text

Selamat Datang di Blog SMP N 2 Kepil Wonosobo ...(untuk mengakses berita terbaru, ... klik Beranda atau klik saja cover di atas)

Senin, 09 Januari 2017

Catatan Akhir Tahun 2016 - Spirit Perjuangan Guru Menapaki Tahun 2017

Banyak kejadian, banyak catatan dan kenangan tentang hal-hal yang dilakukan sepanjang tahun 2016. Banyak suka telah dirasakan, namun banyak pula duka dan luka semasa perjuangan dalam menjalani setiap fase kehidupan yang telah dilewati. Tak terasa tahun 2016 telah berlalu dan tahu-tahu telah berganti menjadi tahun baru 2017. Nuansa kemeriahan tahun baru begitu riuh melingkupi rasa, memenuhi segenap asa, walau secara hakikat tak banyak membawa perubahan yang berarti. Namun yang pasti, secara angka jumlah usia bertambah, dan jatah umur menjadi berkurang. Lalu apa yang sebenarnya harus dilakukan untuk menyongsong tahun baru agar tidak berlalu begitu saja tanpa ada dampak positif yang bisa memperbaiki pola kehidupan baru yang lebih baik. Niat dan semangat untuk berubah adalah hal paling utama, dan inilah modal awal yang berharga untuk menapaki kehidupan baru yang lebih baik di tahun yang baru. Inilah yang melatar belakangi tulisan pembuka di awal tahun 2017 ini.

Diawali dengan cerita pengantar kerja (bukan pengantar tidur), "Pada zaman dahulu, di suatu kampung di ujung negeri diceritakan ada warga baru yang terlihat istimewa, pandai, hebat dan berpengaruh. Hal itu membuatnya menjadi figur penting dan sosok panutan, seakan tak ada hal lain pada dirinya kecuali kebaikan. Banyak memberi kajian ilmiah, motivasi dan sentuhan rohani. Hanya saja kemudian muncul satu hal yang kemudian menyebabkan pamornya menurun, grafik kebaikannya juga menurun. Merasa paling benar dan paling pintar, merasa paling berilmu dan paling banyak tahu. Giliran berikutnya menjadi sosok yang selalu ingin didengar dan diikuti, ingin didepan dan dikedepankan dan ingin dianggap utama dan diutamakan". Kehidupan dalam masyarakat, lembaga atau komunitas bukan seperti panggung sandiwara atau sinetron pada layar kaca - menjadi pemeran utama yang serba sempurna. Wajah diri sesungguhnya adalah kehidupan dalam keseharian, kesesuaian kata dan perbuatan, semangat pengorbanan dan kebersamaan, saling mengisi dan melengkapi. Tak ada satupun jiwa yang sempurna, tak ada satupun orang yang bisa mencapai kesuksesan sendiri, dan tak ada manusia “superman” yang hebat, yang bisa bekerja sendiri, mengatasi segala hal secara sendiri.  

Cerita seperti di atas bisa terjadi pada siapa saja, kapan saja dan di mana saja, apakah guru, ustad, kyai, tokoh agama dan tokoh masyarakat, termasuk kita yang warga biasa. Suatu saat kita bisa terlihat hebat, terlihat kuat, terlihat rajin bahkan terlihat alim. Namun seiring waktu semangat bisa saja berkarat, motivasi bisa saja terurai dan rasa ikhlas bisa tergilas, mana kala kita lupa diri, saat kita tidak mampu menjaga diri kala kita tidak mau introspeksi dan mawas diri. Dengan sendirinya waktu akan menunjukkan siapa kita sebenarnya, yang kadang tak sebaik yang kita ceramahkan, tak sekuat apa yang kita motivasikan dan tak serajin yang kita sarankan. Bahkan bisa terjadi kita jatuh terpuruk, lebih buruk dari mereka yang pernah kita ceramahi, pernah kita motivasi. Mereka yang kemudian menjadi lebih rajin bangun malam bertemu Tuhannya, yang sholat subuhnya selalu di shaf terdepan, namun tak pernah bercerita tentang ibadahnya, tak pernah menunjukkan kebaikan-kebaikannya, sementara kita yang banyak berkoar-koar tentang ibadah, sunah dan hal lainnya, namun jamaah sholat subuh di masjid kita jarang kelihatan, padahal itulah tolok ukurnya.

Tulisan ini hadir, sebagai jeda di antara tulisan seri bertajuk inovasi pendidikan yang saat ini baru sampai pada seri ke-6 dan tulisan seri ke-7 akan menguraikan tentang humaniora. Jujur, sebenarnya ada keinginan untuk segera menyelesaikan seluruh tulisan seri inovasi ini yang menurut gambaran awal berjumlah 12. Dan untuk berikutnya kami telah merencanakan akan menulis seri baru bertema Puzzle Energy, mengangkat tema komponen sinergi dalam komunitas sebagai aktualisasi bersama, semoga dapat kami mulai selambatnya pertengahan tahun 2017 mendatang. Sekedar berbagi rasa, mungkin tulisan-tulisan di website ini tidak bermanfaat langsung bagi pembaca yang secara khusus kami tujukan untuk para pengajar, guru atau sering disebut sivitas akademik, namun demikian penulis akan berupaya terus menuliskan apa yang ada dalam benak kami, dengan harapan suatu saat ada satu atau beberapa hal yang berguna dan bermanfaat bagi pembaca.

Kembali ke tema jeda akhir tahun, waktu berjalan terus, hari berganti minggu, minggu berganti bulan dan bulan berganti tahun dengan berbagai catatan kejadian setiap harinya. Kita bisa mengibaratkan 365 hari yang berlalu sebagai lembaran kain yang beraneka warna, ada yang putih bersinar cerah, ada yang berwarna paduan yang serasi dan indah, ada juga yang muncul bercak-bercak kotor, ada yang terlihat usang hingga pudar warna aslinya dan bahkan ada yang hitam gelap dan tak berbentuk. Oleh karena itu ada baiknya kita mencoba melakukan kilas balik tentang kerja dan kinerja kita, sikap dan perilaku kita, tentang kata dan ucapan kita, bahkan tentang ungkapan perasaan dan lintasan hati - yang telah dilakukan selama setahun berjalan.

  • Dalam karya, mungkin banyak karya-karya kita yang sukses, yang berguna, dan membawa kemanfaatan bagi diri, keluarga, teman kerja, tetangga dan masyarakat banyak. Namun, bisa dipastikan masih ada juga yang tercecer, tertunda, terbengkalai bahkan tidak tertangani dengan sempurna, karena lemahnya motivasi dan kurang tertatanya manajemen waktu dan tidak terjaganya rasa amanah terhadap tugas dan tanggung jawab pada profesi yang membesarkan kita.
  • Dalam bidang sosial, secara jumlah mungkin teman-teman kita semakin banyak, secara wilayah mungkin pergaulan kita semakin melebar dan semakin jauh jaraknya, bahkan dengan akun social media lingkup pertemanan menjadi tak terbatas jarak dan jumlahnya, kita bisa berteman dengan banyak orang walau belum pernah berjumpa dalam kehidupan nyata. Namun ternyata tidak serta merta memberi komtribusi yang baik, karena dengan itu bisa jadi kita justru mengabaikan teman-teman yang dekat, yang secara fisik lebih nyata dan lebih sering bertemu, namun terlewatkan karena rasa, sikap dan perilaku kita yang telah berubah.
  • Dalam ibadah dan aktifitas ruhiyah, bagi seorang muslim mungkin sudah banyak yang kita lakukan dan kita raih, sholat, puasa, zakat bahkan mungkin umroh / haji. Yang begini sangat patut untuk selalu disyukuri dan dijaga kontinuitasnya. Namun bisa juga terjadi yang sebaliknya, dimana dari waktu ke waktu kualitasnya semakin menurun, terutama saat ibadah hanya dilakukan asal-asalan, hanya sekedar membatalkan kewajiban. Hingga akhirnya ibadah dilakukan seakan sekedar amalan tanpa penghayatan, predikat tanpa hakikat.
  • Terakhir dalam hal kecerdasan dan kepandaian, secara angka mungkin termasuk kategori intelegensi tinggi, cerdas, brilian bahkan jenius. Namun bisa jadi kecerdasan yang hanya sebatas teori, kepandaian sebatas argumentasi dan kejeniusan sebatas pengakuan, karena hanya berorientasi kepentingan dan keuntungan pribadi. Kecerdasan, kepandaian, kejeniusan baru berarti dan berdaya guna jika dicurahkan dan dikembangkan untuk kepentingan sesama, kepentingan umum dan kepentingan negara. 
Walau tahu bahwa berfikir negatif tidak akan ada untungnya, sebaliknya akan banyak membawa kerugian, namun rasanya begitu sulit melepaskan diri darinya. Sikap pesimis, apatis, berprasangka buruk dan menganggap benar sendiri adalah penyakit kronis yang susah untuk disadari, terlebih untuk disembuhkan. Tak jarang kita malah membenci dan menutup diri dari nasehat, termasuk kepada orang yang memberi nasehat, hal ini karena kita merasa benar sehingga tertutup dari kebenaran yang sesungguhnya. Hanya jiwa-jiwa yang selalu mawas diri, yang banyak merenungi jati diri dan yang belajar memaknai hakikat hidup ini yang akan bisa keluar untuk melakukan intospeksi untuk perbaikan diri. Sadar bahwa kebaikan yang dilakukan sangat sedikit dan tidak sebanding dengan keburukan, kekurangan dan kelalaian yang telah dilakukan.

Guru bukan malaikat yang terbebas dari dosa, guru adalah manusia biasa yang bisa salah dan khilaf. Kekurangan dan kelemahan juga bagian dari profesi yang mulia ini. Tak mengelak dari itu, penulis sangat menyadari kekurangan itu, kelemahan dan kesalahan yang dilakukan hingga penghujung tahun 2016, oleh karena itu perkenankan kami menuliskan ini beberapa point berikut, dengan tujuan sebagai pengingat dan berharap dapat motivasi diri sendiri dan bagi pembaca semua menapaki jalan panjang berikutnya di tahun 2017 ini;
  1. Jangan takut susah, jangan takut menderita dan jangan takut berjuang. Mereka yang sukses dari tetes keringat dan kucuran darah jauh lebih berharga dibanding mereka yang sukses tanpa perjuangan. Mereka yang sukses setelah melewati masa sulit, merasakan susahnya menjalani rangkaian kehidupan yang penuh perjuangan akan lebih dewasa, lebih bijaksana dan lebih menghargai betapa sukses ini sangat luar biasa.
  2. Jangan mudah mengeluh apalagi terlalu banyak mengeluh, karena pekerjaan tidak akan selesai dengan mengeluh dan kehidupan tidak akan berubah hanya dengan mengeluh. Berpikir positif, jalani saja apa yang musti dijalani dan lakukan saja yang bisa dilakukan sepanjang baik dan membawa kebaikan.
  3. Jangan cepat berputus asa, jika selama ini telah bersabar - bersyukurlah telah mampu bersabar, jangan berhenti bersabar karena jika berhenti artinya hanya sampai di situ kelas dan kualitas kita. Tetaplah bersabar hingga kita dimenangkan karena kesabaran yang kita lakukan.
  4. Jangan lepaskan harapan dan impian. Jika selama ini telah berdoa, teruslah dan tetaplah berdoa hingga meraih sukses, bahkan jangan berhenti dan tetap berdoa ketika telah sukses agar tidak lalai dan lupa diri. Betapa banyak orang sukses akhirnya jatuh dan terpuruk karena lupa berdoa, lupa jati diri dan lupa hakikat diri.
  5. Jangan lepaskan kebaikan, sekecil apapun. Jika ada teman yang baik, yang mau memberi kita nasehat dan mengingatkan kita untuk kebaikan - sekali-kali jangan kita lepaskan, dia yang berani menunjukkan kesalahan dan keburukan kita demi kebaikan kita, pastikan dia teman baik kita. Jika ada kesempatan berbuat baik segera lakukan, karena waktu tak akan terulang dan kesempatan belum tentu berulang. Banyak orang merugi dan menyesalkan karena meremehkan kebaikan kecil dan menunggu kebaikan yang lebih besar yang tidak pasti kedatangannya.
  6. Jangan menyimpan dendam, jangan jadi notulis bagi kesalahan orang lain. Siapapun kita pasti pernah salah, pasti pernah khilaf, pasti memiliki kekurangan. Menyimpan kesalahan orang dan memupuknya menjadi dendam hanya akan semakin menjadi beban bagi diri kita sendiri. Kita akan menjadi sosok yang kaku dan tertutup, kurang bergaul dan susah bersosialisasi dan akan menjadi pribadi yang introvert dan selalu berprasangka buruk. Bila merasa salah mudahlah untuk meminta maaf dan akan lebih mulia bagi mereka yang memiliki hati yang mudah memaafkan.
Para programer di Microsoft Corp. sangat hebat, namun mereka tidak bisa bekerja sendiri dalam membuat OS Windows 10 dan MS Office 2016, bagaimanapun programer yang hebat itu nyatanya dibesarkan oleh keluhan dan masukan dari penggunanya. Begitu pula dengan perusahaan bonafid sekelas Astra, ia dibesarkan  oleh konsumen yang kritis melalui keluhan yang dijaring lewat bengkel Ahass, Nasmoco atau Auto2000. Demikian pula mereka yang menjadi besar dan dibesarkan di dunia pendidikan, mereka tidak "ujug-ujug" hebat dan besar tanpa masalah dan tantangan. Oleh karena itu, marilah kita menjadi pribadi yang terbuka, yang kritis, yang kreatif dan inovatit agar bisa memberi manfaat bagi teman-teman yang ingin menjadi lebih besar. Selanjutnya mari kita menjadi jiwa berlapang dada, yang tidak anti kritik, yang membuka seluas-luasnya kritik dan masukan untuk membesarkan diri, bukan untuk menjadi orang besar, namun menjadi orang yang berjiwa besar.  Menjadi sosok pribadi yang dikenal baik itu penting, namun lebih penting menjadi pribadi yang benar-benar baik, walau tidak dikenal, dan inilah kebaikan yang sesungguhnya.

Terima kasih teman-teman spesial di SMP Negeri 2 Kepil yang hebat, yang menginspirasi, yang selalu sabar dan suport untuk memajukan pendidikan di Kepil dan sekitarnya.  Mari jalankan amanah masyarakat ini dengan penuh dedikasi, penuh perjuangan dan penuh motivasi, mencerdaskan anak-anak bangsa yang kelak akan memimpin kita dan anak keturunan kita. Sebagian di antara mereka ada dari kalangan yang miskin, bahkan mungkin sangat miskin, yang tak pernah berfikir untuk mengganti sepatu lusuhnya, kaus kaki robeknya, atau tas yang telah rusak resletingnya. Kobarkan semangat juang mereka untuk belajar, agar mereka bisa menjadi insan pendidikan yang berkualitas, cerdas dan mau bekerja keras, karena hanya dengan pendidikan yang baik yang bisa merubah nasib mereka. Mantapkan diri untuk menjadi bagian dari pendidikan, karena Pendidikan adalah salah satu pemutus mata rantai kemiskinan. Selamat beraktifitas, selamat berjuang, semoga sukses. <61120>

Rabu, 07 Desember 2016

Moratorium UN Tidak Disetujui - Kesempatan Berbenah Diri Memperbaiki Kualitas

Wacana penghapusan UN (moratorium UN) yang sempat diluncurkan oleh Mendikbud beberapa hari lalu sempat menjadi perbincangan hangat, baik dari kalangan akademisi, kalangan elit politik hingga kalangan masyarakat biasa, baik yang pro maupun yang kontra. Berbagai alasan yang menjadi dasar pertimbangan Mendikbud menyampaikan wacana penghapusan UN antara lain; 1) UN tidak berperan ketika siswa-siswi mendaftar di Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Dengan alasan itu dia berpendapat UN tidak dipertahankan. 2) "Orientasi pada UN akan membuat reduksi mata pelajaran lain. Sekarang sekolah-sekolah sudah fokus anak didiknya disiapkan hanya untuk UN. Yang lain dianggap enggak penting. 3) Pertimbangan lain soal digunakannya pilihan ganda untuk menguji siswa. Pilihan ganda atau multiple choice itu tidak mengajarkan siswa berpikir kritis. serta 4) "UN juga dianggap hanya menguji ranah kognitif dan beberapa mata pelajaran saja. Akibatnya cenderung mengesampingkan hakikat pendidikan untuk membangun karakter, perilaku, dan kompetensi,

Moratorium UN Tidak Disetujui
Hal yang dipadang baik belum tentu dianggap baik dan tepat oleh setiap orang. Kewenangan pendidikan memang ada di tangan Mendikbud, namun keputusan akhir tetap berada di bawah kendali Presiden atau Wakli Presiden sebagai pemilik kekuasaan mutlak di negeri ini. Wakil Presiden Jusuf Kalla menegaskan pemerintah tidak menyetujui rencana moratorium ujian nasional (UN) yang digagas Mendikbud Muhadjir Effendy. Usulan moratorium UN diminta dikaji ulang. "Ya hasilnya usulan moratorium itu tidak disetujui, tapi disuruh (juga) kaji ulang," ujar Wapres JK di Istana Wapres, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Rabu (7/12/2016). Keputusan menolak usulan moratorium UN ini disampaikan JK setelah rapat kabinet paripurna bersama Presiden Joko Widodo. Usulan moratorium UN menjadi salah satu topik pembahasan.

JK menjelaskan, pemerintah untuk saat ini masih menilai UN dapat mendorong peningkatan mutu pendidikan dan evaluasinya. "Tanpa ujian nasional bagaimna bisa mendorong bahwa kita pada tingkat berapa, dan apa acuannya untuk mengetahui bahwa dari ini kemudian nanti tanpa ujian nasional," kata JK. "Harus dengan soal yang hmpir sama harus diketahui, oh Jawa begini, Sulawesi begini, kalimantan bagaimana. Baru bisa. Kalau tanpa itu bagaimana caranya?" sambung JK. Karena itu, Kemendikbud sambungnya harus mendorong hasil maksimal dalam UN dan mengukur perbandingannya dengan sistem penilaian kelulusan di negara-negara lain.

Wakil presiden Jusuf Kalla menambahkan, "Hampir semua negara di Asia itu ujian nasional semua, apalagi di ASEAN. Di ASEAN semuanya China, India, Korea, cuma Jepang saja hanya ujian masuk perguruan tinggi, yang lainnya ujian nasional semua dengan ketat," jelasnya. Menurut JK, tanpa UN, daya saing dan semangat anak-anak untuk belajar akan kendor. Tapi pemerintah juga mengkaji sistem penentuan kelulusan untuk efektivitas UN. "Jadi usulan tadi tidak diterima, tapi disuruh kaji dan secara perbandingan lebih dalam lagi untuk memperbaiki mutu," kata JK.

Tambahan penulis dari hasil audiensi dengan beberapa guru, terutama guru mapel UN selaku subyek yang banyak berkiprah  dengan siswa dalam mepersiapkan UN menilai jika UN masih sangat diperlukan. Bagi sekolah maju mungkin UN sudah tidak berpengaruh signifikan, karena secara umum motivasi belajar siswa sudah bagus dan mereka sudah sadar sepenuhnya bahwa mereka harus mempersiaipkan dan memposisikan diri untuk memperoleh hasil yang maksimal untuk kelanjutan studi mereka di jenjang pendidikan yang lebih tinggi, Akan berbeda dengan sekolah yang masuk kategori taraf berkembang, di mana kondisi yang jauh  berbeda dengan sekolah maju. Adanya penentuan kelulusan berdasar nilai UN masih mendominasi dan menjadi motivasi utama mereka untuk mau belajar, berusaha belajar dan sebatas meraih predikat LULUS. Dengan penentuan kelulusan oleh sekolah saja semangat dan motivasi siswa turun drastis, seakan cuek dan tidak mau susah-susah belajar agar lulus, karena toh pasti lulus, lha bagaimana jika UN ditiadakan pasti kondisinya akan bertambah parah.

Secara teori memang UN tidak tepat karena tidak tepat (tidak boleh) meng-generalisasi dan mengukur pendidikan pada wilayah, sarana dan sebaran SDM berbeda dengan alat ukur yang sama. Kondisi wilayah, ragam budaya dan tingkat ekonomi yang berbeda membawa pengaruh yang berbeda pada kualitas pendidikan. Namun begitu tetap dibutuhkan satu bentuk evaluasi yang standar yang berlaku secara umum dan nasional, karena tanpa adanya wahana yang menjadi tolok ukur standar, pasti kondisi akan jauh lebih rendah dari yang diharapkan. Tiap sekolah akan cenderung membuat aturan sendiri, membuat standar sendiri dan membuat pola sendiri yang cenderung tidak terkendali. Sebagai pendidik dan pelaksana, maka sikap kita yang terbaik adalah melaksanakan sesuatu yang sudah menjadi keputusan oleh pemilik dan pemegang kekuasaan manajemen pendidikan di negeri ini. Amanah untuk mendidik dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan adalah hal yang utama.

Semoga dengan diurungkannya rencana moratorium UN ini justru akan memberi kesempatan banyak sekolah untuk berbenah diri dalam berbagai bidang, sehingga sekolah tidak hanya berorientasi pada nilai UN semata yang berorientasi pada angka, namun lebih kepada konten pendidikan yang sesungguhnya, yaitu pada pembinaan mutu pendidikan yang diiringi dengan berkembangnya karakter yang lebih baik. Tentu saja untuk mewujudkan sekolah dengan nuansa pendidikan karakter harus dimulai dari penjiwaan kalangan akademisi tentang pentingnya karakter pada diri pendidik agar proses transfer ilmu juga dilingkupi dengan tauladan dari pribadi yang berkarakter. <60877>.
Selamat beraktifitas, semoga sukses.

Rabu, 30 November 2016

Inovasi -6 : Forum Ilmiah MIPA - Pola Mudah Matematika dan Budaya Riset IPA


Tulisan ini kami selesaikan ketika wacana penghapusan UN (Moratorium UN) yang diluncurkan oleh Mendikbud Prof. Muhadjir Effendi. Salah satu alasan utama yang ada di kalangan siswa dan memicu polemik adalah karena UN itu menakutkan, takut nilainya jelek, takut tidak lulus, inilah alasan klise yang justru menjebak dan membuat situasi pendidikan tidak berada pada posisi yang seharusnya. Siswa belajar masih sebatas orientasi nilai, sebatas mencapai KKM dan masih berkisar pada pernyataan lulus. Hal ini berdampak pada proses pembelajaran di kelas yang juga masih berorientasi pada nilai ketika lulus, sehingga waktu, tenaga, pikiran dan sumber daya tereduksi pada mata pelajaran yang berorientasi lulus UN. Dari sekian mapel yang diajarkan di sekolah setingkat SMP hanya ada empat mapel yang di-UN-kan. Hal ini membuktikan betapa pentingnya mapel Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika dan IPA dalam standar transformasi pendidikan di jenjang SMP. Terkait tema tulisan kali ini, ternyata dua dari empat mata pelajaran yang di-UN-kan adalah rumpun MIPA, Matematika dan IPA, satu kehormatan dan sekaligus beban bagi guru pengampu mapel ini.

Untuk mengawali paparan seri Inovasi ke-6 kali ini, mari sedikit membuka cakrawala tentang kajian ilmiah yang pernah dipublikasikan 26 Juni 2006, fakta tentang molekul air yang merupakan senyawa yang terbentuk dari 2 atom Hidrogen dan 1 atom Oksigen (H2O). Secara kasat mata bentuk fisik air sama saja, baik yang berasal dari gunung, laut, sumur, sungai, danau ataupun dari langit ketika turun hujan. Namun jika dilihat lebih teliti, dengan bantuan mikroskop maka akan berbentuk hexagonal (kristal segi enam). Dan inilah yang dilakukan Prof. Dr Mazaru Emoto dari Jepang, dimana beliau telah melakukan penelitian dari berbagai jenis air dari berbagai tempat di beberapa tempat di dunia. Beberapa hal yang kemudian menjadikan penemuan terbaru dan sangat populer adalah bahwa air itu bersifat aktif dan reaktif, bersifat hidup dan dapat berinteraksi terhadap suara atau perilaku yang diterapkan padanya. Dalam publikasi hasil penelitian tersebut disampaikan bahwa ari yang diberikan kata-kata baik, sayang, cinta atau doa akan berbentuk kristal yang sangat bagus, sebaliknya jika didengarkan kata-kata kotor atau buruk maka bentuk kristal menjadi buruk atau bahkan hancur. Dan dari sekian ratus sample air di dunia, ternyata yang memiliki STRUKTUR KRISTAL TERBAIK adalah yang air yang diambil dari sumur ZAM-ZAM yang diambil dari masjidil haram di Mekah.

Dengan berharap rahmat dari Alloh, kami mencoba memulai kembali membuat coretan untuk tema seri Inovasi, yang kali masuk pada seri ke-6. Sungguh, ini adalah seri inovasi terberat yang kami buat, karena kami harus menulis tentang sesuatu yang notabene subyeknya adalah guru MIPA - sosok akademisi dengan tingkat intelegensi tinggi, sosok yang sangat jeli pada uraian materi, sangat kuat memegang prosedur dan sangat disiplin dalam masalah waktu, serta sangat kental dengan sintesa dan analisis pada masalah yang dihadapi. Inilah yang menjadi beban karena kami harus menulis sesuatu yang ditujukan pada para master, para senior dan para guru yang sangat ahli dan menguasai tentang ilmu yang sangat tinggi dan penuh dengan nuansa ilmiah. Namun demikian, kami tetap berusaha menulis karena kami melihat dari sisi lain yang mungkin tidak terlihat dan tidak disadari oleh sebagian dari mereka tentang kaidah transformasi ilmu pada siswa di sekolah menengah. Semoga tulisan yang sederhana ini akan membuka cakrawala baru dan bisa sedikit menambah khasanah ilmu untuk tambahan referensi, semoga bermanfaat.

Rumpun MIPA - Ilmu Dasar Utama yang Abstrak
Jika ditinjau dari kategori keilmuan, maka MIPA adalah rumpun khusus - ilmu pengetahuan yang berbeda dengan ilmu pengetahuan lainnya, karena proses, metode,  kajian dan sifatnya. Ada 4 ciri khas keilmuan yang menjadikan MIPA menjadi kelompok ilmu pengetahuan yaitu; obyektif, metodik, sistematik dan universal. Inilah yang kemudian menjadikan rumpun MIPA seakan-akan ilmu yang sulit, rumit, pelik dan menakutkan. Tak berhenti sampai di sini, dalam perkuliahan di perguruan tinggi hingga pembelajaran di kelas juga menjadi sesuatu yang terlihat eksklusif, di mana hanya disukai oleh mereka yang pintar, disiplin, serius dan terlihat tertutup. Bahkan muncul kesan hanya orang yang jenius, pintar sekaligus "kutu buku" yang bisa masuk jurusan ini, dan hanya jurusan teknik, akuntansi dan kedokteran saja yang mampu mengimbangi atau melampaui jurusan yang satu ini. Kesan inilah yang kemudian menjadi beban siswa dalam pembelajaran. Pertanyaannya, adakah metode dan trik agar pembelajaran MIPA menjadi sesuatu yang terkesan mudah, sederhana, asyik dan menarik. Bahasan tulisan ini tidak untuk mengulas atau mengusik pembelajaran oleh guru matematika dan IPA, namun hanya sekedar memberi sedikit gambaran yang mungkin belum dilakukan dan ternyata menjadi sesuatu yang menjadi daya tarik dan daya dorong menjadikan suatu yang berbeda dan memacu pembelajaran menjadi lebih baik.

Faktor Berpengaruh dalam Pembelajaran
Ada beberapa faktor yang berpengaruh pada proses pembelajaran di kelas, namun ada dua hal yang paling berpengaruh yaitu guru dan metode pembelajaran. Faktor pertama adalah guru. Ini faktor paling utama dan paling berpengaruh, dan faktor guru ini pula yang menjadi daya tarik utama pembelajaran. Guru yang dipavoritkan oleh siswa sangat dinanti kedatangannya oleh siswa, bahkan tidak jarang dijemput oleh siswa agar segera masuk kelas, sangat berkebalikan dengan guru yang kurang disukai siswa. Adapun daya tarik guru bukanlah semata-mata karena segi fisik; cantik, tinggi semampai ditambah kata semlohai, atau ganteng, tubuh tegap ditambah kata perkasa, sebagaimana artis, namun lebih kepada kompetensi kepribadian guru secara personal. Contoh ekstrim, guru yang gendut (seperti penulis), berwajah kusut, bertampang galak dan berperangai kasar pasti bukan guru pavorit bagi siswa, atau bahkan masuk kategori yang tidak disukai, walaupun sebenarnya guru tersebut pintar.

Faktor kedua adalah metode dalam pembelajaran, baik yang berupa model pembelajaran, teknik pembelajaran, media pembelajaran serta variasi dan inovasi dalam pembelajaran. Metode yang monoton dan bersifat feodal, pemberian tugas yang asal-asalan (misalnya siswa disuruh membuat soal), tugas yang memberatkan atau yang tidak sesuai dengan tuntutan mata pelajaran tentu menjadi pembelajaran yang stagnan dan membosankan. Dalam perkembangan ilmu pembelajaran ada metode Quantum Learning dan Quantum Teaching, yang intinya adalah pembelajaran dan pengajaran yang menyenangkan, inilah yang perlu diupayakan. Banyak cerita tentang keajaiban (amazing) yang terjadi, dimana guru yang awalnya terlihat biasa saja, bahkan yang pada awalnya terkesan galak dan membosankan, namun ketika ia membuat perubahan yang diawali dengan menyadari hakikat pembelajaran yang baik, dilanjutkan dengan introspeksi drir dan kemudian mampu move-on serta mulai melakukan perubahan dalam pembelajaran, maka kemudian pembelajaran di kelas yang ia ampu menjadi kelas pavorit, kelas unggulan dan kelas yang diidolakan, baik oleh siswa, oleh sesama guru hingga oleh beberapa sekolah dan pemerintah.

Matematika dan IPA - Mapel Prospektif
Dalam pemetaan ketercapaian kompetensi, dua mapel inilah yang secara persentase paling mungkin dan mempunyai banyak peluang untuk mendapatkan prestasi puncak, nilai sempurna dengan angka 100. Bukan sebagai pembanding, namun hanya sekedar informasi jika salah satu sekolah yang berjarak 15 km ke arah timur dari sekolah kami, yang secara geografis dan administratif berbeda kabupaten, terdapat sekolah bagus dan hebat dengan prestasi yang membanggakan. Yah, SMP Negeri 1 Salaman pada kelulusan tahun lalu terdapat 32 siswa dengan nilai 100 untuk matematika dan 6 siswa dengan nilai 100 untuk IPA, yang kemudian menjadikan sekolah tersebut menjadi sekolah terbaik di kabupaten Magelang. Inilah yang menjadi salah satu daya tarik sekolah ini, sehingga menjadi incaran lulusan SD pada saat penerimaan siswa baru, termasuk putra-putri guru-guru dari sekolah kami.

Adalah Joko Susilo, M.Pd (biasa dipanggil Pak Cilo) yang menjadi sosok guru pavorit untuk mapel matematika, dan menjadi inspirasi sukses. Itulah pengakuan yang disampaikan oleh Jati Prasetiawan, S.Pd - salah satu mantan siswanya yang sekarang sudah menjadi guru matematika di SMPN 2 Wonoboyo Satu Atap - Temanggung. Menurut pengakuan mantan muridnyanya ini, salah satu hal yang menjadi ciri khas dan daya tarik pelajaran matematika adalah modul matematika yang berupa catatan tangan sang guru. Tulisan yang khas, dengan huruf delapan yang unik dan 4 kolom setiap lembarnya. Setiap materi / bab baru, maka sang guru membuatkan catatan tangan khusus, dan setiap siswa dapat memfoto-copy cukup dengan membayar Rp 2.000. Catatan yang disusun sendiri oleh guru lebih mudah diikuti daripada buku paket, karena guru lebih tahu karakter dan kondisi siswa secara langsung dan guru juga lebih mudah menjelaskan materi yang telah dibuatnya sendiri.

Dari Salaman bergeser sekitar 20 km ke arah barat daya, ada SMPN 19 Purworejo ada guru inovatif dan inspiratif - Juli Eko Sarwono, Cara mengajarnya tergolong unik dan berbeda, Pak Eko tidak hanya menjelaskan matematika dengan teori di papan tulis, namun lebih berorientasi pada pembelajaran praktek, langsung bersentuhan benda sesungguhnya. Ada caping, kukusan dan topi yang berbentuk kerucut ketika ia membahas materi tentang kerucut. Ia hadirkan alat yang nyata dan sebagai alat peraga, bahkan sepeda motornya dibawa masuk kelas untuk menjelaskan tentang materi lingkaran. Kelasnya menjadi kelas unggulan, kelas yang pavorit dan sangat disukai oleh siswanya. Wajah riang, penuh semangat dan serasa tanpa beban tampak pada raut murid-muridnya. "Saya mencoba membuat matematika menjadi menyenangkan, jika murid sudah suka, transfer ilmu akan mudah," ujarnya. Sebagai apresiasi, kemudian pihak Pemda bersama sekolah menyediakan kelas khusus yang kemudian menjadi laboratorium matematika. Atas inovasinya, menjadikan beliau dinobatkan sebagai guru berprestasi  Good Practices dari USAID, yang kemudian banyak diundang menjadi pembicara di berbagai forum ilmiah hingga tampil di layar kaca dalam acara Kick Andy.

Jika di mata pelajaran matematika ada Pak Cilo dan Pak Juli Eko, maka di IPA juga ada guru yang hebat, dari SMPN 2 Semarang, Dra. Dyah Purwaningrum. Penulis pernah berbincang dengan guru IPA yang satu ini ketika bersama dalam sebuah diklat pengembangan kurikulum sekitar 2 tahun yang lalu. Sosok Bu Dyah yang low profile namun penuh dengan ide pembaruan di bidang pendidikan, khususnya pada mata pelajaran IPA mengantarnya terpilih menjadi salah satu utusan propinsi Jawa Tengah dalam program English Language Culture & Training Programs yang diadakan oleh University of Southern Queensland dan tinggal serta belajar di Australia sekitar tiga bulan. Beberapa file diberikan kepada kami, yang intinya bagaimana mengemas pembelajaran menjadi menjadi seuatu yang nyata, menarik dan ilmiah. Hal itu bisa dengan cara membuat baik animasi, video atau sesuatu yang bersifat inovatif. Namun khusus untuk IPA maka model interaksi langsung dengan benda nyata adalah hal paling menarik dan paling mengenai sasaran, baik melalui praktikum di laboratorium, observasi ke kebun tanaman, kolam atau sungai tempat habitat binatang air atau yang sejenisnya. Konsep dasarnya bahwa IPA adalah pengetahuan alam, maka wahana yang paling cocok adalah tentang alam melalui praktikum atau penelitian, karena dengan melihat dan praktik secara langsung akan menjadi pengalaman yang akan selalu diingat oleh mereka.

Konsep itulah yang diterapkan dalam pembelajaran Bu Dyah, yang kemudian mampu menggali bakat yang luar biasa pada siswa-siswanya. Awal Februari tahun 2016 ini dua siswanya yang masih duduk di kelas VII SMP Negeri 2 Semarang mendapatkan medali perunggu dan medali emas dalam ASEAN+3 Center for the Gifted in Science (ACGS) di Korea baru-baru ini. Mereka adalah Addiya Izza Ahya Setiyono dan Faadhil Inayatur Rahman Harahap. Addiya Izza Ahya Setiyono yang mengaku baru pertama kali mengikuti lomba Internasional, bersama kelompoknya mempresentasikan Green Energi, satu tim terdiri dari 8-9 orang dan semuanya dari negara yang berbeda. Lain dengan Addiya, Faadhil dan tim mempresentasikan energi dari unsur kimia, biologi dan fisika. “Anak-anak bisa berhasil karena belajar dari video ide-ide ilmuwan. Peserta yang presentasinya paling baik dari seluruh dunia hanya ada 2 negara, yaitu Indonesia dan Singapura, mereka mendapat penghargaan Davinci dan tidak setiap tahun diadakan. Bahkan sebagai reward-nya peserta juga akan mendapat beasiswa hingga S1.

Pembelajaran yang Menyenangkan
Konsep dasar pembelajaran yang baik sebenarnya simple dan sederhana, yaitu bagaimana membuat kondisi pembelajaran yang menyenangkan, pelajaran yang sangat dinantikan dan membuat siswa serasa haus ilmu pengetahuan dan keterampilan, sebagai bekal pendidikan di tingkat yang lebih tinggi. Tiga sosok guru di atas tentu saja tidak serta harus ditiru, tidak mutlak untuk dijadikan acuan karena kita bukan mereka, kita tidak berada pada lingkungan mereka dan kita tidak sama dengan mereka. Namun semangat mereka, ide mereka dan inovasi mereka bisa menjadi inspirasi untuk bisa berbuat sesuatu yang lebih baik, lebih berharga dan lebih bermakna.

Khusus untuk mata pelajaran Matematika mendekatkan benda nyata kepada siswa, menyederhanakan konsep dan menjauhkan dari kesan rumit,t adalah hal yang perlu diupayakan. Dari record yang pernah kami jumpai langsung, catatan sederhana dari guru justru menjadi point positif yang berpengaruh pada respek siswa dalam pembelajaran, di samping unsur ketepatan guru dalam menjelaskan kepada siswa yang beragam. Sementara dari teknologi  pembelajaran ada aplikasi baru bernama GEOGEBRA, yang saat ini di beberapa sekolah sebelah timur (kab. Magelang) sudah digunakan untuk pembelajaran. Memang butuh tambahan waktu, tenaga dan pemikiran untuk mewujdkan pola pembelajaran yang inovatif seperti ini, namun jika hasilnya memuaskan dengan naiknya prosentase keberhasilan siswa meraih angka sempurna maka akan terbayar lunas dengan kepuasan dan kebanggaan bahwa pembelajaran matematika yang menyenangkan membawa hasil yang memuaskan, walaupun jika UN dihapuskan.

Adapun untuk IPA, maka mengkondisikan pembelajaran dengan situasi scientifik adalah suatu keharusan, yang bahkan sudah ada sebelum K-13 lahir. Kegiatan pemebelajaran yang berupa pengamatan, bertanya, pengumpulan informasi, asosiasi dan komunikasi adalah iklim utama scientifik, maka kegiatan IPA yang berbentuk riset / penelitian harus dilakukan dan digalakkan, tidak harus yang besar, tidak harus yang sulit. Dimulai dari hal yang sederhana dan simpel, karena yang dibangun adalah pola pikirnya, adalah habituasinya, adalah budayanya sehingga sikap ilmiah sebagai ciri ilmu pengetahuan bisa diterapkan dalam setiap kegiatan. Jika ini sudah terbentuk maka bukan tidak mungkin akan banyak ditemukan hal-hal baru yang bersifat ilmiah yang selama ini tidak pernah terpikirkan ternyata ada di sekitar kita. Fakta yang ditemukan Prof. Mazaru Emoto bahwa air adalah hidup dan berbentuk kristal yang berbeda-beda adalah bentuk ilmu terpendam yang baru terkuak ketika dilakukan penelitian. Di sisi lain bukan tidak mungkin bisa ditemukan siswa dengan bakat "mutiara terpendam" seperti yang pernah dibimbing Pak Satiyun pada beberapa tahun lalu yang berhasil maju di tingkat kabupaten.

Sebagai penutup, barangkali ada baiknya jika pembaca dapat membaca atau melihat video inspiratif dari Prof Yohanes Surya, pendiri Surya Institut. Ia adalah contoh orang yang miskin yang berhasil sukses karena kerja kerasnya, yang membuahkan beasiswa S2 dan S3 di Amerika, menjadi ilmuwan dan profesor di bidang Fisika. Prof. Surya menyatakan bahwa kunci negara kita akan menjadi negara besar dan maju jika pembelajaran sains dan teknologi yang kuat. Dan salah satu kekurangan dalam pembelajaran sains, dan ini yang banyak terjadi adalah 'monoton", sehingga terkesan ruwet, njlimet dan membosankan. Padahal jika bisa mampu membuat inovasi dalam pembelajaran, justru mapel sains ini bisa menjadi pelajaran yang asyik dan menyenangkan. Kuncinya, sains (MIPA) bukan "hafalan", akan lebih baik jika siswa menemukan sendiri rumus dan konsep dalam ilmu sains tersebut. Ia teah membuktikan bahwa tidak ada siswa yang bodoh, banyak siswa-siswa dari Papua yang sukses meraih medali emas di ajang olimpiade fisika internasional. Itulah konsep dasar lahirnya pendekatan Scientifik dalam kurikulum 13 (K-13). Beberapa catatan kecil berikut mungkin saja berguna sebagai bahan untuk renungan dan merubah diri (move-on) untuk lebih baik lagi.
  • Kerja keras, hanya dengan kerja keras untuk bisa mencapai sukses. Untuk meraih sukses diri terlebih mensukseskan orang lain dibutuhkan kerja keras, lebih keras dari yang biasanya. Tidak ada kata sukses bagi orang yang malas. Merasa diri belum optimal adalah kunci awal untuk menjadi lebih baik dan siap untuk lebih sukses. Rasa bahwa kita hebat, baik karena kecerdasan kita, karena pengalaman kita, karena jam terbang kita atau karena status guru inti, guru tutor, instruktur kabupaten atau nasional dan sejenisnya akan menjadikan rasa besar dan tinggi. Rasa besar dan rasa tinggi ini yang menutup diri untuk terus tumbuh dan berkembang, bahkan menutupi kondisi yang sesungguhnya masih banyak kekurangan. Selanjtunya, merasa telah banyak berbuat, telah banyak berjasa dan saatnya mengakhiri perjuangan. Rasa terlalu menghargai diri dengan tumpukan karya di masa lalu sangat melemahkan semangat dan motivasi untuk terus tumbuh dan berkarya yang terbaik. Dampak buruk dari sikap ini bukan pada diri sendiri saja, namun menyebar pada lingkungan kita, terutama mereka para yunior yang seharusnya berjiwa muda, bermental pejuang dan semangat baja, tak terkecuali siswa-siswa kita.
  • Belajar dan terus belajar, belajar dengan pengalaman. Siapapun kita pasti bisa, kita masih punya waktu untuk terus belajar, terus berupaya  melakukan yang terbaik. Selayaknya hukum kekekalan energi, maka setiap kebaikan akan menjadi energi baik yang akan kembali kepada kita sebagai kebaikan, begitu pula sebaiknya. Kita tidak bisa pastikan ilmu mana atau amal mana yang akan membawa kebaikan bagi kita kelak, namun yang pasti setiap kebaikan yang kita lakukan dengan tulus ikhlas maka kelak kita akan menikmatinya, maka lakukan saja. Kesehatan hasil dari energi baik, begitu juga dengan kecukupan rejeki, ketenangan, kedamaian dan kemuliaan.
  • Butuh perjuangan. Tidak takut dan phobia pada kesulitan dan tantangan. Alloh memotivasi 2 kali dalam surat An Nashr 5-6, bahwa sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan. Maka siapa yang ingin diberi kemudahan, jangan takut menghadapi kesulitan, karena kesulitan akan berlalu dan berganti dengan kemudahan. Begitulah jalan kehidupan, memang didesain untuk naik dan naik, bagi yang ingin menikmati dinamika kehidupan.
Demikian tulisan seri Inovasi ke-6 yang spesifik membahas rumpun MIPA, kami tulis bukan untuk memberi pencerahan, bukan untuk memberi wawasan ataupun pengajaran, namun hanya sebatas menuangkan apa yang kami anggap bisa dilakukan. Pola USAID yang pernah dilatihkan bisa diadopsi dan dimodifikasi, atau model lain yang lebih cocok sesuai karakteristik KD atau indikator.  Bapak/Ibu guru rumpun MIPA tentu sudah jauh lebih paham, jauh lebih tahu dan lebih pengalaman, namun bukan tidak mungkin kita bisa lakukan sesuatu yang mungkin lebih inovatif dari yang sudah dilaksanakan, dengan satu harapan utama menciptakan iklim "siswa senang belajar" dalam kondisi "pembelajaran yang asyik dan menyenangkan.
Selamat bekerja, selamat beraktifitas semoga sukses. <HSJS  #670-905>.