text

Selamat Datang di Blog SMP N 2 Kepil Wonosobo ... Sekolah SEJUTA IMPIAN, ... Awali Suksesmu Dari Sini ... Mulailah segala sesuatu dengan BISMILLAH ...

Jumat, 25 November 2022

Award OSIS 2022, Dari Siswa Untuk Guru-Guru Tercinta; Menginspirasi Guru Penggerak Sesungguhnya

Hari ini adalah hari yang spesial bagi dunia pendidikan, khususnya guru. Guru yang berada di bawah organisasi yang bernama PGRI, Persatuan Guru Republik Indonesia. PGRI menjadi pemersatu seluruh guru seantero nusantara, tanpa membedakan asal daerahnya, tanpa membedakan tingkat, jenjang, status sekolahnya dan tidak juga membedakan pangkat, golongan, status kepegawaiannya. Hari ini semua guru nampak kompak yang disatukan dalam balutan seragam PGRI. Seragam batik yang memiliki motif warna hitam dengan warna dasar putih dan di dalam motifnya terdapat logo PGRI. Makna dari warna putih pada seragam PGRI melambangkan kebersihan, kesucian bagi para pemakainya. 

Secara nasional hari ini diperingati sebagai Hari Guru Nasional 2022 dan diperingati dengan upacara bendera yang dilaksanakan hampir di setiap sekolah. Menjadi kebiasaan baik di SMPN 2 Kepil bahwa kegiatan upacara setiap tanggal 25 Nopember dilaksanakan dengan petugas upacara yang semuanya diperankan oleh bapak-ibu guru. Kali ini yang bertindak sebagai pembina upacara adalah kepala sekolah, Bu Fajar Fatimah Winarti, S.Pd., M.Or. Petugas upacaranya; pemimpin upacara Bapak Irwan, pembawa acara Bu Rini, ajudan-1 Pak Aris, ajudan-2 Bu Ida, pengibar bendera Trio Nice Teacher; Pak Agus, Bu Riski, Pak Arief, pembaca naskah UUD-45 Bu Isti, pembaca doa Pak Fauzi, komandan peleton Trio Great Teacher; Pak Karna, Pak Dwi dan Pak Bagus, dirigen Bu Yuli, dan terakhir Pak Mar sebagai tukang dokumentasi. Alhamdulillah upacara berlangsung lancar, petugas upacara semua peserta mengikuti dengan tenang, khusuk dan khidmat.

Dan upacara spesial menjadi bertambah spesial ketika ada acara kejutan (surprize) dari pengurus OSIS. Spesial karena OSIS menggelar hajat yang diberi nama OSIS AWARD 2022, semacam penghargaan kepada guru-guru yang memiliki kriteria spesial. OSIS melakukan pooling/survei kepada seluruh siswa menggunakan google formulir dengan 6 kategori pertanyaan. Dari rekapan itu diambil skor perolehan tertinggi untuk dipilih menjadi pemenang, demikian hasil selengkapnya. 

  1. Bu M.I. Isti Supriyanti, S.Pd., - Guru Terpavorit. Guru yang selalu kamu nantikan kehadirannya, guru yang membuat kamu lebih mudah memahami pelajaran, guru yang selalu membuat kamu semangat menyambut pagi untuk pergi ke sekolah.
  2. Bu Rini Utami, S.Pd., - Guru Terbaik Hati. Guru yang selalu mengingatkan dalam hal kebaikan, selalu mengajak untuk berbuat baik, penuh kasih sayang.
  3. Bu Dyah Wari Sukesi, S.Pd., - Guru TergalakGuru yang baru kamu lihat bayangannya saja sudah membuatmu terbirit-birit, guru yang paling kamu takuti ketika hendak membuat kesalahan (penegak disiplin dan kebenaran -pen).
  4. Bapak Irwan Susetyo Putro, S.Pd., - Guru Terlucu. Guru yang selalu bisa membawakan suasana kelas dengan seru, memberikan kesan lucu.
  5. Bu Prihatin Handayani, M.Pd., - Guru TeramahGuru yang selalu bertegur sapa dengan murid, murah senyum, selalu menunjukkan kasih sayangnya kepada murid.
  6. Bu Prihatin Handayani, M.Pd., - Guru Tersabar. Guru yang mengajar di kelas dengan penuh kesabaran, telaten dan mau menuntun dengan pelan pelan ketika murid masih belum paham dengan materi yang disampaikan, penuh dengan kasih sayang. 

Setelah selesai penganugerahan penghargaan, acara dilanjutkan dengan kegiatan ungkapan/ucapan salam kasih dari siswa kepada guru. Disediakan kursi untuk duduk bapak-ibu guru, lalu diawali dari pengurus OSIS yang masing-masing membawa karangan bunga untuk kemudian sungkem kepada guru mereka, satu pengurus OSIS satu guru. Dilanjutkan salam penghormatan dari semua siswa yang secara berurutan memberikan ucapan selamat kepada bapak ibu guru. Rasa haru dan trenyuh menyelimuti rasa saat itu, baik siswa-siswa, terlebih gurunya. Pastinya ada rasa bahagia dan bangga ketika melihat siswa-siswa yang ternyata menyayangi dan mencintai guru-gurunya. 

Tahun ini menjadi tahun spesial buat Bu Prih yang mendapat 2 Award sekaligus, Selamat & Sukses kagem Bu Prih. Selamat kepada Bapak-Ibu guru yang terpilih menjadi guru pilihan anak, selamat karena telah menjadi Guru Inspirasi. Ini adalah murni penilaian anak yang merepresentasikan pendapat dan pandangan mereka terhadap sosok gurunya. Penilaian yang baik ataupun kurang baik semuanya pasti mengandung hikmah dan pelajaran, yang bisa digunakan untuk introspeksi dan mawas diri. Secara pribadi, penulis jadi merasa dengan sepenuh kesadaran bahwa saya belum bisa menjadi guru yang baik, seperti pepatah jauh panggang dari api. 

Belum baik bukanlah hal ini tidaklah menjadi pengendur semangat, tetapi justru menjadi motivasi dan semangat untuk belajar dan terus belajar. Belajar dari yang sudah teruji dan terbukti kebaikannya, belajar karakter dan ruhani dari yang senior dan berpengalaman, belajar inovasi dan teknologi dari yang muda, dan belajar bijak dan dewasa dari situasi dan keadaan. Di era Merdeka Belajar ini guru memang dituntut untuk banyak belajar, dimana sudah disediakan media yang bernama Platform Merdeka Belajar yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan. 

Walaupun mungkin kita tidak terpilih sebagai Guru Penggerak, tetapi kita tetap harus terus semangat untuk menjadi Guru Penggerak Sesungguhnya, walau hanya dalam skala kecil dan terbatas. Penggerak motivasi bagi diri sendiri, penggerak inspirasi siswa di kelas dan penggerak semangat sesama teman kerja untuk bergerak dan berubah menjadi lebih baik, minimal lebih baik dari yang sebelumnya. Semoga catatan singkat ini bisa menjadi momentum bagi saya, kami guru-guru, sekolah, kita semua untuk berbenah, selagi masih bisa dan selagi masih dipercaya.











Demikian beberapa foto dan sedikit ulasan terkait upacara Hari Guru Nasional 2022 dan penganugerahan OSIS AWARD 2022
Untuk melihat foto lebih banyak silahkan klik link di bagian bawah. 

Selamat beraktifitas, selamat berkarya, semoga sukses. 


Bagi yang menginginkan foto pada hari Sabtu - Sabtu Batik, bisa melihat dan mendownload lewat link di bawah ini - Foto Tambahan 
Link Foto Lain >> Download Foto Sabtu Batik


Jumat, 18 November 2022

"Tubuhku Ada Disini, Tetapi Tidak Jiwaku", Inspirasi Guru SMPN 2 Kepil Meraih Juara 1 - HUT PGRI Cabang Kepil

Tahun 2022 ini, perayaan Hari Guru Nasional dan HUT PGRI 2022 mengusung tema “Guru Bangkit, Pulihkan Pendidikan: Indonesia Kuat, Indonesia Maju”. Pengurus PGRI Cabang Kepil mengadakan / melaksanakan berbagai kegiatan dalam rangka menyongsong peringatan HUT PGRI. Beberapa jenis kegiatan yang dilaksanakan antara lain; 1. Ziarah ke makam Alm. Dr. Sulistiyo, M.Pd (Ketua PGRI), Pertandingan Bulutangkis, Tenis Meja, Tari Klasik, Silaturahmi Anggota dan Jalan Sehat. 

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, hari ini Sabtu 19 Nopember 2022 jajaran pengurus PGRI Cabang Kepil melaksanakan kegiatan Silaturahmi Anggota. Kegiatan yang merupakan puncak acara HUT PGRI di kecamatan Kepil ini mengundang guru-guru semua jenjang sekolah di kecamatan Kepil. Bertempat di halaman Kantor Kecamatan Kepil dengan menghadirkan tamu spesial, Bupati Wonosobo (H. Afif Nurhidayat, S.Ag.), Kepala Dinas Dikpora Kabupaten Wonosobo (Drs. Tono Prihatono), Ketua PGRI Wonosobo (Drs. Suratman), Camat Kepil beserta jajaran pejabat dan keamanan di kecamatan Kepil. 

Dalam kegiatan tersebut ada beberapa acara, antara lain sambutan Ketua PGRI Wonosobo dan pastinya sambutan Bupati. Ada sesi pemberian tanda terima kasih (cinderamata) kepada salah satu anggota PGRI Kepil yang punya cerita spesial. Adalah Bapak Slamet dari SDN Ropoh yang diundang secara khusus dan berkesempatan untuk menyampaikan sambutan di atas panggung. Kepada Bapak Bupati dan Kepala Dinas yang berada disampingnya ia bercerita bahwa hingga ia "dipensiunkan" oleh sekolah (karena usia yang sudah sepuh) tetapi masih berstatus wiyata bakti (honorer) sebagai penjaga sekolah dengan pengabdian selama 39 tahun. Sungguh suatu pelajaran dan inspirasi keikhlasan dalam pengabdian kepada negara dalam bidang pendidikan. 

Acara dilanjutkan dengan penampilan Tari Klasik yang berhasil menang dalam lomba, yang diperankan oleh Bapak Kanang Irawan dari SMPN 3 Kepil. Berikutnya adalah pengumuman cabang lomba khusus yaitu Menulis Artikel Populer yang diikuti beberapa guru yang merupakan utusan sekolah dan dipilih dari guru yang dianggap berbakat dalam hal tulis menulis. Sungguh kejutan, surprise dan kebahagiaan bagi sekolah, salah satu yang baru belum lama bergabung di SMPN 2 Kepil keluar sebagai pemenang. Dyah Wari Sukesi, S.Pd. (Guru BK), dinyatakan sebagai Terbaik 1 dalam Lomba Menulis Artikel Populer dengan tema yang ditentukan oleh panitia, yaitu 1) Diferensiasi Pembelajaran, 2) Hukum & Tupoksi Guru, 3) Pungutan Sekolah dan 4) Tiga Dosa Besar Pendidikan. "Tubuhku Ada Disini, Tetapi Tidak Jiwaku", menjadi kata penggugah jiwa yang berhasil menginspirasi Bu Kesi dalam membuat tulisan itu menjadi yang terbaik.

Selamat dan Sukses untuk Bu Kesi atas prestasi terbarunya, yang telah mempersembahkan piala dan nama baik untuk SMPN 2 Kepil. Selamat juga kepada semua guru (semua jenjang pendidikan) di kecamatan Kepil, mari lanjutkan terus untuk bekerja, berkarya dan mengabdi untuk kemajuan negeri yang bisa kita lakukan dari dunia pendidikan. Selamat beraktifitas, selamat berkarya, semoga sukses.

Berikut beberapa dokumentasi kegiatan hari ini yang diperoleh dari beberapa sumber.






Selasa, 01 November 2022

Selamat Purna Tugas - Pengabdian Guru Cikal Bakal

Senin, 31 Oktober 2022 kembali menjadi hari Senin spesial bagi segenap warga SMP Negeri 2 Kepil, yaitu dengan kegiatan upacara bendera yang juga spesial karena disisipkan acara perpisahan dengan salah seorang guru yang memasuki masa pensiun. Setelah akhir bulan Juli ada perpisahan dengan Pak Widodo, lalu dilanjutkan perpisahan dengan Pak Edi Wineto serta Pak Abdullah di akhir bulan September, kini kembali dilaksanakan acara perpisahan dengan salah satu guru senior yang juga menjadi pionir dan ikut babat alas perintisan awal sekolah ini. Beliau adalah Bapak Satiyun, S.Pd., pengampu mata pelajaran IPA, yang juga pejabat wakil kepala sekolah dan sekaligus penanggung jawab segala hal yang terkait sarana prasarana sekolah, mulai dari gedung, kelistrikan, dan berbagai fasilitas termasuk lingkungan sekolah hingga hal kecil seperti keran, pompa air dan semua hal yang terkait dengan penyediaan sarana perairan di sekolah.

Bertempat di halaman sekolah, pagi itu di depan semua peserta upacara, Bapak Satiyun memberikan sambutan untuk menyampaikan kata perpisahan (pamitan). Dalam sambutan itu salah satunya menceritakan terkait masa pengabdian beliau di sekolah ini yang totalnya mencapai 38 tahun, lebih dari separuh usianya didedikasikan di sekolah ini. Sesuai peraturan tentang usia pensiun untuk guru yang berstatus pegawai negeri (ASN) adalah 60 tahun, maka bisa dikatakan bahwa sejak berusia 22 tahun (masih sangat muda) beliau sudah bekerja di sekolah ini. Saat mengawali karirnya 38 tahun yang lalu, beliau adalah sosok guru muda yang cerdas dan energik, yang mendapat tugas langsung (ikatan dinas) setelah lulus jenjang D2 dari Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Surakarta. 

Jauh sebelum kuliah di UNS, Pak Satiyun kecil merupakan anak gunung, yang dilahirkan di kampung yang berada di wilayah kapanewon Ponjong (nama baru pengganti kata kecamatan di DIY), kabupaten Gunung Kidul, propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Beliau mengajar sejak sekolah ini masih dalam pembangunan, tinggal dan tidur di sekolah, hal ini membuat ikatan batin yang sangat kuat dengan sekolah ini. Dengan masa pengabdian selama 38 tahun tersebut pasti sangat banyak ilmu yang dikuasai berbasis praktik di lapangan, juga pasti sangat pengalaman yang membuat pribadi yang dewasa dan bijaksana. 

Secuil kalimat untuk Pak Satiyun, "Banyak waktu dan tenaga yang Engkau curahkan, banyak ilmu dan pengalaman yang Engkau bagikan, banyak teladan dan hikmah yang Engkau ajarkan". Terlepas dari kekurangan yang dimiliki oleh setiap manusia, ada beberapa kepribadian Pak Satiyun yang dapat saya ambil sebagai teladan dan inspirasi. Diantaranya kesederhanaan, ketenangan, kedewasaan, keikhlasan dan kebijaksanaan. Hal ini membuat kami pribadi menjadi merasa sangat kecil, merasa sangat kurang pengalaman, meras belum berbuat apa-apa, dan tidak ada apa-apanya.

Selamat memasuki masa pensiun, selamat menjalani tugas lain di luar sekolah, semoga selalu diberikan kesehatan, kebahagiaan dan keberkahan. Berikut beberapa gambar yang kiranya dapat mewakili acara perpisahan dengan Bapak Satiyun.









Demikian beberapa foto dan sedikit ulasan terkait acara perpisahan dengan Pak Satiyun. Untuk melihat foto lebih banyak silahkan klik link di bagian bawah. Selamat beraktifitas, selamat berkarya, semoga sukses

Link Foto >> Lihat / Download Foto


Sabtu, 29 Oktober 2022

Lomba Literasi dalam Rangka Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda

Menjaga kelestarian Bahasa Indonesia untuk tetap hidup di kalangan generasi penerus menjadi fokus dan upaya yang terus dilakukan secara berkesinambungan menjadi latar belakang diadakannya kegiatan lomba literasi di SMP Negeri 2 Kepil, demikian yang disampaikan oleh Panitia / Koordinator Tim Literasi. Sesuai tema Bulan Bahasa dan Sastra 2022 yaitu “Bangkit Bersama”, maka dengan semangat tersebut diwujudkan dalam berbagai kegiatan lomba sebagai ajang mengapresiasi, berdiskusi, berkompetisi dan berbagi informasi.

Adapun yang menjadi tujuan diadakannya kegiatan Lomba Literasi ini adalah; yang pertama adalah untuk memelihara semangat kepemudaan dan persatuan di dalam lingkungan SMP Negeri 2 Kepil, dan yang kedua adalah Membina dan mengembangkan bahasa dan sastra Indonesia. Kegiatan lomba literasi SMP Negeri 2 Kepil Tahun 2022 ini mengangkat tema Bangkit Bersama dengan semangat kepemudaan dan persatuan. Rangkaian kegiatan lomba tersebut dilaksanakan pada hari Sabtu 29 Oktober 2022 yang bertepatan dengan peringatan Bulan Bahasa 2022. Seluruh kegiatan dilaksanakan di luar kelas (pola Outing Class), bertempat di halaman sekolah dan diikuti oleh seluruh siswa SMPN 2 Kepil, kelas VII, VIII dan IX.

Bertindak sebagai sutradara kegiatan ini koordinator Tim Literasi, Ibu Rini Utami, S.Pd. yang juga sekaligus sang inisiator kegiatan literasi yang memang terbukti dengan puluhan karya yang berhasil beliau buat dan beberapa diterbitkan menjadi buku. Kegiatan lomba ini dapat terwujud tentu saja tidak terlepas dari bantuan, saran dan masukan dari banyak pihak. Dari hasil koordinasi akhir dengan kepala sekolah, anggota Tim Literasi dan beberapa guru maka diputuskan jenis lomba yang dilaksanakan meliputi;

1) Membaca Massal dan Serempak 
2) Musikalisasi Puisi 
3) Berkarya Sendiri

Dari pantauan selama kegiatan yang berlangsung dari pukul 07.30 sampai menjelang waktu Dhuhur tersebut terbilang lancar dan sukses. Semua peserta mengikuti dengan antusias walau dalam kondisi panas yang menyengat kulit. Dari ketiga kegiatan lomba diperoleh data hasil lomba sebagai berikut;

A. Membaca Massal
     Juara 1 : Nifayatul Inayati (9B)
     Juara 2 : Najwa Bunga Tanjung (9B)
     Juara 3 : Natania Hasiolan P (8C)
B. Musikalisasi Puisi
     Juara 1 : Decha Rizky A & Avril Zaimatun N (7A)
     Juara 2 : Aulia & Desti (8C)
     Juara 3 : Najwa Bunga Tanjung (9B)
C. Berkarya Sendiri
     Juara 1 : Chariza Faza Salsabila (7B)
     Juara 2 : Nifayatul Inayati (9D)
     Juara 3 : Retno Laila Khusnia (8B)

Berikut beberapa Foto Kegiatan Lomba Literasi yang dapat kami rekam, untuk gambar selengkapnya dapat dilihat, dipilih dan diunduh langsung melalui Link yang ada di bagian paling bawah.









Selamat beraktifitas, selamat berkarya, semoga sukses. 

Sabtu, 22 Oktober 2022

ESQ Menuju Perbaikan di Hari Santri Nasional 2022

Hari Santri Nasional 2022 diperingati hari ini, Sabtu 22 Oktober 2022 dengan mengambil tema  "Berdaya Menjaga Martabat Kemanusiaan". Tema itu sejalan dengan kegiatan yang dilaksanakan SMP Negeri 2 Kepil dalam rangkaian kegiatan motivasi dalam rangka menumbuhkan dan membangun kembali motivasi siswa mejadi pembelajar yang sukses, yang bisa mengenali dirinya dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Satu hal yang terpenting lainnya adalah mengenal siapa Tuhannya, apa yang harus dilakukan untuk dan kepada Tuhannya. Hal ini sangat penting karena akhir-akhir ini banyak orang yang dinilai sukses, sukses secara karir, sukses secara materi, sukses secara performance dan sukses secara intelektual, tetapi gagal untuk memahami hubungannya dengan Alloh yang telah membuatnya karunia dan memberinya banyak kesuksesan.

Hal itulah yang melatar-belakangi dilaksanakan kegiatan ESQ atau motivasi yang digagas oleh Tim Sabtu Religi, Pak M. Fauzi, S.Ag. dan Bu Ngaidatul Fitriyah, S.Ag. Sebanyak 300-an siswa-siswi SMP Negeri 2 Kepil terlihat antusias mengikuti kegiatan motivasi yang dilaksanakan pada Sabtu pagi, 22 Oktober 2022 yang bertepatan dengan peringatan Hari Santri Nasional. Kegiatan motivasi bertempat di Aula Baru yang terletak di bagian belakang, Aula yang baru saja selesai di renovasi dan merupakan alih fungsi dari ruang  yang sebelumnya berfungsi sebagai ruang keterampilan. Acara berlangsung meriah, khidmat, menarik dan sangat inspiratif dalam membangun motivasi warga sekolah.

Acara diawali dengan pembukaan yang dipimpin oleh MC yang dibawakan oleh Bapak M. Bagus Panuntun, S.Pd., dilanjutkan kata sambutan oleh Ibu Fajar Fatimah Winarti, S.Pd., M.Or. selaku kepala sekolah. Bertindak sebagai pembicara atau ustadz berasal dari Kota Magelang. Andi Vanduci nama beliau, seorang motivator dengan penampilan dan aksi yang menarik dan pandai menarik perhatian dan menghidupkan suasana motivasi dengan selingan beberapa atraksi SULAP yang cocok untuk anak sekolah. Semoga kegiatan motivasi ini bisa bermanfaat dalam pembentukan karakter siswa, layaknya santri yang terus belajar berbenah diri.

Berikut beberapa gambar kegiatan motivasi hari ini, untuk selengkapnya bisa dilihat, dipilih dan didownload langsung ke perangkat pembaca. 

Link Download >> FOTO MOTIVASI SANTRI









Selamat beraktifitas, selamat berkarya, semoga sukses.

Kamis, 06 Oktober 2022

Gelar Aksi BBM, Puncak Acara Profil Pelajar Pancasila Ala SMP Negeri 2 Kepil

Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila Pelajar (P5) saat ini menjadi topik hangat dan menjadi ruh dari kurikulum baru, kurikulum merdeka. Indonesia dituntut bukan hanya baik dalam kegiatan intrakulikuler dan ekstrakulikuler, namun peserta didik juga diharapkan dapat membangun karakter dan mengembangkan nilai-nilai Pancasila, serta mengintegrasikannya dalam setiap kegiatan yang mereka lakukan. Dalam upaya membangun karakter dan mengembangkan nilai-nilai Pancasila itulah SMP Negeri 2 Kepil mempersiapkan dan melaksanakan kegiatan yang mengacu pada tema projek penguatan profil pelajar pancasila yang telah ditetapkan oleh Kemendikbudristek.

Berbeda dengan sekolah SMP lainnya di kabupaten Wonosobo yang umumnya mengambil tema demokrasi dengan agenda pemilihan pengurus OSIS, sekolah yang pernah mengusung tema "Berani Tampil Beda" memang memilih tema yang berbeda. Dari hasil konsultasi dan koordinasi Tim P5 SMP Negeri 2 Kepil yang dikomandani oleh Ibu Ngaidatul Fitriyah, S.Ag. dengan kepala sekolah (Ibu Fajar Fatimah Winarti, S.Pd., M.Or.) akhirnya disetujui dan diputuskan untuk mengambil tema  proyek P5 yaitu "BANGUNLAH JIWA RAGANYA", adapun bentuk kegiatan yang akan dilakukan adalah “KEBERSIHAN LINGKUNGAN TEMPAT IBADAH”. Maka kemudian dipersiapkan kegiatan yang diberi judul BBM, Bersih-Bersih Masjid (dan Mushola).

Aksi nyata kegiatan P5 ini dilaksanakan selama beberapa hari secara berturut-turut, yang diisi dengan pembekalan materi terkait, pembuatan/pengetikan proposal di Lab Komputer,  survei lapangan ke lokasi kegiatan, silaturahmi dan mengurus proses perijinan dan simulasi kegiatan kebersihan. Adapun puncak acara kegiatan  P5 dilaksanakan pada hari Kamis 6 Oktober 2022, dimana sejumlah 110-an siswa SMP Negeri 2 Kepil diterjunkan untuk membantu membersihkan tempat ibadah di desa sekitar. Siswa yang terdiri dari 4 kelas tersebut dibagi dalam 8 kelompok dan disebar ke 8 tempat ibadah, masjid dan mushola. Masjid Hidayatulloh yang berada di Dusun Sirandu dan Mushola Al-Islam di dusun Klepusari merupakan lokasi praktik bagi kelas VII A. Adapun siswa kelas VII B, VII C dan VII D diterjunkan untuk membantu membersihkan di 6 mushola lainnya, diantaranya di dusun Dukuh, Lempongsari, Kotak Ombo, Margosari, dan dua mushola di Randusari.

Tim P5 Spero menyadari bahwa kegiatan puncak/perayaan ini masih banyak sekali kekurangan, seperti pepatah "Jauh Panggang dari Api". Sangat jauh dari kata baik dan masih sangat banyak kekurangan karena berbagai keterbatasan yang ada pada kami, baik wawasan dan pemahaman terkait regulasi maupun karena minimnya pengalaman. Namun demikian kami merasa senang dan berbesar hati melihat antusiasme dari warga dan jamaah, dimana mereka menyambut kedatangan kami dengan sangat baik. Mereka sangat care dan terbuka, menyambut dan menyediakan peralatan yang diperlukan hingga menyediakan minum dan makanan (snak ringan & berat), bahkan di beberapa tempat menyediakan nasi kotak dan nasi megono yang membuat siswa kami ceria dan bahagia. 

Ketika bertemu dengan salah satu tokoh warga di dekat Masjid Sirandu,  kami sempat berbincang sedikit menyampaikan tujuan kami. "Tujuan kita salah satunya untuk pembelajaran luar kelas, berlatih bersosialisasi dengan warga dan memberikan pengabdian kepada masyarakat, serta membangun kepedulian di masyarakat, jadi tidak cuman untuk bersih-bersihnya saja. Selain itu kami juga  membawa pesan edukasi kepada warga dan pihak masjid/mushola agar tergerak hatinya, bahwa kebersihan masjid/mushola akan lebih berasa dan hidup jika dirawat dan dibersihkan bersama-sama, bukan hanya dibebankan kepada marbot saja. Menanggapi kegiatan kebersihan ini Mas Anam yang berbincang dengan kami menyampaikan apresiasi dan suport terkait kegiatan ini, "ini sangat bagus dan baru kali ini ditemui kegiatan semacam ini"

Alhamdulillah sebagai ungkapan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan ini. Apresiasi untuk Bu Ida, Pak Fauzi, Bu Isti, Pak Dwi, Bu Kesi, Bu Rini, Bu Tatik, Bu Yuli, Bu Yani, Pak Agus, Pak Arif, Bu Tami, Bu Rizki sebagai personil yang terlibat langsung mendampingi dan membersamai anak-anak di lokasi kegiatan. Sebagai penutup tulisan ini, kami atas nama Kepala Sekolah, Tim Proyek P5 Spero, Dewan Guru/Karyawan dan siswa-siswi SMP Negeri 2 Kepil menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada semua yang terlibat dan mensuport kegiatan ini. Saran dan masukan akan kami terima dengan tangan terbuka untuk perbaikan di kegiatan berikutnya. Selanjutnya pasti terdapat banyak kesalahan dan kekurangan kami, untuk itu kami mohon maaf yang setulus-tulusnya. Semoga kegiatan sederhana ini bermanfaat bagi siswa, sekolah dan masyarakat.

Berikut beberapa foto kegiatan yang dilakukan dalam Puncak Acara P5, Gelar Aksi BBM, Bersih-Bersih Masjid dan Mushola. Selamat beraktifitas, selamat berkarya, semoga sukses selalu.







Adapun rangkaian foto kegiatan secara lengkap dapat dilihat, dipilih dan di download dengan cara klik pada link di bawah ini. Monggo dipersilahkan ...

Link Download ==>> FOTO AKSI BBM

Sabtu, 01 Oktober 2022

Upacara Kesaktian Pancasila And Say Good Bye Mr. Edi

Hari ini Sabtu 1 Oktober 2022 adalah hari yang spesial bagi SMPN 2 Kepil khususnya. Sebelum dilaksanan kegiatan PTS, terlebih dahulu dilaksanakan beberapa rangkaian acara yang disusun oleh bagian kesiswaan. Yang pertama kali adalah dilaksanakannya upacara hari Kesaktian Pancasila, dimana intinya sebagai bentuk syukur dan pembelajaran kepada semua warga masyarakat dalam upaya menjaga keutuhan Pancasila sebagai dasar negara di negeri ini. Upacara dilaksanakan dengan khidmat, bertindak sebagai pembina upacara Ibu Fajar Fatimah Winarti, S.Pd., M.Or. dan petugas upacara oleh pengurus OSIS. Upacara ini menjadi spesial karena pada ini sekaligus hari perpisahan dengan salah satu guru senior di sekolah ini Bapak Edi Wineto, S.Pd., yang mulai hari ini memasuki masa pensiun, menyusul Pak Widodo, S.Pd. yang juga memasuki masa pensiun dua bulan yang lalu. 

Dua bulan yang lalu, tepatnya tanggal 1 Agustus 2022 Bapak Widodo, S.Pd, yang mengajar mata pelajaran muatan lokal Bahasa Jawa menyampaikan kata pamitan di halaman sekolah kepada seluruh warga sekolah. Hari ini, tepat 1 Oktober 2022 hal yang sama dilakukan juga oleh Bapak Edi Wineto, S.Pd. yang mengajar mata pelajaran Bahasa Inggris. Setelah upacara selesai semua siswa dan guru bersalaman dengan Pak Edi sebagai tanda perpisahan dan memberi ucapan selamat karena telah berhasil menyelesaikan tugas dengan baik hingga pensiun. Segenap warga sekolah yang terdiri dari kepala sekolah, dewan guru, staf dan siswa merasa sangat kehilangan sosok guru senior yang menjadi panutan dan suri tauladan. 

Selain acara perpisahan, dalam rangkaian upacara ini juga dilaksanakan penyerahan/pemasangan Pin Penghargaan  kepada empat siswa yang ikut aktif dalam kegiatan Dian Pinru (Kegiatan pelatihan  dalam Pramuka). Penyematan PIN dilakukan oleh Kamabigus (Ketua Majelis Pembimbing Gugus Depan SMPN 2 Kepil yang tidak lain adalah kepala sekolah. Keempat siswa tersebut adalah, Najwa, Anggun, Galang dan Sapaya. Suport dan motivasi disampaikan kepada keempat siswa tersebut untuk bisa menjadi contoh dan mengajak teman-teman di sekolah untuk lebih aktif dalam semua kegiatan sekolah, khususnya Pramuka.

Sebagai pelengkap paparan yang singkat ini pembaca dapat melihat rangkaian foto kegiatan pada hari ini, untuk selanjutnya bisa memilih untuk langsung mendownload ke perangkat masing-masing. Silahkan klik LINK di bawah ini untuk menyaksikan gambar selengkapnya.

Lihat/Download >> LINK FOTO KESAKTIAN

Selamat beraktifitas, selamat berkarya, semoga sukses.

Jumat, 16 September 2022

Partisipasi SMPN 2 Kepil - Merti Desa Randusari, Download Foto

Dari aplikasi Google Map terpantau kemacetan yang panjang di depan SMP Negeri 2 Kepil. Jalan utama dari Salaman - Manglong - Kajoran - Kepil - Sapuran terpantau macet di desa Randusari. Sebenarnya sudah diumumkan di media sosial, juga sudah dipasang rambu peringatan tentang kemacetan, tetapi tidak sedikit yang memaksakan diri untuk melewati jalur tersebut, akhirnya kemacetan tidak bisa dihindari. Nampak puluhan kendaraan roda empat dan ratusan kendaraan roda dua berjalan sangat lambat dan nyaris tidak berjalan sama sekali di sepanjang jalan yang melintasi desa Randusari.

Situasi kemeriahan dalam kemacetan itu sangat terasa mulai dari depan SMP Negeri 2 Kepil hingga di penghujung barat pasar Sirandu. Kemacetan panjang dan berlangsung cukup lama itu terjadi pada hari ini, Sabtu 17 September 2022 karena bertepatan dengan digelarnya acara Pesta Rakyat dan Karnaval dalam rangka Merti Desa Randusari. Ribuan warga tumpah ruah menyaksikan Karnaval / Kirab yang ditampilkan oleh hampir setiap elemen masyarakat yang ada di desa Randusari. Setiap RT atau RW di tiap dusun membentuk kelompok yang menampilkan cirikhas dan keunggulan yang dimiliki, tambah semarak dengan ditampilkan arak-arakan patung, kendaraan hias serta pasukan senibudaya. Tidak ketinggalan instansi pemerintah atau swasta ikut berpartisipasi meramaikan kegiatan Karnaval ini, termasuk juga SMP Negeri 2 Kepil.

Pasukan dari SMP Negeri 2 Kepil mendapat tugas sebagai pasukan pembawa bendera. Sebanyak 300-an siswa ikut terlibat dalam kegiatan ini, dimulai dari pasukan paskibra di bagian paling depan yang diikuti pasukan seni budaya di belakangnya. Kemudian disusul pasukan Pramuka, Profesi dan berbagai pakaian adat yang diperankan oleh siswa-siswi SMP Negeri 2 Kepil. Kegiatan berlangsung sangat meriah, acara itu dijadwalkan dimulai dari jam 10.00, tetapi sudah sangat macet dan ramai sedari sekitar jam 09.00 pagi. Berikut rangkaian kegiatan yang dapat kami abadikan dengan kamera sekolah, bagi yang ingin melihat atau mendownload langsung dapat meng-KLIK link di bawah ini.

LIHAT / DOWNLOAD FOTO

Kamis, 01 September 2022

Oase -13 : Merdeka Mengajar di Masa Merdeka Belajar, Perjuangan Guru

Kegiatan penanda-tanganan kesepakatan Anti Perundungan dilaksanakan oleh seluruh warga  SMPN 2 Kepil pada hari Senin, 29 Agustus 2022. Sungguh miris rasanya mendengar cerita perundungan/pembullyian murid kepada gurunya. Kami bisa mengerti dan memahami bagaimana berkecamuknya rasa dalam hati teman-teman guru yang diperlakukan sangat tidak sopan seperti itu. Oleh karena itu kami mohon ijin menuliskan  hal ini menjadi artikel bebas bertema Oase, Perjuangan Guru dalam Era Merdeka Mengajar Di Masa Merdeka Belajar. Kata "merdeka" yang dulu sangat kuat pengaruhnya dalam memotivasi perjuangan, kini banyak disalahgunakan oleh banyak pihak. Sebagian memahami merdeka berarti bebas sebebas-bebasnya, bebas berkata apa saja, bebas melakukan apa saja dan bebas berbuat apa saja tanpa memperdulikan aturan dan norma yang ada. Tak ayal banyak terjadi penyimpangan dalam kehidupan, tak terkecuali di dunia pendidikan. Maka sudah sangat tepat jika pemerintah menggalakkan kesepakatan menolak pembullyian, perundungan dan juga kekerasan seksual di sekolah. Korban perundungan atau pembullyian bukan saja menimpa mereka yang lemah, tetapi bisa juga mereka yang kuat. Bahkan yang lebih parah ketika perundungan bukan hanya antar murid tetapi dilakukan oleh murid kepada guru yang seharusnya sangat dihormati oleh murid-muridnya.

Guru itu manusia biasa yang punya hati yang bisa emosi. Saat sekolah dulu, mungkin kita pernah mendapati guru yang terlihat sedih atau murung, dan kita tidak berani bertanya ada apa, apa yang terjadi, apa penyebabnya. Jika pembaca kebetulan keluarga guru atau punya teman dekat seorang guru, maka sedikit banyak pasti tahu bagaimana sejatinya kehidupan seorang guru, apalagi jika pembaca ternyata seorang guru. Bagaimana kehidupan dan kepribadian guru sesungguhnya bisa diintip aktifitasnya di ruang guru. Di sana akan ditemui berbagai macam karakter guru, ada menikmati rehat dengan santai, bercanda tawa atau berakting lucu, tetapi ada juga masih serius dengan pekerjaannya, ada lagi yang hobi bercerita banyak hal seakan tahu semua seluk kehidupan, tetapi ada juga guru yang sangat pendiam dan enggan bersuara, sementara itu ada juga yang suka mengeluh seakan orang paling susah, tetapi ada juga yang adem-ayem seakan tak pernah punya masalah. Inilah uniknya guru, dibalik penampilan prima, mereka tetaplah manusia biasa yang tak lepas dari masalah, bisa sedih, galau, jengkel, marah atau kecewa.

Lanjut, terkait marah atau kecewa pernahkah pada masa sekolah dulu membuat guru marah, kecewa atau bersikap tidak hormat. Sungguh, sikap tidak hormat kepada guru adalah sikap tercela seorang murid. Merasa tidak dihormati, tidak dihargai dan diremehkan adalah hal paling menyakitkan hati guru, dimana guru merasa seakan dihina oleh muridnya. Berkaitan dengan tema kali ini kita akan sedikit belajar dari seorang teman yang bernama Pak Qomar (nama samaran). Pak Qomar menceritakan secara khusus kepada kami untuk dijadikan inspirasi, diawali dari peristiwa yang dialaminya saat ia duduk di kelas III-A1 SMA swasta di Yogyakarta, sekitar 30 tahun yang lalu. Ia merasa bersalah karena ikut-ikutan mendemo salah satu gurunya yang tidak berkenan masuk di kelasnya karena sesuatu hal, dan kejadian itu justru membuat gurunya marah dan merasa dipermalukan. Sebenarnya ia dan teman-temannya satu kelas sudah meminta maaf kepada beliau (Pak Agus, Guru B. Indonesia), tetapi ia tetap merasa bersalah dan merasa sangat menyesal. Kami bisa merasakan betapa hancur perasaannya, betapa sakit hatinya dan pastinya menjadi peristiwa yang sulit dilupakan.

Cerita berlanjut, Qodarulloh setelah sekitar 12 tahun berlalu kejadian yang sama terulang, tetapi saat itu Pak Qomar adalah guru yang diperlakukan tidak hormat oleh salah satu muridnya di SMK. Sang murid spesial ini berinisial N, nama yang masih saja melekat dalam ingatannya walau ia telah memaafkannya.  Masih terbayang saat murid itu meremehkan, merendahkan dan menghinakan dirinya dihadapan sekitar 30-an murid lainnya. Mungkin anak itu merasa lebih kaya karena anak dari seorang  juragan/peternak ayam petelur yang sukses. Pak Qomar muda yang pernah memegang Ban Hitam Karate itu serasa mendidih darahnya ketika dipermalukan oleh muridnya sendiri. Alhamdulillah, ia bersyukur masih bisa menahan dan mengendalikan emosinya. Tidak terbayang apa yang akan terjadi jika guru muda itu emosi, kiranya cukup dengan 2-3 jurus maka murid itu akan tersungkur berkalang tanah. Ia merenung, beristighfar dan menyesalkan mengapa ini harus terjadi. Ia hanya diam,  dan peristiwa ini belum ia ceritakan kepada siapapun sebelumnya. Ia sempat down dan malu, percaya diri menurun. Katanya, ternyata berat menjadi guru. 

Mengeluh, Ternyata Berat Menjadi Guru

Ternyata memang berat menjadi guru, pekerjaannya banyak, bermacam-macam, berkelanjutan hingga terkadang harus dibawa pulang. Membuat RPP, menyiapkan materi ajar, masuk kelas untuk mengajar, melakukan tes, mengolah nilai dan masih mengerjakan administasi lainnya. Belum lagi jika ada kelas yang susah diatur, butuh energi dan mental ekstra dimana hal itu adalah beban tersendiri, terlebih lagi jika ada murid yang bersikap meremehkan atau berani pada guru seperti pada cerita di atas. Hal begini mungkin tidak terjadi pada sekolah bonafid, sekolah pavorit atau sekolah besar yang berada di kota, yang semuanya sudah terseleksi dan terkondisi dengan baik. Sangat berbeda dengan sekolah kecil di kampung yang level kualitasnya masih di bawah, yang lingkungan kurang kondusif. Di sekolah kecil seperti ini beratnya beban yang dipikul guru sangat terasa, sudah gajinya tak seberapa tidak sebanding dengan besarnya tanggung jawab. Terasa lebih berat lagi apa yang dialami Pak Qomar di atas, muridnya yang waktu itu hanya membayar 150 rupiah untuk 1 jam pelajaran, berani melakukan tindakan keji, tidak berakhlak dan tidak beradab kepada guru yang seharusnya dihormati. Hal-hal seperti inilah yang bisa merusak keikhlasan, menyemai penyesalan, menabur kegalauan hingga menyuburkan iklim bagi guru untuk mengeluhkan keadaan. 

Guru mengeluhkan keadaan sebenarnya bukanlah hal baru, bukan pula hal yang tabu. Mengeluh atau bahasa jawanya ngudoroso adalah hal biasa. Kenyataan seperti ini nyatanya ada di kehidupan guru, mungkin saja sedang ada masalah di sekolah atau di rumah. Hanya saja diantara satu dengan yang lainnya berbeda-beda dalam menyikapi masalahnya. Ada yang mampu menyimpan dengan rapi seakan tidak punya masalah dan tidak pernah mengeluh seakan tidak punya beban sama sekali, tetapi ada juga yang hingga dijuluki tukang mengeluh saking seringnya mengeluh. Tapi kiranya perlu direnungkan jika menghadapi kemungkinan adanya pertanyaan terkait hal guru mengeluh, bolehkah? wangunkah? dan adakah? Pertama, bolehkah guru mengeluh, ya pastinya boleh dan sah-sah saja jika guru mengeluh. Kedua, wangunkah guru mengeluh, ya wangun saja, karena itu manusiawi. Ketiga, adakah guru yang mengeluh, ya tentu saja ada, tidak hanya satu dua, banyak malah. Mungkin fenomena ini sesuai dengan ungkapan "mengeluh membuat perasaan menjadi lega dan plong". Bermacam-macam hal yang menjadi bahan keluhan, mulai dari mengeluhkan tubuh yang capek, mengeluh sakit, mengeluh keuangan, mengeluh keluarga (anak, pasangan atau orangtua), mengeluhkan kondisi alam, mengeluhkan pekerjaan, hingga mengeluhkan beratnya perjalanan. 

Mengeluhkan beratnya perjalanan, inilah yang kami rasakan sebagai guru yang rumahnya paling jauh, jarak tempuh 100 km tiap hari, menyeberang 197 sungai (meliputi sungai besar/kecil, selokan dan got), melintasi 9 kecamatan, 3 kabupaten dan 2 propinsi. Membutuhkan 60-90 menit sekali jalan dengan kecepatan yang tergantung dengan kondisi perjalanan, kondiri kendaraan dan kondisi kesehatan. Jika kondisi normal maka walau jaraknya jauh terasa biasa, tetapi jika kondisi hujan maka akan berbeda ceritanya, dan berbeda lagi jika kondisi ngantuk saat berkendara (hampir setiap hari saat pulang), dan menjadi lebih berat lagi jika kondisi tubuh sedang sakit. Inilah resiko guru pelaju, sakit tidak diakomodir oleh aplikasi Presensi Android berbasis lokasi, harus hadir bersama Androidnya di lokasi bekerja bagaimanapun kondisinya. Itulah yang pernah kami alami ketika Qodarulloh diberi anugerah sakit, dalam kondisi tubuh lemah tetap berangkat karena tidak ingin dicatat membolos (tidak presensi). Suatu saat kondisi tubuh benar-benar tidak mampu lagi untuk dipaksakan untuk berdiri dan naik motor  ke sekolah maka bolos (tidak presensi) menjadi pilihan terakhir (sudah 2 kali bolos). Saat seperti ini kadang muncul perasaan seakan kami adalah guru yang paling susah, paling menderita, paling sengsara, paling berat sehingga paling berhak mengeluh. 

Merasa paling berhak, itulah rasa yang menjebak hati kita, seakan kita satu-satunya, seakan tidak ada orang lain yang juga menderita, padahal di luar sana masih banyak orang lain (guru) mengalami hal serupa, bahkan bisa jadi lebih susah dan perjuangannya lebih berat. Seperti ibu guru SD yang pernah kami tuliskan di edisi terdahulu, ia harus sudah bersiap sejak sebelum subuh, lalu naik motor menuju penitipan sepeda, lanjut menunggu untuk naik bis, turun dari bis masih harus naik ojek ke SD yang berada di lereng gunung di Temanggung. Hal itu dilakukan tiap hari, bertahun-tahun dan itu dijalani dengan baik. Ternyata yang bisa menjadi masalah seseorang ada banyak hal, tidak saja tentang jauh dekatnya perjalanan. Yang rumahnya tidak sejauh kami, bahkan mungkin kurang dari 5 kilometer bukan berarti tanpa masalah, ada saja ujian kesulitan yang menjadi masalah kehidupan. Ada yang diberi sakit, ada yang diberi kesulitan ekonomi akibat bunga yang berbunga, ada juga yang terkait keluarga (anak, pasangan atau orangtua) dan masih banyak lagi. Saat diberikan masalah atau kesulitan, yang perlu diyakini bahwa kita bukanlah satu-satunya orang yang menderita.

Sungguh, kita bukan satu-satunya orang yang menderita, sebagai guru kita tak usah mencari jauh-jauh, coba perhatikan murid-murid kita. Lihat baju, celana/rok, dan sepatu mereka, maka kita akan mengelus dada manakala melihat sepatu yang robek, kumal atau bahkan ujungnya terbuka seperti mulut buaya. Orangtuanya bukan tidak tahu atau tidak mau membelikan, tetapi tidak tau harus bagaimana lagi, hanya sebatas berkata "besok ya jika sudah ada rejeki". Lebih detil lagi jika silaturahmi ke rumahnya (home visit) maka air mata akan mengalir menyaksikan kondisi rumahnya, dimana kamar tamu, kamar tidur dan dapur tanpa sekat berkumpul menjadi satu. Makanan dan pakaian yang penting ada, memang mau menuntut kepada siapa. Jangankan minta dibelikan sepatu, sekedar mau cerita bahwa pensilnya hanya tinggal 2 senti saja sang anak tidak sampai hati. Itulah kenyataan yang ada di sekeliling kita, banyak orang di luar sana yang tidak sedang baik-baik saja. 

Kami tidak akan menuliskan kesimpulan apapun sebagai penutup karena pada dasarnya tulisan ini hanyalah motivasi untuk diri sendiri. Hakekatnya setiap manusia diberikan ujian, ada yang terlihat ringan, ada yang terasa sangat berat, ada yang berulang-ulang dan terkadang datang silih berganti. Sayangnya, datang silih bergantinya ujian membuat seseorang melupakan karunia Alloh yang lain yang sangat banyak, yang bahkan tak terhitung jumlahnya. "Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, Allah benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS An-Nahl : 18).  Dan satu hal yang membuat tidak sadar betapa banyaknya nikmat Alloh adalah karena kurangnya rasa syukur. “Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhoi; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.” (QS An-Naml: 19). Dari dua ayat Al-Quran tersebut cukuplah menjadi hujah bahwa tidak ada yang lebih baik dan lebih utama dari bersyukur. 

Bersyukur, hanya itu yang dapat kami (penulis) sampaikan. Bagaimana tidak bersyukur, jika kami yang hanya anak dari petani dan buruh serabutan, yang saat SD-nya tukang mencari rumput dan kayu bakar, yang saat SMP-nya ikut menjadi buruh cangkul dan gali sumur, dan yang saat SMA-nya masih kembali merumput, buruh cangkul dan juga buruh bangunan, akhirnya bisa menyelesaikan kuliah walau sambil terus merumput dan jadi kuli bangunan di saat libur. Bagaimana tidak bersyukur, kami yang sehari setelah wisuda langsung mau diajak bekerja di perumahan elit Tionghoa dengan pangkat  LETU (laden tukang), yang tak lain pembantu tukang, mengaduk semen, membawa material itu - akhirnya diterima bekerja sebagai guru, bagaimana kami tidak bersyukur. Mari kita terus bersyukur, dalam situasi yang sudah merdeka ini kita tetap dituntut harus berjuang, berjuang menjadi pendidik yang berusaha untuk bisa memberi motivasi anak-anak menuju sukses di masa depan, insyaAlloh.

Jumat, 19 Agustus 2022

Upacara HUT RI Ke 77, Pulih Lebih Cepat, Bangkit Lebih Kuat

Segenap warga sekolah yang terdiri 30-an guru, 5 karyawan dan 320 an siswa hadir dan mengikuti upacara peringatan HUT RI ke 77 di halaman upacara SMP Negeri 2 Kepil. Dalam upacara itu  yang bertindak selaku pembina upacara adalah Ibu Ruti Sumarni, M.Pd. dan pembaca teks Proklamasi Bapak Edi Wineto, S.Pd. dan petugas upacara semuanya diambil dari pengurus OSIS. Guru dan karyawan mengenakan pakaian Korpri, siswa mengenakan seragam OSIS lengkap dan petugas upacara mengenakan setelan putih dan selempang petugas upacara membuat kegiatan upacara pagi itu terasa begitu khidmat.

Peringatan HUT Kemerdekaan RI di tahun 2022 (HUT RI ke 77) ini terasa lebih semangat, lebih semarak dan lebih hikmat karena dilaksanakan secara langsung di halaman sekolah dan diikuti oelh semua siswa, guru dan karyawan. Hal ini sangat berbeda dengan peringatan dua tahun sebelumnya, dimana pada tahun 2020 dan 2021 dilaksanakan secara virtual (daring) dalam rangka social distancing (menjaga jarak) dan menghindari kerumunan karena masih dalam situasi Pandemi Covid-19. Akibatnya peringatan HUT RI pada dua tahun itu rasanya sepi, tidak ada pesta, tidak ada lomba-lomba, tidak nampak adanya kemeriahan yang penuh gegap gempita. 

Upacara peringatan HUT RI sangat penting untuk dilaksanakan oleh segenap warga negara, salah satu tujuannya untuk mengingat, mengenang dan menghargai betapa berharganya hari bersejarah itu bagi kedaulatan bangsa Indonesia. Hari ini 77 tahun lalu, tepatnya 17 Agustus 1945, dengan segala daya upaya Indonesia berusaha memproklamasikan kemerdekaannya. Ada banyak rangkaian perjuangan dan pengorbanan yang tidak terhitung besarnya, baik tenaga, waktu, harta, darah, air mata hingga nyawa. Banyak pejuang yang gugur di medan pertempuran dalam membela, merebut dan memperjuangan kemerdekaan negara Indonesia. Oleh karena itu, pemerintah merasa perlu memberikan amanat terkait pentingnya peringatan HUT RI. 

Upacara peringatan HUT RI sangat dianjurkan bagi seluruh elemen bangsa, dilaksanakan setahun sekali setiap tanggal 17 Agustus. Oleh karena itu setiap kantor, instansi, lembaga, perusahaan dan organisasi melaksanakannya setiap tahun, yang diikuti oleh seluruh warga negara, mulai dari pejabat di pemerintah pusat / daerah, TNI / Polri, pegawai negeri / swasta, dan semua jenis pekerjaan yang ada di seluruh penjuru nusantara. Hakekat dari peringatan ini adalah untuk pembelajaran baik bagi orang tua, remaja dan khususnya anak-anak agar bisa memahami dan menghormati jasa para pejuang kemerdekaan yang harapannya  menjadi warga negara yang berkarakter. Salah satu karakter itu kini  telah terbentuk menjadi kebiasaan yang sangat baik dalam Budaya Warga Jogja yang dilaksanakan setiap hari tepat pada jam 10.00 pagi (pengalaman penulis saat di mengurus perpanjangan SIM di Polres Sleman). Semua aktifitas di kantor dihentikan, selanjutnya semua orang (pejabat, petugas, pelayan dan warga) berdiri ikut menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Hal ini sangat sesuai dengan anjuran dari pemerintah, "Hentikan semua kegiatan dan aktivitas selama 3 menit saja, ambil sikap sempurna dan berdiri tegak untuk menghormati Peringatan Detik Detik Proklamasi". 

Upaya pembinaan karakter kebangsaan itulah yang sering disampaikan oleh Ibu Fajar Fatimah Winarti, S.Pd., M.Or. selaku kepala SMPN 2 Kepil dalam beberapa kesempatan, saat upacara bendera yang rutin dilaksanakan setiap hari Senin atau saat breefing di ruang guru. Sebagai warga negara Indonesia, adanya nasionalisme, patriotisme dan cinta tanah air menjadi mutlak diperlukan untuk mempertahankan keutuhan negeri yang sudah 77 tahun merdeka ini. Rasa itulah yang akan menjadi pondasi dan kekuatan lapis paling bawah bagi negara untuk bisa mewujudkan persatuan dan kesatuan, yang jika tidak diantisipasi akan terus terjadi perubahan yang semakin hari semakin luntur dan berkurang. Apalagi jika dihubungkan dengan perubahan kehidupan masyarakat yang terjadi akibat adanya pandemi Covid-19, dimana pribadi satu dengan yang lain harus menjaga jarak, hal ini mau tidak mau akan merubah semua pola tata kehidupan manusia dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. 

Dibawah ini kami sediakan LINK FOTO untuk menanggapi banyaknya permintaan foto hasil dokumentasi pada saat dilaksanakan upacara dan lomba terkait dengan peringatan 17-an, berikut beberapa gambar yang mewakili aktifitas Upacara HUT RI ke-77 yang diikuti segenap siswa, guru dan pegawai SMPN 2 Kepil. 
Kemudian kami tambahkan sekaligus link foto dokumentasi acara lomba yang dilaksanakan pada hari-hari berikutnya.

Berikut Link Foto Upacara HUT RI ke 77 dan Kegiatan Lomba 17-an. Untuk melihat atau mendowload langsung, silahkan klik link di bawah ini.