text

Selamat Datang di Blog SMP N 2 Kepil Wonosobo ... Sekolah SEJUTA IMPIAN, ... Awali Suksesmu Dari Sini ... Mulailah segala sesuatu dengan BISMILLAH ...

Sabtu, 28 Februari 2015

Ladran Waru Doyong - Latihan Posting

Pak Mar....ini coba2 dulu ya......



Lanc. WARU DOYONG

BK. :  5 5 5 5 i  i  6  .  2  .  1  .  6  .  5 Gong

 6   i   6   i     5   3   2   3
6   i   6   5     2   3   2   1
5   5   I   6     2   1   6   5

Waru –waru doyong, doyong pinggir kali
Ayo gotong-royong, gotong-royong mbangun Negari
Timun sigarane. Ayo mbangun negarane…

Sabtu, 21 Februari 2015

Manajemen -11 : Merasa Belum Memadai, Kurang Optimal, Tidak Memenuhi Syarat - Manajemen Quality Control, Kunci Perubahan Menuju Perbaikan Kualitas Diri

Kualitas adalah hal yang mahal dan berat bagi sebagian orang, juga lembaga atau perusahaan. Namun bila kita mau mencermati dan mau belajar lebih lanjut maka kita akan tahu bahwa perusahaan, instansi, lembaga-lembaga atau bahkan warung makan sekalipun hanya bisa mencapai sukses dan menjadi bonafit adalah karena masalah kualitas yang mereka junjung tinggi, mereka usahakan dengan maksimal dan mereka jaga dengan segenap kekuatan yang ada. Dalam skala internasional Jepang adalah salah satu negara yang sangat ketat dengan kualitas, yang sangat dekat dengan istilah presisi, akurat dan tepat. Dan kini Jepang telah membuktikan diri menjadi negara produsen teknologi paling maju di dunia.

Di sela-sela padatnya kegiatan persiapan ujian praktik, Pra-US/UTS dan US/UKK kami mencoba melanjutkan tulisan seri manajemen sekolah ini. Tulisan seri manajemen ke-11 kali ini akan berbicara kontrol kualitas pada suatu sekolah. Sumber inspirasi tulisan kali ini adalah seorang ibu guru muda yang cukup senior - dimana beliau kami anggap sebagai sosok yang memiliki jiwa istimewa, terlepas dari kekurangan beliau sebagai manusia biasa. Sosok beliau yang ramah dan santun kepada semua orang, disiplin dan penuh tanggung jawab, tidak egois dan suka membantu, tertib administrasi dan punya kemauan untuk belajar, dan satu yang menjadi ciri utami (utama red) adalah keibuan. Satu hal lagi adalah beliau tidak mudah terbawa arus, tidak mudah terkontaminasi dan larut dalam situasi yang kurang kondusif.

Tulisan ini mungkin saja tidak akan mengubah apapun, mulai dari pandangan, sikap, perilaku dan kebiasaan selama ini. Namun kami berharap tulisan ini setidaknya mampu memberi wawasan dan turut andil bagi suatu perubahan paradigma yang bermanfaat suatu saat kelak. Karena memang apa yang kita perbuat saat ini tidak akan berdampak langsung dan dapat dilihat hasilnya dalam hitungan hari, bulan atau tahun. Menurut beberapa teori - suatu konsep, pemikiran dan kebijakan baru dapat diterima dan dapat dilihat hasilnya setelah 2-3 tahun berikutnya. Hal ini sangat berkaitan dengan tingkat sensitifitas terhadap kualitas (sense of quality), kemampuan berfikir logis, apresiasi dan kecenderungan, motivasi dan orientasi masing-masing pribadi dalam memahami suatu masalah yang terjadi. Mereka yang tidak punya kepedulian tidak akan mampu melakukan ini.

Kembali ke bahasan quality control, dalam dunia industri / perusahaaan, divisi quality control diisi oleh orang-orang istimewa. Istimewa karena mereka direkrut dari orang-orang pilihan yang memiliki kemampuan di atas rata-rata. Orang-orang ini dipilih khusus karena posisi mereka yang harus bisa mempelajari, memahami dan membuat sistem  pengontrolan kualitas bagi seluruh divisi / departemen. Bagian, divisi atau departmen Quality Control bisa jadi adalah bagian yang tidak disukai oleh banyak orang pada divisi lain, karena pekerjaan mereka yang berkutat pada standar pengukuran yang ketat dengan standar kualitas yang tinggi dan dianggap memberatkan. Divisi ini cenderung kritis, kaku dan ketat dengan berbagai parameter kualitas. Namun, sesungguhnya setiap orang pada seluruh bagian perusahaan sangat membutuhkan divisi ini. Di tubuh mereka keberlangsungan perusahaan disandarkan, di tangan mereka nama besar perusahaan dipertaruhkan, di pundak mereka kejayaan dan kepercayaan perusahaan dibebankan. Posisi mereka sangat krusial dan sangat menentukan kualitas seluruh divisi / bagian, mulai dari masuknya bahan baku, proses produksi, perakitan dan penjualan.

Fokus tulisan ini pada upaya memperbaiki kualitas, bagaimana caranya ? Sesuai judul di atas, maka langkah paling mudah di awali dengan bentuk instropeksi dan mawas diri pada setiap lini, setiap divisi, setiap individu. Instropeksi di sini bukan untuk mengukur kemampuan dan kapasitas diri secara pribadi. Mawas diri ini bukan untuk menilai, menakar, mengukur apalagi menghakimi orang lain. Seperti yang pernah ditulis dan disampaikan Bapak Drs. Kardan bahwa kapasitas personal semua guru dan elemen sekolah di SMPN 2 Kepil secara administrasi sudah memenuhi syarat dan memiliki kemampuan yang dipersyaratkan. Namun yang dimaksud dengan kualitas di sini adalah kualitas layanan sesuai dengan tupoksi dan tutam setiap individu dalam komunitas sebuah sekolah.

Pertanyaannya, lalu siapa yang bertanggung jawab dan berada dalam posisi divisi control quality di sekolah ? Dalam istilah bahasa secara tersurat tidak ada satupun pejabat sekolah yang bertugas menduduki divisi quality control ini. Namun secara tersirat komando utama manajemen quality control ini berada pada jabatan wakil kepala sekolah, yang secara hirarkhis mempunyai garis komando kepada seluruh elemen civitas akademika di sekolah. Maka benar kalau wakil kepala sekolah adalah posisi istimewa dan sentral, maka yang duduk di sana bisa dipastikan memiliki kapasitas dan kapabilitas yang istimewa. Namun dibalik istilah tersurat dan tersirat, sesungguhnya manajemen quality control di sekolah tersebar pada banyak divisi dan wakil kepala sekolah adalah sebagai manajer / direkturnya.

Secara lebih jelasnya begini, division of quality control itu bisa berada/tersebar dari level paling rendah, menengah hingga yang tertinggi. Level terendah berada pada guru dalam menyampaikan pelajaran di kelas, guru ketika bergaul dengan siswa di luar kelas dan ketika guru melakuan pelayanan lanjut / konsultasi terkait mata pelajaran. Level berikutnya ada jabatan tambahan yang menjadi tanggung jawabnya, misalnya wali kelas, kepala laboratorium, kepala perpustakaan, kepala mushola dan jabatan sejenis lainnya. Level selanjutnya adalah koordinator bidang (standar) atau yang sering disebut wakil kepala sekolah bidang tertentu : misalnya bidang kurikulum, sarana-prasarana, dan humas. Sedangkan level tertinggi berada pada kepala sekolah.

Sebagai contoh ulasan yang pertama adalah guru dalam kelas. Inilah kontrol pertama dan paling mendasar. Rencana kemampuan apa dan bagaimana kualitas anak dalam mata pelajaran yang kita ajarkan berada sepenuhnya pada kontrol kita sebagai guru. Kemampuan kita mengendalikan kelas, mengkondisikan suasana yang nyaman dan pembelajaran yang mendidik sangat tergantung pada totalitas kita di kelas yang bersangkutan. Kebiasaan kita sangat berpengaruh dan berimplikasi pada hasil dan sikap kita pada mereka. Siswa yang cuek dan bandel, atau siswa aktif dan bersemangat adalah tantangan yang harus dijawab dan diupayakan untuk dipecahkan dan dicari solusi terbaiknya. Jangan suka menjatuhkan kesalahan pada orang lain dan mengampuni serta membenarkan diri sendiri. Kebiasaan kita yang acuh, suka mengancam / mengintimidasi bukan jalan yang baik untuk menghadapi masalah ini. Keterbukaan kita, sikap kita, keramahan kita dan kedekatan kita pada mereka - itu lebih dibutuhkan untuk mewujudkan situasi yang nyaman dalam pembelajaran. Tidak perlu membuat target muluk-muluk yang pada pelaksanaanya tidak pernah dikontrol dan diarahkan dengan benar. Buat rencana yang wajar dan sesuaikan dengan situasi dan kondisi serta sumber daya yang ada, namun dikontrol dan dilaksanakan dengan baik.

Contoh ulasan lainnya adalah wali kelas - untuk menjaga kualitas kelas yang bersangkutan. Maka tiap-tiap wali kelas punya kewenangan dan tanggung jawab mengukur, mengatur, mengkondisikan dan memvalidasi kelasnya telah memenuhi kualitas yang diharapkan. Keluhan siswa, jam kosong, sarana-prasarana kelas, keakraban dan kekompakan, kebersamaan dan kenyamanan, serta suasana akademik dalam kelas adalah masalah kecil yang sering terjadi. Bila wali kelas masih tidak tahu masalah yang terjadi dan dialami siswa asuhannya, masih bersikap acuh tak acuh dan sejenisnya maka inilah yang perlu diperbaiki, perlu, ditindak-lanjuti dan ditata kembali agar proses validasi kualitas bisa kembali diwujudkan.

Demikian seterusnya pada divisi lainnya, semuanya berpulang pada kesadaran diri mau bersikap yang bagaimana. Kalau masih kekeh / ngotot bahwa  kita merasa "sudah baik, sudah terbaik, sudah benar-benar maksimal" - maka lanjutkan. Namun sekiranya berkenan untuk menurunkan tensi dan gengsi lalu bisa merasa kalau ada yang kurang, berkurang atau hilang - saatnya kita untuk tersadar dan bersiap untuk membenahi kualitas pelayanan kita. Kualitas pelayanan kita akan merubah kualitas siswa kita dan selanjutnya akan merubah kualitas siswa kita menjadi lebih baik, insya-Alloh.

Untuk menjadi sesuatu yang besar, hebat dan luar biasa tentu tidak serta merta, tidak sesaat, tidak ujug-ujug dan tanpa usaha yang nyata, tanpa pengorbanan. Semua harus dimulai dari kesadaran masing-masing diri pribadi "SUDAHKAH SAYA MEMADAI, SUDAHKAH SAYA MAKSIMAL dan SUDAHKAH LAYAK PEKERJAAN SAYA selama ini. Ini perlu untuk mengukur diri : antara karya/kerja kita dengan pendapatan yang kita peroleh. Jangan mencari kambing hitam atau mengalihkan fokus dengan contoh lain yang lebih buruk. Ibarat kata berkaca pada cermin yang buram mustahil bisa mendapatkan hasil yang baik. Maka akan lebih bijaksana bila kita mau melihat benar-benar dari skala nol, lalu kita ukur seberapa diri kita. Setelah sekian lama waktu berjalan, semenjak pertama kali kita memutuskan untuk menjadi guru / pegawai. Adakah yang berubah dalam diri kita. Bisa kita ingat-ingat dari hari pertama, bulan ke dua, tahun ke tiga dan seterusnya, semangat mana yang berkurangsikap mana yang berubah dan rasa mana yang hilang

Terima kasih pada Ibu Rini Utami, S.Pd atas inspirasi dan motivasinya.Tulisan seri manajemen sekolah yang terakhir (seri-12) akan berupa kesimpulan dan semoga bisa kami tayangkan pada minggu ke dua Maret mendatang. Selamat beraktifitas, semoga sukses  (28610-800)

Minggu, 15 Februari 2015

Download Soal Uji Coba Ujian Praktik TIK - Persiapan Ujuan Praktik Komputer

Untuk sebulan ini bandwidth internet sekolah dinaikkan 5 kali lipat dari biasanya, sehingga akses internet teras sangat cepat dan nyaman. Serasa wush-wush, lap-lap begitu seperti kata iklan di TV.

Yah minggu-minggu ini akan diadakan persiapan untuk ujian on-line TIK bagi kelas IX, yang menurut jadwal akan dilaksanakan pada akhir bulan ini sampai awal bulan depan.  Sebagai gambaran bentuk ujian praktik komputer tahun ini adalah sebagai berikut :
  1. Buka web sekolah - download soal 
  2. Buka hasil download - kerjakan, isi data lengkap - simpan dengan nama kamu - kelas kamu (Nana_9D)
  3. Buka email kamu (login), kirim email ke alamat yang ditentukan - lampiri dengan file yang baru saja diisi data kamu sebelumnya.
  4. Bila telah ada pemberitahuan status terkirim, ujian telah selesai.
Bagi siswa kelas IX berikut soal latihan uji-coba ujian praktik, silahkan di download - diisi - disimpan - kemudian dikirim ke email yang telah ditentukan oleh penguji. Untuk berlatih silahkan download soal latihan dengan klik link di bawah ini.


Download dengan server mediafier.com akan terasa mudah dan cepat. Setelah klik link di atas akan muncul layar download di server mediafire.com, selanjutnya silahkan link download yang berlatar belakang warna hijau. Lewat server ini tidak harus masuk ke akun email, facebook atau yang lainnya.


Setelah klik link di atas akan muncul layar download di server 4shaed.com, selanjutnya silahkan link download yang berbunyi unduh dan pilih unduh gratis, ada watu tunggu 20 detik, selanjutnya secara otomatis akan muncul pilihan simpan atau buka langsung pada aplikasi Mw Word. Untuk bisa download lewat server 4shared.com harus memiliki - masuk ke akun email, facebaook, google+ atau instagram.


 

Setelah file hasil download terbuka, silahkan isi data kamu pada format yang tersedia. Setelah selesai mengisikan data kemudian simpan dengan format nama file NAMA_KELAS.  Langkah terakhir coba buka email kamu dan kirimkan file yang kamu simpan tadi ke alamat email tik.smpn2kepil@gmail.com.
Selamat berlatih, semoga sukses. (28388)

Selasa, 10 Februari 2015

Mari Berbagi Ilmu, Mari Berbagi Manfaat, Semampu yang Kita Bisa

Tulisan kali ini terinspirasi dari status teman di media sosial FB yang sangat menggugah dan memotivasi untuk bisa berbuat yang lebih baik. Teman kuliah kami yang sekarang sudah menjadi pejabat di Kemenag Kab. Magelang memang dikenal aktif, kreatif, inovatif dan suka berbagi manfaat. Status inspiratif itu berbunyi demikian "Seberapa besar dirimu bermanfaat bagi orang2 disekitarmu, ukurlah dari seberapa sering orang2 senang meminta bantuanmu." Sekilas terasa biasa saja namun sangat menghunjam dalam hati. Benar, kalau kita mau instropeksi diri, kita bisa merasa, menilai dan membaca  diri kita sendiri, seberapakah kita telah memberi manfaat bagi orang lain. Ataukah kita malah sebaliknya tidak (belum) bisa memberi manfaat yang berarti dan banyak membebani orang lain.

Tulisan ini dimaksudkan sebagai pembuka, tentang ajakan untuk menulis dan berbagi kepada mereka-mereka yang membutuhkan. Orang yang suka berbagi, yang mudah memberi, yang ringan untuk membantu akan mempunyai kedudukan yang mulia dan istimewa, siapapun dia (tidak terbatas oleh kaya-miskin, tua-muda, besar-kecil, pandai-biasa saja). Sebaliknya orang yang mahal berbagi, sulit memberi dan berat untuk membantu akan sulit bergaul / bersosial dalam komunitas / masyarakat. Kita -apapun adanya-, pasti memiliki banyak hal / kelebihan, yang dibutuhkan orang lain. Hanya saja, mungkin belum kita terbuka untuk bisa berbagi kepada sesama, atau kita belum sadar manfaat yang bisa kita bagikan, bila kita bisa memberikannya dengan ikhas berbagi.

Beberapa hari yang lalu saya membaca-baca kembali tulisan lama di website sekolah, juga melihat web/blog kami di kamar sebelah  (blog prakarya SMPN 2 Kepil) . Ternyata di luar dugaan, banyak sekali pengunjungnya. Alhamdulillah, senang rasanya bisa berbagi, walau sebenarnya apa yang kami tulis dan kami pasang di sana masih sangat jauh dari kategori baik, apalagi sempurna. Satu hal yang membuat rasa syukur adalah banyaknya komentar positif dan ucapan terima kasih atas sharing / link materi download yang kami sediakan dalam bentuk software siap pakai.

Ada beberapa kategori materi yang kami sediakan di sever internet yang bisa didownload sebagai referensi dalam pembelajaran. Materi-materi tersebut kami pasang di beberapa server, antara lain 4shared.com, mediafier.com, rapidshare, scribd.com dan ziddu.com. Ternyata setelah kami cek di server tersebut jumlah pengunjung yang kemudian mendownload materi yang kami pasang jumlahnya sangat banyak. Materi yang kami sediakan kami bagi dalam beberapa kategori sebagai berikut :
  1. Silabus Prakarya. Pada server 4shared.com, jumlah pengunjung mencapai 4.000 lebih. Beberapa materi kami pasang seadanya dan belum kami sempurnakan, karena keterbatasan waktu.
  2. RPP Prakarya.  Pada server 4shared.com, jumlah pengunjung mencapai 15.000 lebih. Di sini dmikian juga, beberapa RPP kami pasang seadanya dan belum kami sempurnakan, karena keterbatasan waktu dan kemampuan kami.
  3. Media Ajar. Media ini berupa slide power point dan video pembelajaran. Pada server 4shared.com kami baru menyediakan sekitar 8 file, namun jumlah pengujung yang mendownload sudah mencapai 3.000 lebih.
  4. Disamping tiga materi di atas kami juga menyediakan materi lain berupa buku kurikulum 2013, kebijakan pemerintah, permendikbud, pendamping K-13 dan lain-lain.
Menurut Mas Fauzi, untuk menjadikan diri ringan untuk membantu, suka memberi dan mudah berbagi cara / tipnya adalah luruskan niat, kuatkan tekad dan benahi itikad. Jangan menjadi orang suka berhutang budi, jadilah sebaliknya berbuat kebaikan tanpa berharap balas. Demikian, mari kita mencoba untuk berbagi yang kita punya, yang kita bisa. Semoga bermanfaat, selamat beraktifitas (28340).

Sabtu, 31 Januari 2015

Mari Belajar Menulis : Tip dan Trik Menulis ala Pelatihan Jurnalistik

Facebook, twitter, path, google+ dan berbagai media sosial akhir-akhir ini cukup marak berkembang dan dibanjiri pengguna media komunikasi dunia maya (internet). Di sana dapat djumpai berbagai tulisan yang bervariasi, baik dari isi maupun bentuk / tata tulisnya. Namun secara umum bentuk dan isi tulisan di sana bersifat informasi kegiatan dan perasaaan diri pribadi, dari yang penting, biasa saja sampai yang hanya celotehan tak berguna. Terkadang sekedar berbagi perasaan, mulai dari rasa galau, sedih, bahagia hingga hal-hal yang tak layak dan tak senonoh. Atau juga sekedar pencitraan diri, menyanjung atau sebaliknya mencemooh, mengumpat dan mem-bully (menyerang) orang lain.

Menulis tidak mudah seperti yang dibayangkan. Hal paling sulit adalah memulai menulis karena harus mencari dan menemukan ide, kesulitan selanjutnya adalah melanjutkan menulis dan kesulitan terberat adalah konsistensi dan kontinuitas untuk menulis.  Ini adalah masalah umum dan berlaku bagi siapa saja, bahkan mereka yang memiliki basic guru mata pelajaran "Bahasa Indonesia" atau sastra sekalipun. Menulis adalah kebiasan dan ketrampilan yang selalu diasah. Tidak ada orang yang dengan sendirinya mendadak pintar atau  mendadak hebat menjadi penulis besar, pengarang novel, penulis cerita / skenario. Banyak jalan berliku dan proses yang panjang untuk bisa meraih prestasi itu. Pengalaman-lah yang akan menjadikan seseorang lancar dan cakap untuk menulis. Tak harus guru bahasa Indonesia, siapapun kita pada dasarnya punya kesempatan yang sama untuk bisa. Yang membedakan dengan para guru mapel bahasa Indonesia adalah karena mereka menguasai teorinya dan sehari-harinya berkutat dengan dunia sastra, sehingga layak kalau mereka dijuluki begawan sastra dan master dalam urusan tulis menulis. Untuk SMPN 2 Kepil berikut inilah pakarnya ; Bu Ruti Sumarni, Bu Sayekti Laras dan Bu Tika Fibri. Selayaknya kepada merekalah orang awam bertanya dan berguru tentang teori dan praktik menulis yang baik.

Pelatihan Jurnalistik, mari kita pelajari bersama.
Pada suatu pelatihan jurnalistik disampaikan bahwa pada dasarnya untuk menulis adalah mudah. Tak perlu banyak teori, tuliskan saja apa yang ada di pikiran kita, apapun itu. Namun untuk menulis sebuah bacaan untuk konsumsi umum ada beberapa hal yang harus (sebaiknya) muncul, yang menurut teori jurnalistik - bahwa sebuah tulisan yang baik harus mengandung unsur 5W+1H sebagai berikut :
  1. Who (siapa). Merupakan pertanyaan yang akan mengandung fakta yang berkaitan dengan setiap orang yang terkait langsung atau tidak langsung dengan kejadian. Disni akan terliha, nama-nama yang terlasuk dalam lingkup berita yang seadang dibicarakan.
  2. What (apa). Merupakan pertanyaan yang akan menjawab apa yang terjadi dan akan mendorong wartawan untuk mengumpulkan fakta yang berkaitan dengan hal-hal yang dilakukan oleh pelaku maupun korban dalam suatu kejadian.
  3. Why (mengapa). Akan menjawab latar belakang atau penyebab kejadian. Meski jarang, why bisa dipakai untuk membuka sebuah berita atau menjadi lead berita.
  4. Where (dimana). Menyangkut tempat kejadian. Tempat kejadian bisa tertulis detail atau hanya garis besarnya saja. Biasanya, bila berita berasal dari tempat terkenal, maka penulisannya tidak terlalu mendetail.
  5. When (bilamana). Menyangkut waktu kejadian (kapan). Untuk hal tertentu waktu yang tertera tidak sebatas tanggal, tapi dapat ditulis hari, jam, bahkan menit saat berlangsung sebuah kejadian.
  6. How (bagaimana). Akan memberikan fakta mengenai proses kejadian yang diberikan. Bisa menceritakan alur kejadian bahkan suasana saat suatu kejadian yang diberitakan tengah berlangsung.
Lalu apa tip dan trik agar mudah memulai dan bisa berlanjut ? Tip / trik ada (3) tiga, yaitu : 1) menulis, 2) menulis dan 3) menulis.  Artinya untuk hanya dengan menulis dan menulis secara kontinyu untuk bisa menghasilkan tulisan yang teratur, mengalir dan nyaman untuk dibaca. Menulis, publikasikan, baca kembali untuk koreksi, menulis lagi - begitu seterusnya. Karena dengan membaca kembali hasil tulisan kita, kita akan tahu kekurangan / kesalahan tulisan kita ; tata tulis, ejaan, narasi, notasi, sudut pandang dan sebagainya.

Disamping beberapa hal mendasar di atas, ada satu lagi yang harus dijaga adalah isi dari tulisan itu sebisa mungkin dijaga agar tidak menyinggung dan menyentuh diri pribadi seseorang yang bersifat menydutkan, menjelek-jelekan atau membuka aib seseorang / beberapa orang. Inilah yang sering dikategorikan sebagai KODE ETIK, yang sebenarnya muncul dari dalam rasa penulis itu sendiri. Karena masalah kode etik ini pula kami menerima kritikan, yang kami terima sebagai masukan dan ini sangat positif dan bermanfaat sebagai sarana pendewasaan dan tulisan kami selanjutnya. Jangan takut dengan kritik, jangan marah ketika menerima masukan, dan jangan berhenti karena dibenci. Itulah sebagian dari ciri ikhlas - kata para ahli hikmah.
  
Menulis, dengan karya berbentuk tulisan kita bisa berbagi pengetahuan, berbagi perasaan, berbagi ide dan rencana. Mari kita belajar untuk menulis, apasaja dan kapan saja. Mari kita budayakan diri kita dalam hal yang ilmiah dan manfaat, manfaat untuk diri pribadi, untuk orang lain dan untuk lingkungan kita, sekolah kita. Dan satu hal yang terpenting mari budayakan menulis untuk berbagi, untuk memberi, menulis sesuatu yang bersifat membangun, memberi motivasi dan mengajak untuk memperbaiki diri untuk kemajuan dan kemaslahatan bersama.

Untuk bisa menulis di web/blog sekolah maka setiap guru harus terdaftar sebagai penulis (kontributor) di blog sekolah. Nah untuk bisa terdaftar sebagai penulis terlebih dahulu harus membuat/memiliki blog pribadi dengan jenis host.domain yang sama. Oleh karena itu dalam waktu dekat akan kami buka pelatihan untuk mengisi web/blog sekolah. Selamat beraktifitas, semoga bermanfaat <28240-60>

Selasa, 20 Januari 2015

Manajemen -10 : Upgrade Semangat Memperbaiki Kualitas Layanan Pendidikan - Manajemen Pemasaran, Strategi Membangun dan Membenahi Image Sekolah

Sebagai prolog kita lihat contoh dua sekolah swasta di Jogja, yang pertama SDIT Bakti Insani di Sleman dan yang kedua SMP MBS (Muhammadiyah Boarding School) di Prambanan. Keduanya berlokasi agak masuk dari jalan utama. Namun untuk masalah persaingan pasar pada saat pendaftaran / penerimaan siswa baru selalu selangkah lebih maju. SDIT Bakti insani sudah menutup pendaftaran pada bulan Nopember satu tahun sebelum tahun ajaran dimulai, karena kuota pendaftar sudah terpenuhi. Demikian pula dengan SMP MBS Prambanan pendaftaran sudah dimulai pada bulan September dan ujian masuk dilakukan mulai bulan Nopember satu tahun sebelum tahun ajaran bersangkutan pada saat siswa masih duduk di kelas 6 SD. Gambaran ini menunjukkan bahwa minat calon siswa sangat tinggi untuk bisa masuk sekolah ini.

Posisi sekolah yang berada di jalur utama transportasi adalah modal yang sangat besar yang menempatkan suatu sekolah pada pilihan utama. Namun posisi geografis bukan satu-satunya faktor yang menentukan keberhasilan dalam persaingan pasar (marketing). Demikian pula kemegahan gedung yang tinggi menjulang yang tampak gagah dan mempesona. Image dan kepercayaan adalah hal paling utama yang menempatkan nama sebuah sekolah tertanam kuat di hati masyarakat sebagai nasabah / konsumen pengguna jasa pendidikan. Ada beberapa faktor yang berpengaruh dan sangat signifikan yang berperan membuat image dan kepercayaan yang kemudian akan menentukan peta pemasaran sekolah di masyarakat. Tulisan seri Manajemen Sekolah ke-10 kali ini akan mencoba mengulas beberapa hal yang terkait dengan pembenahan Manajemen Marketing di sekolah ini.

Sekolah yang bergerak di bidang jasa pendidikan, baik negeri maupun swasta secara halus maupun kasar selalu berusaha merebut calon pendaftar untuk memenuhi kuota minimal pada saat penerimaan siswa baru (PSB). Berbagai cara dilakukan untuk merebut simpati dan kepercayaan masyarakat. Ada yang menerapkan cara instan dan cenderung licik, ada yang mengiming-imingi dengan berbagai fasilitas gratis, ada yang jalan biasa saja dan ada yang tanpa trik apapun sudah penuh dibanjiri pendaftar. Nah, dari beberapa model di atas dimanakah posisi kita ?

Mengelola sekolah atau lembaga pendidikan sama halnya dengan mengelola perusahaan. Marketing menjadi bagian utama dalam proses pengambilan keputusan. Banyak divisi dan bagian dalam manajemen marketing yang harus dikondisikan agar bisa memberikan hasil yang maksimal sesuai harapan. Ada riset dan analisa, ada perencaan, ada target, ada progres, ada control, ada umpan balik dan review. Artinya kalau memang sebuah sekolah / lembaga pendidikan ingin memiliki area pasar yang luas dan image positif kuat maka harus direncanakan dengan matang, dikelola dengan baik dan berkelanjutan. Bukan hanya program temporer, yang dirancang saat itu dan hanya untuk saat itu (dengan penuh was-was, bingung dan penuh dengan spekulasi). Mari kita pelajari bersama.

Untuk belajar manajemen marketing dan strategi mari kita sedikit membuka wawasan kita. Kita pasti tahu nama besar Toyota dalam percaturan pasar otomotif di tanah air. Toyota dengan manajemennya berhasil menjadi raja dan menguasai pangsa pasar mobil di Indonesia. Avanza adalah mobil paling laris sejak beberapa tahun terakhir. Tahun 2012 Avanza berada peringkat 1 dengan jumlah penjualan 192.146 unit, Kijang Innova pada peringkat 3 = 71.685 unit dan Toyota Rush pada peringkat 6 = 34.033 unit. Berikut kami paparkan beberapa strategi : gabungan dari beberapa kajian kebijakan perusahaan / lembaga pendidikan yang patut kita contoh untuk mengembangkan manajemen di sekolah kita agar bisa menanamkan pengaruh positif di masyarakat luas dan mengembangkan area pasar calon siswa.
  1. First Mover or Diferensiasi Product. First Mover diterapkan oleh menancapkan brand / merek pertama, ini perlu direncanakan dan dibuat agar masyarakat mengenal kita sebagai sekolah yang memiliki merek yang khas. Kalau kita bukan yang pertama, maka kita harus bisa membuat sekolah memiliki merek yang berbeda. Produk yang berbeda yang khas dan istimewa akan menempatkan sekolah mempunyai nama khusus dan istimewa di masyarakat, misalnya sekolah adiwiyata istimewa di bidang lingkungan, sekolah budaya maju di bidang seni budaya, sekolah bahasa istimewa dalam bidang bahasa asing dan sebagainya. Nah kita ambil yang mana ? 
  2. Quality and Reliabilty. Quality = handal, unggul ... yah sekolah harus mampu menunjukkan dirinya handal, mampu atau mumpuni. Reliabilty = Keyakinan, terpercaya, keyakinan bahwa sekolah memiliki guru-guru yang kompeten dan berkualitas. Sekolah harus menunjukkan kualitas dan keunggulannya serta menjaga kepercayaan publik secara terus menerus, semakin lama semakin bagus. Dua hal ini bisa dibangun dengan mengoptimalkan kinerja setiap personil (guru - karyawan), memberdayakan semua peralatan dan sarana dan memaksimalkan layanan, serta mampu berinovasi untuk menciptakan hal-hal baru yang bisa menaikkan kulitas dan kepercayaan.
  3. Empathy and Responsibilty. Empathy = peduli, bisa merasakan apa yang dirasakan dan dibutuhkan konsumen (siswa / orang tua) yang pada dasarnya mereka ingin diperhatikan, ingin dipenuhi keinginannya. Responsif merupakan kemampuan untuk membantu pelanggan dan memberikan jasa dengan cepat. Kecepatan waktu juga harus diikuti oleh ketepatan waktu sehingga kualitas pelayanan tidak dikorbankan. Pada dua hal ini seorang guru / karyawan harus berlatih dan terus berlatih untuk memiliki sifat ini. Mampu merasa, mampu melayani dalam waktu yang cepat dan tidak membiarkan masalah tidak terselesaikan berlarut-larut.
  4. Focus on Customers' Need. Fokus pada kebutuhan konsumen, ini sangat perlu agar kita tidak jalan sendiri-sendiri, merasa sudah benar padahal tidak sesuai dan harapan. Zaman sudah berubah dan akan terus berubah. Maka kita juga harus berani berubah, harus merubah pola pikir lama dengan menerima dan belajar pola pikir terbaru. Disinilah bedanya orang tua dengan anak muda. Orang tua suka bangga dan cerita kebaikannya di masa lalu, sementara anak muda suka berfikir kebaikannya di masa mendatang. Kita harus berani dan mau turun ke bawah (siswa / masyarakat), tanya apa sebenarnya yang mereka butuhkan, apa yang mereka harapkan dari kita, dari sekolah kita.
Keempat strategi di atas harus mampu ditunjukkan dalam sesuatu yang berwujud / berbentuk. Artinya aspek manajemen marketing di atas harus diwujudkan dalam bentuk fisik yang nyata. Untuk menunjukkan Image (gambaran) sekolah yang baik dapat ditimbulkan dengan menempatkan simbol-simbol yang sifatnya dapat menterjemahkan konsep ke dalam tangkapan panca indra, sebagai contoh pajangan lembar prestasi penghargaan dan tropy prestasi, guru berprestasi dan berkualitas maka ijasah pendidikan guru tersebut bisa dipajang, memasang logo dan slogan-slogan yang membangun motivasi, menata tampilan-tampilan fisik yang menampilkan kesan mutu dan berkualitas dan sebagainya.

Komunikasi antar konsumen adalah media yang sangat ampuh dan jitu dari pada poster yang besar dan brosur berlembar-lembar. Alumni (mantan murid) adalah komunikan yang paling efektif, bila ia bilang sekolah "A" baik dan merekomendasikan pada adik-adiknya, saudaranya atau tetangganya maka prosentase berhasil bisa mencapai 90%. Tak kalah penting juga adalah guru-guru di SD di sekitar sekolah kita, ulasan dan ceritanya akan sangat besar pengaruhnya bagi siswa asuhannya. Demikian juga pegawai atau pejabat pada instansi publik yang lain, misal puskesmas, kantor kelurahan, kecamatan dan tempat ibadah. 
Kesimpulan akhirnya, IMAGE POSITIF harus dibangun, harus dibentuk dan harus dikondisikan secara terus menerus dan berkesinambungan. Bukan sekedar pencitraan semata, namun benar-benar proses yang baik untuk menghasilkan OUTPUT yang terbaik, yang selanjutnya akan menjadi corong dan media promosi yang paling ampuh bagi calon siswa berikutnya. 

Demikian uraian manajemen pemasaran ini, semoga kita bisa membangun dan memperbaharui semangat untuk memperbaiki diri, motivasi untuk mau menambah pengetahuan dan ketrampilan untuk menjadi pribadi yang unggul dan memiliki jiwa empati yang sangat diharapkan oleh siswa dan masyarakat, Amin. Tulisan berikutnya tentang Quality Control, selamat beraktiftas, semoga bermanfaat. <28020-70>

Jumat, 09 Januari 2015

Memperoleh Bantuan Seperangkat Gamelan, SMP Negeri 2 Kepil Semakin Siap dan Tambah Eksis Untuk Melestarikan Kebudayaan Jawa

Sebuah anugerah dan nikmat kembali diterima SMPN 2 Kepil yang semakin hari semakin bertambah maju. Pada masa liburan akhir semester ganjil Desember tahun 2014 lalu, SMPN 2 Kepil mendapat kiriman bantuan dari pemerintah pusat berupa seperangkat gamelan. Sangat sesuai dengan harapan bahwa sekolah ini ingin menjadi sekolah yang menjunjung tinggi kebudayaan dan sangat antusias untuk melestarikannya, khususnya kebudayaan jawa.

Semenjak masuk hari pertama semester genap tahun 2015 ini nampak suasana yang berbeda dari semester sebelumnya. Suara khas bernuansa tradisional jawa sering terdengar sehabis jam KBM. Seakan membawa suara mistis dan menarik-narik bagi yang masih memiliki pendengaran normal dan mempunyai jiwa yang halus dan sensitif dalam bidang seni untuk berjalan menuju sumber suara yang terdengar rampak dan serasi. Sangat menggugah inspirasi dan memberi motivasi, setidaknya untuk mendekat, mendengar dan mencoba untuk turut berpartisipasi memberikan dukungan moril bagi mereka yang berjiwa seni dan peduli di bidang seni.

Suara itu berasal dari seperangkat gamelan yang dimainkan oleh beberapa bapak guru dan siswa-siswi SMP Negeri 2 Kepil yang memiliki antusias terhadap seni. Ternyata untuk urusan gamelan, kepala sekolah (Bapak Drs. Kardan) adalah pawangnya, beliaulah yang kemudian menjadi pengajar dan pelatih. Kemudian disambut dan didukung sepenuhnya oleh P Widodo, P Edi, P Aris, P Ronto, P Pardi, P Latif dan P Eko yang langsung nimbrung ikut berlatih menabuh (memukul) gamelan tersebut. Juga tak ketinggalan siswa-siswi yang punya talenta luar biasa seperti Ika Datul, Rini, Zidni, Rohmah dan Adit Kendang sering ikut mendukung awal-awal latihan menabuh gamelan di sekolah ini. Luar biasa dan sangat cepat akselerasinya. Hanya dalam beberapa kali latihan sudah langsung terlihat rampak dan nyaman untuk didengarkan. Beberapa lagu dasar sudah bisa dimainkan oleh grup latihan ini.

Dengan seni hidup akan menjadi lebih indah, dengan cinta hidup akan lebih bermakna - begitu kata pepatah. Maka marilah kita dukung sepenuhnya uluran bantuan dari pemerintah pusat ini. Bapak/Ibu guru, sempatkan untuk mampir ke ruang serba guna untuk menyambangi gamelan itu. Sekali waku mari kita mencoba ikut berlatih memukul / menabuh gamelan itu, wujud bahwa kita serius memberi dukungan dan motivasi. Setidaknya memberi dukungan dan motivasi bagi mereka (guru dan siswa) yang telah lebih dahulu bersedia menjadi pelopor di bidang seni. Jangan hanya jadi penonton, tapi mari kita menjadi pelaku untuk memajukan sekolah ini. Mari kita tunjukkan peran positif kita sesuai kemampuan kita. Kita mampu jika kita mau. Semoga dengan melestarikan kebudayaan semakin menambah maju sekolah kita ini, insya-Alloh - amin. (27590)

Sabtu, 20 Desember 2014

Manajemen -9 : Merasakan Hati Mereka, Mari Kita Bantu Ringankan Beban dan Kebutuhannya - Manajemen Keuangan, Membangun Empati dan Simpati

Tampak depan gedung SMPN 2 Kepil masih belum layak untuk dikatakan sebagai sekolah yang bagus. Trenyuh, menyentuh dan mengeluh. Sekilas tampak seperti PDAM, kotak penampung air. Sedianya pada lantai 2 sudah berdiri gedung megah dengan papan nama dan logo sekolah. Namun begitulah adanya. Memang, hidup bahagia dengan semua kebutuhan yang tercukupi adalah dambaan setiap anak, setiap orang tua dan siapa saja. Bagi yang sejak kecil terbiasa hidup senang, semua kebutuhan  tersedia dan semua keinginan terpenuhi, mungkin tidak akan bisa merasakan betapa kenyatan di luar sana masih banyak orang yang menderita. Namun ternyata tidak semua orang bernasib baik dan memiliki kesempatan dan kecukupan seperti yang diharapkannya. Inilah sumber ispirasi untuk memulai tulisan Manajemen -9 kali ini, tentang ekonomi, tentang keuangan sekolah.

Kita bisa simak jalan hidup seorang anak kecil kelas 1 SMP yang harus berperan menjadi orangtua. Tasripin adalah salah satu contohnya, dia harus mengurusi ketiga adiknya, memandikannya, menyuapinya, mencuci dan keperluan rumah tangga lainnya. dia harus mengurus dan menyediakan makanan dan segala keperluan adik-adiknya. Sementara dia juga harus sekolah. Bisa dibayangkan betapa beratnya beban yang harus dipikulnya, betapa bertumpuknya masalah yag harus dipikirkan di kepalanya, betapa sesak dadanya merasakan himpitan kebutuhan hidupnya, sementara kedua orang tuanya tidak berada di dekatnya, sedang merantau mengadu nasib karena kondisi dan suratan nasib yang dialaminya. Bayangkan atau rasakan jika itu terjadi pada diri kita, anak kita atau orang terdekat kita. Kebetulan penulis benar-benar pernah merasakan hal yang sama ketika usia yang sama (1986).

Senada dengan Tasripin, di SMPN 2 Kepil demikian juga adanya, ada bagian (personil) yang merasakan susahnya mengatur keuangan, sulitnya mencukupi berbagai kebutuhan. Ibu Sri Supami dan Bpk Ismain, S.Pd adalah salah satu dari mereka yang menjadi pribadi yang harus bisa berpikir dan berperan ganda. Beliau harus berpikir keras, bersabar sambil menahan diri agar bisa mencukupi banyak kebutuhan orang lain. Bisa jadi ketika dia berpikir keras, sibuk menata keuangan, kurang tidur, kurang makan, di sisi lain orang-orang yang dia pikirkan kebutuhannya tidur lelap, makan lahap dan tersenyum lebar ketika menerima santunan SPPD yang jumlahnya bisa melebihi batas maksimal yang harus dibayarkan. Itulah pekerjaan bendahara sekolah atau bendahara BOS di sekolah.

Manajemen keuangan antara sekolah swasta berbeda dengan sekolah negeri. Sekolah swasta yang bisa mengatur dan merencanakan sendiri tata kelola keuangannya, sehingga akselerasi bisa diatur sesuai analisa kebutuhan dan kebijakan. Berbeda dengan sekolah negeri yang harus mengikuti pola aturan yang lebih ketat dan terbatas, karena sudah ada PAGU (panduan penggunaan) untuk alokasi dana dari pemerintah. Ada sekolah swasta bisa memungut iuran dari siswa hingga ratusan ribu tiap bulan, siswa membayarnya dengan penuh kesadaran. Salah satu contohnya SMP Muhamadiyah 4 Yogyakarta, berdasarkan perhitungan besarnya biaya pendidikan di SMP Muhammadiyah 4 sebesar Rp 4,5 juta per anak per tahun. Dana tersebut tidak bisa dipenuhi dengan BOS yang diberikan pemerintah pusat sebesar Rp 575 ribu per tahun.
Maka kemudian harus ditambah dengan iuran dari siswa untuk mencukupi kebutuhan dana sesuai yang diperlukan. Namun demikian antara sekolah dan siswa (orangtua) sudah saling terbuka dan menyadari bahwa untuk suatu lembaga pendidikan yang mengedapankan mutu dan kualitas dalam layanan, ilmu, sarana yang memang sangat diperlukan oleh siswa dalam proses pembelajaran.

Uang  BOS  pada  kenyataannya  belum  cukup  untuk menyelenggarakan  sekolah.  Maka kemudian muncul BOS pendamping yang dianggarkan oleh peerintah daerah. Dengan kata lain, BOS belum   mampu   mencukupi   sepenuhnya   kebutuhan operasional  sekolah.  Di  berbagai  daerah  ada  bermacam reaksi  terhadap  kebijakan  pendidikan  gratis.  Dari  reaksi - reaksi  masyarakat  tampaklah  bahwa  ide  pendidikan  gratis masih   belum   dipahami   dengan   jelas   dan   benar   oleh masyarakat. Pendidikan  gratis  ditangkap  bahwa  siswa  tidak  lagi dibebani  dengan  bermacam-macam  biaya  mulai  dari  uang pangkal,  uang  sekolah,  uang  komite,  dan  buku  penunjang utama.

Peran serta masyarakat, dalam hal ini orang tua siswa sangat dibutuhkan. Pihak sekolah (guru dan pejabat sekolah) harus pandai dan jeli untuk bisa melihat sisi dan bagian mana yang bisa melibatkan siswa (orang tua) dalam pendanaan pendidikan. Tujuannya agar proses pendidikan bisa berjalan sesuai tuntutan standar mutu namun tidak harus menambah/mengambil dari anggaran sekolah yang lain. Contohnya praktikum IPA, Seni Budaya dan Prakarya, siswa membawa spesimen sendiri dari alam sekitar, sehingga tidak perlu anggaran pengadaan bahan yang jika diuangkan jumlahnya bisa ratusan ribu rupiah. Begitu seterusnya dalam mapel-mapel yang lain. Totalitas dari guru sangat diharapkan perannya dalam masalah ini. Jangan sampai terkesan guru tidak mampu. Guru harus mau belajar dan harus menguasai. Kalo siswa yakin gurunya mampu maka siswa akan senang dan siap diatur untuk aktif dalam pembelajaran.

Dari gambaran dan realita di atas, sekolah swasta bisa lebih maju dan lebih cepat dalam proses akselerasi kemajuan dan pemenuhan kualitas layanan pendidikan, karena dana bisa tercukupi dengan mudah dari iuran siswa. Sekolah negeri sekelas SMPN di kota juga bisa lebih maju baik dari segi sarana, layanan dan mutu. Lalu apakah kita sekolah kita ini akan begini terus. Siapa yang harus bertanggung jawab ? Siapa yang siap menjadi pioner dan pejuang untuk membangunkan panglima, punggawa, senopati dan prajurit yang merasa telah merdeka, dan menikmati hidangan kemerdekaan yang penuh dengan kenikmatan.

Kemajuan sekolah tidak bisa dibebankan pada kepala sekolah semata, karena kepala sekolah sangat terbatas periode masanya, sekian tahun sudah rolling dan bergeser ke sekolah lain. Justru pada pundak panglima, punggawa dan senopati yang tak lain para guru dan pejabat sekolah terletak kunci kesuksesan dan kemajuan sekolah itu berada. Memang sangat dibutuhkan pejabat / guru yang kompeten, yang berjiwa pejuang, yang berorientasi mutu, bervisi pada pelayanan. Bukan pejabat / guru yang berjiwa priyayi, yang maunya dilayani, dihormati dan dicukupi. Sangat dibutuhkan pribadi-pribadi yang jiwanya terpanggil untuk kerja bakti, ikut andil untuk mengabdi, siap melayani  yang ikut andil bisa memulai untuk membuat sekolah kita bisa berjalan lebih cepat, berlari dan berakselerasi untuk menjadi lebaih baik dalam segala sisi. Muda tua bukan pembeda, laki-laki wanita bukan kendala untuk sebuah perjuangan meraih cita-cita bersama.

P Yun, P Edi, P Wid dan P Aris sudah di depan, mari P Yus, P Bagus, P Fauzi kita siap kerja bakti. Pak Vendi, Pak Ronto jangan ditanya, sudah lebih dulu berlari. Demikian pula B Ruti, B Prih dan B Isti yang tak lagi mikir SPPD pengganti. Bapak/Ibu yang lain monggo nderek untuk andil dan berbagi, mari kita jadikan diri ini bagian dari proses kemajuan pendidikan di sekolah yang kita cintai ini. Semoga Alloh senantiasa meridhoi amal bakti dan pengabdian kita. (27111-501)

Kamis, 11 Desember 2014

Kurikulum 2013 Lanjut atau Tidak, SMP Negeri 2 Kepil Telah Siapkan Aplikasi Penilaian Kurikulum 2013, Walau Sederhana Namun Asli Buatan Randusari

Mendikbud Anis Baswedan memutuskan penghentian K-13, sebagian DPR menentang keputusan mendikbud, wakil presiden Jusuf Kalla ikut-ikutan menentang keputusan mendikbud. Namun sebenarnya yang paling merasa dapmpaknya adalah guru dan siswa disekolah. Di tengah belum pastinya nasib kurikulum pendidikan di negeri kita, Alhamdulilah, pihak sekolah telah menyiapkan aplikasi penilaian K-13 menjelang berakhirnya proses belajar mengajar (PBM) semester satu tahun pelajaran 2014/2015. Aplikasi ini murni buatan SMPN 2 Kepil, bukan bajakan atau kopian yang kemudian diganti label dan namanya saja.

Sekedar berbagi cerita, membuat aplikasi penilaian seperti itu tidaklah mudah, apalagi bagi seorang junior seperti kami yang berada di sekolah pinggiran ini. Awalnya seseorang harus paham OUTPUT / produk akhirnya seperti apa, harus paham bagaimana cara inputnya, paham bagaimana cara mengolahnya (dengan aturan yang berubah-ubah, terakhir permendikbud 104 tahun 2014), dan paham linknya agar entri nilai bisa saling terhubung dan terintegrasi, hingga akhirnya agar pada bagian akhir berupa antarmuka untuk wali kelas yang berupa tampilan rapot siap cetak. Itulah perencana, harus paham bagaimana awalnya, bagaimana akhirnya dan bagaimana bisa memahami dan membaca kemungkinan permasalahan yang akan terjadi pada para user (guru) dan cara mengatasinya.

Aplikasi ini menggunakan Ms. Office Excel sebagai basisnya yang tersedia link sel, link sheet dan link file. Belajar dari aplikasi A, sedot aplikasi B. jebol aplikasi C dan modifikasi aplikasi D. Termasuk bertanya dan konsultasi dengan orang laini yang lebih paham, bahkan kepada yang yunior sekalipun (dalam hal ini kami konsultasi pada Mas Budiyanto yang sangat paham tentang jaringan internet dan sistem security, beliau adalah mantan murid kami di SMK). Aplikasi sederhana ini benar-benar buatan sendiri, dengan niat untuk belajar, belajar untuk lebih tahu, lebih memahami dengan harapan bisa berbagi kepada teman sendiri. Sama sekali tidak ada niat untuk komersialisasi, karena memang tidak seharusnya untuk bersifat komersial di sekolah sendiri, pada teman sendiri. Miris melihat ada orang yang berani menjual dan mengkomersilkan aplikasi yang bukan buatan sendiri, hanya hasil download yang dimodifikasi, diganti nama dan notasi. Pembajakan kalau istilah Pak Edi dan Bu Rini

Harapan kami ini bisa menjadi inspirasi bagi teman-teman satu sekolah, bahkan mungkin sekolah-sekolah yang lain untuk bisa berkarya sesuai bidang masing-masing. Jangan berfikir materi apa yang akan diterima, hasil apa yang akan didapatkan, keuntungannya berapa, hitungannya bagaimana. Kalo dihitung-hitung tidak bakal ketemu. Semisal dihargai Rp 100.000,- maka itu tidak akan sepadan dengan kerja dan pemikiran yang harus lembur puluhan malam. Sebaliknya kalau diharga Rp 200.000,- maka juga tidak untung bagi sekolah karena karya tersebut teramat sangat sederhana dan tak layak dikomersialisasi. Aplikasi itu dibuat semata-mata bentuk upaya pemenuhan kinerja dan pengabdian, dan sama sekali bukan untuk tujuan mendapatkan keuntungan materi. Dengan karya sederhana itu kami mendapatkan banyak sekali manfaat antara lain kepuasan belajar hal-hal baru, kepuasan berimajinasi dalam lautan ilmu, pemahaman, serta pengalaman yang diperoleh, Hal ini adalah kesempatan dan kebahagiaan yang tak ternilai harganya. Salah besar kalu setiap gerak kita, langkah kita harus dihitung untung berapa, rugi berapa. Jangan sampai seperti pepatah Jawa "OBAH MAMAH", setiap aktifitas minta dihargai dengan materi. Rejeki adalah urusan Alloh, dan Alloh tak akan pernah salah memberikan rejeki pada siapa yang dikehendaki-Nya.

Akhirnya kami mengajak semuanya, mari kita tingkatkan kinerja kita dengan semangat ibadah dan ikhlas karena Alloh semata. Mengutip pepatah seorang motivator "Hukum kekekalan energi", kalau kita kumpulkan energi positif sama saja kita menabung energi positif. Energi positif itu adalah karya kita, sodakoh kita, senyum kita, kasih sayang kita dan segala kebaikan dari diri kita. Cepat atau lambat kita akan menuai hasilnya. Sebaliknya segala keburukan dari kita ; sikap kita, kerja kita, ucapan kita bahkan materi yang kita dapatkan yang seharusnya bukan hak kita adalah energi negatif yang taka akan pernah hilang, suatu saat energi negatif akan kita petik dalam berbagai bentuk negatifnya ; sakit, susah, galau dan sebagainya, tidak hanya pada kita namun bisa sampai anak cucu kita. Selamat berkarya mengumpulkan energi (26735)

Senin, 08 Desember 2014

Manajemen -8 : Mengelola dan Menggunakan Sarana Untuk Kemajuan Siswa - Manajemen Sarana-Prasarana, Semangat Melayani, Bukan Untuk Menguasai

Tema tulisan ini terinspirasi paparan DAHLAN ISKAN, sang menteri BUMN pada era presiden SBY. Hal ini ditunjukkan oleh sikap, pemikiran dan kinerja beliau ketika beberapa kali melakukan sidak di kantor BUMN yang menjadi bawahan dalam departemennya. Salah satu fokus yang pertama kali menjadi sasaran sidaknya (inspeksi mendadak) adalah TOILET. Kenapa toilet ?

Menurut pak menteri BUMN (saat itu) kinerja manajemen bisa diukur dengan mudah dari hal yang sepele, toilet. Toilet merupakan tempat yang dianggap paling belakang dan tersembunyi. Namun justru dari sanalah akan nampak pengelolaan manajemen instansi / lembaga / kantor tersebut. Karena kalau toilet yang berada di tempat yang berada di belakang dan tersembunyi ternyata kondisinya bersih, rapi, nyaman pastilah pada bagian lainnya akan lebih rapi, lebih bersih dan nyaman.

Toilet kotor, tidak terawat dan bau adalah pemandangan yang lazim ditemui pada banyak kantor / instansi / lembaga termasuk sekolah. Tak jauh beda dengan BUMN, sekolah-sekolah pun demikian adanya. Namun ada kenyataan bagus di suatu sekolah di lereng gunung Dieng yang sangat baik pengelolaan toiletnya. Toliet banyak tersedia di beberapa sudut tempat, dengan air persediaan yang memadai (mungkin karena tersedia air alami), kemudian untuk kebersihannya sudah dibagi dan diserahkan kepada kelas-kelas yang sudah ditentukan jadwalnya. Sehingga tidak ditemukan kondisi toilet yang kotor dan bau, apalagi toilet guru dan pegawai yang jauh lebih bersih, rapi dan terawat.

Manajemen Material-Machine, adalah tema tulisan kali ini. Dalam dunia sekolah sering disebut dengan Sarana dan Prasarana. Sarana prasarana sangat terkait dengan tiga hal pokok, yaitu 1. Pengadaan / pembangunan, 2. Penggantian / Perawatan, 3. Pemusnahan / pembuangan. Sepintas mungkin tidak begitu menarik, namun kalau bisa mengambil intinya akan sangat terasa betapa pentingnya pemanfaatan sarana dan prasarana dalam proses pendidikan. Kami tidak akan membahas tentang definisi dan klasifikasinya yang sudah banyak di jumpai di buku, makalah atau website dengan mudah. Namun kami lebih memilih untuk fokus pada sarana-prasarana, pemanfaatan dan pengelolaannya.

Di SMPN 2 Kepil, untuk urusan sarana-prasarana Bpk Edi Wineto, S.Pd adalah pawangnya. Beliau sangat ahli dan berpengalaman untuk urusan ini. Sulit untuk mencari orang yang sekaliber / sekelas beliau, sehebat dan seikhlas beliau untuk mengurusi bidang yang satu ini. Banyak sekali kemajuan dan peningkatan yang sangat signifikan terkait layanan sarana-prasarana. Pembangunan Mushola sekolah yang saat ini telah 80% selesai, pembenahan jaringan listrik di setiap ruangan, perbaikan toilet siswa, dan yang terakhir adalah penyediaan tempat parkir siswa di belakang sekolah disusul dengan banner kata-kata motivasi di dinding depan/luar tiap ruang kelas sekolah.

Senada dengan fenomena BUMN di atas, permasalahan terkait sarana dan prasarana di sekolah  ibarat pepatah setali tiga uang, serupa tapi tak sama. Hal itu hampir terjadi di setiap sekolah, dimana saja (kecuali yang sudah berfikir lebih maju). Masih juga dijumpai hal-hal yang dianggap sepele tidak tertangani secara baik, namun justru hal sepele tersebut yang menunjukkan betapa sistem penanganan masalah terasa belum optimal. Tanpa bermaksud mendiskreditkan siapapun, baik pejabat maupun perorangan, tulisan ini berlaku untuk semua. Satu hal yang penting untuk dicatat bahwa pada dasarnya semua sarana dan prasarana sekolah diperuntukkan untuk mendukung pembelajaran bagi siswa. Guru, karyawan dan juga siswa. Intinya untuk siapa saja yang terkait dengan pembelajaran bagi siswa. Terkait dengan itu ada beberapa hal yang mungkin perlu lebih diperhatikan dalam penanganan dan pengambilan keputusan terkait sarana-prasarana sekolah.
  1. Perencanaan waktu. Biasanya perencanaan dibagi menjadi tiga : jangka pendek, menengah dan jangka panjang. Semuanya harus direncanakan untuk dilaksanakan sesuai tingkat kebutuhan. Untuk merencanakan ini tidak cukup dibuat seorang diri oleh pemangku sar-pras, harus melibatkan banyak pihak sesuai bidangnya masing-masing. Misal kebutuhan Lab IPA, guru olah raga, guru seni dll untuk turut membuat analisa perencanaan kebutuhan mereka. Bahkan sebaiknya setiap guru, setiap karyawan sebaiknya punya ide / gagasan untuk kebutuhan mereka, namun harus realistis dan tidak mengada-ada, dan tidak harus semua minta ke sekolah (misalnya pulpen, pensil atau penghapus ya tidak harus mengajukan proposal untuk pengadaan).
  2. Skala prioritas. Faktor inilah yang akan membedakan hal mana yang harus disegerakan dan mana yang bisa dipending pelaksanaannya. Skala prioritas bisa dilandasi beberapa faktor antara lain : - sesuai rencana, adanya stimulan pembiayaan dan emergensi/darurat. Untuk yang terakhir (darurat) secara otomatis bisa berubah menjadi urutan teratas untuk segera diselesaikan / ditangani, apalagi yang terkait dengan hajat hidup orang banyak.  Hal ini dimaksudkan agar tidak terkesan lamban dan tidak reaktif terhadap keadaan. Contohnya,jalan utama (lalu lintas keluar masuk sekolah) rusak, toilet rusak (tidak memadai, tidak layak), dan contoh lainnya haruslah segera dicarikan solusi untuk membenahi / merenovasi.
  3. Sediakan hak siswa terkait berbagai sarana yang tidak bergerak (misalnya gedung, kelas, ruang, taman, mushola, toilet dan lain-lain. Jangan dibiarkan terbengkalai tidak terurus dan ditunda-tunda penanganannya. Contohnya, toilet yang tidak layak baik dari segi bangunan maupun kelengkapannya, terlebih irigasi dan sanitasinya agar tidak berimbas pada kenyamanan pada saat pemakaian dan juga dampak lingkungan sekitarnya. Alhamdulilah SMPN 2 Kepil memilihi lahan dan tempat yang sangat luas dan memadai. Namun ada suatu sekolah di Kab Magelang yang tak memiliki halaman yang memadai untuk olahraga dan upacara, maka beberapa kebutuhan utama sekaligus tidak terpenuhi, inilah yang dimaksud tidak bisa memberikan kebutuhan dasar siswa.
  4. Berikan sepenuhnya yang menjadi hak siswa terkait sarana pembelajaran di sekolah. Alat peraga, alat laboratorium IPA, alat musik, alat olahraga hingga laboratorium komputer sesuai prosedur yang berlaku. Jangan sampai anak kesulitan untuk memanfaatkan alat tersebut karena kesalahan pemahaman guru. Alat, mesin, sarana yang rusak karena digunakan akan lebih berharga, lebih bermanfaat dan berguna daripada utuh karena tidak pernah dipakai.
  5. Pemanfaatan ruangan dan media. Banyak media / alat sekolah yang belum dimanfaatkan secara optimal untuk kegiatan pembelajaran. Ruang OSIS, ruang media, ruang musik sampai mushola yang belum digunakan secara optimal. Contoh yang terkait media adalah LCD Proyektor, alat Lab IPA, alat Lab Komputer, alat olah raga yang belum digunakan semestinya, ini sama halnya tidak memberikan hak siswa untuk menggunakan dalam pembelajaran, dan ini sama halnya dengan alat yang tidak tepat sasaran.
Kami memiliki angan dan harapan bahwa beberapa waktu ke depan SMPN 2 Kepil bisa menambah beberapa toilet siswa pada beberapa sudut sekolah, ujung selatan timur dan barat. Untuk mengawali akan dibuat toilet guru dan ruang rehat darurat di ruang guru, agar privacy guru bisa terjaga dan lebih nyaman. Kemudian toilet TU di ruang depan yang sekaligus difungsikan sebagai toilet dan tamu dapat direnovasi dan tampil lebih menarik, rapi, bersih dan nyaman. Sehingga bila ada tamu datang, akan muncul kesan rasa nyaman dan menyenangkan.

Akhirnya, mari kita berbenah tanpa harus membaca siapa yang salah dan siapa yang benar, ini tanggung jawab kita semua. Pak Edi Wineto tak mungkin sanggup sendirian, beliau sangat membutuhkan masukan, bantuan ide dan pemikiran, serta peran serta kita semua dalam mengelola sarana prasarana sekolah ini. Mari benahi kebersamaan, persatuan dan kerjasama. Setiap kita punya andil yang besar untuk bisa membangun, mengelola dan memanfaatkan sarana prasarana sekolah untuk kemajuan dan prestasi siswa, kemajuan dan prestasi sekolah. Semoga tulisan ini bisa menjadi inspirasi dan pemikiran pihak pemangku jabatan dan pengambil keputusan di sekolah kita. Selamat beraktifitas, semoga sukses. Sampai jumpa pada edisi berikutnya, budgeting .... (26630)