text

Selamat Datang di Blog SMP N 2 Kepil Wonosobo ... Sekolah SEJUTA IMPIAN, ... Awali Suksesmu Dari Sini ... Mulailah segala sesuatu dengan BISMILLAH ...

Sabtu, 12 Maret 2016

Pelatihan Pengisian SPT Guru dan Karyawan SMPN 2 Kepil

Berhubung sudah memasuki tahun 2016 maka diingatkan kepada seluruh wajib pajak untuk melaporkan Surat Pemberitahuan ( SPT ) Tahunan untuk tahun pajak 2015 paling lambat 31 Maret 2016 untuk wajib pajak orang pribadi dan 30 April 2016 untuk wajib pajak badan. Agar Tidak terjadi Kesalahan Pelaporan, Wajib Pajak Orang Pribadi harus mengetahui Formulir SPT Tahunan orang pribadi mana yang harus dipakai untuk pelaporan SPT tahunan 2016 untuk tahun pajak 2015. Pelaporan pajak atau SPT tahunan orang pribadi dapat dilakukan dengan datang langsung ke kantor pelayanan pajak terdekat , mengirimkan via kantor pos, JNE atau TIKI , atau pelaporan dapat dilakukan secara online melalui DJPOnline di menu e-filing.

Oleh karena itu guru dan karyawan SMPN 2 Kepil merasa perlu untuk mengadakan pelatihan cara pengisian SPT Tahunan. Sabtu, 12 Maret 2016, siang hari pukul 11.30 WIB selepas kegiatan ulangan tengah semester para guru dan karyawan nampak sibuk dan serius  di depan laptop masing-masing mengikuti kegiatan pelatihan pengisian SPT  Tahunan.  Kegiatan pelatihan pengisian SPT Tahunan dengan sistem on-line untuk Pajak 2015 bagi guru dan karyawan SMP Negeri 2 Kepil ini merupakan pelatihan yang pertama pengisian SPT yang pertama kali. Kegiatan dilaksanakan di Laboratorium Komputer SMP Negeri 2 Kepil dengan pemandu Bapak Suronto – staf Tata Usaha yang cukup piawai dalam bidang IT dan telah mendapat pelatihan terkait dengan pengisian SPT pajak dengan aplikasi on-line ini. Untuk kegiatan pelatihan yang bersifat on-line ini telah disiapkan laboratorium dengan bandwidth khusus (jalur paket data) sebesar 2 mbps, sehingga akses internet terasa sangat cepat dan lancar,. Para peserta pelatihan adalah guru atau karyawan yang telah mendapatkan nomor EFIN dari kantor pajak setelah sebelumnya mendaftarkan diri secara kolektif dengan mengisi blangko pendaftaran disertai foto copy KTP dan foto copy kartu NPWP.

Apa itu EFIN, efin adalah kepanjangannya dari Electronic Filing Identification Number. Sebuah kombinasi angka dan huruf yang unik, yah semacam kode akses yang berbeda bagi setiap wajib pajak sehingga dijamin hanya Anda yang punya dan data transaksi elektronik tidak akan tertukar dengan wajib pajak yang lain. Setelah memiliki nomor EFIN, maka peserta (wajib pajak) di bimbing untuk membuka website aplikasi pajak on-line dengan alamat http://www.djponline.pajak.go.id. Langkah awal setelah membuka alamat website tersebut adalah melakukan registrasi berdasarkan NPWP dan Nomor EFIN masing-masing. Sebelum melakukan langkah registrasi, lebih dianjurkan untuk setiap wajib pajak sebaiknya lebih dahulu membuka  email masing-masing untuk memastikan bahwa email masih aktif dan bisa login (masuk) dengan baik, karena nantinya kode aktivasi setelah proses registrasi akan dikirimkan melalui email yang digunakan pada saat registrasi awal.

Setelah yakin email aktif dan bisa dibuka, maka peserta melakukan registrasi dengan klik menu register, selanjutnya akan muncul jendela aplikasi pendaftaran, masukkan data nama, NPWP, alamat email dan no HP / telepon. Setelah semua isian lengkap termasuk kode keamanan dan klik kirim, maka akan ada pemberitahuan berupa status pengiriman dan perintah untuk membuka kode aktivasi melalui alamat email. Buka email untuk melakukan aktivasi dengan cara klik link aktivasi yang tersedia pada email masing-masing, bila berhasil akan ada pemberitahuan sukses dan anjuran untuk login ke website djponline untuk memulai pelaporan SPT Tahunan masing-masing.

Secara garis besar wajib pajak dibagi menjadi dua yaitu yang penghasilan di bawah 60 juta setahun dan yang lebih dari 60 juta setahun. Untuk wajib pajak dengan penghasilan kurang dari 60 juta oleh sistem (server) akan diarahkan untuk membuka form pajak 1770 SS, yang merupakan aplikasi pajak kategori sangat sederhana (ss), untuk warga sekolah umunya diperuntukkan untuk guru non TPG sertifikasi dan staf tata usaha non remunerasi. Adapun bagi wajib pajak dengan penghasilan lebih dari 60 juta maka disediakan form 1770 s, dengan isian yang lebih banyak sesuai dengan penghasilan yang  jumlahnya juga banyak, ini umumnya untuk guru senior yang telah mendapatkan tambahan tunjangan penghasilan guru (TPG) yang sudah bersertifikasi.

Setiap peserta yang telah menyelesaikan rangkaian pendaftaran, pengisian dan pelaporan SPT hingga proses kirim, maka wajib pajak akan mendapatkan notifikasi (pemberitahuan) bahwa pelaporan pajak telah berhasil, pemberitahuan ini langsung bisa dilihat dan dicetak, baik dalam bentuk file pdf maupun print langsung dalam media kertas. Peserta pelatihan pengisian SPT Tahunan yang pertama kali selesai hingga status kirim dan sukses untuk kategori wajib pajak dengan penghasilan lebih dari 60 juta adalah Ibu Rini Utami, sedangkan urutan kedua adalah Bpk Bagus Panuntun untuk kategori SPT 1770 ss, namun ternyata data belum terisi lengkap sudah terlanjur dikirim. Wajib pajak yang telah menyelesaikan rangkaian pelaporan SPT, baik yang pengisian dan pelaporannya sudah lengkap atau belum masih bisa melakukan perbaikan data pelaporan.

Beberapa hal berikut yang menjadi fokus utama dari dilaksanakannya kegiatan pelatihan ini dan sangat perlu diberikan apresiasi, secara sederhana dapat diuraikan sebagai berikut;
  1. Kebersamaan, betapa dengan kebersamaan akan terasa bahwa kita berada dalam lingkungan kerja yang sama, punya tanggung jawab yang sama, maka apapun adanya sebaiknya dilakukan bersama,  senasib sepenanggungan.
  2. Merasakan belajar, betapa belajar itu tidak mudah, apalagi sesuatu yang baru dan berbau teknologi. Namun dengan belajar bersama, merelakan diri menjadi peserta maka hal yang semula dianggap sulit ternyata bisa diselesaikan secara bersama, perkara cepat atau lambat bukan masalah utama – sesuai dengan kapasitas dan kapabilitas masing-masing. Yang utama adalah kemauan untuk belajar, untuk bisa dan untuk kepentingan bersama.
  3. Melatih  jiwa besar, betapa kita bukan “superman”, betapa setiap kita memiliki kekurangan dan kelemahan yang tidak bisa diselesaikan sendiri tanpa bantuan orang lain. Untuk  bersikap jujur, lapang dada dan mengakui kelemahan dan kekurangan diri adalah bukan perkara mudah, sungguh berat bahkan teramat berat. Untuk hal tertentu bukan masalah oleh siapanya atau kedudukannya apa, namun lebih kepada kapasitas dan kapabilitasnya. Di sinilah akan muncul toleransi dan implikasinya untuk saling mengisi, saling menghargai dan saling melengkapi.
  4. Susah senang bersama, betapa indahnya bila saat senang dirasakan bersama, pun begitu saat ada kesulitan juga dipikul bersama. Akan terlihat sangat tidak harmonis, tidak manis dan tidak etis bila saat ada enaknya diborong sendiri, dinikmati sendiri, hingga menanggalkan kehormatan dan jati diri.  Sebaliknya giliran dirasa ada susahnya berlepas diri, tak mau ambil peduli dan melimpahkan beban pada orang lain. Kebersamaan dan solidaritas   dalam sebuah komunitas adalah segala-galanya. Setiap diri harus ikut andil dan ikut terlibat, tidak hanya terima bersih, tidak hanya pasrah dan membebankan pada orang lain atau dalam bahasa jerman disebut  “tidak menjagak-kan”.
Semoga kegiatan pelatihan sejenis yang sifatnya untuk kepentingan bersama bisa dilaksanakan secara kompak dengan suasana penuh kekeluargaan agar situasi dan kondisi semakin mendukung untuk mewujudkan sekolah yang maju dan unggul sejalan dengan visi dan misi yang telah dicanangkan, selamat berkarya, selamat beraktifitas semoga sukses. <39360>

Jumat, 05 Februari 2016

Oase -6: Membangun Kebersamaan Menuju Predikat Sekolah Berprestasi

Alhamdulillah, kami kembali hadir untuk memperbaharui tulisan di web sekolah yang sederhana ini. Tulisan kali ini adalah Oase-6, semoga bisa menjadi pemicu untuk bisa konsisten menulis walau dalam berbagai keterbatasan, agar rencana, proses dan evaluasi tetap bisa berjalan. Kali ini kami ingin berbagi semangat dalam menyikapi berbagai perbedaan, bahwa perbedaan yang sejatinya adalah modal untuk bisa maju dan sukses, jika mampu bersinergi dalam indahnya kebersamaan. Secara alami kita jarang untuk bisa menilai diri sendiri, berkait kompetensi dan kapasitas diri, karya dan inovasi diri, mental dan karakter diri serta berbagai hal yang berisi kelebihan dan kekurangan diri. Begitu juga yang terjadi dengan sebuah lembaga atau institusi yang merupakan kumpulan berbagai individu dengan segala kelebihan dan kekurangan masing-masing. Inilah esensi dari adanya UKG bagi guru, esensi monev bagi kepala sekolah dan esensi akreditasi bagi sekolah. Teman-teman di luar diri kita, mereka yang di luar sekolah kita dan mereka yang di institusi lain yang justru bisa membaca kita secara lebih seksama.

Suatu gambar, foto atau video bisa tampak indah, bagus dan luar biasa lebih dari aslinya bila tepat dalam metode pengambilan gambar yang meliputi posisi, sudut (angle) dan penataan cahaya. Demkian juga yang terjadi pada manusia (individu), institusi atau lembaga juga bisa nampak cantik / bagus, istimewa dan luar biasa jika yang menjadi tolok ukurnya tepat dan sesuai dengan sisi yang merupakan keunggulan dan keistimewaan yang dimiliki. Inilah kiranya yang terjadi dengan sekolah kita tercinta, SMP Negeri 2 Kepil. Di permulaan tahun 2016 baru berjalan beberapa minggu, sadar atau tidak ternyata banyak karunia yang diberikan pada diri kita, pada keluarga kita, pada pekerjaan kita dan pada sekolah kita. Mungkin banyak teman-teman guru kita yang tidak merasakan apa yang dirasakan oleh teman-teman di sekolah lain tentang sekolah kita, bahwa sekolah kita ini ternyata begitu istimewa dengan berbagai atribut istimewa yang tak dimiliki sekolah lain. Tidak disangka, bahwa sekolah pinggiran - yang sebagian orang menyebut berlokasi di NDOGLEK, Randusari Kepil bisa sehebat ini.  Berbagai prestasi dan predikat yang disandang oleh sekolah di pedesaan dan jauh dari kota ini. Apa yang hebat, apa yang luar biasa ?

Pertama, Akreditasi A, nilai A dalam status akreditasi adalah kebanggaan, prestasi dan hal yang luar biasa sebagai sekolah kecil yang jauh dari pusat kota. Perjuangan bagi sekolah untuk mendapatkan status akreditasi A bukanlah sesuatu yang mudah, ada banyak persyaratan administrasi yang harus dipenuhi. Kedua, SSN – sekolah standar nasional, betapa kita yang sekolah kecil di dusun Sirandu alias Ndoglek yang beberapa tahun lalu tak nampak selayaknya sekolah pavorit ternyata memiliki prestasi sebagai sekolah standar nasional, membuat sekolah ini setara dengan sekolah-sekolah maju yang ada di perkotaan. Di Kepil hanya ada dua sekolah saja, dan lihat berapa sekolah di Wonosobo ini yang memiliki pedikat ini. Ketiga, Kurtilas – sekolah pilot proyek percontohan peneraapan kurikulum 2013. Dengan segala keterbatasan ternyata sekolah ini ditunjuk sebagai sekolah pilot, ini bukan hanya kebetulan dan tanpa sebab. Betapa banyak sekolah yang merasa sudah besar dan merasa mampu namun tidak ditunjuk sebagai sekolah pilot K-13, hingga tak jarang muncul komentar dengan nada miring yang intinya berbunyi “kok bisa SMPN 2 Kepil ditunjuk sebagai pilot project, apa istimewanya”. Keempat, pendidikan keluarga, yah sekolah ini ditunjuk sebagai pilot project program pendidikan keluarga, yang bertujuan sebagai lembaga pendidikan yang melibatkan siswa, orang tua dan masyarakat.

Siapa yang berperan ?
Tentu saja banyak pihak yang turut membentuk sistem di sekolah ini nampak bagus walau dalam keterbatasan. Yang pertama tentu saja para pimpinan dan mantan pimpinan yang pernah mengendalikan sekolah pada beberapa waktu yang telah berlalu sangat besar peran dan kontribusinya. para pembantu pimpinan, guru dan karyawan serta seluruh murid dan masyarakat. Semua predikat dan prestasi bukanlah sebuah kebetulan saja. Sejalan dengan hukum sebab akibat, hukum kausalitas atau senada dengan peribahasa "ada api ada asap", maka semua yang diperoleh saat ini terjadi karena banyak sebab yang menjadikan sekolah kita layak mendapatkan predikat dan prestasi istimewa ini. Prestasi ini bukan hasil “sulapan” sekejap, namun pasti hasil kerja yang panjang dan tanpa pamrih dari mereka-mereka yang memiliki motivasi itnggi, etos kerja yang utama,, semangat juang serta pengorbanan yang luar biasa. Satu hal perlu dicatat dengan huruf tebal adalah bahwa "Kesuksesan sekolah ini tidak mungkin dihasilkan dari mereka yang pemalas (telat-an), mereka yang seenaknya atau semaunya sendiri (apatis), mereka yang datang dan pergi sesuka hatinya, mereka yang hanya bekerja jika terkait dengan dirinya (egois), mereka yang selalu berorientasi pada hasil uang dan tak mau rugi".

Menyikapi perbedaan.
Unsur pembentuk sistem dalam institusi adalah individu-individu dengan karakter yang bermacam-macam. Setiap individu turut andil dalam membangun kinerja dalam sebuah institusi. Mengambil hikmah dari komponen pembentuk rumah, tiang bisa dibuat dari kayu yang berbeda-beda, tentu kayu abasia berbeda dengan jati. Demikian juga untuk atap, genteng Kebumen tentu berbeda dengan genteng Salaman. Senada dengan bangunan rumah, maka fungsi manajemen dan setiap unsurnya sangat dipengaruhi oleh masing-masing individu. Di sinilah akan terlihat dengan jelas mana unsur yang bisa berpadu dengan yang tidak, yang dalam bahasa manajemen sering disebut dengan istilah intelegensi, credibility, integrity, dan loyality.  Sinergi antara satu dengan yang lain mampu membuat sebuah proses menjadi lebih bermakna dan berdaya guna. Bagaikan bangunan rumah, setiap komponen sama pentingnya dalam menyangga rumah agar kokoh berdiri. Tiang adalah penyangga utama, dialah yang menopang balok rangka atap, namun dia hanya bisa berdiri di atas pondasi yang kuat dan berkaitan erat dengan tiang lainnya, dia juga hanya dapat bertahan jika terlindung dari hujan dan terik matahari yang bisa membuatnya rapuh dan keropos. Demikian pula bagian yang lainnya mempunyai peran yang berbeda namun memiliki satu visi yang sama.

Intelegensi, kredibitas, integritas dan loyalitas adalah unsur penting dan harus ada dalam sebuah institusi (sistem manajemen). Sebagai contoh kami cuplik-kan salah satunya yaitu intelegensi, yang identik dengan kecerdasan. Adanya orang-orang.yang memiliki inteligensi yang tinggi adalah mutlak bagi sebuah institusi untuk bisa maju lebih cepat. Orang yang memiliki inteligensi tinggi mampu berfikir dan berbuat "seakan" menembus ruang dan waktu, mampu melakukan sesuatu yang tidak dilakukan orang kebanyakan, sehingga sebuah institusi bisa melakukan akselerasi berlari dengan kecepatan yang lebih tinggi. Namun demikian faktor intelegensi bukanlah segala-galanya,  artinya orang dengan inteligensi tinggi tidak selalu baik jika dia tidak didukung dengan lingkungan yang baik, apalagi jika tidak dilengkapi dengan tiga unsur lainnya. Pembahasan tentang Inteligensi apa saja yang menopang kemajuan sebuah sistem dan berapa jumlah minimal dibutuhkan untuk bisa membawa sebuah institusi mampu ber-akselerasi, serta tiga unsur lainnya - secara lebih rinci - akan kami tuliskan pada kesempatan lain dalam tema khusus terkait materi ini.

Untuk mengakhiri tulisan ini kami mengajak kita semua untuk mensyukuri anugerah besar yang telah kita terima di sekolah tercinta ini, untuk merasa bangga dan percaya diri bahwa ternyata kita mampu berbuat sesuatu yang baik dan membawa kesuksesan bersama. Mari secara bersama-sama kita jaga amanah yang telah diberikan kepada kita. Tak perlu berebut untuk mendapat pengakuan siapa yang paling berperan, siapa yang paling hebat, karena tidak bisa hebat sendiri dalam sebuah sistem. Hal lain yang perlu dijaga adalah tidak merasa ekslusif (khusus) sehingga semua serba khusus. Rasa hebat, rasa ekslusif dan rasa besar akan merusak kebersamaan, dan rasa inilah yang banyak menyebabkan masalah, Tiga hal yang merupakan pangkal keburukan, yaitu : 1) sombong, 2) hasad dan 3) bakhil. Tetap rendah hati, ikhlas dan mudah berbagi adalah hal kebalikannya yang akan membawa kebaikan, kedamaian dan kebersamaan dalam kesuksesan.

Ikhlas adalah salah satu kuncinya, namun sifat ikhlas adalah barang yang langka saat ini, betapa banyak orang yang sudah sukses, pekerjaan dan posisi mapan, gaji dan tunjangan yang lebih dari cukup namun rasa ikhlasnya telah menjauh atau bahkan telah tiada. Sebagai pembanding, lihat mereka yang jalan hidupnya masih penuh perjuangan, harus berjuang untuk bisa bekerja, berjuang untuk bisa makan, berjuang untuk pantas bermasyarakat dan untuk bisa turut membantu sesama, hanya ikhlas yang mereka punya. Mari kita kuatkan diri untuk selalu memperbaiki kualitas diri, memperbaharui motivasi dan menambahkan semangat untuk mengabdi mendidik murid kita dengan profesioanl dan penuh dedikasi, dengan segenap perhatian dan sepenuh hati. Semoga niat tulus kita, tugas mulia kita dan semua hasil kerja kita menjadi amal kebaikan yang akan bermanfaat bagi sebanyak-banyaknya manusia, amin. Selamat beraktifitas, semoga sukses. <38700>

Sabtu, 30 Januari 2016

Berharap TIK Menjadi Mapel - Kembali Masuk Kurikulum

Syukur Alhamdulillah, web ini sedikit demi sedikit terus bangkit untuk berbagi informasi, berbagi wawasan dan pengetahuan - walau hanya sekedarnya, hanya yang kami bisa. Sungguh, memang berat untuk konsisten membuat sebuah tulisan, namun semua memang harus dicoba dilakukan untuk bisa berkarya. Sedikit banyak hal ini mampu membuat web sekolah ini menjadi web/blog teraktif (terkenal) di Wonosobo dan membuat SMPN 2 Kepil, salah satu SMP yang berada di lereng gunung Sumbing, Kepil, Wonosobo, Jawa Tengah menjadi dikenal di nusantara. Kami juga ikut mencoba membuat tulisan di web www.kompasiana.com - web yang sudah terkenal di kalangan para penulis senior. Tulisan yang kami tulis di bawah ini merupakan tulisan pertama saya di web kompasiana.com, sekedar upaya mencoba melebarkan sayap untuk berbagi ke wilayah yang lebih luas - nusantara, berikut link lengkapnya http:///www.kompasiana.com/abukhonsa 

Semenjak penerapan Kurikulum 2013 (K-13) mata pelajaran TIK hilang entah kemana, khususnya sekolah yang ditunjuk sebagai sekolah pilot (percontohan). Berbagai pernyataan dan komentar muncul dari berbagai kalangan mulai pejabat pemerintah, pegawai instansi, aktivis organisasi, tokoh pendidikan, tokoh masyarakat, pemerhati pendidikan hingga masyarakat umum. Latar belakang yang berbeda-beda melahirkan pernyataan yang berbeda-beda pula. Pemerintah berharap hilangnya mapel TIK dan KKPI dari kurikulum sekolah menengah sudah tidak menjadi polemik. Pemerintah dalam hal ini kemendikbud beranggapan bahwa yang menjadi polemik telah terselesaikan dengan baik. Pertama, hilangnya mapel TIK karena TIK melebur ke dalam semua mata pelajaran, dengan harapan semua guru harus menguasai TIK. Kedua, peran guru TIK tidak hilang namun lebih dimaksimalkan dengan menjadi pembimbing bagi siswa, guru dan tenaga kependidikan.

Saya sebagai guru TIK di sekolah berkurikulum K-13 benar-benar dapat merasakan dampak hilangnya TIK sebagai mapel. Sebagai guru TIK yang dialihfungsikan menjadi guru Prakarya adalah hal baru dan sangat berbeda, walau dijalani namun rasanya tanpa penjiwaan. Baru pada awal tahun ke-3 TIK mulai menampakkan sungutnya dengan judul baru “bimbingan TIK”. Saat hari pertama masuk kelas IX dengan materi bimbingan TIK, saat itu pula saya menyadari betapa TIK menjadi sesuatu yang sangat asing bagi siswa, mereka sangat jauh dari kata teknologi. Jangankan aplikasi pengolah angka atau presentasi, sekedar mengetik dengan aplikasi pengolah kata saja banyak yang belum mengalami. Dengan adanya bimbingan TIK sudah sedikit lebih baik, namun dengan hanya 1 jam/minggu atau hanya 5 kali pertemuan persemester maka sangat kurang dan jauh dari memadai. Apa jadinya jika TIK benar-benar tidak diajarkan di sekolah, maka mereka tidak punya kesempatan lain untuk belajar TIK, khususnya yang di pedesaan, pedalaman dan perbatasan. Secara nasional berapa jumlah siswa yang sudah benar-benar melek dan menguasai TIK, berapa jumlah orang tua siswa yang kaya raya hingga mampu membelikan alat komunikasi modern. Lebih besar mana jumlahnya dengan siswa dari kalangan bawah yang hanya bisa belajar TIK dari sekolah.

Dalam 2,5 tahun ini implementasi K-13 baru dilaksanakan di sekolah pilot proyek, belum dilaksanakan pada semua sekolah. Sebagai contoh di kabupaten Wonosobo sekolah pilot proyek K-13 hanya ada 6 sekolah dari sekitar 130 sekolah SMP/MTs, artinya hanya sekitar 5%, sisanya yang 95% masih menggunakan kurikulum KTSP. Dengan hanya sekitar 5% kondisi sudah seperti ini, banyak penolakan terhadap permen 68/2014 dan 45/2015, banyak tuntutan untuk mengembalikan TIK sebagai mapel. Bisa dibayangkan jika 100% sekolah menggunakan K-13 dan mapel TIK dihilangkan, pasti gejolak yang timbul akan bertambah 95%. Akankah pihak pemegang kewenangan (puskur) tetap “ngotot”, tetap “keukeh” hendak menghilangkan mapel TIK menjadi bentuk lain yang jauh lebih buruk dampaknya. Untuk mempersiapkan siswa menjadi generasi emas, diperlukan kepekaan dan responsif dengan apa yang terjadi. Jika alasan TIK tidak perlu diajarkan dan bisa belajar sendiri, maka Penjaskes, Seni, Agama, IPS dan mapel lainnya bisa dilakukan tanpa pembelajaran khusus. Apalagi jika dihapuskan karena alasan kemudahan tentu mapel bahasa Indonesia yang notabene bahasa sendiri juga akan hilang, lalu apa yang akan terjadi? Bila ditanyakan pada setiap guru dari mapel tersebut, pasti mereka tidak akan rela mapelnya dihilangkan, walau mungkin secara muatan dan isi juga banyak yang tidak up to date.

Beberapa kata berikut mungkin bisa mewakili ungkapan dan harapan siswa, guru dan masyarakat terhadap pemerintah untuk lebih arif dan bijaksana dalam membuat keputusan yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak.
  1. Sebuah kata hikmah “Bisa jadi sesuatu menurut anggapan kita mudah, kecil dan remeh, tapi bagi mereka yang belum tahu adalah sesuatu yang sulit, besar dan rumit”. Semudah menghidupkan dan mematikan komputer bagi yang sudah tahu, namun bagi yang belum tahu maka sesuatu hal yang sulit bila tidak diajarkan. Begitu juga dengan TIK mungkin adalah hal yang sepele bagi siswa dari orang tua yang serba kecukupan, apalagi bagi pejabat yang berada di lingkungan serba modern. Namun pernahkan terpikirkan bagaimana dengan siswa-siswa di daerah perbatasan, di pedesaan, di lereng pegunungan, di pedalaman dan daerah-daerah yang jauh dari kota dan pusat kota. Memang teknologi komunikasi termasuk internet sudah menjangkau hampir seluruh wilayah negeri ini, dimana hampir setiap siswa memiliki handphone, namun berapa persen dari mereka yang mampu membeli komputer, laptop yang merupakan obyek utama dalam pembelajaran TIK. 
  2. Kondisi realistis lebih akurat daripada kajian teoritis. Bertanya kepada yang benar-benar mengalami maka nuansanya akan lebih mendekati, bertanya pada yang membutuhkan maka rasanya akan lebih menggetarkan. Inilah yang pernah dilakukan Umar bin Khatab, yang menyamar dan berkunjung langsung pada masyarakat miskin (seorang ibu) yang ternyata kelaparan dan mengatakan “kemana saja Umar yang membiarkan kami kelaparan”, yang selanjutnya Umar memanggul sendiri karung berisi gandum untuk diberikan kepada ibu tua tersebut. Untuk masalah TIK ini maka bertanya langsung pada siswa adalah yang paling bijaksana. Apakah siswa butuh mapel TIK, apakah siswa senang mapel TIK, apakah mapel TIK memenjarakan siswa dan berbagai pertanyaan sejenis yang lain. Untuk analisis dan pentingnya TIK, maka guru TIK-lah yang paling bisa merasakan karena merekalah yang terjun dan berhubungan langsung siswa. Ibarat pertandingan sepak bola, maka yang paling tahu kondisi adalah para pemainnya, bukan penoton atau komentator yang ahli sekalipun. 
  3. Tiga hal menjadi pangkal keburukan yaitu takabur, hasad dan bakhil. Takabur semakna dengan sombong, merasa besar, merasa kuasa dan tak mau mengalah, tak mengakui salah dan tak mau untuk merendah. Hasad adalah dengki yang ujungnya tidak suka melihat orang senang dan tak mau berbuat sesuatu yang membuat orang lain senang. Bakhil sepadan dengan kikir atau pelit, suatu rasa berat untuk memberi, mampu tapi tidak mau. Sebenarnya dengan permen 68/2014 dan permen 45/2015 maka pekerjaan guru TIK menjadi lebih ringan dan lebih sedikit, namun kenapa para guru TIK menolak dan memperjuangkan kembalinya TIK. Tidak lain karena guru pejuang TIK masih punya hati yang tidak hanya memikirkan diri sendiri, namun lebih mementingkan siswa mereka yang membutuhkan TIK kembali. Aki 3 dan Om Jay, pada beliau kita bisa belajar betapa keras, teguh dan tegar perjuangan mereka yang bertajuk SAVE TIK / KKPI, perjuangan mereka yang tak kenal lelah, menguras tenaga, waktu dan biaya. Tak terhitung berapa biaya yang harus dirogoh dari kantong sendiri, demi sebuah harapan besar pada siswa agar terdidik TIK dengan baik. Melihat realita ini masihkah berat untuk membuka mata, susah melebarkan telinga dan enggan melunakkan hati untuk sekedar memenuhi harapan para pegiat dan pecinta TIK/KKPI. 
Guru TIK tidak berharap diperlakukan khusus sehingga harus dibuat permen 68 dan 45, karena toh selama ini sesungguhnya guru TIK sudah melakukan 3 hal yang tercantum dalam kedua permen tersebut, otomatis membimbing siswa siswa ketika pembelajaran, juga menjadi pembimbing guru ketika mereka mengalami kesulitan berkaitan dengan TIK serta menjadi pembimbing dan pembantu bagi tenaga kependidikan jika dibutuhkan. Guru TIK lebih berharap untuk bisa diperankan sebagai guru biasa yang bisa mengajar seperti guru lainnya. Guru TIK bukan guru luar biasa, bukan guru istimewa, karena guru TIK juga butuh belajar dan bimbingan guru lainnya, belajar tata tulis pada guru bahasa, belajar sains dari guru IPA, belajar logika dari guru matematika, belajar etika dari guru agama, belajar kreasi dari guru seni serta belajar banyak hal dari guru-guru yang lain.

Sebagai penutup tulisan ini, saya sampaikan bahwa pada dasarnya Mapel TIK adalah kebutuhan siswa, pokok dan penting. Mungkin saja 10 siswa kita sudah mahir menggunakan iPad atau Tablet, tapi apakah bisa kita pastikan ribuan siswa lainnya telah mampu dan mahir, atau juga sebatas pernah punya atau bahkan sekedar pernah melihat / memegangnya? Mapel TIK adalah salah satu jalan dan kesempatan bagi siswa untuk bisa belajar berinteraksi langsung dengan teknologi. Negara kita ketinggalan 20 tahun dalam hal perkembangan teknologi, jika mapel TIK dibuang dari kurikulum maka hilanglah kesempatan mereka untuk dapat belajar TIK dengan baik, mau kapan lagi? Akhirnya, semua kembali kepada pusat kurikulum (puskur), hanya doa guru TIK dan siswa-siswi kami "semoga Alloh SWT berkenan membukakan hati para pejabat dan pemilik kewenangan di pusat kurikulum, agar mereka mendengar keluhan kami, melihat kebutuhan siswa kami dan akhirnya melakukan peninjauan kembali untuk bisa mewujudkan TIK kembali menjadi mata pelajaran, Amin".

Apapun posisi kita, baik sebagai orang tua, sebagai pendidik atau sebagai pejabat kita sadari bahwa semuanya adalah amanah. Amanah adalah kepercayaan, amanah adalah titipan dan amanah adalah kemuliaan, maka harus dijaga dengan penuh kemuliaan. Bersikap rendah hati tidak akan merendahkan harga diri, bersikap pemurah tidak akan menjadikan diri kita berharga murah. Sebaliknya bersikap angkuh karena merasa tinggi dan berhati keras karena merasa berkuasa tidak akan membuat kita tinggi yang dimuliakan, tidak akan meneguhkan kita dalam posisi yang mendamaikan. Selamat beraktifitas, semoga kita bisa melakukan yang terbaik sesuai tugas dan kewenangan kita. <38983>
Kunjungi tulisan kami di web kompasiana.com-tik masa depan

Senin, 04 Januari 2016

ESQ Guru & Karyawan, Lepas Sambut Kepala Sekolah - Menyongsong Era Baru SMPN 2 Kepil di Tahun 2016

Senin, 4 Januari 2016 merupakan hari yang bersejarah dan sangat spesial bagi segenap jajaran guru dan karyawan SMPN 2 Kepil. Sejak awal berdirinya sekolah hingga hari ini dan setelah melewati perjalanan waktu bertahun-tahun baru kali ini guru dan karyawan SMPN 2 Kepil mendapat materi motivasi berupa penguatan Emotional Spiritual Quetion (ESQ). Dengan adanya ESQ ini diharapkan guru dan karyawan bisa mendapatkan suntikan suplemen serta mendapat kekuatan dan semangat baru dalam menjalankan tugas mulia sebagai guru. Bertindak sebagai pemberi motivasi adalah Bapak Saeful Bahri dari Mertoyudan Magelang. Menurut sang motivator, idealnya untuk tahap awal butuh durasi waktu sekitar 2 x 60 menit (2 jam), sedang untuk penekanan lebih lanjut dengan kasus tertentu membutuhkan waktu yang lebih lama sekitar 3 x 60 menit (3 jam). Adapun pelaksanaan ESQ kemarin hanya dilakukan selama kurang lebih 90 menit dikarenakan padatnya acara pada hari yang bersangkutan.

Pelatihan ESQ bukan diartikan bahwa guru dan karyawan di sekolah kurang baik atau sudah tidak layak, namun lebih diartikan sebagai kebutuhan penyegaran dan penyiraman kembali agar ruh sebagai pejuang pendidikan kembali tumbuh subur dan semangat pengabdian menyala berkobar untuk memajukan pendidikan di wilayah kepil dan sekitarnya. Beberapa hal penting yang bisa menjadi kata kunci untuk menjadi pribadi yang unggul, baik sebagai guru, karyawan dan seluruh elemen di sekolah haruslah mampu berperan sebagai seorang pemberi hadiah.Pribadi dengan jiwa pemberi hadiah adalah mereka yang senantiasa memberi tanpa berharap kembalian, tulus, los dan tanpa pamrih. Oleh karena itu ada hal penting yang harus dipegang kuat yaitu kebenaran niat dalam melakukan tugas mendidik siswa, yaitu niat karena ibadah. Tidak usah berfikir bagaimana dengan gaji, upah atau bayaran, karena untuk gaji adalah komitmen dan urusan pemerintah. Bila kerja dan tugas dilaksanakan dengan baik, beres dan tuntas maka insya-Alloh rejeki yang diterima juga akan beres dan penuh barokah.

Ada dua hormon pada tubuh manusia yang berpengaruh kuat dalam membentuk pribadi / kejiwaan serta mempengaruhi cara kerja (kinerja) seseorang dalam menjalankan tugas dam pekerjaannya. Pertama hormon Endorfin, yang merupakan hormon pemacu kebahagiaan. Beberapa hal yang bisa memicu keluarnya -menetes- hormon endorfin diantaranya adalah : bersyukur (sujud), berfikir positif, tertawa, murah hati (dermawan), menghindari perilaku negatif, dan berolah raga. Kedua hormon Kortisol,  adalah hormon yang keluar jika seseorang stress dan hal-hal buruk lainnya. Banyak hal yang memicu keluarnya hormon kortisol (= hormon pembongkar) antara lain : stress, kecewa, sedih, prasangka buruk, berkata kotor, malas dan berfikir jahat. Kelebihan hormon kortisol akan memicu tekanan darah, gula darah, obesitas dan menurunnya sistem kekbalan tubuh. Oleh karena itu sebagai insan pendidikan yang bertugas memberi hadiah pada siswa maka sebaiknya kita memperbanyak hal-hal yang memicu keluarnya hormon endorfin, yaitu segala sesuatu yang bersifat baik.

Hal lain yang tak kalah penting adalah bahwa kita bekerja dalam sebuah tim, maka sangat dibutuhkan sinergi dan harmoni. Kita tidak bisa bekerja sendiri-sendiri namun lebih mengutamakan sinergi dan kerja sama dalam kebersamaan, oleh karena itu jauhi sifat egois dan mementingkan diri sendiri. Sejalan dengan slogan "1 langkah yang dikerjakan 100 orang dalam tim itu jauh lebih baik dari 100 langkah yang dikerjakan sendiri-sendiri". Harus siap berubah dan bisa beradaptasi dengan perubahan yang terjadi, siap mendukung dan bekerja sama dalam tim. Jika tidak bisa berubah dan tidak mampu beradaptasi maka jangan kaget bila suatu saat tim yang akan menggeser kita -karena dianggap tidak bisa bekerja sama-. Satu lagi, ada istilah yang baru kami kenal EBA, Emotional Bank Account yang secara bebas bisa diartikan sebagai tabungan baik, yang semakna dengan tulisan kami sebelumnya "menabung kebaikan sebanyak-banyaknya, kebaikan di mana saja dan kebaikan pada siapa saja". Bahwa berbuat kebaikan tidak akan pernah rugi, yang menanam kebaikan pasti akan memanen kebaikan. Itulah beberapa hal mendasar yang dapat kami tangkap dan kami tulis kembali dalam tajuk ini, mungkin masih ada beberapa hal penting yang terlewatkan karena keterbatasan kami.

Selepas acara ESQ selesai, sejenak kemudian acara diteruskan dengan agenda Lepas Sambut / Serah Terima Jabatan Kepala Sekolah SMPN 2 Kepil. Seiring dengan berakhirnya masa jabatan Bpk Drs. Kardan sebagai kepala sekolah, maka untuk sementara waktu jabatan kepala sekolah diserah terimakan kepada Bpk Bambang Nuryanto, S.Pd., M.M.Pd. selaku pelaksana tugas (PLT) hingga ditunjuk kepala sekolah definitif yang menurut wacana akan dilaksanakan pada bulan Maret 2016. Dengan begitu untuk kurang lebih 3 bulan ke depan kepemimpinan manajemen di SMPN 2 Kepil akan dikendalikan dan dikelola oleh Bpk Bambang Nuryanto disamping tugas utama sebagai kepala sekolah di SMPN 1 Kepil. Namapk hadir dalam acara serah terima jabatan antara lain Pengawas SMP Dinas Dikbudpora, 5 kepala SMP Negeri Kepil 1, 2, 3, 4, 5, perwakilan SD Negeri sekitar, kepala desa Randusari, pengurus komite SMPN 2 Kepil dan seluruh guru dan karyawan SMPN 2 Kepil.

Segenap guru dan karyawan sekolah ini sangat menyambut baik dan selalu siap dengan perubahan, baik terkait dengan sistem pendidikan, sistem managemen dan sistem rotasi kepemimpinan yang terjadi, karena sudah menjadi aturan kebijakan yang harus dilakukan. Siapapun yang ditunjuk menjadi pemimpin, maka kami akan senantiasa mendukung untuk memberikan pelayanan dan pengabdian terbaik bagi siswa-siswi yang menjadi amanah bagi kami. Kepemimpinan bukan diukur siapa yang paling tua, senior atau siapa yang paling pandai, namun lebih kepada kemampuan mengatur, me-manage dan menggerakkan seluruh aspek dan komponen sekolah untuk bisa bekerja secara optimal. Laki-laki atau wanita, senior atau yunior selama dia mampu dan ditunjuk secara legal  maka sudah selayaknya kami dukung dengan sepenuh syukur. Selamat menyongsong tahun baru dengan semangat baru untuk berkarya, semoga lebih baik, insya-Alloh.<36076>

Rabu, 30 Desember 2015

Oase -5: Menyongsong Tahun Perubahan - Catatan Akhir Tahun

Jika melihat ketiga anak dalam gambar ini, saat ini mereka bersama, tetapi mereka punya masa depan yang berbeda-beda. Kita tidak tahu pasti apa yang akan terjadi pada mereka 5-6 tahun ke depan, Lailatul, Intan dan Azmi. Yang pasti mereka mempunyai masa lalu yang berbeda. Yah, karena setiap orang mempunyai masa lalu, ada yang baik dan banyak yang buruk. Dan jika ternyata masa lalu itu buruk maka biasanya menjadi beban tersendiri. Nah, itulah tema tulisan kali, yang kami buat di saat libur panjang akhir semester 1, dimana edisi inovasi seri-5 tertahan  penayangannya  walau sebenarnya proses penulisan sudah mencapai 85 persen dan sementara tersimpan di server google, insya-Alloh siap keluar di minggu awal tahun baru mendatang. Alhamdulillah untuk menutup akhir tahun 2015 kami bisa menuliskan beberapa paragraf tulisan sekedar untuk memotivasi diri, syukur-syukur bisa memberi motivasi bagi orang lain. Tulisan edisi Oase ke-5 yang merupakan jeda panjang akan kami isi dengan catatan akhir tahun yang semoga bisa menjadi bahan evaluasi diri terhadap waktu-waktu panjang yang telah terlewati, terutama selama setahun terakhir.

Dalam setahun terakhir ada satu peristiwa yang kembali membangunkan kesadaran dan keyakinan akan adanya hukum kekekalan energi, kekekalan massa dan kekekalan amal. Ketika salah satu teman senior yang juga kami anggap sebagai guru kami, minta bantuan untuk mengembalikan file yang tanpa sengaja terhapus dari hardisk eksternal. Sudah pasti banyak sekali data yang sangat penting mengingat aktifitas beliau sebagai tokoh penting dan sentral di sekolah, di MGMP kabupaten bahkan di tingkat nasional sebagai seorang instruktur kurikulum 2013. Yang tak kalah penting adalah adanya data tentang disertasi S-2 beliau yang berhasil meraih perdikat cumlaude. Dengan keterbatasan kemampuan yang kami punya, kami mencoba membantu untuk mengembalikan file yang hilang dengan beberapa aplikasi yang ada. Alhamdulillah file-file dapat dikembalikan, namun hanya sebagian kecil, sedang sebagian lainnya tidak tertolong dan sebagian lainnya lagi tidak bisa dibuka kembali karena statusnya korup.

Dilanjutkan dengan peristiwa kedua, masih dengan pekerjaan yang sama dari orang yang sama juga, bedanya kali ini file yang akan dikembalikan berada dalam flashdisk (USB) dengan kapasitas 8 GB. Kejadian yang diluar logika adalah dalam proses recovery diperlukan space sebesar 120 GB, padahal kapasitas penyimpanan dalam flashdisk hanya 8 GB. Dan beliaunya bertanya, kok bisa ? Dari sini kemudian teringat kembali bahwa penyimpanan dalam harddisk, flashdisk dan media penyimpanan umumnya menggunakan mode cluster. Dalam sebuah harddisk, flashdisk dan memori yang lain terdiri dari cluster (lapisan) yang banyak jumlahnya. File yang ditulis/dicopy akan disimpan dalam cluster tertentu, jika file dihapus tidak serta merta terhapus permanen, namun akan berada pada tempat yang biasa disebut recycle bin, bahkan jika file dihapus permanen sekalipun pada hakekatnya ia masih ada dan tersimpan pada cluster lain yang tidak nampak namun masih tersimpan. Satu hal yang luar biasa adalah semua file yang pernah ada dan terhapus akan kembali, tanpa pilih file baik atau buruk, file layak atau tidak, file manfaat atau merugikan, bahkan file yang berbau pronografi baik berupa gambar maupun video. Dibutuhkan teknologi tinggi, aplikasi khusus dan skill istimewa untuk bisa mengangkat kembali file yang terhapus dengan hasil yang maksimal, mungkin mereka yang sudah mencapai gelar master atau doktor di bidang komputer yang bisa melakukannya.

Ada beberapa pelajaran yang bisa diambil dari peristiwa di atas, bahwa setiap hal, setiap kejadian, setiap perbuatan yang pernah dilakukan akan tercatat kuat dalam memori manusia. Sejalan dengan itu juga bawa setiap perkataan yang pernah terucap, setiap pemikiran yang pernah terlintas, setiap perasaan yang pernah bersemayam bahkan setiap kehendak yang tersimpan di dalam hati juga akan tercatat kuat di dalam memori manusia. Hal-hal yang baik akan tersimpan, demikian juga hal-hal yang buruk. Peristiwa yang baru, yang belum lama maupun yang sangat lama, bahkan yang telah diupayakan dihapus sekalipun akan tersimpan dengan sangat aman, selama fungsi ingatan masih berjalan sistem memori belum mengalami kerusakan. Maka wajar, jika ada seseorang yang punya suka memelihara dendam, senang memendam amarah dan cinta mati pada hasad, iri atau dengki akan sulit untuk melupakan kesalahan orang lain, sehingga sulit berubah menjadi lebih baik. Dalam skala yang lebih besar, lebih tinggi dan lebih supranatural yang bersifat vertikal, ada proses pencatatan segala kejadian yang dilakukan pada tiap individu dari awal lahir sampai akhir hayat - yang terang-terangan maupun yang sembunyi-sembunyi, tercatat dengan sangat kuat oleh petugas pencatat (malaikat) yang ditunjuk oleh Alloh SWT yang menguasai seluruh sendi kehidupan.  

Demikian pula setiap kejadian yang terjadi dalam sebuah lembaga, instansi maupun organisasi. Walau dalam juknis tidak ada yang mencatat, tidak ada yang bertugas membuat dokumen setiap hal yang terjadi, namun secara alamiah tercatat oleh alam sekitar. Siswa atau alumni, orang tua wali, anggota komite, tokoh masyarakat, penjual jajanan dan warga sekitar sekolah adalah bukti sejarah tentang kejadian masa lalu dan kemajuan yang ada di masa kini. Bahkan tukang ojek, tukang sayur dan penjaja keliling yang jarang masuk ke lingkungan sekolah pun sedikit banyak tahu bagaimana guru-guru di sekolah ini, bagaimana siswanya dan bagaimana situasi di dalamnya. Kebaikan dan hal baik pasti banyak terjadi, sebaliknya keburukan dan hal buruk juga pasti ada, walau dalam jumlah yang sangat sedikit. Sekecil apapun keburukan harus diupayakan untuk ditiadakan, dihapus dan dicegah, karena jika didiamkan dan terus bertumpuk akan berpengaruh dalam membangun sistem pendidikan yang tugas utamanya membangun sumber daya manusia.

Berkait dengan hal di atas, sekolah sebagai sebuah lembaga pendidikan yang mengelola manusia mempunya dua masalah besar yang menjadi kendala dalam tumbuh kembangnya sebuah lembaga yang merupakan kumpulan orang dalam suatu komunitas adalah sistem dan sumber daya manusia. Buat apa sistem yang hebat jika tidak dapat berjalan? Untuk menerapkan sistem yang hebat perlu motivasi yang tinggi. Begitu juga buat apa sumber daya manusia yang hebat jika motivasi untuk bekerjanya payah?  Membangun sistem yang bagus adalah penting. Membangun kompetensi adalah penting. Tapi, jangan lupakan dengan membangun semangat orangnya. Berikan perhatian yang cukup mengenai motivasi. Gunakan cara yang benar untuk memotivasi, sebab cara yang salah justru bisa berakibat sebaliknya. Maksud hati ingin memotivasi, tetapi justru malah menghancurkan motivasi. Di sinilah muncul benang merah yang menunjukkan peranan dan hubungan antara motivasi, hasil kerja dan kinerja. Korelasi positif yang hendak kami sampaikan dalam peristiwa ini terkait dengan peristiwa yang sudah berlalu, dengan perbuatan yang harus dilakukan saat ini, dan dengan sikap dan pandangan kita dalam pelaksanaan tugas yang harus dilakukan untuk hari, bulan dan tahun berikutnya adalah perbaikan kinerja. Kenapa kinerja …. ? Apa hubungannya dengan ini semua.

Kinerja, menurut Mangkunegara (2001:67) kinerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Pada keterangan lain kinerja bisa disamakan dengan prestasi kerja. Kinerja inilah yang menjadi tolok ukur sehat atau tidaknya sistem manajemen pada sebuah lembaga, instansi, perusahaan atau bahkan individu sekalipun. Dengan adanya pengukuran kinerja maka dengan mudah bisa dibedakan instansi apa, bagian mana, divisi apa, unit mana serta personilnya siapa yang telah mencapai target, demikian sebaliknya yang tidak mencapai target -turun di bawah standar- juga sangat mudah diketahui. Kinerja bagi sebagian orang mungkin bersifat abstrak dan absurd, namun sesungguhnya kinerja sangat mudah untuk diukur dan dibuat parameternya, tanpa harus banyak teori, tanpa menggunakan tabel atau skala khusus sekalipun.

Dengan adanya penilaian kinerja maka setiap instansi, setiap bagian, setiap divisi, setiap unit dan bahkan setiap individu akan berusaha dan berupaya semaksimal mungkin dalam menjalankan dan menyelesaikan tugas dan pekerjaan yang menjadi tanggung-jawabnya. Jika hal ini diterapkan pada perseorangan (individu) maka ia juga akan berbuat yang terbaik untuk sebuah target pekerjaan yang bernilai utama. Targetnya bukan untuk menjadi yang terbaik, karena menjadi yang terbaik adalah pekerjaan berat bahkan teramat berat dan banyak sekali parameternya. Target sederhana saja "Melakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan".  Lalu apa yang bisa dilakukan untuk bisa meraih tingkat kinerja yang baik. Mari kita coba rangkum menjadi beberapa kesimpulan berikut ;
  1. Kinerja baik terbentuk jika dimulai dengan niat baik. Niat baik bisa berwujud motivasi, dan motivasi yang paling baik adalah yang muncul dari kesadaran diri, di mana dia mampu mengenali diri, mawas diri dan merasa diri. Perjalanan panjang beberapa tahun ini cukuplah untuk bisa bertanya siapakah saya, sudah benarkah motivasi saya selama ini, sudah maksimalkan kerja sama, berapa banyak pihak yang menyukai / membenci kinerja saya yang berangkat dari motivasi dan niat saya. Bekerja yang hanya dimotivasi karena uang, akan selesai ketika uang diterimanya dan tidak akan ada bekas yang mendalam yang sejatinya justru diupayakan. Perbaikan motivasi, pembenahan niat inilah yang perlu diusahakan terus-menerus untuk menghasilkan kinerja yang jauh lebih baik.
  2. Kinerja baik selalu berkaitan dengan pemenuhan waktu. Berat untuk memberi waktu lebih ketika di depan kelas, tak kuat bertahan untuk sekedar menambah 1-2 jam menunggu jam pulang, atau dengan sengaja menghilang dari peredaran adalah kendala yang umum terjadi pada orang-orang yang sudah masuk kategori profesional dan senior. Jangan harap hasil kerja akan bagus jika total waktu tidak terpenuhi. Jangan harap kinerja akan meningkat jika jumlah waktu kerja yang menjadi kewajiban disunat, dipotong, dikurangi atau dikorupsi. Mereka yang berani berkorban waktu untuk kepentingan bersama sudah bisa dipastikan kinerjanya. Sebenarnya pengorbanan waktu adalah yang paling mudah dilakukan oleh siapa saja - bagi yang mau. Di sisi waktu ini sangat mudah dibaca siapa yang memang punya inisiatif baik, punya motivasi baik untuk menghasilkan kinerja yang baik.
  3. Kinerja baik selalu berfikir profesional dan berorientasi komunal. Kendala yang terjadi adalah pribadi yang berat hati untuk berbuat sesuatu untuk kebersamaan dengan alasan kesibukan dan urusan pribadi. Bahkan dalam kondisi khusus (genting) masih tidak bisa membedakan mana urusan pribadi dan mana urusan profesi, kapan harus harus bersama tim dan kapan harus bersama keluarga. Ada saja alasan klise dan klasik untuk pembenaran diri, namun justru di sinilah terlihat kelemahan dirinya. Individu dengan pribadi seperti ini tidak menyadari bahwa ini adalah masalah bagi teman-temannya, dan masalah besar bagi lembaganya. Memang dibutuhkan latihan untuk melatih kepekaan diri untuk memiliki jiwa yang baik sebagai seorang profesional dan berorientasi komunal. Sikap profesional dan menjaga soliditas komunal dengan mudah menggambarkan kinerjanya.
  4. Kinerja baik selalu berfikir positif untuk membangun. Tak puas dengan lingkungan sendiri, memandang lebih lingkungan lain adalah hal positif jika diikuti dengan kemauan kuat untuk berfikir kreatif dan berkarya inovatif serta bekerja aktif untuk membangun. Namun yang menjadi masalah adalah jika sebaliknya, menjadikan nglokro, luweh-luweh dan asal jalan. Lingkungan kerja yang baik bukan terjadi dengan sendirinya, jalan panjang dan berliku telah dilalui, berbagai cara telah dicoba, berbagai metode telah diuji dan diterapkan, dan berbagai terapi dan pengobatan telah dijalani untuk menjadi lingkungan kerja yang sehat dan kondusif. Siapa yang berfikir positif bekerja keras untuk membangun sistem, di sinilah kinerja benar-benar akan nampak.
Beberapa hal di atas mungkin cukup untuk memberikan gambaran tentang kinerja, disamping itu masih ada parameter lain yang tidak kalah penting yaitu ketulusan dan pengorbanan. Mereka yang senior dan telah lebih dahulu sudah jelas pengorbanannya, ketulusan bukanlah menjadi urusan orang lain untuk mengukurnya, karena dua hal ini tidak bisa diukur secara pasti, akan tetapi seiring dengan berjalannya waktu akan terlihat hasil dari sebuah ketulusan dan pengorbanan. "Kebaikan tidak akan pernah tertukar dengan keburukan". Kebaikan selamanya akan tetap menjadi kebaikan, semakna dengan pepatah "mutiara walau berada dalam lumpur tetaplah sebuah mutiara". Kami yang muda tak ada apa-apanya, tentu tak layak disandingkan dan tak bisa dibandingkan dengan mereka yang lebih senior yang waktu pengabdian dan pengorbanannya lebih lama.

Sebagai guru yunior tak banyak yang bisa berikan, tak akan sebaik guru senior dalam memberikan pelayanan pembelajaran. Kami hanya bisa terus berusaha belajar dari para senior di sekolah ini, semoga kami bisa ikut andil kebaikan walau hanya sedikit. Satu hal yang kami yakini yang sejalan dengan hukum kekekalan energi, bahwa sebuah niat baik, sebuah pemikiran baik dan sebuah tindakan baik dan yang semua bernama kebaikan tidak akan ada yang sia-sia, tidak ada istilah percuma. Jangan takut dan jangan bosan untuk terus melakukan kebaikan-kebaikan dalam berbagai hal, berbagai tempat dan berbagai kesempatan. Sekian, semoga Oase -5 sebagai catatan akhir tahun 2015 ini bermanfaat, selamat jalan tahun 2015 dan selamat menjemput tahun baru 2016 dengan semangat baru.<35986>

Jumat, 11 Desember 2015

Inovasi Tertahan - Gayung Tak Bersambut, Tepuk Tak Terbalas

Terasa sudah lama tidak sempat menuliskan beberapa hal yang menyesak di kepala. Ingin mengurai untuk berbagi kebaikan, berbagi pengalaman, berbagi wawasan, ternyata kondisi tidak selalu sejalan.
Jika melihat siswa yang menjadi amanah bagi kami, ada setumpuk asa, ada segumpal cita-cita, ada segunung keinginan untuk sebuah kebersamaan, sebuah kemuliaan.
Namun tercecer juga seonggok rasa ragu, secuil rasa cemburu dan beberapa butir rasa malas jika menyaksikan kondisi yang susah untuk di ajak mengerti. Susah untuk bangun, berdiri dan berlari. Lebih suka duduk santai, berselimut dan menikmati semua makanan dan minuman yang sudah tersaji - walau tanpa beranjak dari tempat duduk sekalipun.

Untuk sekedar mengisi, sekedarnya jari-jari ini mengajak menyentuh dan memencet tombol keyboard laptop usang yang telah lama menemani. Beberapa agenda dan judul sudah tersusun, namun berat rasanya untuk menuliskan, ada kendala yang sulit diungkapkan, yang hanya dapat tergambarkan lewat sajak lepas tanpa batas ini ...

Banyak yang hendak dituliskan, namun terasa berat untuk meneruskan
Ada banyak hal yang perlu dibenahi, namun siapa yang bisa diajak berdamai
Ada banyak perkara yang belum tuntas, namun siapa yang berani membahas
Ada banyak beban menyesak di kepala, lalu pada siapa hendak berbagi rasa
Dan banyak asa mengumpul di dada, masih adakah yang bisa jalan bersama

Tak banyak yang bisa dilakukan
Tak banyak yang bisa diperbuat
Tak banyak yang bisa dipikirkan
Tak banyak yang bisa diselesaikan
Hanya sajak tak teratur ini

Masih adakah yang peduli ...
Masih adakah yang mau berbagai ..

Benar apa kata salah satu guru dalam komentar beliau di beberapa bagian tulisan di web ini;
Menuju perubahan untuk menghasilkan "sesuatu" yang lebih baik memang tak semudah "mengaduk tepung dalam air". Apalagi ketika kita berada pada kondisi yang menurut kita "sudah nyaman, sudah enak, sudah sesuai". Sekedar beranjak pun kadang terasa sulit.
 Fokus pada diri sendiri, artinya urus diri sendiri sebelum mengurusi orang lain. Perbaiki diri sendiri sebelum memperbaiki orang lain.
Memang benar Pak Mar, kebaikan itu akan tetap menjadi kebaikan. Laksana pohon yang buahnya akan terasa manis sampai kapanpun. Dan betapa nyamannya hidup dalam sebuah lingkungan yang saling mengingatkan untuk berbuat baik dengan istiqomah. Tentunya itu dimulai terlebih dulu dari pribadi dan keluarga kita. Memang terkadang tak semudah membalik tangan. Dengan hal hal kecil dan sederhana akan menjadikan kebiasaan yang baik dan bermanfaat dalam hidup bersosial dengan orang lain.
Sebenarnya sangat ingin untuk melanjutkan, yah walau hanya sekedar esay berbentuk tulisan yang tak berharga, yang tertulis tanpa tata bahasa. Namun menjadi teramat berat, karena merasa hanya berjalan sendiri, dan terasa kecil sekali dampaknya dan amat lambat perubahannya, serasa gak ada yang bisa mengambil pelajaran dari apa yang telah ada. Apakah salah idealisme dan harapan ini. Mungkinkah yang terbaik cukup diam saja, karena memang begini adanya. Dimana yang salah.

Setelah banyak membaca kisah orang-orang hebat bisa menguatkan hati. Bahwa mereka bisa menjadi hebat bukan terjadi dengan sendirinya, semua dijalani dengan rangkaian yang panjang dan penuh liku, dengan perjuangan yang banyak membutuhkan waktu, tenaga dan pikiran. Inspirasi kebaikan mereka bisa menjadi lentera bagi siapa saja untuk menjadi lebih baik, lebih baik dari sebelumnya. Membaca kisah mereka hati ini kemudian tambah kuat dan semangat bertambah, semoga .<777>

Jumat, 27 November 2015

Oase -4: UKG, Antara Impian dan Kenyataan - Upaya Membangun Kinerja Guru

Jika dilihat dari pakaian, penghasilan dan strata sosial di masyarakat maka guru adalah pekerjaan enak, nyaman dan posisi yang terhormat. Beberapa orang dengan kondisi tertentu mungkin hal ini ada benarnya, enak, nyaman dan terhormat. Namun penilaian itu akan langsung berbeda jika ada yang berkenan untuk menguntit yang rumahnya jauh dan meneropong yang tempat tugasnya di geografis yang tak terbaca di koran ibukota atau majalah remaja. Sebagai prolog tulisan kali ini, penulis sajikan dua kisah guru yang berbeda tempat, semoga bisa membuka hati dan wawasan. Berikut kisahnya :
1. Laju, seorang guru seni budaya yang harus laju Nanggulan Kulon Progo ke Kepil Wonosobo dengan menempuh jarak 54 kilo meter sekali jalan, artinya untuk perjalanan pulang pergi harus menempuh jarak 108 kilo meter. Yang dari Sleman utara, kota Jogja atau Bantul bisa lebih jauh lagi. Butuh biaya minimal 600-800 ribu rupiah untuk membeli BBM bersubsidi, butuh waktu tak kurang dari 150-180 menit di perjalanan. Bisa dibayangkan capeknya, apalagi pada saat musim hujan. Saat teman sekantor yang lain sudah menikmati makan, santai bersama keluarga atau mungkin sudah terlelap dalam istirahat siangnya, ia masih harus menyusuri rute perjalanan dalam kondisi letih sambil menahan kantuk yang luar biasa, atau sedang berkerudung jas hujan (mantol) di saat derasnya hujan.
2. Tapal batas, guru yang bertugas di daerah perbatasan, daerah terpencil atau pedalaman Tarakan Kalimantan. Bisa dibayangkan saat mereka mengajar dengan tanpa alat peraga dan minimnya fasilitas pembelajaran lainnya. Kesulitan transportasi dan minimnya komunikasi adalah teman dalam keseharian. Jangankan berfikir untuk shoping ke Matahari Dept. Store atau jalan-jalan mengendarai mobil Pajero, untuk pergi ke kantor kecamatan saja susah, kondisi jalan tanah berbatu, hanya dapat ditempuh dengan motor dan butuh waktu berjam-jam. Bisa dibayangkan beratnya perjuangan mereka dalam mengabdi mendidik anak-anak negeri.

Dalam menanggapi hal ini pun pasti beragam, baik dari masyarakat maupun dari teman-teman guru itu sendiri. Ada yang terharu, ada yang empati tetapi ada juga apatis dan tidak mau peduli. Barangkali ada yang berkata "Salahe sopo omahe adoh", "salahe gelem ditempatkan di lokasi terpencil", "ngopo ora njaluk pindah" dan berbagai kata sejenis lainnya. Walau guru yang laju sudah terasa cukup berat dalam menjalani tugasnya tetapi belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan mereka yang bertugas di perbatasan dan pedalaman. Apalagi jika pembandingnya dengan mereka yang rumahnya kurang dari 3 kilo meter, bahkan ada yang jaraknya kurang dari 30 meter, tentu akan jauh lebih mudah dan jauh lebih murah..

Inilah yang menjadi sumber inspirasi untuk mengisi tulisan Oase edisi ke-4 kali ini dalam tema UKG dan PGRI. Hari ini tanggal 27 November 2015 adalah hari terakhir pelaksanaan UKG, dan 2 hari yang lalu adalah hari lahirnya PGRI yang merupakan induk organisasi bagi guru. Uji kompetensi guru atau UKG tahun 2015 sesuai rencana dilaksanakan antara 9 sampai dengan 27 November 2015 di daerah masing-masing (kabupaten/kota). Tidak hanya PNS, tetapi guru Non-PNS (yang sudah punya NUPTK), juga pengawas dan Kepala Sekolah juga wajib mengikuti UKG yang Pelaksanaan secara online. Standar nilai UKG 2015 minimal 5,5 dan mesti ditingkatkan setiap tahunnya hingga mencapai nilai 8,0 pada tahun 2018/2019. Lalu apa tujuan dilaksanakannya UKG? Jangan-jangan sertifikasi yang sudah diterima bisa distop gara-gara nilai UKGnya rendah? itulah yang dikhawatirkan oleh para guru.

Kami mengikuti tes di hari ke-2 dan memperoleh nilai pas-pasan 78, jauh dibandingkan dengan Bpk Iskandar dari SMP 4 Magelang dengan skor 88. Walau nilai hanya 78, kami sudah merasa bersyukur, karena tanpa persiapan yang memadai, belum tahu gambaran soal seperti apa. Yah, sekedar persiapan mental saja, kerjakan sebatas yang bisa dikerjakan, sebatas pengetahuan yang ada.  Selang sehari kemudian ada rasa galau yang menyeruak, bukan karena nilai di atas, namun ternyata ada sesuatu yang tidak sreg dan tidak nyaman dengan realita yang ada di tengah kegelisahan peserta lain yang akan mengikuti UKG. Ada indikasi soal difoto oleh peserta pada hari pertama dengan kamera ponsel, kemudian dikumpulkan berupa file capture gambar soal UKG. Inilah yang kami anggap tidak sportif, tidak jujur dan menciderai kemuliaan profesi guru. Kemudian situasi itu tersampaikan di status media sosial facebook, redaskinya demikian:
Galau, sumpek, layak tidak ya ... Ketika melihat siswa tidak jujur, ngepek atau curang maka kita merasa perlu membenahi dan menegur untuk berubah menjadi lebih baik ... Itulah tugas berat guru, maka saya sangat sedih jika ada teman-2 dari kalangan guru yang justru bersikap seperti siswa di atas, karena hanya berorientasi pada angka/nilai ...Saya bukan guru yang baik, juga  belum masuk kategori guru profesional, tapi saya menjadi TIDAK RESPEK sama sekali pada sikap yang satu ini. Adakah yang bisa memberi bantuan psikologis ..
Banyak komentar dari para senior, para tokoh, para pemerhati dan pelaku pendidikan, yang intinya sangat tidak menyukai (tidak respek) dengan sikap curang tersebut. Kita telah dengan susah payah mendidik siswa untuk jujur, sportif dan tidak suka berbuat curang dalam segala bentuknya. Nah apa jadinya jika seorang atau beberapa guru justru melakukan apa yang bertolak belakang dengan yang diajarkan. Sangat sejalan dengan salah satu komentar dari rekan guru di SMPN 2 Wonosobo, "Memang tes bisa diibaratkan pemeriksaan medis. Kalo hasil pemeriksaannya penuh manipulasi, justru treatmentnya bisa salah.. Mari kita bersama-sama menyadarkan hal itu...". Komentar ini sangat sarat makna, UKG adalah salah satu cara mengukur kompetensi guru, nah jika dalam prosesnya dimanipulasi maka hasilnya akan salah. Nilai UKG yang tinggi tidak melambangkan kemampuan sesungguhnya karena telah direkayasa. Kesalahan fatal ketika seseorang hanya memahami bahwa ujian hanya berorientasi pada hasil berupa angka tanpa memperhatikan esensinya. Ketakutan yang berlebihan dengan hasil yang kurang baik, ditambah kekhawatiran jika nilai rendah akan berakibat tunjangan dihentikan barangkali yang membuat berbagai cara dilakukan tanpa berfikir dampak negatifnya.

Dalam sebuah proses ujian / pengukuran kompetensi seperti UKG yang sangat perlu untuk dijunjung tinggi adalah kejujuran, bukan manipulasi proses yang hanya berorientasi angka atau hasil berupa nilai. Berapapun skor, nilai atau angka dari hasil UKG kita, jika dilakukan dengan penuh kejujuran akan ada kepuasan, ada kebanggaan dan berani mengakui kenyataan kualitas diri. Dan yang terpenting bahwa nilai UKG yang dilaksanakan dengan penuh kejujuran, berapapun hasilnya adalah gambaran sesungguhnya tentang kapasitas dan kompetensi kita. Jika hasilnya sudah baik - perlu dipertahankan, disebarkan dan dibagikan kepada rekan yang lain. Sebaliknya jika hasilnya pas-pasan atau masih merasa kurang maka ini adalah momen untuk belajar memperbaiki kualitas dan kompetensi diri. Yang utama bukan berapa tinggi nilainya namun lebih pada dampak selanjutnya untuk proses perbaikan kualitas, kapasitas dan pelayanan, dan inilah yang terpenting.

Jika dilihat dari komposisinya yang berisi 30 % soal pedagogik dan 70 %  soal profesional sesuai bidang masing-masing, maka tes tersebut termasuk kategori kognitif (pemahaman) terkait proses pembelajaran dan profesional. Kompetensi yang terukur hanyalah pemahaman, ada beberapa kemungkinan yang terjadi pada kesehariannya ketika melaksanakan tugas mengajar di dalam kelas. Nilai UKG tinggi, kompetensi benar-benar tinggi, nilai UKG tinggi kinerja rendah, nilai UKG rendah namun cara aplikasi di kelas bagus dan yang terakhir nilai UKG rendah kompetensi dan kemauan juga rendah. Artinya jangan mengambil nilai UKG sebagai satu-satunya ukuran untuk menilai kompetensi guru. Ada pengukuran bidang lain yang sebenarnya lebih dibutuhkan dan perlu terus dikembangkan.

Pengukuran kompetensi, kualifikasi dan standarisasi sangat penting adanya. Walaupun seseorang telah merasa berpendidikan tinggi, merasa ahli, merasa senior, merasa kaya pengalaman dan merasa memiliki wawasan yang sangat luas, ia tetap butuh suatu pengukuran yang akurat atas kualifikasi dan kompetensi yang dimilikinya. Seperti halnya contoh nyata di bidang bangunan, tukang batu/kayu yang berpengalaman adalah tukang profesional, ia mampu menaksir biaya untuk membuat sebuah rumah, ia bisa hafal formula tentang struktur membuat beton bertulang, namun ia masih membutuhkan lot (benang gandul) untuk mengecek ketegak-lurusan, ia masih menggunakan waterpass untuk mengontrol kerataan posisi horisontal atau vertikal serta masih menggunakan meteran untuk mengukur panjang. Hal ini tak jauh berbeda dengan guru, sepandai apapun, pengalaman sebanyak apapun dan seprofesional bagaimanapun, dia tetap membutuhkan alat bantu untuk mengukur dirinya. Bagi guru banyak aspek dan komponen yang bisa diukur untuk mendapatkan kategori sangat baik, baik, cukup atau kurang.

Banyak alat ukur kemampuan dan kinerja seseorang, namun tak akan kita bahas di sini. Namun ada satu hal yang paling mudah dilakukan yaitu dengan survey / kuisioner terhadap kepuasan pelanggan terhadap produk dan jasa. Nah pekerjaan seorang guru dapat dimasukkan dalam kategori jasa yang juga bisa diukur dengan survey kepuasan pada siswa. Hasil survey yang kami lakukan pada tahun 2014 hasilnya cukup signifikan dan melambangkan kondisi sebenarnya. Untung saja tidak pernah ada piala atau tropi bagi prestasi terendah atau kinerja terburuk, karena akan berdampak buruk terhadap nama baik dan kredibilitas seseorang. Dari sebaran data yang terkumpul dari responden (siswa kelas IX) secara jelas menggambarkan bahwa seorang guru yang dianggap baik, pavorit dan memuaskan adalah mereka yang mempunyai jiwa ideal seorang guru, yang kehadirannya sangat dinantikan, disambut dengan suka cita, yang jika tidak hadir terasa ada yang kurang atau hilang. Pepatah mengatakan “Ada asap ada api”, artinya ada sebab musabab (sebab akibat) ketika muncul penilaian baik atau buruk, disenangi atau dibenci, dihormati atau diacuhi.

Siswa adalah alat  ukur yang sangat akurat bagi guru. Siswa adalah saksi hidup, catatan hidup dan rekaman hidup yang menyimpan semua hal tentang gurunya. Siswa tahu betul apakah gurunya sekedar mengajar atau sekedar hadir di kelas. Siswa dapat merasakan siapa yang benar-benar mendidik dengan melibatkan hati, siswa juga sangat paham siapa yang membimbing dan memperhatikan dengan segenap kasih sayang. Siswa bisa hafal bagaimana kebiasaan gurunya di kelas maupun di luar kelas. Maka jangan heran jika ada siswa yang bisa menirukan gaya dan bahasa gurunya dengan sangat mirip, karena rekaman memori mereka.

Benar apa yang disampaikan Pak Ronto, kalau sekedar menjadi guru yang mengajar itu mudah. Masuk kelas, ngomong cas-cis-cus, ba-bi-bu, perintah ini itu, larang begini begitu atau harus begini begitu. Lebih parah lagi jika banyak tuntutan, minta fasilitas ini dan itu, biaya ini dan itu, namun tidak diimbangi dengan prestasi dan kinerja yang memadai. Membandingkan dengan sekolah lain itu bagus, namun bukan hanya dalam hal fasilitas dan hak guru. Tanggung jawab, profesional, kinerja serta pelayanan juga harus dilaksanakan dengan penuh dedikasi. Jika melihat fakta dan kisah di atas, ternyata Indonesia bukan hanya Jakarta, Bandung, Jogja, Surabaya atau Wonosobo, demikian juga dengan sekolahnya. Ada juga sekolahyang di perbatasan negara (tapal batas), ada yang di pedalaman yang sangat jauh dari ramainya pemukiman. Mereka, saudara kita yang jadi guru di perbatasan, baik yang PNS maupun guru tidak tetap, guru penuh perjuangan, gaji tidak seberapa, komunikasi sulit, transportasi susah, fasilitas sangat minim dan memprihatinkan. Namun jiwa perjuangan mereka luar biasa, ketulusan mereka tak terkira dan pengorbanan mereka tak terukur dan tak terbilang jumlahnya.

Bila kita mau sedikit saja membuka mata, membuka telinga dan membuka hati, maka kita akan banyak instropeksi diri. Betapa kita berlimpah kemudahan, berlimpah fasilitas dibandingkan mereka yang lebih berat perjuangannya. Menjadi pribadi jujur dan sportif adalah pilihan, karena pada semua hal jujur bisa dilakukan, demikian juga untuk berbuat curang ada seribu jalan. Kita harus sadar bahwa kita sebagai guru punya tugas mulia, bukan sekedar guru yang mengajar, namun guru yang mendidik dengan sepenuh hati. Tunjukkan kinerja dan karya terbaik kita. Jangan manja, jangan banyak mengeluh, jangan banyak menuntut dan jangan jarkoni. Guru yang menjunjung tinggi kejujuran dan sportif baik bagi siswa juga dirinya. Guru inovatif yang mampu berkarya dengan kondisi yang ada.  Jadikan diri kita lentera bagi siswa, pribadi yang penuh perhatian dan kasih sayang  serta sumber inspirasi bagi masa depan mereka. Selamat berkarya, semoga kerja kita bernilai ibadah. <35435>

Rabu, 25 November 2015

Hari Guru Spesial, Peringatan hari Jadi PGRI Ke-70, Guru Hebat SMPN 2 Kepil, OSIS Semangat Luar Biasa

Suasana pagi ini istimewa tepat di hari lahir persatuan guru di Indonesia, suasana itu memang sudah terasa sejak di perjalanan. Sejak di jalan nuansa guru sudah terlihat, banyak motor (kendaraan mayoritas para guru) ditumpangi orang berseragam baju bercorak hitam putih bergambar obor, yang merupakan seragam PGRI. Ya ... hari ini, Rabu 25 Nopember 2015 secara serentak di seluruh Indonesia diperingati hari guru yang ke 70 yang bertepatan dengan hari terbentuknya PGRI, hari besarnya guru di Indonesia. Bahkan untuk wilayah DIY, di lima kabupaten kota semua siswa di tingkat SD, SLTP, SLTA bahkan di tingkat pra sekolah PAUD (TK) juga diliburkan. Untuk guru tetap masuk dengan agenda kegiatan forum khusus guru untuk kegiatan pengembangan dan motivation building. Sedang untuk daerah kabupaten Magelang khusus siswa SD yang dilburkan.

Yah, hari ini memang sangat terasa spesial yang terjadi di SMPN 2 Kepil, semua guru berseragam baju PGRI, lebih spesial lagi adalah upacara bendera dalam rangka memperingati hari guru kali ini, semua petugas upacara dilaksanakan sepenuhnya oleh guru. Bertindak sebagai pembina upacara Bpk Drs. Kardan (kepala sekolah), pemimpin upacara Bpk Aris Winarno, pengibar bendera Bpk Widodo, Ibu Tatik dan Ibu Zulaekho, pembaca UUD Ibu Ngaidatul, pembaca doa Bpk Fauzi, protokol Ibu Rini, pemimpin barisan Bpk Satiyun, Bpk Abdullah, dan Ibu Prihatin, ajudan Ibu Septi.

Menjelang upacara selesai ada acara istimewa yang disutradarai oleh OSIS, sangat trenyuh dan menyentuh. Semua guru diatur baris berjajar urut sesuai kode, lalu dilantunkan lagu terima kasih guru, sejenak kemudian secara serentak dan teratur satu persatu dari OSIS maju menemui guru untuk sungkem sambil menyerahkan sepucuk bunga mawar pertanda penghormatan dan rasa terima kasih. Banyak guru dan siswa yang trenyuh hingga meneteskan air mata, sangat khidmat, khusuk dan menyentuh. Luar biasa anak-anak kita, mereka bisa menjadi apa saja bila guru mengarahkan dengan segenap hati, ketulusan dan keteladanan.

Guru adalah benar-benar tugas mulia, tugas terhormat - kalau kita menyadarinya. Kira-kira demikian yang disampaikan pemimpin dunia pendidikan saat ini, mendikdasmen RI. Mengutif sambutan Mendikdasmen Anis Baswedan di media internet stahun yang lalu, berikut petikannya :
Menjadi guru bukanlah pengorbanan. Menjadi guru adalah sebuah kehormatan. Ibu dan Bapak Guru telah memilih jalan terhormat, memilih hadir bersama anak-anak kita, bersama para pemilik masa depan Indonesia. Ibu dan Bapak Guru telah mewakili kita semua menyiapkan masa depan Indonesia.
Potret Indonesia hari ini adalah potret hasil dunia pendidikan di masa lalu. Potret dunia pendidikan hari ini adalah potret Indonesia masa depan. Jadikan rumah kita dan sekolah kita menjadi zona berkarakter mulia. Izinkan anak-anak kita merasakan rumah yang membawa nilai kejujuran. Izinkan anak-anak kita merasakan sekolah yang guru-gurunya adalah teladan. Biarkan anak-anak kita mengingat Kepala Sekolahnya dan seluruh Tenaga Kependidikan di sekolahnya sebagai figur-figur bersih dan terpuji karakternya.
Karakter memang tidak cukup diajarkan melalui lisan dan tulisan. Karakter diajarkan melalui teladan. Oleh karena itu, Ibu dan Bapak Guru yang saya muliakan, jadilah figur-figur yang diteladani oleh murid-murid dan lingkungannya. 
Akhirnya, marilah kita maknai hari guru ini sebagai momen untuk bangkit, untuk bangun dan berubah menjadi sosok guru yang benar-benar sesuai harapan siswa. Kita pasti bisa, kalau kita mau. Yang dibutuhkan adalah berpikir positif, berkata positif, bersikap positif dan bertindak positif. Jangan apriori, jangan berprasangka dan berkesimpulan negatif. Lakukan saja yang terbaik yang bisa dilakukan. Banyak harapan siswa yang digantungkan pada kita, guru. Dorong, bimbing, rangkul dan ajak siswa untuk maju dan senanntiasa memberi motivasi - semangat untuk meraih masa depan mereka, masa depan keluarga mereka, masa depan masyarakat mereka, masa depan negara mereka .... Indonesia. Selamat bekerja, selamat berkarya, semoga sukses selalu.

Mengutip kata-kata bagus Laurence Peter (1986) tentang guru, mungkin bisa menjadi bahan pemikiran dan instropkesi kita  : 1) Guru Biasa, "Mengatakan", 2) Guru yang Baik, "Menerangkan", 3) Guru yang Superior, "Mendemonstrasikan", 4) Guru yang Hebat, "Memberi Inspirasi".  Tetaplah tegak berdiri mendidik, membimbing dan mendoakan siswa-siswi kita. Yakinlah, inilah lahan amal sholehmu. Dirgahayu PGRI, jadilah lentera ilmu, jadilah sumber inspirasi. (35336)

 
 


Sabtu, 21 November 2015

Inovasi -4 : Sosialisasi Konsep Sebagai Media Kontrol dan Koreksi

Dalam suatu perusahaan, yang menjadi indikasi tingkat kemajuan sebuah perusahaan berada pada perubahan yang terus menerus. Perusahaan yang monoton dan tidak mengadakan perubahan akan mati secara perlahan-lahan. Perubahan mutlak dilakukan pada berbagai sisi dan bidang yang dianggap krusial. Salah satu bentuk perubahan dapat dilihat dalam bentuk iklan (advertising), yang sebagiannya berupa tag line perusahaan atau sering disebut slogan. Sebagai contoh Suzuki pernah mengusung slogan "Inovasi Tiada Henti", berubah dan terus berubah, dan yang terakhir slogan Suzuki adalah "Way of Life". Begitu juga dengan Honda dengan "One Heart", Telkom dengan "The world in your hand", PLN dengan "Listrik untuk hidup yang lebih baik", Pegadaian dengan "Mengatasi masalah tanpa masalah" dan masih banyak lagi. Demikian juga di dunia pendidikan (sekolah) yang juga ikut membuat tag line (slogan) sebagai wujud visi untuk berubah menjadi lebih baik. Slogan "Berani Tampil Beda" adalah satunya, yang menjadi trade mark salah satu sekolah berkembang di Kabupaten Magelang. Slogan ini juga dipakai oleh SDN Ibu Jenab 1 Cianjur. Ternyata slogan tidak hanya sebatas kata biasa, namun merupakan ruh yang mampu menghidupkan jiwa para pengusungnya sehingga benar-benar berdampak positif ditandai dengan banyaknya prestasi yang diraih. Inilah esensi dari pentingnya konsep untuk terus melakukan inovasi.

Sebagai  penguatan kembali tentang pentingnya konsep baru sebagai bentuk perubahan, bahwa untuk mengusung sebuah konsep baru itu tidak harus sama sekali baru, tidak harus sama sekali murni karya sendiri, dan tidak harus menunggu datangnya ilham di tengah tidur malam. Konsep baru bagi siswa dan sekolah kita bisa diperoleh dari mana saja, dari siapa saja dan kapan saja. Bisa diadopsi dari sekolah lain, bisa dari modifikasi karya guru yang lain, bisa dari hasil studi banding di kabupaten lain atau bahkan dari hasil browsing di internet atau media elektronik yang lain. Intinya bahwa konsep itu telah kita kaji, telah kita revisi,telah kita uji dan telah kita modifikasi sendiri sesuai dengan situasi dan kondisi.

Alhamdulillah, hanya atas karunia-Nya semata kami bisa eksis untuk melanjutkan melanjutkan tulisan ini. Pada edisi sebelumnya membicarakan konsep yang merupakan ruh utama inovasi. Tidak banyak yang bisa bertahan pada fase ini, walau sekedar membaca atau menyimak. Apa lagi yang berani memegang teguh sebuah konsep yang baru, sebagian besar memilih pergi dan lari karena takut terbebani. Namun bagi mereka yang memiliki rasa peduli dan menyadari betapa pentingnya perubahan,  mereka akan bertahan dengan segenap kesabaran untuk membuat sebuah konsep baru yang berbeda. Konsep yang jelas tujuannya (goal), konsep yang jelas aplikasinya, konsep yang berorientasi semata-mata untuk kebaikan banyak orang (terutama siswa), konsep yang up to date dan berkesinambungan. Mari, kembali kita lanjutkan bahasan seri Inovasi ini, dan untuk tulisan yang ke-4 ini akan berfokus pada sosialisasi / publikasi.

Setiap rencana baru, setiap perubahan, setiap langkah menuju kemajuan sebaiknya dilakukan proses sosialisasi dari konsep yang ditawarkan. Ini yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan maju, oleh lembaga pendidikan bonafide, oleh organisasi non profit yang sukses dan bahkan oleh toko/supermarket yang sangat mengutamakan pelayanan. Sosialisasi dilakukan pada semua tingkatan dari level paling bawah (karyawan) hingga level tertinggi (manager / direktur). Sosialisasi adalah sarana uji publik (studi kelayakan) terhadap sebuah konsep, gagasan, atau ide yang bersifat baru. Hal yang paling mendasar dari proses sosialisasi adalah bertujuan agar sebuah rencana, sebuah ide, sebuah gagasan, dimengerti dan dipahami oleh seluruh elemen dan unsur dalam suatu lingkup kerja tertentu.

Sebagai bahan pembanding, sedikit kami akan memberi beberapa gambaran tentang pentingnya sosialisasi / uji publik ini. Pertama, bila seorang mahasiswa hendak membuat tugas akhir (skripsi), maka wajib baginya untuk mengadakan seminar dari judul tugas akhir yang akan dilakukannya. Pada seminar itu akan ada pertanyaan, sanggahan, saran dan masukan sebagai bahan koreksi untuk kelanjutan penelitian dan penyelesaian tugas akhir tersebut. Kedua, seorang guru produktif di SMK jurusan mesin produksi harus/wajib membuat Job-sheet (lembar kerja) dan dipresentasikan pada setiap awal semester atau tahun ajaran. Job-sheet, semakna dengan istilah “Gambar Teknik” adalah bahasanya orang teknik. Dalam dunia teknik mesin pada umumnya berupa lembaran berupa gambar benda kerja yang akan dikerjakan / dibuat siswa dalam praktik di bengkel kerja sekolah. Dalam job-sheet tercantum gambar yang lengkap dan jelas, jelas ukurannya, jelas bahannya, jelas metode pengerjaannya, jelas waktunya dan jelas aturan penilaiannya. Pada muara akhirnya, dengan job-sheet itu dapat dihitung berapa kebutuhan bahan dan berapa biayanya. Dari dua contoh di atas kiranya kita bisa mengambil kesimpulan mengapa, untuk apa dan bagaimana pentingnya sosialisasi/uji publik sebuah konsep.

Sosialisasi bukan bertujuan untuk PAMER yang isinya unjuk kebolehan, lomba kemampuan, gaya-gayaan atau bangga-banggaan. PAMER hanya berorientasi memperoleh pujian semata dan anti terhadap kritik. Hal ini sangat berseberangan dengan hakikat sosialisasi yang lebih berfokus untuk proses uji publik yang lebih bertujuan untuk koreksi. Dalam proses uji publik ini sangat berpeluang mendapatkan saran, masukan dan dukungan yang merupakan sarana untuk koreksi dari sebuah rencana, konsep atau gagasan baru. Secara rinci tujuan dari sebuah sosialisasi / publikasi adalah sebagai berikut.
  • Proses sosialisasi berfungsi sebagai pengenalan dan pemaparan. Suatu ide, gagasan, konsep dan pemikiran yang bersifat baru, konstruktif dan inovatif terkait suatu hal baru sangat perlu untuk dikenalkan dan dipaparkan sehingga semua elemen mengetahui adanya suatu yang baru, yang diharapkan  akan bermanfaat bagi kelancaran sebuah proses menuju taraf yang lebih baik. Jangan terjadi ada kegiatan baru yang menimbulkan berbagai masalah dengan efek domino hanya karena tidak adanya sosialisasi kepada publik.
  • Proses sosialisasi berfungsi sebagai media kontrol dan kendali. Kontrol dan kendali berfungsi untuk memantau apakah konsep itu sudah bagus, kurang bagus, atau tidak layak hingga perlu pembenahan. Fungsi kontrol juga sangat dibutuhkan sebagai kajian dan analisa terhadap berbagai aspek yang terkait termasuk alokasi waktu dan pembiayaan. Jangan sampai suatu konsep baru menyebabkan biaya yang over kuota sehingga memberatkan bagian pengelola anggaran.
  • Proses sosialisasi berfungsi menguji relevansi dan kontekstual. Suatu kegiatan harus cocok dan ada relevansinya dengan kegiatan induknya dan tidak berseberangan jalur dengan kegiatan utamanya, inilah yang dimaksud dengan adanya relevansi. Sedangkan kontekstual artinya muatan kegiatan bersifat terbaru dan tidak kadaluarsa. Relevansi dan kontekstual bisa diartikan sesuai dengan aturan dan regulasi yang ada. Berikut ini adalah conoth bentuk kegiatan yang tidak relevan dan tidak kontekstual, misalnya untuk praktik di mapel TIK jangan sampai materi dan kegiatannya hanya mengetik surat terus-menerus hingga 6 kali pertemuan, atau dalam mapel IPA mempelajari gerak edar planet hingga 7 kali pertemuan, atau mapel penjaskes kegiatannya hanya volly hingga 8 kali pertemuan, begitu pula untuk mapel-mapel lainnya.
“Tak ada gading yang tak retak” atau istilah asing “No body is perfect” adalah senjata paling ampuh untuk berlindung dan berlepas diri dari proses perubahan. Memang tak ada manusia yang paripurna, tak ada jiwa yang sempurna, karena kita manusia biasa yang pastinya punya berbagai kelemahan dan kekurangan. Namun sesungguhnya kelemahan yang paling besar adalah tidak adanya kemampuan untuk menyadari di mana kekurangan diri, dan hal ini berakibat rendahnya kemampuan diri untuk berubah memperbaiki diri serta lemahnya motivasi untuk melakukan inovasi. Oleh karena itu kita butuh orang lain untuk mengoreksi dan mengevaluasi diri kita. Di sinilah peran dan fungsi sosialisasi, publikasi dalam rangka koreksi terhadap jati diri.

Jika di perusahaan selalu ada meeting yang rutin dan terjadwal, jika di perguruan tinggi ada seminar judul skripsi terkait sebuah rencana penelitian, dan jika di SMK ada job-sheet berbagai gambar kerja, maka selayaknya di sekolah umum lainnya –termasuk kita- untuk melakukan  sosialisasi, publikasi atau uji publik terhadap konsep, ide dan gagasan baru kita. Intinya dalam sosialaisasi adalah adanya proses komunikasi yang baik yang dilakukan di awal periode, sebagai bentuk evaluasi awal dari sebuah konsep yang akan dilaksanakan dalam satu waktu tertentu. Jangan takut untuk melakukan sosialisasi, publikasi dan uji publik dari konsep bagus yang belum terungkap dan ide cemerlang yang pernah tersirat, karena sesuangguhnya teman-teman guru dan terutama siswa menunggu karya hebat kita. Ibu Yani dengan english day-nya, Ibu Prihatin dan Ibu Rini add teaching IPA-nya, Pak Yus dengan prototipe demografi-nya. Sosialisasi, publikasi dan uji publik adalah kesempatan bagi mereka yang ingin berbenah, ingin perbaikan dan ingin pembaharuan untuk menghasilkan karya dan kerja terbaik dalam mendidik anak-anak yang telah diamanahkan orang tua mereka. Mari terus melakukan inovasi menuju perubahan yang lebih baik, insya-Alloh. Selamat beraktifitas, semoga sukses <35240>

Selasa, 10 November 2015

Oase -3: Tersesat, Kembali atau Dinikmati - Sebuah Pilihan

Hari Minggu kemarin mendapat amanat mengantar tetangga piknik (wisata) ke kebun binatang Gembira Loka, sebagai hadiah dan syukur atas panen cabe yang melimpah. Setelah mengantar penumpang sampai ke loket masuk, kami bermaksud mencari sarapan ke warung nasi di sekitar perempatan SGM. Setelah berjalan kaki sekitar 5 menit atau sekitar 300 meter tidak menemukan yang dicari, dalam hati merasa telah salah tempat sebaiknya kembali saja, namun ada dorongan yang seakan menyuruh "coba jalan terus saja, nanti di depan sana pasti ada warung lain". Akhirnya jalan terus, sambil merasa bahwa ini sudah salah jalan, sudahlah sebaiknya kembali saja, namun lagi-lagi ada dorongan dan keyakinan yang seakan menyuruh "mencoba jalan terus, di depan sana akan ada jalan pintas untuk kembali". Di sinilah awal merasa bahwa sudah tersesat, namun terasa berat untuk kembali sudah terasa cukup jauh untuk berjalan kaki, dan setelah menyusuri tepian sungai berharap ada jalan tembus, namun harapan tak sesuai kenyataan. Akhirnya harus berjalan lagi mengikuti jalur utama untuk bisa kembali ke tempat semula. Kaki serasa tak mau diajak melangkah saking capeknya setelah berjalan kaki sekitar 80 menit.

Tulisan ini adalah Oase edisi ke-3, mengiringi tulisan inovasi yang baru sampai edisi ke-3 yang berisi persiapan konsep dan akan segera kami susul dengan inovasi -4 yang berisikan tentang sosialisasi / uji publik. Oase kali ini bertema tersesat, sesuai kejadian yang cerita di atas yang kemudian akan kami ambil relevansinya dengan kegiatan dan kehidupan sehari-hari. Tersesat, barangkali setiap orang pernah mengalami. Tersesat bentuknya bisa bermacam-macam. Bisa tersesat jalan dalam arti salah jalan atau salah arah. Bisa tersesat pemikiran dalam arti salah pandangan, salah pemahaman, salah ideologi dan salah persepsi. Bisa tersesat perasaan, dalam arti salah mengolah rasa, salah menaruh hati, salah mencintai hingga salah membenci. Bisa juga tersesat dalam hal yang lain yang biasa terjadi dalam kehidupan sehari-hari yang bersifat heterogen dan serba kompleks saat ini.

Sebagai gambaran tambahan betapa sebuah kesesatan akan memberikan efek dan dampak yang parah dan sangat panjang. Ada seseorang yang mencintai teman gadisnya semasa duduk di bangku SMP, yang saat itu sempat disebut bunga sekolah (semacam istilah kembang desa) karena kecantikannya. Kenyataan saat ini bahwa sang gadis tersebut telah bersuami dan mempunyai dua anak, duduk di bangku SMA dan SMP. Sang lelaki yakin bahwa gadis tersebut telah bercerai dan siap menerima dia untuk menggantikan bekas suaminya, padahal realita sesungguhnya keluarga itu masih berjalan baik hingga saat ini. Berbagai upaya telah dilakukan oleh keluarga termasuk mempertemukan sang suami dengan sang lelaki ini, namun hasilnya nihil dan menganggap bahwa orang-orang lain telah membuat rekayasa dan membohonginya. Dari segi fisik, segi jasmani sehat dan makan seperti biasa, juga tidak ada perubahan dalam arti mental. Namun untuk satu hal terkait perasaan, khususnya tentang CINTA benar-benar tak tergoyahkan, tak bisa dikembalikan seperti sedia kala.

Bagi yang sering bepergian atau perjalanan jauh (lajon), sering menjumpai banyak gelandangan, anak-anak punk atau orang yang kurang/hilang ingatan, merekalah salah satu dari sekian orang yang tersesat dalam hidupnya. Atau juga pemuda / pemudi yang jadi sering ngalamun, galau atau stress karena putus cinta, patah hati atau kandas karena cinta yang tak terbalaskan. Inilah realita kehidupan, tersesat bisa dialami siapa saja, dalam bentuk yang mungkin berbeda-beda. Bisa tentang arah perjalanan, pemikiran atau perasaan. Berikut ini adalah kondisi buruk yang sering terjadi dan menghantui perasaan orang yang tersesat.
  • Sering terlambat sadar jika dirinya tersesat, salah arah, salah tujuan, salah perasaan atau salah pemikiran. Tak mudah percaya, bahkan tidak percaya jika ada teman atau orang lain yang memberi tahu bahwa dirinya tersesat, tetap kekeuh dan yakin dia benar, orang lain-lah yang salah.
  • Merasa berat untuk bertanya. Merasa tahu, merasa benar, telah mengalahkan kenyataan bahwa dirinya telah tersesat. Perasaan malu, gengsi semakin menambah parah kondisinya untuk beranjak dan terlepas dari kesesatan yang meliputinya.
  • Berprasangka buruk pada orang lain, sehingga siapa saja dianggap tidak bersahabat, tidak mendukung dan tidak peduli kepadanya. Ini salah satu yang menjadi penyebab orang tersesat sulit untuk bertanya bagaimana jalan untuk kembali.
  • Dorongan dari dalam diri berupa bisikan atau keyakinan untuk terus melanjutkan langkahnya, sikapnya, pemikirannya atau perasaannya. Dorongan itu bersifat menguatkan bahwa di depan sana akan ada jalan pintas, akan ada kemudahan dan akan ada keajaiban untuk mencapai apa yang menjadi tujuannya.
Adakah dari kita yang kemudian muncul pertanyaan dalam diri sendiri "Saya tersesat tidak atau saya tersesat di mana ?". Semoga semua telah benar, semua sudah sesuai dengan harapan. Namun tidak menutup kemungkinan kita salah, walau kita merasa sudah benar. Kita hanya bisa menilai menurut kadar kita, namun menurut kadar orang lain yang lebih tahu bisa jadi berbeda. Oleh karena itu, beberapa hal berikut mungkin saja diperlukan jika suatu saat bertemu dengan kondisi di mana kita berada pada posisi bingung karena salah jalan, salah pemikiran atau salah perasaan :
  1. Bertanya, kepada siapa aja yang ada untuk hal yang bersifat umum. Namun perlu diingat bahwa tidak ada orang yang tahu tentang semua hal. Juga tidak setiap orang tahu tentang hal tertentu, bahkan orang dianggap tahu belum tentu tahu.
  2. Bertanya, kepada orang yang lebih tahu, semisal tentang perasaan, maka psikolog dan psikiater adalah orang yang lebih tahu. Atau tentang ICT atau komputer, maka mereka yang banyak berkecimpung dengan dunia komputer adalah orang lebih tepat.
  3. Bertanya, kepada yang netral (tanpa tendensi). Bertanya kepada yang menyukai kita, maka jawabannya akan cenderung menutup-nutupi kekurangan kita. Bertanya kepada yang membenci kita maka akan banyak menyalahkan, menyudutkan atau justru menyesatkan kita. Bertanya kepada yang punya tendensi kepentingan, justru akan memanfaatkan dan memakan kita. Artinya dalam bertanya memilih orang yang tidak ada ikatan emosi atau kepentingan.
  4. Bertanya, kepada yang bisa merasakan. Bertanya terkait perasaan (sense) kepada google tidak akan menemukan jawaban yang memadai, karena google tidak memiliki perasaan. Bertanya kepada orang yang berhati lembut, halus perasaannya dan mengerti kondisi diri kita saat ini akan jauh lebih baik dalam memberikan solusi dan pemecahan masalahnya.
  5. Bertanya, kepada yang dekat kepada Tuhannya. Inilah sandaran terakhir untuk terkait segala pernik-pernik kehidupan. Hidup yang sesuai dengan syariah dan agama adalah yang paling sesuai, paling nyaman, paling adil. Orang yang paling dekat dengan Tuhannya tidak akan pernah menyesatkan orang lain, tidak akan pernah merugikan orang lain dan pasti akan bersedia membantu dengan senang hati dengan segenap kemampuan yang dimiliki. Untuk mencari orang seperti ini tidak perlu jauh-jauh ke Jawa Timur, ke Cirebon atau ke Bali. Mereka yang dekat dengan tuhannya ada hampir di setiap wilayah sekitar kita. Bila beragama Islam, maka siapa yang paling rajin ke masjid, yang paling sering salat malam, yang paling sering bersedekah adalah sebagian tanda-tandanya. Banyak bercerita kebaikan dirinya, atau seringnya berceramah bukanlah ukutan sesungguhnya.
Terlalu sayang (ngeman) jika kita membiarkan diri dalam kesesatan, baik yang kita sadari maupun yang tidak kita sadari. Kita bisa melihat mereka-mereka yang tersesat hidupnya, baik karena salah dalam pemikirannya, salah dalam mengelola perasaannya, salah dalam mengelola jiwanya dan salah dalam mengisi hidupnya - seakan-akan percuma dan sia-sia waktu yang dijalaninya. Terlalu banyak yang dikorbankan, tenaga yang sia-sia, sumber daya, anak-anak dan keluarga, siswa-siswa juga teman dan saudara. Yang paling terasa adalah korban waktu yang tak bisa tergantikan, kita tak akan bisa mengganti waktu yang hilang, tak bisa menukar waktu yang telah berlalu.

Kuncinya, adalah kepercayaan diri untuk bisa kembali ke tujuan yang sebenarnya dan kepercayaan kepada orang lain, bahwa pada dasarnya keluarga, teman dan masyarakat sangat peduli dan menginginkan kita kembali menjadi pribadi yang utuh seperti sediakala. Bila kita tidak punya kepercayaan diri dan kepercayaan pada orang lain, maka akan sangat sulit untuk "mentas dan beranjak dari kesesatan". Pasrah, tawakal dan kesadaran untuk semakin mendekatkan diri kepada Alloh Yang Maha Kuasa adalah jalan terbaik, insya-Alloh. Selamat melanjutkan aktifitas, semoga sukses. <35000>