text

Selamat Datang di Blog SMP N 2 Kepil Wonosobo ... Sekolah SEJUTA IMPIAN, ... Awali Suksesmu Dari Sini ... Mulailah segala sesuatu dengan BISMILLAH ...

Kamis, 13 Mei 2021

SMPN 2 Kepil : Selamat Hari Raya Idul Fitri 1442 H

Alhamdulillah, rangkaian ibadah puasa ramadhan sebulan penuh telah selesai ditunaikan, tentu dengan berbagai cerita baik cerita suka maupun duka. Tetapi dibalik semua itu yang lebih utama adalah dengan bulan Ramadhan yang penuh berkah ini adalah nuansa kedamaian dan lahan subur bagi tumbuh mekarnya keimanan yang ada dalam jiwa. Dengan keimanan yang tertanam di dalam dada akan menjadikan pribadi yang kuat dan kokoh dalam menjalani segala bentuk ujian kehidupan.

Melalui media ini kami sampaikan ucapan selamat atas kemenangan atas perjuangan melawan hawa nafsu selama bulan puasa dan permohonan maaf atas segala kesalahan dan kekurangan kami kepada semua sivitas akademika SMPN 2 Kepil (siswa, guru dan karyawan), juga kepada semua wali murid, tokoh masyarakat, tokoh agama dan semua masyarakat. 

Dengan segala kerendahan hati kami mohon untuk menyampaikan ucapan tulus ini, atas nama Pimpinan, segenap Pembantu Pimpinan, semua Guru dan Karyawan SMPN 2 Kepil menyampaikan ucapan :

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1442 H, TAQOBALALLOHU MINNA WAMINKUM, MINAL A'IDZIN WAL FAIDZIN, MOHON MAAF LAHIR & BATIN.



Dengan sepenuh asa dan sejuntai hikmah teriring doa dan harapan, semoga kita semua diberikan kesehatan, diliputi perlindungan dan dianugerahi umur panjang sehingga bisa bertemu bulan Ramadhan dan Idul Fitri pada tahun mendatang. Satu lagi yang tak kalah penting adalah doa semoga kita selalu diberikan karunia Iman yang kuat, yang menjadi bekal keselamatan dunia hingga akhirat.

Ucapan Idul Fitri 1442 H juga kami sampaikan melalui saluran Youtube, dengan alamat link; https://youtu.be/klYA3TMoudg (<< klik ini)
Video Ucapan Idul Fitri ini dilihat di laman Youtube atau bisa di download langsung menggunakan Android, dan bagi pengguna laptop/PC bisa melihat langsung dari halaman web ini. Selamat berkarya, selamat beraktifitas, semoga sukses.



Selasa, 16 Maret 2021

Oase -12 : Marwah Guru, Refleksi Guru di Masa Pandemi

Dalam beberapa hari ke depan jika diukur dengan  hitungan hari, maka jumlah hari anak-anak tidak berangkat ke sekolah dan hanya belajar di rumah sudah genap satu tahun. Satu tahun dalam masa pandemi, anak-anak sekolah terpisah dan jauh dari guru, begitu juga guru tidak bisa mengajar siswa dengan semestinya. Situasinya sangat berbeda, terkungkung dalam kecemasan dan ketidakpastian, terasa kosong dan hampa, sangat jauh dari yang diharapkan. Pandemi ini menyebabkan berbagai keterbatasan dalam banyak hal, mulai dari sektor kesehatan, pendidikan, sosial, ekonomi, religi hingga pariwisata. Sektor pendidikan adalah salah satu yang paling berdampak, membuat perubahan yang cukup frontal dalam kegiatan pembelajaran, mulai dari pola, model, media hingga metodenya. Bagi seorang guru yang berjiwa pendidik, situasi ini terasa asing, tidak nyaman dan sangat tidak menyenangkan. Rasanya ada sesuatu yang hilang dari kehidupannya, kehilangan peran pendidik, kehilangan kedekatan hati, dan kehilangan kebahagiaan  dalam membimbing anak didik dalam belajar tentang banyak hal.

Proses pembelajaran dalam masa pandemi ini memang masih bisa berlangsung dan berjalan dengan model pembelajaran jarak jauh (PJJ), tetapi dari sisi rasa, nuansa dan semangatnya sangat jauh berbeda. Bercampur bermacam rasa berkecamuk dalam dada, ada emosi yang tertahan, ada rindu yang terpendam, ada juga galau tak karuan karena berada dalam ketidak-kepastian. Pandemi yang semula diprediksi dan diharapkan segera berlalu ternyata berkepanjangan dan tak tahu akan sampai kapan. Sungguh, guru tanpa murid serasa kosong, gelap gulita ibarat langit mendung yang tak berbintang, harapan seakan hampa seperti tak bersambutnya cinta seorang prajurit pada seorang gadis yang ternyata putri raja. Murid adalah nafas bagi kehidupan seorang guru, wahana berbagi asa kehidupan, tempat mencurahkan perhatian dan kasih sayang untuk berbagi ilmu, pengetahuan, keterampilan dan spiritual. Tanpa murid, maka guru akan banyak kehilangan nilai-nilai kehidupan, termasuk citra dan marwahnya.

Marwah guru itulah yang sekarang sedang berangsur pudar, diterjang pandemi yang mengoyak-ngoyak dunia pendidikan menjadi terlihat ambyar. Hal ini sangat terasa ketika beberapa pekan yang lalu penulis bertemu dan berbagi cerita dengan seorang teman seperjuangan, yang pernah bekerja bersama dalam waktu yang cukup lama. Sekitar 20 tahun lalu penulis sering ikut bekerja dalam beberapa proyek bangunan, dimana penulis menjadi pembantu tukang (laden) sementara teman tersebut adalah salah satu tukang di antara  tukang senior lainnya. Dalam berbagi cerita itu ada satu kalimatnya yang terasa mengaduk-aduk rasa, "enak ya jadi guru, ora bendino kerjo tapi bayare podo", artinya "enak ya jadi guru, tidak tiap hari kerja tapi gaji tetap sama". Kalimat itu disampaikan dengan lugas, lepas tanpa beban dan tanpa rasa sungkan karena merasa dekat, merasa pernah sama-sama bekerja kasar di proyek bangunan. Penulis yang pernah hidup kasar bersama mereka sungguh terhenyak dengan kata-kata itu, dan nyatanya apa yang dikatakannya sedikit banyak ada benarnya. Itulah kesan yang muncul di masyarakat terkait dengan marwah guru di masa pandemi.

Di masa pandemi marwah guru terasa menurun cukup drastis, karena dipandang sebagai pihak yang diuntungkan. Bisa jadi ini berawal dari adanya penampakan yang ekstrim di sekolah antah berantah, kecamatan mega hitam, kabupaten gelap gulita, dimana situasi sekolah yang lebih banyak terlihat sepi, tak nampak guru dengan aktifitas yang wajar sesuai tanggung jawabnya. Beberapa bahkan tak canggung berpenampilan layaknya seorang pensiunan, juragan atau pengusaha yang sedang liburan. Jarang berangkat ke sekolah, seperti bukan seorang guru, pagi hari sudah keliling melihat sawah garapan, sekali berangkat sudah jam 9, dan jam 11 bingung ingin segera menghilang untuk pulang, inilah yang menjadi indikasi kinerja guru dinilai menurun. Dampak yang muncul kemudian adalah kecemburuan sosial terhadap guru yang seakan-akan guru sangat enak, bebas tugas karena tidak berangkat ke sekolah, tidak perlu ongkos bisa, tidak keluar bensin tapi penghasilan tetap mengalir. Seakan guru adalah profesi yang diistimewakan, yang pendapatannya tidak terpengaruh oleh adanya pandemi terutama guru PNS. Sebagai seorang guru yang masih memiliki hati nurani, guru yang dilengkapi intuisi dan kepekaan rasa, kita tidak layak untuk menutup mata dan telinga, apalagi berlagak dan berargumen untuk membela dan menyucikan diri. Lalu apa yang sebaiknya dilakukan oleh guru di tengah pandemi ini, apakah menikmati saja kesempatan yang ada atau bersikap lain yang rasanya tidak sejalan dengan keinginan menikmati kehidupan.

Menikmati kehidupan yang nyaman bagi seorang guru adalah manusiawi, yang juga membutuhkan berbagai kenikmatan dan kebahagiaan, sama seperti manusia lain pada umumnya. Tatkala melihat orang lain yang enjoy dan seakan bebas tanpa beban, hadir juga rasa capek merasakan beban kerja yang terasa susul menyusul. Di saat seperti itu terkadang hadir "bisikan" mengapa harus bersusah payah, enakan ikut santai-santai sajalah. Tetapi, kesadaran tersentak dengan sentilan teman yang tukang batu, yang memberikan pelajaran bahwa guru adalah sosok tidak boleh seenaknya, harus bersikap sesuai dengan marwahnya. Bahwa guru harus melakukan kebaikan dengan atau tanpa penghargaan, guru harus hadir memberikan pelajaran dengan ada atau tidaknya pengawasan, guru harus menjadi motivator dan suri tauladan di mana pun berada.  Apapun yang terjadi guru diharapkan hadir dan berperan sebagai suluh dan penerang yang bisa memberikan cahaya, bagaikan lilin dalam kehidupan. 

Bagaikan lilin dalam kehidupan, itulah ibarat keberadaan guru, yang memiliki karakter dan kepribadian yang berbeda-beda. Karakater dan kepribadian itu yang kemudian terwujud dalam sikap, tindakan dan ucapan dalam kehidupan sehari-hari, yang sadar atau tidak dibaca, diamati dan dicatat oleh anak didik, oleh teman dan oleh masyarakat. Untuk itu barangkali perlu memahami makna dan filosofi yang terkandung dalam percakapan empat lilin berikut ini. 

"Ceritanya dalam kamar ada empat lilin yang menyala, sedikit demi sedikit habis meleleh, suasana begitu sunyi sehingga terdengarlah percakapan mereka. Lilin pertama berkata: “Aku adalah Perubahan, namun manusia tak mampu berubah, maka lebih baik aku mematikan diriku saja!” Demikianlah sedikit demi sedikit sang lilin padam. Lilin kedua berkata: “Aku adalah Iman, sayang aku tak berguna lagi, manusia tak mau mengenalku, untuk itulah tak ada gunanya aku tetap menyala”, begitu selesai bicara, tiupan angin memadamkannya. Dengan sedih giliran Lilin ketiga bicara: “Aku adalah Cinta, Tak mampu lagi aku untuk tetap menyala. Manusia tidak lagi memandang dan mengganggapku berguna. Mereka saling membenci, bahkan membenci mereka yang mencintainya, membenci keluarganya” Tanpa menunggu waktu lama, maka matilah Lilin ketiga. Suasana menjadi semakin redup, tanpa terduga, seorang anak saat itu masuk ke dalam kamar, dan melihat ketiga Lilin telah padam. Karena takut akan kegelapan itu, ia berkata: “ Ehh apa yang terjadi?! Kalian harus tetap menyala, Aku takut akan kegelapan!” Lalu ia menangis tersedu-sedu. Dengan terharu Lilin keempat berkata: “Jangan takut, janganlah menangis, selama aku masih ada dan menyala, kita tetap dapat selalu menyalakan ketiga Lilin lainnya: Akulah harapan”. Dengan mata bersinar, sang anak mengambil Lilin Harapan, kemudian menyalakan kembali ketiga Lilin lainnya, berpendar menjadi cahaya.

Menjadi cahaya yang terus berpendar, lilin yang tak pernah padam walau nyala apinya hanya temaram, tetapi bisa memberikan penerang dalam gelap, itulah filosofi dari Lilin Harapan. Itulah pesan bagi siapapun yang menjadi guru, bahwa sesungguhnya ia adalah harapan terakhir ketika yang lain jatuh berguguran. Yah, yang tidak pernah mati hanyalah harapan yang ada dalam hati kita, maka jangan lupa untuk selalu berdoa agar bisa menjadi guru harapan, guru yang menjadi dambaan anak didik, orangtua dan masyarakat. Minimal semoga kita dapat menjadi alat, seperti halnya sang anak tersebut, yang dalam situasi yang sulit bukan lari dan ikut bersembunyi, tetapi terpanggil untuk ikut menghidupkan kembali Iman, Cinta, dan Perubahan dengan Harapan! Di tangan guru ada harapan, di pikiran guru ada impian, di hati guru ada masa depan. Guru adalah aset bangsa yang tak ternilai karena hati guru selalu menyala dan terang, terlebih di masa pendemi ini guru harus hadir membawa harapan.

Harapan untuk menjadi salah satu lilin itu terasa berat bagi penulis, mengingat banyaknya kekurangan, mulai dari minimnya kemampuan diri, lemahnya motivasi dan rendahnya rasa peduli. Alhamdulillah, di SMPN 2 Kepil masih ada banyak lilin-lilin yang bisa menjadi pegangan dan menambah kekuatan untuk bertahan. Mungkin masih ada satu dua yang tergolong lilin pertama, lilin kedua atau lilin ketiga, tetapi tentang siapa-siapanya penulis tidak tahu. Yang justru penulis tahu adalah mereka yang menjadi lilin keempat, sang Lilin Harapan. Ada kepala sekolah (Bapak Hadi Wiyono, S.H., M.Pd.) yang visinya jauh ke depan, banyak ide dan kaya terobosan untuk tetap eksis dan tidak pernah berhenti berkarya membangun sekolah di berbagai lini walau di masa pandemi. Selanjutnya ada guru senior (Bapak Widodo, S.Pd.) yang selalu berangkat ke sekolah tidak peduli jadwalnya piket atau tidak, yang menurut beliau bahwa guru itu ya harus berangkat dan bertugas di sekolah. Ada juga yang guru yunior (Ibu Zulaikho Wahyu Utami, S.Pd) yang tidak pernah merasakan WFH, tiap hari berangkat dengan beban pekerjaan BOS yang tak pernah ada habisnya. Ada lagi staf Tata Usaha (Bapak Suronto) yang always ready dan always update berbagai aplikasi pendataan bagi guru dan sekolah sehingga sering menjadi rujukan pertanyaan dan konsultasi banyak admin dari berbagai sekolah. Adalagi pakar administrasi dan perangkat pembelajaran (Ibu Isti Supriyanti, S.Pd. dan Ibu Ruti Sumarni, M.Pd.) yang tak surut memberikan bimbingan dan pelatihan di sela-sela kegiatan pembelajaran. Serta beberapa guru senior maupun yunior lainnya dengan karya-karya inovasi baik dalam pembelajaran dan pelayanan kepada anak didik sehingga sekolah terlihat aktif dalam masa pandemi.

Masa pandemi seperti ini sepintas memang terlihat menguntungkan bagi guru, ini bagi mereka yang kurang peka, karena sesungguhnya di masyarakat posisi guru itu terhujat. Tidak sedikit orangtua yang mengeluhkan minimnya layanan pendidikan yang diberikan guru bagi anak-anak mereka. Guru yang tidak peka ini terlihat santai, jarang berangkat, berangkat siang tidak lama lalu pulang dan tidak peduli dengan gejolak yang terjadi di masyarakat. Inilah yang mungkin masuk kategori lilin pertama, kedua dan ketiga, yang sibuk dengan aktivitas baru yang sangat berbeda. Sangat berbeda dengan lilin keempat Lilin Harapan, mereka bekerja tanpa membatasi waktu, bahkan malam pun masih harus melanjutkan pekerjaan dan pelayanan. Mereka tidak berfikir untung rugi, apalagi sampai berfikir saya dapat apa, saya untung berapa. Ketika berkomunikasi dan konsultasi dengan mereka-mereka sang Lilin Harapan, serasa mendapat banyak ilmu, nasehat dan  pencerahan. 

Berikut ini beberapa kesimpulan yang dapat penulis rangkum, semoga bisa kembali sedikit membuka wawasan dan menyadarkan penulis khususnya dan semua guru pada umumnya terkait upaya menjaga dan mengembalikan marwah guru;

  1. Bersyukur, inilah rasa yang pertama kali harus ditanamkan, tentu bukan sekedar mengucapkan kata syukur. Tidak banyak yang berkesempatan bekerja sebagai guru, karena realitanya ada ribuan calon guru yang mengantri untuk profesi ini. Tentunya yang mesti lebih bersyukur adalah guru GTT atau negeri yang sudah mendapat tunjangan sertifikasi, dan yang harus lebih bersyukur lagi adalah mereka yang berstatus guru negeri dan bersertifikasi. Ada banyak sekali alasan untuk tidak menafikkan karunia dan nikmat yang diberikan kepada guru. Syukur pertama karena guru masih tetap dapat bekerja dan mendapatkan gaji, disaat banyak orang menganggur dan tidak mempunyai penghasilan di masa pandemi ini. Syukur kedua adalah karunia sebagai guru, profesi mulia dan bisa menjadi jalan kebaikan, profesi yang didambakan ribuan calon guru lainnya. Syukur ketiga bahwa jumlah jam kerja yang tidak memberatkan hanya 24 jam dalam seminggu itupun sebagian dilakukan dengan BDR, bisa dibandingkan dengan yang diceritakan seorang guru saat mengajar di sekolah swasta dengan beban kerja 52 jam seminggu dan nyaris ada jam kosong, yang dengan jam segitupun angka gajinya jauh dibandingkan dengan PNS, apalagi PNS bersertifikasi. Nah, itu baru sebagian, belum hal-hal yang lainnya. Kurang apalagi, nikmat mana lagi yang kau dustakan?
  2. Motivasi, itulah rasa yang kedua yang harus kembali ditumbuhkan. Rasa yang saat ini tak jauh beda  antara motivasi belajar murid dan motivasi mengajar guru. Motivasi adalah ruh paling utama dalam proses belajar mengajar, di mana anak didik sangat perlu motivasi untuk belajar hal-hal baru yang akan bermanfaat bagi masa depan mereka. Demikian juga guru sangat perlu motivasi agar bisa ikhlas dalam mengajar, agar bisa mencurahkan perhatian dan kasih sayang dalam membimbing belajar anak didiknya. Guru tanpa motivasi tentu tidak akan bisa berbuat banyak, karena sejatinya seorang guru dihadirkan sebagai motivator untuk memberikan motivasi bagi anak didiknya. Motivasi itu yang akan menjadikan guru semangat mengabdi, semangat melakukan inovasi, semangat dalam belajar dan semangat dalam melayani.
  3. Peduli, inilah rasa yang ketiga yang harus dirawat dan disuburkan kembali. Disaat banyak orang dilanda rasa aman dan nyaman dengan situasi yang menguntungkan diri sendiri, maka rasa empati akan tumpul, rasa pedulinya memudar dan menjadi kurang peduli dengan keadaan yang terjadi. Kenikmatan, fasilitas dan kenyamanan telah mengubah kepribadiannya, merasa bahwa semua diperoleh karena jerih payahnya semata sehingga ia merasa berhak menikmati sepuasnya. Tidak sadar bahwa ada kewajiban yang harus ditunaikan, lupa bahwa ada orang lain yang membutuhkan perhatian, uluran tangan dan bantuannya. Peduli itulah yang membuat seorang guru di Madura mendatangi anak didiknya, peduli itu pula yang membuat seorang guru wali kelas meminjamkan Laptop dan Androidnya untuk mengerjakan soal PTS online kepada beberapa anak didiknya. Peduli itu juga yang hadir tatkala guru menghubungi siswa menanyakan kesulitan dalam belajar dan membantu memberikan penyelesaian. Intinya, jika ada kepedulian maka akan sangat banyak yang bisa dilakukan guru pada masa pendemi seperti ini.

Akhirnya, sebagai guru kecil yang minim pengalaman penulis hanya bisa berharap dan berdoa, "Semoga kita bisa membuka diri dan menyadari bahwa kita adalah guru, bagaikan lilin penerang, seberapapun redup dan temaram cahaya yang kita pendarkan sangat dinanti dan diharapkan". Ada banyak yang bisa dilakukan oleh guru di masa pandemi seperti ini, seberapapun kebaikan yang dilakukan, sekecil apapun bantuan yang diulurkan dan sesingkat apapun perhatian yang diluangkan adalah bentuk kepedulian seorang guru, dan itu akan menjadi motivasi yang istimewa dan sangat diharapkan oleh anak didik dan orangtuanya. Tindakan kecil dan sederhana dengan sendirinya akan menjadi bentuk dedikasi seorang guru yang akan mengembalikan marwah guru, guru yang bisa hadir sebagai penerang dalam kegelapan. Oleh karena itu, mari kembali kita tanamkan rasa syukur dengan sesungguhnya, kita tumbuhkan motivasi mengajar dengan sebaik-baiknya dan menyuburkan rasa peduli yang tinggi, untuk menjaga marwah guru.

Marwah guru tidak hanya terikat dengan pembelajaran di kelas dan aktifitas di sekolah, tetapi bagaimana guru bisa hadir di tengah masyarakat. Guru sebagai sosok yang dipandang memiliki iimu dan wawasan yang luas, mempunyai pengaruh dan kharisma yang kuat, maka seorang guru diharapkan bisa hadir memberikan sumbangsih solusi bagi permasalahan yang ada di masyarakat. Sangat mungkin masih ada anak-anak yang terlantar, bukan hanya sekolahnya tetapi bahkan mungkin kebutuhan makan kesehariannya. Dalam kondisi seperti ini sosok guru dibutuhkan untuk hadir, tidak harus berbentuk tindakan yang langsung mengeluarkan uang pribadi untuk membantu, tapi bagaimana guru bisa menjadi sosok yang bisa menggugah, menyadarkan dan menggerakkan banyak orang untuk terpanggil membantu orang yang ditimpa kesulitan secara bersama-sama, serta memberikan solusi dan langkah dalam penyelesaian masalah.

Menjadi bagian dalam penyelesaian masalah dan bukan menjadi bagian dari masalah, itulah kata kuncinya. Di awali dengan berani bersikap rendah hati mengakui kekurangan diri, serta berusaha untuk lebih peka dan lebih peduli dengan apa yang tengah terjadi. Tidak perlu berbusa-busa membela diri, tidak perlu menunjukkan apa yang sudah dilakukan untuk mendapat pengakuan baik. Lakukan saja kebaikan itu, lakukan lagi, tambahi dan terus lakukan sekecil apapun. Dengan begitu insya-Alloh marwah guru bisa dikembalikan pada posisi yang semestinya. Semoga belum terlambat, bukankah dalam setiap kejadian yang Alloh hadirkan pasti terselip sebuah pesan, dan bukankah dalam setiap permasalahan yang menghadang pasti menyiratkan sebuah makna. Selamat bekerja, selamat berkarya, selamat beraktifitas, semoga sukses selalu.

Jumat, 08 Januari 2021

Maju Sekolah Adiwiyata Tingkat Propinsi - SMPN 2 Kepil Siap Berbenah Diri

Mengawali semester genap tahun pelajaran 2020/2021 yang masih dalam suasana pandemi Covid-19 segenap guru SMPN 2 Kepil sedang disibukkan dengan kegiatan untuk mempersiapkan administrasi pembelajaran yang menjadi pekerjaan utamanya sebagai guru. Disamping itu ada agenda tambahan terkait ditunjuknya SMPN 2 Kepil sebagai sekolah Adiwiyata dengan segala konsekuensinya, diantaranya harus siap untuk diikutkan dalam ajang Sekolah Adiwiyata Tingkat Propinsi Jawa Tengah. Oleh karena itu berbagai persiapan dilakukan untuk menyambut kepercayaan yang diberikan oleh Pemerintah Kabupaten Wonosobo kepada SMPN 2 Kepil yang kini dipandang sebagai salah satu unggulan di Wonosobo. Untuk itu sengaja penulis menyiapkan artikel sebagai bahan untuk belajar bersama agar menjadi tambahan wawasan, gambaran dan penjelasan bagi semua warga sekolah tentang apa itu Sekolah Adiwiyata. 

Program Sekolah Adiwiyata
Adiwiyata merupakan  salah satu Program Kementerian Lingkungan Hidup dalam rangka mendorong terciptanya pengetahuan dan kesadaran warga sekolah sebagai upaya pelestarian lingkungan hidup dan pembangunan berkelanjutan bagi kepentingan generasi sekarang maupun yang akan datang. Hal ini tertuang dalam MoU pada tgl 3 Juni 2005 antara Menteri Negara Lingkungan Hidup dan Menteri Pendidikan Nasional kala itu.

Dalam suatu referensi dinyatakan bahwa ADIWIYATA berasal dari 2 kata Sansekerta “ADI” dan “WIYATA”. ADI mempunyai makna besar, agung, baik, ideal, atau sempurna. WIYATA mempunyai makna tempat dimana seseorang mendapatkan ilmu pengetahuan, norma dan etika dalam berkehidupan sosial. Bila kedua kata tersebut digabung, maka secara keseluruhan ADIWIYATA mempunyai makna: Tempat yang baik dan ideal dimana dapat diperoleh segala ilmu pengetahuan dan berbagai norma serta etika yang dapat menjadi dasar manusia menuju terciptanya kesejahteraan hidup kita dan menuju kepada cita-cita pembangunan berkelanjutan.

Berdasarkan pengertian di atas maka dapat dimaknai bahwa SEKOLAH itulah yang merupakan tempat yang AGUNG, tempat yang BAIK dan IDEAL untuk memperoleh pengetahuan, norma dan etika. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah langkah nyata apa yang mungkin dilakukan untuk menjadikan sekolah sebagai tempat yang Agung, Tempat yang Baik dan Ideal, tempat yang Sempurna dalam memperoleh pengetahuan, moral dan etika?. (rasanya miris….. ketika kita menyaksikan di TV, membaca di berbagai media Online maupun Offline  tentang maraknya berbagai fenomena kasus kekerasan fisik dan kekerasan seksual terhadap anak usia sekolah yang dilakukan oleh guru).

Dari referensi yang sama dengan di atas dituliskan bahwa untuk mewujudkan sekolah Adiwiyata maka sekolah perlu melakukan hal-hal berikut: 

  • Pengembangan Kebijakan Sekolah peduli dan berbudaya Lingkungan, 
  • Pengembangan Kurikulum berbasis Lingkungan, 
  • Pengembangan Kegiatan Lingkungan berbasis partisipatif, 
  • Pengembangan dan pengelolaan sarana pendukung sekolah berbudaya Lingkungan. Misalnya: Hemat Energi/penggunaan energi alternative, penghematan air, pengelolaan sampah dengan prinsip 3R (reduce, reuse, recycle).

Terkait dengan kurikulum berbasis lingkungan, maka menurut penulis terdapat dua hal yang dapat kita pahami: Hal pertama adalah bagaimana menjadikan lingkungan sekolah sebagai sumber/media yang mendukung pembelajaran. Hal ini dapat berarti bahwa lingkungan sekolah yang nyaman merupakan tempat yang kondusif bagi pembelajaran. Lingkungan sekolah dapat memberikan pengalaman hidup yang bermakna bagi siswanya. Di lingkungan itu pula siswa dapat menjadikannya tempat belajar yang menyenangkan. Untuk itu perlu mengurangi sifat keformalan dari sebuah sekolah dengan cara mengubah lingkungan sekolah menjadi lingkungan yang mendukung proses pembelajaran dan bersifat menyenangkan. Hal kedua adalah bagaimana menyampaikan materi lingkungan hidup kepada siswa melalui kurikulum yang terintegrasi dengan pendidikan lingkungan hidup. Pengembangan materi, model pembelajaran dan metode belajar yang bervariasi, semua ini dilakukan untuk memberikan pemahaman kepada siswa tentang lingkungan hidup yang dikaitkan dengan persoalan lingkungan sehari-hari (isu local dan global).

Pengembangkan kurikulum berbasis Adiwiyata sangat terkait dengan tupoksi guru dalam merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi proses pembelajaran atau dengan kata lain guru harus memiliki kompetensi dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran lingkungan hidup, yaitu bagaimana guru menyusun perangkat pembelajaran yang terintegrasi dengan Pendidikan lingkungan hidup (Perangkat pembelajaran berbasis Adiwiyata).

Mengembangkan perangkat pembelajaran berbasis Adiwiyata dapat dilakukan dengan: 

  1. Memformulasi kegiatan atau proses pembelajaran melalui penerapan pendekatan, strategi, metode, dan teknik pembelajaran yang melibatkan peserta didik secara aktif dalam pembelajaran. Metode pembelajaran yang dimaksud adalah cara belajar aktif yang berfokus pada peserta didik, misalnya dengan demonstrasi, diskusi, simulasi, bermain peran, laboratorium, pengalaman lapangan, dialog, simposium, dll. 
  2. Mengembangkan materi pelajaran dan indikator pelajaran berkaitan dengan masalah-masalah lingkungan sekitar (isu local) dan masalah-masalah lingkungan secara luas (isu global). Isu lokal mencakup isu lingkungan hidup yang ada di wilayah sekitar sekolah, yang merupakan potensi  ketersedian sumberdaya alam dan kearifan lingkungan, terkait perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup yang dapat berdampak pada banjir, longsor, kekeringan, pencemaran sampah, pencemaran air/udara/tanah, penggundulan hutan, kabut asap dan kebakaran hutan, dll  sedangkan isu global mencakup isu lingkungan hidup misalnya terkait:  energy, ozon, perubahan iklim, keanekaragaman hayati, bahan berbahaya dan beracun, tumpahan minyak di laut, rekayasa genetik dll. 
  3. Mengembangkan indikator dan instrumen penilaian pembelajaran lingkungan hidup, artinya bahwa pembelajaran lingkungan hidup baik secara integrasi maupun monolitik harus dilengkapi dengan indikator penilaian tingkat keberhasilan. 
  4. Merancang pembelajaran di dalam maupun di luar kelas dengan memanfaatkan lingkungan sebagai sumber/media pembelajaran. 
  5. Mengikutsertakan orang tua siswa dan masyarakat dalam program pembelajaran, misalnya dengan memberikan tugas-tugas yang melibatkan orang tua siswa dan masyarakat, misalnya terkait penyediaan  air bersih, sarana pengelolaan sampah (3R), saluran air limbah/ drainase,  penghijauan,  kantin ramah lingkungan dan materi lainnya sesuai kebutuhan masyarakat. 
  6. Tenaga pendidik mengkomunikasikan hasil inovasi pembelajaran Lingkungan Hidup kepada warga sekolah dan masyarakat sekitar sekolah melalui; Nara sumber, media elektronik, media cetak, lingkungan alam sekitar,  dll. 
  7. Tenaga pendidik melakukan proses perubahan perilaku yang  berbudaya lingkungan melalui upaya peningkatan pengetahuan, ketertarikan, mengaplikasikan dan akhirnya diharapkan menjadi suatu kebutuhan dalam kehidupan.

Pengalaman belajar yang diharapkan dari siswa sebagai implikasi dari perangkat pembelajaran berbasis Adiwiyata yang dikembangkan guru adalah siswa melakukan kegiatan pembelajaran tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, dengan: 

  1. Menghasilkan karya yang berkaitan dengan pelestarian dan fungsi Lingkungan Hidup, pengendalian pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup, misalnya dalam bentuk karya siswa, laporan kegiatan siswa, laporan aksi nyata yang terkait dengan lingkungan hidup antara lain: makalah, Puisi/Sajak, Artikel, Lagu, Laporan Penelitian, gambar, seni tari, dll 
  2. Menerapkan pengetahuan Lingkungan Hidup yang diperoleh untuk memecahkan masalah Lingkungan Hidup  dalam kehidupan sehari-hari, Hal ini dapat terlihat dari perubahan perilaku yang  berbudaya lingkungan melalui upaya peningkatan pengetahuan, ketertarikan, dan menindaklanjuti pembelajaran dari guru dan akhirnya menjadi kebutuhan dalam kehidupannya. 
  3. Siswa mengkomunikasikan hasil inovasi pembelajaran lingkungan hidup kepada masyarakat  melalui; Nara sumber, media elektronik, media cetak, lingkungan alam sekitar,  dll.

Sebagai kesimpulan bahwa sekolah yang telah berkomitmen untuk menjadi Sekolah Adiwiyata harus memiliki Kurikulum Berbasis Adiwiyata yang dijabarkan dalam bentuk Perangkat pembelajaran (Silabus, RPP, LKS, Buku, Tes Hasil belajar) yang berbasis Adiwiyata. Artinya dalam kurikulum tersebut telah terintegrasi minimal dua isu besar pendidikan saat ini yaitu pendidikan karakter bangsa dan pendidikan lingkungan hidup.

Berharap pertolongan Alloh, untaian doa kami panjatkan, "Semoga kepercayaan yang diberikan Pemerintah Kabupaten Wonosobo kepada SMPN 2 Kepil tidak menjadi beban, tapi sebaliknya menjadi inspirasi bagi segenap warga sekolah, menambah semangat dan motivasi untuk memacu diri dalam belajar dan berkarya, bekerja dan berinovasi dalam memberikan layanan pendidikan yang terbaik kepada anak didik calon pemimpin masa depan, semoga Alloh memberikan kemudahan dan ridho-Nya". Demikian sedikit uraian tentang sekolah Adiwiyata, semoga bermanfaat.
Selamat beraktifitas, selamat berkarya, semoga sukses.

Rabu, 25 November 2020

Tugas Pokok dan Fungsi Guru dalam Menghadapi Tantangan di Era Revolusi Industri 4.0

"Menjadi guru bukanlah pengorbanan, melainkan kehormatan. Mereka telah memilih jalan terhormat untuk masa depan cemerlang," itulah kata penting yang sarat makna, suatu penghormatan kepada guru yang disampaikan tepat 6 tahun yang lalu oleh Anies Baswedan yang saat itu menjabat Mendikbud seusai upacara peringatan Hari Guru Nasional. Dari sini maka seorang guru harus bisa memosisikan tanggung jawab mendidik anak-anak bangsa bukan dijadikan sebagai beban, tetapi merupakan kehormatan. Artinya, guru adalah profesi yang sangat mulia dengan tugas utama menunaikan salah satu amanat proklamasi kemerdekaan RI untuk mencerdaskan anak-anak bangsa.

Guru adalah agen perubahan (agent of change). Guru adalah garda terdepan dalam pembangunan pendidikan. Guru-guru harus melaksanakan tugasnya dengan penuh sukacita, karena ibaratnya, mereka adalah para pelukis, pengukir, atau arsitek bagi masa depan generasi muda Indonesia. Setiap langkah, tutur kata, dan karya guru adalah ikhtiar dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Guru harus benar-benar menghayati dan mencintai pekerjaannya. Guru harus mengajar dan mendidik setiap siswanya dilandasi oleh panggilan hati nurani.

Panggilan hati nurani itulah yang menggerakkan seseorang untuk menjadi guru dan langsung terjun melaksanakan tugas tanpa ribet berfikir apa yang harus dilakukan sebagai guru. Banyak yang sudah lama berkecimpung, bekerja dan bertugas sebagai guru tetapi tidak begitu paham apa sebenarnya yang menjadi tugas pokok dan fungsinya, bukan karena tidak mau tahu, tapi mungkin karena terlalu sibuk dan tidak ambil pusing dengan definisi guru, tugas pokoknya apa dan juga apa fungsi serta tantangan yang dihadapi di era saat ini. Nah, di sini kita akan sedikit belajar bersama berbagai hal tersebut dalam paparan yang sederhana dan mudah dipahami.

Tugas Pokok dan Fungsi Guru

Guru merupakan tenaga profesional dengan tugas pokok mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik. Tugas pokok guru tersebut dilakukan pada satuan pendidikan anak usia dini jalur (PAUD), dan pendidikan formal mulai TK-SMA/K, dan SLB. Tugas Pokok Guru Sesuai Permendikbud 15 Tahun 2018.

Dalam melaksanakan tugasnya seorang guru memiliki 5 (lima) kegiatan (tugas) pokok. 

  1. Merencanakan pembelajaran atau pembimbingan, yang dilakukan melalui kegiatan : a) mengkaji kurikulum dan silabus pembelajaran, pembimbingan, dan program kebutuhan khusus pada satuan pendidikan. b) menyusun program tahunan dan semester sesuai dengan bidang tugasnya masing-masing. c) membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran atau rencana pelaksanaan pembimbingan sesuai standar proses.
  2. Melaksanakan pembelajaran atau pembimbingan yang dilakukan melalui kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler. Kegiatan kedua ini merupakan pelaksanaan dari Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) atau Rencana Pelaksanaan Bimbingan (RPB). Pelaksanaan pembelajaran terpenuhi apabila guru mata pelajaran paling sedikit mengajar 24 jam dan paling banyak 40 jam Tatap Muka/minggu. Sedangkan pelaksanaan pembimbingan oleh Guru BK atau TIK dengan membimbing paling sedikit 5 (lima) rombongan belajar per tahun.
  3. Menilai hasil pembelajaran atau pembimbingan. Menilai merupakan proses pengumpulan dan pengolahan informasi hasil pembelajaran atau pembimbingan. Kegiatan penilaian ini digunakan untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik pada tiga aspek yaitu sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
  4. Membimbing dan melatih peserta didik. Membimbing dan melatih peserta didik dapat dilakukan oleh pendidik melalui kegiatan kokurikuler dan/atau kegiatan ekstrakurikuler. 
  5. Melaksanakan tugas tambahan yang melekat pada pelaksanaan kegiatan pokok sesuai dengan Beban Kerja Guru. Tugas tambahan yang diemban oleh guru memiliki ekuivalensi dengan beban mengajar. Artinya tugas tambahan dari guru disetarakan dengan jam mengajar tatap muka/minggu.

Tugas tambahan Guru dan Ekuivalensinya
Disamping tugas utama sebagai guru, beberapa guru mata pelajaran yang diberi tugas tambahan sebagai wakil kepala sekolah, ketua program keahlian, kepala perpustakaan, laboratorium, dan kepala bengkel. Dalam menjalankan tugasnya diekuivalensikan dengan mengajar sebanyak 12 jam tatap muka/minggu. Sedangkan bagi Guru BK atau TIK, tugas tambahan di atas diekuivalensikan dengan membimbing 3 (tiga) rombongan belajar per tahun. Bagi guru pembimbing khusus pada pendidikan inklusif atau pendidikan terpadu beban tugasnya diekuivalensikan dengan 6 jam tatap muka/minggu.

Pemberian tugas tambahan tersebut diberikan kepada guru untuk pemenuhan beban kerja dalam melaksanakan pembelajaran atau pembimbingan. Tugas tambahan bagi guru dalam rangka memenuhi beban kerja, dilaksanakan pada satuan administrasi pangkalnya atau satminkal. Sedangkan tugas tambahan lain yang diakui ekuivalensinya terkait dengan pemenuhan beban kerja adalah wali kelas, pembina OSIS, dan pembina ekstrakurikuler. Selain itu menjadi koordinator PKB, PKG, koordinator BKK pada SMK dan penilai PKG dengan nilai ekuivalensi 2 jam tatap muka/minggu. Tugas tambahan dengan nilai ekuivalensi 1 jam tatap muka/minggu diberikan kepada guru piket dan ketua Lembaga Sertifikasi Profesi Pihak Pertama. Guru yang mengemban tugas sebagai pengurus organisasi profesi tingkat Nasional 3 jam, Provinsi 2 jam, Kabupaten/Kota 1 jam tatap muka/minggu.

Tantangan Guru di Era Revolusi 4.0

Perkembangan zaman yang terus berubah dan bergerak membuat tugas guru juga berubah dan terus berkembang seiring perkembangan teknologi yang terus tumbuh dengan produk-produk inovatif terbaru. Oleh karena itu tugas guru juga berubah, tidak ringan tetapi sebaliknya justru semakin berat dengan banyaknya tantangan baru. Guru saat ini tidak hanya sebagai pelaksana dari kurikulum, tetapi harus mampu menjawab tantangan yang harus dihadapi oleh guru saat ini, terutama cara memberikan layanan pendidikan kepada peserta didik yang karakteristiknya kini telah berubah.

Karakteristik peserta didik saat ini berbeda dengan peserta didik di masa 10-20 tahun yang lalu. Mereka adalah para generasi Z yang terlahir di era ketika semua informasi sudah terkoneksi. Peserta didik saat ini akan mengekspresikan kesantunan, sikap hormat, dan kepatuhannya kepada seorang guru melalui cara yang berbeda pula. Apa yang mereka lihat, mereka dengar, dan mereka rasa langsung akan diaktualisasikan dalam reaksi spontan secara lugas dan tanpa basa-basi. Disini lah guru dituntut mampu mempelajari dan menyesuaikan banyak hal yang baru, misalnya; cara menggunakan teknologi, untuk pembelajaran, membuat media yang menarik bagi peserta didik hingga cara dan strategi menghadapi generasi yang kini menjadi peserta didiknya pada era revolusi 4.0. 

Guru harus mengikuti perkembangan (updating skills) pendidikan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Guru harus mempunyai bekal pengetahuan berbagai hal tentang konsep pembaharuan dalam pendidikan, tentang paradigma pembelajaran terkini (Technology based, Scientific approach) agar dapat  menjadi agent of change ketika menjadi pengajar , pendidik atau pengelola yang inovatif dan motivatif di era Revolusi Indsutri 4.0. 

Revolusi Industri 4.0 banyak membawa perubahan dalam kehidupan manusia, yang secara fundamental telah mengubah cara beraktivitas manusia dan memberikan pengaruh yang besar terhadap dunia kerja. Pengaruh positif revolusi industri 4.0 berupa efektifitas dan efisiensi sumber daya dan biaya produksi meskipun berdampak pada pengurangan lapangan pekerjaan. Era Revolusi Industri 4.0 membutuhkan tenaga kerja termasuk guru yang memiliki keterampilan dalam literasi digital, literasi teknologi, dan literasi manusia yang digabung menjadi Literasi Baru yang akan membuat guru kompetitif.

  • Literasi digital terkait dengan kemampuan membaca, menganalisis dan membuat konklusi berpikir berdasarkan data dan informasi (big data) yang diperoleh. 
  • Literasi teknologi terkait dengan kemampuan memahami cara kerja mesin, aplikasi teknologi dan bekerja berbasis produk teknologi untuk mendapatkan hasil maksimal.  
  • Literasi manusia terkait dengan kemampuan komunikasi, kolaborasi, berpikir kritis, kreatif dan inovatif.
Kemampuan literasi baru ini menjadi modal bagi guru  untuk bisa menghadirkan pembelajaran yang lebih variatif, tidak monoton hanya bertumpu pada satu metode pembelajaran yang bisa saja membuat para peserta didik tidak berkembang. Seorang guru diharapkan jangan pernah berhenti belajar (never stop learning). Dengan terus belajar maka diharapkan guru akan semakin meningkat dan memiliki kompetensi yang dibutuhkan di era Revolusi Industri 4.0. 

Terkait dengan kompetensi guru yang dibutuhkan di era Revolusi Industri 4.0 terbagi dalam 4 jenis kompetensi yang biasa disebut dengan 4C, yaitu :
  1. Critical thinking (berpikir kritis), 
  2. Collaboration (kolaborasi), 
  3. Communication (komunikasi), dan  
  4. Creativity (kreativitas). 
Singkatnya seorang guru hendaknya berpikir kritis dan mempunyai solusi dari setiap masalah (problem solving), bisa berkolaborasi lintas jaringan, lincah dan mempunyai jiwa kewirausahaan. Dengan begitu diharapkan seorang guru tidak menjadi guru lontong basi, guru dengan gaya masa lalu yang ketinggalan teknologi. Guru lontong basi adalah guru yang gaya mengajarnya masih meniru guru zaman dahulu saat mereka sekolah, padahal kini zaman sudah masuk era teknologi.

Akhirnya, sebagai insan pendidikan guru diharapkan selalu optimis dan memiliki keyakinan yang kuat, bahwa siapa saja yang mau belajar pasti akan bisa, itu juga kan yang disampaikan kepada peserta didik saat memberikan motivasi. Ilmu terkait dengan kompetensi guru banyak tersebar dan tersedia di sekitar kita, ilmu itu ada dimana-mana, bagaikan air yang ada di kendi-kendi atau saluran pipa-pipa berkran, jika kita mau membuka kran atau penutupnya maka mengalirlah air itu. Kata kuncinya, hanya kemauan, kemauan untuk belajar, kemauan untuk maju.
Selamat belajar, selamat beraktifitas, selamat bekerja, semoga sukses.

Senin, 12 Oktober 2020

Kesiapan Sekolah untuk Pembelajaran Jarak Jauh di Masa Pandemi

Masa pandemi Covid-19 sudah 6 bulan terlewatkan, setengah tahun lebih, bagi sekolah artinya sudah mencapai satu semester lamanya. Sejak wabah corona melanda negeri ini, sontak merubah hampir semua aktifitas kehidupan, membuat berbagai perubahan yang berbeda dari yang biasanya. Ini terjadi hampir di semua lini, mulai dari sektor ekonomi industri, sektor pariwisata, sektor pertanian, sektor perdagangan, sektor ibadah religi,  dan juga sektor pendidikan. Selain ekonomi, sektor pendidikan merupakan bidang yang merasakan dampak terburuk akibat wabah corona ini, dimana sekolah-sekolah ditutup tidak boleh mengadakan  kegiatan pembelajaran di dalam atau lingkungan sekolah. Semua dilaksanakan dalam rangka social distancing, menjaga jarak dan menghindari kerumunan yang dikhawatirkan menjadi sebab dan sumber penularan (klaster baru).

Dari sekian banyak bidang yang ada, maka bidang pendidikan adalah yang paling parah merasakan dampaknya dimana kegiatan pendidikan tidak bisa dijalankan sebagaimana mestinya. Aspek terkait dengan aturan dilarang mengadakan kerumunan dan susahnya menjaga jarak adalah alasan paling kuat untuk merumahkan murid dan guru. Akhirnya semua kegiatan pembelajaran dirubah pola dan model pelaksanaannya dari pembelajaran tatap muka menjadi pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang sekarang banyak dikenal dengan istilah pembelajaran dalam jaringan (daring) menggunakan media internet. Ada banyak ragam dan model yang digunakan oleh guru untuk memberikan layanan pembelajaran kepada murid-muridnya, dengan model yang beragam di setiap sekolah.

Keberagaman model pembelajaran jarak jauh ini sangat berkait erat dengan tiga hal yang menjadi unsur utama dalam pembelajaran, yang jika meminjam istilah dalam sistem komputer ketiganya dapat dibedakan sebagai berikut. 

  1. Hardware, perangkat keras yaitu kondisi dan ketersediaan sarana prasarana yang mendukung dalam pembelajaran jarak jauh, yang identik dengan perangkat komunikasi yang bisa digunakan untuk akses internet. Perangkat ini harus tersedia dalam kondisi yang baik pada guru maupun pada murid. Perangkat ini meliputi komputer, laptop, gadget, jaringan internet, wifi atau paket data seluler. 
  2. Software, yaitu perangkat lunak yaitu kondisi dan ketersediaan perangkat aplikasi yang dimiliki dan dikuasai untuk pembelajaran online, yang ini sudah banyak tersedia gratis di internet. Sebagai contoh yang disediakan oleh google antara lain formulir, classroom, documen, spreadsheet, slide, blog hingga youtube. 
  3. Brainware, perangkat otak yaitu kondisi dan ketersediaan sumber daya manusia (orang), yaitu guru, murid, dan jajaran manajemen sekolah. Maksudnya adalah kesiapan manusianya untuk melaksanakan pembelajaran jarak jauh yang terkait dengan pengetahuan, keterampilan dan pengalaman dalam mengoperasikan aplikasi berbasis online tersebut.
Untuk mewujudkan pembelajaran jarak jauh yang efektif di masa pendemi Covid-19 ini maka pihak menajemen SMPN 2 Kepil terus berbenah diri. Yang terkait dengan kebijakan maka jajaran pimpinan SMPN 2 Kepil selalu berkoordinasi dengan dinas pendidikan, yang terkait dengan media pembelajaran berbasis online maka dilaksanakan workshop/pelatihan berbagai pembelajaran online.

Semangat para guru untuk berlatih berbagai media pembelajaran online kepada peserta didik walau dalam banyak keterbatasan adalah kekuatan ekstra bagi jajaran pimpinan SMPN 2 Kepil untuk bisa survive dan tetap semangat berkontribusi untuk memberikan layanan pendidikan yang terbaik kepada siswa dan masyarakat. Tetap semangat berkarya dengan tetap menjaga protokol kesehatan demi kesehatan dan keselamatan semua warga sekolah dan masyarakat.
Selamat bekerja, selamat berkarya, semoga sukses selalu.

Sabtu, 05 September 2020

Musyawarah PGRI Ranting SMPN 2 Kepil - Pengurus Baru, Yang Muda Yang Berkarya

Hari ini situasi di lingkungan sekolah sejuta impian nampak spesial, karena semua guru dan karyawan mengenakan setelan hitam putih, batik khas dengan logo obor, itulah seragam PGRI. Yah, hari Sabtu 5 September 2020, SMP Negeri 2 Kepil sedang punya hajatan, Musyawarah PGRI Kecamatan Kepil Ranting SMPN 2 Kepil. Kegiatan empat tahunan ini bertujuan untuk konsolidasi, pertanggung-jawaban pengurus lama masa bakti 2016 - 2020 dan pemilihan pengurus baru masa bakti 2020 - 2024. Acara dipandu oleh Master Ceremoni (MC) dari daerah Purworejo, Bapak Dwi Karyanto, S.Pd. Setelah diawali dengan acara pembukaan, kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Mars PGRI. Dipandu oleh dirijen Ibu Dra. Ratna Yuli Sungkayati kedua lagu dinyanyikan dengan sangat khidmat yang diikuti oleh semua yang hadir.

Masuk dalam acara sambutan, yang pertama diberikan kepada Bapak Hadi Wiyono, S.H., M.Pd. selaku kepala SMP Negeri 2 Kepil yang menjadi tuan rumah kegiatan ini. Beliau yang juga tokoh PGRI di tingkat kabupaten dengan jabatan sebagai wakil ketua PGRI Kabupaten Wonosobo sangat mengapresiasi dan mendukung kegiatan musyawarah ranting ini. Dalam sambutannya disampaikan bahwa menjadi pengurus PGRI adalah amanah dan perjuangan. Amanah memperjuangkan kemajuan dunia pendidikan, dan perjuangan karena tidak ada imbalan yang bersifat materi. Oleh karena itu keikhlasan adalah kunci utama dan mendasar bagi seluruh pengurus PGRI baik di tingkat sekolah,  kecamatan, kabupaten hingga pusat. Ada banyak keutamaan yang bisa diperoleh ketika seseorang menjadi pengurus PGRI, yaitu kesempatan. Kesempatan belajar berorganisasi, kesempatan berjuang untuk kesejahteraan dan karir guru dan kesempatan untuk mengembangkan diri untuk menjadi guru yang lebih baik. Oleh karena itu tidak ada pilihan yang lebih utama selain menerima dengan sukacita dan ikhlas untuk bisa memberikan yang terbaik.

Musyawarah ranting PGRI ini dihadiri oleh Pengurus PGRI Kecamatan Kepil, yang dipimpin oleh  Bapak Saikhul Kirom, S.Pd.Jas yang menjabat sebagai ketua. Dalam kata sambutannya Pak Kirom menyampaikan apresiasi kepada seluruh anggota PGRI, khususnya warga SMPN 2 Kepil yang menyambut dan menerima dengan sangat baik kehadiran segenap pengurus PGRI Kecamatan yang hadir saat itu. Salah satu pesan yang disampaikan adalah bahwa pengurus PGRI merupakan wadah bagi guru untuk berjuang memajukan dunia guru agar lebih berdaya guna dan berhasil guna. Oleh karena itu ada banyak hal yang bisa dilakukan oleh pengurus PGRI dalam upaya untuk memperjuangkan pendidikan anak-anak generasi penerus calon pemimpin bangsa.

Selanjutnya giliran Bapak Edi Wineto, S.Pd. untuk menyampaikan laporan selaku Ketua PGRI Ranting SMPN 2 Kepil masa bakti 2016 - 2020. Diantaranya pertanggung-jawaban terkait  dana dan penggunaannya yang secara umum hanya untuk transport, sosial dan administrasi. Adapun susunan pengurus lama adalah ketua Bapak Edi Wineto, S.Pd., sekretaris Bapak Ismain, S.Pd. dan bendahara Bapak Eko Sutomas, S.Pd. Dengan diterimanya laporan pertanggung-jawaban pengurus, serta dengan dilaksanakannya pemilihan dan pengukuhan pengurus baru, maka dengan sendirinya pengurus yang lama berakhir masa tugasnya untuk diteruskan dengan pengurus yang baru.

Tibalah di penghujung acara, yaitu pemilihan dan pelantikan pengurus baru masa bakti 2020 - 2024. Alhamdulillah pemilihan Pengurus PGRI Ranting SMPN 2 Kepil berjalan lancar dan berhasil memilih pengurus baru dengan cara musyawarah mufakat. Bapak Irwan Susetyo Putro, S.Pd, guru IPS yang baru saja merayakan hari ulang tahun ke 39 pada hari Jum'at 4 September 2020 kemarin diusung dan dipersiapkan menjadi calon ketua PGRI Ranting SMPN 2 Kepil, mendampingi dan siap menggantikan Pak Edi yang 2 tahun lagi akan memasuki masa pensiun. Sosok muda yang enerjik, smart, ramah, supel dan ringan tangan dianggap cocok dan tepat menduduki jabatan tersebut. Akhirnya semua pengurus baru terpilih kemudian dilantik dan mengucapkan ikrar janji yang dipandu oleh Bapak Saikhul Kirom, S.Pd.Jas. selaku Ketua PGRI Kecamatan Kepil. Inilah hasil akhir dari pemilihan pengurus PGRI Ranting SMPN 2 Kepil, adapun susunan formasinya sebagai berikut ;

Pengurus Inti
  • Ketua 1 : Edi Wineto, S.Pd.
  • Ketua 2 : Irwan Susetyo Putro, S.Pd
  • Sekretaris : Dwi Karyanto, S.Pd.
  • Bendahara : Rini Utami, S.Pd. 
Seksi Bidang
  • Kerohanian : M. Fauzi, S.Ag.
  • Kesejahteraan : M. Bagus Panuntun, S.Pd.
  • Pemberdayaan Perempuan : Yani Widayati, M.Pd.
  • Olahraga : Ari Puwantyo, M.Or.
  • Seni Budaya : Aris Winarna, S.Pd. 
Berikut ini beberapa foto yang menggambarkan semangat keakraban, kebersamaan dan kekeluargaan  dalam pemilihan dan pelantikan pengurus baru masa bakti 2020 - 2024.






"Selamat dan Sukses" kepada seluruh pengurus baru, Pengurus PGRI Ranting SMP Negeri 2 Kepil. Selamat bekerja, semoga diberikan kemudahan, kelancaran dan kesuksesan.

Senin, 17 Agustus 2020

Virtual, Upacara Spesial - Peringatan HUT RI ke-75 di Masa Pandemi

Peringatan HUT Kemerdekaan RI di tahun 2020 ini adalah spesial dan unik. Spesial karena HUT RI di tahun 2020 ini termasuk dalam kategori Hari Ulang Tahun Berlian, karena dari hitungan tahun bertepatan dengan angka 75, yang dalam istilah ulang tahun biasa disebut dengan Berlian. Unik karena peringatan HUT RI di tahun 2020 ini dilaksanakan secara virtual, dalam rangka social distancing (menjaga jarak) dan menghindari kerumunan karena masih dalam situasi Pandemi Covid-19. Hal inilah yang membuat pelaksanaan upacara tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, tidak ada pesta, tidak ada lomba-lomba, tidak nampak adanya kemeriahan yang penuh gegap gempita. Yah, peringatan HUT Kemerdekaan RI di tahun  ini adalah peringatan yang paling sederhana dari beberapa dekade yang selama ini telah dilaksanakan.

Walau dalam situasi Pandemi Covid-19, walau hanya secara virtual, tetapi upacara ini dirasa penting untuk tetap dilaksanakan, jika mengingat betapa pentingnya kejadian terkait dengan hari ini. Hari ini 75 tahun lalu, tepatnya 17 Agustus 1945, dengan segala daya upaya Indonesia berusaha memproklamasikan kemerdekaannya. Ada banyak rangkaian perjuangan dan pengorbanan yang tidak terhitung besarnya, baik tenaga, waktu, harta, darah, air mata hingga nyawa. Banyak pejuang yang gugur di medan pertempuran dalam membela, merebut dan memperjuangan kemerdekaan negara Indonesia. Oleh karena itu, pemerintah merasa perlu memberikan amanat terkait pentingnya peringatan HUT RI. Peringatan yang dilaksanakan setiap tahun, yang diikuti oleh seluruh warga negara, mulai dari pejabat di pemerintah pusat / daerah, TNI / Polri, pegawai negeri / swasta, dan semua jenis pekerjaan yang ada di seluruh penjuru nusantara. Adapun hakekat dari peringatan ini adalah untuk pembelajaran baik bagi orang tua, remaja dan khususnya anak-anak agar bisa memahami dan menghormati jasa para pejuang kemerdekaan yang harapannya  menjadi warga negara yang berkarakter.

Penumbuhan karakter berbangsa dan bernegara itulah yang melatar-belakangi Bapak Hadi Wiyono, S.H., M.Pd. selaku kepala SMPN 2 Kepil memberikan maklumat kepada semua guru dan pegawai untuk mengikuti dan melaksanakan upacara secara virtual melalui saluran televisi. Hal sesuai dengan anjuran dari pemerintah, "Hentikan semua kegiatan dan aktivitas selama 3 menit saja pada tanggal 17 Agustus 2020 pukul 10.17 WIB. Ambil sikap sempurna dan berdiri tegak untuk menghormati Peringatan Detik Detik Proklamasi". Menyikapi maklumat itu, maka selanjutnya masing-masing guru dan pegawai mengambil foto / video dirinya saat mengikuti detik-detik proklamasi, kemudian di upload ke grup sekolah sebagai laporan.

Akhirnya, terkumpulah gambar para guru dan pegawai yang berupa foto / video mereka saat mengikuti Detik Detik Proklamasi dalam suasana dan tempat yang berbeda-beda. Ada beberapa yang melaksanakan di dalam rumah masing-masing, ada yang diikuti seluruh anggota keluarga, ada yang berkumpul bersama beberapa orang, ada yang sedang di rumah orangtuanya di Pacitan, ada yang sedang di bengkel motor dan ada yang di swafoto karena sedang sendirian di rumah. Dari beberapa gambar foto, kami memilih salah satu foto sebagai caption dalam judul tulisan ini salah satu alasannya karena adanya pesan moral yang sangat baik. Foto yang menampilkan situasi dimana semua anggota keluarga dengan berseragam lengkap dalam sikap sempurna saat mengikuti Detik Detik Proklamasi melalui layar televisi. Foto ini mengandung muatan pembelajaran kepada seluruh anggota keluarga terkait upaya menumbuhkan budaya cinta tanah air, nasionalisme dan patriotisme sebagai karakter utama warga negara dalam berbangsa dan bernegara.

Sebagai warga negara Indonesia, adanya nasionalisme, patriotisme dan cinta tanah air menjadi mutlak diperlukan untuk mempertahankan keutuhan negeri yang sudah 75 tahun merdeka ini. Rasa itu yang akan menjadi kekuatan lapis paling bawah bagi negara untuk bisa mewujudkan persatuan dan kesatuan, yang jika tidak diantisipasi akan terus terjadi perubahan yang semakin hari semakin luntur dan berkurang. Apalagi jika dihubungkan dengan perubahan kehidupan masyarakat yang terjadi akibat adanya pandemi Covid-19, dimana pribadi satu dengan yang lain harus menjaga jarak, hal ini mau tidak mau akan merubah semua pola tata kehidupan manusia dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Berikut beberapa gambar yang mewakili aktifitas Detik Detik Proklamasi segenap guru dan pegawai SMPN 2 Kepil di HUT RI ke-75.











Dirgahayu Indonesia, Merdeka. Selamat beraktifitas, selamat berkarya, semoga sukses.

Kamis, 13 Agustus 2020

Guru Pejuang Pendidikan, Anak-anak, Belajarlah dari Sosok Gurumu

Agustus adalah bulan bernuansa perjuangan, maka kami mencoba membuat tulisan bertema perjuangan guru. Walau tidak minta dihormati dan dihargai layaknya pahlawan, tetaplah guru adalah sosok pejuang, pejuang pendidikan. Bahwa dalam kesederhanaannya guru adalah pejuang yang selayaknya diberikan apresiasi dan penghormatan, bukan untuk membesarkan hati, tetapi sebagai bentuk pembelajaran dan motivasi kepada para murid, orang tua wali dan masyarakat. Tema ini sengaja kami tuliskan dengan harapan bisa memberikan semangat dan motivasi kepada anak-anak untuk tetap belajar dengan baik dan optimal di masa pandemi Covid-19, dengan sebuah prinsip bahwa dalam kondisi sesulit apapun cita-cita dan masa depan haruslah diraih dengan penuh perjuangan.

Penuh perjuangan, itulah inti rangkaian dari kisah Si Udin (Manusia Marbot) yang menjadi viral dan inspiratif bagi dunia pendidikan beberapa hari ini, khususnya di Yogyakarta. Disadur dari sepenggal kata sambutan yang disampaikan Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dalam acara pengukuhan dua guru besar UNY, Prof. Dr. Sri Wening, M.Pd., dan Prof. Ir. Moh. Khairudin, M.T., Ph.D, bertempat di  Auditorium UNY, Sabtu, 8 Agustus 2020. Rektor UNY, Prof. Dr. Sutrisna Wibawa, M.Pd, menyampaikan sebuah kisah berjudul “Sebuah Inspirasi Dari Masjid Jogja: UDIN, yang tidak lain adalah Prof. Ir. Moh. Khairudin, M.T. Ph.D., dalam perjalanan hidupnya, yang diawali kisahnya dari seorang marbot, akhirnya menjadi seorang profesor, gelar tertinggi dari jabatan seorang dosen". Perjalanan UDIN dari MARBOT MASJID  jadi PROFESOR, secara singkat penulis rangkum sebagai berikut.

Tahun 1998, dia ke Jogja, sebagai mahasiswa baru UNY, jurusan elektro. Kehidupannya yang tidak berkecukupan membuatnya prihatin, kuliah, tinggal dan mengurus masjid Al Amin, menjadi marbot dan jualan tempe. Setiap pagi setelah subuh, dia kayuh sepeda bututnya, mengambil tempe dan mengantar ke langganannya. Setelah itu, kembali ke masjid untuk membersihkan masjid, kemudian mengayuh sepedanya di kampus yang jaraknya sekitar 5 km. Kadang malam hari selepas isya dia masih mengantar tempe ke langganannya yang lain. Tak jarang dia pulang ke masjid di sela-sela jam kuliahnya untuk melantunkan adzan dhuhur atau ashar. Kemudian balik lagi ke kampus untuk meneruskan kuliahnya. Sepulang kuliah, dia mengajar anak-anak mengaji di TPA masjid. Berpuluh anak belajar a-ba-ta-tsa,.... darinya. Tepuk anak sholeh dan lagu anak TPA pun diajarkannya. Setiap malam kamis, pengajian rutin disiapkannya. Sebagai marbot masjid, dia mengangkat minum dan snack, membagikan ke jamaah yang hadir mengaji. Setelahnya, dia merapikan lagi tikar gelaran tadi, menyapu dan mengepelnya agar kembali bersih dan rapi seperti semula.

Alhamdulillah, akhirnya si-Udin lulus dengan predikat cumlaude. Kemudian ia meneruskan kuliah S2 di ITS Surabaya. Selang berapa tahun, dia kembali ke kampung dan membeli rumah di dekat dengan masjid yang dulu dia rawat. Kali ini berbeda, tidak sebagai marbot masjid, dia sudah menjadi dosen di UNY dan sudah lengkap dengan gelar Ph.D (Philosof of Doktor, gelar S3 dari luar negeri) dan lengkap dengan keluarga beserta tiga orang anak. Bertahun berlalu, Udin yang dulu mengayuh sepeda bututnya, sekarang sudah mengendarai mobil saat menuju kampus UNY tempat bekerjanya. Sesekali masih dikayuh sepedanya untuk berolah raga. Dan perjuangan panjang itu telah berbuah manis, tepat tanggal 8-8-2020 mendapatkan anugerah Profesor (gelar jabatan tertinggi seorang dosen). Profesor Khairudin, di usia sangat muda.

Cerita ini sengaja penulis sajikan dengan tujuan untuk memberi motivasi kepada murid-murid SMPN 2 Kepil semuanya, agar menjadi inspirasi untuk semangat meraih cita-cita. Bahwa kondisi wabah Covid-19 saat ini tidak boleh menjadi alasan untuk berbuat semaunya, bermalas-malasan atau malah menjadi kesempatan untuk mangkir dari segala kegiatan pembelajaran. Masa depan kalian ditentukan oleh sikap, mental dan perilaku kalian sejak saat ini. Orangtua di rumah dan bapak-ibu guru di sekolah hanyalah membantu mengarahkan, memfasilitasi, memotivasi dan bimbingan bagi kalian meraih sukses. Keberhasilan dan kesuksesan kalian sangat bergantung pada semangat, motivasi dan usaha kalian sendiri.

Kalian semuanya harus punya cita-cita yang mulia, semangat yang hebat, motivasi yang tinggi dan usaha yang luar biasa. Hikmah dari cerita di atas bahwa mereka yang sukses adalah mereka yang menjalani dengan penuh kesungguhan. Sekaya apapun orang tua dan sehebat apapun guru tidak akan berpengaruh besar jika kalian tidak punya niat dan greget untuk sukses. Bertepatan dengan bulan Agustus yang bernuansa perjuangan kemerdekaan ini, kami mewakili bapak ibu guru mengajak kalian semua, mari kuatkan kembali semangat dan motivasi untuk meraih cita-cita dan masa depan yang lebih baik. Masa depan kalian ada di tangan kalian, kebahagian keluarga kalian ada di pundak kalian dan kemakmuran negeri ini bergantung pada kesuksesan kalian.

Sebagai motivasi tambahan untuk tetap bersemangat, coba amati perjuangan bapak-ibu guru di sekolah, lihat pengorbanan mereka. Amati motor dan helm mereka yang terlihat butut karena lelah di perjalanan, lihat jaket dan tas mereka yang telah berubah warna karena setiap hari terpanggang terik matahari, rasakan pula betapa capeknya fisik mereka sekedar untuk berbagi ilmu, hikmah dan pelajaran. Mereka, bapak ibu guru juga memiliki putra-putri, ada yang sudah bekerja dan berkeluarga, ada yang masih sekolah, ada yang seusia kalian, ada yang sudah SMA, ada yang sudah kuliah, bahkan ada juga yang masih kecil-kecil. Mereka rela pergi ke sekolah setiap hari meninggalkan putra-putri mereka di rumah, mereka berusaha untuk mempersiapkan dan memberikan pembelajaran yang terbaik agar kalian tetap bisa belajar yang baik dan optimal di tengah pandemi ini. Maka hargai dan hormati bapak ibu guru, mereka bekerja dan berjuang agar kalian tetap bisa belajar dengan baik dan optimal walau terdapat banyak keterbatasan.

Siapapun kalian, sebagai pelajar kalian harus belajar dan berjuang. Tidak memandang anak pejabat atau rakyat, anak pegawai atau anak petani, anak orang kaya atau anak orang biasa, bahkan anak orang yang terbatas dan kurang segalanya. Beberapa bapak ibu guru di sekolah ini juga demikian, ada yang hanya anak buruh bangunan, buruh tani, penjual asongan hingga buruh cuci, tetapi itu semua tidak menyurutkan semangat belajar mereka dan meraih sukses menjadi guru. Guru kalian di sini datang dari berbagai daerah, mulai dari yang terdekat Wonosobo, Magelang, Purworejo, Kebumen, Sleman, Gunung Kidul, Boyolali, Klaten, Solo hingga yang terjauh dari Pacitan. Perjuangan mereka juga bermacam-macam, ada yang kisah perjuangannya bak novel picisan, inilah kisah nyata guru yang sekarang mengajar di sekolah ini, sejak awal SMP (seusia kalian) sekolah sambil mencari upah kerja di sawah, saat SMA hingga kuliah kerja sambilan menjadi kuli bangunan, pergi kuliah naik sepeda ontel sejauh 18 km dari rumahnya. Beratnya perjuangannya tak cukup sampai disitu, pernah mengalami 3 tahun putus sekolah dimana sempat terhenti 1 tahun setelah SMP dan terhenti 2 tahun setelah SMA, semua terjadi karena keterbatasan ekonomi. Maka pesan kami, apapun yang ada dan terjadi saat ini, tetaplah bersyukur dan kuatkan kembali semangat meraih masa depan yang harus lebih baik.

Terkait dengan situasi pandemi ini, kami bapak ibu guru akan berusaha melakukan yang terbaik untuk melayani dan membantu memfasilitasi belajar kalian. Walau usia sudah tidak lagi muda, tapi semangat perjuangan kami tetap menyala untuk negeri Indonesia tercinta. Kami tidak ingin menjadi guru yang hanya mau enaknya saja, asal memberi tugas tanpa pengantar, tanpa stimulan dan tanpa melibatkan rasa seperti meme yang banyak beredar di media, contohnya ; "materi hari ini merangkum buku paket halaman 10 sampai...halaman 250" atau "anak-anak, hari ini kerjakan halaman 17-20, minggu depan ulangan ya". Nah, silahkan bagi kalian yang ada kendala terkait pembelajaran, jangan diam, jangan malas dan jangan hanya menyalahkan keadaan. Jika ada yang bermasalah dengan perangkatnya silahkan datang ke sekolah, insya-Alloh bapak ibu guru akan siap membantu. Demikian juga yang benar-benar tidak ada perangkat Android bisa datang ke sekolah untuk mengambil tugas, dalam hal kebaikan dan untuk kebaikan tidak perlu malu.

Kami mengajak kepada seluruh civitas akademika, baik murid, guru, orangtua murid dan masyarakat, mari dalam bulan perjuangan ini kita berikan apresiasi, penghormatan dan penghargaan atas jasa guru sebagai pejuang pendidikan. Tangan guru memang tidak mengangkat senjata api, tidak memegang tombak, tidak menghunus keris atau pedang, tidak juga menggenggam granat untuk menyerang musuh, tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa di tangan guru-lah masa depan negeri ini. Di tangan guru yang mengajarkan ilmu pengetahuan dan keterampilan, yang mendidik dan membimbing ruhani agar para murid memiliki karakter utama dan mulia, itulah esensi guru dalam menyiapkan calon generasi penerus dan pemimpin bangsa. Mungkin ada yang akan menjadi gubernur, bupati, rektor, dosen, kepala sekolah, guru, pilot, tentara, polisi, pejabat, pegawai, pengusaha, pedagang ataupun bidang lainnya.

Belajar dari Pak Udin sang Marbot yang jadi profesor, maka apapun adanya kalian saat ini tetaplah belajar, bahwa jika kalian mau berusaha dan berjuang dengan sungguh-sungguh, insya-Alloh pasti bisa diraih, karena bagi Alloh tidak ada yang tidak mungkin. Oleh karena itu anak-anak semuanya, jaga semangat kalian untuk terus belajar dengan  memupuk motivasi, karena motivasi adalah kunci utama dalam belajar. Satu lagi yang tidak kalah penting, jangan lupa belajar budi pekerti, akhlak atau tata krama, karena sepintar dan sehebat apapun seseorang jika tidak punya akhlak dan budi pekerti justru akan menjadi orang sombong dan tinggi hati yang menjauhkan rejeki dan rasa simpati. Pada caption di atas nampak gambar Pak Latif dan Pak Abdullah, yang keduanya sedang dikarunia sakit, mari bersama kita doakan semoga beliau berdua segera diberikan kesembuhan oleh Alloh SWT, diangkat penyakitnya dan bisa kembali sehat dan pulih seperti sedia kala, Aamiiin.
Selamat belajar, selamat berkarya dan beraktifitas, semoga sukses.

Selasa, 28 Juli 2020

Perpisahan Dengan Pak Eko Sutomas Yang Memasuki Masa Pensiun

Hari ini, Selasa 28 Juli 2020 adalah hari bahagia tetapi sekaligus sedih. Bahagia karena semua guru dan karyawan bisa berkumpul dalam acara pertemuan resmi sekolah. Sedih karena pada acara itu sekaligus ada acara perpisahan dengan salah satu guru terbaik yang juga menjadi suluh dan sosok teladan di SMPN 2 Kepil.

Yah, pagi ini ada acara perpisahan dengan Pak Eko Sutomas, S.Pd. yang sudah memasuki masa pensiun (purna tugas). Dalam kata sambutannya Pak Eko menyampaikan bahwa dalam 12 tahun pengabdiannya merasa banyak kekurangan.  Pak Eko juga menyampaikan bahwa dirinya banyak merepotkan teman-teman, semenjak hari pertama bertugas 8 Januari 2008 - hingga akhir Juni 2020, dengan berbagai hal terkait diri dan keluarganya. Pak Eko menyampaikan bahwa selama ini dirinya yang tidak banyak berperan dengan kata-kata "keberadaan saya hanyalah laksana pengganjal meja", itu adalah bentuk dari kerendahan hati yang luar biasa. Ungkapan itu seakan meniadakan peran beliau selama ini yang sebenarnya sangat besar, dengan kearifan dan kebijaksanaannya yang menjadi pelajaran bagi semua guru, khususnya yang muda.

Sementara itu Bapak Hadi Wiyono, SH, M.Pd. selaku kepala SMPN 2 Kepil dalam sambutannya menyampaikan ucapan terima kasih atas segala pengabdian yang dicurahkan selama ini. Banyak hal yang dicontohkan oleh Pak Eko selaku guru BK dalam menyelesaikan berbagai masalah dengan baik tanpa keributan dan tidak menimbulkan masalah baru, persis sama dengan  slogan Pegadaian "Menyelesaikan Masalah Tanpa Masalah". Salah satu kata hikmah yang bisa disematkan dari sosok Pak Eko untuk diambil sebagai teladan adalah bahwa untuk kebaikan dan keutamaan kita harus bisa mengalah. Ada saatnya kita harus mengalah bukan berarti kalah, ada saatnya kita menyingkir bukan berarti tersingkir. Inilah yang harus kita petik sebagai pelajaran, bahwa untuk kebaikan yang lebih banyak, maka dibutuhkan sikap kedewasaan, kearifan dan kebijaksanaan.

Kata sambutan juga diberikan oleh Pak Ismain dan Pak Satiyun sebagai guru dan pejabat pembantu pimpinan yang intinya memberikan ucapan selamat jalan dan ucapan terima kasih atas pengabdian selama ini. Sambutan dan kata perpisahan juga diberikan oleh perwakilan siswa yang disampaikan oleh ketua OSIS SMPN 2 Kepil dan persembahan puisi oleh Ananda Pita,  salah satu siswa terbaik yang saat ini sudah lulus dan sekolah di SMAN 1 Salaman.

Selamat menikmati masa purna tugas Pak Eko, kami semua mengucakan terima kasih atas semua kebaikan, pelajaran, ilmu, motivasi dan inspirasi selama ini. Semoga senantiasa dikaruniakan kesehatan dan kebahagian bersama keluarga tercinta.

Jumat, 24 Juli 2020

Pelatihan Pembuatan Media Ajar Untuk Pembelajaran Moda Daring

Pandemi Covid-19 belum usai, dari laporan perhari secara nasional menunjukkan angka yang masih perlu diwaspadai. Hal ini berdampak pada kegiatan pendidikan yang tidak berjalan sebagaimana mestinya. Sampai hari ini Gugus Covid pusat beserta Kemendikbud selaku penanggung jawab di bidang pendidikan belum berani memutuskan untuk kegiatan pembelajaran moda tatap muka di depan kelas. Banyak yang dipertaruhkan jika harus memaksakan anak-anak untuk masuk ke sekolah dalam masa pandemi ini. Virus Corona yang tidak kasat mata itu beresiko menular dan  sulit  dikendalikan, inilah yang menjadi sesuatu yang sangat mengkhawatirkan. Yang lebih dikhawatirkan lagi adalah jika ternyata di sekolah terjadi penularan, maka pihak sekolah justru dianggap menjadi penyebab munculnya klaster baru, hal ini tentu akan menjadi masalah yang semakin memperparah keadaan.

Tidak ada pilihan lain selain pembelajaran jarak jauh (PJJ) untuk tetap melaksanakan proses pembelajaran dalam masa pandemi seperti ini . Pembelajaran dengan pola jarak jauh dan bersifat tidak langsung ini sering disebut dengan istilah pembelajaran dalam jaringan (daring), yang kemudian muncul istilah BDR, belajar dari rumah bagi anak didik dan bekerja dari rumah untuk guru dan tenaga kependidikan. Belajar jarak jauh adalah keharusan sebagai resiko dari adanya pandemi, belajar jarak jauh juga merupakan upaya agar proses pembelajaran tetap berjalan. Dilihat dari berbagai sisi baik teori maupun praktik, pembelajaran tatap muka jauh lebih efektif dibandingkan moda daring. Tingkat efektifitas, efisiensi dan keberhasilannya tidak bisa mencapai 50 persen jika dibandingkan dengan pembelajaran moda tatap muka. Prosentase itu bisa turun dan lebih parah jika pembelajaran moda daring itu tidak dipersiapkan dengan sistem dan model yang tepat.

Pelatihan Pembelajaran Daring SMPN 2 Kepil
Dalam rangka mempersiapkan model pembelajaran yang tepat, efektif dan efisiensi itulah, maka di SMPN 2 Kepil dilaksanakan pelatihan pembuatan bahan ajar untuk model pembelajaran daring (online). Kegiatan yang bertajuk "In House Training - Pembelajaran Dalam Jaringan / Online" itu dilaksanakan selama 3 hari, mulai Rabu 22 Juli 2020 sampai dengan Jum'at 24 Juli 2020. Kegiatan itu berlangsung di laboratorium Komputer dengan pemateri lokal dibantu beberapa guru yang juga sudah memiliki kemampuan memadai dibidang IT. Pemateri pelatihan diambil dari kalangan internal atau lokal, Maryanto, S.Kom, yang tidak lain adalah guru mata pelajaran Informatika/TIK yang juga merupakan penjaga dan pengelola ruang tersebut.

Pemateri menyampaikan bahwa sebenarnya ia merasa masih sangat kurang dalam banyak hal terkait dengan pengetahuan tentang ICT, namun di sisi lain ia dituntut tugas (tanggung jawab) untuk bisa berbagi pengetahuan dan keterampilan dalam bidang TIK. Tuntutan itu tertuang dalam Permen No 68/2014 tentang peran dan tanggung jawab Guru Bimbingan TIK yang salah satu tugasnya harus melakukan pembimbingan kepada sesama guru. Maka pilihan terbaiknya adalah melaksanakan dengan sepenuh hati tugas itu sebatas kemampuan yang dimiliki. Bagi dirinya ada satu prinsip dasar yang menjadi motivasi untuk berbagi, yaitu kata-kata "Remeh bagi kita bisa jadi luar biasa bagi sesama", yang ia sampaikan di awal pelatihan. Atas dasar itu dengan segenap daya upaya walau dengan kemampuan yang terbatas, pemateri berusaha menyampaikan beberapa model pembelajaran yang efektif digunakan dalam proses pembelajaran online.

Di hari pertama pelatihan disajikan materi tentang Pemanfaatan Google Form untuk menyampaikan materi pembelajaran dalam moda daring. Google Form yang biasanya hanya digunakan untuk melaksanakan kuis/tes online ternyata sangat baik dan cocok digunakan untuk menyampaikan materi pembelajaran yang sekaligus bisa mendapatkan umpan balik dari anak didik berupa form yang includ untuk mengerjakan dan mengirim tugas. Pemateri juga menayangkan langsung tampilan materi dan tugas yang diberikan guru di HP Android, sebagaimana asumsi umum bahwa mayoritas anak didik mengakses pembelajaran daring menggunakan HP Android. Dengan model tayangan langsung di HP Android itu guru bisa mengetahui yang sebenarnya bagaimana tampilan dan cara kerja anak didik menerima materi serta mengerjakan tugas, sehingga paham step-stepnya dengan harapan bisa menjelaskan jika ada pertanyaan dari anak didik.

Di hari kedua disampaikan materi pembuatan dan pengelolaan kelas maya dengan basis Google Classroom. Guru dikondisikan untuk langsung praktek bagaimana membuat dan mengelola kelas maya menggunakan Google Classroom. Diawali dengan cara membuat kelas maya sesuai mapel masing-masing, cara menambahkan anggota (siswa), cara mengelola menu tugas kelas yang meliputi tugas, tugas kuis, pertanyaan dan materi. Agar tugas kelas teradministrasi dengan rapi, teratur dan sistematis, maka  dibuatkan manajemen tugas kelas dengan cara dikelompokkan dalam bagian-bagian tertentu yang dibuat dengan menu Topik. Bapak/Ibu guru juga diajari langsung cara membuat materi dan tugas di menu tugas kelas, dengan berbagai variasi dan pilihan yang tersedia baik menggunakan menu Tambahkan atau + Buat (baru). Menu Tambahkan bisa bersumber dari google drive, link, file dan video. Sedangkan menu + Buat bisa berupa file baru yang bersifat online meliputi dokumen, slide, spreadsheet, gambar dan formulir.

Di hari terakhir pemateri menyampaikan materi yang juga berbasis google yaitu blog, sebuah pilihan alternatif yang terasa asing karena jarang digunakan namun ternyata sangat simpel dan mudah untuk pembelajaran daring. Dengan blog para guru bisa dengan membuat dan memiliki website pribadi tanpa harus belajar pemrograman coding yang rumit (php, java, html), juga tanpa harus membuat desain yang ibet serta tanpa harus membayar, alias gratis. Secara step-by-step, perlahan namun pasti akhirnya semua guru berhasil membuat blog pribadi, walau sifatnya masih sangat mendasar karena keterbatasan waktu. Bapak/Ibu guru sudah bisa memposting materi ajar mulai dari yang berupa tulisan (text), gambar maupun video yang diperlukan untuk mendukung pembelajaran jarak jauh. Adapun untuk pengelolaan blog tingkat lanjutnya bisa dilaksanakan pada hari lain di luar pelatihan untuk menambahkan fitur-fitur dan mempercantik penampilan blog.

Sebagai penutup tulisan kali ini pemateri yang juga penulis di blog sekolah ini mohon maaf atas segala kesalahan, kekhilafan  dan kekurangan selama pelatihan. Semoga yang sedikit yang telah disampaikan selama pelatihan bisa menambah wawasan dan pengalaman yang harapannya bisa membantu terlaksananya pembelajaran moda daring di SMP Negeri 2 Kepil.