text

Selamat Datang di Blog SMP N 2 Kepil Wonosobo ... Sekolah SEJUTA IMPIAN, ... Awali Suksesmu Dari Sini ... Mulailah segala sesuatu dengan BISMILLAH ...
Tampilkan postingan dengan label Manajemen Sekolah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Manajemen Sekolah. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Juli 2019

Meraih Juara 1 di Kabupaten Wonosobo, SMPN 2 Kepil Siap Bersaing di Ajang FLS2N Tingkat Propinsi Jawa Tengah

Alhamdulillah, SMP Negeri 2 Kepil berhasil menjadi Juara 1 tingkat Kabupaten Wonosobo pada ajang FLS2N tahun 2019, ini adalah karunia dari Alloh SWT yang telah dilimpahkan kepada sekolah ini. Ananda TEVITA BRAVELO, siswa kelas 9D dibawah bimbingan Bapak Aris Winarno, S.Pd (guru Seni Budaya) berhasil menjadi Juara 1 dalam cabang lomba Desain Poster. Lomba yang dilaksanakan pada tanggal 17 Juli 2019 ini telah menorehkan prestasi bagi sekolah, dan ini adalah prestasi hebat dan menjadi kebanggaan yang luar biasa. Atas prestasi ini, SMP Negeri 2 Kepil mendapat kesempatan maju untuk berlaga di tingkat propinsi dalam ajang yang sama, yang rencananya akan dilaksanakan pada tanggal 6-7 Agustus 2019, bertempat di Hotel Puri Garden dan BPM Dikjur Jawa Tengah yang berlokasi di Jalan Brotojoyo Plombokan Semarang.

Bismillah, itulah kata yang selalu disuarakan untuk membangun kekuatan dan semangat baru. Sangat tepat jika kepala sekolah baru memakai tagline kata Bismillah. "Mulailah segala sesuatu dengan BISMILLAH", kata ini kini telah menjadi slogan baru, menjadi kekuatan baru di tahun ajaran baru. Slogan tersebut terpasang dalam Banner selamat datang yang terangkai dengan beberapa kata penuh motivasi, penuh semangat dan menjadikan energi positif untuk melangkah lebih mantab di tahun ajaran baru. Secara lengkap banner itu bertuliskan "Selamat Datang Di Sekolah Sejuta Impian, SMP Negeri 2 Kepil, Awali Suksesmu Dari Sini - Mulailah Segala Sesuatu Dengan Bismillah". Ini adalah salah satu upaya membangun sikap optimis meraih prestasi dan jiwa yang penuh harap kepada limpahan rahmat dan karunia dari Alloh SWT.

Yah, mengawali tahun ajaran baru 2019/2020 banyak hal baru yang nampak di SMP Negeri 2 Kepil. Pejabat kepala sekolah baru SMP Negeri Kepil, Bapak Hadi Wiyono, S.H., M.Pd., yang secara resmi diterimakan ke komite sekolah pada tanggal 5 Juli 2019 telah memberikan warna baru dalam pengelolaan manajemen sekolah. Dimulai dari pembiasaan disiplin yang diberlakukan bagi semua civitas akademika tanpa terkecuali, guru, staff dan siswa. Sebelum rangkaian KBM yang dimulai pukul 07.00 suasana sekolah sudah nampak hidup dengan diperdengarkannya suara penggugah ruhani berupa pembacaan murotal (ayat-aya Al-Quran). Lalu pada pukul 07.00 terdengar bunyi bel tanda aktivitas KBM dimulai, siswa masuk kelas untuk kegiatan pembiasaan, kegiatan kerohanian yang berupa pembacaan Asmaul Husna dan/atau Tadarus Juz 'Amma.

Hal baru lainnya adalah adanya doa bersama bagi guru dan staff, dilakukan setiap hari pada saat siswa melakukan kegiatan pembiasaan pagi. Bertempat di ruang guru, kepala sekolah bersama jajaran wakil pimpinan, guru dan staff melaksanakan doa bersama yang di pimpin guru agama atau wakil pimpinan, kemudian dilanjutkan breefing pagi hingga menjelang pelajaran pertama dimulai. Dengan doa bersama dan breefing pagi yang dilakukan setiap hari dengan sendirinya menjadi pembiasaan baik bagi semua jajaran pimpinan, guru dan staff, diantaranya menjadi lebih disiplin dan terkontrol (malu jika terlambat), selalu koordinasi dan mendapatkan titik temu setiap permasalahan yang terjadi, dan selalu mendapatkan suntikan semangat dan motivasi untuk melakukan pengabdian yang terbaik dalam memberikan pelayanan pendidikan kepada semua peserta didik.

Kebersihan lingkungan adalah salah satu fokus yang terus diupayakan agar tercipta lingkungan yang bersih, rapi, indah dan asri. Upaya pencapaian target menjadi sekolah Adiwiyata pada tahun 2020 bukan pekerjaan yang ringan, namun dengan semangat, usaha dan kerja keras insya-Alloh akan terwujud. Beragam rencana pengembangan sekolah telah diagendakan dan disosialisasikan oleh kepala sekolah, antara lain: # renovasi pintu gerbang (pintu masuk) agar lebih aman dan lebih mudah saat pengendara motor/mobil keluar masuk ke lokasi sekolah, # pembuatan tempat parkir motor siswa pada tempat yang khusus agar lebih rapi, aman dan terlindungi, # penyediaan tong sampah yang khusus agar pengelolaan sampah bisa mendukung program kebersihan sekolah dan # pembinaan sikap dan mental siswa yang lebih terprogram dalam berbagai bidang.

Akhirnya, marilah kita semua turut andil dalam memajukan pendidikan, baik sebagai guru, sebagai siswa, sebagai orangtua/wali atau sebagai masyarakat agar terwujud harapan dan cita-cita pendidikan untuk membangun generasi yang muda yang cerdas, terampil, berprestasi, berakhlak mulia dan peduli lingkungan, insya-Alloh. Kami berharap bantuan doa semoga SMP Negeri 2 Kepil bisa lebih maju dan lebih berprestasi, bisa berbagi manfaat bagi lingkungan masyarakat dan negara. Selamat beraktifitas, selamat belajar, selamat berkarya, semoga sukses, Aamiin.

Kamis, 19 Maret 2015

Manajemen -12 : Semangat Perjuangan Untuk Kesuksesan Bersama - Kesimpulan Akhir Manajemen Sekolah

Mengawali tulisan kali ini kami nukilkan hasil survei kami tentang penilaian siswa terhadap guru. Pada awal bulan Maret ini kami mengadakan survei kepada siswa kelas IX yang kami insertkan dalam soal ujian praktik secara online. Dari total responden 96 siswa, data yang masuk dan valid sebanyak 91 siswa. Data berbentuk email dan file hasil pekerjaan siswa kemudian kami rekap dan hasilnya sungguh luar biasa, bisa menjadi bahan pemikiran, pertimbangan dan instopeksi bagi semua pihak, terutama bagi guru yang masuk dalam daftar rekomendasi hasil survei. Dua hal yang kami munculkan dalam survei tersebut yang pertama guru pavorit dan alasannya, dan yang kedua guru yang kurang disukai berikut alasannya. Hasilnya, untuk guru pavorit (paling disukai), secara berututan tiga teratas adalah : 1. Bpk Yosep Luhvendi, S.Pd, (24 responden) 2. Bpk Drs. Kardan, (23 responden) 3. Ibu Ruti Sumarni, S.Pd. (17 responden). Secara umum alasan mereka menyukai guru pavorit mereka adalah option 1) baik, ramah, santun, - dan option 3) pandai, cerdas, terampil. Sebaliknya kemudian muncul guru yang kurang disukai (nama ada pada redaksi, sesuai kode etik tidak kami sebutkan), alasan paling banyak adalah pada option 1) galak, pemarah dan 3) acuh, kurang perhatian. Inilah yang menjadi inspirasi tulisan kali ini, yang secara gamblang menggambarkan diri kita di mata siswa.

Tulisan ini adalah seri -12 dalam tajuk manajemen sekolah. Semuanya asli goresan pribadi, dari awal hingga kali ini adalah dari hasil ketikan keyboard yang merupakan buah pikir, bisikan hati dan percikan suara seiring perjalanan waktu selama ini. Kami bertanggung jawab sepenuhnya terhadap seluruh tulisan ini. Kalau ada tulisan yang salah (tidak sesuai) adalah karena saya yang salah dalam memahami masalah yang terjadi, karena kebodohan saya dan karena kelemahan saya yang tidak bisa adil dalam bersikap. Oleh karena itu kepada semua pihak yang merasa tersentuh, tersinggung dan merasa ternoda, dengan segala kerendahan hati, dengan segenap ketulusan kami memohon maaf yang sebesar-besarnya. Tulisan terakhir ini adalah kesimpulan aspek manajemen, berisi prinsip-prinsip puncak untuk bisa meraih kesuksesan, cita-cita dan tujuan mulia bersama-sama. Dari uraian ini kami berharap kita bisa sadar dan berkenan untuk koreksi bersama-sama. Kita berada di level berapa, di kelas yang mana, mari kita berkaca dengan uraian penutup seri manajemen sekolah ini.

Dalam berteman hanya dibutuhkan 3 bulan untuk tahu siapa teman kita - simpatis atau egois, penyabar atau pemarah, pemurah atau util-metitil (pelit), perwira atau pecundang dan sifat-sifat lainnya. Adapun dalam membina keluarga (suami-istri), butuh waktu 1 - 3 tahun untuk benar-benar mengetahui karakter masing-masing. Di masa inilah kesabaran teruji, kesetiaan terhakimi dan kesungguhan teradili. Akan bahagia atau sengsara, langgeng atau berantakan ditentukan dalam masa-masa yang penuh ujian ini. Demikian juga adanya dalam dunia kerja, kita sebagai guru, karyawan, pegawai bahkan buruh sekalipun. Setelah sekian lama dalam kebersamaan, maka dengan sendirinya akan terlihat jelas siapa kita, siapa dia dan siapa mereka sebenarnya. Yang memang aslinya baik akan terlihat baik, yang biasa saja juga akan kelihatan kebiasaannya, sebaliknya yang buruk dari bawaan juga akan terlihat buruknya. Ibarat pepatah "Intan akan tetap menjadi intan walau di comberan sekalipun", demikian pula sebaliknya Memang, kita cenderung akan menutup diri dan menyembunyikan siapa kita pada awalnya, namun seiring waktu akan muncul karakter kita yang sesungguhnya. Yah ... memang waktu yang akhirnya akan membuka semuanya.

Pada dasarnya memang setiap kita - setiap manusia membawa jiwa dan sifat yang berbeda-beda (bawaan). Namun seiring waktu berjalan sifat itu bisa berubah. Ada yang baik dan selalu menjaga kebaikannya. Ada yang kurang baik dan semakin menjadi tambah buruk. Ada juga yang semula kurang baik namun terinspirasi dan termotivasi menjadi sangat baik. Yang paling parah adalah yang semula baik namun terbentur kondisi dan lingkungan sehingga menjadi kurang baik. Hakikatnya menjadi baik atau buruk adalah pilihan, siapapun bisa menentukan pilihannya. Kendala yang muncul adalah dominasi pemikiran dan kecenderungan hati yang kemudian menjadi sifat / karakter. Karakter adalah sikap/sifat yang ditunjukkan secara terus-menerus dalam jangka waktu yang lama, sementara kita sulit untuk bisa membaca kekurangan/karakter buruk kita, namun orang lain yang sering berinteraksi dengan kita dapat membacanya dengan seksama,. Itulah yang kemudian muncul dan menjadi faktor dominan pada diri kita, sehingga siswa pun bisa menilai siapa kita dan bagaimana karakter kita.

Faktor pembentuk karakter paling besar adalah lingkungan. Ada tiga hal yang umumnya mempengaruhi jiwa dan membentuk karakter sesorang. Harta, Tahta, Wanita. Tiga hal inilah yang bisa menjadi pemicu dan pemacu seseorang berubah sesuai kecenderungan jiwanya. Gerak, tingkah dan gelagatnya akan nampak pada orang punya kecenderungan pada salah satu dari tiga hal ini. Yang pertama, karakter yang berorientasi harta (uang) maka dia akan semangat dan aktif pada setiap hal yang ada uangnya, bahkan dia bisa mengambil lebih dari beban kerja (job kerja) agar mendapat banyak tambahan, walau pelaksanaannya asal-asalan - sebatas sah di atas kertas. Sebaliknya dia akan enggan/malas untuk menjalani pekerjaan yang tidak nilai tambahnya dari segi keuangan. Inilah level terbawah, yang biasanya dilakukan orang yang merasa  sangat membutuhkan uang lebih. Yang kedua,  berorientasi tahta (jabatan, gelas, posisi) akan sangat aktif, bahkan rela keluar uang/harta untuk memuluskan karirnya untuk mendapatkan jabatan tertentu. Politik dan intriknya banyak kita lihat di negeri ini, dimana mereka mengendarai dan mengatasnamakan rakyat untuk tujuan jabatan mereka. Inilah level kedua, yang biasanya dialami oleh orang yang sudah memiliki harta yang cukup. Yang ketiga, gelagat orang yang jatuh hati (cinta) mudah dibaca dan sulit untuk disembunyikan. Inilah yang biasanya menggelincirkan orang yang berharta dan menduduki tahta, namun tidak mustahil bagi orang yang biasa saja bisa celaka karena masalah cinta ini.

Terkait dengan hasil survei dan kaitannya dengan pengaruh lingkungan dari 3 hal yang berbahaya, maka wajib dibangun lingkungan sekolah yang kondusif. Karena sekolah adalah lingkungan pembentuk karakter bagi siswa, maka yang pertama dan utama adalah membentuk diri kita sebagai guru yang baik bagi anak didik kita. Maka lingkungan guru harus dibentuk dan dikondisikan agar ketiga pengaruh tersebut bisa diminimalisir dan berdampak situasi kerja menjadi kondusif dan kinerja bisa dioptimalkan. Beberapa hal mendasar yang menjadi prinsip dan harus ada, harus ditumbuhkan kembali untuk menjadikan kita sebagai bagian dari sistem organisasi / lingkungan kerja yang kondusif, aktif dan kreatif sebagai berikut :
  1. Peduli. Peduli adalah urusan hati. Mudah simpati, mudah memberi, mudah membantu dan mudah berbagi adalah mereka yang punya hati, hati yang masih peduli. Ada slogan asal bunyi "Kalau ingin hidup bebas tanpa beban maka buang rasa peduli." Peduli tidak dimiliki orang yang egois. Orang yang tak punya rasa peduli tidak akan ambil pusing dengan masalah orang lain, tidak akan terganggu dengan penderitaan orang lain dan tidak akan berfikir apakah sikapnya mengganggu / menyusahkan orang lain atau tidak. Peduli adalah kepekaan hati, kerendahan budi dan kehalusan rasa. Baik, ramah, santun dalam survei guru di atas hanya dimiliki oleh orang yang punya tingkat kepedulian yang tinggi. Peduli merupakan tolok ukur asosiasi dan adaptasi dalam hidup berdampingan dengan orang lain dalam lingkungan sosial.
  2. Pejuang. Pengorbanan adalah bagian dari perjuangan. Jiwa pejuang adalah mereka yang siap berkorban. Dengan semangat juang yang tinggi, sebuah cita-cita besar akan mudah diraih, tantangan sekuat apapun akan mudah ditembus dan beban seberat apapun serasa ringan. Seorang calon istri lebih bangga pada calon suami yang hidupnya penuh perjuangan, termasuk perjuangan untuk mendapatkan dirinya - daripada orang lain yang tinggal terima jadi. Perjuangan membuktikan kesungguhan seseorang. Ruh pejuang, inilah yang harus kita hidupkan kembali, bahwa kita harus punya jiwa pejuang yang tinggi untuk mewujudkan cita-cita besar kita dalam mendidik siswa dan memajukan sekolah ini. Dan ruh ini tidak hanya ada ketika memulai dan berhenti ketika usai, namun harus selalu ada di setiap episode, setiap posisi dan selalu diperbaharui secara periodik. Kita butuh perjuangan yang tidak pernah henti, yang tulus ikhlas dan perjuangan yang luar biasa untuk memajukan sekolah, untuk mendidik dan membimbing siswa-siswi kita.
  3. Solidaritas. Korsa dalam bahasa militer, khususnya kopassus. Disiplin tinggi, dedikasi, loyalitas dan persatuan yang solid menjadi ciri utama pasukan paling elit dan disegani di jajaran militer di Indonesia. Solidaritas muncul dari rasa kebersamaan, senasib, seperjuangan, loyalitas pada korp / kesatuan tempat bernaung. Jiwa korsa inilah yang harus kita munculkan kembali, kita bina dan kita pupuk dengan cara kita bangga dan loyal pada kesatuan kita di SMPN 2 Kepil.
  4. Totalitas. Prajurit yang tidak memiliki totalitas akan bersembunyi, lari mencari selamat ketika tahu ternyata musuhnya lebih kuat, lebih banyak. Begitu pula kita guru, pegawai, karyawan akan mundur dan beringsut lepas tanggung jawab bila berhadapan dengan tugas yang berat. Jiwa yang punya totalitas akan benar-benar bekerja dengan sepenuh tanggung jawab, sepenuh hati, sepenuh daya pikir dan sepenuh waktu. Dia akan benar-benar terjun langsung dan menjadi bagian dalam kegiatan, bukan hanya menjadi juri, wasit atau penonton yang duduk di luar arena sambil membaca koran atau sibuk dengan update status di media sosial. Jiwa ini tidak akan lari, pergi, atau bolos sebelum waktunya, kecuali ada kepentingan yang sangat mendesak. Jiwa ini akan sanggup memberi lebih, baik waktu, tenaga, pikiran bahkan biaya/harta untuk suatu cita-cita bersama.
  5. Motivasi. Manusia umumnya memiliki jiwa yang mudah lupa, mudah bosan dan cenderung malas. Motivasi sangat dibutuhkan oleh siapapun, karena di dalamnya ada penyadaran, ada peringatan, ada dorongan yang bisa membangkitkan kekuatan luar biasa untuk bergerak, untuk bangkit, untuk berubah menjadi jauh lebih baik dari sebelumnya. Motivasi bisa dilakukan oleh siapa saja - selama dia memiliki kapasitas. Namun akan lebih bagus, lebih terasa dan lebih berdampak positif apabila dilakukan oleh yang ahli dan berpengalaman (dari luar sistem). Oleh karena itu sebaiknya setiap lembaga membuat agenda khusus dan rutin (termasuk alokasi anggaran) untuk mengadakan motivasi bagi personelnya, yang dalam beberapa lembaga biasa dimasukkan dalam kegiatan penelitian dan pengembangan (LITBANG). Bentuk motivation building ini bermacam-macam ; bisa ESQ, bisa outbond, bisa training, seminar dan lain-lain.
Kalau hanya dilihat dari gelar akademik, penulis memiliki 3 gelar yang bisa dipajang di delakang nama, mulai dari A.Md, S.Pd, hingga S.Kom. Namun kenyataannya, hal itu bukan ukuran untuk menjadi yang terbaik dan terpavorit.  Bagi siswa, konsumen, klien, sahabat, dan masyarakat bukanlah deretan gelar dan tingginya strata pendidikan - namun lebih kepada sikap, kepedulian, kedekatan dan kepiawaian kita dalam membawa diri untuk bisa berperan dan berbagi manfaat pada mereka - seperti yang telah dicontohkan oleh  Bpk Vendi, Bpk Kardan dan Ibu Ruti yang telah terbukti dipilih siswa sebagai guru pavorit SMPN 2 Kepil. Semangat untuk menjadi pribadi yang baik atau bahkan yang terbaik adalah wujud jiwa peduli, bentuk jiwa pejuang (pengorbanan), aktualisasi solidaritas, dan eksistensi motivasi seseorang yang ingin menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang yang membutuhkannya..

Dengan begitu kita bisa berharap menjadi guru / pegawai yang elit layaknya kopassus, yang di manapun berada tetap menjadi figur yang heroik, simpatik, disiplin, dan bisa bermanfaat. Harapannya bisa memiliki jiwa yang dekat dengan siswa, klien, konsumen, rakyat namun tetap terhormat dan disegani, karena terhormat dan disegani tidak harus berwajah angker dan menakutkan.

Demikian ulasan terakhir untuk tulisan ke-12 seri manajemen sekolah ini, semoga bisa menambah wawasan - mencarge semangat untuk berubah - menjadi motivasi untuk peduli - membangkitkan kembali jiwa pengorbanan - menguatkan jiwa solidaritas dan untuk bersama-sama membesarkan dan menjadikan SMPN 2 Kepil menjadi sekolah maju dalam berbagai hal, yang memiliki kualitas yang dapat dibanggakan dan menjadi sekolah pavorit dari segala lapisan. Sampai berjumpa pada tulisan seri dan bab lainnya. Selamat beraktifitas semoga bermanfaat. (29660-710)

Sabtu, 21 Februari 2015

Manajemen -11 : Merasa Belum Memadai, Kurang Optimal, Tidak Memenuhi Syarat - Manajemen Quality Control, Kunci Perubahan Menuju Perbaikan Kualitas Diri

Kualitas adalah hal yang mahal dan berat bagi sebagian orang, juga lembaga atau perusahaan. Namun bila kita mau mencermati dan mau belajar lebih lanjut maka kita akan tahu bahwa perusahaan, instansi, lembaga-lembaga atau bahkan warung makan sekalipun hanya bisa mencapai sukses dan menjadi bonafit adalah karena masalah kualitas yang mereka junjung tinggi, mereka usahakan dengan maksimal dan mereka jaga dengan segenap kekuatan yang ada. Dalam skala internasional Jepang adalah salah satu negara yang sangat ketat dengan kualitas, yang sangat dekat dengan istilah presisi, akurat dan tepat. Dan kini Jepang telah membuktikan diri menjadi negara produsen teknologi paling maju di dunia.

Di sela-sela padatnya kegiatan persiapan ujian praktik, Pra-US/UTS dan US/UKK kami mencoba melanjutkan tulisan seri manajemen sekolah ini. Tulisan seri manajemen ke-11 kali ini akan berbicara kontrol kualitas pada suatu sekolah. Sumber inspirasi tulisan kali ini adalah seorang ibu guru muda yang cukup senior - dimana beliau kami anggap sebagai sosok yang memiliki jiwa istimewa, terlepas dari kekurangan beliau sebagai manusia biasa. Sosok beliau yang ramah dan santun kepada semua orang, disiplin dan penuh tanggung jawab, tidak egois dan suka membantu, tertib administrasi dan punya kemauan untuk belajar, dan satu yang menjadi ciri utami (utama red) adalah keibuan. Satu hal lagi adalah beliau tidak mudah terbawa arus, tidak mudah terkontaminasi dan larut dalam situasi yang kurang kondusif.

Tulisan ini mungkin saja tidak akan mengubah apapun, mulai dari pandangan, sikap, perilaku dan kebiasaan selama ini. Namun kami berharap tulisan ini setidaknya mampu memberi wawasan dan turut andil bagi suatu perubahan paradigma yang bermanfaat suatu saat kelak. Karena memang apa yang kita perbuat saat ini tidak akan berdampak langsung dan dapat dilihat hasilnya dalam hitungan hari, bulan atau tahun. Menurut beberapa teori - suatu konsep, pemikiran dan kebijakan baru dapat diterima dan dapat dilihat hasilnya setelah 2-3 tahun berikutnya. Hal ini sangat berkaitan dengan tingkat sensitifitas terhadap kualitas (sense of quality), kemampuan berfikir logis, apresiasi dan kecenderungan, motivasi dan orientasi masing-masing pribadi dalam memahami suatu masalah yang terjadi. Mereka yang tidak punya kepedulian tidak akan mampu melakukan ini.

Kembali ke bahasan quality control, dalam dunia industri / perusahaaan, divisi quality control diisi oleh orang-orang istimewa. Istimewa karena mereka direkrut dari orang-orang pilihan yang memiliki kemampuan di atas rata-rata. Orang-orang ini dipilih khusus karena posisi mereka yang harus bisa mempelajari, memahami dan membuat sistem  pengontrolan kualitas bagi seluruh divisi / departemen. Bagian, divisi atau departmen Quality Control bisa jadi adalah bagian yang tidak disukai oleh banyak orang pada divisi lain, karena pekerjaan mereka yang berkutat pada standar pengukuran yang ketat dengan standar kualitas yang tinggi dan dianggap memberatkan. Divisi ini cenderung kritis, kaku dan ketat dengan berbagai parameter kualitas. Namun, sesungguhnya setiap orang pada seluruh bagian perusahaan sangat membutuhkan divisi ini. Di tubuh mereka keberlangsungan perusahaan disandarkan, di tangan mereka nama besar perusahaan dipertaruhkan, di pundak mereka kejayaan dan kepercayaan perusahaan dibebankan. Posisi mereka sangat krusial dan sangat menentukan kualitas seluruh divisi / bagian, mulai dari masuknya bahan baku, proses produksi, perakitan dan penjualan.

Fokus tulisan ini pada upaya memperbaiki kualitas, bagaimana caranya ? Sesuai judul di atas, maka langkah paling mudah di awali dengan bentuk instropeksi dan mawas diri pada setiap lini, setiap divisi, setiap individu. Instropeksi di sini bukan untuk mengukur kemampuan dan kapasitas diri secara pribadi. Mawas diri ini bukan untuk menilai, menakar, mengukur apalagi menghakimi orang lain. Seperti yang pernah ditulis dan disampaikan Bapak Drs. Kardan bahwa kapasitas personal semua guru dan elemen sekolah di SMPN 2 Kepil secara administrasi sudah memenuhi syarat dan memiliki kemampuan yang dipersyaratkan. Namun yang dimaksud dengan kualitas di sini adalah kualitas layanan sesuai dengan tupoksi dan tutam setiap individu dalam komunitas sebuah sekolah.

Pertanyaannya, lalu siapa yang bertanggung jawab dan berada dalam posisi divisi control quality di sekolah ? Dalam istilah bahasa secara tersurat tidak ada satupun pejabat sekolah yang bertugas menduduki divisi quality control ini. Namun secara tersirat komando utama manajemen quality control ini berada pada jabatan wakil kepala sekolah, yang secara hirarkhis mempunyai garis komando kepada seluruh elemen civitas akademika di sekolah. Maka benar kalau wakil kepala sekolah adalah posisi istimewa dan sentral, maka yang duduk di sana bisa dipastikan memiliki kapasitas dan kapabilitas yang istimewa. Namun dibalik istilah tersurat dan tersirat, sesungguhnya manajemen quality control di sekolah tersebar pada banyak divisi dan wakil kepala sekolah adalah sebagai manajer / direkturnya.

Secara lebih jelasnya begini, division of quality control itu bisa berada/tersebar dari level paling rendah, menengah hingga yang tertinggi. Level terendah berada pada guru dalam menyampaikan pelajaran di kelas, guru ketika bergaul dengan siswa di luar kelas dan ketika guru melakuan pelayanan lanjut / konsultasi terkait mata pelajaran. Level berikutnya ada jabatan tambahan yang menjadi tanggung jawabnya, misalnya wali kelas, kepala laboratorium, kepala perpustakaan, kepala mushola dan jabatan sejenis lainnya. Level selanjutnya adalah koordinator bidang (standar) atau yang sering disebut wakil kepala sekolah bidang tertentu : misalnya bidang kurikulum, sarana-prasarana, dan humas. Sedangkan level tertinggi berada pada kepala sekolah.

Sebagai contoh ulasan yang pertama adalah guru dalam kelas. Inilah kontrol pertama dan paling mendasar. Rencana kemampuan apa dan bagaimana kualitas anak dalam mata pelajaran yang kita ajarkan berada sepenuhnya pada kontrol kita sebagai guru. Kemampuan kita mengendalikan kelas, mengkondisikan suasana yang nyaman dan pembelajaran yang mendidik sangat tergantung pada totalitas kita di kelas yang bersangkutan. Kebiasaan kita sangat berpengaruh dan berimplikasi pada hasil dan sikap kita pada mereka. Siswa yang cuek dan bandel, atau siswa aktif dan bersemangat adalah tantangan yang harus dijawab dan diupayakan untuk dipecahkan dan dicari solusi terbaiknya. Jangan suka menjatuhkan kesalahan pada orang lain dan mengampuni serta membenarkan diri sendiri. Kebiasaan kita yang acuh, suka mengancam / mengintimidasi bukan jalan yang baik untuk menghadapi masalah ini. Keterbukaan kita, sikap kita, keramahan kita dan kedekatan kita pada mereka - itu lebih dibutuhkan untuk mewujudkan situasi yang nyaman dalam pembelajaran. Tidak perlu membuat target muluk-muluk yang pada pelaksanaanya tidak pernah dikontrol dan diarahkan dengan benar. Buat rencana yang wajar dan sesuaikan dengan situasi dan kondisi serta sumber daya yang ada, namun dikontrol dan dilaksanakan dengan baik.

Contoh ulasan lainnya adalah wali kelas - untuk menjaga kualitas kelas yang bersangkutan. Maka tiap-tiap wali kelas punya kewenangan dan tanggung jawab mengukur, mengatur, mengkondisikan dan memvalidasi kelasnya telah memenuhi kualitas yang diharapkan. Keluhan siswa, jam kosong, sarana-prasarana kelas, keakraban dan kekompakan, kebersamaan dan kenyamanan, serta suasana akademik dalam kelas adalah masalah kecil yang sering terjadi. Bila wali kelas masih tidak tahu masalah yang terjadi dan dialami siswa asuhannya, masih bersikap acuh tak acuh dan sejenisnya maka inilah yang perlu diperbaiki, perlu, ditindak-lanjuti dan ditata kembali agar proses validasi kualitas bisa kembali diwujudkan.

Demikian seterusnya pada divisi lainnya, semuanya berpulang pada kesadaran diri mau bersikap yang bagaimana. Kalau masih kekeh / ngotot bahwa  kita merasa "sudah baik, sudah terbaik, sudah benar-benar maksimal" - maka lanjutkan. Namun sekiranya berkenan untuk menurunkan tensi dan gengsi lalu bisa merasa kalau ada yang kurang, berkurang atau hilang - saatnya kita untuk tersadar dan bersiap untuk membenahi kualitas pelayanan kita. Kualitas pelayanan kita akan merubah kualitas siswa kita dan selanjutnya akan merubah kualitas siswa kita menjadi lebih baik, insya-Alloh.

Untuk menjadi sesuatu yang besar, hebat dan luar biasa tentu tidak serta merta, tidak sesaat, tidak ujug-ujug dan tanpa usaha yang nyata, tanpa pengorbanan. Semua harus dimulai dari kesadaran masing-masing diri pribadi "SUDAHKAH SAYA MEMADAI, SUDAHKAH SAYA MAKSIMAL dan SUDAHKAH LAYAK PEKERJAAN SAYA selama ini. Ini perlu untuk mengukur diri : antara karya/kerja kita dengan pendapatan yang kita peroleh. Jangan mencari kambing hitam atau mengalihkan fokus dengan contoh lain yang lebih buruk. Ibarat kata berkaca pada cermin yang buram mustahil bisa mendapatkan hasil yang baik. Maka akan lebih bijaksana bila kita mau melihat benar-benar dari skala nol, lalu kita ukur seberapa diri kita. Setelah sekian lama waktu berjalan, semenjak pertama kali kita memutuskan untuk menjadi guru / pegawai. Adakah yang berubah dalam diri kita. Bisa kita ingat-ingat dari hari pertama, bulan ke dua, tahun ke tiga dan seterusnya, semangat mana yang berkurangsikap mana yang berubah dan rasa mana yang hilang

Terima kasih pada Ibu Rini Utami, S.Pd atas inspirasi dan motivasinya.Tulisan seri manajemen sekolah yang terakhir (seri-12) akan berupa kesimpulan dan semoga bisa kami tayangkan pada minggu ke dua Maret mendatang. Selamat beraktifitas, semoga sukses  (28610-800)

Selasa, 20 Januari 2015

Manajemen -10 : Upgrade Semangat Memperbaiki Kualitas Layanan Pendidikan - Manajemen Pemasaran, Strategi Membangun dan Membenahi Image Sekolah

Sebagai prolog kita lihat contoh dua sekolah swasta di Jogja, yang pertama SDIT Bakti Insani di Sleman dan yang kedua SMP MBS (Muhammadiyah Boarding School) di Prambanan. Keduanya berlokasi agak masuk dari jalan utama. Namun untuk masalah persaingan pasar pada saat pendaftaran / penerimaan siswa baru selalu selangkah lebih maju. SDIT Bakti insani sudah menutup pendaftaran pada bulan Nopember satu tahun sebelum tahun ajaran dimulai, karena kuota pendaftar sudah terpenuhi. Demikian pula dengan SMP MBS Prambanan pendaftaran sudah dimulai pada bulan September dan ujian masuk dilakukan mulai bulan Nopember satu tahun sebelum tahun ajaran bersangkutan pada saat siswa masih duduk di kelas 6 SD. Gambaran ini menunjukkan bahwa minat calon siswa sangat tinggi untuk bisa masuk sekolah ini.

Posisi sekolah yang berada di jalur utama transportasi adalah modal yang sangat besar yang menempatkan suatu sekolah pada pilihan utama. Namun posisi geografis bukan satu-satunya faktor yang menentukan keberhasilan dalam persaingan pasar (marketing). Demikian pula kemegahan gedung yang tinggi menjulang yang tampak gagah dan mempesona. Image dan kepercayaan adalah hal paling utama yang menempatkan nama sebuah sekolah tertanam kuat di hati masyarakat sebagai nasabah / konsumen pengguna jasa pendidikan. Ada beberapa faktor yang berpengaruh dan sangat signifikan yang berperan membuat image dan kepercayaan yang kemudian akan menentukan peta pemasaran sekolah di masyarakat. Tulisan seri Manajemen Sekolah ke-10 kali ini akan mencoba mengulas beberapa hal yang terkait dengan pembenahan Manajemen Marketing di sekolah ini.

Sekolah yang bergerak di bidang jasa pendidikan, baik negeri maupun swasta secara halus maupun kasar selalu berusaha merebut calon pendaftar untuk memenuhi kuota minimal pada saat penerimaan siswa baru (PSB). Berbagai cara dilakukan untuk merebut simpati dan kepercayaan masyarakat. Ada yang menerapkan cara instan dan cenderung licik, ada yang mengiming-imingi dengan berbagai fasilitas gratis, ada yang jalan biasa saja dan ada yang tanpa trik apapun sudah penuh dibanjiri pendaftar. Nah, dari beberapa model di atas dimanakah posisi kita ?

Mengelola sekolah atau lembaga pendidikan sama halnya dengan mengelola perusahaan. Marketing menjadi bagian utama dalam proses pengambilan keputusan. Banyak divisi dan bagian dalam manajemen marketing yang harus dikondisikan agar bisa memberikan hasil yang maksimal sesuai harapan. Ada riset dan analisa, ada perencaan, ada target, ada progres, ada control, ada umpan balik dan review. Artinya kalau memang sebuah sekolah / lembaga pendidikan ingin memiliki area pasar yang luas dan image positif kuat maka harus direncanakan dengan matang, dikelola dengan baik dan berkelanjutan. Bukan hanya program temporer, yang dirancang saat itu dan hanya untuk saat itu (dengan penuh was-was, bingung dan penuh dengan spekulasi). Mari kita pelajari bersama.

Untuk belajar manajemen marketing dan strategi mari kita sedikit membuka wawasan kita. Kita pasti tahu nama besar Toyota dalam percaturan pasar otomotif di tanah air. Toyota dengan manajemennya berhasil menjadi raja dan menguasai pangsa pasar mobil di Indonesia. Avanza adalah mobil paling laris sejak beberapa tahun terakhir. Tahun 2012 Avanza berada peringkat 1 dengan jumlah penjualan 192.146 unit, Kijang Innova pada peringkat 3 = 71.685 unit dan Toyota Rush pada peringkat 6 = 34.033 unit. Berikut kami paparkan beberapa strategi : gabungan dari beberapa kajian kebijakan perusahaan / lembaga pendidikan yang patut kita contoh untuk mengembangkan manajemen di sekolah kita agar bisa menanamkan pengaruh positif di masyarakat luas dan mengembangkan area pasar calon siswa.
  1. First Mover or Diferensiasi Product. First Mover diterapkan oleh menancapkan brand / merek pertama, ini perlu direncanakan dan dibuat agar masyarakat mengenal kita sebagai sekolah yang memiliki merek yang khas. Kalau kita bukan yang pertama, maka kita harus bisa membuat sekolah memiliki merek yang berbeda. Produk yang berbeda yang khas dan istimewa akan menempatkan sekolah mempunyai nama khusus dan istimewa di masyarakat, misalnya sekolah adiwiyata istimewa di bidang lingkungan, sekolah budaya maju di bidang seni budaya, sekolah bahasa istimewa dalam bidang bahasa asing dan sebagainya. Nah kita ambil yang mana ? 
  2. Quality and Reliabilty. Quality = handal, unggul ... yah sekolah harus mampu menunjukkan dirinya handal, mampu atau mumpuni. Reliabilty = Keyakinan, terpercaya, keyakinan bahwa sekolah memiliki guru-guru yang kompeten dan berkualitas. Sekolah harus menunjukkan kualitas dan keunggulannya serta menjaga kepercayaan publik secara terus menerus, semakin lama semakin bagus. Dua hal ini bisa dibangun dengan mengoptimalkan kinerja setiap personil (guru - karyawan), memberdayakan semua peralatan dan sarana dan memaksimalkan layanan, serta mampu berinovasi untuk menciptakan hal-hal baru yang bisa menaikkan kulitas dan kepercayaan.
  3. Empathy and Responsibilty. Empathy = peduli, bisa merasakan apa yang dirasakan dan dibutuhkan konsumen (siswa / orang tua) yang pada dasarnya mereka ingin diperhatikan, ingin dipenuhi keinginannya. Responsif merupakan kemampuan untuk membantu pelanggan dan memberikan jasa dengan cepat. Kecepatan waktu juga harus diikuti oleh ketepatan waktu sehingga kualitas pelayanan tidak dikorbankan. Pada dua hal ini seorang guru / karyawan harus berlatih dan terus berlatih untuk memiliki sifat ini. Mampu merasa, mampu melayani dalam waktu yang cepat dan tidak membiarkan masalah tidak terselesaikan berlarut-larut.
  4. Focus on Customers' Need. Fokus pada kebutuhan konsumen, ini sangat perlu agar kita tidak jalan sendiri-sendiri, merasa sudah benar padahal tidak sesuai dan harapan. Zaman sudah berubah dan akan terus berubah. Maka kita juga harus berani berubah, harus merubah pola pikir lama dengan menerima dan belajar pola pikir terbaru. Disinilah bedanya orang tua dengan anak muda. Orang tua suka bangga dan cerita kebaikannya di masa lalu, sementara anak muda suka berfikir kebaikannya di masa mendatang. Kita harus berani dan mau turun ke bawah (siswa / masyarakat), tanya apa sebenarnya yang mereka butuhkan, apa yang mereka harapkan dari kita, dari sekolah kita.
Keempat strategi di atas harus mampu ditunjukkan dalam sesuatu yang berwujud / berbentuk. Artinya aspek manajemen marketing di atas harus diwujudkan dalam bentuk fisik yang nyata. Untuk menunjukkan Image (gambaran) sekolah yang baik dapat ditimbulkan dengan menempatkan simbol-simbol yang sifatnya dapat menterjemahkan konsep ke dalam tangkapan panca indra, sebagai contoh pajangan lembar prestasi penghargaan dan tropy prestasi, guru berprestasi dan berkualitas maka ijasah pendidikan guru tersebut bisa dipajang, memasang logo dan slogan-slogan yang membangun motivasi, menata tampilan-tampilan fisik yang menampilkan kesan mutu dan berkualitas dan sebagainya.

Komunikasi antar konsumen adalah media yang sangat ampuh dan jitu dari pada poster yang besar dan brosur berlembar-lembar. Alumni (mantan murid) adalah komunikan yang paling efektif, bila ia bilang sekolah "A" baik dan merekomendasikan pada adik-adiknya, saudaranya atau tetangganya maka prosentase berhasil bisa mencapai 90%. Tak kalah penting juga adalah guru-guru di SD di sekitar sekolah kita, ulasan dan ceritanya akan sangat besar pengaruhnya bagi siswa asuhannya. Demikian juga pegawai atau pejabat pada instansi publik yang lain, misal puskesmas, kantor kelurahan, kecamatan dan tempat ibadah. 
Kesimpulan akhirnya, IMAGE POSITIF harus dibangun, harus dibentuk dan harus dikondisikan secara terus menerus dan berkesinambungan. Bukan sekedar pencitraan semata, namun benar-benar proses yang baik untuk menghasilkan OUTPUT yang terbaik, yang selanjutnya akan menjadi corong dan media promosi yang paling ampuh bagi calon siswa berikutnya. 

Demikian uraian manajemen pemasaran ini, semoga kita bisa membangun dan memperbaharui semangat untuk memperbaiki diri, motivasi untuk mau menambah pengetahuan dan ketrampilan untuk menjadi pribadi yang unggul dan memiliki jiwa empati yang sangat diharapkan oleh siswa dan masyarakat, Amin. Tulisan berikutnya tentang Quality Control, selamat beraktiftas, semoga bermanfaat. <28020-70>

Sabtu, 20 Desember 2014

Manajemen -9 : Merasakan Hati Mereka, Mari Kita Bantu Ringankan Beban dan Kebutuhannya - Manajemen Keuangan, Membangun Empati dan Simpati

Tampak depan gedung SMPN 2 Kepil masih belum layak untuk dikatakan sebagai sekolah yang bagus. Trenyuh, menyentuh dan mengeluh. Sekilas tampak seperti PDAM, kotak penampung air. Sedianya pada lantai 2 sudah berdiri gedung megah dengan papan nama dan logo sekolah. Namun begitulah adanya. Memang, hidup bahagia dengan semua kebutuhan yang tercukupi adalah dambaan setiap anak, setiap orang tua dan siapa saja. Bagi yang sejak kecil terbiasa hidup senang, semua kebutuhan  tersedia dan semua keinginan terpenuhi, mungkin tidak akan bisa merasakan betapa kenyatan di luar sana masih banyak orang yang menderita. Namun ternyata tidak semua orang bernasib baik dan memiliki kesempatan dan kecukupan seperti yang diharapkannya. Inilah sumber ispirasi untuk memulai tulisan Manajemen -9 kali ini, tentang ekonomi, tentang keuangan sekolah.

Kita bisa simak jalan hidup seorang anak kecil kelas 1 SMP yang harus berperan menjadi orangtua. Tasripin adalah salah satu contohnya, dia harus mengurusi ketiga adiknya, memandikannya, menyuapinya, mencuci dan keperluan rumah tangga lainnya. dia harus mengurus dan menyediakan makanan dan segala keperluan adik-adiknya. Sementara dia juga harus sekolah. Bisa dibayangkan betapa beratnya beban yang harus dipikulnya, betapa bertumpuknya masalah yag harus dipikirkan di kepalanya, betapa sesak dadanya merasakan himpitan kebutuhan hidupnya, sementara kedua orang tuanya tidak berada di dekatnya, sedang merantau mengadu nasib karena kondisi dan suratan nasib yang dialaminya. Bayangkan atau rasakan jika itu terjadi pada diri kita, anak kita atau orang terdekat kita. Kebetulan penulis benar-benar pernah merasakan hal yang sama ketika usia yang sama (1986).

Senada dengan Tasripin, di SMPN 2 Kepil demikian juga adanya, ada bagian (personil) yang merasakan susahnya mengatur keuangan, sulitnya mencukupi berbagai kebutuhan. Ibu Sri Supami dan Bpk Ismain, S.Pd adalah salah satu dari mereka yang menjadi pribadi yang harus bisa berpikir dan berperan ganda. Beliau harus berpikir keras, bersabar sambil menahan diri agar bisa mencukupi banyak kebutuhan orang lain. Bisa jadi ketika dia berpikir keras, sibuk menata keuangan, kurang tidur, kurang makan, di sisi lain orang-orang yang dia pikirkan kebutuhannya tidur lelap, makan lahap dan tersenyum lebar ketika menerima santunan SPPD yang jumlahnya bisa melebihi batas maksimal yang harus dibayarkan. Itulah pekerjaan bendahara sekolah atau bendahara BOS di sekolah.

Manajemen keuangan antara sekolah swasta berbeda dengan sekolah negeri. Sekolah swasta yang bisa mengatur dan merencanakan sendiri tata kelola keuangannya, sehingga akselerasi bisa diatur sesuai analisa kebutuhan dan kebijakan. Berbeda dengan sekolah negeri yang harus mengikuti pola aturan yang lebih ketat dan terbatas, karena sudah ada PAGU (panduan penggunaan) untuk alokasi dana dari pemerintah. Ada sekolah swasta bisa memungut iuran dari siswa hingga ratusan ribu tiap bulan, siswa membayarnya dengan penuh kesadaran. Salah satu contohnya SMP Muhamadiyah 4 Yogyakarta, berdasarkan perhitungan besarnya biaya pendidikan di SMP Muhammadiyah 4 sebesar Rp 4,5 juta per anak per tahun. Dana tersebut tidak bisa dipenuhi dengan BOS yang diberikan pemerintah pusat sebesar Rp 575 ribu per tahun.
Maka kemudian harus ditambah dengan iuran dari siswa untuk mencukupi kebutuhan dana sesuai yang diperlukan. Namun demikian antara sekolah dan siswa (orangtua) sudah saling terbuka dan menyadari bahwa untuk suatu lembaga pendidikan yang mengedapankan mutu dan kualitas dalam layanan, ilmu, sarana yang memang sangat diperlukan oleh siswa dalam proses pembelajaran.

Uang  BOS  pada  kenyataannya  belum  cukup  untuk menyelenggarakan  sekolah.  Maka kemudian muncul BOS pendamping yang dianggarkan oleh peerintah daerah. Dengan kata lain, BOS belum   mampu   mencukupi   sepenuhnya   kebutuhan operasional  sekolah.  Di  berbagai  daerah  ada  bermacam reaksi  terhadap  kebijakan  pendidikan  gratis.  Dari  reaksi - reaksi  masyarakat  tampaklah  bahwa  ide  pendidikan  gratis masih   belum   dipahami   dengan   jelas   dan   benar   oleh masyarakat. Pendidikan  gratis  ditangkap  bahwa  siswa  tidak  lagi dibebani  dengan  bermacam-macam  biaya  mulai  dari  uang pangkal,  uang  sekolah,  uang  komite,  dan  buku  penunjang utama.

Peran serta masyarakat, dalam hal ini orang tua siswa sangat dibutuhkan. Pihak sekolah (guru dan pejabat sekolah) harus pandai dan jeli untuk bisa melihat sisi dan bagian mana yang bisa melibatkan siswa (orang tua) dalam pendanaan pendidikan. Tujuannya agar proses pendidikan bisa berjalan sesuai tuntutan standar mutu namun tidak harus menambah/mengambil dari anggaran sekolah yang lain. Contohnya praktikum IPA, Seni Budaya dan Prakarya, siswa membawa spesimen sendiri dari alam sekitar, sehingga tidak perlu anggaran pengadaan bahan yang jika diuangkan jumlahnya bisa ratusan ribu rupiah. Begitu seterusnya dalam mapel-mapel yang lain. Totalitas dari guru sangat diharapkan perannya dalam masalah ini. Jangan sampai terkesan guru tidak mampu. Guru harus mau belajar dan harus menguasai. Kalo siswa yakin gurunya mampu maka siswa akan senang dan siap diatur untuk aktif dalam pembelajaran.

Dari gambaran dan realita di atas, sekolah swasta bisa lebih maju dan lebih cepat dalam proses akselerasi kemajuan dan pemenuhan kualitas layanan pendidikan, karena dana bisa tercukupi dengan mudah dari iuran siswa. Sekolah negeri sekelas SMPN di kota juga bisa lebih maju baik dari segi sarana, layanan dan mutu. Lalu apakah kita sekolah kita ini akan begini terus. Siapa yang harus bertanggung jawab ? Siapa yang siap menjadi pioner dan pejuang untuk membangunkan panglima, punggawa, senopati dan prajurit yang merasa telah merdeka, dan menikmati hidangan kemerdekaan yang penuh dengan kenikmatan.

Kemajuan sekolah tidak bisa dibebankan pada kepala sekolah semata, karena kepala sekolah sangat terbatas periode masanya, sekian tahun sudah rolling dan bergeser ke sekolah lain. Justru pada pundak panglima, punggawa dan senopati yang tak lain para guru dan pejabat sekolah terletak kunci kesuksesan dan kemajuan sekolah itu berada. Memang sangat dibutuhkan pejabat / guru yang kompeten, yang berjiwa pejuang, yang berorientasi mutu, bervisi pada pelayanan. Bukan pejabat / guru yang berjiwa priyayi, yang maunya dilayani, dihormati dan dicukupi. Sangat dibutuhkan pribadi-pribadi yang jiwanya terpanggil untuk kerja bakti, ikut andil untuk mengabdi, siap melayani  yang ikut andil bisa memulai untuk membuat sekolah kita bisa berjalan lebih cepat, berlari dan berakselerasi untuk menjadi lebaih baik dalam segala sisi. Muda tua bukan pembeda, laki-laki wanita bukan kendala untuk sebuah perjuangan meraih cita-cita bersama.

P Yun, P Edi, P Wid dan P Aris sudah di depan, mari P Yus, P Bagus, P Fauzi kita siap kerja bakti. Pak Vendi, Pak Ronto jangan ditanya, sudah lebih dulu berlari. Demikian pula B Ruti, B Prih dan B Isti yang tak lagi mikir SPPD pengganti. Bapak/Ibu yang lain monggo nderek untuk andil dan berbagi, mari kita jadikan diri ini bagian dari proses kemajuan pendidikan di sekolah yang kita cintai ini. Semoga Alloh senantiasa meridhoi amal bakti dan pengabdian kita. (27111-501)

Senin, 08 Desember 2014

Manajemen -8 : Mengelola dan Menggunakan Sarana Untuk Kemajuan Siswa - Manajemen Sarana-Prasarana, Semangat Melayani, Bukan Untuk Menguasai

Tema tulisan ini terinspirasi paparan DAHLAN ISKAN, sang menteri BUMN pada era presiden SBY. Hal ini ditunjukkan oleh sikap, pemikiran dan kinerja beliau ketika beberapa kali melakukan sidak di kantor BUMN yang menjadi bawahan dalam departemennya. Salah satu fokus yang pertama kali menjadi sasaran sidaknya (inspeksi mendadak) adalah TOILET. Kenapa toilet ?

Menurut pak menteri BUMN (saat itu) kinerja manajemen bisa diukur dengan mudah dari hal yang sepele, toilet. Toilet merupakan tempat yang dianggap paling belakang dan tersembunyi. Namun justru dari sanalah akan nampak pengelolaan manajemen instansi / lembaga / kantor tersebut. Karena kalau toilet yang berada di tempat yang berada di belakang dan tersembunyi ternyata kondisinya bersih, rapi, nyaman pastilah pada bagian lainnya akan lebih rapi, lebih bersih dan nyaman.

Toilet kotor, tidak terawat dan bau adalah pemandangan yang lazim ditemui pada banyak kantor / instansi / lembaga termasuk sekolah. Tak jauh beda dengan BUMN, sekolah-sekolah pun demikian adanya. Namun ada kenyataan bagus di suatu sekolah di lereng gunung Dieng yang sangat baik pengelolaan toiletnya. Toliet banyak tersedia di beberapa sudut tempat, dengan air persediaan yang memadai (mungkin karena tersedia air alami), kemudian untuk kebersihannya sudah dibagi dan diserahkan kepada kelas-kelas yang sudah ditentukan jadwalnya. Sehingga tidak ditemukan kondisi toilet yang kotor dan bau, apalagi toilet guru dan pegawai yang jauh lebih bersih, rapi dan terawat.

Manajemen Material-Machine, adalah tema tulisan kali ini. Dalam dunia sekolah sering disebut dengan Sarana dan Prasarana. Sarana prasarana sangat terkait dengan tiga hal pokok, yaitu 1. Pengadaan / pembangunan, 2. Penggantian / Perawatan, 3. Pemusnahan / pembuangan. Sepintas mungkin tidak begitu menarik, namun kalau bisa mengambil intinya akan sangat terasa betapa pentingnya pemanfaatan sarana dan prasarana dalam proses pendidikan. Kami tidak akan membahas tentang definisi dan klasifikasinya yang sudah banyak di jumpai di buku, makalah atau website dengan mudah. Namun kami lebih memilih untuk fokus pada sarana-prasarana, pemanfaatan dan pengelolaannya.

Di SMPN 2 Kepil, untuk urusan sarana-prasarana Bpk Edi Wineto, S.Pd adalah pawangnya. Beliau sangat ahli dan berpengalaman untuk urusan ini. Sulit untuk mencari orang yang sekaliber / sekelas beliau, sehebat dan seikhlas beliau untuk mengurusi bidang yang satu ini. Banyak sekali kemajuan dan peningkatan yang sangat signifikan terkait layanan sarana-prasarana. Pembangunan Mushola sekolah yang saat ini telah 80% selesai, pembenahan jaringan listrik di setiap ruangan, perbaikan toilet siswa, dan yang terakhir adalah penyediaan tempat parkir siswa di belakang sekolah disusul dengan banner kata-kata motivasi di dinding depan/luar tiap ruang kelas sekolah.

Senada dengan fenomena BUMN di atas, permasalahan terkait sarana dan prasarana di sekolah  ibarat pepatah setali tiga uang, serupa tapi tak sama. Hal itu hampir terjadi di setiap sekolah, dimana saja (kecuali yang sudah berfikir lebih maju). Masih juga dijumpai hal-hal yang dianggap sepele tidak tertangani secara baik, namun justru hal sepele tersebut yang menunjukkan betapa sistem penanganan masalah terasa belum optimal. Tanpa bermaksud mendiskreditkan siapapun, baik pejabat maupun perorangan, tulisan ini berlaku untuk semua. Satu hal yang penting untuk dicatat bahwa pada dasarnya semua sarana dan prasarana sekolah diperuntukkan untuk mendukung pembelajaran bagi siswa. Guru, karyawan dan juga siswa. Intinya untuk siapa saja yang terkait dengan pembelajaran bagi siswa. Terkait dengan itu ada beberapa hal yang mungkin perlu lebih diperhatikan dalam penanganan dan pengambilan keputusan terkait sarana-prasarana sekolah.
  1. Perencanaan waktu. Biasanya perencanaan dibagi menjadi tiga : jangka pendek, menengah dan jangka panjang. Semuanya harus direncanakan untuk dilaksanakan sesuai tingkat kebutuhan. Untuk merencanakan ini tidak cukup dibuat seorang diri oleh pemangku sar-pras, harus melibatkan banyak pihak sesuai bidangnya masing-masing. Misal kebutuhan Lab IPA, guru olah raga, guru seni dll untuk turut membuat analisa perencanaan kebutuhan mereka. Bahkan sebaiknya setiap guru, setiap karyawan sebaiknya punya ide / gagasan untuk kebutuhan mereka, namun harus realistis dan tidak mengada-ada, dan tidak harus semua minta ke sekolah (misalnya pulpen, pensil atau penghapus ya tidak harus mengajukan proposal untuk pengadaan).
  2. Skala prioritas. Faktor inilah yang akan membedakan hal mana yang harus disegerakan dan mana yang bisa dipending pelaksanaannya. Skala prioritas bisa dilandasi beberapa faktor antara lain : - sesuai rencana, adanya stimulan pembiayaan dan emergensi/darurat. Untuk yang terakhir (darurat) secara otomatis bisa berubah menjadi urutan teratas untuk segera diselesaikan / ditangani, apalagi yang terkait dengan hajat hidup orang banyak.  Hal ini dimaksudkan agar tidak terkesan lamban dan tidak reaktif terhadap keadaan. Contohnya,jalan utama (lalu lintas keluar masuk sekolah) rusak, toilet rusak (tidak memadai, tidak layak), dan contoh lainnya haruslah segera dicarikan solusi untuk membenahi / merenovasi.
  3. Sediakan hak siswa terkait berbagai sarana yang tidak bergerak (misalnya gedung, kelas, ruang, taman, mushola, toilet dan lain-lain. Jangan dibiarkan terbengkalai tidak terurus dan ditunda-tunda penanganannya. Contohnya, toilet yang tidak layak baik dari segi bangunan maupun kelengkapannya, terlebih irigasi dan sanitasinya agar tidak berimbas pada kenyamanan pada saat pemakaian dan juga dampak lingkungan sekitarnya. Alhamdulilah SMPN 2 Kepil memilihi lahan dan tempat yang sangat luas dan memadai. Namun ada suatu sekolah di Kab Magelang yang tak memiliki halaman yang memadai untuk olahraga dan upacara, maka beberapa kebutuhan utama sekaligus tidak terpenuhi, inilah yang dimaksud tidak bisa memberikan kebutuhan dasar siswa.
  4. Berikan sepenuhnya yang menjadi hak siswa terkait sarana pembelajaran di sekolah. Alat peraga, alat laboratorium IPA, alat musik, alat olahraga hingga laboratorium komputer sesuai prosedur yang berlaku. Jangan sampai anak kesulitan untuk memanfaatkan alat tersebut karena kesalahan pemahaman guru. Alat, mesin, sarana yang rusak karena digunakan akan lebih berharga, lebih bermanfaat dan berguna daripada utuh karena tidak pernah dipakai.
  5. Pemanfaatan ruangan dan media. Banyak media / alat sekolah yang belum dimanfaatkan secara optimal untuk kegiatan pembelajaran. Ruang OSIS, ruang media, ruang musik sampai mushola yang belum digunakan secara optimal. Contoh yang terkait media adalah LCD Proyektor, alat Lab IPA, alat Lab Komputer, alat olah raga yang belum digunakan semestinya, ini sama halnya tidak memberikan hak siswa untuk menggunakan dalam pembelajaran, dan ini sama halnya dengan alat yang tidak tepat sasaran.
Kami memiliki angan dan harapan bahwa beberapa waktu ke depan SMPN 2 Kepil bisa menambah beberapa toilet siswa pada beberapa sudut sekolah, ujung selatan timur dan barat. Untuk mengawali akan dibuat toilet guru dan ruang rehat darurat di ruang guru, agar privacy guru bisa terjaga dan lebih nyaman. Kemudian toilet TU di ruang depan yang sekaligus difungsikan sebagai toilet dan tamu dapat direnovasi dan tampil lebih menarik, rapi, bersih dan nyaman. Sehingga bila ada tamu datang, akan muncul kesan rasa nyaman dan menyenangkan.

Akhirnya, mari kita berbenah tanpa harus membaca siapa yang salah dan siapa yang benar, ini tanggung jawab kita semua. Pak Edi Wineto tak mungkin sanggup sendirian, beliau sangat membutuhkan masukan, bantuan ide dan pemikiran, serta peran serta kita semua dalam mengelola sarana prasarana sekolah ini. Mari benahi kebersamaan, persatuan dan kerjasama. Setiap kita punya andil yang besar untuk bisa membangun, mengelola dan memanfaatkan sarana prasarana sekolah untuk kemajuan dan prestasi siswa, kemajuan dan prestasi sekolah. Semoga tulisan ini bisa menjadi inspirasi dan pemikiran pihak pemangku jabatan dan pengambil keputusan di sekolah kita. Selamat beraktifitas, semoga sukses. Sampai jumpa pada edisi berikutnya, budgeting .... (26630)

Kamis, 27 November 2014

Manajemen -7 : Tumbuhkan Empati, Sekarang Saat Tepat Untuk Memulai Perubahan - Manajemen SDM, Memanfaatkan Peluang

Tulisan ini adalah sesi terakhir tentang Manajemen SDM yang berjumlah 4 judul dari keseluruhan tulisan bertajuk Manajemen Sekolah yang rencananya berjumlah 12 judul. Agar mempunyai pola pikir yang utuh, sebaiknya dibaca secara urut dan lengkap  dari konsep awalnya. Berikut link menuju tulisan terdahulu : Manajemen 1, Manajemen 2, Manajemen 3, Manajemen 4, Manajemen 5, Manajemen 6. Manejemen 8 akan berisi tentang manajemen Material-Machine, Manajemen 9 berisi Budgeting, Manajemen 10 berisi Marketing, Manajemen 11 membicarakan Quality Control. Manajemen 12 berisi penutup-kesimpulan.

Inspirasi tulisan Manajemen -7 ini tentang beratnya perjuangan seorang ibu yang ingin anaknya sukses. Tak satu ibu-pun yang menginginkan anaknya susah, sengsara atau menderita. Ia akan rela melakukan pekerjaan apapun, penderitaan seberat apapun, bahkan kehinaan apapun demi anak-anak yang dicintainya. Ia akan pertaruhkan jiwa raga-nya untuk kehidupan dan kemuliaan anak-anaknya (jadi berair mata ini mengingat penderitaan ibu saya saat itu, terpaksa harus ikut bekerja membantu bapak sebagai seorang buruh bangunan). "Ya Alloh, karuniakan kebahagiaan pada ibu kami di usia senjanya, dan jadikan kami anak yang bisa berbakti kepada kedua orang tua kami."

Satu episode kisah di Kick Andi, perjuangan ibu yang membesarkan 8 anaknya seorang diri, setelah suaminya meninggal (ibu itu berumur 40 tahun). Pengorbanan, kerja keras, tetes keringat, air mata dan doa seorang ibu demi menghidupi anak-anaknya agar menjadi orang sukses dalam hidup dan karirnya merupakan perjuangan ibu untuk keberhasilan anak-anaknya. Adalah Hj Badariah (ibu dari mantan bupati Bangka H Yusroni Yazid). Sebagai single parent, dia berjuang mencari nafkah untuk menghidupi dan membiayai sekolah delapan anaknya.

Berbagai pekerjaan dilakoninya, mulai dari membuat kue untuk dijual anak-anaknya, mengambil upah cucian dan menyetrika pakaian, menjadi pedagang kredit emas dan barang-barang rumah tangga hingga menjadi tukang masak di kapal keruk milik PT Timah Tbk. Setiap hari hanya istirahat selama 3 jam.
Demi sang anak agar bisa tetap sekolah, dia juga selama tiga tahun hingga usianya 51 tahun masih bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Jakarta ikut keluarga dokter agar putranya, Firdaus, bisa kuliah dan punya tempat tinggal selama kuliah di Jakarta. Sangat keras jalan hidupnya, yang akhirnya berbuah kesuksesan pada anak-anaknya.

Dari kisah perjuangan seorang ibu di atas, pesan yang ingin kami sampaikan begini, Coba POSISIKAN diri pada ibu itu, atau salah satu dari anak ibu itu. Betapa susah dan beratnya perjuangan itu, betapa capek dan menderitanya jiwa itu. LALU, SAMPAI HATIKAH kita telantarkan anak-anaknya di sekolah ini. SAMPAI HATIKAH kita bentak-bentak, kita suruh-suruh semau kita dengan arogansi kekuasaan kita sebagai guru, sebagai pejabat, sebagai staff di sekolah ini. SAMPAI HATIKAH kita menambah penderitaannya dengan sikap kita yang tidak bisa berlaku adil, tidak bisa mengayomi jiwanya yang sangat butuh perhatian kita. SAMPAI HATIKAH kita tidak mengasihinya, tidak menyentuh kepalanya, tidak merangkul perasaannya, tidak merengkuh hatinya menggantikan ayah-ibunya yang tak sempat lagi karena kesibukan dan kondisi tubuhnya yang mulai renta. SAMPAI HATIKAH kita tidak menghiraukannya, tidak membimbingnya, tidak memberinya suport dan motivasi untuk tetap kuat berjuang. SAMPAI HATIKAH kita tidak menyisihkan waktu untuk membimbing dan mendoakan untuk kesuksesan dalam hidupnya. SAMPAI HATIKAH kita tak menyisakan sedikit saja rejeki kita sekedar untuk membelikan buku tulis dan pensilnya yang tinggal 5 senti dan teramat ala kadarnya.

Bapak-Ibu, kita sudah jadi orang tua, mungkin sebagian kita merasa SUDAH SUKSES, sukses dari sisi materi, sukses dari sisi karir, jabatan, golongan dan kedudukan. Namun sudahkan kita sukses menjadi orang tua yang sesungguhnya, terlebih menjadi guru yang sesungguhnya. Rasanya belum lengkap apabila kita sudah merasa sukses hanya dari ukuran materi dan posisi, namun belum bisa memberi imbas yang positif kepada yang lain. Masihkah kita memiliki pribadi yang jauh dari sikap penyantun, sikap penyayang, sikap pengayom, sikap pemurah, sikap empati dan simpati, sikap tulus, dan sikap yang berkaitan dengan hati dan karakter sebagai wujud KEDEWASAAN kita. Kalau sekedar untuk tersenyum saja terasa berat, sekedar tutur kata yang menyejukkan saja tak mampu, kalau sekedar  memberi suport dan pujian saja tak mau, apalagi untuk memberi bentuk lainnya dengan ketulusan.
KESUKSESAN SESUNGGUHNYA adalah apabila kita mampu mengajak dan mengantarkan orang lain untuk meraih sukses. Konsep pokoknya adalah MEMBERI, bukan MENGAMBIL. Semakin banyak memberi, semakin banyak berbagi, semakin bermanfaat maka semakin sukses. dalam arti yang sesungguhnya. Manajemen memanfaatkan peluang, inilah yang menjadikan orang sukses. Peluang apa saja, kesempatan yang bagaimana ?

Peluang itu bernama waktu dan kesempatan untuk belajar. Mengapa belajar ? Yah ... memang kesempatan itu bernama belajar. Belajar untuk semakin membuka wawasan dan cakrawala berfikir rasional, belajar untuk mampu bersikap dan bertindak dewasa, belajar untuk bisa berkarya selayaknya profesional sesungguhnya. Belajar apa saja, tentunya yang diperlukan dan mendukung bidang pekerjaannya. Maka sangat tepat  apa yang sudah dilakukan oleh Pak Latif, Bu Ruti dan Bu Prihatin yang telah berani mengambil keputusan untuk berani susah payah, berani menderita, berani mengorbankan waktu, tenaga dan biaya untuk melanjutkan jenjang pendidikan S2 meraih Master. Berani mencabut kalkulator matematika untung-rugi dari sisi materi. Karena S2 (Master) bukan untuk tujuan finansial semata, namun lebih berorientasi pada keilmuan, wawasan / keluasan pola fikir, serta sikap yang lebih dewasa dalam menjalani proses dan perjalanan sebagai seorang profesional.

Peluang itu bernama mengambil / menerima kesempatan meraih jabatan. Adanya tawaran untuk mengisi jabatan tertentu semisal pengawas, kepala sekolah, wakil kepala sekolah, ketua panitia ataupun sekadar ketua RT. Oleh karena itu kepada Ibu Ruti, Ibu Prihatin, Bpk Ismain, Bpk Sukarna, Bpk Edi dan Bpk Agus Yuswantoro kami memberi dukungan penuh bagi beliau semua untuk berani maju mengikuti konvensi pemilihan calon kepala sekolah baru untuk tahun depan. Kesempatan dan momen bagus tidak akan terulang kedua / ketiga kalinya. Bisa jadi akan ada lagi kesempatan namun pasti akan berbeda peluangnya, berbeda kondisinya, berbeda pula nuansanya.

Peluang itu bernama kesempatan, kesehatan, kekuatan untuk berkarya dan bekerja. Selagi masih diberi kesempatan, kesehatan dan kekuatan harus dimanfaatkan untuk bekerja dan berkarya yang terbaik, semaksimal mungkin. Jika kesempatan sudah tidak punya, kesehatan sudah terganggu, kekuatan sudah berkurang makan peluang untuk berkarya terbaik menjadi sangat jauh berkurang.

Harapan dan amanah Hj Badriyah dan ibu-ibu dari siswa kita jangan sampai kita abaikan lagi. Mereka ingin peluang sukses bagi anak-anak mereka dapat diwujudkan di sekolah ini. Oleh karena itu, kesempatan untuk berbuat terbaik adalah saat ini, bukan besok, minggu depan, bulan depan apalagi tahun depan. Mari kita mulai untuk belajar, mulai berani mengambil tawaran amanah untuk posisi lebih tinggi, mulai untuk berkarya yang terbaik. Intinya peluang yang masih ada saat ini harus diambil sebagai rangkaian proses untuk menuju lebih baik, lebih berharga, lebih berkinerja, lebih berdedikasi dan mempunyai pribadi yang mulia. Selamat belajar, selamat berkarya untuk kehidupan yang lebih baik, semoga (26094).

Senin, 17 November 2014

Manajemen -6 : Menjadi Guru Hebat, Jika Ada Kemauan Pasti Ada Jalan - Manajemen SDM, Optimalisasi Potensi Diri

Mengawali tulisan kali ini dengan memberikan ucapan selamat kepada Ibu Ruti Sumarni, S.Pd - (kandidat M.Pd) atas dipilihnya oleh sekolah sebagai GURU HEBAT yang akan diberi tugas untuk mewakili SMPN 2 Kepil sebagai kandidat pemenang dalam ajang pemilihan guru hebat tahun 2014 ini. Beberapa dekade sebelumnya, mantan guru SMPN 2 Kepil - Bpk Drs. H. Wachid Asrori dan Ibu Hj. Fajar Fatimah Winarti, S.Pd. M.Or adalah pribadi yang telah lebih dahulu menjadi orang hebat, dengan sukses berhasil mendapatkan amanah jabatan sebagai kepala sekolah. Hebat dan sukses adalah serangkaian huruf / kata yang penuh makna yang harus diperjuangkan untuk mendapatkannya.

Inspirasi tulisan Manejemen -6 ini adalah fenomena yang terjadi pada sikap suami-istri dalam suatu keluarga. "Beda antara suami dengan istri adalah SUAMI suka kalo dia dihargai, ISTRI suka kalo diperhatikan". Suami akan rela disuruh apa saja kalo dengan bahasa yang santun dan penuh penghargaan. Sebaliknya istri juga akan siap melakukan apa saja kalo dia merasa diperhatikan dengan segenap kasih sayang. Seorang istri paling suka bila diperhatikan, disanjung dan di-istimewakan. Lalu apa hubungannya dengan tema kali ini ? Penjelasan mudahnya adalah bahwa kehebatan seseorang tidak terjadi dengan sendirinya, tidak terjadi begitu saja tanpa campur tangan dan dukungan dari faktor lainnya. Ada saja peran dan dukungan dari pihak lain, baik disadari maupun tidak disadari. Contohnya, Presiden Soeharto yang hebat kala itu karena dukungan istrinya (Bu Tien) yang luar biasa, demikian pula yang terjadi pada RA Kartini bisa menjadi tokoh wanita besar karena cita-citanya didukung oleh suaminya Raden Adipati Joyodiningrat yang menjabat Adipati Rembang kala itu.

Sebelum kami lanjutkan, terlebih dahulu dengan segala kerendahan hati dan tanpa mengurangi rasa hormat kami, kami mohon maaf kepada semua guru / karyawan dan pembaca semuanya apabila pada lima tulisan sebelumnya ada yang kurang/tidak berkenan, atau barangkali bahkan menusuk dan melukai hati, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya. Terutama pada manajemen -4 dan manajemen -5 yang serasa menusuk, mencabik-cabik, mengoyak tubuh dan menyebabkan luka yang sangat terasa. Hal itu ditulis bukan tanpa alasan, namun sarat akan makna, bertujuan untuk membuka sekaligus membedah masalah agar tidak menjadi penyakit / luka yang mendarah daging dan tidak tersembuhkan. Nah, pada tulisan ini kami akan berusaha mendudukkan masalah pada tempatnya sehingga mata, telinga, kaki, tangan, kepala dan hati bisa dengan benar merasakan keberadaannya. Ibarat diagnosa dan pengobatan, pada Manajemen 1-3 adalah anestesi, 4-5 adalah operasi kecil, pada 6-7 adalah pembalutan dan perawatan luka.

Kembali ke pokok bahasan guru hebat. Pada dasarnya setiap orang bisa menjadi hebat, apabila dia paham letak kekuatan dan kelemahan dirinya, mampu memahami peluang dan ancaman, yang dalam bahasa manajemen disebut analisis SWOT. Ibu Ruti Sumarni, S.Pd bisa memiliki kualifikasi dan kinerja yang bagus sehingga dipilih untuk menjadi kandidat guru hebat tidak lepas dari kepahaman beliau akan potensi dan kriteria ini. Secara mudahnya SWOT dapat dirinci sesuai kata pembentuknya S, W, O dan T. Lebih jelasnya dapat diuraikan sebagai berikut :
  1. S, Strength = Kekuatan. Sudah menjadi sunatulloh bahwa siapapun kita pasti dikarunia kekuatan/kelebihan. Oleh karena itu setiap kita harus paham dan mampu untuk mengukur diri di mana kekuatan, kelebihan dan semua hal-hal positif yang ada pada diri kita. Dengan memahami kelebihan dan kekuatan, diharapkan kita akan bisa memaksimalkan potensi, kerja dan kinerja diri kita sesuai dengan kekuatan yang menonjol tersebut. Sebaliknya kalau tidak bisa memahaminya akan biasa-biasa saja dan cenderung stagnan atau bahkan semakin lama semakin menurun.
  2. W, Weakness = Kelemahan. Bagai pedang bermata dua, di samping punya kekuatan maka setiap kita juga mempunyai kelemahan/kekurangan. Secara fitrah, hal ini justru sebagai penyeimbang agar kita tidak menjadi orang yang jumawa, sombong dan merasa serba bisa dan sempurna. Ada yang memiliki kelemahan dalam hal kecerdasan, bidang ketrampilan, komunikasi, sosial dan moral. Kita harus bisa mawas diri, instropeksi diri dimana kelemahan terbesar kita dan kelemahan dominan lainnya, karena bisa jadi kita mengumpulkan beberapa kelemahan sekaligus. Dengan memahami kelemahan kita, selanjutnya diharapkan dapat berupaya dengan berbagai latihan untuk mampu meminimalisir, mengurangi atau bahkan menghilangkan kelemahan tersebut.
  3. O, Opportunities = Peluang. Peluang ini sangat terkait dengan waktu dan kesempatan. Berapa banyak orang sukses karena paham dan bisa memanfaatkan peluang / kesempatan. Sebaliknya berapa banyak orang gagal dalam hidupnya karena salah dalam memanfaatkan peluang yang ada. Setiap kita harus benar-benar mampu membaca peluang dalam arti yang positif. Kapan, di mana, siapa dan bagaimana memanfaatkan peluang untuk kesuksesan kita dalam membangun diri dan membangun sistem, akan kami tuliskan pada Manajemen -7 mendatang.
  4. T, Threats = Ancaman. Ancaman dalam arti positif bisa diartikan tantangan, hambatan. Dalam setiap aktifitas tidak lepas dari tantangan, hambatan dan ancaman. Perlu dipahami ancaman yang mungkin terjadi dari setiap tindakan, keputusan dan sikap yang kita lakukan, agar kita bisa mengantisipasi berbagai kemungkinan yang akan terjadi. Dalam kontek manajemen yang lebih luas maka ancaman bersifat lebih kompleks dan beragam dan akan berdampak lebih krusial dan komunal, berkaitan dengan untung rugi dan keberlangsungan sistem manajemen.
Ibu Ruti Sumarni, S.Pd bisa hebat, karena mampu menganalisis diri dan mampu mengoptimalkan potensi, sehingga setiap waktu, setiap kata, setiap perbuatan beliau menjadi lebih bermakna. Tidak menutup kemungkinan bagi yang lain, siapa saja. Dan setiap kita bisa untuk menjadi lebih hebat dari yang telah terjadi selama ini. Pak Agus Yus bisa hebat dengan IPS dan kesiswaannya, Pak Aris dengan seni dan pramukanya, Pak Ismain dengan aritmatika dan BOS-nya, Bu Yuli dan Pak Bagus dengan ekonomi dan analisis kalkulusnya, Pak Widodo dengan MC permadani dan paskibranya, Bu Laras dengan sastra dan pustakanya, demikian juga untuk bapak/ibu yang lain.

Akhirnya, semua tetap kembali pada kita masing-masing. Mau berubah menjadi lebih baik atau sudah merasa cukup dengan karya dan kinerja saat ini. Satu pesan dari sebuah kata motivasi, Jangan bangga dan berhenti dengan apa yang sudah terjadi, kesuksesan yang sudah berlalu, karena hal itu tidak akan merubah apapun. Namun lakukan selalu perubahan untuk sebuah harapan yang lebih baik. Selamat berkarya, semoga sukses. (25715)

Senin, 10 November 2014

Manajemen -5 : Dilandasi Ketulusan, Belajar Berkarya Menjadi Profesional - Manajemen SDM, Membangun Keikhlasan

Kita pada umumnya dapat menikmati buah kelapa bukan dari hasil tanaman kita sendiri, namun dari tanaman orang tua kita, atau bahkan tanaman peninggalan kakek / buyut kita. Mereka (orang tua, kakek atau buyut kita) tidak pernah berfikir menanam untuk mereka sendiri, namun mereka menanam untuk anak-cucu mereka kelak. Pikiran mereka sederhana saja, bagaimana mereka bisa membuat tinggalan yang baik untuk anak-cucu mereka. Tidak ada yang menyuruh, tidak perlu surat perintah, dan tidak dijanjikan upah atau gaji yang diterima atau bakal diterima. Ikhlas, semata-mata tuntutan jiwa untuk berbagi kebaikan,  Begitulah kira-kira tema tulisan kali yang diinspirasi dari tanaman pohon kelapa.

Senada dengan tema di atas,`sosok yang kami angkat kali ini adalah Albertina HO, hakim yang terkenal karena menangani kasus besar mafia pajak Gayus Tambunan, jaksa Cirus Sinaga dan spiritualis Anand Krishna. Beliau nampak sangat profesional dan tegas dalam menangani kasus hukum, baik itu kasus besar maupun kasus kecil. Namun dibalik sikapnya yang profesional, penampilan beliau tetap sederhana. Naik angkot, bus Trans Jakarta dan bus umum lainnya. Dan hal yang paling penting dan menjadi fokus tulisan ini adalah kinerjanya yang benar-benar menunjukkan ketulusannya dalam menjalani profesinya yang penuh tantangan dan tekanan dari berbagai pihak, namun tetap dapat bersikap adil dan lurus dalam menjalankan tugas menangani berbagai perkara yang dibebankan kepadanya. Tidak mengambil kesempatan dalam kesempitan. Menurut  beliau kuncinya IKHLAS dalam menjalani tugas yang dipercayakan padanya. Berkarya dan terus berkarya, lakukan saja yang untuk kebaikan, pungkasnya.

Menjadi guru tentu berbeda dari hakim, namun pada sisi lain, kita sebagai guru / pendidik juga memiliki lingkup tanggung jawab yang sama, hanya berbeda pada obyek dan lokasinya. Guru memiliki peran yang sangat strategis dan MULIA baik di sekolah maupun di masyarakat. Oleh karena itu amanah itu harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya agar tugas MULIA itu benar-benar MULIA dalam pelaksanaannya dan hasilnya sesuai dengan harapan yang dicita-citakan. Untuk menjadi peran MULIA itu, maka seperti halnya hakim, guru harus mampu memposisikan diri dan menjalankan tugasnya sesuai dengan tugas dan tanggung jawab yang telah diterimanya sebagai guru. KETULUSAN / KEIKHLASAN adalah kuncinya. Ketulusan dan keikhlasan di kala melaksanakan tugas, memberi ilmu kepada siswa, membimbing siswa dalam berinteraksi dan bermasyarakat. Juga ketulusan dan keikhlasan dalam berbagi pengetahuan dan manfaat kepada sesama guru. Tak lepas ketulusan dan keikhlasan dalam melaksanakan tugas tambahan sebagai pejabat sekolah, kepanitiaan dan tugas tambahan lainnya.

Kemuliaan tidak terkait dengan penampilan yang serba istimewa, tidak selalu bersumber pada posisi puncak. Justru dalam kesederhaan yang dibalut dengan jiwa yang istimewa akan memposisikan orang menjadi mulia. Prinsip yang perlu dipegang erat, ketulusan / keikhlasan akan selalu berbuah manis. Hasilnya kapan, hanya soal waktu, cepat atau lambat. Namun kata ikhlas mudah diucapkan siapa saja, lalu parameter apa yang bisa untuk mengukur indikasi kita ikhlas atau tidak.
Berikut beberapa hal terkait IKHLAS :
  1. Ikhlas adalah perbuatan hati, hanya kita dan Alloh saja yang tahu kita ikhlas atau tidak. Ikhlas tidak perlu diucapkan, karena bukan perbuatan lisan, sehingga kalau pun kita sering bilang ikhlas bisa jadi sebenarnya kita terpaksa.
  2. Ikhlas tidak mengenal waktu, tidak ada kata kadaluarsa, berlaku sepanjang masa. Iklhas adalah buah dari perjalanan jiwa yang panjang. "Dulu saya ikhlas, namun kalo begini jadinya saya menyesal". Yang seperti ini pertanda tidak ikhlas.
  3. Ikhlas tidak senang / bangga ketika dipuji, tidak sedih / sakit hati ketika dicaci atau tidak dihargai. Ikhlas ada pada orang yang lapang dada, selalu aktif berkarya, apapun hasilnya. Ikhlas hanya dimiliki oleh orang yang tidak mudah lupa diri dan tidak sempit hati. Intinya, tanda-tanda ikhlas adalah TIDAK MUDAH PUTUS ASA, TIDAK "MUTUNGAN".
  4. Ikhlas tidak menuntut hak dan tidak berorientasi pada uang. Ikhlas akan membawa orang untuk bekerja semaksimal yang ia bisa, upah hanyalah hasil sampingan yang merupakan buahnya. Bila masih merasa kurang dengan hak (upah) yang kita terima dan MERASA harusnya lebih banyak, sesuai JABATAN / POSISI kita, maka yang demikian kerja kita belum ikhlas sepenuhnya.
Tolok ukur ikhlas lainnya bisa dirasakan dalam pergaulan dalam lingkungan bersangkutan. Ikhlas akan selalu berorientasi pada kebaikan bersama. Ikhlas bukan berorientasi kebaikan / keuntungan diri pribadi. Senang jika dirinya bisa bermanfaat bagi sesama dan sebaliknya sedih jika dirinya menjadi beban dan penyebab celaka sesama. Ia akan berusaha membangun dan berbuat untuk kebaikan dan kemajuan bersama, bukan kehancuran seseorang, apalagi kehancuran bersama.

Orang yang terbiasa hidup susah akan lebih mudah untuk ikhlas, karena ia terbiasa hidup dalam keadaan yang tidak diharapkan. Sebaliknya orang terbiasa hidup mudah, serba kecukupan akan lebih sulit memiliki jiwa ikhlas, lapang dada dan berjiwa besar. Memang tidak mudah untuk bisa langsung memiliki jiwa ikhlas, karena ikhlas bukanlah seperti makanan yang bisa dibuat jika ada resepnya. Ikhlas adalah hasil dari olah jiwa, olah rasa dan olah hati. Ikhlas bisa dibentuk oleh pengalaman dan pembiasaan. Belajar dan terus belajar, berlatih dan terus berlatih, berkarya dan terus berkarya. Kita harus benar-benar belajar untuk menjadi pribadi dengan jiwa ikhlas dan tulus dalam menjalankan tugas kita, Jangan sampai kita merendahkan harga diri / kemuliaan kita dengan sesuatu yang amat sedikit (beberapa lembar uang). Jangan jadi pribadi PNS NYLEKUTIS, toh ... sebenarnya sebagai PNS kita sudah digaji lebih dari cukup, apalagi bagi PNS yang mendapat tunjangan sertifikasi.

Sistem / manajemen hanya akan bagus dan maju bila di dalamnya pribadi yang profesional dan berjiwa ikhlas. Pribadi yang tulus ikhlas adalah modal termahal untuk membangun sekolah ini, besarnya untuk negeri ini. Sebaik apapun kurikulum, sebaik apapun sistem manajemen, namun kalau pribadi-pribadi di dalamnya masih orientasi kepentingan dan keuntungan pribadi maka akan sulit mewujudkan cita-cita kebaikan bersama. Selamat belajar - selamat berkarya, semoga sukses. (25505)

Senin, 03 November 2014

Manajemen -4 : Memaksimalkan Tugas Pokok dan Fungsi Guru (Tupoksi) - Managemen SDM, Membangunkan Kesadaran Pribadi

"Pelayan toko ki nek sik tuku rupane elek tur tuwo, kok le melayani sadis yo?....ora adil ah....." demikian tulisan status di media sosial FB milik Pak Kardan beberapa minggu yang lalu. Membaca tulisan Pak Kardan tersebut, tentang penjual / pelayan toko yang memiliki karakter yang unik dan ekstrim, memberi saya inspirasi untuk memulai tulisan ke-4 ini. Apa komentar kita kalo mendengar ada penjual yang penampilannya judes, wajahnya kusut, ditambah sifat tidak amanah, suka mencuri timbangan (curang), tidak ramah, njelehi dan cenderung semaunya sendiri.

Untuk pembahasan kali ini, saya ambil sebagai contoh seorang dengan inisisal Penjual X yang jelas-jelas mengurangi timbangan untuk mencari keuntungan. Ketika pembeli tahu bahwa dia telah dicurangi kira-kira apa yang dirasakan pembeli tersebut : kecewa, sedih, sakit hati, jengkel dan berbagai perasaan tak nyaman lainnya. Satu yang jelas tertanam pada pemikiran dan hati pembeli adalah bahwa Penjual X adalah tidak amanah, suka menipu dan hal buruk yang lain. Stempel dan cap buruk itu akan sangat sulit untuk hilang / dihilangkan, bahkan mungkin selamanya.

Sebelum saya lanjutkan tulisan ini, dengan segala kerendahan hati kami mohon maaf, tulisan ini bukan bermaksud MENGGURUI siapapun, apalagi para senior dan para pemegang kepemimpinan pada bidang masing-masing mulai dari kepala sekolah, wakil kepala dan seluruh jajarannya. Tidak ada maksud mengecilkan siapapun, apalagi meniadakan fungsi-fungsi yang telah ada. Saya hanyalah saya, yang tidak ada apa-apanya, tidak lebih baik dari siapapun.  Apalagi jik dibandingkan para senior yang sudah berpengalaman dan tahu abang-ijone kehidupan. Tulisan ini semata-mata sekedar berbagi pemikiran dan wawasan untuk saling mengisi dan memberi motivasi untuk bekerja lebih baik lagi ke depannya. Kalo ternyata ulasan saya ada yang menyinggung perasaan, saya benar-benar mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Kembali ke tema di atas, ada saja penjual yang tidak amanah, apalagi jika ditambah sikap pilih kasih, tidak adil dan semena-mena. Hak konsumen sebagai pembeli harusnya diberikan sepenuhnya, bukan sebaliknya. Nah, sekarang kita tilik kepada pribadi kita masing-masing. Kalo penjual tersebut dilebarkan ke pekerjaan lain, maka hampir setiap pekerjaan dan profesi memiliki perlakuan yang sama, hanya berbeda pada obyek, berbeda tempat dan berbeda orientasi. Demikian juga guru, sama saja dengan penjual tersebut, yang memiliki tuntutan dari konsumen. Hal ini saya tuliskan karena merasa BETAPA PENTINGNYA, kita harus memberikan layanan terbaik bagi siswa tanpa mengurangi hak mereka, apalagi harus mencurangi mereka karena kita tidak sadar akan kecurangan kita sebagai guru.
Beberapa contoh perlakuan guru yang tidak optimal dalam pelayanan kepada siswa (konsumen) yang bisa dikategorikan sama dengan kecurangan Penjual X yang tidak amanah di atas, sebagai berikut :
  1. Mengurangi timbangan satu maksud yang sama dengan mengurangi jumlah jam yang seharusnya diberikan kepada siswa. Artinya guru yang tidak masuk kelas pada jam ditentukan akan senilai dengan mengurangi timbangan, apalagi dengan sengaja meninggalkan jam tugas mengajar tanpa pemberian alasan yang jelas dan tugas pengganti yang jelas. Demikian juga bila guru melaksanakan tugas tambahan dengan meninggalkan tugas utama mengajar siswa. Inilah awal dari tidak amanahnya seorang guru.
  2. Mengurangi timbangan juga semaksud dengan tidak memberikan pelayanan pendidikan dengan sikap terbaik sesuai dengan tuntutan yang telah ditentukan dan disepakati sebagai guru. Kita harusnya memberikan hak siswa berupa penyampaian ilmu kita dengan perhatian dan kasih sayang kita, bukan hanya asal-asalan dan sekenanya, apalagi semaunya saja. Kalau kita belum kompeten dengan bidang ajar, maka wajib untuk menjadi lebih kompeten - bagaimanapun caranya, agar bisa memberikan pelayanan pendidikan yang terbaik. Kalaupun kita sedang GALAU karena urusan pribadi, urusan keluarga dan urusan lainnya, maka kita harus tetap bisa memberikan pelayanan yang OPTIMAL dan tetap RAMAH di depan siswa.
  3. Mengurangi timbangan akan juga semaksud dengan sikap kita yang jauh dari sosok keteladanan. Siswa sangat ingin/berharap bahwa kita sebagai guru memiliki jiwa yang paripurna : pengayom, pendamping, ramah dan santun. Mereka berharap kita bisa berperan sebagai pengganti orangtua di sekolah, sehingga kita harusnya bisa bersikap AKRAB dalam mendidik, SOPAN dalam bertutur kata dan SANTUN dalam bersikap. Bukan sebaliknya bersikap AROGAN dan SOK KUASA sebagai guru hingga semena-mena memberi perintah kepada siswa. Termasuk sikap dan karakter yang tidak terpuji lainnya yang secara sadar/tidak telah menciderai fungsi dan peran kita sebagai guru.
Akhirnya semua dikembalikan kepada diri kita masing-masing. Pilihan ada pada kita sendiri :
  • Mau jadi guru yang dekat dan akrab dengan siswa namun disegani, yang kehadiran kita dinanti-nantikan, yang bila mengajar memberi rasa nyaman dan benar-benar memberikan tambahan ilmu, wawasan dan pengalaman.
  • Atau jadi guru yang ditakuti, tidak menarik karena sikap, perilaku, penampilan dan tutur kata kita yang keras, kaku dan tidak semanak/ramah kepada siswa, yang kalo mengajar itu-itu saja tanpa inovasi sehingga suasana pembelajaran tidak nyaman dan menjemukan.

Untuk berubah tentu tak akan semudah membalik telapak tangan. Namun yang perlu disadari lebih dahulu adalah "BAHWA KITA TIDAK SUKA DENGAN KECURANGAN". Berangkat dari itu, selanjutnya kita perlu MUHASABAH, kita koreksi diri apakah kita sudah menjadi penjual yang jujur, atau masih ada beberapa kecurangan itu, atau bahkan semua kategori diatas masih kita lakukan sebagai penjual.

Tentu saja tidak harus "Saklek/kaku", kita tetap harus fleksible dan melihat situasi dan kondisi. Jika kondisi dan situasi yang emergensi tentu semua aturan dapat diulur/dikendorkan sesuai kebutuhan. Kita memang hanya manusia biasa yang jauh dari sempurna, karena kesempurnaan hanya milik Alloh -Tuhan semesta alam. Namun sebaiknya kita tidak berdalih tentang kesempurnaan dan kelemahan untuk menutup diri dari usaha untuk berbenah diri. Kita pasti bisa, jika kita sungguh-sungguh berusaha untuk berubah.

Mari kita bangun dan berbenah sikap, karakter, pemikiran dan kinerja kita untuk menjadi guru profesional yang sesungguhnya. Dengan guru yang demikian, maka akan lebih mudah untuk mewujudkan SMPN 2 Kepil sekolah yang akademis, dinamis, kondusif dan kreatif, insya-alloh. Selamat beraktifitas, maju terus, semoga sukses. (25099).

Sabtu, 01 November 2014

Manajemen -3 : Guru Faktor Utama di Sekolah, Optimalisasi Sumber Daya Manusia - Manajemen SDM (Pengantar)

Ini tulisan ke tiga setelah Manajemen -1 (pengantar) dan Manajemen -2 (indikator). Tulisan kali ini akan berfokus pada sisi pengelolaan manusia. Pembahasan tentang manajemen manusia (baca SDM, sumber daya manusia) merupakan pembahasan paling panjang yang membutuhkan waktu paling banyak. Akan ada sekitar tiga tulisan yang membahas tentang manajemen SDM pada web sederhana ini. Untuk kali ini akan kita uraikan Manajemen SDM - Pengantar Manajemen SDM.

Membaca fenoma menarik akhir-akhir ini tentang menteri nyentrik dan heboh pada kabinet kerja Jokowi, Susi Pudjiastuti yang diberi kepercayaan menjabat Menteri Kelautan dan Perikanan, dapat diambil pelajaran yang sangat berharga - bagi yang bisa memaknai sebagai hal berharga. Perlu dicatat bahwa tidak ada manusia yang sempurna, namun yang ada manusia yang luar biasa. Terlepas dari kekurangan pada sosok beliau, banyak hal positif pada sosok beliau yang patut dijadikan dasar kenapa presiden terpilih Jokowi menunjuknya untuk memimpin salah satu kementerian di kabinet kerja. Berikut beberapa hal yang bisa diambil hikmah dan pelajaran sebagai berikut :
  1. Pengabdian pada sesama, berpikir bagaimana bisa memberi lebih - bukan mengambil lebih.  Beliau berpikir bagaimana bisa berbagi manfaat dengan orang lain. Saat peristiwa tsunami di Aceh tahun 2004, pesawat Cessna milik Susi termasuk pesawat pertama yang mampu mendarat untuk mengirimkan bantuan pada para korban. Begitupun saat Pangandaran diguncang gempa, pesawat Susi digunakan untuk mengangkut para korban yang membutuhkan bantuan medis.
  2. Jabatan adalah anugerah / amanah. Diberikan karena dianggap profesional, bukan hasil meminta-minta. Beliau tidak pernah mendaftar / mengajukan diri  untuk menjadi menteri, juga tidak berusaha mendekat / memihak ke salah satu calon presiden agar bisa diangkat menjadi menteri.
  3. Kerja keras. Walau beliau hanya tamat SMP, namun kerja kerasnya telah membuahkan hasil yang luar biasa. Dan kerja keras itu pula yang beliau tanamkan dan tuntut kepada staf dan karyawan di kementeriannya untuk bisa lebih maju dan mencapai sasaran yang ditetapkan. Tak satupun kesuksesan diraih tanpa kerja keras, dan hanya dengan kerja keras kesuksesan dapat eksis dan bertahan lama.
Kembali ke manajemen SDM di sekolah, guru adalah faktor utama dan juga faktor penentu MAJU atau MUNDUR-nya sekolah tersebut. Dari 6 unsur manajemen (Man, Money, Material, Machine, Methods, Market) manusia berada pada urutan teratas. Dalam manajemen, faktor manusia adalah yang paling menentukan. Manusia yang membuat tujuan dan manusia pula yang melakukan proses untuk mencapai tujuan. Tanpa ada manusia tidak ada proses kerja, sebab pada dasarnya manusia adalah makhluk kerja.

Pertanyaan mendasar, bagaimana mengoptimalkan guru akan bisa sinergi dan selalu siap untuk menjadi pelaku / unsur manajemen untuk mencapai tujuan dan cita-cita yang telah ditetapkan dan disepakati bersama. Penting dijadikan pedoman "TIDAK ADA MANUSIA YANG SEMPURNA, juga TIDAK ADA MANUSIA YANG TIDAK BERGUNA. Artinya setiap kita pasti ada kekurangannya - siapapun dia, dan setiap kita pasti bisa memberi kontribusi/manfaat - betapapun kecilnya. Nah yang perlu adalah bagaimana bisa mengatur dan mengelola setiap kita untuk bisa berbuat se-OPTIMAL mungkin untuk bisa menghasilkan kerja dan hasil kerja yang LUAR BIASA.

Secara umum dan terjadi di setiap lembaga / instansi, akan berisi macam-macam karakter dan pribadi yang berbeda-beda. Ada beberapa orang (SDM) yang sangat aktif, aktif, cukup aktif, pasif dan bahkan ada yang sangat pasif dan cenderung menjadi hambatan untuk proses kelancaran manajemen menuju cita-cita dan harapan bersama. Inilah garapan yang dibutuhkan keseriusan dalam pengelolaan manajemen sekolah. Berlanjut ke seri << Manajemen -4 >>  Selamat beraktifitas, semoga sukses. (24887)

Sabtu, 25 Oktober 2014

Manajemen -2 : Bagaimana Menjadi Sekolah Maju, Pavorit dan Berkualitas - Manajemen Mimpi, Cita-cita dan Harapan

Suara merdeka. Tim bola volly SMPN 2 Kepil berhasil menjadi juara 1 tingkat kabupaten Wonosobo. Guru pembimbing Bpk Muh. Fauzie, S.Ag beserta seluruh tim dengan bangga membawa pulang piala bergilir dan uang pembinaan sebesar 15 juta rupiah. Seminggu sebelumnya, siswa yang bernama Agus Yusril Mahendra berhasil menjadi juara 1 dalam lomba sains bidang IPS dan Bagus Pandu Dewanata berhasil meraih peringkat 13 dari 1200 peserta dalam lomba IMO (International Mathematics Olimpic) tingkat Jawa Tengah. Benar-benar prestasi yang membanggakan dan membawa nama harum sekolah. Sekolah yang berlokasi di dusun Ndoglek - Randusari - Kepil - Wonosobo ini telah mendedikasikan diri menjadi sekolah unggulan dengan berbagai prestasi akademik maupun non akademik.

Nampak bus rombongan studi banding dari pulau kalimantan terparkir di seberang jalan raya. Terbayang - betapa bangga dan bahagia dirasakan oleh segenap elemen pendidikan, mulai dari siswa, guru, karyawan, masyarakat hingga pejabat terkait dengan situasi sekolah yang daftar prestasinya tak muat dipasang dalam lemari. Begitu berjalan 10 meter dari pintu gerbang nampak papan besar bertuliskan "Selamat Datang di Sekolah Asri Kami". Selanjutnya di kanan-kiri tampak taman dengan bunga warna-warni yang terawat dan tertata rapi. Nampak - pajangan gambar, slogan, visi-misi dan berbagai kata-kata yang menyiratkan semangat dan motivasi menyiratkan nuansa lingkungan berpendidikan - tertata rapi dan dinamis di dinding Hall pintu masuk. Di halaman terpajang kokoh papan basket, lapangan dan net volly dengan garis pembatas yang jelas terlihat. Maju beberapa langkah ke kelas 9A dengan tembok dengan cat warna sejuk, tergantung LCD Proyektor di atas ruangan, hiasan dinding dan berbagai administrasi kelas dan kata-kata mutiara penuh makna terpasang di dinding kelas. Bu Ratna Yuli S, dengan menenteng Laptop LENOVO dengan senyum ramahnya menyapa rombongan pengunjung studi banding yang berjumlah 20 orang pada hari itu.

Einstein, Thomas A Edison, Graham Bell dan ahli terapan lain berhasil menemukan teori dan teknologi melalui proses yang panjang, yang semuanya diawali oleh IMPIAN, CITA-CITA dan HARAPAN. Mencoba - gagal - mencoba lagi - gagal lagi - mencoba lagi, adalah menu harian yang menjadi tantangan dan hambatan dalam setiap tahapan. Ketekunan dan kesabaran menjadi hal pokok bagi mereka hingga sukses menemukan sesuatu yang sangat berharga bagi kemajuan peradaban.


Menjadi sekolah yang berkualitas tidak identik dengan sekolah yang banyak piala-nya saja. Juga tidak cukup ditandai dengan jumlah siswa-nya yang banyak  Namun, memang sekolah maju dan berkualitas sebenarnya bisa dilihat dari beberapa hal yang secara kasat mata terlihat dalam pandangan di lingkungan tersebut, secara administratif tercatat banyak prestasi yang diraih dalam skala kecil maupun besar dan secara kuantitas nampak banyak siswa dengan aktifitas yang menunjukkan proses pendidikan.
Secara mudahnya, untuk menjadi sekolah yang maju akan muncul indikasi / tanda-tanda yang bisa disaksikan dan dirasakan secara langsung sebagai berikut :
  1. Lingkungan yang nyaman, asri dan tertata rapi. Hanya sekolah yang mapan dari sistem manajemen yang mampu berfikir dan berorientasi pada pengelolaan lingkungan dan sadar betapa lingkungan sangat berdampak langsung pada jalannya proses pendidikan.
  2. Status akreditasi, sekolah yang  memenuhi kualifikasi dengan sendirinya akan mendapatkan pengakuan dan penilaian sebagai sekolah berkualitas, bermutu dan unggul. Hal ini secara jelas akan nampak pada status  yang mengikutinya, apakah terdaftar, diakui atau disamakan (edisi lama). Status edisi terbaru dengan akreditasi A, B atau C. Dilain standar ada klasifikasi SBI, RSBI dan SSN, sekolah plus dan lain-lain. Predikat / status akreditasi ini berkait erat dengan sistem administrasi, artinya kelengkapan dan keteraturan dokumen penunjang sebagai lembaga pendidikan.
  3. Guru yang profesional dengan pengetahuan yang up to date dan memadai. Profesional dalam arti berbasis kerja/kinerja yang dapat dilihat dalam proses melaksanakan tugas sebagai seorang guru. Upto date dalam arti pembaharuan pengetahuan, wawasan dan cara kerja mengikuti perkembangan zaman dan regulasi yang selalu berubah. Setidaknya faktor pengalaman (jam terbang) yang dimliki guru profesional memberi nilai tersendiri dalam pelaksanaan proses pembelajaran hingga evaluasi dan hasil pembelajaran siswa. Guru profesional apakah hanya guru yang sudah bersertifikasi ? Bisa ya, bisa tidak - (akan kami bahas dalam bab tersendiri) pada bab lain.
  4. Kuantitas siswa. Jumlah siswa yang banyak (sesuai kuota/daya tampung) adalah salah satu indikasi bahwa sekolah tersebut maju dan diminati para siswa dan orang tua. Dengan jumlah siswa yang besar siswa akan merasa senang dan bangga dengan banyaknya teman. Akan berbeda dengan sekolah yang jumlah siswanya sangat kecil dan terasa sepi dan kosong.
  5. Kedisiplinan siswa. Akan sangat nampak siswa yang terbimbing dan tidak. Disiplin akan muncul dalam sekolah yang terpola dalam pembinaan kedisiplinan, juga akan berdampak dalam setiap kegiatan baik akademik maupun kokurikuler. Tingkah laku, tutur kata, unggah-ungguh sangat terasa pada sekolah dengan kedisiplinan yang terjaga, tidak urakan, tidak sembarangan dalam bersikap dan bertutur kata.
  6. Kegiatan ekstra-kurikuler. Sekolah yang maju dan memiliki visi yang maju akan sangat memperhatikan pada pemenuhan dan penanganan kegiatan ekstra-kurikuler bagi siswa. Bukan sekedar banyaknya jenis kegiatan ekstra-kurikuler, namun lebih mengacu pada CONTENT (isi) kegiatan tersebut. dan bukan ASAL ADA / ASAL JALAN. Kegiatan yang asal ada / asal jalan biasanya tidak terencana dngan jelas, sehingga kegiatan itu-itu saja - tanpa tambahan / kemajuan yang berarti.
  7. Prestasi ekstrim. Prestasi dari suatu mata pelajaran, lomba atau kegiatan yang luar biasa akan berdampak sangat positif dalam pembangunan brand dan motivasi tersendiri pada lingkungan sekolah untuk bekerja, belajar dan berusaha lebih maju lagi. Di suatu sekolah di Semarang, calon siswa sampai dibidik (diincar) untuk masuk ke sekolah tersebut karena sudah melihat bakat dan prestasinya, kemudian siswa tersebut diolah/di-DIKLAT-kan sehingga menjadi benar-benar BERKELAS dan berhasil EMAS yang berprestasi di tingkat Nasional.
  8. Sarana-Prasarana. Inilah yang terakhir yang secara alami akan mengikuti, sebagai sekolah yang maju maka berbagai usaha akan memunculkan berbagai jalan untuk pembenahan sarana prasarana. Dan jalan untuk membenahi dan melengkapi sarana prasarana terasa begitu mudah datang dari bantuan yang ada di pemerintah.
Mau maju atau tidak, berkualitas atau tidak - semua bergantung pada pelaku utama sekolah tersebut. Guru dan jajaran manajemen dituntut untuk memiliki mimpi, visi dan motivasi untuk berorientasi pada suatu cita-cita, suatu harapan bahkan mimpi untuk sebuah kesuksesan bersama. Mari kita bermimpi, bercita-cita untuk sebuah kondisi yang lebih baik. Pastinya, tidak untuk jangka pendek (setidaknya butuh 2-3 tahun untuk mewujudkannya) karena untuk sebuah kesuksesan butuh usaha yang luar biasa, butuh kesabaran yang eksta dan butuh semangat baja yang tidak mudah putus asa. Semoga.