text

Selamat Datang di Blog SMP N 2 Kepil Wonosobo ... Sekolah SEJUTA IMPIAN, ... Awali Suksesmu Dari Sini ... Mulailah segala sesuatu dengan BISMILLAH ...
Tampilkan postingan dengan label Motivasi - Spirit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi - Spirit. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 September 2022

Oase -13 : Merdeka Mengajar di Masa Merdeka Belajar, Perjuangan Guru

Kegiatan penanda-tanganan kesepakatan Anti Perundungan dilaksanakan oleh seluruh warga  SMPN 2 Kepil pada hari Senin, 29 Agustus 2022. Sungguh miris rasanya mendengar cerita perundungan/pembullyian murid kepada gurunya. Kami bisa mengerti dan memahami bagaimana berkecamuknya rasa dalam hati teman-teman guru yang diperlakukan sangat tidak sopan seperti itu. Oleh karena itu kami mohon ijin menuliskan  hal ini menjadi artikel bebas bertema Oase, Perjuangan Guru dalam Era Merdeka Mengajar Di Masa Merdeka Belajar. Kata "merdeka" yang dulu sangat kuat pengaruhnya dalam memotivasi perjuangan, kini banyak disalahgunakan oleh banyak pihak. Sebagian memahami merdeka berarti bebas sebebas-bebasnya, bebas berkata apa saja, bebas melakukan apa saja dan bebas berbuat apa saja tanpa memperdulikan aturan dan norma yang ada. Tak ayal banyak terjadi penyimpangan dalam kehidupan, tak terkecuali di dunia pendidikan. Maka sudah sangat tepat jika pemerintah menggalakkan kesepakatan menolak pembullyian, perundungan dan juga kekerasan seksual di sekolah. Korban perundungan atau pembullyian bukan saja menimpa mereka yang lemah, tetapi bisa juga mereka yang kuat. Bahkan yang lebih parah ketika perundungan bukan hanya antar murid tetapi dilakukan oleh murid kepada guru yang seharusnya sangat dihormati oleh murid-muridnya.

Guru itu manusia biasa yang punya hati yang bisa emosi. Saat sekolah dulu, mungkin kita pernah mendapati guru yang terlihat sedih atau murung, dan kita tidak berani bertanya ada apa, apa yang terjadi, apa penyebabnya. Jika pembaca kebetulan keluarga guru atau punya teman dekat seorang guru, maka sedikit banyak pasti tahu bagaimana sejatinya kehidupan seorang guru, apalagi jika pembaca ternyata seorang guru. Bagaimana kehidupan dan kepribadian guru sesungguhnya bisa diintip aktifitasnya di ruang guru. Di sana akan ditemui berbagai macam karakter guru, ada menikmati rehat dengan santai, bercanda tawa atau berakting lucu, tetapi ada juga masih serius dengan pekerjaannya, ada lagi yang hobi bercerita banyak hal seakan tahu semua seluk kehidupan, tetapi ada juga guru yang sangat pendiam dan enggan bersuara, sementara itu ada juga yang suka mengeluh seakan orang paling susah, tetapi ada juga yang adem-ayem seakan tak pernah punya masalah. Inilah uniknya guru, dibalik penampilan prima, mereka tetaplah manusia biasa yang tak lepas dari masalah, bisa sedih, galau, jengkel, marah atau kecewa.

Lanjut, terkait marah atau kecewa pernahkah pada masa sekolah dulu membuat guru marah, kecewa atau bersikap tidak hormat. Sungguh, sikap tidak hormat kepada guru adalah sikap tercela seorang murid. Merasa tidak dihormati, tidak dihargai dan diremehkan adalah hal paling menyakitkan hati guru, dimana guru merasa seakan dihina oleh muridnya. Berkaitan dengan tema kali ini kita akan sedikit belajar dari seorang teman yang bernama Pak Qomar (nama samaran). Pak Qomar menceritakan secara khusus kepada kami untuk dijadikan inspirasi, diawali dari peristiwa yang dialaminya saat ia duduk di kelas III-A1 SMA swasta di Yogyakarta, sekitar 30 tahun yang lalu. Ia merasa bersalah karena ikut-ikutan mendemo salah satu gurunya yang tidak berkenan masuk di kelasnya karena sesuatu hal, dan kejadian itu justru membuat gurunya marah dan merasa dipermalukan. Sebenarnya ia dan teman-temannya satu kelas sudah meminta maaf kepada beliau (Pak Agus, Guru B. Indonesia), tetapi ia tetap merasa bersalah dan merasa sangat menyesal. Kami bisa merasakan betapa hancur perasaannya, betapa sakit hatinya dan pastinya menjadi peristiwa yang sulit dilupakan.

Cerita berlanjut, Qodarulloh setelah sekitar 12 tahun berlalu kejadian yang sama terulang, tetapi saat itu Pak Qomar adalah guru yang diperlakukan tidak hormat oleh salah satu muridnya di SMK. Sang murid spesial ini berinisial N, nama yang masih saja melekat dalam ingatannya walau ia telah memaafkannya.  Masih terbayang saat murid itu meremehkan, merendahkan dan menghinakan dirinya dihadapan sekitar 30-an murid lainnya. Mungkin anak itu merasa lebih kaya karena anak dari seorang  juragan/peternak ayam petelur yang sukses. Pak Qomar muda yang pernah memegang Ban Hitam Karate itu serasa mendidih darahnya ketika dipermalukan oleh muridnya sendiri. Alhamdulillah, ia bersyukur masih bisa menahan dan mengendalikan emosinya. Tidak terbayang apa yang akan terjadi jika guru muda itu emosi, kiranya cukup dengan 2-3 jurus maka murid itu akan tersungkur berkalang tanah. Ia merenung, beristighfar dan menyesalkan mengapa ini harus terjadi. Ia hanya diam,  dan peristiwa ini belum ia ceritakan kepada siapapun sebelumnya. Ia sempat down dan malu, percaya diri menurun. Katanya, ternyata berat menjadi guru. 

Mengeluh, Ternyata Berat Menjadi Guru

Ternyata memang berat menjadi guru, pekerjaannya banyak, bermacam-macam, berkelanjutan hingga terkadang harus dibawa pulang. Membuat RPP, menyiapkan materi ajar, masuk kelas untuk mengajar, melakukan tes, mengolah nilai dan masih mengerjakan administasi lainnya. Belum lagi jika ada kelas yang susah diatur, butuh energi dan mental ekstra dimana hal itu adalah beban tersendiri, terlebih lagi jika ada murid yang bersikap meremehkan atau berani pada guru seperti pada cerita di atas. Hal begini mungkin tidak terjadi pada sekolah bonafid, sekolah pavorit atau sekolah besar yang berada di kota, yang semuanya sudah terseleksi dan terkondisi dengan baik. Sangat berbeda dengan sekolah kecil di kampung yang level kualitasnya masih di bawah, yang lingkungan kurang kondusif. Di sekolah kecil seperti ini beratnya beban yang dipikul guru sangat terasa, sudah gajinya tak seberapa tidak sebanding dengan besarnya tanggung jawab. Terasa lebih berat lagi apa yang dialami Pak Qomar di atas, muridnya yang waktu itu hanya membayar 150 rupiah untuk 1 jam pelajaran, berani melakukan tindakan keji, tidak berakhlak dan tidak beradab kepada guru yang seharusnya dihormati. Hal-hal seperti inilah yang bisa merusak keikhlasan, menyemai penyesalan, menabur kegalauan hingga menyuburkan iklim bagi guru untuk mengeluhkan keadaan. 

Guru mengeluhkan keadaan sebenarnya bukanlah hal baru, bukan pula hal yang tabu. Mengeluh atau bahasa jawanya ngudoroso adalah hal biasa. Kenyataan seperti ini nyatanya ada di kehidupan guru, mungkin saja sedang ada masalah di sekolah atau di rumah. Hanya saja diantara satu dengan yang lainnya berbeda-beda dalam menyikapi masalahnya. Ada yang mampu menyimpan dengan rapi seakan tidak punya masalah dan tidak pernah mengeluh seakan tidak punya beban sama sekali, tetapi ada juga yang hingga dijuluki tukang mengeluh saking seringnya mengeluh. Tapi kiranya perlu direnungkan jika menghadapi kemungkinan adanya pertanyaan terkait hal guru mengeluh, bolehkah? wangunkah? dan adakah? Pertama, bolehkah guru mengeluh, ya pastinya boleh dan sah-sah saja jika guru mengeluh. Kedua, wangunkah guru mengeluh, ya wangun saja, karena itu manusiawi. Ketiga, adakah guru yang mengeluh, ya tentu saja ada, tidak hanya satu dua, banyak malah. Mungkin fenomena ini sesuai dengan ungkapan "mengeluh membuat perasaan menjadi lega dan plong". Bermacam-macam hal yang menjadi bahan keluhan, mulai dari mengeluhkan tubuh yang capek, mengeluh sakit, mengeluh keuangan, mengeluh keluarga (anak, pasangan atau orangtua), mengeluhkan kondisi alam, mengeluhkan pekerjaan, hingga mengeluhkan beratnya perjalanan. 

Mengeluhkan beratnya perjalanan, inilah yang kami rasakan sebagai guru yang rumahnya paling jauh, jarak tempuh 100 km tiap hari, menyeberang 197 sungai (meliputi sungai besar/kecil, selokan dan got), melintasi 9 kecamatan, 3 kabupaten dan 2 propinsi. Membutuhkan 60-90 menit sekali jalan dengan kecepatan yang tergantung dengan kondisi perjalanan, kondiri kendaraan dan kondisi kesehatan. Jika kondisi normal maka walau jaraknya jauh terasa biasa, tetapi jika kondisi hujan maka akan berbeda ceritanya, dan berbeda lagi jika kondisi ngantuk saat berkendara (hampir setiap hari saat pulang), dan menjadi lebih berat lagi jika kondisi tubuh sedang sakit. Inilah resiko guru pelaju, sakit tidak diakomodir oleh aplikasi Presensi Android berbasis lokasi, harus hadir bersama Androidnya di lokasi bekerja bagaimanapun kondisinya. Itulah yang pernah kami alami ketika Qodarulloh diberi anugerah sakit, dalam kondisi tubuh lemah tetap berangkat karena tidak ingin dicatat membolos (tidak presensi). Suatu saat kondisi tubuh benar-benar tidak mampu lagi untuk dipaksakan untuk berdiri dan naik motor  ke sekolah maka bolos (tidak presensi) menjadi pilihan terakhir (sudah 2 kali bolos). Saat seperti ini kadang muncul perasaan seakan kami adalah guru yang paling susah, paling menderita, paling sengsara, paling berat sehingga paling berhak mengeluh. 

Merasa paling berhak, itulah rasa yang menjebak hati kita, seakan kita satu-satunya, seakan tidak ada orang lain yang juga menderita, padahal di luar sana masih banyak orang lain (guru) mengalami hal serupa, bahkan bisa jadi lebih susah dan perjuangannya lebih berat. Seperti ibu guru SD yang pernah kami tuliskan di edisi terdahulu, ia harus sudah bersiap sejak sebelum subuh, lalu naik motor menuju penitipan sepeda, lanjut menunggu untuk naik bis, turun dari bis masih harus naik ojek ke SD yang berada di lereng gunung di Temanggung. Hal itu dilakukan tiap hari, bertahun-tahun dan itu dijalani dengan baik. Ternyata yang bisa menjadi masalah seseorang ada banyak hal, tidak saja tentang jauh dekatnya perjalanan. Yang rumahnya tidak sejauh kami, bahkan mungkin kurang dari 5 kilometer bukan berarti tanpa masalah, ada saja ujian kesulitan yang menjadi masalah kehidupan. Ada yang diberi sakit, ada yang diberi kesulitan ekonomi akibat bunga yang berbunga, ada juga yang terkait keluarga (anak, pasangan atau orangtua) dan masih banyak lagi. Saat diberikan masalah atau kesulitan, yang perlu diyakini bahwa kita bukanlah satu-satunya orang yang menderita.

Sungguh, kita bukan satu-satunya orang yang menderita, sebagai guru kita tak usah mencari jauh-jauh, coba perhatikan murid-murid kita. Lihat baju, celana/rok, dan sepatu mereka, maka kita akan mengelus dada manakala melihat sepatu yang robek, kumal atau bahkan ujungnya terbuka seperti mulut buaya. Orangtuanya bukan tidak tahu atau tidak mau membelikan, tetapi tidak tau harus bagaimana lagi, hanya sebatas berkata "besok ya jika sudah ada rejeki". Lebih detil lagi jika silaturahmi ke rumahnya (home visit) maka air mata akan mengalir menyaksikan kondisi rumahnya, dimana kamar tamu, kamar tidur dan dapur tanpa sekat berkumpul menjadi satu. Makanan dan pakaian yang penting ada, memang mau menuntut kepada siapa. Jangankan minta dibelikan sepatu, sekedar mau cerita bahwa pensilnya hanya tinggal 2 senti saja sang anak tidak sampai hati. Itulah kenyataan yang ada di sekeliling kita, banyak orang di luar sana yang tidak sedang baik-baik saja. 

Kami tidak akan menuliskan kesimpulan apapun sebagai penutup karena pada dasarnya tulisan ini hanyalah motivasi untuk diri sendiri. Hakekatnya setiap manusia diberikan ujian, ada yang terlihat ringan, ada yang terasa sangat berat, ada yang berulang-ulang dan terkadang datang silih berganti. Sayangnya, datang silih bergantinya ujian membuat seseorang melupakan karunia Alloh yang lain yang sangat banyak, yang bahkan tak terhitung jumlahnya. "Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, Allah benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS An-Nahl : 18).  Dan satu hal yang membuat tidak sadar betapa banyaknya nikmat Alloh adalah karena kurangnya rasa syukur. “Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhoi; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.” (QS An-Naml: 19). Dari dua ayat Al-Quran tersebut cukuplah menjadi hujah bahwa tidak ada yang lebih baik dan lebih utama dari bersyukur. 

Bersyukur, hanya itu yang dapat kami (penulis) sampaikan. Bagaimana tidak bersyukur, jika kami yang hanya anak dari petani dan buruh serabutan, yang saat SD-nya tukang mencari rumput dan kayu bakar, yang saat SMP-nya ikut menjadi buruh cangkul dan gali sumur, dan yang saat SMA-nya masih kembali merumput, buruh cangkul dan juga buruh bangunan, akhirnya bisa menyelesaikan kuliah walau sambil terus merumput dan jadi kuli bangunan di saat libur. Bagaimana tidak bersyukur, kami yang sehari setelah wisuda langsung mau diajak bekerja di perumahan elit Tionghoa dengan pangkat  LETU (laden tukang), yang tak lain pembantu tukang, mengaduk semen, membawa material itu - akhirnya diterima bekerja sebagai guru, bagaimana kami tidak bersyukur. Mari kita terus bersyukur, dalam situasi yang sudah merdeka ini kita tetap dituntut harus berjuang, berjuang menjadi pendidik yang berusaha untuk bisa memberi motivasi anak-anak menuju sukses di masa depan, insyaAlloh.

Selasa, 17 Agustus 2021

HUT RI Ke-76, Satu Episode Metamorfose bagi Sekolah Kami

Jika HUT RI tahun yang lalu terasa istimewa dengan angka 75 yang sering disebut dengan istilah HUT Intan, menjadi agak sedikit berbeda di HUT RI kali ini yang berangka 76. HUT RI ke 76 menjadi istimewa, bukan karena angkanya terasa sangat akrab karena sama dengan merek rokok yang sangat terkenal dalam beberapa dekade itu, tetapi karena pelaksanaannya yang terasa lebih penuh makna walaupun dilaksanakan dalam masa pandemi. Menjadi lebih berasa bagi sekolah negeri atau kantor pemerintah di wilayah Wonosobo, karena ada edaran yang menjadikan kewajiban untuk melaksanakan upacara di tempat kerja. Maka pagi itu banyak orang berseragam Korpri nampak sibuk melaksanakan aktifitas upacara bendera di halaman sekolah / kantor tempat dimana mereka bekerja. 

Situasi itu juga membuat nuansa yang berbeda dari tahun lalu saat mengikuti Detik-detik Proklamasi, dimana jika tahun lalu masing-masing guru/staf mengikuti secara virtual di depan TV dari rumah masing-masing, untuk tahun ini dilaksanakan di depan layar besar  bersama-sama di salah satu ruangan di sekolah. Situasi itulah yang terlihat di Laboratorium Komputer SMP N 2 Kepil dimana segenap guru dan staf SMP N 2 Kepil serempak mengikuti upacara Detik-Detik Proklamasi secara virtual dari tayangan Live TV Nasional yang ditayangkan dengan LCD Proyektor. Dari kegiatan ini terkandung makna bahwa perjuangan para pahlawan dalam merebut kemerdekaan sampai kapanpun tetap akan bernilai sebagai perjuangan. Maka upacara HUT RI sebagai penghormatan dan wujud syukur itu sampai kapanpun juga harus dilaksanakan walau dalam masa Pandemi Covid-19.

Pandemi Covid-19 bukan menjadikan alasan bagi jajaran pimpinan, guru dan staf di SMP N 2 Kepil untuk hanya berdiam diri berpangku tangan, atau malah menikmati "hari-hari libur", tetapi sebaliknya selalu berusaha melakukan sesuatu yang berbeda di masa pandemi. Jika ada sekolah lain yang lingkungannya serasa menjadi lebih belukar, kotor dan tak terawat, hal ini berbeda dengan yang terjadi di SMP N 2 Kepil. Dibawah komando Bapak Hadi Wiyono, SH, M.Pd, banyak terobosan program dan perubahan yang dilakukan. Di bidang pembinaan SDM guru sudah pasti dengan breefing rutin pekanan dan pembinaan dari pengawas dalam rangka penguatan motivasi dan hal terbaru terkait tugas pokok abdi pendidikan, juga pelatihan-pelatihan bagi terkait konten pendidikan berbasis internet yang sangat dibutuhkan sebagai variasi dalam pembelajaran jarak jauh (PJJ) di masa pandemi, mulai dari google form, google classroom, google meet, hingga pembuatan video pembelajaran yang siap upload di youtube. Di bidang fisik dan lingkungan sekolah juga sangat terasa banyak perubahan, beberapa yang sudah dilakukan antara lain, pembuatan taman sekolah, perluasan pintu gerbang, pemasangan rail pengaman tangga, pembuatan green house, penebangan pohon penutup spot jalan raya, penambahan pengaman luapan air hujan di jalur sentral, penambahan tempat parkir sepeda siswa, blok cor jalur sepeda siswa, pembuatan kolam ikan, serta halte bus (menunggu proses pihak ketiga). 

Bagaikan seekor ulat kecil yang tak berdaya, jika ia ikhlas dalam menjalani perannya, maka ia akan terus istiqomah membangun kepompong, dan proses puasa dalam kepompong itulah yang kelak akan  merubahnya menjadi kupu-kupu. Itulah metamorfose, jika semua proses berhasil dilaksanakan secara sempurna maka akan terbentuklah kupu-kupu, sebuah proses alami yang mengandung filosofi dan sangat kaya makna yang mendalam. Ada usaha, ada ikhlas, ada istiqomah, ada prihatin, ada keyakinan dan ada kepasrahan. Sangat terasa ketika hasil PPDB tahun ini diumumkan, ditengah kondisi yang upnormal dimana banyak sekolah negeri yang kecil di pelosok perbatasan yang hasilnya jauh menurun, Alhamdulillah, proses metamorfose semua unsur sekolah menunjukkan keberhasilan yang dibuktikan dari hasil PPDB masih mampu meraih kuota yang sama dengan tahun sebelumnya.

Kami segenap warga SMPN 2 Kepil mengadopsi filosofi tersebut, melakukan metamorfose dengan berbagai usaha dan terobosan yang sekiranya bisa dilaksanakan. Berusaha yang bukan berorientasi pada hasil, tapi berorientasi kepada proses, terus berproses dan selalu berproses menuju keadaan baru yang berbeda yang lebih baik, sejengkal demi sejengkal, setapak demi setapak, selangkah demi selangkah dalam berbagai hal walau dalam keterbatasan. Adapun hasil bukanlah menjadi kewenangan kami, karena kami menyadari sebagai manusia tidak punya kuasa, tapi manusia punya kuasa untuk terus berusaha, terus berkarya, terus memperbaiki diri menuju keadaan yang lebih baik.

Menuju keadaan yang lebih baik, itulah goal dari metamorfose kami, bukan menuju sempurna seperti halnya ulat menjadi kupu-kupu. Kami sadar, kami hanya sekolah kecil di kampung di wilayah perbatasan yang segala sesuatunya tidak bisa dibandingkan dengan sekolah besar, apalagi sekolah besar yang ada di kota, tetapi kami punya keyakinan tetap bisa melakukan sesuatu. Dengan metamorfose ala kami, kami berharap ada hal-hal positif yang baru yang bisa kami adopsi dari metamorfose ini, semoga usaha kami, keikhlasan kami, keistiqomahan kami, keprihatinan kami serta kepasrahan kami dalam menjalankan peran sebagai abdi pendidikan akan berdampak positif dan membawa manfaat bagi bangsa dan negara. Selamat berjuang, tetap berjuang, tetap merdeka. 

Kamis, 13 Agustus 2020

Guru Pejuang Pendidikan, Anak-anak, Belajarlah dari Sosok Gurumu

Agustus adalah bulan bernuansa perjuangan, maka kami mencoba membuat tulisan bertema perjuangan guru. Walau tidak minta dihormati dan dihargai layaknya pahlawan, tetaplah guru adalah sosok pejuang, pejuang pendidikan. Bahwa dalam kesederhanaannya guru adalah pejuang yang selayaknya diberikan apresiasi dan penghormatan, bukan untuk membesarkan hati, tetapi sebagai bentuk pembelajaran dan motivasi kepada para murid, orang tua wali dan masyarakat. Tema ini sengaja kami tuliskan dengan harapan bisa memberikan semangat dan motivasi kepada anak-anak untuk tetap belajar dengan baik dan optimal di masa pandemi Covid-19, dengan sebuah prinsip bahwa dalam kondisi sesulit apapun cita-cita dan masa depan haruslah diraih dengan penuh perjuangan.

Penuh perjuangan, itulah inti rangkaian dari kisah Si Udin (Manusia Marbot) yang menjadi viral dan inspiratif bagi dunia pendidikan beberapa hari ini, khususnya di Yogyakarta. Disadur dari sepenggal kata sambutan yang disampaikan Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dalam acara pengukuhan dua guru besar UNY, Prof. Dr. Sri Wening, M.Pd., dan Prof. Ir. Moh. Khairudin, M.T., Ph.D, bertempat di  Auditorium UNY, Sabtu, 8 Agustus 2020. Rektor UNY, Prof. Dr. Sutrisna Wibawa, M.Pd, menyampaikan sebuah kisah berjudul “Sebuah Inspirasi Dari Masjid Jogja: UDIN, yang tidak lain adalah Prof. Ir. Moh. Khairudin, M.T. Ph.D., dalam perjalanan hidupnya, yang diawali kisahnya dari seorang marbot, akhirnya menjadi seorang profesor, gelar tertinggi dari jabatan seorang dosen". Perjalanan UDIN dari MARBOT MASJID  jadi PROFESOR, secara singkat penulis rangkum sebagai berikut.

Tahun 1998, dia ke Jogja, sebagai mahasiswa baru UNY, jurusan elektro. Kehidupannya yang tidak berkecukupan membuatnya prihatin, kuliah, tinggal dan mengurus masjid Al Amin, menjadi marbot dan jualan tempe. Setiap pagi setelah subuh, dia kayuh sepeda bututnya, mengambil tempe dan mengantar ke langganannya. Setelah itu, kembali ke masjid untuk membersihkan masjid, kemudian mengayuh sepedanya di kampus yang jaraknya sekitar 5 km. Kadang malam hari selepas isya dia masih mengantar tempe ke langganannya yang lain. Tak jarang dia pulang ke masjid di sela-sela jam kuliahnya untuk melantunkan adzan dhuhur atau ashar. Kemudian balik lagi ke kampus untuk meneruskan kuliahnya. Sepulang kuliah, dia mengajar anak-anak mengaji di TPA masjid. Berpuluh anak belajar a-ba-ta-tsa,.... darinya. Tepuk anak sholeh dan lagu anak TPA pun diajarkannya. Setiap malam kamis, pengajian rutin disiapkannya. Sebagai marbot masjid, dia mengangkat minum dan snack, membagikan ke jamaah yang hadir mengaji. Setelahnya, dia merapikan lagi tikar gelaran tadi, menyapu dan mengepelnya agar kembali bersih dan rapi seperti semula.

Alhamdulillah, akhirnya si-Udin lulus dengan predikat cumlaude. Kemudian ia meneruskan kuliah S2 di ITS Surabaya. Selang berapa tahun, dia kembali ke kampung dan membeli rumah di dekat dengan masjid yang dulu dia rawat. Kali ini berbeda, tidak sebagai marbot masjid, dia sudah menjadi dosen di UNY dan sudah lengkap dengan gelar Ph.D (Philosof of Doktor, gelar S3 dari luar negeri) dan lengkap dengan keluarga beserta tiga orang anak. Bertahun berlalu, Udin yang dulu mengayuh sepeda bututnya, sekarang sudah mengendarai mobil saat menuju kampus UNY tempat bekerjanya. Sesekali masih dikayuh sepedanya untuk berolah raga. Dan perjuangan panjang itu telah berbuah manis, tepat tanggal 8-8-2020 mendapatkan anugerah Profesor (gelar jabatan tertinggi seorang dosen). Profesor Khairudin, di usia sangat muda.

Cerita ini sengaja penulis sajikan dengan tujuan untuk memberi motivasi kepada murid-murid SMPN 2 Kepil semuanya, agar menjadi inspirasi untuk semangat meraih cita-cita. Bahwa kondisi wabah Covid-19 saat ini tidak boleh menjadi alasan untuk berbuat semaunya, bermalas-malasan atau malah menjadi kesempatan untuk mangkir dari segala kegiatan pembelajaran. Masa depan kalian ditentukan oleh sikap, mental dan perilaku kalian sejak saat ini. Orangtua di rumah dan bapak-ibu guru di sekolah hanyalah membantu mengarahkan, memfasilitasi, memotivasi dan bimbingan bagi kalian meraih sukses. Keberhasilan dan kesuksesan kalian sangat bergantung pada semangat, motivasi dan usaha kalian sendiri.

Kalian semuanya harus punya cita-cita yang mulia, semangat yang hebat, motivasi yang tinggi dan usaha yang luar biasa. Hikmah dari cerita di atas bahwa mereka yang sukses adalah mereka yang menjalani dengan penuh kesungguhan. Sekaya apapun orang tua dan sehebat apapun guru tidak akan berpengaruh besar jika kalian tidak punya niat dan greget untuk sukses. Bertepatan dengan bulan Agustus yang bernuansa perjuangan kemerdekaan ini, kami mewakili bapak ibu guru mengajak kalian semua, mari kuatkan kembali semangat dan motivasi untuk meraih cita-cita dan masa depan yang lebih baik. Masa depan kalian ada di tangan kalian, kebahagian keluarga kalian ada di pundak kalian dan kemakmuran negeri ini bergantung pada kesuksesan kalian.

Sebagai motivasi tambahan untuk tetap bersemangat, coba amati perjuangan bapak-ibu guru di sekolah, lihat pengorbanan mereka. Amati motor dan helm mereka yang terlihat butut karena lelah di perjalanan, lihat jaket dan tas mereka yang telah berubah warna karena setiap hari terpanggang terik matahari, rasakan pula betapa capeknya fisik mereka sekedar untuk berbagi ilmu, hikmah dan pelajaran. Mereka, bapak ibu guru juga memiliki putra-putri, ada yang sudah bekerja dan berkeluarga, ada yang masih sekolah, ada yang seusia kalian, ada yang sudah SMA, ada yang sudah kuliah, bahkan ada juga yang masih kecil-kecil. Mereka rela pergi ke sekolah setiap hari meninggalkan putra-putri mereka di rumah, mereka berusaha untuk mempersiapkan dan memberikan pembelajaran yang terbaik agar kalian tetap bisa belajar yang baik dan optimal di tengah pandemi ini. Maka hargai dan hormati bapak ibu guru, mereka bekerja dan berjuang agar kalian tetap bisa belajar dengan baik dan optimal walau terdapat banyak keterbatasan.

Siapapun kalian, sebagai pelajar kalian harus belajar dan berjuang. Tidak memandang anak pejabat atau rakyat, anak pegawai atau anak petani, anak orang kaya atau anak orang biasa, bahkan anak orang yang terbatas dan kurang segalanya. Beberapa bapak ibu guru di sekolah ini juga demikian, ada yang hanya anak buruh bangunan, buruh tani, penjual asongan hingga buruh cuci, tetapi itu semua tidak menyurutkan semangat belajar mereka dan meraih sukses menjadi guru. Guru kalian di sini datang dari berbagai daerah, mulai dari yang terdekat Wonosobo, Magelang, Purworejo, Kebumen, Sleman, Gunung Kidul, Boyolali, Klaten, Solo hingga yang terjauh dari Pacitan. Perjuangan mereka juga bermacam-macam, ada yang kisah perjuangannya bak novel picisan, inilah kisah nyata guru yang sekarang mengajar di sekolah ini, sejak awal SMP (seusia kalian) sekolah sambil mencari upah kerja di sawah, saat SMA hingga kuliah kerja sambilan menjadi kuli bangunan, pergi kuliah naik sepeda ontel sejauh 18 km dari rumahnya. Beratnya perjuangannya tak cukup sampai disitu, pernah mengalami 3 tahun putus sekolah dimana sempat terhenti 1 tahun setelah SMP dan terhenti 2 tahun setelah SMA, semua terjadi karena keterbatasan ekonomi. Maka pesan kami, apapun yang ada dan terjadi saat ini, tetaplah bersyukur dan kuatkan kembali semangat meraih masa depan yang harus lebih baik.

Terkait dengan situasi pandemi ini, kami bapak ibu guru akan berusaha melakukan yang terbaik untuk melayani dan membantu memfasilitasi belajar kalian. Walau usia sudah tidak lagi muda, tapi semangat perjuangan kami tetap menyala untuk negeri Indonesia tercinta. Kami tidak ingin menjadi guru yang hanya mau enaknya saja, asal memberi tugas tanpa pengantar, tanpa stimulan dan tanpa melibatkan rasa seperti meme yang banyak beredar di media, contohnya ; "materi hari ini merangkum buku paket halaman 10 sampai...halaman 250" atau "anak-anak, hari ini kerjakan halaman 17-20, minggu depan ulangan ya". Nah, silahkan bagi kalian yang ada kendala terkait pembelajaran, jangan diam, jangan malas dan jangan hanya menyalahkan keadaan. Jika ada yang bermasalah dengan perangkatnya silahkan datang ke sekolah, insya-Alloh bapak ibu guru akan siap membantu. Demikian juga yang benar-benar tidak ada perangkat Android bisa datang ke sekolah untuk mengambil tugas, dalam hal kebaikan dan untuk kebaikan tidak perlu malu.

Kami mengajak kepada seluruh civitas akademika, baik murid, guru, orangtua murid dan masyarakat, mari dalam bulan perjuangan ini kita berikan apresiasi, penghormatan dan penghargaan atas jasa guru sebagai pejuang pendidikan. Tangan guru memang tidak mengangkat senjata api, tidak memegang tombak, tidak menghunus keris atau pedang, tidak juga menggenggam granat untuk menyerang musuh, tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa di tangan guru-lah masa depan negeri ini. Di tangan guru yang mengajarkan ilmu pengetahuan dan keterampilan, yang mendidik dan membimbing ruhani agar para murid memiliki karakter utama dan mulia, itulah esensi guru dalam menyiapkan calon generasi penerus dan pemimpin bangsa. Mungkin ada yang akan menjadi gubernur, bupati, rektor, dosen, kepala sekolah, guru, pilot, tentara, polisi, pejabat, pegawai, pengusaha, pedagang ataupun bidang lainnya.

Belajar dari Pak Udin sang Marbot yang jadi profesor, maka apapun adanya kalian saat ini tetaplah belajar, bahwa jika kalian mau berusaha dan berjuang dengan sungguh-sungguh, insya-Alloh pasti bisa diraih, karena bagi Alloh tidak ada yang tidak mungkin. Oleh karena itu anak-anak semuanya, jaga semangat kalian untuk terus belajar dengan  memupuk motivasi, karena motivasi adalah kunci utama dalam belajar. Satu lagi yang tidak kalah penting, jangan lupa belajar budi pekerti, akhlak atau tata krama, karena sepintar dan sehebat apapun seseorang jika tidak punya akhlak dan budi pekerti justru akan menjadi orang sombong dan tinggi hati yang menjauhkan rejeki dan rasa simpati. Pada caption di atas nampak gambar Pak Latif dan Pak Abdullah, yang keduanya sedang dikarunia sakit, mari bersama kita doakan semoga beliau berdua segera diberikan kesembuhan oleh Alloh SWT, diangkat penyakitnya dan bisa kembali sehat dan pulih seperti sedia kala, Aamiiin.
Selamat belajar, selamat berkarya dan beraktifitas, semoga sukses.

Rabu, 15 Juli 2020

Guruku, Aku Butuh Suluh dan Motivasimu

Guruku
Hati dan pikiranku serasa kelu
Langkahku gontai, serasa tak mampu
Mataku tertunduk, tak berani menatap
Aku lemah hanya bisa meratap

Penguatku
Ambang visiku tidak sekokoh tiang listrik
Yang masih tergoyang dengan sedikit intrik
Teguhnya rasa belum bisa menjadi batu karang
Yang kokoh diterjang ombak sepanjang

Semangatku
Serasa berat langkah ini
Serasa lambat putaran roda ini
Serasa jauh sekali jarak sekolah ini
Serasa lama sekali perjalanan ini

Motivasiku,
Apakah masih kudapati wajah yang riang
Dengan mata yang lebih terang dari bintang
Senyum tulus dan ramah yang teramat panjang
Tutur kata halus penyejuk di panasnya siang

Inspirasiku,
Di masa pandemi ini, banyak merubah situasi
Seakan membuat jarak terpisah jauh tak terperi
Kurindu semuanya dengan segenap imaginasi
Sosok semangat yang penuh inspirasi

Beberapa bait puisi di atas mungkin terkesan lebay dan sangat melankolis, tapi itulah ungkapan yang  dituliskan oleh seorang murid kepada gurunya yang dirasa sangat menginspirasinya selama ini. Nama dan insial ada di meja redaksi, penulis bagikan agar bisa menjadi motivasi bagi siapa saja yang mungkin saja bisa mengambil manfaat untuk bahan introspeksi. Yang lebih penting lagi adalah motivasi diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Murid, orang tua, guru dan staf di sekolah bisa saja mengalami kondisi galau, sedih, ngedrop dan menurunnya semangat dalam melakukan aktifitas. Walau tidak harus ditanggapi dengan berlebihan, tetapi perlu segera diantisipasi agar tidak berkelanjutan. Bagi seorang guru, jika ia sedang galau, sedih atau tidak kondusif bisa berpengaruh pada kerja dan kinerja yang ditunjukkan di tempat kerja. Jika dituruti, maka akan keluar semua keluh kesah dan beban pikiran yang dirasakannya baik kendala fisiknya, ruhaninya, perjalanannya atau di tempat kerjanya. Hal ini terjadi karena seorang guru punya keterbatasan, bukan malaikat yang tanpa cacat.

Guru bukan malaikat, ia hanya manusia biasa, yang terkadang bisa diserang rasa galau, susah fokus dan tidak produktif. Penyebabnya bermacam-macam, ada 1001 yang menjadi penyebabnya, entah karena suasana kerja, suasana hati, atau suasana raga yang sedang tidak seperti yang diharapkan. Hal ini bisa terjadi oleh siapa saja dan kapan saja, baik yang sudah senior maupun yang masih yunior, wanita yang lemah lembut maupun pria yang terlihat kokoh bertenaga. Hadir dalam situasi yang tidak pilih-pilih dan tanpa kompromi, seperti saat pandemi ini.

Dalam kondisi pandemi seperti saat ini, seorang guru kita tetap harus semangat untuk mendampingi anak-anak dalam belajar.  Dari puisi di atas, kehadiran guru yang menginspirasi sangat dibutuhkan, yang bisa memberikan motivasi, membangun semangat dan menuntun menuju fase yang lebih baik. Oleh karena itu walau dalam kondisi yang tidak menentu, bahkan dalam rasa galau sekalipun harus tetap bisa menjadi sosok guru yang siaga. Guru siaga di tengah bencana, guru siaga di tengah wabah Corona, yang memaksa diri harus merubah pola mengajarnya tidak dengan tatap muka, tetapi diganti dengan cara daring atau online.

Pembelajaran online saat ini memang sedang trend, karena situasi membuat sistem ini menjadi pilihan terbaik. Pembelajaran online disamping punya banyak kekurangan, namun juga memiliki kelebihan, diantaranya menghemat sumber daya. Di saat seperti ini memang seorang guru dituntut untuk kreatif, inovatif dan tetap survife. Tujuannya hanya satu, untuk memberikan pelayanan yang terbaik dan optimal di tengah keterbatasan yang ada.

Walau dalam keterbatasan, guru-guru SMP Negeri 2 Kepil telah sepakat akan mengambil suatu langkah untuk melakukan inovasi dalam pembelajaran, yang berbeda dari semester sebelumnya. Diseminasi akan dilaksanakan untuk belajar bersama-sama, mencontoh dan mengadopsi dari beberapa pelatihan dan pembelajaran daring yang saat ini sedang trend, mulai dari aplikasi Zoom, Google Meet, hingga Teams dari office 365. Diseminasi akan dilakukan oleh beberapa guru Spero yang sudah terlibat dalam beberapa model-model pelatihan tersebut diharapkan untuk bisa berbagi dalam aksi tutor sebaya. Dengan pelatihan ini diharapkan menjadi pengalaman baru sehingga bisa membuat inovasi dalam pembelajaran yang akan diberikan kepada peserta didiknya. Memang tidak mudah dan menambah beban pemikiran dalam kondisi tubuh yang lelah.

Lelah adalah resiko, dan lelah itulah yang banyak dirasakan oleh guru yang rumahnya jauh dan tidak siap dengan perubahan situasi yang mendadak. Hanya diperlukan sikap berlapang dada, bahwa perubahan bisa terjadi kapan saja, bisa berubah tidak sesuai dengan harapan, yang jika tidak siap bisa muncul rasa putus asa. Rasanya berat menjalani tugas sebagai guru, capek menempuh perjalanan yang jauh tetapi tidak bisa bertemu siswa untuk mengajar langsung secara tatap muka, kemudian harus membuat materi dan tugas dalam bentuk yang tidak biasanya. Capek, suntuk dan galau kumpul menjadi satu, serasa tanpa ada harapan yang lebih baik.

Harapan yang lebih akan muncul jika kita memiliki empati, empati bagaimana lebih lelahnya mereka yang rumahnya jauh, kondisi perjalanan yang padat dan penuh resiko serta butuh waktu lebih banyak, tentu mereka lebih galau. Saat kondisi galau terkadang memang menjadikan seorang guru menjadi tidak produktif karena malas atau acuh tak acuh. Kondisi yang sangat rawan dan butuh suport serta inspirasi untuk bisa kembali survive, kembali hadir sepenuhnya.

Galau itu akan berkurang jika kita mau melongok keluar jendela atau melangkah keluar sebentar, kita dapat menyaksikan bahwa di luar sana banyak guru di perbatasan yang kondisinya sering tidak aman dan kurang kondusif. Atau bisa merasakan perjuangan guru di pedalaman yang harus menempuh jalan berlumpur, hingga susahnya guru yang harus berjuang menyeberang sungai. Belum lagi jika merasakan bagaimana guru dengan keterbatasan fisik dan kondisi yang sulit namun tetap survive. Satu lagi perjuangan guru tidak tetap (honorer), yang saat ini jauh lebih baik berbeda dengan 10-20 tahun yang lalu, dimana penulis pernah mengalami upah 80 ribu perbulan.

Satu lagi kisah guru inovatif yang inspirtaif, yang menyadari bahwa belajar di rumah tidak mudah diterapkan di semua wilayah, karena butuh fasilitas pendukung yang memadai. Kondisi itu membuat sosok guru bernama AVAN FATHURRAHMAN memilih mendatangi rumah siswanya secara bergilir. Guru di SDN Batuputih Laok 3, Kecamatan Batuputih, Sumenep, Madura itu mengundang empati bahwa kepeduliaanya untuk tetap memberikan layanan pendidikan sangat mulia dan layak untuk dijadikan inspirasi bagi seluruh pendidik di negeri ini.

Beberapa kondisi yang membangkitkan empati itu cukuplah sebagai bekal untuk tetap semangat dan survive di tengah perubahan situasi. Satu harapan, semoga kita tetap bisa optimis hadir dengan  mata yang lebih terang dari bintang dan senyum ramah yang panjang yang menginspirasi. Demikian tulisan ini penulis goreskan, semoga bisa menjadi semangat untuk belajar dan terus belajar untuk memberikan yang terbaik bagi peserta didik.

Jumat, 20 September 2019

Lentera Hikmah -10 : Menyemai Cinta di Sekolah, Inspirasi Survei Spero 2019

Diawali dengan ungkapan mendiang mantan presiden RI ke- 3, Prof. Dr. Ing. BJ Habibie tentang cinta, "Tanpa cinta kecerdasan itu berbahaya dan tanpa kecerdasan cinta itu tidak cukup". Mantan kepala negara sekaligus ilmuwan yang dikenal dunia internasional karena ilmu dan keahliannya dalam bidang teknologi pesawat terbang ini mengakui bahwa cinta bukan segala-galanya, namun memang cinta mempunyai peranan yang sangat penting, karena mempunyai efek yang luar biasa. Cinta, tentu cinta yang bukan sembarang cinta, cinta yang sejati, cinta dalam arti luas, bukan cinta monyet dan bukan cinta yang berlandaskan nafsu semata. Ada juga ungkapan lain yang berbunyi bahwa kekuatan paling besar yang dimiliki seorang manusia adalah kekuatan cinta yang murni. Begitulah, memang kita semua butuh cinta, karena ada sejuta energi dan kekuatan luar biasa dalam cinta. Inilah tema tulisan kita kali ini, seri lentera hikmah dengan tajuk Menyemai Cinta dalam Pembelajaran, selamat menikmati.

Mencintai dan dicintai orang lain adalah sesuatu hal yang indah dan menyenangkan. Tidak bisa disangkal bahwa kita butuh cinta, kita ada dan lahir di dunia ini karena cinta, kita menjadi besar karena cinta, kita bekerja karena dan untuk cinta, kita bertahan hingga usia senja juga karena cinta, bahkan setiap hari kita munajat dan beribadah kepada-Nya juga karena cinta. Kekuatan cinta itu benar-benar luar biasa, bahkan jika ditelisik lebih lanjut, cinta mampu memberikan kekuatan-kekuatan yang tidak terduga. Cinta dalam arti yang sebenarnya, cinta yang membangun kekuatan jiwa, cinta yang berperan dalam meraih cita-cita. Membicarakan cinta, mungkin terkesan melankolis, namun ternyata sangat besar kekuatannya dan sangat dahsyat efeknya.

Tulisan ini dibuat berdasarkan dua survei yang kami lakukan kepada siswa-siswa kami. Survei yang pertama dilaksanakan pada bulan Maret 2015, dan survei yang kedua dilaksanakan pada awal April 2019. Kedua survei ini masih tergolong amatiran dan sangat sederhana, dengan tujuan untuk memperoleh data dari siswa terkait beberapa hal, yang diharapkan bisa menjadi masukan berharga bagi guru dan sekolah. Survei dilaksanakan dengan format berbentuk angket dan dilaksanakan dalam pembelajaran, dengan kemasan sedemikian rupa sehingga siswa dapat memberikan jawaban yang sejujurnya tanpa malu, takut atau tertekan. Alhasil, ternyata banyak hal dapat diungkap dalam survei ini, dan yang utama diperoleh gambaran atau potret guru dalam pandangan siswa.

Survei yang pertama (2015) dikemas dalam daftar isian berbasis aplikasi Ms. Word dengan hasil akhir berupa file yang kemudian dikirim menggunakan e-mail (internet). Rangkuman hasil survei ini pernah terbit dalam artikel Manajemen -12, Semangat Perjuangan Untuk Kesuksesan Bersama, yang intinya diperoleh data guru terpavorit sebagai berikut; Pak Yosep Luhvendi, S.Pd di urutan pertama (24), Pak Drs. Kardan di urutan kedua (23) dan Bu Ruti Sumarni, S.Pd di urutan ketiga (17). Alasan utama menjadi guru pavorit adalah; # baik, ramah, santun, dan  # pandai, cerdas, terampil. Adapun data kebalikannya kami tidak menyebut nama/merek (terkait kode etik), namun muncul 1 sosok dengan angka fantastis, 44 responden menyatakan tidak menyukai sosok ini dari total responden sebanyak 91 siswa, itu artinya hampir separuh siswa tidak suka, dengan alasan utama guru tidak disukai; # galak / pemarah dan # acuh / kurang perhatian.

Survei yang kedua (terbaru, 2019) juga berbentuk angket dan merupakan pengembangan dari survei yang pertama. Survei kedua dilaksanakan secara full online berbasis aplikasi Google Form, yang link-nya terhubung dalam artikel Angket Kelas IX, Wahana Bercermin Bagi Guru dan Sekolah. Dalam form tersebut kami sediakan beberapa pertanyaan dengan model jawaban yang beragam, ada yang memilih satu jawaban yang tersedia (drop-down), ada yang isian singkat (jawaban pendek) dan ada yang uraian (jawaban panjang). Beberapa pertanyaan terkait terkait pengelolaan lingkungan sekolah, layanan administrasi sekolah dan juga pengelolaan kelas oleh wali kelas. Lebih spesifik lagi adalah munculnya beberapa nama guru yang menjadi guru terpavorit lengkap dengan alasan-alasannya dan yang sebaliknya yang tidak disukai berikut alasan-alasannya.

Inilah hasil survei terbaru (2019), dari jumlah responden sebanyak 88 siswa (dari total 95 siswa kelas IX) diperoleh beberapa data sebagai berikut;
  • Tiga sosok guru favorit teratas adalah 1. Bapak Eko Sutomas, S.Pd. (33), 2. Ibu M.I. Isti Supriyanti, S.Pd. (11) dan 3. Ibu Yani Widayati, M.Pd. (9)
  • Secara umum alasan menjadi guru favorit adalah ; # ramah, # telaten, # sabar, # tidak mudah marah, # komunikatif
  • Sedangkan tiga sosok yang kurang disukai tidak kami sebutkan namanya, cukup angkanya saja, yaitu; 20, 11, 9 dan disusul beberapa angka di bawahnya 
  • Adapun alasan guru kurang disukai, yaitu; # galak, # suka marah, # marai ngantuk, # suka menghukum, # mutungan, # sering main HP
Sebelum masuk pada kesimpulan, perkenankan kami mohon maaf atas beberapa hal. Pertama, jika tulisan kali ini dirasa cukup panjang (jujur saja, tulisan ini adalah yang terberat proses penyusunannya dan terlama waktunya). Kedua, jika isinya menyinggung atau bahkan menghunjam ke hati, sungguh bukan itu tujuan kami. Ketiga, jika ada data yang dianggap tidak sesuai harapan, perlu kami sampaikan bahwa tujuan survei ini bukan untuk menunjukkan siapa yang kompeten dan yang tidak kompeten, juga bukan untuk men-justifikasi siapa yang baik dan yang buruk.

Kami yakin, bahwa semua guru di sekolah kami sudah baik, sudah kompeten, sudah berpengalaman, bahkan beberapa sangat baik, luar biasa dan istimewa, serta tak ada satupun yang terindikasi kurang baik. Namun demikian, penilaian dari anak juga tidak bisa dianggap sampah, tidak penting dan dikesampingkan begitu saja. Rekaman penilaian dari anak-anak adalah gambaran nyata kondisi pribadi beberapa gurunya yang terjadi pada saat itu, yang bisa saja benar adanya, namun ada juga kemungkinan salah. Jika muncul penilaian yang kurang baik, sangat mungkin saat itu sedang terjadi perubahan kepribadian, yang bisa berubah kapan saja dengan seribu kemungkinan yang menjadi penyebabnya. Oleh karena itu, dalam menyikapi data hasil survei ini marilah kita mencoba untuk bersikap dewasa, obyektif, sportif dan tetap berfikir positif.

Seorang pendidik (guru) adalah sosok spesial dan biasanya menjadi tokoh di masyarakat atau ditokohkan oleh masyarakat, hal ini karena seorang pendidik dianggap sebagai sosok yang banyak ilmu dan pengalaman, apalagi yang senior. Namun demikian, guru tetaplah manusia biasa yang tak luput dari kekurangan dan kesalahan. Oleh karena itu sikap mawas diri perlu terus dilakukan, dan hasil kedua survei di atas kiranya bisa menjadi bahan untuk introspeksi dan menilai diri sendiri. Disadari atau tidak, ternyata dalam proses pembelajaran selama ini mereka (siswa-siswa) bukan hanya mencatat dan merekam materi yang diajarkan, namun juga mencatat, merekam dan menyimpan dalam memori mereka tentang siapa gurunya. Bisa jadi mereka hapal betul siapa kita, tutur kata kita, gaya berpakaian kita, sikap dan karakter kita, bahkan motivasi dan kinerja kita. Lalu apa hubungannya dengan judul diatas tentang cinta.

Hubungannya sangat signifikan, mereka anak-anak biasa yang punya indera, punya hati, dan punya rasa. Inilah yang kiranya perlu kita sadari bersama, bahwa pada hakikatnya siswa kita di sekolah sama dengan anak kita di rumah. Di rumah, anak kita selain butuh makan, minum, pakaian dan tempat tinggal, mereka juga butuh kasih sayang. Mereka butuh untuk dihargai keberadaannya, butuh diperhatikan aksinya, butuh untuk didengarkan ceritanya, butuh duduk dan jalan bersama, serta hal yang bersifat kebersamaan lainnya. Intinya mereka membutuhkan limpahan kasih dan sayang orang tuanya, yang dapat dikemas dalam satu kata "cinta". Di sekolah, siswa-siswi juga mengharap hal yang sama. Mereka butuh ilmu IPA, Matematika, Bahasa, Agama, Prakarya dan mapel-mapel lainnya termasuk Te-i-ka, karena memang mata pelajaran tersebut penting. Namun ada satu hal yang tidak kalah penting dan tidak boleh dikesampingkan yaitu hadirnya cinta dalam proses pembelajaran. Cinta dalam pembelajaran bisa berwujud  kumpulan motivasi, motivasi untuk beribadah, motivasi untuk belajar, motivasi untuk menggapai cita-cita, motivasi untuk kehidupan yang lebih baik, dan motivasi-motivasi untuk kebaikan lainnya.

Konsep dasarnya, hanya cinta yang akan melahirkan cinta, dan tidak mungkin berlaku sebaliknya. Oleh karena hati adalah tempat tumbuhnya cinta, berkembang serta bersemayamnya, maka untuk menyemai, menyebarkan dan menuai cinta juga harus melibatkan hati. Demikian pula pembelajaran harus melibatkan cinta yang ditandai dengan adanya perhatian, kelembutan dan kesabaran. Guru yang mengajar dengan penuh perhatian,  kelembutan, kesabaran inilah yang sebenarnya dirindukan oleh mereka. Faktanya, secara  psikologis anak-anak lebih suka diberikan kata motivasi dari pada caci maki, lebih senang disentuh dari pada sikap acuh tak acuh, lebih bahagia disapa dari pada dibiarkan saja, dan lebih bangga diberikan apresiasi dari pada dibuli. Kiranya itulah yang dilakukan Pak Eko (guru BK senior, memasuki masa pensiun tahun depan - Juni 2020) sangat paham masalah ini, sehingga beliau terpilih menjadi guru terfavorit.

Nama panggilan beliau adalah Pak Haji Eko, pengalaman dan kiprahnya di dunia pendidikan sudah tidak diragukan lagi, berpindah dari sekolah yang satu ke sekolah lain, termasuk berpengalaman pernah mengajar di daerah terpencil, Timor Timur.  Sosoknya yang supel dan rendah hati, nampak ramah dan sabar, pandai mengambil hati dan bijak dalam memotivasi, serta bisa ngemong sehingga anak-anak merasa dihargai, disayangi, diperhatikan dan dilindungi. Itulah yang menjadikan anak-anak akrab dan dekat kepada beliau, karena anak-anak merasa nyaman dan aman di dekat beliau yang dianggap seperti orangtua sendiri. Terlepas dari kekurangan beliau, beliau adalah guru kami, sosok senior yang hebat, sosok yang sangat bijaksana.

Tidak mudah untuk membuat kesimpulan yang integral,  namun kiranya beberapa hal berikut semoga bisa menjadi kesimpulan sederhana dalam tulisan kali ini;
  • Menjadi pendidik (guru) itu memang berat, tuntutan administrasinya banyak, tuntutan mental spiritual harus paripurna. Wajar, jika hati sedang sumpek dan tidak kondusif maka udara rasanya jengah, rasanya jadi saya adalah guru paling susah, mudah emosi inginnya marah-marah, hingga putus asa gak usah jadi guru sajalah. Percayalah sebenarnya tidak seberat yang dibayangkan, beban kita masih belum apa-apa dibandingkan yang lain.
  • Jika terasa capek dan lelah, bayangkan betapa lebih capeknya mereka yang rumahnya jauh dengan jarak 50-70 km (bahkan ada yang lebih) dengan waktu tempuh lebih dari 1 jam, mereka yang waktu dan energinya banyak terbuang dalam perjalanan, juga berbagai resiko dalam perjalanan. Bersabarlah, masih banyak yang lebih berat perjuangannya, bersyukurlah masih banyak yang kondisinya lebih melelahkan. 
  • Jika mudah marah dan emosi menghadapi siswa yang ekstra-aktif (susah diatur)bayangkan seorang guru mengajar 3 kelas bersamaan (biasa di daerah terpencil), atau pikirkan bagaimana repotnya guru yang mengajar siswa berkebutuhan khusus di SLB, atau sekedar merenung bagaimana berat dan susahnya menjadi seorang guru penyandang disabilitas (tuna netra) yang mengajar di sekolah umum. Bersabarlah, kita yang merasa normal dan mengajar sekolah umum, bagaimanapun jauh lebih ringan masalahnya.
  • Jika rasa malas dan bosan menjalar, barangkali kita perlu "merakyat" agar tahu bahwa di luar sana banyak orang menganggap mulia pekerjaan ini. Banyak dari mereka bersedia antri bertahun-tahun untuk bisa menjadi guru (apalagi yang PNS + Sertifikasi), bahkan jika bisa dengan cara membeli banyak dari mereka yang bersedia untuk membayarnya dengan harga tinggi. Bersyukurlah dan jangan sia-siakan amanah yang Alloh berikan ini.
  • Jika ada siswa bermasalahsusah diaturlah dan berbagai keluh kesah,  memang itulah tantangan pekerjaan guru sebenarnya. Latar belakang siswa yang heterogen membawa masalah yang juga heterogen pula. Hal ini berdasar kajian psikologi bahwa tidak ada orang yang tidak punya masalah, artinya semua orang punya masalah, hanya berbeda-beda bentuk dan kadarnya. Inilah tantangan guru untuk belajar, ujian kesabaran mencapai kebijaksanaan dan tangga motivasi untuk melakukan inovasi. 
Umumnya orang merasa senang jika dikatakan hebat, super, istimewa dan luar biasa. Sebaliknya akan tersinggung atau sakit hati jika dikoreksi atas kekurangan dan kesalahannya. Tidak mudah untuk bisa legowo dan nglenggono. Bahkan menjadi sangat sulit bagi mereka yang merasa benar karena merasa lebih tinggi derajatnya. Namun jika berkenan untuk merenung sejenak, membuka diri dan menyadari bahwa tidak ada orang yang baik 100 persen, kiranya akan menyadari bahwa setiap kita punya kekurangan dan kesalahan. Selanjutnya jika ada niat dan usaha untuk berubah menjadi lebih baik, insya-Alloh akan diberikan kemudahan. Targetnya bukan untuk menjadi yang terbaik (terfavorit), karena ada banyak parameter dan rivalnya sangat banyak. Fokusnya lebih kepada usaha maksimal untuk menjadi yang lebih baik dari sebelumnya, menguatkan semangat dan motivasi untuk melakukan yang terbaik.

Sebagai penutup,  mari kita sikapi masalah dengan proporsional, masalah di sekolah jangan menjadi beban pribadi apalagi sampai membuat diri menjadi frustasi. Setiap masalah pasti ada solusi, marilah kita hadapi bersama, kita bicarakan bersama dan kita carikan solusinya. Satu hal yang paling prinsip adalah tetap tenang, jangan terbawa emosi. Sebisa mungkin menjauhi kekerasan, baik kekerasan verbal maupun tindakan, dan lebih utama dengan sikap yang lemah lembut (Cuplikan ayat suci Al-Qur'an Surat Ali "Imron : 159). Adapun terhadap kesalahan yang sudah terlewatkan (terlanjur), maka cukupkan dengan introspeksi, perbanyak istighfar dan berusaha memperbaiki diri. Karena sesungguhnya yang membuat seorang terhina, terutama bukanlah kesalahannya, melainkan kekehnya untuk tidak mau mengaku keliru, memohon ampun, dan memperbaiki keadaan.

Akhirnya, marilah kita belajar mengubah diri, sedikit demi sedikit menjadi pendidik yang penuh cinta. Takaran cinta adalah "pengorbanan", dimana wujudnya "lebih banyak memberi dan tanpa mengharap balas", dan bukan sebaliknya banyak menuntut. Marilah kita ikut berperan dan ikut mengambil bagian dalam menyemai cinta di kelas-kelas dalam pembelajaran, dengan menebar kasih sayang di taman-taman lingkungan sekolah. Manfaat waktu senggang untuk memperhatikan dan menelisik mereka, barangkali masih ada di antara mereka yang bajunya lusuh, sobek atau tidak layak pakai, atau mungkin dari mereka yang terlihat galau, sedih, murung atau pucat yang ternyata belum sarapan pagi, barangkali di rumah belum ada sarapan pagi, atau bahkan mungkin sama sekali tidak ada bahan makanan untuk dimasak karena kondisi ekonomi. Pastikan tidak ada lagi wajah-wajah galau, sedih dan muram karena kurang perhatian.
Selamat berkarya, selamat bekerja, semoga sukses ... insya-Alloh.

Sabtu, 20 Oktober 2018

Lentera Hikmah -9 : Siswa Menginspirasi - Guru Terinspirasi, Dibolak-balik Sama Baiknya

Alhamdulillah, kami segenap civitas akademika SMPN 2 Kepil ikut berucap syukur atas karunia  yang diberikan Alloh SWT kepada salah satu alumni kita, yang telah mengikuti wisuda di kampus ikatan dinas terpavorit di bilangan Bintaro Jakarta Selatan. Yah, hari Kamis 18 Oktober 2018 adalah hari istimewa bagi ananda Reni Fatmayani, salah satu alumni yang merupakan lulusan terbaik SMPN 2 Kepil tahun 2014. Ia diwisuda setelah berhasil menyelesaikan pendidikan di STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara), perguruan tinggi kedinasan di bawah kementerian keuangan. Kedua orang tuanya yang tinggal di desa Cadukan Kepil Wonosobo turut hadir menyaksikan dan mendampingi prosesi wisuda tersebut. Rasa bahagia, haru, bangga dan berbagai rasa syukur bertumpuk menjadi satu. Kedua orangtuanya merasa "lega", karena sebuah tahapan telah berhasil dilalui dengan sangat baik dan rasanya terbayar lunas semua perjuangan selama ini. Dengan prosesi wisuda itu berarti ananda Reni Fatmayani secara otomatis langsung diangkat menjadi calon pegawai negeri sipil (CPNS) di departemen keuangan republik Indonesia. Inilah tema tulisan seri lentera hikmah kali ini, selamat menikmati, semoga bermanfaat.

Sedikit kilas balik, sekitar 21 bulan yang lalu, tepatnya tanggal 03-01-2017 jam 22:19 ia mengirim inbox di FB yang intinya sharing dan konsultasi tentang rencana pendidikan pasca SMA. Inbox itu berlanjut hingga beberapa hari setelahnya dan akhirnya ia diterima dan memilih untuk menjalani program ikatan dinas di STAN walau di saat yang sama ia juga diterima di Fakultas Teknik UGM.  Salah satu penggalan pesan dalam inboxnya yang sungguh diluar pikiran saya, berbunyi "Pak Mar itu bukan saja hanya sebagai guru yang telah memberikan pembelajaran TIK kepada saya, namun bapak adalah guru yang sangat menginspirasi". Tiada kata yang lebih baik untuk diucapkan selain Alhamdulillah, bahwa semua kebaikan dari Alloh, kita hanyalah perantara saja. Dorongan terbesar ananda tersebut untuk meraih sukses sejatinya adalah dari orang tua, dimana sukses itu akan dipersembahkan kepada kedua orangtua. Hal ini juga ia tulis di inbox, "Saya akan berjuang semaksimal yang saya bisa. Saya akan mempersembahkan yang terbaik buat kedua orang tua saya pak". Sejujurnya, saya yang menjadi wali kelasnya selama 3 tahun sejak di kelas 7 hingga di kelas 9, merasa tidak berperan apa-apa, yang pasti saya tahu ia adalah siswa yang rajin dan tekun, yang sangat menjaga sopan santun serta punya semangat dan motivasi untuk melakukan yang terbaik.

Saat ini beberapa teman seangkatannya waktu di SMP sedang menjalani pendidikan di perguruan tinggi, antara lain Rudi Aalam Formas (FT UNY), Wahyu Dwi Utami (Poltekes), Adi Susanto (FT UNES). Adapun teman lainnya yang tidak saya sebutkan bukan berarti tidak hebat, karena ukuran sebenarnya bukan sekolah atau kuliah dimana, melainkan pada perjuangan untuk meraih masa depan. Beberapa anak mungkin merasa beruntung atau bahkan sangat beruntung dengan bisa melanjutkan pendidikan, sementara itu beberapa bahkan lebih banyak yang lainnya mungkin merasa kurang beruntung karena berbagai keterbatasan sehingga tidak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. 

Sebagai informasi saja, bukan anjuran atau himbauan, hanya menyampaikan realita bahwasanya banyak orang yang kurang beruntung terkait kesempatan pendidikan. Jika kita mau sedikit lebih peduli, sangat mungkin kita temukan di sekitar kita anak yang hebat, yang sebenarnya pinter dengan kecerdasan di atas rata-rata, namun terpaksa kandas tidak bisa melanjutkan pendidikan karena berbagai kendala. Ada tiga kendala terbesar yang biasanya dialami oleh mereka, 1) masalah keuangan, 2) kurangnya motivasi dan 3) psikologi. Inilah realita yang ada dan terjadi di sekitar kita, di luar sana, di luar ruang kerja kita, di luar kantor kita, mungkin saja di sekolah kita, di kelas kita, atau di ujung kampung kita dan bahkan mungkin di sekitar rumah kita, banyak anak dari keluarga miskin yang sebenarnya hebat dan berbakat namun terbentur tembok kendala. Mereka membutuhkan donasi, suluh, asuh, motivasi dan inspirasi untuk bisa meraih masa depan yang lebih baik.

Tak seorangpun (anak) bermimpi atau berharap untuk dilahirkan dari orangtua miskin. Kemiskinan, bukanlah sebuah pilihan, dan tidak ada yang salah dengan kemiskinan. Bagi yang belum pernah merasakan bagaimana menjadi orang miskin, mungkin tidak akan pernah mengerti bagaimana susahnya menjalani hidup yang penuh kekurangan. Mereka, anak-anak dari keluarga miskin bukan tidak ingin sukses dan hidup berkecukupan, namun mereka benar-benar tidak berdaya. Mereka bahkan tidak berani untuk sekedar bermimpi memiliki baju baru, tas dan sepatu baru apalagi sepeda baru, mengingat kondisi orangtuanya yang memang tidak ada untuk itu. Lantai berubin tanah, daun jendela dari anyaman bambu, tempat tidur tanpa kasur, dan ruangan tanpa bilik kamar adalah kondisi harian yang tak pernah terpikirkan untuk direnovasi. Bahkan sekedar untuk makan saja orang tua mereka terkadang harus berhutang, harus bekerja keras, memeras keringat dan membanting tulang. Bisa dibayangkan, sungguh bisa terjadi ketika kondisi yang benar-benar "tidak ada", pensil sang anak yang panjangnya tinggal 2 senti pun tak mampu mengganti (red: pengalaman pribadi). Walau sebenarnya orangtua sadar bahwa sekolah anak-anak adalah satu-satunya harapan agar anak-anak mereka tidak seperti mereka, namun di sisi lain serasa menjadi masalah dan menambah berat beban kehidupan.

Di balik kondisi kemiskinan orangtua ada banyak kisah sukses yang bisa menjadi motivasi mereka meraih sukses dalam kehidupan. Ada Misyatun dari Purbalingga, yang tinggal hanya bersama ibunya yang buruh tani dengan upah Rp 30.000 sehari, dan demi meraih cita-citanya ia rela menjalani sekolah sambil bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Keuletan dan ketekunannya membukakan jalannya, diawali dari kemurahan hati majikannya, bantuan dari wali kelasnya dan perhatian dari kepala sekolahnya serta beasiswa ketika di perguruan tinggi pada akhirnya mengantarkan ia meraih sukses dalam hidupnya. Dalam kisah lain ada Birul Qodriyah dari Bantul DIY, saat itu orangtuanya yang hanya bekerja sebagai buruh tani dengan upah sekitar Rp 5.000 - Rp 10.000 per hari, sangat sulit baginya untuk menyandang status mahasiswa. Akhirnya melalui Program Beasiswa Bidik Misi Birul Qodriyah menjadi mahasiswa berprestasi UGM 2013, menjadi Mahasiswa Terinspiratif Nasional dan menjadi Duta Keperawatan Indonesia, jalan terang telah terbuka untuk meraih cita-citanya. Dua kisah di atas telah membuktikan bahwa sukses bisa diraih oleh siapa saja, termasuk mereka yang miskin dan hidup penuh dengan kekurangan.

Disinilah dibutuhkan kepekaan nurani, kepedulian diri dan keterpanggilan hati untuk menjadi bagian dari solusi. Kita bisa hadir dalam bentuk donasi, bisa hadir dalam bentuk suport motivasi atau juga bisa hadir dalam bentuk jalinan konsultasi psikologi. Seorang wali kelas yang memberikan uang Rp.50.000 kepada Misyatun saat SMP adalah contoh wali kelas yang sungguh menginspirasi, ada efek psikologi berupa penguat motivasi yang nilai manfaatnya jauh lebih besar dari nilai uangnya. Bagi mereka, kehadiran kita bisa menjadi figur inspirasi dalam mengubah nasib. Inilah yang menjadi kunci keberhasilan dalam pendidikan, yaitu hadirnya pendidik yang inspiratif. Inspirasi ini yang sering absen di sekolah-sekolah, seakan kegiatan pembelaran hanya berisi pelajaran menghapal, menghitung atau latihan gerakan jasmani semata, padahal ada banyak masalah lain yang juga perlu dicarikan solusi. Di sisi lain teryata permasalahan siswa-siswa beragam dan komplek, oleh karena itu sosok guru diharapkan bisa hadir dalam bentuk-bentuk yang bisa menginspirasi bagi mereka. Kehadiran sosok inspiratif ini sangat penting, karena kehadirannya bisa menjadi penguat saat mereka lemah, bisa meluruskan saat mereka salah arah, bisa meneguhkan saat mereka bimbang dan ragu, bisa menenangkan saat mereka galau dan gelisah, dan bisa mendoakan mereka saat menjalani berbagai ujian dan cobaan.

Dari kisah perjalanan sukses ananda Reni Fatmayani dan tokoh lain dalam tulisan ini, sebagai guru atau tenaga kependidikan dapat kita ambil beberapa catatan yang bisa kita jadikan hikmah dan pelajaran antara lain :
  1. Ketekunan adalah kunci meraih sukses. Ketekunan bahkan bisa mengalahkan kepandaian yang tidak diiringi dengan ketelitian dan kesabaran. Siapapun kita saat ini, pada posisi apapun kita saat ini akan bisa meraih prestasi yang lebih baik jika kita mau belajar dan bekerja dengan penuh ketekunan, Tidak untuk menjadi apa dan siapa, namun untuk menjadi diri kita yang lebih baik dari saat ini. Ketekunan itu juga yang perlu kita tanamkan kepada siswa agar menjadi karakter sebagai modal utama mereka meraih masa depan.
  2. Lebih peduli (care) kepada siswa. Kepedulian itu yang akan membangun karakter guru menjadi lebih halus perasaanya, lebih peka dan lebih dekat dengan siswa. Dengan rasa peduli kita akan mampu masuk ke kehidupan siswa secara lebih mendalam, bisa mengerti dan memahami berbagai kekurangan pada siswa baik ekonomi, motivasi dan psikologis, sehingga bisa turut andil dan memberikan sesuatu yang dibutuhkan oleh siswa.
  3. Tidak mencari predikat guru inspiratif. Menjadi guru yang menginpirasi adalah prestasi, sangat baik dan perlu diupayakan karena pentingnya sosok inspiratif ini bagi siswa, namun demikian tidak serta menjadi target dan tujuan utama dalam proses pembelajaran. Jalani saja tugas/peran guru dan tenaga kependidikan dalam memberikan pelayanan terbaik dan optimal dalam bidang pendidikan dengan karya terbaik yang bisa dilakukan. 
Saat ini kita bisa merasakan akibat dari apa yang pernah kita lakukan di masa lampau, dan suatu saat kelak kita akan merasakan apa yang kita lakukan hari ini. Ada pepatah "hasil tidak pernah mengingkari proses", artinya hasil baik atau buruk sangat bergantung pada apa yang kita lakukan. Jangan salahkan siswa jika mereka menilai buruk pada kita, jangan paksa mereka untuk hormat dan santun pada kita yang juga kurang peduli pada mereka. Dari sini mendapat satu pelajaran bahwa sebagai seorang pendidik ternyata masing-masing siswa-siswi kita mencatat dan mengingat dengan kuat apa yang pernah kita lakukan pada mereka. Kebaikan memang tidak mudah dilakukan karena selalu diliputi oleh kesulitan, tantangan dan hambatan, namun demikian tetaplah lakukan kebaikan. Berhenti kutuki kegelapan, mulailah nyalakan lilin (Anies Baswedan).

Senin, 26 Maret 2018

Lentera Hikmah -8 : Menyiasati Absensi Finger Print - Aktualisasi Integritas Diri

Tugas berat seorang pemimpin sebuah lembaga adalah mengelola anak buah yang memiliki watak yang berbeda-beda untuk bisa memiliki visi yang sama. Seorang pemimpin pasti berharap semua orang yang dipimpinnya baik, kompeten, jujur dan disiplin, agar bisa memberikan pelayanan yang optimal. Hal inilah yang menjadi inspirasi pertama tulisan kali ini, berawal dari sebuah keluh kesah seorang  kepala madrasah di kabupaten Magelang, sekitar satu setengah bulan lalu. Isinya kurang lebih begini, "Harus bagaimana lagi cara ngatasi orang yang "cerdik", orangnya dicari tidak ada di tempat tugas namun data absensi kehadirannya tertib, paginya finger paling awal dan pulangnya finger paling akhir". Jika ditilik data presensi sebelum digunakan mesin finger print kondisinya jauh lebih parah, rata-rata baru hadir pukul 08.00 atau paling awal pukul 07.30 namun dalam tanda tangan absensi tercatat hadir pukul 06.30, begitu juga dengan jam kepulangan, pukul 12.00 sudah sering hilang namun tercatat di atas pukul 14.00.

Jika yang di atas adalah contoh sosok yang kurang bisa diteladani, maka di tempat lain ada sosok yang justru menjadi pembangkit motivasi dan sumber inspirasi. Pribadi yang sederhana, yang selalu mengasah kompetensi, yang menjaga kedisiplinan dan menjunjung tinggi kejujuran. Inilah yang menjadi inspirasi kedua, sosok yang kepadanya kita harus belajar banyak hal. Sebut saja Pak Udin, seorang guru PNS/DPK yang menjadi kepala sekolah di salah satu SMA swasta di kabupaten Magelang dengan lima hari kerja. Jarak 15 kilometer tak menghalangi beliau untuk hadir di sekolah pukul 06.30 pagi, dan pulang setelah pukul 16/00 sore setiap harinya. Jumlah jam wajib yang menjadi syarat halalnya rejeki benar-benar beliau jaga, dengan tetap berada di sekolah sambil mengerjakan berbagai pekerjaan yang harus diselesaikannya. Jika suatu saat merasa jumlah totalnya kurang karena kepentingan dinas atau pribadi maka beliau merasa wajib untuk menggantinya di hari lain dengan cara tetap bekerja dan berada di sekolah, walau ia harus sendirian. Tak banyak sosok demikian, dari contoh ini kita bisa ambil hikmah bahwa sebenarnya jika kita mau maka kita pasti bisa, untuk berbuat lebih baik, selagi masih bisa, masih sempat dan selagi belum terlambat. Inilah tema tulisan kali ini, seri lentera hikmah dengan tema integritas, selamat menikmati.


Memulai Finger Print

Terhitung mulai tanggal 6 Maret 2018, SMP Negeri 2 Kepil sudah menggunakan mesin finger-print sebagai alat presensi bagi guru & karyawan. Kehadiran mesin absensi berbasis sidik jari ini memunculkan berbagai harapan baik - tentunya bagi yang berfikir postif - agar lebih teratur dan disiplin, walau tak dipungkiri pasti muncul pula sikap apatis dan pesimis dari sebagian yang berfikir negatif. Maka menjadi prioritas untuk membangun sikap optimis seluruh elemen dan unsur sekolah bahwa hadirnya mesin finger print ini adalah solusi terbaik untuk memperbaiki kualitas pelayanan kepada siswa dan masyarakat. Bagi yang sudah terbiasa disiplin datang awal seperti Pak Aris Winarna dan Ibu Ruti Sumarni kehadiran mesin absensi ini tidak menjadi masalah, namun akan terasa menjadi masalah bagi terbiasa datang terlambat dan pulang awal.

Memang, setiap perubahan sistem yang menyebabkan munculnya hal baru pasti akan memunculkan berbagai reaksi sebagai bentuk pernyataan sikap, hal ini sangat wajar dan pasti terjadi. Beberapa pribadi mungkin akan sangat protektif ditandai dengan tidak ingin diusik ketenangannya, bahkan menolak segala bentuk perubahan, karena kecenderungan diri yang ingin mapan, aman dan nyaman, yang biasa disebut dengan "Zona Aman". Ini adalah sifat asal manusia, sifat kita semua yang lebih suka pada sesuatu yang bebas, merdeka dan tidak mengikat. Bagi yang phobia (takut) perubahan mereka berfikir bahwa perubahan adalah momok, perubahan bak hantu yang menakutkan, perubahan akan membuat situasi tidak nyaman, tidak aman dan tidak mapan lagi. Muncul pikiran "jangan-jangan, ojo-ojo, gek-gek" dan berbagai kecemasan lain, maka berikutnya ia berfikir bagaimana mencari cara agar bisa mengakali atau menyiasati sistem baru ini.

Menyiasati Sistem, Topik Trend
Topik tentang trik cara menyiasati, cara membobol dan cara mengakali sistem banyak dicari oleh orang yang "aktif dan kreatif", terutama yang banyak akalnya. Termasuk topik bagaimana cara menyiasati mesin "Finger Print" agar data rekap kehadiran bisa mulus, jika terlambat tidak terdeteksi, jika bolos tidak konangan dan jika tidak hadir namun tetap tercatat berangkat. Tak heran jika ada orang yang kemudian berpikir bagaimana agar nilai ujian bagus tanpa susah-susah belajar, soal UKG bisa dicurangi dan soal UN bisa bocor. Puncaknya ada orang berhasil menemukan cara bagaimana mendapat uang banyak tanpa susah payah bekerja, bisa belanja apa saja. Yang terakhir inilah yang dilakukan oleh 5 pelaku skimming ATM BRI dengan barang bukti 1.447 kartu ATM duplikat yang dibuat dari hasil rekam data di ratusan ATM yang tersebar di pulau Jawa dan Bali. Ratusan rekening telah dibobol dan disedot uangnya melalui ATM. Ratusan juta atau bahkan milyaran rupiah tabungan dan deposito telah berpindah tangan. Bisa dibayangkan betapa marah dan kecewanya orang yang menjadi korban kartu ATM palsu ini.

Secara konsep setiap sistem dirancang dengan sangat canggih dan aman, namun secara realita masih saja banyak yang kecolongan karena dibobot oleh orang "cerdik" (dalam tanda kurung). Orang cerdik punya seribu akal untuk bisa "lolos" dari teknologi canggih yang membuatnya dirinya seakan tetap "untung" dalam kondisi terjepit sekalipun. Kelemahan dan kekurangan dalam sebuah sistem pasti ada, bahkan dalam sistem paling aman sekalipun, karena memang tidak ada yang sempurna dan aman 100 persen di dunia ini. Seperti halnya dalam aplikasi komputer baik yang berbasis web atau desktop selalu tetap bisa dibobol, tentu saja oleh mereka yang ahli, "Banyak jalan menuju Roma", begitu peribahasa yang menjadi pembisik mereka. Demikian pula mesin absensi ini pasti bisa dicari jalan untuk dikelabuhi, khususnya bagi yang punya niat dan beritikad kurang baik, yang menunjukkan bahwa dirinya tidak memahami apa esensi sebenarnya.


Ada beberapa cara menyiasati mesin absensi finger print yang berbasis pada sidik jari ini, mulai dari yang bersifat personal hingga yang bersifat komunal dan institusional. Berikut ini beberapa trik, cara untuk menyiasati absensi finger print, kami bagikan untuk diambil hikmahnya.

  1. Personal, dengan modus scan absensi masuk paling awal lalu pulang, kemudian datang lagi agak siang, pulangnya juga bisa lebih awal, setelah lewat jam pulang lalu datang lagi untuk scan pulang. Bisa juga scan pagi sebelum mandi dan scan siang setelah situasi sepi, bahkan bisa jadi tidak hadir atau pergi jauh, laporan akan tetap terbaca hadir awal dan pulang akhir, modus ini bisa dilakukan sendiri dan diam-diam serta tidak terdeteksi oleh siapapun.
  2. Kolegial, dengan modus titip jari duplikat maka terlambat tidak terlihat dan lolos ketika bolos. Caranya dengan membuat jari duplikat (tiruan) kemudian menitipkan pada teman untuk proses scan absensi. Jari duplikat berupa jari tiruan yang dapat  dibuat menggunakan filler sejenis silicon, gelatin atau lem kayu yang dituang dalam cetakan jari yang telah dibuat sebelumnya. Cara ini bisa dilakukan secara kolegial 2 orang teman atau lebih, secara diam-diam dan sembunyi-sembunyi tanpa  melibatkan admin.
  3. Komunal, dengan modus substitusi jari (pengganti jari cadangan) maka akan bisa saling nitip scan absensi menggunakan jari temannya. Pada saat registrasi user ke dalam mesin, proses rekam sidik jari untuk setiap 1 orang disediakan dengan 2 jari yang difungsikan sebagai cadangan, Modus ini adalah peluang untuk secara komunal dapat bergantian bertukar jari dengan temannya, artinya 1 orang dapat menggantikan scan absensi 1 orang lainnya, jika hal ini berantai maka 5 orang bisa melakukan scan absensi untuk 10 orang. Beberapa orang berpasangan yang bermufakat dan melibatkan admin saat rekam sidik jari.
  4. Institusional, dengan seting kustomisasi waktu pada saat-saat khusus. Pada dasarnya sistem waktu pada mesin fingerprint adalah berjalan automatic dan realtime (nyata), maka data laporan (report) yang keluar dari mesin tidak bisa diubah/diedit waktunya, bahkan oleh admin sekalipun. Jika suatu saat karena sesuatu hal dikehendaki oleh institusi untuk mengakali, maka satu-satunya jalan adalah merubah waktu realtime pada saat scan datang maupun scan pulang. Modus ini dapat dilakukan secara komunal dan institusional, admin yang punya hak akses khusus untuk melakukan kustomisasi ini.
Esensi Absensi Finger Print
Kehadiran guru, karyawan dan pimpinan adalah sebuah keharusan yang tidak bisa diwakilkan dalam menjalankan tugas dan pekerjaan. Inilah salah satu tujuan diciptakannya mesin finger print ini, karena scan kehadiran berdasarkan jarinya, artinya jarinya hadir jika orangnya juga hadir. Teknologi ini telah banyak dipakai di industri besar, perusahaan ternama dan lembaga bonafit di berbagai penjuru dunia. Absensi kehadiran merupakan hal sangat penting, bertujuan agar disiplin tepat waktu, karena dalam sistem manajemen, waktu adalah kunci sukses atau gagalnya sebuah sistem. Kebutuhan teknologi absensi semakin berkembang, bahkan yang terbaru telah beredar mesin absensi yang berbasis wajah dan retina mata, yang lebih sulit lagi untuk disiasati.

Cara kita memahami urgensi waktu akan sangat berpengaruh dalam menyikapi kehadiran mesin ini, Jika mesin absensi finger print hanya dimaknai sebagai pengolah data kehadiran, maka trik nomor 1 sampai nomor 4 bisa digunakan untuk menyiasati dan mengakali data absensi kita. Bisa merasakan apa yang dirasakan orang lain - rasa itulah yang melahirkan sikap bijaksana. Mencoba memposisikan diri, jika kita adalah pimpinan di sekolah, manajer di industri atau bahkan sebagai pemilik perusahaan, maka kita bisa menilai bahwa pelaku trik nomor 1 sampai nomor 4 semuanya tidak jujur (tidak punya integritas) dan melakukan manipulasi. Pelaku trik nomor 1 jelas seorang pecundang, pelaku nomor 2, 3 dan 4 jelas kumpulan dari orang yang tidak bisa memegang amanah (tidak bisa dipercaya). Watak dan sikap orang-orang beginilah yang membuat banyak industri hancur, pabrik gulung tikar dan perusahaan bangkrut.


Lalu bagaimana jika hal demikian terjadi di sekolah tempat siswa belajar menimba ilmu dan mencari pengalaman, ini sangat riskan dan sangat disayangkan jika sampai terjadi. Sekolah-sekolah yang saat ini menjadi sekolah unggul dan pavorit telah melewati fase ini puluhan tahun yang lalu, mereka juga pernah mengalami hal serupa. Proses yang berjalan membuat mereka menjadikan disiplin tepat waktu sebagai budaya, sebagai kebutuhan, bukan lagi sebagai beban. Jika di sekolah masih bermain dengan trik 1 - 4, maka dampaknya akan jauh lebih parah, karena pada hakikatnya pendidikan bukan hanya proses transfer ilmu dan pengetahuan saja, namun ada transfer sikap (attitude), moral dan spiritual, dan itu yang lebih utama.


Mengambil hikmah dari keluhan pimpinan kepala madrasah dan contoh teladan Pak Udin di atas, maka kami ambil beberapa kesimpulan singkat yang semoga bisa digunakan sebagai pedoman dalam menyikapi mesin absensi Finger Print;

  1. Berterima kasih atas kehadiran mesin ini, yang ternyata mampu membantu mengontrol kita menjadi lebih baik, lebih disiplin dan lebih menghargai waktu. Sungguh mesin ini layaknya penolong bagi kita untuk keluar dari kebiasaan terlambat, kebiasaan bolos dan kebiasaan korupsi waktu yang jika ditotal jumlahnya entah sudah berapa ratus jam.
  2. Legowo dan terbuka menerima kekurangan diri, semakin tawadhu dan rendah hati, bahwa kita masih kalah dengan mesin yang mampu jujur walau ia tak punya hati. Kita tak perlu pongah, sombong dan busung dada bertahan bahwa kita baik, nyatanya selama ini banyak manipulasi data kehadiran kita, hingga markup jam datang dan jam pulang.  
  3. Bijaksana dalam menyikapi report (laporan) kehadiran, tidak perlu marah, tidak perlu sewot dan tidak perlu berlebihan. Jika muncul warna kuning tanda terlambat dan atau pulang awal, jika muncul warna merah tanda jika tidak hadir, tidak scan, scan di luar jadwal atau kesalahan dalam proses scan lainnya sebaiknya jadikan ini rambu-rambu dan pengingat, bahwa masih ada yang kurang dalam diri kita, jika merasa tidak sesuai bisa klarifikasi dan langsung melihat data aslinya di aplikasi Finger Print.
  4. Jadikan ini mesin ini wahana membenahi niat dan membangun motivasi untuk memperbaiki diri, Jika data absensi kehadiran Anda sudah baik, status sudah OK dan warna sudah hijau, bersyukurlah dan tetaplah menjaga kebaikan itu, ingatkan dan ajak teman yang lain untuk semangat meraih predikat seperti Anda. Kebaikan ini adalah bekal untuk merajut dan meraih kebaikan berikutnya dalam bidang lainnya.  
  5. Hasil rekap kehadiran yang berupa print-out data jam masuk, jam pulang dan total jam perminggu penting dan ini adalah hal utama, namun lahirnya sosok pribadi yang jujur penuh integritas adalah lebih utama. Jika memang tidak bisa hadir melaksanakan tugas karena suatu hal, tak perlu melakukan manipulasi data dengan finger pagi dan sore hari. Sikap yang jujur dan terbuka akan lebih berharga, lebih satria dan lebih bermartabat.
  6. Data kehadiran yang terlihat sempurna bukanlah segala-galanya, bukan pula tujuan akhir dari diterapkannya sistem ini. Tujuan awalnya adalah membangun kedisiplinan dalam bekerja, dan tujuan akhirnya adalah membentuk jiwa yang berkarakter, kompeten dan mampu memberikan pelayanan terbaik dalam mendidik anak bangsa. Kedisiplinan dalam hal kehadiran hanyalah satu dari sekian banyak pekerjaan manajemen personalia dalam usaha membangun sistem pendidikan yang bermutu dan berkualitas.
  7. Menyempurnakan kewajiban dengan hadir tepat waktu, pulang cukup waktu dan terpenuhi jumlah minimal adalah salah satu cara untuk menghalalkan rejeki yang diterima, minimal dari sisi waktu, Ada kepuasan batin, ada kenyamanan dan ketentraman, pasti akan sangat berbeda dengan yang gajinya terima utuh, namun waktunya dicuri dan dicurangi. Jika waktu kehadiran saja di-akali dan dicurangi, maka kebaikan apalagi yang bisa diharapkan.
Kita tidak perlu trik khusus untuk menyiasati atau mengakali mesin absensi ini, yang paling logis dan paling baik adalah membuat manajemen waktu baru dengan mengatur ulang jadwal harian menjadi lebih maju, bangun lebih awal, mandi lebih awal, sarapan lebih awal dan berangkat lebih awal dari sebelumnya. Kemudian menambah durasi waktu kerja menjadi lebih panjang, lapangkan dada untuk menambah kesabaran pulang mundur, lebih akhir dari sebelumnya.Yang terakhir adalah pemenuhan jumlah total perminggu, akan tidak menjadi penumpuk hutang waktu, usahakan untuk terpenuhi sesuai aturan yang ada. Sebenarnya jika diukur masalahnya, maka yang paling berat dan terasa menjadi masalah adalah mereka yang domisili berbeda bujur dan lintang, yang harus naik kendaraan umum atau sepeda motor apalagi saat musim hujan begini. Terlebih jaraknya cukup jauh dan harus laju dari Purworejo, Magelang, Kulon Progo, Sleman atau Bantul.

Sebagai penutup tulisan kali ini, kita semua berharap semoga semakin mendekati akhir masa tugas maka kita bisa semakin baik, semakin bijaksana, semakin rendah hati dan semakin banyak dalam menanam benih kebaikan. Oleh karena itu kita harus berupaya untuk selalu meluruskan niat dan membenahi motivasi agar bisa bersikap dan berbuat yang terbaik. Segala sesuatu yang diniatkan dengan baik, dilakukan dengan baik maka yang akan datang adalah kebaikan, sebaliknya jika niat sudah tidak baik, dilakukan dengan cara yang kurang baik, maka jangan harap kebaikan yang datang, sebaliknya hanya keburukan yang semakin merundung dan mengepung. Kebaikan dan keburukan pada akhirnya akan mengental menjadi karakter, sifat dan watak. Watak itulah yang kemudian menjadi brand, merek dan image diri kita.

Demikian lentera hikmah kali ini, semoga kita bisa menjaga diri dalam kebaikan, semampu yang kita bisa (sekecil apapun, dan untuk memulai kebaikan tidak harus menunggu waktu khusus, serta tidak harus pilih-pilih dalam melakukan kebaikan. Kebaikan kecil yang bisa memberi manfaat laksana lilin dalam gelap, redup namun mampu memberi cahaya dan bisa menjadi lentera yang berguna bagi sesama.  Sampai jumpa di tulisan berikutnya dalam tema membangun brand, merek dan image diri. Selamat bekerja, selamat berkarya, semoga sukses.

Sabtu, 30 Desember 2017

Oase -11: Guru Yang Baik Bukan Sebatas Harapan, Tapi Keniscayaan

Desember sebagai bulan penghujung tahun akan segera berlalu, itu artinya tahun 2017 akan segera berakhir dan berganti dengan tahun baru 2018. Sebagian besar anak muda dan masyarakat menyambut pergantian tahun dengan cara begadang malam melewati jam 00,00 sambil menyalakan kembang api dan mercon, dalam suasana gegap gempita dan berpesta pora. Namun sejatinya pergantian tahun adalah hal biasa, dan yang terbaik untuk dilakukan adalah menjadikannya momen untuk melakukan muhasabah dan introspeksi terkait banyak hal yang telah terjadi pada tahun yang akan berlalu. Adapun bagi dunia pendidikan mengandung arti bahwa semester 1 (satu) pada tahun pelajaran 2017/2018 telah berakhir dan akan memasuki masa semester 2 (dua). Rapor telah diterimakan kepada siswa/orangtua siswa, satu tugas terkait penilain telah tertunaikan, baik yang menggunakan e-Rapor yang berbasis web ataupun yang menggunakan aplikasi sederhana berbasis desktop (Excel). Karena penilaian adalah bagian dari tugas guru, maka harus rela dan harus dijalani dengan segenap rasa tanggung jawab.

Jika tulisan ini sampai ke Anda sebelum malam pergantian tahun semoga bisa menjadi bahan evaluasi sebelum meninggalkan tahun 2017, namun jika Anda baru membaca setelah melewatinya, semoga bisa menjadi bekal membangun motivasi diri untuk menapaki tahun 2018 agar menjadi pribadi yang jauh lebih baik. Tulisan ini sudah mulai diketik saat UAS/PAS berlangsung, namun belum bisa kami tuntaskan karena berbagai pekerjaan yang lebih membutuhkan perhatian. Alhamdulillah, akhirnya tulisan ini selesai juga, kami kerjakan saat malam menjelang pagi, dimana pada saat yang sama sebagian besar teman-teman kami sedang beristirahat di hotel dalam rangkaian Tour de Bali dalam acara yang bertajuk Family Gathering SMPN 2 Kepil. Kami urung (tidak jadi) ikut rombongan ke Bali karena alasan kesehatan yang mendadak "drop", inilah kuasa manusia yang hanya sebatas rencana, sedangkan selebihnya adalah kudrat dan iradat dari Alloh Yang Maha Kuasa. Dibalik semua ini pasti ada banyak hikmah dan pelajaran yang bisa diambil, insya-Alloh.

Kembali ke topik utama, dengan pembagian rapor siswa berarti telah selesai seluruh rangkaian kegiatan belajar mengajar selama satu semester. Waktu pembelajaran efektif dijadwalkan selama 18-20 minggu yang kemudian diakhiri dengan kegiatan evaluasi yang berupa ulangan akhir semester (UAS) atau penilaian akhir semester (PAS). Bagi siswa evaluasi ini akan menghasilkan angka-angka yang melambangkan pencapaian kompetensi selama satu semester baik itu aspek sikap, pengetahuan dan keterampilan. Hasil akhirnya berupa skor dan predikat siswa pada tiap mata pelajaran, dengan keterangan tuntas KKM atau tidak, predikatnya sangat baik, baik, cukup atau kurang, juga muncul deskripsi sikap spiritual dan sosialnya. Suka cita, kaget dan mungkin juga ada rasa kecewa bisa berkumpul menjadi satu ketika rapor itu diterima oleh siswa. Begitulah hasil evaluasi, apapun hasilnya rapor ini sangat dinantikan oleh setiap siswa juga orangtuanya, yang dengan rapor itu akan diketahui bagaimana hasil belajar siswa tersebut selama satu semester. Kira-kira itulah esensi keberadaan rapor sebagai media komunikasi sekolah/guru kepada siswa/orangtua.

Muncul pertanyaan, apakah ketika rapor telah selesai dibagikan maka serta merta selesai sudah semua tugas sekolah dan guru? Jika dilihat secara sepintas, dari sisi tanggung jawab pekerjaan dan kelembagaan maka jawabnya Ya dan Benar. Namun sejatinya ada hal lain yang urgen dilakukan oleh sekolah, terutama guru. Bahwa sesungguhnya ada serangkaian penilaian (evaluasi) yang berlaku untuk guru, evaluasi ini bertujuan agar diperoleh instrumen/data yang akan berguna untuk pembelajaran pada semester berikutnya, lebih jauh lagi untuk tahun-tahun selanjutnya. Nah, inilah yang akan kita bagikan sebagai bahan pelajaran bersama, sebuah tulisan khas dengan tema Oase : Evaluasi akhir tahun.. Tulisan kali ini tidak bertujuan untuk mendiskreditkan seseorang atau menjustifikasi orang tertentu, namun bersifat umum kepada siapapun kita yang berprofesi sebagai guru/pendidik, semoga bisa membantu kita melihat bagaimana kita sebenarnya.

Kekurangan Diri Tak Nampak
Melihat kekurangan dan kesalahan orang lain adalah pekerjaan paling mudah, apalagi orang yang tidak disukai dan ini yang kebanyakan dilakukan oleh seseorang . Semua kesalahan dan kekurangan orang lain dapat diketahui dan diingatnya dengan detil, bahwa si A begini, si B begitu, si C begini, begitu, dan seterusnya hingga si Z yang begitu dan begini. Namun sangat sedikit yang mau melihat kekurangan dan kesalahan diri sendiri dan ini sangat sulit dilakukan. Kiranya pepatah "Semut di seberang lautan nampak - Gajah di pelupuk mata tak nampak" sangat sejalan dengan hal ini. Secara praktis, untuk mengetahui kekurangan dan kesalahan diri bisa dilakukan dengan beberapa hal berikut: 1) instrospeksi diri, 2) bantuan/saran orang lain, 3) paksaan/kekerasan. Beberapa orang dapat dengan mudah membaca dan mengaca diri lewat cara pertama (introspeksi) karena kepekaan hatinya yang terasah oleh kebiasaan baiknya, beberapa yang lain membutuhkan cara kedua (bantuan/saran orang lain yang dipercayainya) dengan penjelasan yang rinci dan panjang untuk menunjukkan kesalahan/kekurangan dirinya, kemudian yang terakhir adalah orang yang tingkat kepekaan nurani sangat rendah dan cenderung tumpul sehingga harus dipaksa dengan cara kekerasan untuk bisa sadar, bangun dan memahami betapa banyak kesalahan dan kekurangan diri, seperti sebuah Quote yang terkenal, "Kadang kita perlu ditampar terlebih dahulu supaya sadar". Tamparan bisa datang dari Alloh Yang Maha Kuasa yang menimpa diri kita atau dari sesama manusia dalam bentuk yang bermacam-macam.

Sebagai seorang guru yang terbiasa mendidik siswa, juga terbiasa menilai siswa semestinya kita tidak perlu cara yang ketiga, cara kedua saja sudah cukup, dan akan lebih utama bila mampu dengan cara pertama. Jika kita mau mengambil ibroh (contoh) benda yang jatuh di kolam pasti akan muncul reaksi berupa riak/ombak, maka sebagai guru kita bisa melakukan introspeksi diri dengan membaca reaksi dari lingkungan sekitar dimana kita berinteraksi selama bekerja. Gejala/reaksi yang muncul disekitar nya adalah data yang berguna, yang bagi seorang guru setidaknya ada 4 instrumen tolok ukur yang bisa digunakan sebagai kaca benggala untuk menilai diri sendiri, -urutan menunjukkan prioritas- yaitu: 1) siswa, 2) teman kerja, 3) pimpinan dan 4) masyarakat. Cukup dengan membaca reaksi yang terjadi pada 4 instrumen tersebut, maka guru akan tahu bagaimana harkat diri sesungguhnya, karena disini terjadi penilaian alami, realistik, original dan tanpa manipulasi. Kita ambil contoh satu saja pada instrumen yang merupakan prioritas utama yaitu siswa, siswa adalah cermin yang paling jujur, mereka akan menunjukkan suka bila mereka suka. demikian sebaliknya jika mereka tidak suka. Guru yang baik pasti disukai bahkan diidolakan oleh siswa, dimana mereka merasa memperoleh kedamaian saat gurunya tersenyum ramah kepadanya, merasa mendapat dorongan motivasi dan semangat baru saat dibimbing mempelajari sebuah ilmu pengetahuan baru baginya, dan merasa diperhatikan saat mendapatkan perhatian, kasih sayang dan sentuhan dari guru yang serasa orangtua kandungnya.

Tentunya tak satupun guru yang berharap masuk kategori yang buruk, yang kurang bermutu, yang kurang disukai siswa, yang kurang terampil, yang kurang profesional, yang bekerja sesuka hati dan semaunya sendiri serta yang hanya berorientasi pada gaji dan tunjangan sertifikasi. Kata-kata joke "Layamutu wala yahya", sering diplesetkan dengan "Ora mutu ngentek-enteke biaya", bisa diartikan tidak bermutu tapi menghabiskan biaya yang besar. Maka menjadi guru yang baik adalah sebuah keniscayaan, sebuah keharusan, bukan lagi sebatas harapan dan bukan sebatas impian. Gelar guru sebagai "pahlawan tanpa tanda jasa" tidak terjadi begitu saja, tapi karena sarat makna yang luar biasa. Tugas yang diberikan pada guru bukan sembarang tugas, tugas itu berupa "amanah" untuk mendidik calon generasi penerus pemimpin bangsa. Maka guru yang baik menjadi kunci pertama dan utama untuk bisa menghasilkan siswa cerdas, terampil dan berkarakter.

Jika dilihat dari gelar pendidikan, baik yang S1, S2 atau bahkan S3, kita sebagai guru mungkin sudah tergolong tinggi dan bahkan bisa merasa tinggi apalagi jika dibandingkan dengan tetangga, teman sebaya atau kerabat kita yang hanya lulusan SD, SMP atau SMA, Demikian juga jika dilihat dari sisi jabatan, pangkat, pengalaman dan peran di masyarakat membuat kita (guru) dipandang sudah mumpuni, apalagi dengan adanya embel-embel yang berupa gelar pendidikan yang menempel pada nama kita, bahkan beberapa orang gelarnya lebih dari situ masih ditambah dengan gelar keagamaan semisal Haji atau Kyai. Banyak yang kemudian menjadi merasa besar dan bangga dengan sebutan guru, embel-embel dan pandangan  mulia di masyarakat. Namun sebenarnya justru sebutan, embel-embel dan pandangan itulah yang menjadi tabir yang dapat menutupi mata hati kita untuk melihat diri sesungguhnya, Banyak di antara kita yang terlena dan terbuai serta terpedaya sehingga menjadi lupa mengaca diri dan malas mengasah kemampuan diri.

Berikut ini beberapa hal yang semoga bisa menjadi kesimpulan akhir tahun 2017 sebagai bekal untuk menebalkan niat yang terselip dalam sanubari, untuk menggaris-bawahi motivasi gerak tangan dan langkah kaki serta untuk menulis ulang semangat untuk membangun kinerja yang lebih baik di tahun 2018 yang segera menjelang;
  1. Kebaikan harus dipaksakan. Untuk menjadi baik tidak mudah dan tidak ringan, ada banyak godaan dan rintangan. Jika tidak dipaksakan maka kita akan cenderung malas, memilih diam dan menunda hingga waktu yang tidak jelas. Dalam islam ada banyak kebaikan dan keutamaan antara lain membaca Al-Quran, sholat jamaah, sholat sunah rawatib, sholat tahajud, puasa sunah, shodaqoh, haji dan umroh, namun berapa banyak yang mampu melakukannya karena tak mau memaksakan diri untuk melaksanakan. Begitu pula sebagai guru jika kita tak memaksa diri unuk berubah dan berusaha memperbaiki diri maka kita tidak akan berubah dan selamanya kita akan seperti saat ini, bahkan mungkin semakin lama semakin buruk dan terpuruk.
  2. Meluruskan niat. Hati dan pikiran manusia sangat mudah terpengaruh dan sangat mudah untuk berubah. Situasi dan kondisi, perubahan keadaan dan tuntutan kebutuhan banyak berpengaruh dalam perubahan niat yang bisa saja berbelok atau berbalik arah dari awalnya. Niat yang benar karena Alloh, niat yang tulus, ikhlas untuk bekerja mendidik siswa harus senantiasa dijaga dan ditanamkan dalam hati setiap hari, setiap waktu dan setiap saat, dari awal pagi saat berangkat hingga siang/sore saat pulang. Benar salahnya niat dan lurus bengkoknya niat akan menjadi pompa motivasi kerja kita, akan berpengaruh pada proses kerja kita dan sangat menentukan hasil kerja dan kinerja kita.
  3. Membuang malas. Malas adalah penyakit yang nampaknya halus namun sangat akut dan butuh penanganan serius. Banyak kesalahan yang dilakukan karena malas, banyak malpraktek yang  terjadi juga karena malas dan bamyak kerugian ditimbulkan karena ulah orang yang malas. Guru juga manusia yang sangat mungkin terjangkit malas, indikasinya  malas masuk kelas, malas mengajar, malas belajar hal baru untuk mengupgrade kompetensi diri, malas berpikir, malas berkarya dan malas berinovasi. Dampak terburuk adalah ketika malas mengajar, maka kemudian memberi pelajaran atau tugas kepada siswa tidak sesuai tema, tidak sesuai dengan standar kompetensi  dan tidak sesuai dengan silabus (jaman dulu GBPP). Tugas atau pekerjaan yang tidak sesuai dengan kaidah saintifik kurikulum terbaru misalnya : mencatat buku sampai habis, meringkas satu buku utuh atau membuat soal sejumlah tertentu). Maka malas ini harus diperangi, dan obat yang paling mujarab adalah "Tekun", orang cerdas yang malas bisa dikalahkan oleh orang biasa yang tekun.
  4. Rendah hati. Menjadi sosok guru yang rendah hati ternyata sulit dan lebih mudah menjadi yang sebaliknya, guru yang angkuh dan sombong, merasa hebat dan selalu benar. Sebenarnya seiring waktu yang terus bergulir, pengetahuan dan kemampuan yang dulu pernah kita miliki bisa jadi saat ini sudah basi dan ketinggalan jaman, kita yang dulu lincah, enerjik dan terampil sangat mungkin kalah oleh mereka yang lebih muda. Namun angkuh dan sombong mampu menutup dan  memanipulasi semuanya sehingga kita masih sering lupa diri, masih sering bernada tinggi, bersuara keras dan membusungkan dada menunjukkan bekas-bekas kehebatan kita yang bisa jadi saat ini sudah tidak hebat lagi. Rendah hati bisa muncul dalam sosok guru yang bijak, yang sabar dan pemaaf, yang mudah menerima masukan dan siap dibetulkan jika dianggap salah serta tidak arogan ketika merasa benar.
Pertanda baik atau buruknya guru terlihat secara jelas pada karakternya (watak) yang merupakan kumpulan sifat yang dominan dan bersifat permanen. Merubah karakter buruk adalah perjuangan berat, dan hanya bisa dirubah dengan cara merubah kebiasaan. Kesulitan, rintangan, hambatan dan tantangan akan terus ada, maka yang diperlukan untuk merubah diri ke arah yang lebih baik adalah tetap berpijak pada alas niat, tetap berfokus pada loop semangat, tetap berpegangan pada tali tekun dan tetap menapaki tangga rendah hati. Memang tak ada sosok guru yang sempurna, namun kita tidak boleh mengambil hal buruk menjadi payung untuk berlindung agar tetap merasa nyaman dalam keburukan. Dan dari kenyataan bahwa di luar sana sangat banyak guru yang baik, yang berprestasi baik skala nasional, regional atau bahkan internasional, artinya jika kita mau - maka kita pun pasti bisa untuk menjadi guru yang baik, setidaknya meningkat menjadi lebih baik.

Sebagai penutup Oase kali ini, kembali kami tandaskan bahwa tulisan ini tidak untuk mengkritisi siapapun, tidak untuk menjustifikasi pihak manapun dan juga tidak untuk menguliti seseorangpun, namun sejatinya adalah sebuah ajakan kebersamaan, sebuah semangat untuk membangun dan memperbaiki motivasi dan meluruskan niat kita sebagai guru/pendidik, mengoptimalkan karya dan memaksimalkan kinerja melalui pendidikan bagi anak negeri. Teruslah berbuat kebaikan, meski kadang tidak dihargai atau bahkan dicemooh. Hakikatnya perbuatan baik itu untuk diri kita juga, karena Allah akan membalas melebihi yang kita harapkan. Inilah sedikit yang bisa kami tuliskan harapan kami semoga ada satu, dua atau tiga pembaca yang bisa mengambil manfaatnya untuk memotivasi diri menjadi lebih baik. Maka marilah kita berusaha menjadi guru terbaik bagi mereka, kita sambut mereka dengan segenap asa, kita hantarkan mereka kepada gerbang ilmu, pengetahuan dan keterampilan dan kita dorong mereka untuk menggapai sukses mereka, semoga ini semua bisa menjadi catatan kebaikan dan tergolong amal jariyah bagi kita yang menjadi penolong kita di akhirat kelak.Selamat bekerja, selamat beraktifitas, semoga sukses.