text

Selamat Datang di Blog SMP N 2 Kepil Wonosobo ...(untuk mengakses berita terbaru, ... klik Beranda atau klik saja cover di atas)

Rabu, 29 Maret 2017

Training ESQ Spero, Motivasi Sukses USEK, USBN dan UN 2017

Senin pagi, 27 Maret 2017 nampak tidak ada aktifitas upacara bendera seperti biasanya. Siswa kelas 7 dan 8 langsung pembelajaran di kelas masing-masing, sedangkan kelas 9 nampak berbeda dan tidak ada pembelajaran di kelas karena hari ini ada agenda lain berupa pembekalan dari tim sukses UN 2017. Yah, hari ini akan ada acara spesial untuk kelas 9 dalam rangka menyongsong ujian sekolah (USEK), ujian sekolah berstandar nasional (USBN) dan puncaknya ujian nasional (UN) yang akan dilaksanakan bulan Mei 2017. Kegiatan spesial itu berupa kegiatan ESQ (Emotional Spiritual Quotient) atau Spiritual Building, yaitu pemberian motivasi untuk mendukung kesiapan siswa kelas 9 dalam menghadapi serangkaian ujian bagi kelas 9 di tahun 2017.

Tepat pukul 08.00 semua siswa kelas 9 dikumpulkan untuk diberi pengarahan dan penjelasan tentang kegiatan pagi itu oleh Bapak Eko Sutomas, S.Pd.. Selanjutnya siswa kelas 9 diarahkan untuk langsung menuju balai desa Rejosari. Adapun agenda pembelajaran untuk kelas 7 dan 8 hanya sampai jam ke 3 dan setelah istirahat lalu dianjurkan untuk langsung pulang, karena kegiatan ESQ juga akan diikuti oleh seluruh guru dan karyawan SMPN 2 Kepil.

Acara Traniing ESQ dilaksanakan pagi hingga siang, bertempat di Balai Desa Rejosari yang beralamat di Cadukan Rejosari Kepil Wonosobo. Balai desa ini dipilih sebagai lokasi berdasarkan masukan dari tim penanggung jawab ESQ dengan alasan kenyamanan, jauh dari kebisingan dan keramaian. Tepat pukul 09.00 acara dimulai, bertindak sebagai pembawa acara (MC) Bpk Eko Sutomas, diawali dengan pembukaan dan sekedar sambutan atas nama sekolah,yang juga disampaikan langsung oleh pembawa acara, dan rankaian acara kemudian langsung dilanjutkan ke acara inti berupa pemberian motivasi / ESQ oleh Tim ESQ dari SMA MUHAMMADIYAH WONOSOBO.

Seperti tahun yang telah lalu, acara motivasi selalu dilaksanakan di balai desa Rejosari, tidak pemikiran lain kecuali alasan kenyamanan, dengan harapan agar situasi lebih kondusif karena jauh dari keramaian lalu lalang kendaraan bermotor baik mobil maupun motor. Segenap orang tua / wali murid hadir, begitu juga guru dan karyawan SMP Negeri 2 Kepil. Dengan suguhan tayangan dan narasi yang menyentuh membuat situasi ESQ terasa kondusif. Nampak siswa-siswi sangat antusias dan khidmat mengikuti acara motivasi ini, acara berjalan lancar tanpa kendala yang berarti.

Atas nama sekolah dengan ini kami menyampaikan rasa terima kasih kepada Tim ESQ dari SMA Muh. Wonosobo, kepada perangkat desa  Rejosari atas pinjaman tempat dan prasarananya, kepada Panitia ESQ dan semua rekan guru dan karyawan, juga kepada pengurus OSIS dan seluruh siswa kelas 9 yang hadir mensukseskan acara ini, Tersimpan harapan besar dengan acara ini, semoga acara ini mampu membangun motivasi dan semangat siswa untuk meraih sukses pada UN 2017. Pada gilirannya dengan hasil yang maksimal dapat membawa manfaat bagi siswa, bagi orang tua dan bagi sekolah. Selamat berkatifitas, semoga sukses. <295-165>

Selasa, 28 Februari 2017

Inovasi -7 : Laboratorium Agama, PKn dan IPS - Wahana Pembentuk Karakter

Alhamdulillah, kata yang paling tepat mengiringi banyaknya karunia dan nikmat yang Alloh berikan. Di antara banyak karunia dan nikmat itu ada dua yang istimewa. Pertama, adanya suara adzan Dhuhur yang berkumandang di speaker sekolah di setiap hari Senin hingga Kamis. Suara adzan dipilihkan dari suara muadzin cilik yang tayang di Adzan Magrib OVJ Trans 7, suara itu sangat merdu dan menyentuh hati untuk segera memenuhi panggilan sholat. Hal ini terjadi karena program sholat Dhuhur berjamaah yang dicanangkan telah disetujui dan sudah mulai dilaksanakan sejak hari Selasa 7 Februari 2017, insya-Alloh akan menjadi program unggulan baru yang akan memberi warna baru dalam proses pembentukan pribadi siswa di SMP Negeri 2 Kepil. Rasanya benar-benar damai dan menyejukkan melihat murid sholat berjamaah bersama guru-guru dan karyawan sekolah. Kedua, tulisan seri inovasi bisa kembali kami tuliskan, yang sedianya tayang di pertengahan Januari 2017 terpaksa urung terkendala bahan dan motivasi. Tulisan seri yang ke-7 kali ini secara spesifik berfokus pada rumpun humaniora yang meliputi mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), Pendidikan Agama dan Budi Pekerti (PABP) serta Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Sebenarnya masih ada satu lagi yang bisa dimasukkan dalam rumpun humaniora ini yaitu Bimbingan Konseling (BK), namun kami telah siapkan edisi khusus untuk BK pada tulisan seri inovasi yang ke-9, yang merupakan perpaduan antara ilmu psikologi dan pendidikan. Semoga tulisan sederhana ini bisa menambah wawasan dan membuka cakrawala baru khususnya bagi rekan guru rumpun humaniora.

Bagi yang berminat untuk download suara adzan dari Muadzin Cilik Bule pada acara OVJ Trans 7 dapat klik tautan berikut. Download Adzan Cilik Bule OVJ Trans 7.

Sebagai pembuka ijinkan penulis bercerita, beberapa minggu yang lalu penulis bertanya kepada salah satu murid pria apakah dia sholat, ia menjawab tidak sama sekali, maka penulis katakan, "Sungguh itu terlihat di wajahmu, sholatlah maka wajahmu akan terlihat bersih dan bercahaya". Wajahnya yang kusam dan terlihat kotor biasanya karena tidak pernah tersentuh air wudhu dan tidak pernah dipakai sujud. Dan secara umum di banyak kelas terjadi demikian, banyak siswa yang belum menjalankan sholat. Sebagai pembanding kita bisa melongok, di tempat lain, di cerita lain yang terjadi sekitar tujuh bulan yang lalu penulis bertemu seorang kakak beradik dalam suatu sholat Jum’at di Masjid Miftakhul Huda, Prembulan Tegalarum Borobudur. Sang kakak - yang seumuran kelas 7 atau 8 SMP - langsung mengajak bersalaman dengan disertai cium tangan pertanda khidmat (hormat), pada kami yang sama sekali belum dikenalnya. Wajahnya terlihat bersih, tatapan matanya teduh, nampak sekali sikapnya yang ramah, sopan dan penuh rasa santun. Dan di balik sikap tawadhuknya tersirat lautan ilmu, namun ia tetap rendah hati, tak sedikitpun nampak rasa sombong, acuh tak acuh atau rasa eksklusif. Hal inilah yang membuat rasa kagum dan tertegun dengan remaja yang istimewa ini, di saat sekarang sangat jarang dijumpai remaja dengan pribadi yang seperti ini. Rasa kagum akan sikapnya yang sopan, santun dan hormat pada orang lain, terutama pada yang lebih tua, menjadi inspirasi tersendiri. Betapa bahagia dan bangga orangtuanya memiliki buah hati yang demikian. Saya yakin tak satupun orang tua atau yang merasa lebih tua yang tidak mendambakan anak dengan pribadi yang utama seperti di atas.
 

Di tengah kondisi pendidikan yang terus berganti regulasi dan kurikulum, satu hal yang tidak boleh ganti adalah tujuan pendidikan yaitu mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Sangat tepat dan sejalan dengan realita di atas, maka kali ini secara spesifik membahas rumpun ilmu humaniora, humanis atau kemanusiaan. Jika pada rumpun bahasa adalah kunci ilmu, rumpun saint / eksak adalah dasar/pokok ilmu, maka humaniora / humanis adalah ruhnya ilmu, yang berisikan pendidikan budi pekerti, ruhani dan norma sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Maka keberadaan rumpun ilmu humaniora ini sangat dibutuhkan peranan, eksistensi dan aktualisasinya dalam dunia pendidikan di manapun dan di tingkat apapun. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), Pendidikan Agama & Budi Pekerti (PABP) dan Ilmu Pengetahuan Sosial mempunyai ruang lingkup yang berbeda, namun bermuara pada hal sama, yaitu norma yang berisi keutamaan dan kemuliaan. Tidak ada pertentangan antara satu dengan yang lain.
 

Terus terang saja, di era komunikasi global, di tengah kondisi yang serba terbuka dan penuh dengan dekadensi moral maka untuk mendidik anak-anak, terlebih remaja adalah pekerjaan yang tidak mudah, bahkan boleh dikatakan sulit. Di sisi lain, pendidikan yang berisikan kebaikan dan kemuliaan tidak serta merta dapat langsung disaksikan hasilnya. tantangan terasa menjadi beban tersendiri bagi guru yang bersangkutan, terutama ketika nilai-nilai kebaikan yang diajarkan tidak langsung dilaksanakan oleh siswa dengan berbagai alasan. Banyak guru, terutama mapel rumpun humaniora mengeluhkan sulitnya pembelajaran dan transformasi ilmu tentang norma, adab dan aturan kepada murid, terlebih dalam praktik kehidupan sehari-hari. Seperti ilmu tingkat dewa yang hanya ada di angkasa, laksana bunga indah namun tak kunjung berbuah, atau memelihara hewan yang dagingnya tak enak dimakan. Ilmu tentang keutamaan, norma dan kesusilaan seakan hanyalah teori yang jauh dari aplikasi, impian yang jauh dari harapan. Maka dibutuhkan inovasi agar rumpun ilmu ini dapat diajarkan secara terintegrasi, sehingga antara teori dan aplikasi dapat terwujud satu sistem yang terpadu. Inilah tantangan, dan dalam setiap tantangan ada kesempatan untuk meraih harapan.

Secara teori, pembentuk pribadi anak, terutama remaja terdiri pada tiga lingkungan yaitu, rumah, masyarakat dan sekolah. Pengaruh ketiganya pada masing-masing anak berbeda kondisinya, sangat tergantung dengan intensitas dan kualitasnya. 1) Rumah, inilah domain orangtua dalam memberikan pendidikan jati diri, pengisian ruhani dan pembentukan pribadi pada setiap anak. Orangtua memiliki kewenangan dan otoritas penuh dalam pembentukan jiwa dan pribadi anak. Faktor ekonomi, budaya, rohani dan pendidikan orang tua turut berpengaruh, namun faktor budaya dan rohani adalah yang paling besar pengarunya dalam pembentukan pribadi. 2) Masyarakat, inilah domain masyarakat yang sangat heterogen, baik kultural, ekonomi dan pendidikan. Pada situasi tertentu lingkungan sosial sangat dominan, mencapai hampir 80% pembentuk kepribadian remaja. Teman sebaya dan teman senior punya pengaruh yang sangat kuat dalam proses perubahan kejiwaan. 3) Sekolah, inilah domain pendidik, pengajar dan pembimbing di sekolah. Inilah lingkungan terbaik dan paling kondusif untuk pembentukan pribadi anak-anak dan remaja. Keberadaan guru yang dianggap mempunyai kharisma, keilmuan, psikologi dan kewenangan penuh dalam area sekolah adalah modal utama yang sangat ampuh. Perintah dan ajakan guru secara absolut (mutlak) akan dilakukan dan diikuti oleh siswa.
 

Dalam tataran aplikasi dalam dunia pendidikan, maka gabungan ketiga lingkungan menjadi satu sistem adalah lingkungan yang terbaik dalam pembentukan pribadi remaja. Inilah yang diterapkan oleh lembaga pendidikan dengan pola asrama (boarding school), karena ketiga lingkungan yang sudah didesain dalam satu sistem dan kultur yang kondusif. Banyak sekolah baik negeri maupun swasta yang sudah menerapkan pola asrama, untuk wilayah sekitar kabupaten Magelang contohnya SMA Taruna Nusantara, SMP-SMA Nurul Fikri, SMA Van-Lith Muntilan dan banyak pondok pesantren baik yang modern (PPM) atau yang klasik. Di kota lain semisal Bogor, Bekasi, Banten, Jakarta, Yogyakarta hingga Surabaya banyak sekolah sejenis dengan ragam, kelebihan dan keunggulan masing-masing. Pola asrama ini juga diterapkan pada sekolah yang tergolong lembaga kedinasan. Dan yang mengherankan justru banyak orangtua murid yang berminat untuk mendaftarkan putra-putri mereka pada sekolah berasrama, yang sudah barang tentu lebih mahal, tidak lain mereka ingin agar anaknya bisa belajar pada sekolah yang tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan dan teknologi semata, namun lebih kepada penempaan diri pribadi yang lebih unggul karena pendidikan di sini tidak hanya pagi sampai siang, namun 24 jam dari pagi sampai pagi lagi. Bisa dibayangkan beratnya perjuangan dalam pendidikan yang jadwalnya penuh dengan aturan yang sangat ketat.
 

Untuk sekolah umum (non asrama) kita bisa mencoba belajar dari kampus salah satu PTN di Yogyakarta. Bila pembaca memasuki kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (UIN SUKA), di halaman depan akan langsung melihat papan / plakat bertuliskan “Laboratorium Agama Masjid Sunan Kalijaga”. Sebuah kata yang simpel namun sarat makna, masjid di kampus ini yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat ritual peribadatan, namun sebagai laboratorium aplikasi dalam seluruh aspek kehidupan beragama. Belajar dari UIN SUKA, maka kita juga bisa menerapkan dan mengembangkan masjid / mushola yang ada di sekolah sebagai Laboratorium Agama yang bisa digunakan sebagai ruang utama praktek pembelajaran agama dan pembentukan karakter siswa. Melalui Laboratorium Agama masjid / mushola sekolah ini, guru bisa mengajarkan pada siswa untuk mendekat dan bersentuhan langsung dengan pembelajaran praktik yang membuat mereka dekat dengan Alloh, dekat dengan sesama dan merasakan makna hidup yang sebenarnya. Hal inilah yang kemudian menjadi inspirasi untuk dibuat kesimpulan tulisan kali ini, secara sederhana kami uraikan sebagai berikut:
  1. Propaganda kebaikan, bahwa kebaikan dan keutamaan harus terus didengungkan dan dijadikan program yang harus diaktualisasikan - walau dari sedikit demi sedikit, dan harus dijalankan - walau hanya setapak demi setapak. Siswa SMP yang tergolong usia remaja umumnya masih labil dan sangat butuh perhatian, maka untuk menanamkan kebaikan harus kerap diingatkan, senantiasa disuruh, sering diajak serta tidak bosan diajari dalam melakukan suatu kebaikan,  ibaratnya untuk menyuruh minum obat 3 kali sehari ya harus 3 kali diingatkan, 3 kali diajak dan 3 kali ditemani untuk minum obat, agar anak benar-benar minum obal 3 kali dalam sehari.
  2. Hidupkan Laboratorium Agama Masjid Sekolah, dengan cara mengajak mereka melakukan sholat, minimal sekali dalam sehari yaitu sholat dhuhur berjamaah. Insya-Alloh akan berdampak positif, dalam proses pembinaan mental dan kepribadian siswa akan menjadi lebih mudah. Manfaat sholat berjamaah bersama siswa bagi guru diantaranya menjadikan guru lebih tawadhuk, lebih berbobot, lebih bersih dan bercahaya, lebih kharismatik dan kondisi emosi lebih tenang, hal ini akan menambah rasa khidmat (hormat) siswa pada guru. Di masjid itu tidak ada kasta atau derajat, murid bisa duduk sejajar dengan guru, rakyat sebaris lurah, tukang sayur boleh berdiri di shof lebih depan dari kepala KUA dan seterusnya. Pelajaran berharga dalam sholat berjamaah adalah semua sama sebagai hamba yang rukuk dan sujud pada Alloh semata. Maka jangan ragu, mari sukseskan program ini untuk menjadi lebih baik, Prinsipnya : "Jagalah sholat, walaupun kita bukan orang yang baik, kelak, sholat itulah yang akan membuat kita menjadi baik".
  3. Field Study, bagian penting dalam pembelajaran PKn dan IPS. Laboratorium PKn dan Laboratorium IPS. mutlak dibutuhkan untuk tegaknya norma sosial berbangsa dan bernegara, sebagaimana praktik di laboratorium matematika gaya Pak Eko Sarwono dan praktikum di laboratorium IPA ala Bu Dyah Purwaningrum. Laboratorium PPKn di SMPN 1 Bantul bisa menjadi contoh dan acuan, begitu pula Laboratorium IPS bisa berinovasi dengan bentuk dan wahana yang lebih sesuai. Pada prinsipnya belajar tidak terbatas hanya di kelas, tetapi juga di luar keas seperti kegiatan field study, artinya siswa pergi ke sebuah desa dan belajar peduli kehidupan desa, atau kunjungan ke kantor desa, kecamatan, puskesmas atau lembaga sosial dan kemasyarakatan (laboratorium sosial) seperti yang pernah dilaksanakan oleh salah satu guru IPS di sekolah ini beberapa tahun yang lalu.
  4. Pembiasaan (habituation), perilaku baik atau buruk terbentuk oleh kebiasaan yang dibentuk oleh pembiasaan. Siswa yang berkata jorok, bersikap buruk dan tidak punya sopan santun karena ia terbiasa berada dalam lingkungan yang serba boleh, dimana keburukan dibiarkan saja tanpa kendali yang berarti. Sebaliknya mereka yang santun karena terbiasa dalam kondisi yang kondusif untuk banyak melakukan kebaikan-kebaikan. Norma-norma baik agama, susila maupun sosial memang harus selalu diajarkan, ditegakkan dan dijunjung tinggi sebagai hal utama, oleh karena perlu dilakukan proses inovasi, kreasi dan modifikasi lingkungan agar kondusif.
  5. Butuh totalitas, tidak tanggung-tanggung, setengah hati atau menggantung. Kesuksesan program hanya bisa diwujudkan bila telah dicoba, dievaluasi, disempurnakan dan ditindak lanjuti. Faktor keteladanan sangat berpengaruh dan memegang peranan penting, guru yang hanya menyuruh akan berbeda efeknya dengan yang mengajak, menunggui, mengajari dan membimbing serta memberi penguatan. Untuk prinsip ini jangan takut di depan, jangan enggan menjadi pioner, jangan malas menjadi penyeru agar jangan dikatakan "gedhang uwoh pakel" yang artinya "omong gampang nglakoni angel". Jangan sampai kita menyuruh anak-anak untuk sholat jamaah dan melakukan kebaikan-kebaikan namun kita tidak turut serta melaksanakan dan ikut serta menjaganya. Di tahun-tahun awal guru harus rela hadir mengecek kelas, menggiring dan mengajak mereka hingga ke tempat sholat. Pastikan kita hadir dan ada di antara mereka, karena memang mereka butuh kehadiran kita, ajakan kita, sentuhan kita dan teladan kita.
Jangan berharap kesempurnaan, dan jangan menunggu hingga datangnya kondisi yang sempurna yang layak untuk memulai kebaikan. Justru pada kondisi yang belum kondusif inilah kita dibutuhkan proses kreatif dan inovatif untuk mewujudkan lembaga pendidikan yang kondusif dan visioner. Tidak penting siapa yang menjadi pencetus ide atau penggagas program, yang lebih penting adalah siapa yang siap bergabung dan mendukung program yang visinya adalah kebaikan dan keutamaan. Mari, kita sebagai insan pendidikan untuk menjadi pibadi seperti yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantara. Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani. Dimanapun posisi kita, baik di depan, di tengah atau pun di belakang kita tetap bisa memberikan sumbangsih bagi tegaknya pendidikan. Kita memang harus benar-benar stand by, sigap dan tanggap untuk mendukung setiap program kebaikan dan keutamaan, terlepas apakah itu rumpun kita atau bukan, bidang kita atau bukan, yang pasti selama masih bidang pendidikan.
 

Kata kunci tulisan ini adalah upaya membentuk karakter siswa dengan akhlak terpuji, yang ditandai dengan taat kepada Alloh SWT, hormat, sopan dan santun kepada guru, orang tua dan orang yang lebih tua. Inilah kondisi ideal yang diidamkan setiap orang tua siswa dan masyarakat. Untuk membentuk sekolah seperti itu memang tidak mudah, tidak semudah membalik telapak tangan, namun tanpa ada cita-cita dan usaha maka mustahil terwujud dengan sendirinya. Semua kembali pada besarnya usaha, bila ada sekolah lain yang bisa, maka sekolah kitapun bisa. Demikian, tulisan tentang rumpun humaniora (sosial) yang bagian akhirnya justru dapat kami selesaikan ketika kondisi badan sedang kurang sehat setelah 4 hari opname (di rumah sendiri). Tulisan ini agak panjang karena memang butuh agak banyak uraian dan pengembangan, semoga bisa menambah wawasan, pandangan dan yang terpenting semangat untuk siap menjadi pasukan pendukung dalam penegakan norma dan aturan di sekolah agar teruwujud sekolah yang kondusif sebagai kawah candra dimuka bagi siswa-siswa di wilayah Kepil dan sekitarnya. Selamat beraktifitas, selamat berkarya, semoga sukses. <61769>

Sabtu, 18 Februari 2017

Setelah Rampungkan Toilet dan Dapur Ruang Guru, Kini Garap Lantai 2 Sisi Barat

Rencana pembuatan toilet dan dapur di ruang guru sudah dicanangkan lebih dari setahun yang lalu dalam sosialisasi Rencana Pembangunan Toilet Guru April 2015. Sosialisasi dilakukan melalui presentasi kepada para dewan guru dan karyawan berupa paparan alasan dan rancangan desain disertai perkiraan biaya. Sosialisasi ini dilatarbelakangi oleh kenyataan jarak antara ruang guru ke toilet yang di kantor depan cukup jauh, terutama dalam kondisi mendesak dan darurat, belum lagi jika saat hujan karena harus memutar. Namun, memang susah dan cukup sulit untuk meyakin orang lain, apalagi sesuatu yang baru dan menyangkut dana. Benar kata salah satu tokoh pendidikan, bahwa setiap ide/gagasan baru memang tidak serta merta dapat diterima dan bahkan mungkin hanya dipandang sebelah mata. Artinya sosialisasi pertama belum mendapat respon yang berarti, karena baru sekitar 6 orang yang mendukung dan siap memberikan donasi. Mungkin saja karena yang melakukan sosialisasi hanya guru yunior, bukan dari kalangan senior. 

Merasakan betapa kebutuhan toilet di ruang guru, maka desain paket toilet ruang guru yang dipadu dengan dapur dan ruang istirahat di desain ulang, kemudian di presentasikan ulang tepat setahun kemudian. Alhamdulillah, atas ijin dan petunjuk kepala sekolah Bu Dyah Nuryani Praptiningsih, M.MPd. pada sosialisasi yang kedua ini respon sangat bagus, dan langsung bisa dikumpulkan dana secara swadaya dari para guru dan karyawan SMP Negeri 2 Kepil. Di bawah kendali langsung Bapak Satiyun, S.Pd selaku wakil kepala sekolah sekaligu penanggung jawab program, proses pengerjaan toilet ruang guru berjalan lancar tanpa hambatan berarti. Ruang toilet dan dapur yang terletak di sebelah timur ruang guru kini telah siap pakai dengan kualifikasi yang memadai, terdiri 2 ruang toilet, 1 dapur, 1 ruang sholat dan wastafel di bagian paling depan.

Toilet ruang guru ini sangat dirasakan manfaatnya, tidak perlu repot jauh ke kantor depan dan privasi guru terasa lebih terjaga. Ruang dapur juga sangat dirasakan manfaatnya, dengan tersedianya kompor, rak piring yang lengkap dengan sajian dapur kejujuran swalayan berupa mie instan dan minuman siap seduh, menambah kreatifitas ibu-ibu guru menyajikan berbagai masakan di sela-sela jam kosong. Terasa sekali keakraban dengan berbagai masakan sederhana yang dibuat untuk dinikmati bersama-sama. Beberapa ibu guru menjadi rajin memasak, diantaranya Bu Laras, Bu Utami dan Bu Prih. Walau sekedar masak lompong, daun singkong atau kangkung yang dipadu dengan sambel dan ikan asin rasanya begitu nikmat, apalagi ketika lapar dan dalam suasana kebersamaan.

Dari laporan penanggung jawab, total donasi yang telah terkumpul untuk pembangunan toilet dan dapur ruang guru ini berjumlah 14.5 juta rupiah. Beberapa menyumbangkan dana hingga besaran 1 juta, beberapa berupa bahan bangunan, dan beberapa berupa kelengkapan ruangan dan kebutuhan peralatan dapur. Satu hal yang istimewa dan perlu dicatat bahwa donatur pertama pembuatan toilet ruang guru ini justru dari pihak luar, yaitu salah satu alumni sekolah ini dengan inisial NR yang saat ini bekerja di luar negeri. Alumni ini saking ingin berbaktinya pada guru dan ingin berpartisipasi pada sekolah, begitu kami sampaikan gagasan lewat internet (FB) ia langsung merespon memberikan dukungan dan langsung menyanggupi dana yang cukup besar bila diukur rata-rata donasi yang masuk.

Adapun pembangunan gedung di lantai atas, ruang yang sebelah barat saat ini baru mencapai 75 persen, tinggal pekerjaan finishing berupa penghalusan (acian) dan pengecatan. Secara keseluruhan banguan lantai atas terdiri dari 3 ruang kelas, namun saat ini yang sudah siap pakai ada satu ruang, satu ruang dalam proses (75%) dan satu ruang paling timur menunggu kebijakan berikutnya. Dana pembangunan ruang sebelah barat ini berasal dari dana SSM atau swadaya sekolah. Bila seluruh bangunan ruang kelas lantai 2, maka akan menambah ruang kelas yang bisa digunakan sebagai ruang tambahan dan ruang serba guna, dan pasti akan menambah gagah wajah sekolah.

 Atas semua bantuan - baik yang berupa ide, gagasan dan dana - dari para donatur kami atas nama sekolah menyampaikan ucapan terima kasih. Semua donasi insya-Alloh sudah tersampaikan dan digunakan untuk pembangunan fasilitas toilet dan dapur di ruang guru ini. Walau mungkin para donatur tidak tinggal dan ikut menikmati fasilitas ini, namun yang pasti bantuan ikhlas akan menjadi pahala amal jariyah yang tiada putus-putusnya, insya-Alloh. <61691-720>




Kamis, 19 Januari 2017

Pola UNBK pada Ujian Nasional Tahun 2017, Tantangan Antara Asa dan Realita

Seperti telah kami tulis pada postingan pada awal Desember tahun 2016 yang lalu bahwa merujuk penolakan Wakil Presiden Jusuf Kalla terkait moratorium ujian nasional, maka tahun 2017 ini ujian nasional akan tetap dilaksanakan. Dalam pelaksanaan UN tahun ini tidak jauh berbeda dengan UN tahun 2016 yang lalu, yaitu melalui 2 sistem yang pertama adalah sistem offline dimana para peserta ujian akan mengerjakan soal dengan menggunakan lembar jawab komputer atau PBT (Paper Based Test). Sistem yang kedua adalah dengan sistem online atau yang lebih dikenal dengan Ujian Nasional Berbasis Komputer atau CBT (Computer Based Test). Pada pola UNBK atau sistem CBT para  peserta ujian akan mengerjakan ujian langsung melalui komputer atau laptop yang terhubung dengan jaringan internet.

Untuk ujian nasional tahun 2017 ini sekolah yang menerapkan pola UNBK akan semakin banyak, hal ini dikarenakan ada himbauan dan kebijakan dari menteri tentang UN tahun 2017 ini. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy sudah mengeluarkan Surat Edaran Nomor 1 Tahun tentang 2017 tentang pelaksanaan ujian nasional 2017. Dalam SE tersebut, ujian diprioritaskan dengan sistem ujian nasional berbasis komputer (UNBK). Sekolah yang bisa ikut UNBK disarankan memiliki komputer 20 unit. Bagi sekolah yang belum menyediakan sarana prasarana sendiri, maka siswanya bisa mengikuti ujian di tempat pelaksanaan UNBK yang berada di radius 5 kilometer. Artinya, bagi sekolah yang belum memiliki laboratorium komputer yang memadai dapat mengikuti UNBK dengan cara menginduk pada sekolah lain yang memiliki sarana prasarana memadai, misal ke SMA atau SMK di lokasi yang terjangkau.

Ada banyak keunggulan pola UNBK ini, yang utama adalah dari segi integritas (kejujuran) maka pola UNBK ini sangat bagus dan mendekati sempurna, karena kemungkinan untuk mencontek jawaban teman sangat kecil, hal ini karena soal diacak oleh sistem sehingga jawaban untuk tiap peserta berbeda, yang kedua hemat kertas serta tidak harus menyediakan ruang ujian yang banyak. Di sisi lain ada kendala besar bagi sekolah yang masih terbatas sarana prasarananya, terutama yang berkaitan dengan laboratorium komputer yang terintegrasi dengan jaringan internet. Inilah kendala terberat dalam pelaksanaan UNBK, yang belum mempunyai laboratorium yang memadai berarti harus melakukan pengadaan komputer client, server dan perangkat kelengkapan jaringan internet untuk keperluan ujian on-line. Jumlah komputer client yang harus disediakan minimal 1/3-nya, karena dalam sehari hanya diperbolehkan dilaksanakan 3 shift . Artinya jika jumlah peserta 100 siswa, maka harus disediakan komputer client sebanyak 34 unit. Komputer client, sever dan perangkat jaringan sudah ditentukan spesifikasinya karena berkaitan dengan stabilitas dan kecepatan koneksi pada saat ujian berlangsung. Oleh karena itu, untuk tahun ini sangat dianjurkan (diutamakan) Ujian Nasional  berbasis komputer di peruntukkan bagi sekolah yang sudah memenuhi persyaratan yang sudah di tentukan oleh pihak penyelanggara dan sebelumnya sudah melakukan registrasi. Untuk lebih jelasnya berikut persyaratan untuk sekolah peserta Ujian nasional berbasis Komputer.

PERSYARATAN SEKOLAH PESERTA UNBK (UJIAN NASIONAL BERBASIS KOMPUTER) TAHUN PELAJARAN 2016/2017
1. Tersedia petugas laboratorium komputer (minimal 1 proktor dan 1 teknisi);
2. Dapat menyediakan sarana komputer dengan spesifikasi (minimal) sebagai berikut:
a. Server (utama dan cadangan):
    1. PC/Tower/Desktop (bukan laptop)
    2. Processor Xeon atau i5
    3. RAM 8 GB, DDR 3
    4. Harddisk 250 GB
    5. Operating System (64 bit): Windows Server/Windows 8/Windows 7/Linux Ubuntu 14.04
    6. LAN CARD, dua unit
    7. UPS (tahan 15 menit)
    8. Jumlah server mengikuti rasio 1 : 40 (1 server maksimal untuk 40 client)
    9. Cadangan 1 server.
b. Client (utama dan cadangan):
    1. PC atau Laptop
    2. Monitor minimal 12 inch
    3. Processor minimal dual core
    4. RAM minimal 512 MB
    5. Operating System: Windows XP/Windows 7/Windows 8/LINUX
    6. Web Browser: Chrome/Mozilla Firefox/Xambro
    7. Hardisk minimal tersedia 10 GB (free space)
    8. LAN Card
    9. Jumlah client mengikuti rasio 1 : 3 ( 1 client untuk 3 peserta)
    10. cadangan minimal 10%.
    11. Headset/earphone (untuk ujian listening SMA/MA dan SMK)
c. Jaringan internet dengan bandwidth minimal 1 Mbps
d. Jaringan area lokal (Local Area Network – LAN)

Apapun pola ujian yang akan dilaksanakan, silahkan untuk menentukan pilihan sesuai kesiapan sekolah masing-masing. Tentu saja bukan sekedar mengikuti trend atau sekedar menutup rasa malu jika tidak ikut trend UNBK, namun yang lebih penting adalah kesiapan sekolah dalam berbagai hal. Pertama, kesiapan sarana dan prasarana menjadi faktor utama, sehingga tidak harus menginduk ke sekolah lain yang tentu akan merepotkan mobilisasi pesertanya, terutama jika di daerah yang sulit transportasinya. Kedua, kesiapan mental terkait pola UNBK yang soal dan jawabnya secara on-line, ini perlu kesiapan siswa dalam menggunakan IT terutama dalam ujian berbasis on-line, perlu banyak latihan agar terbiasa dan tidak menambah masalah baru. Ketiga, tidak kalah penting adalah kesiapan materi, penguasaan materi soal-soal ujian nasional, bagaimanapun inilah yang harus diutamakan.

Demikian, semoga masing-masing sekolah bisa mempersiapkan diri dalam segala hal, agar ujian nasional tahun 2017 ini bisa memperoleh hasil yang optimal sesuai yang diharapkan. Semangat teman-teman guru se nusantara, mari kita upayakan layanan pendidikan yang terbaik bagi calon-calon pemimpin masa depan. Selamat bekerja, semoga sukses.<61320-340>

Senin, 09 Januari 2017

Catatan Akhir Tahun 2016 - Spirit Perjuangan Guru Menapaki Tahun 2017

Banyak kejadian, banyak catatan dan kenangan tentang hal-hal yang dilakukan sepanjang tahun 2016. Banyak suka telah dirasakan, namun banyak pula duka dan luka semasa perjuangan dalam menjalani setiap fase kehidupan yang telah dilewati. Tak terasa tahun 2016 telah berlalu dan tahu-tahu telah berganti menjadi tahun baru 2017. Nuansa kemeriahan tahun baru begitu riuh melingkupi rasa, memenuhi segenap asa, walau secara hakikat tak banyak membawa perubahan yang berarti. Namun yang pasti, secara angka jumlah usia bertambah, dan jatah umur menjadi berkurang. Lalu apa yang sebenarnya harus dilakukan untuk menyongsong tahun baru agar tidak berlalu begitu saja tanpa ada dampak positif yang bisa memperbaiki pola kehidupan baru yang lebih baik. Niat dan semangat untuk berubah adalah hal paling utama, dan inilah modal awal yang berharga untuk menapaki kehidupan baru yang lebih baik di tahun yang baru. Inilah yang melatar belakangi tulisan pembuka di awal tahun 2017 ini.

Diawali dengan cerita pengantar kerja (bukan pengantar tidur), "Pada zaman dahulu, di suatu kampung di ujung negeri diceritakan ada warga baru yang terlihat istimewa, pandai, hebat dan berpengaruh. Hal itu membuatnya menjadi figur penting dan sosok panutan, seakan tak ada hal lain pada dirinya kecuali kebaikan. Banyak memberi kajian ilmiah, motivasi dan sentuhan rohani. Hanya saja kemudian muncul satu hal yang kemudian menyebabkan pamornya menurun, grafik kebaikannya juga menurun. Merasa paling benar dan paling pintar, merasa paling berilmu dan paling banyak tahu. Giliran berikutnya menjadi sosok yang selalu ingin didengar dan diikuti, ingin didepan dan dikedepankan dan ingin dianggap utama dan diutamakan". Kehidupan dalam masyarakat, lembaga atau komunitas bukan seperti panggung sandiwara atau sinetron pada layar kaca - menjadi pemeran utama yang serba sempurna. Wajah diri sesungguhnya adalah kehidupan dalam keseharian, kesesuaian kata dan perbuatan, semangat pengorbanan dan kebersamaan, saling mengisi dan melengkapi. Tak ada satupun jiwa yang sempurna, tak ada satupun orang yang bisa mencapai kesuksesan sendiri, dan tak ada manusia “superman” yang hebat, yang bisa bekerja sendiri, mengatasi segala hal secara sendiri.  

Cerita seperti di atas bisa terjadi pada siapa saja, kapan saja dan di mana saja, apakah guru, ustad, kyai, tokoh agama dan tokoh masyarakat, termasuk kita yang warga biasa. Suatu saat kita bisa terlihat hebat, terlihat kuat, terlihat rajin bahkan terlihat alim. Namun seiring waktu semangat bisa saja berkarat, motivasi bisa saja terurai dan rasa ikhlas bisa tergilas, mana kala kita lupa diri, saat kita tidak mampu menjaga diri kala kita tidak mau introspeksi dan mawas diri. Dengan sendirinya waktu akan menunjukkan siapa kita sebenarnya, yang kadang tak sebaik yang kita ceramahkan, tak sekuat apa yang kita motivasikan dan tak serajin yang kita sarankan. Bahkan bisa terjadi kita jatuh terpuruk, lebih buruk dari mereka yang pernah kita ceramahi, pernah kita motivasi. Mereka yang kemudian menjadi lebih rajin bangun malam bertemu Tuhannya, yang sholat subuhnya selalu di shaf terdepan, namun tak pernah bercerita tentang ibadahnya, tak pernah menunjukkan kebaikan-kebaikannya, sementara kita yang banyak berkoar-koar tentang ibadah, sunah dan hal lainnya, namun jamaah sholat subuh di masjid kita jarang kelihatan, padahal itulah tolok ukurnya.

Tulisan ini hadir, sebagai jeda di antara tulisan seri bertajuk inovasi pendidikan yang saat ini baru sampai pada seri ke-6 dan tulisan seri ke-7 akan menguraikan tentang humaniora. Jujur, sebenarnya ada keinginan untuk segera menyelesaikan seluruh tulisan seri inovasi ini yang menurut gambaran awal berjumlah 12. Dan untuk berikutnya kami telah merencanakan akan menulis seri baru bertema Puzzle Energy, mengangkat tema komponen sinergi dalam komunitas sebagai aktualisasi bersama, semoga dapat kami mulai selambatnya pertengahan tahun 2017 mendatang. Sekedar berbagi rasa, mungkin tulisan-tulisan di website ini tidak bermanfaat langsung bagi pembaca yang secara khusus kami tujukan untuk para pengajar, guru atau sering disebut sivitas akademik, namun demikian penulis akan berupaya terus menuliskan apa yang ada dalam benak kami, dengan harapan suatu saat ada satu atau beberapa hal yang berguna dan bermanfaat bagi pembaca.

Kembali ke tema jeda akhir tahun, waktu berjalan terus, hari berganti minggu, minggu berganti bulan dan bulan berganti tahun dengan berbagai catatan kejadian setiap harinya. Kita bisa mengibaratkan 365 hari yang berlalu sebagai lembaran kain yang beraneka warna, ada yang putih bersinar cerah, ada yang berwarna paduan yang serasi dan indah, ada juga yang muncul bercak-bercak kotor, ada yang terlihat usang hingga pudar warna aslinya dan bahkan ada yang hitam gelap dan tak berbentuk. Oleh karena itu ada baiknya kita mencoba melakukan kilas balik tentang kerja dan kinerja kita, sikap dan perilaku kita, tentang kata dan ucapan kita, bahkan tentang ungkapan perasaan dan lintasan hati - yang telah dilakukan selama setahun berjalan.

  • Dalam karya, mungkin banyak karya-karya kita yang sukses, yang berguna, dan membawa kemanfaatan bagi diri, keluarga, teman kerja, tetangga dan masyarakat banyak. Namun, bisa dipastikan masih ada juga yang tercecer, tertunda, terbengkalai bahkan tidak tertangani dengan sempurna, karena lemahnya motivasi dan kurang tertatanya manajemen waktu dan tidak terjaganya rasa amanah terhadap tugas dan tanggung jawab pada profesi yang membesarkan kita.
  • Dalam bidang sosial, secara jumlah mungkin teman-teman kita semakin banyak, secara wilayah mungkin pergaulan kita semakin melebar dan semakin jauh jaraknya, bahkan dengan akun social media lingkup pertemanan menjadi tak terbatas jarak dan jumlahnya, kita bisa berteman dengan banyak orang walau belum pernah berjumpa dalam kehidupan nyata. Namun ternyata tidak serta merta memberi komtribusi yang baik, karena dengan itu bisa jadi kita justru mengabaikan teman-teman yang dekat, yang secara fisik lebih nyata dan lebih sering bertemu, namun terlewatkan karena rasa, sikap dan perilaku kita yang telah berubah.
  • Dalam ibadah dan aktifitas ruhiyah, bagi seorang muslim mungkin sudah banyak yang kita lakukan dan kita raih, sholat, puasa, zakat bahkan mungkin umroh / haji. Yang begini sangat patut untuk selalu disyukuri dan dijaga kontinuitasnya. Namun bisa juga terjadi yang sebaliknya, dimana dari waktu ke waktu kualitasnya semakin menurun, terutama saat ibadah hanya dilakukan asal-asalan, hanya sekedar membatalkan kewajiban. Hingga akhirnya ibadah dilakukan seakan sekedar amalan tanpa penghayatan, predikat tanpa hakikat.
  • Terakhir dalam hal kecerdasan dan kepandaian, secara angka mungkin termasuk kategori intelegensi tinggi, cerdas, brilian bahkan jenius. Namun bisa jadi kecerdasan yang hanya sebatas teori, kepandaian sebatas argumentasi dan kejeniusan sebatas pengakuan, karena hanya berorientasi kepentingan dan keuntungan pribadi. Kecerdasan, kepandaian, kejeniusan baru berarti dan berdaya guna jika dicurahkan dan dikembangkan untuk kepentingan sesama, kepentingan umum dan kepentingan negara. 
Walau tahu bahwa berfikir negatif tidak akan ada untungnya, sebaliknya akan banyak membawa kerugian, namun rasanya begitu sulit melepaskan diri darinya. Sikap pesimis, apatis, berprasangka buruk dan menganggap benar sendiri adalah penyakit kronis yang susah untuk disadari, terlebih untuk disembuhkan. Tak jarang kita malah membenci dan menutup diri dari nasehat, termasuk kepada orang yang memberi nasehat, hal ini karena kita merasa benar sehingga tertutup dari kebenaran yang sesungguhnya. Hanya jiwa-jiwa yang selalu mawas diri, yang banyak merenungi jati diri dan yang belajar memaknai hakikat hidup ini yang akan bisa keluar untuk melakukan intospeksi untuk perbaikan diri. Sadar bahwa kebaikan yang dilakukan sangat sedikit dan tidak sebanding dengan keburukan, kekurangan dan kelalaian yang telah dilakukan.

Guru bukan malaikat yang terbebas dari dosa, guru adalah manusia biasa yang bisa salah dan khilaf. Kekurangan dan kelemahan juga bagian dari profesi yang mulia ini. Tak mengelak dari itu, penulis sangat menyadari kekurangan itu, kelemahan dan kesalahan yang dilakukan hingga penghujung tahun 2016, oleh karena itu perkenankan kami menuliskan ini beberapa point berikut, dengan tujuan sebagai pengingat dan berharap dapat motivasi diri sendiri dan bagi pembaca semua menapaki jalan panjang berikutnya di tahun 2017 ini;
  1. Jangan takut susah, jangan takut menderita dan jangan takut berjuang. Mereka yang sukses dari tetes keringat dan kucuran darah jauh lebih berharga dibanding mereka yang sukses tanpa perjuangan. Mereka yang sukses setelah melewati masa sulit, merasakan susahnya menjalani rangkaian kehidupan yang penuh perjuangan akan lebih dewasa, lebih bijaksana dan lebih menghargai betapa sukses ini sangat luar biasa.
  2. Jangan mudah mengeluh apalagi terlalu banyak mengeluh, karena pekerjaan tidak akan selesai dengan mengeluh dan kehidupan tidak akan berubah hanya dengan mengeluh. Berpikir positif, jalani saja apa yang musti dijalani dan lakukan saja yang bisa dilakukan sepanjang baik dan membawa kebaikan.
  3. Jangan cepat berputus asa, jika selama ini telah bersabar - bersyukurlah telah mampu bersabar, jangan berhenti bersabar karena jika berhenti artinya hanya sampai di situ kelas dan kualitas kita. Tetaplah bersabar hingga kita dimenangkan karena kesabaran yang kita lakukan.
  4. Jangan lepaskan harapan dan impian. Jika selama ini telah berdoa, teruslah dan tetaplah berdoa hingga meraih sukses, bahkan jangan berhenti dan tetap berdoa ketika telah sukses agar tidak lalai dan lupa diri. Betapa banyak orang sukses akhirnya jatuh dan terpuruk karena lupa berdoa, lupa jati diri dan lupa hakikat diri.
  5. Jangan lepaskan kebaikan, sekecil apapun. Jika ada teman yang baik, yang mau memberi kita nasehat dan mengingatkan kita untuk kebaikan - sekali-kali jangan kita lepaskan, dia yang berani menunjukkan kesalahan dan keburukan kita demi kebaikan kita, pastikan dia teman baik kita. Jika ada kesempatan berbuat baik segera lakukan, karena waktu tak akan terulang dan kesempatan belum tentu berulang. Banyak orang merugi dan menyesalkan karena meremehkan kebaikan kecil dan menunggu kebaikan yang lebih besar yang tidak pasti kedatangannya.
  6. Jangan menyimpan dendam, jangan jadi notulis bagi kesalahan orang lain. Siapapun kita pasti pernah salah, pasti pernah khilaf, pasti memiliki kekurangan. Menyimpan kesalahan orang dan memupuknya menjadi dendam hanya akan semakin menjadi beban bagi diri kita sendiri. Kita akan menjadi sosok yang kaku dan tertutup, kurang bergaul dan susah bersosialisasi dan akan menjadi pribadi yang introvert dan selalu berprasangka buruk. Bila merasa salah mudahlah untuk meminta maaf dan akan lebih mulia bagi mereka yang memiliki hati yang mudah memaafkan.
Para programer di Microsoft Corp. sangat hebat, namun mereka tidak bisa bekerja sendiri dalam membuat OS Windows 10 dan MS Office 2016, bagaimanapun programer yang hebat itu nyatanya dibesarkan oleh keluhan dan masukan dari penggunanya. Begitu pula dengan perusahaan bonafid sekelas Astra, ia dibesarkan  oleh konsumen yang kritis melalui keluhan yang dijaring lewat bengkel Ahass, Nasmoco atau Auto2000. Demikian pula mereka yang menjadi besar dan dibesarkan di dunia pendidikan, mereka tidak "ujug-ujug" hebat dan besar tanpa masalah dan tantangan. Oleh karena itu, marilah kita menjadi pribadi yang terbuka, yang kritis, yang kreatif dan inovatit agar bisa memberi manfaat bagi teman-teman yang ingin menjadi lebih besar. Selanjutnya mari kita menjadi jiwa berlapang dada, yang tidak anti kritik, yang membuka seluas-luasnya kritik dan masukan untuk membesarkan diri, bukan untuk menjadi orang besar, namun menjadi orang yang berjiwa besar.  Menjadi sosok pribadi yang dikenal baik itu penting, namun lebih penting menjadi pribadi yang benar-benar baik, walau tidak dikenal, dan inilah kebaikan yang sesungguhnya.

Terima kasih teman-teman spesial di SMP Negeri 2 Kepil yang hebat, yang menginspirasi, yang selalu sabar dan suport untuk memajukan pendidikan di Kepil dan sekitarnya.  Mari jalankan amanah masyarakat ini dengan penuh dedikasi, penuh perjuangan dan penuh motivasi, mencerdaskan anak-anak bangsa yang kelak akan memimpin kita dan anak keturunan kita. Sebagian di antara mereka ada dari kalangan yang miskin, bahkan mungkin sangat miskin, yang tak pernah berfikir untuk mengganti sepatu lusuhnya, kaus kaki robeknya, atau tas yang telah rusak resletingnya. Kobarkan semangat juang mereka untuk belajar, agar mereka bisa menjadi insan pendidikan yang berkualitas, cerdas dan mau bekerja keras, karena hanya dengan pendidikan yang baik yang bisa merubah nasib mereka. Mantapkan diri untuk menjadi bagian dari pendidikan, karena Pendidikan adalah salah satu pemutus mata rantai kemiskinan. Selamat beraktifitas, selamat berjuang, semoga sukses. <61120>