan berbagai reaksi sebagai bentuk pernyataan sikap, hal ini sangat wajar dan pasti terjadi. Beberapa pribadi mungkin akan sangat protektif ditandai dengan tidak ingin diusik ketenangannya, bahkan menolak segala bentuk perubahan, karena kecenderungan diri yang ingin mapan, aman dan nyaman, yang biasa disebut dengan "Zona Aman". Ini adalah sifat asal manusia, sifat kita semua yang lebih suka pada sesuatu yang bebas, merdeka dan tidak mengikat. Bagi yang phobia (takut) perubahan mereka berfikir bahwa perubahan adalah momok, perubahan bak hantu yang menakutkan, perubahan akan membuat situasi tidak nyaman, tidak aman dan tidak mapan lagi. Muncul pikiran "jangan-jangan, ojo-ojo, gek-gek" dan berbagai kecemasan lain, maka berikutnya ia berfikir bagaimana mencari cara agar bisa mengakali atau menyiasati sistem baru ini.

Menyiasati Sistem, Topik Trend
Topik tentang trik cara menyiasati, cara membobol dan cara mengakali sistem banyak dicari oleh orang yang "aktif dan kreatif", terutama yang banyak akalnya. Termasuk topik bagaimana cara menyiasati mesin "Finger Print" agar data rekap kehadiran bisa mulus, jika terlambat tidak terdeteksi, jika bolos tidak konangan dan jika tidak hadir namun tetap tercatat berangkat. Tak heran jika ada orang yang kemudian berpikir bagaimana agar nilai ujian bagus tanpa susah-susah belajar, soal UKG bisa dicurangi dan soal UN bisa bocor. Puncaknya ada orang berhasil menemukan cara bagaimana mendapat uang banyak tanpa susah payah bekerja, bisa belanja apa saja. Yang terakhir inilah yang dilakukan oleh 5 pelaku skimming ATM BRI dengan barang bukti 1.447 kartu ATM duplikat yang dibuat dari hasil rekam data di ratusan ATM yang tersebar di pulau Jawa dan Bali. Ratusan rekening telah dibobol dan disedot uangnya melalui ATM. Ratusan juta atau bahkan milyaran rupiah tabungan dan deposito telah berpindah tangan. Bisa dibayangkan betapa marah dan kecewanya orang yang menjadi korban kartu ATM palsu ini.

Secara konsep setiap sistem dirancang dengan sangat canggih dan aman, namun secara realita masih saja banyak yang kecolongan karena dibobot oleh orang "cerdik" (dalam tanda kurung). Orang cerdik punya seribu akal untuk bisa "lolos" dari teknologi canggih yang membuatnya dirinya seakan tetap "untung" dalam kondisi terjepit sekalipun. Kelemahan dan kekurangan dalam sebuah sistem pasti ada, bahkan dalam sistem paling aman sekalipun, karena memang tidak ada yang sempurna dan aman 100 persen di dunia ini. Seperti halnya dalam aplikasi komputer baik yang berbasis web atau desktop selalu tetap bisa dibobol, tentu saja oleh mereka yang ahli, "Banyak jalan menuju Roma", begitu peribahasa yang menjadi pembisik mereka. Demikian pula mesin absensi ini pasti bisa dicari jalan untuk dikelabuhi, khususnya bagi yang punya niat dan beritikad kurang baik, yang menunjukkan bahwa dirinya tidak memahami apa esensi sebenarnya.


Ada beberapa cara menyiasati mesin absensi finger print yang berbasis pada sidik jari ini, mulai dari yang bersifat personal hingga yang bersifat komunal dan institusional. Berikut ini beberapa trik, cara untuk menyiasati absensi finger print, kami bagikan untuk diambil hikmahnya.

  1. Personal, dengan modus scan absensi masuk paling awal lalu pulang, kemudian datang lagi agak siang, pulangnya juga bisa lebih awal, setelah lewat jam pulang lalu datang lagi untuk scan pulang. Bisa juga scan pagi sebelum mandi dan scan siang setelah situasi sepi, bahkan bisa jadi tidak hadir atau pergi jauh, laporan akan tetap terbaca hadir awal dan pulang akhir, modus ini bisa dilakukan sendiri dan diam-diam serta tidak terdeteksi oleh siapapun.
  2. Kolegial, dengan modus titip jari duplikat maka terlambat tidak terlihat dan lolos ketika bolos. Caranya dengan membuat jari duplikat (tiruan) kemudian menitipkan pada teman untuk proses scan absensi. Jari duplikat berupa jari tiruan yang dapat  dibuat menggunakan filler sejenis silicon, gelatin atau lem kayu yang dituang dalam cetakan jari yang telah dibuat sebelumnya. Cara ini bisa dilakukan secara kolegial 2 orang teman atau lebih, secara diam-diam dan sembunyi-sembunyi tanpa  melibatkan admin.
  3. Komunal, dengan modus substitusi jari (pengganti jari cadangan) maka akan bisa saling nitip scan absensi menggunakan jari temannya. Pada saat registrasi user ke dalam mesin, proses rekam sidik jari untuk setiap 1 orang disediakan dengan 2 jari yang difungsikan sebagai cadangan, Modus ini adalah peluang untuk secara komunal dapat bergantian bertukar jari dengan temannya, artinya 1 orang dapat menggantikan scan absensi 1 orang lainnya, jika hal ini berantai maka 5 orang bisa melakukan scan absensi untuk 10 orang. Beberapa orang berpasangan yang bermufakat dan melibatkan admin saat rekam sidik jari.
  4. Institusional, dengan seting kustomisasi waktu pada saat-saat khusus. Pada dasarnya sistem waktu pada mesin fingerprint adalah berjalan automatic dan realtime (nyata), maka data laporan (report) yang keluar dari mesin tidak bisa diubah/diedit waktunya, bahkan oleh admin sekalipun. Jika suatu saat karena sesuatu hal dikehendaki oleh institusi untuk mengakali, maka satu-satunya jalan adalah merubah waktu realtime pada saat scan datang maupun scan pulang. Modus ini dapat dilakukan secara komunal dan institusional, admin yang punya hak akses khusus untuk melakukan kustomisasi ini.
Esensi Absensi Finger Print
Kehadiran guru, karyawan dan pimpinan adalah sebuah keharusan yang tidak bisa diwakilkan dalam menjalankan tugas dan pekerjaan. Inilah salah satu tujuan diciptakannya mesin finger print ini, karena scan kehadiran berdasarkan jarinya, artinya jarinya hadir jika orangnya juga hadir. Teknologi ini telah banyak dipakai di industri besar, perusahaan ternama dan lembaga bonafit di berbagai penjuru dunia. Absensi kehadiran merupakan hal sangat penting, bertujuan agar disiplin tepat waktu, karena dalam sistem manajemen, waktu adalah kunci sukses atau gagalnya sebuah sistem. Kebutuhan teknologi absensi semakin berkembang, bahkan yang terbaru telah beredar mesin absensi yang berbasis wajah dan retina mata, yang lebih sulit lagi untuk disiasati.

Cara kita memahami urgensi waktu akan sangat berpengaruh dalam menyikapi kehadiran mesin ini, Jika mesin absensi finger print hanya dimaknai sebagai pengolah data kehadiran, maka trik nomor 1 sampai nomor 4 bisa digunakan untuk menyiasati dan mengakali data absensi kita. Bisa merasakan apa yang dirasakan orang lain - rasa itulah yang melahirkan sikap bijaksana. Mencoba memposisikan diri, jika kita adalah pimpinan di sekolah, manajer di industri atau bahkan sebagai pemilik perusahaan, maka kita bisa menilai bahwa pelaku trik nomor 1 sampai nomor 4 semuanya tidak jujur (tidak punya integritas) dan melakukan manipulasi. Pelaku trik nomor 1 jelas seorang pecundang, pelaku nomor 2, 3 dan 4 jelas kumpulan dari orang yang tidak bisa memegang amanah (tidak bisa dipercaya). Watak dan sikap orang-orang beginilah yang membuat banyak industri hancur, pabrik gulung tikar dan perusahaan bangkrut.


Lalu bagaimana jika hal demikian terjadi di sekolah tempat siswa belajar menimba ilmu dan mencari pengalaman, ini sangat riskan dan sangat disayangkan jika sampai terjadi. Sekolah-sekolah yang saat ini menjadi sekolah unggul dan pavorit telah melewati fase ini puluhan tahun yang lalu, mereka juga pernah mengalami hal serupa. Proses yang berjalan membuat mereka menjadikan disiplin tepat waktu sebagai budaya, sebagai kebutuhan, bukan lagi sebagai beban. Jika di sekolah masih bermain dengan trik 1 - 4, maka dampaknya akan jauh lebih parah, karena pada hakikatnya pendidikan bukan hanya proses transfer ilmu dan pengetahuan saja, namun ada transfer sikap (attitude), moral dan spiritual, dan itu yang lebih utama.


Mengambil hikmah dari keluhan pimpinan kepala madrasah dan contoh teladan Pak Udin di atas, maka kami ambil beberapa kesimpulan singkat yang semoga bisa digunakan sebagai pedoman dalam menyikapi mesin absensi Finger Print;

  1. Berterima kasih atas kehadiran mesin ini, yang ternyata mampu membantu mengontrol kita menjadi lebih baik, lebih disiplin dan lebih menghargai waktu. Sungguh mesin ini layaknya penolong bagi kita untuk keluar dari kebiasaan terlambat, kebiasaan bolos dan kebiasaan korupsi waktu yang jika ditotal jumlahnya entah sudah berapa ratus jam.
  2. Legowo dan terbuka menerima kekurangan diri, semakin tawadhu dan rendah hati, bahwa kita masih kalah dengan mesin yang mampu jujur walau ia tak punya hati. Kita tak perlu pongah, sombong dan busung dada bertahan bahwa kita baik, nyatanya selama ini banyak manipulasi data kehadiran kita, hingga markup jam datang dan jam pulang.  
  3. Bijaksana dalam menyikapi report (laporan) kehadiran, tidak perlu marah, tidak perlu sewot dan tidak perlu berlebihan. Jika muncul warna kuning tanda terlambat dan atau pulang awal, jika muncul warna merah tanda jika tidak hadir, tidak scan, scan di luar jadwal atau kesalahan dalam proses scan lainnya sebaiknya jadikan ini rambu-rambu dan pengingat, bahwa masih ada yang kurang dalam diri kita, jika merasa tidak sesuai bisa klarifikasi dan langsung melihat data aslinya di aplikasi Finger Print.
  4. Jadikan ini mesin ini wahana membenahi niat dan membangun motivasi untuk memperbaiki diri, Jika data absensi kehadiran Anda sudah baik, status sudah OK dan warna sudah hijau, bersyukurlah dan tetaplah menjaga kebaikan itu, ingatkan dan ajak teman yang lain untuk semangat meraih predikat seperti Anda. Kebaikan ini adalah bekal untuk merajut dan meraih kebaikan berikutnya dalam bidang lainnya.  
  5. Hasil rekap kehadiran yang berupa print-out data jam masuk, jam pulang dan total jam perminggu penting dan ini adalah hal utama, namun lahirnya sosok pribadi yang jujur penuh integritas adalah lebih utama. Jika memang tidak bisa hadir melaksanakan tugas karena suatu hal, tak perlu melakukan manipulasi data dengan finger pagi dan sore hari. Sikap yang jujur dan terbuka akan lebih berharga, lebih satria dan lebih bermartabat.
  6. Data kehadiran yang terlihat sempurna bukanlah segala-galanya, bukan pula tujuan akhir dari diterapkannya sistem ini. Tujuan awalnya adalah membangun kedisiplinan dalam bekerja, dan tujuan akhirnya adalah membentuk jiwa yang berkarakter, kompeten dan mampu memberikan pelayanan terbaik dalam mendidik anak bangsa. Kedisiplinan dalam hal kehadiran hanyalah satu dari sekian banyak pekerjaan manajemen personalia dalam usaha membangun sistem pendidikan yang bermutu dan berkualitas.
  7. Menyempurnakan kewajiban dengan hadir tepat waktu, pulang cukup waktu dan terpenuhi jumlah minimal adalah salah satu cara untuk menghalalkan rejeki yang diterima, minimal dari sisi waktu, Ada kepuasan batin, ada kenyamanan dan ketentraman, pasti akan sangat berbeda dengan yang gajinya terima utuh, namun waktunya dicuri dan dicurangi. Jika waktu kehadiran saja di-akali dan dicurangi, maka kebaikan apalagi yang bisa diharapkan.
Kita tidak perlu trik khusus untuk menyiasati atau mengakali mesin absensi ini, yang paling logis dan paling baik adalah membuat manajemen waktu baru dengan mengatur ulang jadwal harian menjadi lebih maju, bangun lebih awal, mandi lebih awal, sarapan lebih awal dan berangkat lebih awal dari sebelumnya. Kemudian menambah durasi waktu kerja menjadi lebih panjang, lapangkan dada untuk menambah kesabaran pulang mundur, lebih akhir dari sebelumnya.Yang terakhir adalah pemenuhan jumlah total perminggu, akan tidak menjadi penumpuk hutang waktu, usahakan untuk terpenuhi sesuai aturan yang ada. Sebenarnya jika diukur masalahnya, maka yang paling berat dan terasa menjadi masalah adalah mereka yang domisili berbeda bujur dan lintang, yang harus naik kendaraan umum atau sepeda motor apalagi saat musim hujan begini. Terlebih jaraknya cukup jauh dan harus laju dari Purworejo, Magelang, Kulon Progo, Sleman atau Bantul.

Sebagai penutup tulisan kali ini, kita semua berharap semoga semakin mendekati akhir masa tugas maka kita bisa semakin baik, semakin bijaksana, semakin rendah hati dan semakin banyak dalam menanam benih kebaikan. Oleh karena itu kita harus berupaya untuk selalu meluruskan niat dan membenahi motivasi agar bisa bersikap dan berbuat yang terbaik. Segala sesuatu yang diniatkan dengan baik, dilakukan dengan baik maka yang akan datang adalah kebaikan, sebaliknya jika niat sudah tidak baik, dilakukan dengan cara yang kurang baik, maka jangan harap kebaikan yang datang, sebaliknya hanya keburukan yang semakin merundung dan mengepung. Kebaikan dan keburukan pada akhirnya akan mengental menjadi karakter, sifat dan watak. Watak itulah yang kemudian menjadi brand, merek dan image diri kita.

Demikian lentera hikmah kali ini, semoga kita bisa menjaga diri dalam kebaikan, semampu yang kita bisa (sekecil apapun, dan untuk memulai kebaikan tidak harus menunggu waktu khusus, serta tidak harus pilih-pilih dalam melakukan kebaikan. Kebaikan kecil yang bisa memberi manfaat laksana lilin dalam gelap, redup namun mampu memberi cahaya dan bisa menjadi lentera yang berguna bagi sesama.  Sampai jumpa di tulisan berikutnya dalam tema membangun brand, merek dan image diri. Selamat bekerja, selamat berkarya, semoga sukses.

Selasa, 12 September 2017

Lentera Hikmah -7 : Inspirasi Gemas - Muliakan Diri dengan Berbagi untuk Pendidikan Anak Negeri

Membaca data statistik perkembangan web yang berbasis blog ini muncul dorongan untuk berbagi motivasi menulis kepada pembaca umumnya, dan kepada sesama guru pada khususnya. Menurut data yang dimunculkan oleh google selaku server blogspot.com, web sederhana ini telah ditayangkan lebih dari 78.000 dengan sebaran hingga manca negara. Di urutan pertama sudah tentu pembaca lokal (Indonesia), urutan kedua dan seterusnya adalah Rusia, Amerika, Tiongkok, Jerman, India, Prancis, Swedia, Ukraina hingga Malaysia. Entah siapa yang membawa web SMPN 2 Kepil ini ke wilayah Rusia yang mencapai jumlah tayang 7.848 kali di negara yang dipimpin presiden Vladimir Putin itu, atau yang mengirimkan ke Amerika hingga mencapai  jumlah tayang 5.463 kali di Negeri Paman Syam yang super adidaya itu, demikian juga dengan negara lainnya. Ternyata banyak teman dan sahabat kita di luar negeri, yang bekerja di sana namun banyak berkarya untuk negeri, inilah tema tulisan kali ini, yang masuk kategori lentera hikmah yang berisi inspirasi dan semangat berbagi dari luar negeri. Yah, tulisan seri Lentera Hikmah yang sempat terhenti karena rencana awal akan diakhiri pada tulisan ke-6, kini kami lanjutkan kembali, semoga bisa khatam hingga seri ke-12 sebagai penutupnya, selamat menikmati.

Tidak terasa web/blog sekolah yang sederhana ini sudah menginjak umur 6 tahun, dan semua berjalan begitu saja. Berisi postingan yang beragam, mulai dari yang ringan-ringan semisal berita sekolah, profil sekolah, profil pejabat sekolah, profil guru hingga berita pernikahan guru, dan yang komplek berupa artikel yang berisisi ragam tentang dunia pendidikan.Tanpa ada rencana khusus dan aturan tertentu dalam memasang postingan di web sekolah ini, semua mengalir saja, dan diisikan di sela-sela aktifitas utama, mengajar. Kami (admin) menulis sekedar untuk aktifitas dan mengisi content web agar tetap dinamis, tidak kadaluarsa dan tidak mati karena tidak pernah diupdate. Tak ada yang istimewa, semua hanya berjalan begitu saja dan bersifat alami, mengingat latar belakang kami yang bukan guru bahasa dan tidak pernah mendapat pelajaran menulis karya sastra atau puisi. Sampai tulisan ini dibuat, total global tulisan mencapai 270-an judul, yang ditilik dari sisi prosesnya hampir 99% tulisan adalah ketikan langsung kami (bukan copas), yang merupakan curahan rasa, petikan telinga dan guratan hati selama proses perjalan dan pulang kerja (perjalanan Sleman  - Kepil), yang sering terlintas ada sesuatu hal menarik dan terasa memberi inspirasi, kami langsung berhenti untuk membuat coretan, untuk berikutnya dibuat konsep untuk disiapkan menjadi tulisan.

Belajar dari kehidupan sosial di masyarakat, web sederhana ini jika diibaratkan mobil mungkin hanya sekelas kendaraan angkutan merek Carry atau Hijet 1000, jauh dari kesan mahal dan berkelas seperti Xenia, Avanza, LGX, Rush, Terios, Inova, Pajero, Fortuner atau Alphard. Seperti banyak terjadi, umumnya mobil yang dirasa berkelas, mahal dan mewah sangat dirawat, sangat dijaga atau dalam bahasa khusus sangat di-EMAN, tidak boleh sembarang orang numpang, tidak bisa sembarang orang pinjam. Hal inilah yang membuat banyak orang awam sungkan atau enggan meminta bantuan atau meminjam, apalagi jika yang empunya sudah dikenal berat, tertutup, cemberut dan alis mengkerut, hingga mobilnya jarang keluar dan lebih banyak terparkir megah di garasi. Orang kecil akan lebih memilih mencari yang lain, daripada sudah berkorban rasa mau menumpang atau meminjam namun ditolak dengan seribu alasan klise yang terkesan sangat masuk akal, akan terasa lebih malu. Jika dihubungkan dengan analogi ini, maka dari segi penampilan, ketahanan dan kelas tentu mobil mahal dan mewah jauh lebih istimewa dan berada di papan atas, namun dari segi manfaat mobil butut Carry dan Hijet yang disedekahkan untuk kepentingan sosial lebih banyak membawa manfaat, karena banyak dipakai untuk kepentingan umum yang biasanya bersifat sosial, tanpa sewa, beberapa bahkan tanpa uang bensin.

Demikian halnya dengan web, web sekolah lain banyak yang dibuat dengan desain yang bagus, dengan manajemen content yang terintegrasi yang tentu saja butuh biaya pembuatan web, biaya pembelian domain dan penyewaan hosting. Berbeda dengan web yang ini "serba sederhana", dibuat berbasis blog yang gratis, sehingga tidak perlu perawatan dengan membeli domain dan menyewa hosting yang jika untuk jangka panjang akan terasa berat, apalagi jika bagian pendanaan tidak memahami kepentingan media ini. Namun justru karena sederhana itu kami mengisi dan memuat tulisan tanpa beban, apa saja yang sekiranya bermanfaat kami tuliskan seadanya, mulai dari sekedar berita, merambah ke penulisan ide, gagasan, ulasan atau wacana yang kemudian menjadi artikel, baik yang mandiri (pendek) hingga yang bersambung (seri). Kami berusaha mengupdate menyesuaikan perubahan dan dinamika yang terjadi terkait pendidikan, seperti pada saat diluncurkan Kurikulum 2013 dan mulai dilaksanakan, beberapa tulisan kami kaitkan serta memuat link download materi terkait. Dari sini muncul fakta yang membuktikan bahwa ada dua faktor utama yang bisa membuat rating tinggi (positif) sebuah web, yaitu 1) share/berbagi dan 2) azas manfaat.  Dan inilah yang terjadi di web, pernah suatu kali kami posting suatu artikel yang disertai fasilitas share (download), jumlah pengunjung di hari pertama mencapai 700-an, mereka mengambil manfaatnya dan kemudian mereka share kembali ke teman/grup mereka yang lain.

Inspirasi dari Tiongkok
Melanjutkan data trafik statistik web ini, tentang pembaca dari mancanegara dimana pembaca dari kawasan Rusia di peringkat 2 dan Amerika di peringkat 3 sungguh di luar nalar kami, dimana tidak ada teman atau kerabat kami di sana. Sedikit berbeda dengan di urutan ke-4, pembaca dari wilayah Tiongkok. Yah, di Tiongkok ada satu pembaca setia web sekolah ini, sosok yang punya karakter istimewa, yang tinggal, bermukim, bekerja dan sekaligus menimba ilmu di perguruan tinggi (kuliah) di wilayah Taipe, dialah Mbak Nanik Riyati yang juga alumni dari sekolah yang terletak di ujung paling timur Wonosobo ini. Sosok inilah yang kemudian menjadi sumber inspirasi utama tulisan kali ini.

Jika pada aplikasi mesin pencari terbesar -google- diketikan keyword "Nanik Riyati Gemas", maka akan langsung muncul ulasan, gambar dan link dari berbagai situs terkait kiprah dan prestasi yang luar biasa sosok yang satu ini. Mbak Nanik Riyati - sosok wanita hebat dan inspiratif yang menjadi pelopor, penggagas sekaligus motor lahirnya GEMAS atau Gerakan Masyarakat Sadar Baca dan Sastra, yang fokus utamanya berupa kegiatan mendirikan perpustakaan gratis di kampung halaman mereka di tanah air. Alamat laman (situs web) Facebook Gemas dan laman Pusat Gemas adalah sebagian dari link situs tentang GEMAS yang dipeloporinya, dari situ kita bisa tahu betapa banyak sumbangsih Gemas bagi penyediaan buku bacaan (literasi) kepada puluhan sekolah di pelosok-pelosok yang tersebar di tanah air. Atas prestasi dan kiprahnya tersebut banyak stasiun televisi dan radio di Taiwan yang melakukan wawancara dan menayangkan profil serta prestasinya, dimana rekamannya dapat dilihat dan banyak tersedia di saluran video Youtube.

Ia juga pernah diwawancarai wartawan yang ditulis di salah satu web berbahasa Inggris Taipei Times, berikut kutipannya. “This is good for us. Many Indonesian workers do not want to go back yet, because they have to support their families and earn their children’s college tuition,” said Nanik Riyati, an Indonesian caregiver who has worked in Taiwan for seven years. Ia juga aktif menulis di internet dan beberapa kali berhasil meraih juara saat berada di Taiwan. Salah satu hasil karyanya memperoleh hadiah pavorit dengan judul Kejujuran dan Hijabku, yang menceritakan perjuangan hidupnya untuk menjadi muslimah berhijab di negeri orang. Dengan klik link ini Kejujuran dan Hijabku, maka kita akan tahu betapa berat usahanya menyongsong hidup jauh dari keluarga untuk jangka waktu yang lama, jika hanya orang biasa yang terbiasa manja, tak punya semangat membara dan jiwa pejuang yang luar biasa tentu tak akan sanggup melakukannya.

Ini dia inspirasinya, Mbak Nanik Riyati yang dalam kondisi bekerja di negeri orang, bukan larut sebatas bagaimana mencari uang yang banyak untuk disimpan dalam deposito, tanpa peduli asalnya dari mana, namun ia fokus bagaimana ia bekerja dengan menjunjung tinggi integritas (kejujuran) dan menjaga agamanya (ruhiyah) agar tetap tegak. Di saat yang sama ia juga berfikir tentang anaknya, keluarganya, bahkan anak-anak seusia anaknya (SD) di tanah air agar bisa mendapat layanan pendidikan yang memadai, sungguh pemikiran yang sangat mulia. Di tengah kondisi banyak orang hanya berfikir kepentingan diri sendiri, menumpuk kekayaan dengan berbagai cara, ia justru berfikir bagaimana memberi manfaat bagi orang lain. Semangatnya, pengorbanan dan pengabdiannya yang luar biasa pada negeri ini, bekerja nun jauh di seberang sana, namun hati dan pemikirannya untuk kemajuan anak-anak di negeri ini.

Inilah yang perlu kita kembangkan, memuliakan diri dengan memberi dan berbagi, bahwa ada keutamaan dalam memberi dan berbagi. Keutamaan dan kemuliaan semangat seperti ini dalam ilmu hikmah ada konstanta "tanyakan apa yang dapat saya berikan, bukan apa yang saya dapatkan". Suatu saat kita butuh meminta, suatu saat lain kita harus bisa untuk memberi. Jangan sampai menjadi pribadi yang sukanya menerima saja, sukanya meminta saja, sukanya yang gratisan saja. Saat harus menerima ambil secukupnya saja, seperlunya saja, jangan  mengukur dengan nafsu, hanya karena saya masih mau, saya masih butuh, sementara tidak memperdulikan orang lain masih banyak, yang bisa jadi jauh lebih membutuhkan. Angkat dan muliakan diri dengan semangat berbagi, semangat memberi seperti yang dilakukan sang inspiratif kita kali, Mbak Nanik Riyati.

Beberapa teman guru ada hebat dan piawai tentang kurikulum 2013, penilaian angka kredit, administrasi pembelajaran, aplikasi penilaian, kegiatan pramuka dan kegiatan kesiswaan, maka kami hanya dapat ikut memberi sumbangan dengan cara berbagi melalui tulisan di web ini. Hanya begini yang kami bisa lakukan, sesuatu yang mungkin sangat kecil dan tak berarti, semacam tukang sesorah atau penjual jamu yang menawarkan kecap nomor satu. Bisa jadi teman guru di sekitar kami jarang mengunjungi atau web ini, tak punya membaca apa yang ada di dalam web ini karena kesibukan dan berbagai alasan lainnya. Satu harapan, semoga yang sedikit dan sederhana ini bisa memberi warna sekolah ini dan semoga suatu saat bisa memberi manfaat bagi sekolah ini, teman-teman kami sesama guru dan tenaga kependidikan, bagi siswa-siswi kami juga bagi pembaca di mana saja berada.

Akhirnya, kami mengajak dan memotivasi teman-teman mulai menulis untuk bisa berbagi wawasan, pengetahuan dan pengalaman. Bisa juga membuat semacam gerakan Literasi yang lebih maju seperti yang saat ini sedang digalakkan pemerintah, atau kegiatan komunitas sosial yang memberi manfaat untuk kebaikan bagi banyak orang. Sesuatu yang mungkin menurut Anda tidak seberapa namun bisa jadi dan sangat mungkin adalah sesuatu yang bermanfaat, sangat dicari dan sangat dibutuhkan oleh orang lain. Jangan tahan tangan dan kaki untuk memberi, jangan malu untuk berbagi, jika tidak dimulai dari sekarang - mau kapan lagi. <120917-75587>
Selamat bekerja, selamat beraktifitas dan semoga sukses.

Kamis, 27 Agustus 2015

Lentera Hikmah -6 : Tetaplah Belajar Untuk Menjadi Pribadi Yang Lebih Baik dan Tetaplah Menjadi Cahaya Penerang Bagi Sesama

Banyak rencana, banyak ide, banyak angan dan keinginan yang hendak dituliskan untuk dibagikan, namun banyak pula kendala dan halangan yang menjadi masalah hingga tak mampu untuk memulainya. Namun bisa segera beranjak dan bertindak, kadang memang harus dipaksa untuk bangkit, berdiri dan memulai kembali. Kali ini adalah edisi ke-6 untuk tulisan bertajuk lentera hikmah, dengan harapan kami bisa menyempurnakan hingga seri ke-12, dengan harapan semoga bermanfaat walau kecil ibarat setitik air di sungai yang panjang. Semoga pada edisi selanjutnya kami bisa membuat seri tulisan baru dengan tajuk baru tentang inovasi, kreasi dan teknologi dalam dunia pendidikan.

Grand topik kali ini adalah ungkapan singkat, jujur dan sarat makna dari salah satu guru senior di SMPN 2 Kepil - Bpk Aris Winarna, S.Pd. Ungkapan yang disampaikan pada tanggal 17 Agustus 2015 di pantai Goa Cemara, saat acara refreshing dalam rangka persiapan perpisahan dengan Bpk Drs. Kardan. "Pertama - Bapak adalah ATASAN kami, kedua - Bapak adalah TEMAN kami, dan ketiga - Bapak adalah RIVAL kami. Istilah atasan jelas, karena sebagai kepala sekolah, begitu juga dengan istilah teman, karena merasa sesama guru. Namun satu istilah terakhir - "rival" -, inilah yang luar biasa. Sebuah pengakuan yang sangat jujur, sangat bersahaja, sangat menyentuh dan sangat bijaksana. Seseorang yang BISA MERASA siapa dirinya dan BERANI MENGAKUI kehebatan orang lain. Akhir-akhir ini sangat jarang dijumpai pengakuan seperti ini, kebanyakan yang terjadi adalah kebalikannya, MERASA BISA dan MERASA HEBAT.

Telah banyak yang dilalui bersama beliau, Bapak Drs. Kardan. Sebagai seorang atasan yang sangat bersahaja, sederhana dan tidak pernah menonjolkan bahwa dirinya adalah adalah seorang atasan bagi bawahannya. Sebagai seorang teman demikian juga, sangat dekat kepada siapa saja, termasuk kepada siswa. Bahkan kedekatan dengan siswa inilah yang membuat beliau sangat istimewa di mata anak-anak. "Manjing Ajur Ajer Mancolo Putra Mancolo Putri" benar-benar beliau terapkan ketika berada di tengah siswa, seakan bukan lagi sebagai guru dan murid namun lebih kepada teman. Sebagai seorang rival didasari karena kepribadian beliau yang multi talenta, terutama dalam bidang seni. Beliau yang basic pendidikannya IPA namun memiliki kemampuan yang luar biasa di bidang seni, mengalahkan guru seni yang sesungguhnya. Inilah rival yang dimaksud, bukan musuh, namun lebih diartikan sebagai pesaing, pendorong dan motivator bagi yang lain untuk bisa belajar dan berkarya yang lebih baik lagi

Perjalanan masih panjang, perjuangan belum usai dan deretan sukses masih luas terbentang. Setiap kita bisa mewujudkan impian, menggapai cita-cita dan meraih sukses. Siapapun dari kita berhak untuk berjalan, berjuang dan berkarya meraih sukses. Sukses bukan hanya milik orang kaya, namun juga terbuka orang seadanya, bahkan yang sangat kekurangan sekalipun. Sukses juga bukan hanya bagi mereka yang cerdas, pintar dan terampil saja, namun mereka biasa-biasa saja, yang lambat berfikir dan terlihat tertinggal pun bisa meraih sukses. Iwan Sunito, CEO Crown International Holding Group, sebuah perusahaan properti terkenal di Australia ternyata adalah orang Indonesia, kelahiran Surabaya. Beberapa kali tidak naik kelas sewaktu sekolah. SD, SMP dan SMA di Pangkalan Bun - Kalimantan. "Succes in not a destination, but is a journey", sukses bukanlah tujuan, tapi sukses adalah perjalanan. Artinya sukses bukan hanyalah dinilai / dillihat dari hasil akhirnya, namun rangkaian perjalanan menuju sukses itulah yang lebih penting. Proses menuju sukses itulah yang perlu dijadikan pelajaran untuk meraih sukses-sukses berikutnya.

Ada beberapa hikmah yang bisa ambil, yang semoga bisa memberi sedikit motivasi untuk berbagi, bisa sedikit membangkitkan inspirasi untuk berkreasi dan sedikit menambah daya untuk mengabdi bagi negara, demi anak bangsa, demi sesama, demi keluarga, demi anak mertua dan demi anak cucu kita. 
  1. Kesuksesan tidak datang begitu saja. Tidak ajaib, ujug-ujug, tanpa usaha, tanpa perjuangan dan pengorbanan. Kesuksesan yang kita raih saat ini adalah hasil dari jerih payah dan perjuangan masa lalu. Berikutnya, bagaimana kesuksesan kita yang akan datang sangat bergantung pada apa yang kita kerjakan dan perjuangkan saat ini. Walaupun saat ini sudah sukses, jangan berhenti berjuang, karena kita tidak tahu dan tidak bisa memastikan yang akan terjadi pada tahun-tahun mendatang.
  2. Tetap rendah hati - tawadhu menjaga ikhlas, walau telah meraih sukses. Rendah hati tidak membuat seseorang orang menjadi rendah / hina. Sebaliknya mereka yang tinggi hati justru menjadi hina walau berada di puncak singgasana. Seperti kata bijak "Bintang itu lebih besar dari matahari, namun dia indah jika tampak kecil bersama milyaran bintang lainnya". Begitu pula dengan hati kita yang indah itu yang tidak menampakkan kebesarannya, melainkan yang bersahaja walaupun tersimpan selaksa kehebatan. Betapa tingginya kerendahan dan betapa rendahnya ketinggian.
  3. Tetaplah menjadi penerang bagi sesama. Siapa pun kita, di mana pun posisi kita dan seberapa pun peran kita. Mungkin ada yang besar dan seterang matahari, mungkin pula ada yang indah menyilaukan laksana merkuri, atau mungkin hanya kecil laksana lilin yang tertiup angin di malam hari. Selama masih bisa bercahaya, berikan dan bagikanlah cahaya, seberapa pun cahaya itu - pasti bermanfaat dan akan berguna bagi yang lainnya.
  4. Teruslah berkarya, semaksimal yang kita bisa. Selagi kita masih sempat, selagi masih kuat dan selagi kita sehat. Jangan terlalu berpikir bahwa yang hebat itu yang luar biasa, bahwa yang sukses itu yang besar. Kita tidak tahu ide, pemikiran dan karya yang mana yang akan menjadi karya yang besar dan menjadi awal sukses berikutnya. Sukses besar itu juga berawal dari yang kecil, yang luar biasa diawali yang biasa-biasa.
  5. Jangan berhenti belajar, jangan takut bertanya dan jangan bosan mencoba. Pengalaman adalah guru yang paling baik. Seperti peribahasa "belakang parang lagi jika diasah niscaya tajam", sebodoh-bodohnya orang, jika berusaha dan belajar akan menjadi pandai. Kita bukan tidak mampu, tapi kebanyakan karena tidak mau, alias malas. Pengayuh sayang dibasahkan, sampan tidak akan sampai ke seberang.
  6. Siap untuk berubah, "Move On or Change On". Jangan takut bayangan, jangan takut untuk berubah dan jangan takut untuk memulai dari nol. Bila pada kondisi saat ini kita stagnan, mandeg dan tidak bisa berbuat banyak, maka hijrah adalah pilihan yang paling tepat, bisa jadi dengan memulai dari nol, yang baru dan berbeda kita akan mempunyai lingkungan baru, motivasi baru, kekuatan baru dan daya dukung baru. Dengan berbekal semangat, motivasi dan itikad baik untuk berubah menjadi yang lebih baik maka kita pasti bisa meraih sukses. 
  7. Jangan banyak mengeluh dengan pekerjaan kita. Mengeluh tak merubah apapun dan tak ada manfaatnya. Syukuri dengan sepenuh syukur atas berbagai karunia yang telah diraih selama ini. Betapa banyak orang yang mendambakan pekerjaan yang kita jalani saat ini, maka sungguh keterlaluan jika kita tidak amanah dengan pekerjaan kita ini. Di luar sana masih banyak yang tidak punya pekerjaan, tak punya penghasilan dan hidup tidak karuan. Jangankan berpikir untuk jenjang karir, pangkat, golongan dan jabatan, sekedar untuk mencukupi kebutuhan makan harian saja harus bersusah payah untuk bisa memenuhinya. 
Bagi seekor burung untuk bisa terbang maka bagian terpenting adalah sayapnya. Bagi lembaga, kantor, sekolah, instansi atau organisasi maka bagian terpentingnya adalah manusia. Maka setiap kita adalah sama pentingnya dengan yang lain, hanya memang kadarnya berbeda-beda. Kita harus merasa bahwa kita adalah bagian dari tim. Dengan itu kita akan mempunyai rasa "handarbeni" dan jiwa "peduli" dalam bekerja sebagai satu kesatuan. Marilah setiap kita untuk bisa berusaha memberikan kontribusi terbaik untuk menjadikan kita bisa terbang bersama-sama. Mari kita optimalkan diri untuk terus belajar memperbaiki kualitas diri. Sampai jumpa pada tulisan berikutnya pada tajuk baru dengan tema baru. Selamat beraktifitas, semoga sukses. <33050>

Sabtu, 04 Juli 2015

Lentera Hikmah -5 : Mengikhlaskan Diri Menjadi Jalan Kebaikan Bersama, Meraih Kemenangan Sesungguhnya - Menyongsong Idul Fitri 1436 H


Tak terasa puasa sudah berlalu lebih dari separuh bulan, sebentar lagi lebaran menjelang. Serentetan rencana dan acara telah tersusun, sejuta harapan dan kebahagiaan membuncah dalam jiwa menanti datangnya hari pembebasan setelah sebulan berpuasa dalam bulan ramadhan. Hampir setiap kita telah mengalami berkali-kali puasa, dalam tahun berganti tahun, yang entah sudah berapa jumlah tahunnya. Terkadang muncul satu pertanyaan di dalam diri ini - apakah sudah ada perubahan yang berarti, apakah sudah lebih baik, ataukah masih sama dengan sebelumnya, ataukah justru semakin buruk dan tidak berbentuk. Sebenarnya inilah esensi dari pentingnya sebuah proses puasa, sebuah upaya muhasabah, pembelajaran dan penggemblengan diri dalam rangka perbaikan diri. Yah inilah diri kita, beberapa tahun terakhir ini, apapun adanya diri kita saat ini adalah cerminan diri dari apa yang selama ini telah kita lakukan seiring waktu berjalan. Memang hanya waktu yang bisa membuktikan dan menjadi saksi sebenarnya tentang siapa kita kemarin, sekarang, besok atau waktu mendatang.

Sangat tepat dan sesuai dengan petikan berikut. "Demi waktu, sesungguhnya manusia dalam kerugian, kecuali .... dst." Demikian cuplikan salah satu ayat dalam surat al 'Ashr, yang point utamanya kita disuruh untuk senantiasa memperbaiki iman, selalu berbuat kebaikan, saling memberi nasehat dalam kebenaran dan kesabaran. Setelah cukup lama absen karena kesibukan diklat, alhamdulillah kali ini kami dapat memulai kembali tulisan bertajuk Lentera Hikmah seri ke-5 ini dalam suasana puasa di bulan Ramadhan 1436 Hijriyah. Sebenarnya banyak sumber inspirasi yang muncul belakangan ini, namun kami memilih satu yang agaknya lebih pas dengan kondisi menjelang lebaran tahun ini. Tema yang kami angkat tentang keikhlasan, kerendah-hatian dan tawakal yang pada akhirnya mengangkat seseorang menjadi pribadi yang mulia dan agung. Selamat menikmati.

Dalam setiap hal terdapat pelajaran dan hikmah. Pada kebaikan ada pelajaran baik, demikian pula pada keburukan juga terdapat pelajaran. Pelajaran berharga bisa diambil dari setiap kejadian, setiap hal dan setiap keadaan. Hal ini sangat terkait dengan kepekaan rasa, kelembutan hati dan kehalusan budi. Ketiga hal ini sangat dipengaruhi oleh dominasi emosi dan kecerdasan masing-masing pribadi. Secara umum setiap orang memiliki kecerdasan dengan tingkat yang berbeda-beda dan jenis kecerdasan yang berbeda-beda pula. Ada delapan jenis kecerdasan dasar yang ada pada manusia, namun tidak akan kami uraikan saat ini. Sebagai seorang makhluk sosial - khususnya guru - dari delapan kecerdasan itu ada satu yang bersifat wajib untuk dimiliki, yaitu Kecerdasan Interpersonal (People Smart). Kecerdasan interpersonal ialah kemampuan untuk mengamati dan mengerti maksud, motivasi dan perasaan orang lain. Orang tipe ini biasanya mengerti dan peka terhadap perasaan, intensi, motivasi, watak, dan temperamen orang lain, seakan bisa merasakan apa yang dirasakan orang lain sehingga sangat hati-hati ketika akan bertindak, bersikap atau memperlakukan orang lain. Orang dengan tipe ini akan pandai bergaul dan beradaptasi dan sangat paham situasi kondisi yang sedang terjadi, meminjam kata pak kepala sekolah "Le.... yen siro kepengin slamet, lan disenengi marang liyan,...bisoa " MANJING AJUR AJER, MANCALA PUTRA MANCALA PUTRI"....

Dunia ini isinya memang beragam dan sangat komplek, heterogen dan tidak mungkin sama, di manapun. Bisa dilihat mulai dari yang terkecil dalam satu keluarga, kemudian satu lingkungan kecil RT atau RW, kampung, desa, hingga yang lebih luas lagi. Seperti dalam sinetron, selalu akan muncul figur baik sekali, figur biasa saja, hingga figur yang antagonis semisal Haji Muhidin, Mak Enok atau Kardun dalam TBNH. Figur-figur itu merupakan perwujudan karakter dominan dalam diri seseorang. Ketika yang muncul berupa hal-hal baik, berarti orang tersebut telah menyadari siapa dirinya, kapasitasnya, peranannya dan bagaimana ia bisa menjadi pribadi yang utama yang bisa memberikan manfaat sebanyak-banyaknya bagi sesamanya. Pribadi sebaliknya akan memiliki karakter egosentris yang hanya berfikir tentang dirinya sendiri, tak ambil peduli bagaimana dengan sesamanya. Dia tidak mampu mengolah diri untuk memiliki kecerdasan interpersonal. Bisa dipastikan bila seseorang tidak memiliki kecerdasan interpersonal ini, maka dia akan banyak mengalami kendala, atau bahkan sering menjadi sumber kendala di komunitas / lingkungannya.

Kemenangan tidaklah harus diartikan mampu mengalahkan pihak lain, seperti dalam istilah jawa "Menang tanpo ngasorake". Kemenangan sesungguhnya adalah kemenangan yang bukan bersifat sesaat atau sementara, bukan yang bersifat kamuflase. Kemenangan benar-benar akan terasa jika bisa menimbulkan kebahagiaan bagi orang lain, bukan menjadi beban dan mengakibatkan penderitaan bagi orang lain. Sebuah pelajaran yang sarat makna, penuh inspirasi dan kaya hikmah ditunjukkan  salah satu guru yang penuh inspirasi, yang terpaksa harus menarik diri karena berbagai kondisi. Dalam kata-kata penghujung pernyataan diri mengutarakan beberapa point yang benar-benar menghunjam ke relung hati yang paling dalam, bagi siapa saja yang masih mempunyai hati nurani. Beberapa kalimat yang terekam diantaranya : 
"Saya ikhlas untuk pergi, agar bisa mengurai masalah, supaya teman-teman kerja bisa kembali fokus kepada pekerjaan yang jauh lebih penting. Sudah terlalu banyak waktu terbuang sia-sia, terlalu banyak energi terbuang percuma ketika yang diperjuangkan tidak bisa merasa dan instropeksi diri, tidak bisa sadar diri, dan tidak bisa merubah diri. Terlalu banyak menguras energi. Karena sudah menjadi karakter pribadi, tak bisa berubah dan sehingga sampai kapan pun tetap tak akan berubah." 
"Jangan terlalu berharap seseorang untuk berubah, karena memang tak mudah untuk berubah bagi yang tidak memiliki kesadaran diri. Yang tak mau berubah, biarkan saja dengan perilakunya, mari kita lebih fokus pada hal lain yang lebih bermanfaat, bagi siswa, bagi pekerjaan dan bagi sekolah. Yang ingin baik, mari kita berusaha menjadi lebih baik ..., yang tidak mau berubah, ikhlaskan saja dan serahkan pada yang maha kuasa apa dan bagaimana yang akan terjadi."
Banyak pihak yang sangat menyayangkan kepergiannya. Kepribadian seorang guru yang unik, yang menghantarkan dirinya menjadi guru idola di sekolah ini. Kepiawaiannya bermain musik, kinerjanya yang penuh totalitas, penampilannya yang sederhana, bersahaja  dan sangat terbuka. Rupanya itulah yang menjadikan dirinya disukai dan sangat dekat dengan siswa, Begitu juga sesama rekan kerja. Hikmah apa yang dapat dipetik dari kepergiannya yang meninggalkan kesan yang luar biasa. Berikut beberapa hikmah yang bisa diambil sebagai pelajaran bagi yang masih bisa mendengarkan suara yang ada di dalam hatinya.
  1. Muhasabah dan instropeksi diri harus selalu dilakukan, siapapun kita. Agar tidak merasa paling benar, merasa paling hebat, merasa paling kuasa dan paling-paling lainnya. Rasa paling ini yang membuat kita menjadi sombong dan takabur, adigang-adigung-adiguno. Rasa paling ini juga yang akan mematikan hati dari rasa belas kasih, menjauhkan hati dari rasa empati, dan membungkam sikap tenggang-rasa pada sesama. Intinya harus bisa mawas diri, bisa melihat situasi dan kondisi, pandai beradaptasi dengan segala perubahan dan tidak hanya mementingkan urusan diri pribadi (egosentris).
  2. Merendah, bukan berarti rendah, mengalah bukan berarti kalah - justru sebaliknya dengan merendah kita justru akan lebih mulia dari pada mereka yang serakah dan pongah. Pepatah jawa "Ngalah duwur wekasane" sangat sesuai dengan hal ini. Di mana pun berada orang yang rendah hati akan disukai dan dimudahkan urusannya, demikian juga akan berlaku sebaliknya.
  3. Merasa bersalah kemudian meminta maaf itulah yang luar biasa. Jiwa yang penuh kemuliaan dan keagungan justru sangat terasa pada orang yang seperti ini. Sebaliknya pihak yang suka membuang kesalahan pada orang lain dan bercuci tangan dari masalah bukanlah sikap seorang yang mulia, walaupun dia mengaku paling mulia.
  4. Hidup ini beragam, heterogen, bukan homogen. Pasti akan ada beberapa karakter/sikap yang kurang baik di sekitar kita. Sebaiknya kita lebih berkonsentrasi untuk merawat dan mengelola yang baik-baik, agar akselerasi lebih cepat dalam meraih tujuan. Terlalu berkonsentrasi pada sebagian orang yang kurang baik justru terlalu banyak menguras energi, dan waktu akan terbuang sia-sia.   
Selamat melaksanakan ibadah puasa yang tinggal beberapa hari ini. Mari kita raih keutamaan ramadhan yang penuh barokah, rohmat dan ampunan. Semoga kita berhasil memproses diri dari ULAT yang jahat - menjadi KEPOMPONG dengan bertapa melalui puasa - dan berhasil menjadi KUPU-KUPU yang cantik, elok, menarik dan jauh dari sifat jahat sebelumnya. Demikian, semoga bermanfaat. <31552>

Jumat, 05 Juni 2015

Lentera Hikmah -4 : Mendewasakan Diri Dengan Berbagi, Bersama-sama Akan Lebih Bermakna

Perjuangan yang tulus akan selalu membuahkan berjuta kenikmatan dan kebahagian. Beberapa bulan lalu, di ruang TU tersedia hidangan syukuran dengan menu spesial "Rica-rica Entok" yang disediakan oleh salah seorang guru, semua teman kerja menikmati dengan lahap, bahkan bisa nambah-nambah hingga puas, namun tak ada yang tahu dan peduli - ini syukuran apa. Baru beberapa bulan kemudian kami tahu bahwa syukuran itu karena beliau menerima karunia Alloh yang sangat besar bagi keluarga besar beliau. Pertama, sang istri tercinta berhasil pindah / mutasi ke sekolah yang dekat dengan tempat tinggalnya, jauh berbeda dengan sebelumnya yang harus menempuh perjalanan jauh lintas kabupaten. Kedua, sebuah mobil bagus telah terparkir di garasi rumahnya. Dengan kendaraan itu akan lebih nyaman jika hendak bepergian,  kondangan, piknik atau sekedar makan di restoran bersama istri, dua anak dan ibu, tanpa harus memakai helm dan tanpa harus memakai mantol bila kondisi hujan.

Kita turut bersyukur dan ikut bahagia atas karunia teman kita di atas. Terlebih lagi untuk diri dan keluarga kita sendiri, kita musti banyak bersyukur kepada Alloh atas nikmat yang kita terima hingga hari ini. Bukankan teramat banyak yang telah kita terima, yang tak terhitung jumlah dan nilainya, mulai dari kesehatan, pendidikan, kekayaan, pasangan hidup, keturunan dan keluarga, serta kepercayaan dan pandangan baik dari masyarakat. Gambaran teman kita di atas adalah bentuk karunia yang diberikan atas perjuangan yang telah dilakukan selama ini. Betapa sang suami berjuang membahagiakan istri, demikian pula istri berjuang membahagiakan suami. Kata bahagia di sini tidak harus berarti "puas", karena bunyi kalimat, arti dan persepsi maknanya akan berbeda. Bahagia di sini adalah bahagia dalam arti yang lebih luas. Kata kuncinya SALING BERBAGI, berbagi rasa, berbagi masalah dan berbagi bahagia, susah senang dirasakan bersama, seperti syair lagu dangdutnya Yani-ta Bahar. 

Tulisan ke-4 dalam tajuk lentera hikmah ini terinspirasi dari beberapa tayangan Kick Andy yang berisi perjuangan seseorang yang sangat gigih dalam menyelesaikan pendidikannya. Mereka harus bersusah payah dalam kondisi yang sangat terbatas, jauh dari orangtua dan sanak saudara, mencukupi kebutuhan pendidikan juga kebutuhan hariannya yang sering sangat ala kadarnya. Namun dibalik kekurangan bekal finansial yang ada pada dirinya, ia masih sempat memikirkan dan mampu memberikan perhatian dan bantuan bagi orang-orang di sekitarnya. Sebut saja Angga Dwituti Lestari dari Sleman yang menjadi lulusan terbaik UNS Solo pada 14 Juni 2014 lalu dengan predikat Cumlaude dengan IPK 3.98. Yang kedua Mochammad Najmul Afad dari Batang yang juga lulus Cum Laude dengan IPK 3.87 dari UNES Semarang. Disamping hebat karena prestasinya yang istimewa, ternyata keduanya mempunyai sifat kepedulian yang tinggi - mereka aktif di kegiatan mahasiswa di kampus, mengajari anak-anak TPA mengaji dan membina karang taruna di lingkungannya. Sifat peduli, saling mengisi dan mau berbagi inilah yang menjadikan mereka istimewa.

Apa yang terjadi di dunia kerja, sebenarnya tidak jauh berbeda dengan situasi di bangku sekolah atau bangku kuliah. Prestasi kerja yang meliputi produktifitas, kreatifitas dan kredibilitas sangat bergantung dengan semangat juang dalam belajar - belajar berkomunikasi, belajar bersosialisasi, belajar berkreasi, belajar ber-inovasi dan belajar bekerja untuk menghasilkan karya yang terbaik. Di sini dibutuhkan semangat juang, kesabaran, keuletan dan ketangguhan - karena situasi dan kondisi selalu dinamis, tidak selalu baik, tidak selalu sama dengan harapan, tidak tetap dan selalu berubah seiring waktu dan keadaan. Oleh karena itu diperlukan kemampuan bersosialisasi, beradaptasi dan berkomunikasi. Kemampuan untuk bisa Saling Berbagi sangat dibutuhkan dalam situasi kerja kapan pun dan dimana pun. Sifat egois dan mementingkan diri sendiri harus dapat dilebur untuk kepentingan bersama karena berada dalam sistem kerja yang multi personal.

Kendala terbesar yang biasa terjadi dalam suatu masyarakat, komunitas, organisasi atau dunia kerja adalah adanya sifat Adigang, Adigung, Adiguno. Sombong karena merasa memiliki kekuatan, kedudukan dan kepandaian atau latar belakang lainnya. Merasa besar, merasa benar, merasa hebat, merasa mulia, merasa senior dan semua hal terkait dengan merasa lebih dari yang lain akan menjadi kendala dan hambatan untuk bersosialisasi dalam masyarakat yang multi personal dan multi kultural. Merasa paling penting dan harus diutamakan, merasa tinggi dan harus dimuliakan, merasa besar dan harus mendapat sesuatu yang lebih dari yang lain. Lembah manah, merasa bersalah dan mau mengalah adalah sifat yang sangat sulit untuk dilakukan. Imbasnya akan mempengaruhi komunikasi, kondisi dan situasi dalam dunia kerja dan masyarakat. Sedangkan kendala berikutnya adalah keadilan sangat yang sulit ditegakkan. Oleh karenanya keadilan ditempatkan di sila terakhir (kelima) dalam pancasila. Saking sulitnya maka dalam hadist dijelaskan balasan istimewa berupa perlindungan di akhirat pada urutan pertama adalah pemimpin yang adil. Keadilan tidak bisa terjadi dengan sendirinya, karena sering kalah oleh berbagai kepentingan, yang biasanya didominasi oleh sifat Adigang, Adigung dan Adiguno di atas. Makanya keadilan harus diupayakan, harus didukung, harus diperjuangkan dan dikawal oleh mereka yang masih peduli dengan keadilan.

Saat ini kita berada dalam perjalanan menuju akhir waktu - waktu belajar, waktu bekerja dan waktu hidup. Yang sekolah atau kuliah tak akan selamanya belajar di kampus tempat belajar saat ini, Yang menjadi pejabat dan menyandang pangkat tak akan seterusnya menjabat dan berpangkat seperti saat ini. Demikian juga yang bekerja juga tak selamanya bekerja di tempat bekerja saat ini, suatu saat bisa jadi pergi karena pindah atau mutasi, pensiun atau  hal lain yang diluar kemampuan manusiawi. Suatu saat bila kita sudah tidak di sini lagi, maka yang tersisa adalah kenangan bahwa kita pernah ada disini, dengan segala catatan tentang kita. Catatan tentang kita itulah yang mustinya kita pikirkan, kita perhatikan dan kita renungkan. Kelak, bekas siswa-siswa kita, bekas teman-teman kerja kita dan masyarakat sekitar bekas kantor kita bekerja akan memiliki catatan berupa tulisan yang tak pernah bisa dihapuskan tentang kita. Kita yang baik dan bijaksana, yang ramah dan pemurah, yang santun dan lembah manah akan tercatat dan terpatri kuat dalam hati mereka. Begitu sebaliknya kita yang angkuh dan sombong, yang dengki dan iri hati,  yang malas dan keras kepala, yang cabul dan tidak senonoh, yang matre dan mau menang sendiri dan berbagai atribut buruk lainnya juga tercatat kuat dalam memori orang-orang yang pernah bersama dengan kita. Cap dan stempel tentang perilaku kita selamanya akan ada dan sulit untuk dihapuskan dari hati mereka. Kita mau stempel yang mana ?

Di sini, di tempat ini kita tidak semata-mata hanya bekerja untuk mencari dan mendapatkan uang. Sekali lagi bukan semata-mata karena uang, karena kalau hanya karena uang maka akhirnya semua jalan bisa ditempuh, semua tatanan bisa diterjang, semua teman bisa dilawan untuk satu tujuan, uang. Di tempat ini kita bisa menambah wawasan, menambah saudara dan menambah amal kebaikan. Kita bisa sama-sama belajar, sama-sama bekerja, sama-sama berbagi rasa, sama-sama berbagi ilmu dan pengalaman. Oleh karena itu alangkah lebih baik bila dalam banyak hal kita bisa saling berbagi. Dalam hal-hal yang menyenangkan, membahagiakan, syukuran, makan-makan bahkan pekerjaan akan lebih bermakna bila kita berbagi. Demikian juga untuk hal yang berbentuk permasalahan, hambatan dan tantangan akan terasa lebih ringan bila diselesaikan dengan cara berbagi.

Tak mudah memang untuk menyadari kekurangan dan kesalahan diri, terasa berat memang untuk bisa mengoreksi diri dan menilai diri sendiri, terlebih sulit lagi untuk bisa merubah perilaku diri. Namun bila masih memiliki rasa empati untuk bisa merasakan yang dirasakan orang lain, dan masih bisa berfikir bahwa keadilan dan kebersamaan adalah lebih utama, maka semuanya akan bisa mulai dilalui dengan tenang, sabar dan penuh kedamaian. Intinya diperlukan kedewasaan - kedewasaan dalam berfikir, kedewasaan dalam bersikap dan kedewasaan dalam bertindak - agar tidak memunculkan kesan bahwa kita hanya mencari keuntungan pribadi dan di lain pihak merugikan orang lain. Marilah kita wujudkan situasi yang nyaman di lingkungan kerja, di masyarakat dan di berbagai kegiatan lainnya. Selamat beraktifitas, semoga sukses - Amin. <31040-72>

Kamis, 21 Mei 2015

Lentera Hikmah -3 : Antara Jenang dan Jeneng, Mencari Mana yang Lebih Utama, Falsafah Jawa Yang Ternyata Sangat Adiluhung

Salah satu falsafah yang sering disampaikan oleh orang tua dan bijaksana "Ngunduh wohing pakarti", - tumindak olo lan becik iku sejatine mung kanggo awak'e dewe, manungso bakal ngunduh wohing pakarti, opo seng di tandur yoiku seng bakal thukul lan kang bakal di unduh, di ibaratke nandur pari bakal thukul lan ngunduh pari, nandur telo bakal thukul telo yo ngunduh telo. Secara sederhana falsafah tersebut bisa diartikan "Menuai hasil perbuatan sendiri". Maksudnya perbuatan baik atau buruk pada dasarnya untuk dirinya sendiri. Apa yang kita rasakan saat ini, atau yang akan dikumpulkan dan dirasakan ketika kita tua nanti sebenarnya adalah hasil dari perbuatan kita pada tahun-tahun sebelumnya.

Dalam tatanan jawa tenyata sangat banyak falsafah yang sangat bagus dan menjadi tatanan untuk menjadi manusia utama. Kata-katanya singkat namun sarat dengan makna, apabila kita mau menelaah dan mengambil untuk menjadi salah satu pegangan maka aka menjadi perisai untuk menjaga sikap dan perilaku kita dalam kehidupan sosial menjadi lebih aman dan nyaman. "Becik ketitik, ala ketara", "Sapa sing salah bakal seleh", "Ojo sok rumongso biso nanging bisoho rumongso", "Ajining dhiri gumantung kedaling lathi - Ajining salira saka busana", "Kakehan gludhug kurang udan", "Wani ngalah luhur wekasane", "Sing medhit bakal kejepit", "Rukun agawe santosa, crah agawe bubrah", dan lain-lain.

Alhamdulillah, tulisan seri Lentera Himkah yang ke-3 dapat kami mulai, yang untuk kali ini mengambil tema tentang falsafah jawa "Jenang - Jeneng". Jenang adalah sejenis makanan seperti bubur yang terbuat dari tepung (tepung beras, tepung ketan, ataupun tepung dari singkong yang bernama pathi kerut). Jeneng diartikan nama. Falasafah yang sering ada terkait jenang - jeneng ini antara lain adalah "Golek jeneng nembe golek jenang" dan "Yen ngoyak jeneng kowe mesti bakal entuk jenang. Nanging yen ngoyak jenang kowe bakal kelangan jeneng". Kedua falsafah tersebut semakna, seiring sejalan dan punya kandungan tujuan yang sama yaitu mengutamakan jeneng daripada jenang. Apa maksudnya ?

Falsafah yang kedua secara harafiah dapat diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia menjadi “Jika kamu mengejar nama, niscaya kamu juga akan mendapat jenang. Tetapi jika mengejar jenang, maka kamu akan kehilangan nama”. Jenang merupakan salah satu jenis makanan, maka jenang dalam falsafah ini digunakan untuk menyebut atau mengasosiasikan “makanan” atau “pangan”. Jaman dulu sekali, jenang bagi orang Jawa adalah makanan yang istimewa yang hanya disajikan untuk momen-momen spesial (pesta pernikahan, syukuran kelahiran anak, upacara ganti nama, dll), maka jenang dalam hal ini merupakan simbol pesta, kemewahan, harta. Sedangkan jeneng yang dimaksud adalah kepercayaan, reputasi, nama baik, kehormatan baik diri maupun keluarga.

Secara keseluruhan falsafah  jenang itu mengandung arti bahwa ketika seseorang berusaha mengumpulkan kepercayaan dari pihak lain dengan jalan bertindak jujur, loyal, dedikasinya baik, maka dengan sendirinya harta itu akan datang dengan sendirinya. Namun ketika seseorang hanya mengejar harta saja, sampai menghalalkan segala cara termasuk mengorbankan kejujuran, maka justru dia akan kehilangan nama baik yang telah ada padanya.

Mengapa ini penting, karena saat ini bisa kita lihat di kehidupan sosial dari wilayah kecil tempat kita bekerja, di masyarakat hingga di tataran negara, banyak kejadian yang bisa kita ambil pelajaran. Banyak orang yang menjadi pejabat penting dan terhormat - mulai dari menteri, anggota dewan, kepala daerah, kepala instansi, hingga pegawai kecil - akhirnya jatuh terpuruk, namanya hancur lebur karena masalah jenang, masalah harta, masalah uang. Artinya ketika seseorang hanya berorientasi harta atau termotivasi tumpukan uang kemudian  mempertaruhkan kepercayaan, reputasi, nama baik dan kehormatan maka yang dihasilkan justru kehancuran masa depan diri dan keluarganya.

Kesimpulan akhirnya menjadi pegawai dan karyawan yang profesional, memiliki integritas, penuh dedikasi dan bisa memuaskan konsumen, siswa dan masyarakat adalah salah satu bukti telah berbuat untuk sebuah JENENG yang identik dengan kepercayaan, nama baik, reputasi dan kehormatan. Bu Isti dan Pak Bagus menjadi guru terajin, Bu Rini dan Pak Eko menjadi guru ter-ramah, Bu Ruti dan Pak Kardan menjadi guru terbaik, serta predikat-predikat baik lainnya adalah salah satu bentuk penghargaan (award) atas kinerja, sikap profesionalisme, integritas dan dedikasi yang dituangkan dalam bentuk penilaian baik oleh siswa. Hal sejenis perlu dijadikan media koreksi dan instropeksi bagi semua pihak untuk menjadi lebih baik dan lebih maju.

Iklim untuk menjadi yang terbaik sangat perlu ditumbuh-kembangkan. Nuansa pemberian award dan penghargaan sangat baik untuk melahirkan insan-insan terbaik di lingkungan kita, baik untuk guru, karyawan ataupun siswa. Tak perlu banyak pertimbangan terkait pendapatan materi, toh sebenarnya secara resmi kita semua sudah digaji lebih dari cukup, bahkan berlebih bagi yang PNS dan sudah bersertifikasi. Untuk hasil yang bersifat materi, insya-Alloh akan datang mengikuti ikhtiar dan usaha yang telah dilakukan. Takkan lari gunung dikejar, begitu pula dengan rejeki, harta dan uang yang diidentikkan dengan JENANG. Demikian, semoga bermanfaat, selamat beraktifitas, semoga sukses, Amin <30820>

Selasa, 05 Mei 2015

Lentera Hikmah -2 : Untuk Kebaikan, Mulai Saja, Lakukan Saja, Walau Serasa Kecil dan Tak Seberapa

Sukses adalah cita-cita hampir setiap orang dari sekian banyak manusia yang ada. Oleh karenanya, muncul banyak macam definisi dan pengertiannya, timbul perbedaan satu dengan yang lain ukuran dan standarnya, bervariasi pula cara menyikapi kesuksesan, berikutnya muncul trik dan metode yang berbeda pula tentang cara untuk menggapainya. Dan ini wajar adanya, perbedaan adalah bagian dari kehidupan yang sering disebut sunatulloh. Beragam pendapat, pandangan dan sikap seseorang terhadap suatu hal melambangkan jiwa dan kematangan seseorang terhadap suatu hal yang bersangkutan. Semakin banyak belajar, semakin lama berinteraksi, semakin sering berkontribusi maka akan semakin terbuka wawasan dan cara pandangnya, semakin matang tingkat kedewasaannya dan semakin mapan konsistensi dan aktualisasinya.

Ada sebagian orang (yang merasa besar) yang memandang remeh hasil karya temannya, memandang kecil pekerjaan tetangganya, memandang rendah derajat saudaranya atau memandang sebelah mata sikap baik anak-anak yang menjadi asuhannya. Orang seperti ini hanya akan heran dan merasa kagum dengan sesuatu yang besar dan spektakuler, yang "super wah" dan meledak secara kontemporer. Mereka ini tidak mau menelisik bagaimana sesuatu yang besar itu dimulai, bagaimana sesuatu yang spektakuler itu dirintis, bagaimana keberhasilan itu sangat berat pada awalnya. Mereka terbiasa kurang peduli dan cenderung bersikap "terima bersih, terima jadi". Mereka kurang memahami, tak mau tahu, tak peduli dan kurang menghargai beratnya penderitaan, keprihatinan dan perjuangan seseorang dalam usaha mencapai suksesnya, meniti tangga demi tangga dalam  meraih nama besar dan ketenarannya.

Alhamdulilah, kami bisa meneruskan tulisan bertajuk Lentera Hikmah untuk seri -2. Tulisan kali ini terinspirasi setelah membaca beberapa kisah sukses yang diraih dengan penuh perjuangan, karena penuh keterbatasan terutama dari segi ekonomi. Sukses yang bukan hanya diukur dari banyaknya materi yang diperoleh dari pekerjaannya, bukan hanya diukur dari pangkat yang ada di pundaknya, bukan pula jabatan / posisi yang dipercayakan padanya, juga bukan predikat hebat karena ketenarannya semata. Bahkan suksesnya bukan untuk diri sendiri, namun diimbaskan dan dimanfaatkan untuk kepentingan banyak orang. Kehadiran dirinya, idenya, pemikirannya dan perannya yang mampu menjadi inspirasi banyak orang untuk meraih sukses, yang turun-temurun, menyebar dan menjalar ke segala lapisan. Orang seperti ini mampu mendedikasikan ilmu, ide, pemikiran, waktu dan tenaganya untuk kemajuan peradaban negara, khususnya Indonesia.

Banyak sekali tokoh sukses di dunia ini, ada Bill Gates pendiri dan pemilik Microsoft, ada Mark Zuckerberg pemilik Facebook, yang dalam negeri ada Aburizal Bakrie, Chairil Tanjung, Arifin Panigoro dan masih banyak lagi. Namun untuk ulasan kali ini akan kami ambil tokoh sukses yang sejalan dan seiring dengan dunia kita, dari dunia pendidikan.  Kali ini kami akan mengambil hikmah dari kesuksesan Prof. Dr. M. Suyanto, MM, sosok yang sukses menjadi inspirasi bagi kesuksesan banyak orang. Bagi kalangan IT pasti akan mengenal siapa Prof. Suyanto, yang dikenal sebagai pendidik sekaligus enterpreneur sejati. Beliau adalah pendiri sekaligus Ketua Sekolah Tinggi Manajemen Informatika (STMIK) Amikom Yogyakarta, yang sekarang menjadi salah satu perguruan tinggi kelas dunia, Amikom dijadikan contoh oleh UNESCO sebagai Perguruan Tinggi Swasta Dunia Model Private Entrepreneur.

Acara Bincang-bincang Sore di RBTV jam 15.30 - 16.30 adalah sebagian acara yang mengulas dan mengeksplore tentang kiprah dan sukses beliau. Prof Suyanto, begitu panggilan akrabnya adalah sosok yang dianggap sukses di berbagai sisi, terutama di bidang pendidikan dan enterpreneur. Deretan gelar pendidikan dari S1 FMIPA UGM (1987), S2 Magister Managemen UGM (1993) dan Ph.D in Management USA (1998) serta S3 Doctor Ilmu Ekonomi UNAIR (2007) adalah bukti kesuksesan dan kerja kerasnya dalam mengasah kemampuan di bidang keilmuan. Cukup berat perjuangan untuk menyelesaikan pendidikannya, semasa S1 dia harus bekerja keras dengan "nyambi" menjadi pengajar di sekolah, berdagang dan berbagai pekerjaan lainnya. Saat ini berbagai pekerjaan dan posisi penting yang dijalaninya adalah bukti kesuksesan karirnya. Ketua STMIK AMIKOM Yogyakarta, Direktur Primagama Group , Direktur Pusat Pendidikan Komputer dan Manajemen IMKI, Komisaris utama RBTV, Komisaris Utama PT.GIT Solution, Komisaris Utama Time Excellindo, Komisaris Utama Radio SWA FM, Komisaris Utama Mataram Surya Visi, Komisaris Utama Amikom Training Center, Ketua Dewan Pengembangan Program MM STIE "ABI" Surabaya, serta masih banyak lagi.

Beberapa point penting yang kami ambil dari perjalanan sukses Prof Suyanto dan beberapa sumber inspirasi dari kisah perjuangan sukses tokoh yang lain, secara sederhana kami uraikan sebagai berikut :
  1. Banyak cerita orang-orang sukses berawal dari mimpi. Karena itu siapa pun yang ingin sukses, jangan takut bermimpi. Jangan takut bercita-cita besar, sekali pun belum tahu harus dari mana memulai mewujudkannya.
  2. Kesuksesan hanya dapat diraih dengan kerja keras. Dalam kondisi pas-pasan, dalam kondisi yang kurang mendukung-pun kalau dijalani dengan "kerja keras" maka akan berbuah kesuksesan, maka kerja keras adalah kunci pertama bagi siapa saja untuk sukses, untuk tetap bertahan dalam sukses dan untuk meraih sukses-sukses berikutnya.
  3. Semua yang besar dimulai dari yang kecil, begitupun perusahaan top dunia awalnya dari perusahaan kecil, merangkak dari bawah, artinya untuk menjadi besar harus siap berjuang memulai dari yang kecil. Dengan begitu menjadi tahu suka dukanya, tambah ilmu dan kesabarannya, makin matang jiwa dan pemikirannya.
  4. Kegagalan dan hambatan adalah bagian dari kesuksesan. Hambatan adalah tantangan untuk menjadi dewasa, kegagalan adalah ujian untuk menjadi lebih dewasa, lebih bijaksana. Hambatan dan kegagalan yang diratapi hanya akan menutup jalan selanjutnya.
  5. Jangan takut untuk berbuat baik, jangan tunda-tunda untuk memulai, di manapun, kepada siapapun dan kapanpun. Oleh karena itu bila kita punya ide dan pemikiran yang baik - sampaikan, bila ada ide dan pemikiran orang lain yang baik - dukung dan bantu semaksimal mungkin.
  6. Berbagi kesuksesan, berbagi kebahagiaan. Bahwa hal yang baik sebaiknya tidak untuk disembunyikan, tidak hanya untuk dinikmati sendiri. Dengan berbagi kesuksesan dan kebahagiaan tidak akan berkurang, namun semakin bertambah.
Sukses tiap orang berbeda menurut kadar dan kapasitasnya, tidak harus seperti Bill Gates, tidak harus seperti Prof. Suyanto. Namun motivasi dan semangatnya yang harus selalu kita ambil sebagai inspirasi.  Akhirnya semua dikembalikan kepada kita, mau menjadi lebih baik atau tidak, mau lebih sukses atau sebaliknya. Prinsipnya, bahwa "Kebaikan, sampai kapanpun akan tetap menjadi kebaikan dan hanya akan berbuah kebaikan, kapan saatnya cuma masalah waktu. Demikian pula sebaliknya keburukan sampai kapanpun akan menjadi keburukan dan hanya akan berbuah keburukan, kapan menuai cuma masalah waktu". Maka dari itu, mari kita pastikan diri untuk menjadi pejuang kebaikan, mulai saat ini, mulai dari diri sendiri dan mulai saat ini. Untuk setiap kebaikan, mulai saja, lakukan saja, walau sebagian orang menilai kecil dan tak seberapa. Tepat kata ini "Berbuat kebaikan tidak akan pernah rugi", terkait rejeki jangan khawatir "Rejeki tak pernah tertukar".  

Kita bisa belajar dari siapapun, guru, teman, saudara, bahkan murid atau anak kecil sekalipun. Terima kasih Bu Arita Sufa'ati, S.Pd dari SMPN 2 Kalibawang (Kalikarung) atas ceritanya yang panjang dan tak terputus (hampir 2 jam) selama menjadi pengawas ruang UN di Ngropoh, banyak pelajaran dan hikmah yang kami peroleh. Selamat melanjutkan aktifitas, selamat bekerja dan selamat berjuang, semoga sukses. <30580>