text

Selamat Datang di Blog SMP N 2 Kepil Wonosobo ... Sekolah SEJUTA IMPIAN, ... Awali Suksesmu Dari Sini ... Mulailah segala sesuatu dengan BISMILLAH ...

Jumat, 09 Januari 2015

Memperoleh Bantuan Seperangkat Gamelan, SMP Negeri 2 Kepil Semakin Siap dan Tambah Eksis Untuk Melestarikan Kebudayaan Jawa

Sebuah anugerah dan nikmat kembali diterima SMPN 2 Kepil yang semakin hari semakin bertambah maju. Pada masa liburan akhir semester ganjil Desember tahun 2014 lalu, SMPN 2 Kepil mendapat kiriman bantuan dari pemerintah pusat berupa seperangkat gamelan. Sangat sesuai dengan harapan bahwa sekolah ini ingin menjadi sekolah yang menjunjung tinggi kebudayaan dan sangat antusias untuk melestarikannya, khususnya kebudayaan jawa.

Semenjak masuk hari pertama semester genap tahun 2015 ini nampak suasana yang berbeda dari semester sebelumnya. Suara khas bernuansa tradisional jawa sering terdengar sehabis jam KBM. Seakan membawa suara mistis dan menarik-narik bagi yang masih memiliki pendengaran normal dan mempunyai jiwa yang halus dan sensitif dalam bidang seni untuk berjalan menuju sumber suara yang terdengar rampak dan serasi. Sangat menggugah inspirasi dan memberi motivasi, setidaknya untuk mendekat, mendengar dan mencoba untuk turut berpartisipasi memberikan dukungan moril bagi mereka yang berjiwa seni dan peduli di bidang seni.

Suara itu berasal dari seperangkat gamelan yang dimainkan oleh beberapa bapak guru dan siswa-siswi SMP Negeri 2 Kepil yang memiliki antusias terhadap seni. Ternyata untuk urusan gamelan, kepala sekolah (Bapak Drs. Kardan) adalah pawangnya, beliaulah yang kemudian menjadi pengajar dan pelatih. Kemudian disambut dan didukung sepenuhnya oleh P Widodo, P Edi, P Aris, P Ronto, P Pardi, P Latif dan P Eko yang langsung nimbrung ikut berlatih menabuh (memukul) gamelan tersebut. Juga tak ketinggalan siswa-siswi yang punya talenta luar biasa seperti Ika Datul, Rini, Zidni, Rohmah dan Adit Kendang sering ikut mendukung awal-awal latihan menabuh gamelan di sekolah ini. Luar biasa dan sangat cepat akselerasinya. Hanya dalam beberapa kali latihan sudah langsung terlihat rampak dan nyaman untuk didengarkan. Beberapa lagu dasar sudah bisa dimainkan oleh grup latihan ini.

Dengan seni hidup akan menjadi lebih indah, dengan cinta hidup akan lebih bermakna - begitu kata pepatah. Maka marilah kita dukung sepenuhnya uluran bantuan dari pemerintah pusat ini. Bapak/Ibu guru, sempatkan untuk mampir ke ruang serba guna untuk menyambangi gamelan itu. Sekali waku mari kita mencoba ikut berlatih memukul / menabuh gamelan itu, wujud bahwa kita serius memberi dukungan dan motivasi. Setidaknya memberi dukungan dan motivasi bagi mereka (guru dan siswa) yang telah lebih dahulu bersedia menjadi pelopor di bidang seni. Jangan hanya jadi penonton, tapi mari kita menjadi pelaku untuk memajukan sekolah ini. Mari kita tunjukkan peran positif kita sesuai kemampuan kita. Kita mampu jika kita mau. Semoga dengan melestarikan kebudayaan semakin menambah maju sekolah kita ini, insya-Alloh - amin. (27590)

Sabtu, 20 Desember 2014

Manajemen -9 : Merasakan Hati Mereka, Mari Kita Bantu Ringankan Beban dan Kebutuhannya - Manajemen Keuangan, Membangun Empati dan Simpati

Tampak depan gedung SMPN 2 Kepil masih belum layak untuk dikatakan sebagai sekolah yang bagus. Trenyuh, menyentuh dan mengeluh. Sekilas tampak seperti PDAM, kotak penampung air. Sedianya pada lantai 2 sudah berdiri gedung megah dengan papan nama dan logo sekolah. Namun begitulah adanya. Memang, hidup bahagia dengan semua kebutuhan yang tercukupi adalah dambaan setiap anak, setiap orang tua dan siapa saja. Bagi yang sejak kecil terbiasa hidup senang, semua kebutuhan  tersedia dan semua keinginan terpenuhi, mungkin tidak akan bisa merasakan betapa kenyatan di luar sana masih banyak orang yang menderita. Namun ternyata tidak semua orang bernasib baik dan memiliki kesempatan dan kecukupan seperti yang diharapkannya. Inilah sumber ispirasi untuk memulai tulisan Manajemen -9 kali ini, tentang ekonomi, tentang keuangan sekolah.

Kita bisa simak jalan hidup seorang anak kecil kelas 1 SMP yang harus berperan menjadi orangtua. Tasripin adalah salah satu contohnya, dia harus mengurusi ketiga adiknya, memandikannya, menyuapinya, mencuci dan keperluan rumah tangga lainnya. dia harus mengurus dan menyediakan makanan dan segala keperluan adik-adiknya. Sementara dia juga harus sekolah. Bisa dibayangkan betapa beratnya beban yang harus dipikulnya, betapa bertumpuknya masalah yag harus dipikirkan di kepalanya, betapa sesak dadanya merasakan himpitan kebutuhan hidupnya, sementara kedua orang tuanya tidak berada di dekatnya, sedang merantau mengadu nasib karena kondisi dan suratan nasib yang dialaminya. Bayangkan atau rasakan jika itu terjadi pada diri kita, anak kita atau orang terdekat kita. Kebetulan penulis benar-benar pernah merasakan hal yang sama ketika usia yang sama (1986).

Senada dengan Tasripin, di SMPN 2 Kepil demikian juga adanya, ada bagian (personil) yang merasakan susahnya mengatur keuangan, sulitnya mencukupi berbagai kebutuhan. Ibu Sri Supami dan Bpk Ismain, S.Pd adalah salah satu dari mereka yang menjadi pribadi yang harus bisa berpikir dan berperan ganda. Beliau harus berpikir keras, bersabar sambil menahan diri agar bisa mencukupi banyak kebutuhan orang lain. Bisa jadi ketika dia berpikir keras, sibuk menata keuangan, kurang tidur, kurang makan, di sisi lain orang-orang yang dia pikirkan kebutuhannya tidur lelap, makan lahap dan tersenyum lebar ketika menerima santunan SPPD yang jumlahnya bisa melebihi batas maksimal yang harus dibayarkan. Itulah pekerjaan bendahara sekolah atau bendahara BOS di sekolah.

Manajemen keuangan antara sekolah swasta berbeda dengan sekolah negeri. Sekolah swasta yang bisa mengatur dan merencanakan sendiri tata kelola keuangannya, sehingga akselerasi bisa diatur sesuai analisa kebutuhan dan kebijakan. Berbeda dengan sekolah negeri yang harus mengikuti pola aturan yang lebih ketat dan terbatas, karena sudah ada PAGU (panduan penggunaan) untuk alokasi dana dari pemerintah. Ada sekolah swasta bisa memungut iuran dari siswa hingga ratusan ribu tiap bulan, siswa membayarnya dengan penuh kesadaran. Salah satu contohnya SMP Muhamadiyah 4 Yogyakarta, berdasarkan perhitungan besarnya biaya pendidikan di SMP Muhammadiyah 4 sebesar Rp 4,5 juta per anak per tahun. Dana tersebut tidak bisa dipenuhi dengan BOS yang diberikan pemerintah pusat sebesar Rp 575 ribu per tahun.
Maka kemudian harus ditambah dengan iuran dari siswa untuk mencukupi kebutuhan dana sesuai yang diperlukan. Namun demikian antara sekolah dan siswa (orangtua) sudah saling terbuka dan menyadari bahwa untuk suatu lembaga pendidikan yang mengedapankan mutu dan kualitas dalam layanan, ilmu, sarana yang memang sangat diperlukan oleh siswa dalam proses pembelajaran.

Uang  BOS  pada  kenyataannya  belum  cukup  untuk menyelenggarakan  sekolah.  Maka kemudian muncul BOS pendamping yang dianggarkan oleh peerintah daerah. Dengan kata lain, BOS belum   mampu   mencukupi   sepenuhnya   kebutuhan operasional  sekolah.  Di  berbagai  daerah  ada  bermacam reaksi  terhadap  kebijakan  pendidikan  gratis.  Dari  reaksi - reaksi  masyarakat  tampaklah  bahwa  ide  pendidikan  gratis masih   belum   dipahami   dengan   jelas   dan   benar   oleh masyarakat. Pendidikan  gratis  ditangkap  bahwa  siswa  tidak  lagi dibebani  dengan  bermacam-macam  biaya  mulai  dari  uang pangkal,  uang  sekolah,  uang  komite,  dan  buku  penunjang utama.

Peran serta masyarakat, dalam hal ini orang tua siswa sangat dibutuhkan. Pihak sekolah (guru dan pejabat sekolah) harus pandai dan jeli untuk bisa melihat sisi dan bagian mana yang bisa melibatkan siswa (orang tua) dalam pendanaan pendidikan. Tujuannya agar proses pendidikan bisa berjalan sesuai tuntutan standar mutu namun tidak harus menambah/mengambil dari anggaran sekolah yang lain. Contohnya praktikum IPA, Seni Budaya dan Prakarya, siswa membawa spesimen sendiri dari alam sekitar, sehingga tidak perlu anggaran pengadaan bahan yang jika diuangkan jumlahnya bisa ratusan ribu rupiah. Begitu seterusnya dalam mapel-mapel yang lain. Totalitas dari guru sangat diharapkan perannya dalam masalah ini. Jangan sampai terkesan guru tidak mampu. Guru harus mau belajar dan harus menguasai. Kalo siswa yakin gurunya mampu maka siswa akan senang dan siap diatur untuk aktif dalam pembelajaran.

Dari gambaran dan realita di atas, sekolah swasta bisa lebih maju dan lebih cepat dalam proses akselerasi kemajuan dan pemenuhan kualitas layanan pendidikan, karena dana bisa tercukupi dengan mudah dari iuran siswa. Sekolah negeri sekelas SMPN di kota juga bisa lebih maju baik dari segi sarana, layanan dan mutu. Lalu apakah kita sekolah kita ini akan begini terus. Siapa yang harus bertanggung jawab ? Siapa yang siap menjadi pioner dan pejuang untuk membangunkan panglima, punggawa, senopati dan prajurit yang merasa telah merdeka, dan menikmati hidangan kemerdekaan yang penuh dengan kenikmatan.

Kemajuan sekolah tidak bisa dibebankan pada kepala sekolah semata, karena kepala sekolah sangat terbatas periode masanya, sekian tahun sudah rolling dan bergeser ke sekolah lain. Justru pada pundak panglima, punggawa dan senopati yang tak lain para guru dan pejabat sekolah terletak kunci kesuksesan dan kemajuan sekolah itu berada. Memang sangat dibutuhkan pejabat / guru yang kompeten, yang berjiwa pejuang, yang berorientasi mutu, bervisi pada pelayanan. Bukan pejabat / guru yang berjiwa priyayi, yang maunya dilayani, dihormati dan dicukupi. Sangat dibutuhkan pribadi-pribadi yang jiwanya terpanggil untuk kerja bakti, ikut andil untuk mengabdi, siap melayani  yang ikut andil bisa memulai untuk membuat sekolah kita bisa berjalan lebih cepat, berlari dan berakselerasi untuk menjadi lebaih baik dalam segala sisi. Muda tua bukan pembeda, laki-laki wanita bukan kendala untuk sebuah perjuangan meraih cita-cita bersama.

P Yun, P Edi, P Wid dan P Aris sudah di depan, mari P Yus, P Bagus, P Fauzi kita siap kerja bakti. Pak Vendi, Pak Ronto jangan ditanya, sudah lebih dulu berlari. Demikian pula B Ruti, B Prih dan B Isti yang tak lagi mikir SPPD pengganti. Bapak/Ibu yang lain monggo nderek untuk andil dan berbagi, mari kita jadikan diri ini bagian dari proses kemajuan pendidikan di sekolah yang kita cintai ini. Semoga Alloh senantiasa meridhoi amal bakti dan pengabdian kita. (27111-501)

Kamis, 11 Desember 2014

Kurikulum 2013 Lanjut atau Tidak, SMP Negeri 2 Kepil Telah Siapkan Aplikasi Penilaian Kurikulum 2013, Walau Sederhana Namun Asli Buatan Randusari

Mendikbud Anis Baswedan memutuskan penghentian K-13, sebagian DPR menentang keputusan mendikbud, wakil presiden Jusuf Kalla ikut-ikutan menentang keputusan mendikbud. Namun sebenarnya yang paling merasa dapmpaknya adalah guru dan siswa disekolah. Di tengah belum pastinya nasib kurikulum pendidikan di negeri kita, Alhamdulilah, pihak sekolah telah menyiapkan aplikasi penilaian K-13 menjelang berakhirnya proses belajar mengajar (PBM) semester satu tahun pelajaran 2014/2015. Aplikasi ini murni buatan SMPN 2 Kepil, bukan bajakan atau kopian yang kemudian diganti label dan namanya saja.

Sekedar berbagi cerita, membuat aplikasi penilaian seperti itu tidaklah mudah, apalagi bagi seorang junior seperti kami yang berada di sekolah pinggiran ini. Awalnya seseorang harus paham OUTPUT / produk akhirnya seperti apa, harus paham bagaimana cara inputnya, paham bagaimana cara mengolahnya (dengan aturan yang berubah-ubah, terakhir permendikbud 104 tahun 2014), dan paham linknya agar entri nilai bisa saling terhubung dan terintegrasi, hingga akhirnya agar pada bagian akhir berupa antarmuka untuk wali kelas yang berupa tampilan rapot siap cetak. Itulah perencana, harus paham bagaimana awalnya, bagaimana akhirnya dan bagaimana bisa memahami dan membaca kemungkinan permasalahan yang akan terjadi pada para user (guru) dan cara mengatasinya.

Aplikasi ini menggunakan Ms. Office Excel sebagai basisnya yang tersedia link sel, link sheet dan link file. Belajar dari aplikasi A, sedot aplikasi B. jebol aplikasi C dan modifikasi aplikasi D. Termasuk bertanya dan konsultasi dengan orang laini yang lebih paham, bahkan kepada yang yunior sekalipun (dalam hal ini kami konsultasi pada Mas Budiyanto yang sangat paham tentang jaringan internet dan sistem security, beliau adalah mantan murid kami di SMK). Aplikasi sederhana ini benar-benar buatan sendiri, dengan niat untuk belajar, belajar untuk lebih tahu, lebih memahami dengan harapan bisa berbagi kepada teman sendiri. Sama sekali tidak ada niat untuk komersialisasi, karena memang tidak seharusnya untuk bersifat komersial di sekolah sendiri, pada teman sendiri. Miris melihat ada orang yang berani menjual dan mengkomersilkan aplikasi yang bukan buatan sendiri, hanya hasil download yang dimodifikasi, diganti nama dan notasi. Pembajakan kalau istilah Pak Edi dan Bu Rini

Harapan kami ini bisa menjadi inspirasi bagi teman-teman satu sekolah, bahkan mungkin sekolah-sekolah yang lain untuk bisa berkarya sesuai bidang masing-masing. Jangan berfikir materi apa yang akan diterima, hasil apa yang akan didapatkan, keuntungannya berapa, hitungannya bagaimana. Kalo dihitung-hitung tidak bakal ketemu. Semisal dihargai Rp 100.000,- maka itu tidak akan sepadan dengan kerja dan pemikiran yang harus lembur puluhan malam. Sebaliknya kalau diharga Rp 200.000,- maka juga tidak untung bagi sekolah karena karya tersebut teramat sangat sederhana dan tak layak dikomersialisasi. Aplikasi itu dibuat semata-mata bentuk upaya pemenuhan kinerja dan pengabdian, dan sama sekali bukan untuk tujuan mendapatkan keuntungan materi. Dengan karya sederhana itu kami mendapatkan banyak sekali manfaat antara lain kepuasan belajar hal-hal baru, kepuasan berimajinasi dalam lautan ilmu, pemahaman, serta pengalaman yang diperoleh, Hal ini adalah kesempatan dan kebahagiaan yang tak ternilai harganya. Salah besar kalu setiap gerak kita, langkah kita harus dihitung untung berapa, rugi berapa. Jangan sampai seperti pepatah Jawa "OBAH MAMAH", setiap aktifitas minta dihargai dengan materi. Rejeki adalah urusan Alloh, dan Alloh tak akan pernah salah memberikan rejeki pada siapa yang dikehendaki-Nya.

Akhirnya kami mengajak semuanya, mari kita tingkatkan kinerja kita dengan semangat ibadah dan ikhlas karena Alloh semata. Mengutip pepatah seorang motivator "Hukum kekekalan energi", kalau kita kumpulkan energi positif sama saja kita menabung energi positif. Energi positif itu adalah karya kita, sodakoh kita, senyum kita, kasih sayang kita dan segala kebaikan dari diri kita. Cepat atau lambat kita akan menuai hasilnya. Sebaliknya segala keburukan dari kita ; sikap kita, kerja kita, ucapan kita bahkan materi yang kita dapatkan yang seharusnya bukan hak kita adalah energi negatif yang taka akan pernah hilang, suatu saat energi negatif akan kita petik dalam berbagai bentuk negatifnya ; sakit, susah, galau dan sebagainya, tidak hanya pada kita namun bisa sampai anak cucu kita. Selamat berkarya mengumpulkan energi (26735)

Senin, 08 Desember 2014

Manajemen -8 : Mengelola dan Menggunakan Sarana Untuk Kemajuan Siswa - Manajemen Sarana-Prasarana, Semangat Melayani, Bukan Untuk Menguasai

Tema tulisan ini terinspirasi paparan DAHLAN ISKAN, sang menteri BUMN pada era presiden SBY. Hal ini ditunjukkan oleh sikap, pemikiran dan kinerja beliau ketika beberapa kali melakukan sidak di kantor BUMN yang menjadi bawahan dalam departemennya. Salah satu fokus yang pertama kali menjadi sasaran sidaknya (inspeksi mendadak) adalah TOILET. Kenapa toilet ?

Menurut pak menteri BUMN (saat itu) kinerja manajemen bisa diukur dengan mudah dari hal yang sepele, toilet. Toilet merupakan tempat yang dianggap paling belakang dan tersembunyi. Namun justru dari sanalah akan nampak pengelolaan manajemen instansi / lembaga / kantor tersebut. Karena kalau toilet yang berada di tempat yang berada di belakang dan tersembunyi ternyata kondisinya bersih, rapi, nyaman pastilah pada bagian lainnya akan lebih rapi, lebih bersih dan nyaman.

Toilet kotor, tidak terawat dan bau adalah pemandangan yang lazim ditemui pada banyak kantor / instansi / lembaga termasuk sekolah. Tak jauh beda dengan BUMN, sekolah-sekolah pun demikian adanya. Namun ada kenyataan bagus di suatu sekolah di lereng gunung Dieng yang sangat baik pengelolaan toiletnya. Toliet banyak tersedia di beberapa sudut tempat, dengan air persediaan yang memadai (mungkin karena tersedia air alami), kemudian untuk kebersihannya sudah dibagi dan diserahkan kepada kelas-kelas yang sudah ditentukan jadwalnya. Sehingga tidak ditemukan kondisi toilet yang kotor dan bau, apalagi toilet guru dan pegawai yang jauh lebih bersih, rapi dan terawat.

Manajemen Material-Machine, adalah tema tulisan kali ini. Dalam dunia sekolah sering disebut dengan Sarana dan Prasarana. Sarana prasarana sangat terkait dengan tiga hal pokok, yaitu 1. Pengadaan / pembangunan, 2. Penggantian / Perawatan, 3. Pemusnahan / pembuangan. Sepintas mungkin tidak begitu menarik, namun kalau bisa mengambil intinya akan sangat terasa betapa pentingnya pemanfaatan sarana dan prasarana dalam proses pendidikan. Kami tidak akan membahas tentang definisi dan klasifikasinya yang sudah banyak di jumpai di buku, makalah atau website dengan mudah. Namun kami lebih memilih untuk fokus pada sarana-prasarana, pemanfaatan dan pengelolaannya.

Di SMPN 2 Kepil, untuk urusan sarana-prasarana Bpk Edi Wineto, S.Pd adalah pawangnya. Beliau sangat ahli dan berpengalaman untuk urusan ini. Sulit untuk mencari orang yang sekaliber / sekelas beliau, sehebat dan seikhlas beliau untuk mengurusi bidang yang satu ini. Banyak sekali kemajuan dan peningkatan yang sangat signifikan terkait layanan sarana-prasarana. Pembangunan Mushola sekolah yang saat ini telah 80% selesai, pembenahan jaringan listrik di setiap ruangan, perbaikan toilet siswa, dan yang terakhir adalah penyediaan tempat parkir siswa di belakang sekolah disusul dengan banner kata-kata motivasi di dinding depan/luar tiap ruang kelas sekolah.

Senada dengan fenomena BUMN di atas, permasalahan terkait sarana dan prasarana di sekolah  ibarat pepatah setali tiga uang, serupa tapi tak sama. Hal itu hampir terjadi di setiap sekolah, dimana saja (kecuali yang sudah berfikir lebih maju). Masih juga dijumpai hal-hal yang dianggap sepele tidak tertangani secara baik, namun justru hal sepele tersebut yang menunjukkan betapa sistem penanganan masalah terasa belum optimal. Tanpa bermaksud mendiskreditkan siapapun, baik pejabat maupun perorangan, tulisan ini berlaku untuk semua. Satu hal yang penting untuk dicatat bahwa pada dasarnya semua sarana dan prasarana sekolah diperuntukkan untuk mendukung pembelajaran bagi siswa. Guru, karyawan dan juga siswa. Intinya untuk siapa saja yang terkait dengan pembelajaran bagi siswa. Terkait dengan itu ada beberapa hal yang mungkin perlu lebih diperhatikan dalam penanganan dan pengambilan keputusan terkait sarana-prasarana sekolah.
  1. Perencanaan waktu. Biasanya perencanaan dibagi menjadi tiga : jangka pendek, menengah dan jangka panjang. Semuanya harus direncanakan untuk dilaksanakan sesuai tingkat kebutuhan. Untuk merencanakan ini tidak cukup dibuat seorang diri oleh pemangku sar-pras, harus melibatkan banyak pihak sesuai bidangnya masing-masing. Misal kebutuhan Lab IPA, guru olah raga, guru seni dll untuk turut membuat analisa perencanaan kebutuhan mereka. Bahkan sebaiknya setiap guru, setiap karyawan sebaiknya punya ide / gagasan untuk kebutuhan mereka, namun harus realistis dan tidak mengada-ada, dan tidak harus semua minta ke sekolah (misalnya pulpen, pensil atau penghapus ya tidak harus mengajukan proposal untuk pengadaan).
  2. Skala prioritas. Faktor inilah yang akan membedakan hal mana yang harus disegerakan dan mana yang bisa dipending pelaksanaannya. Skala prioritas bisa dilandasi beberapa faktor antara lain : - sesuai rencana, adanya stimulan pembiayaan dan emergensi/darurat. Untuk yang terakhir (darurat) secara otomatis bisa berubah menjadi urutan teratas untuk segera diselesaikan / ditangani, apalagi yang terkait dengan hajat hidup orang banyak.  Hal ini dimaksudkan agar tidak terkesan lamban dan tidak reaktif terhadap keadaan. Contohnya,jalan utama (lalu lintas keluar masuk sekolah) rusak, toilet rusak (tidak memadai, tidak layak), dan contoh lainnya haruslah segera dicarikan solusi untuk membenahi / merenovasi.
  3. Sediakan hak siswa terkait berbagai sarana yang tidak bergerak (misalnya gedung, kelas, ruang, taman, mushola, toilet dan lain-lain. Jangan dibiarkan terbengkalai tidak terurus dan ditunda-tunda penanganannya. Contohnya, toilet yang tidak layak baik dari segi bangunan maupun kelengkapannya, terlebih irigasi dan sanitasinya agar tidak berimbas pada kenyamanan pada saat pemakaian dan juga dampak lingkungan sekitarnya. Alhamdulilah SMPN 2 Kepil memilihi lahan dan tempat yang sangat luas dan memadai. Namun ada suatu sekolah di Kab Magelang yang tak memiliki halaman yang memadai untuk olahraga dan upacara, maka beberapa kebutuhan utama sekaligus tidak terpenuhi, inilah yang dimaksud tidak bisa memberikan kebutuhan dasar siswa.
  4. Berikan sepenuhnya yang menjadi hak siswa terkait sarana pembelajaran di sekolah. Alat peraga, alat laboratorium IPA, alat musik, alat olahraga hingga laboratorium komputer sesuai prosedur yang berlaku. Jangan sampai anak kesulitan untuk memanfaatkan alat tersebut karena kesalahan pemahaman guru. Alat, mesin, sarana yang rusak karena digunakan akan lebih berharga, lebih bermanfaat dan berguna daripada utuh karena tidak pernah dipakai.
  5. Pemanfaatan ruangan dan media. Banyak media / alat sekolah yang belum dimanfaatkan secara optimal untuk kegiatan pembelajaran. Ruang OSIS, ruang media, ruang musik sampai mushola yang belum digunakan secara optimal. Contoh yang terkait media adalah LCD Proyektor, alat Lab IPA, alat Lab Komputer, alat olah raga yang belum digunakan semestinya, ini sama halnya tidak memberikan hak siswa untuk menggunakan dalam pembelajaran, dan ini sama halnya dengan alat yang tidak tepat sasaran.
Kami memiliki angan dan harapan bahwa beberapa waktu ke depan SMPN 2 Kepil bisa menambah beberapa toilet siswa pada beberapa sudut sekolah, ujung selatan timur dan barat. Untuk mengawali akan dibuat toilet guru dan ruang rehat darurat di ruang guru, agar privacy guru bisa terjaga dan lebih nyaman. Kemudian toilet TU di ruang depan yang sekaligus difungsikan sebagai toilet dan tamu dapat direnovasi dan tampil lebih menarik, rapi, bersih dan nyaman. Sehingga bila ada tamu datang, akan muncul kesan rasa nyaman dan menyenangkan.

Akhirnya, mari kita berbenah tanpa harus membaca siapa yang salah dan siapa yang benar, ini tanggung jawab kita semua. Pak Edi Wineto tak mungkin sanggup sendirian, beliau sangat membutuhkan masukan, bantuan ide dan pemikiran, serta peran serta kita semua dalam mengelola sarana prasarana sekolah ini. Mari benahi kebersamaan, persatuan dan kerjasama. Setiap kita punya andil yang besar untuk bisa membangun, mengelola dan memanfaatkan sarana prasarana sekolah untuk kemajuan dan prestasi siswa, kemajuan dan prestasi sekolah. Semoga tulisan ini bisa menjadi inspirasi dan pemikiran pihak pemangku jabatan dan pengambil keputusan di sekolah kita. Selamat beraktifitas, semoga sukses. Sampai jumpa pada edisi berikutnya, budgeting .... (26630)

Jumat, 05 Desember 2014

Selamat Jalan Kurtilas - Beginilah Akhir Nasib Kurikulum 2013, Benar-benar Berakhir Tragis, Namun Inilah Jalan Yang Terbaik

"Selamat, selamat, bebas, merdeka," ucapan selamat yang pertama bagi sekolah yang baru melaksanakan Kurtilas (K-13) selama satu semester, akhirnya bisa kembali bernafas lega dan melanjutkan pembelajaran pada semester berikutnya dengan menggunakan kembali kurikulum 2006 / KTSP yang sudah dirasa cocok. Namun demikian masih ada beberapa sekolah di tiap kabupaten/kota, termasuk SMPN 2 Kepil yang harus menerima ucapan selamat yang kedua, "Selamat Berjuang dan Tetap Bekerja Keras bagi Sekolah Pilot", karena harus tetap melanjutkan pelaksanaan kurikulum 2013 yang sarat dengan masalah karena belum siap sistem dan berbagai hal, yang dengan bahasa gampangnya disebut belum matang - kurikulum setengah matang.

Berikut petikan yang kami ambil Jum'at malam pukul 22.00 WIB dari situs http://news.detik.com/read/2014/12/05/200449/2769275/10/mendikbud-anies-baswedan-putuskan-kurikulum-2013-dihentikan, secara lengkapnya demikian :

Jakarta - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan menghentikan pelaksanaan Kurikulum 2013. Penghentikan itu diterapkan bagi sekolah-sekolah yang baru melaksanakan Kurikulum 2013 selama 1 semester.

"Saya memutuskan untuk menghentikan pelaksanaan Kurikulum 2013 di sekolah-sekolah yang baru menetapkan satu semester yaitu sejak tahun pelajaran 2014/2015," kata Anies di kantornya, Jl Sudirman, Jakarta Pusat, Jumat (5/12/2014).
Anies menginstruksikan sekolah-sekolah itu agar‎ kembali menggunakan Kurikulum 2006 mulai semester genap tahun pelajaran 2014/2015. Anies menegaskan bahwa berbagai konsep di Kurikulum 2013 sebenarnya telah diakomodasi dalam Kurikulum 2006.
"Jadi tidak ada alasan bagi guru-guru untuk tidak mengembangkan metode pembelajaran di kela‎s," kata Anies.
Selain itu, masih ada pula sekolah-sekolah yang sudah menetapkan Kurikulum 2013 selama 3 semester yaitu sejak tahun pelajaran 2013/2014. Sekolah-sekolah itu diharapkan tetap menerapkan Kurikulum 2013 dan dijadikan sebagai sekolah pengembangan dan percontohan Kurikulum 2013.
"Pada saat Kurikulum 2013 telah diperbaiki dan dimatangkan lalu sekolah-sekolah ini dimulai proses penyebaran penerapan Kurikulum 2013 ke sekolah lain di sekitarnya," terang Anies.

Namun apabila ada sekolah yang keberatan menjadi sekolah pengembangan dan percontohan Kurikulum 2013 dengan alasan ketidaksiapan dapat mengajukan diri kepada Kemendikbud untuk dikecualikan. ‎Sekolah yang sudah menerapkan Kurikulum 2013 selama 3 semester ini jumlahnya 6.221 dari 208.000 sekolah (SD/SMP/SMA/SMK).
Kemudian, Anies juga memutuskan untuk mengembalikan tugas pengembangan Kurikulum 2013 kepada Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemendikbud. Pengembangan Kurikulum tidak ditangani oleh tim ad hoc yang bekerja jangka pendek."Kemendikbud akan melakukan perbaikan mendasar terhadap Kurikulum 2013 agar dapat dijalankan dengan baik oleh guru-guru," ucap Anies.
Anies juga mengatakan malam ini juga surat edaran kepada seluruh kepala sekolah di Indonesia akan disiapkan dan segera dikirimkan ke sekolah-sekolah tersebut.

Dengan demikian 6 SMPN di Wonosobo termasuk SMPN 2 Kepil kita tercinta harus mau dengan ikhlas ataupun terpaksa untuk tetap setia pada kurtilas. Enam SMP di Wonosobo yang ditunjuk sebagai pilot project yaitu ; SMPN 1 Wonosobo, SMPN 2 Selomerto, SMPN 1 Garung, SMPN 1 Mojotengah, SMPN 1 Kepil dan SMPN 2 Kepil harus tetap berjuang dengan sekuat tenaga, daya upaya dan penuh keyakinan untuk tetap mengawal dan melaksanakan Kurikulum 2013- wujud konsekuensi sekolah piloting project K-13. Selamat, selamat .... selamat malam. (26340)

Senin, 01 Desember 2014

Ulangan Umum Akhir Semester 1 - Tahun Pelajaran 2014/2015

Proses pembelajaran semester-1 tahun pelajaran 2014/2015 akan segera berakhir. Nampak panitia sudah sibuk mempersiapkan segala sesuatunya agar kegiatan UAS nantinya bisa berjalan lancar sesuai yang direncanakan. Persiapan administrasi kepanitiaan, kelengkapan ruang ujian dan pengepakan soal ujian yang buatan lokal sekolah sudah 90% selesai. Secara umum soal berasal dari MKKS - yang pusat distribusinya di SMPN 1 Wonosobo. Adapun soal yang dibuat sendiri oleh sekolah adalah untuk mapel Seni Budaya, TIK dan Prakarya.

Berikut ini adalah pengumuman pemberitahuan terkait UAS / semester yang akan segera dilaksanakan.

Menurut jadwal yang dibuat berdasarkan kalender pendidikan, telah ditentukan bahwa UAS akan dilaksanakan serempak untuk SMP/MTs se Kabupaten Wonosobo.

UAS akan dilaksanakan mulai hari Jum'at, 5 Desember - 11 Desember 2014. Adapun jadwal dapat dilihat pada papan pengumuman atau pada masing-masing kelas.
Untuk UUKK tahun ini, seluruh kegiatan dilaksanakan atas komando dari Panitia yang telah dibentuk oleh sekolah dengan personalia sebagai berikut :

  • Penanggung Jawab : Drs. Kardan (Kepala Sekolah)
  • Ketua                    : Prihatin Handayani, S.Pd, C-M.Pd
  • Sekretaris              : Yosep Luhvendi, S.Pd
  • Bendahara             : Rini Utami, S.Pd
  • Anggota                : Sri Hartati, S.Pd                
Selamat belajar dan berusaha untuk mempersiapkan diri agar diperoleh hasil yang maksimal.

Kamis, 27 November 2014

Manajemen -7 : Tumbuhkan Empati, Sekarang Saat Tepat Untuk Memulai Perubahan - Manajemen SDM, Memanfaatkan Peluang

Tulisan ini adalah sesi terakhir tentang Manajemen SDM yang berjumlah 4 judul dari keseluruhan tulisan bertajuk Manajemen Sekolah yang rencananya berjumlah 12 judul. Agar mempunyai pola pikir yang utuh, sebaiknya dibaca secara urut dan lengkap  dari konsep awalnya. Berikut link menuju tulisan terdahulu : Manajemen 1, Manajemen 2, Manajemen 3, Manajemen 4, Manajemen 5, Manajemen 6. Manejemen 8 akan berisi tentang manajemen Material-Machine, Manajemen 9 berisi Budgeting, Manajemen 10 berisi Marketing, Manajemen 11 membicarakan Quality Control. Manajemen 12 berisi penutup-kesimpulan.

Inspirasi tulisan Manajemen -7 ini tentang beratnya perjuangan seorang ibu yang ingin anaknya sukses. Tak satu ibu-pun yang menginginkan anaknya susah, sengsara atau menderita. Ia akan rela melakukan pekerjaan apapun, penderitaan seberat apapun, bahkan kehinaan apapun demi anak-anak yang dicintainya. Ia akan pertaruhkan jiwa raga-nya untuk kehidupan dan kemuliaan anak-anaknya (jadi berair mata ini mengingat penderitaan ibu saya saat itu, terpaksa harus ikut bekerja membantu bapak sebagai seorang buruh bangunan). "Ya Alloh, karuniakan kebahagiaan pada ibu kami di usia senjanya, dan jadikan kami anak yang bisa berbakti kepada kedua orang tua kami."

Satu episode kisah di Kick Andi, perjuangan ibu yang membesarkan 8 anaknya seorang diri, setelah suaminya meninggal (ibu itu berumur 40 tahun). Pengorbanan, kerja keras, tetes keringat, air mata dan doa seorang ibu demi menghidupi anak-anaknya agar menjadi orang sukses dalam hidup dan karirnya merupakan perjuangan ibu untuk keberhasilan anak-anaknya. Adalah Hj Badariah (ibu dari mantan bupati Bangka H Yusroni Yazid). Sebagai single parent, dia berjuang mencari nafkah untuk menghidupi dan membiayai sekolah delapan anaknya.

Berbagai pekerjaan dilakoninya, mulai dari membuat kue untuk dijual anak-anaknya, mengambil upah cucian dan menyetrika pakaian, menjadi pedagang kredit emas dan barang-barang rumah tangga hingga menjadi tukang masak di kapal keruk milik PT Timah Tbk. Setiap hari hanya istirahat selama 3 jam.
Demi sang anak agar bisa tetap sekolah, dia juga selama tiga tahun hingga usianya 51 tahun masih bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Jakarta ikut keluarga dokter agar putranya, Firdaus, bisa kuliah dan punya tempat tinggal selama kuliah di Jakarta. Sangat keras jalan hidupnya, yang akhirnya berbuah kesuksesan pada anak-anaknya.

Dari kisah perjuangan seorang ibu di atas, pesan yang ingin kami sampaikan begini, Coba POSISIKAN diri pada ibu itu, atau salah satu dari anak ibu itu. Betapa susah dan beratnya perjuangan itu, betapa capek dan menderitanya jiwa itu. LALU, SAMPAI HATIKAH kita telantarkan anak-anaknya di sekolah ini. SAMPAI HATIKAH kita bentak-bentak, kita suruh-suruh semau kita dengan arogansi kekuasaan kita sebagai guru, sebagai pejabat, sebagai staff di sekolah ini. SAMPAI HATIKAH kita menambah penderitaannya dengan sikap kita yang tidak bisa berlaku adil, tidak bisa mengayomi jiwanya yang sangat butuh perhatian kita. SAMPAI HATIKAH kita tidak mengasihinya, tidak menyentuh kepalanya, tidak merangkul perasaannya, tidak merengkuh hatinya menggantikan ayah-ibunya yang tak sempat lagi karena kesibukan dan kondisi tubuhnya yang mulai renta. SAMPAI HATIKAH kita tidak menghiraukannya, tidak membimbingnya, tidak memberinya suport dan motivasi untuk tetap kuat berjuang. SAMPAI HATIKAH kita tidak menyisihkan waktu untuk membimbing dan mendoakan untuk kesuksesan dalam hidupnya. SAMPAI HATIKAH kita tak menyisakan sedikit saja rejeki kita sekedar untuk membelikan buku tulis dan pensilnya yang tinggal 5 senti dan teramat ala kadarnya.

Bapak-Ibu, kita sudah jadi orang tua, mungkin sebagian kita merasa SUDAH SUKSES, sukses dari sisi materi, sukses dari sisi karir, jabatan, golongan dan kedudukan. Namun sudahkan kita sukses menjadi orang tua yang sesungguhnya, terlebih menjadi guru yang sesungguhnya. Rasanya belum lengkap apabila kita sudah merasa sukses hanya dari ukuran materi dan posisi, namun belum bisa memberi imbas yang positif kepada yang lain. Masihkah kita memiliki pribadi yang jauh dari sikap penyantun, sikap penyayang, sikap pengayom, sikap pemurah, sikap empati dan simpati, sikap tulus, dan sikap yang berkaitan dengan hati dan karakter sebagai wujud KEDEWASAAN kita. Kalau sekedar untuk tersenyum saja terasa berat, sekedar tutur kata yang menyejukkan saja tak mampu, kalau sekedar  memberi suport dan pujian saja tak mau, apalagi untuk memberi bentuk lainnya dengan ketulusan.
KESUKSESAN SESUNGGUHNYA adalah apabila kita mampu mengajak dan mengantarkan orang lain untuk meraih sukses. Konsep pokoknya adalah MEMBERI, bukan MENGAMBIL. Semakin banyak memberi, semakin banyak berbagi, semakin bermanfaat maka semakin sukses. dalam arti yang sesungguhnya. Manajemen memanfaatkan peluang, inilah yang menjadikan orang sukses. Peluang apa saja, kesempatan yang bagaimana ?

Peluang itu bernama waktu dan kesempatan untuk belajar. Mengapa belajar ? Yah ... memang kesempatan itu bernama belajar. Belajar untuk semakin membuka wawasan dan cakrawala berfikir rasional, belajar untuk mampu bersikap dan bertindak dewasa, belajar untuk bisa berkarya selayaknya profesional sesungguhnya. Belajar apa saja, tentunya yang diperlukan dan mendukung bidang pekerjaannya. Maka sangat tepat  apa yang sudah dilakukan oleh Pak Latif, Bu Ruti dan Bu Prihatin yang telah berani mengambil keputusan untuk berani susah payah, berani menderita, berani mengorbankan waktu, tenaga dan biaya untuk melanjutkan jenjang pendidikan S2 meraih Master. Berani mencabut kalkulator matematika untung-rugi dari sisi materi. Karena S2 (Master) bukan untuk tujuan finansial semata, namun lebih berorientasi pada keilmuan, wawasan / keluasan pola fikir, serta sikap yang lebih dewasa dalam menjalani proses dan perjalanan sebagai seorang profesional.

Peluang itu bernama mengambil / menerima kesempatan meraih jabatan. Adanya tawaran untuk mengisi jabatan tertentu semisal pengawas, kepala sekolah, wakil kepala sekolah, ketua panitia ataupun sekadar ketua RT. Oleh karena itu kepada Ibu Ruti, Ibu Prihatin, Bpk Ismain, Bpk Sukarna, Bpk Edi dan Bpk Agus Yuswantoro kami memberi dukungan penuh bagi beliau semua untuk berani maju mengikuti konvensi pemilihan calon kepala sekolah baru untuk tahun depan. Kesempatan dan momen bagus tidak akan terulang kedua / ketiga kalinya. Bisa jadi akan ada lagi kesempatan namun pasti akan berbeda peluangnya, berbeda kondisinya, berbeda pula nuansanya.

Peluang itu bernama kesempatan, kesehatan, kekuatan untuk berkarya dan bekerja. Selagi masih diberi kesempatan, kesehatan dan kekuatan harus dimanfaatkan untuk bekerja dan berkarya yang terbaik, semaksimal mungkin. Jika kesempatan sudah tidak punya, kesehatan sudah terganggu, kekuatan sudah berkurang makan peluang untuk berkarya terbaik menjadi sangat jauh berkurang.

Harapan dan amanah Hj Badriyah dan ibu-ibu dari siswa kita jangan sampai kita abaikan lagi. Mereka ingin peluang sukses bagi anak-anak mereka dapat diwujudkan di sekolah ini. Oleh karena itu, kesempatan untuk berbuat terbaik adalah saat ini, bukan besok, minggu depan, bulan depan apalagi tahun depan. Mari kita mulai untuk belajar, mulai berani mengambil tawaran amanah untuk posisi lebih tinggi, mulai untuk berkarya yang terbaik. Intinya peluang yang masih ada saat ini harus diambil sebagai rangkaian proses untuk menuju lebih baik, lebih berharga, lebih berkinerja, lebih berdedikasi dan mempunyai pribadi yang mulia. Selamat belajar, selamat berkarya untuk kehidupan yang lebih baik, semoga (26094).

Selasa, 25 November 2014

Hari Guru (PGRI) Spesial Semarak di SMPN 2 Kepil, Guru Hebat, OSIS Semangat dan Hebat Luar Biasa

Suasana di SMPN 2 Kepil hari ini sangat spesial, lantunan lagu Himne Guru, Terima kasih Guru dan Mars SMPN 2 Kepil terdengar berulang-ulang dan sambung menyambung. Setiap kelas pentas dalam ajang lomba paduan suara dengan lagu wajib 3 lagu tersebut. Nampak siswa sangat antusias dengan penampilan istimewa mereka untuk menjadi yang terbaik, sebagai persembahan bagi guru-guru mereka. Suasana hari guru memang sudah terasa sejak di perjalanan. Sejak di jalan nuansa guru sudah terasa, banyak motor (kendaraan mayoritas para guru) ditumpangi orang berseragam baju bercorak hitam putih bergambar obor, yang merupakan seragam PGRI. Ya ... hari ini, Selasa 25 Nopember 2014 secara serentak di seluruh Indonesia diperingati hari guru yang ke 69 yang bertepatan dengan hari terbentuknya PGRI, hari besarnya guru di Indonesia.

Yah, hari ini memang sangat terasa spesial yang terjadi di SMPN 2 Kepil, semua guru berseragam baju PGRI, lebih spesial lagi adalah upacara bendera dalam rangka memperingati hari guru kali ini, semua petugas upacara dilaksanakan sepenuhnya oleh guru. Bertindak sebagai pembina upacara Bpk Drs. Kardan (kepala sekolah), pemimpin upacara Bpk Widodo, pengibar bendera Bpk Sukarna, Bpk Fauzi dan Bpk Bagus, pembaca UUD Ibu Isti, pembaca doa Bpk Ismain, dirigen Ibu Suratimah S, protokol Ibu Laras, pemimpin barisan Bpk Aris, Bpk maryanto, Bpk Edi dan Bpk Eko, ajudan Bpk Supardi.

Menjelang upacara selesai ada acara istimewa yang disutradarai oleh OSIS, sangat trenyuh dan menyentuh. Semua guru diatur baris berjajar urut sesuai kode, lalu dilantunkan lagu terima kasih guru, sejenak kemudian secara serentak dan teratur satu persatu dari OSIS maju menemui guru untuk sungkem dambil menyerahkan sepucuk bunga mawar pertanda penghormatan dan rasa terima kasih. Banyak guru dan siswa yang trenyuh hingga meneteskan air mata, sangat khidmat, khusuk dan menyentuh. Luar biasa anak-anak kita.

Selanjutnya setelah upacara selesai, dilanjutkan acara lomba yang diikuti oleh setiap kelas. Lomba ini tidak bertujuan untuk menjdai yang terbaik, namun untuk menumbuhkan apresiasi dan aktualisasi siswa untuk berbakti pada almamater serta ajang untuk mengasah kreatifitas diri. Secara terperinci lomba dalam rangka memperingati hari guru di SMPN 2 Kepil dapat diuraikan sebagai berikut :
  1. Paduan suara
  2. Melukis
  3. Baca puisi
  4. Karaoke
  5. Ambil bola (putri)
  6. Ambil bola (putra)
Guru adalah benar-benar tugas mulia, tugas terhormat - kalau kita menyadarinya. Kira-kira demikian yang disampaikan pemimpin dunia pendidikan saat ini, mendikdasmen RI. Mengutif sambutan Mendikdasmen Anis Baswedan di media internet hari ini, berikut petikannya :

  • Menjadi guru bukanlah pengorbanan. Menjadi guru adalah sebuah kehormatan. Ibu dan Bapak Guru telah memilih jalan terhormat, memilih hadir bersama anak-anak kita, bersama para pemilik masa depan Indonesia. Ibu dan Bapak Guru telah mewakili kita semua menyiapkan masa depan Indonesia.
  • Potret Indonesia hari ini adalah potret hasil dunia pendidikan di masa lalu. Potret dunia pendidikan hari ini adalah potret Indonesia masa depan. Jadikan rumah kita dan sekolah kita menjadi zona berkarakter mulia. Izinkan anak-anak kita merasakan rumah yang membawa nilai kejujuran. Izinkan anak-anak kita merasakan sekolah yang guru-gurunya adalah teladan. Biarkan anak-anak kita mengingat Kepala Sekolahnya dan seluruh Tenaga Kependidikan di sekolahnya sebagai figur-figur bersih dan terpuji karakternya.
  • Karakter memang tidak cukup diajarkan melalui lisan dan tulisan. Karakter diajarkan melalui teladan. Oleh karena itu, Ibu dan Bapak Guru yang saya muliakan, jadilah figur-figur yang diteladani oleh murid-murid dan lingkungannya. 

Akhirnya, marilah kita maknai hari guru ini sebagai momen untuk bangkit, untuk bangun dan berubah menjadi sosok guru yang benar-benar sesuai harapan siswa. Kita pasti bisa, kalau kita mau. Yang dibutuhkan adalah berpikir positif, berkata positif, bersikap positif dan bertindak positif. Jangan apriori, jangan berprasangka dan berkesimpulan negatif. Lakukan saja yang terbaik yang bisa dilakukan. Banyak harapan siswa yang digantungkan pada kita, guru. Dorong, bimbing, rangkul dan ajak siswa untuk maju dan senanntiasa memberi motivasi - semangat untuk meraih masa depan mereka, masa depan keluarga mereka, masa depan masyarakat mereka, masa depan negara mereka .... Indonesia. Selamat bekerja, selamat berkarya, semoga sukses selalu. (26000)

Senin, 17 November 2014

Manajemen -6 : Menjadi Guru Hebat, Jika Ada Kemauan Pasti Ada Jalan - Manajemen SDM, Optimalisasi Potensi Diri

Mengawali tulisan kali ini dengan memberikan ucapan selamat kepada Ibu Ruti Sumarni, S.Pd - (kandidat M.Pd) atas dipilihnya oleh sekolah sebagai GURU HEBAT yang akan diberi tugas untuk mewakili SMPN 2 Kepil sebagai kandidat pemenang dalam ajang pemilihan guru hebat tahun 2014 ini. Beberapa dekade sebelumnya, mantan guru SMPN 2 Kepil - Bpk Drs. H. Wachid Asrori dan Ibu Hj. Fajar Fatimah Winarti, S.Pd. M.Or adalah pribadi yang telah lebih dahulu menjadi orang hebat, dengan sukses berhasil mendapatkan amanah jabatan sebagai kepala sekolah. Hebat dan sukses adalah serangkaian huruf / kata yang penuh makna yang harus diperjuangkan untuk mendapatkannya.

Inspirasi tulisan Manejemen -6 ini adalah fenomena yang terjadi pada sikap suami-istri dalam suatu keluarga. "Beda antara suami dengan istri adalah SUAMI suka kalo dia dihargai, ISTRI suka kalo diperhatikan". Suami akan rela disuruh apa saja kalo dengan bahasa yang santun dan penuh penghargaan. Sebaliknya istri juga akan siap melakukan apa saja kalo dia merasa diperhatikan dengan segenap kasih sayang. Seorang istri paling suka bila diperhatikan, disanjung dan di-istimewakan. Lalu apa hubungannya dengan tema kali ini ? Penjelasan mudahnya adalah bahwa kehebatan seseorang tidak terjadi dengan sendirinya, tidak terjadi begitu saja tanpa campur tangan dan dukungan dari faktor lainnya. Ada saja peran dan dukungan dari pihak lain, baik disadari maupun tidak disadari. Contohnya, Presiden Soeharto yang hebat kala itu karena dukungan istrinya (Bu Tien) yang luar biasa, demikian pula yang terjadi pada RA Kartini bisa menjadi tokoh wanita besar karena cita-citanya didukung oleh suaminya Raden Adipati Joyodiningrat yang menjabat Adipati Rembang kala itu.

Sebelum kami lanjutkan, terlebih dahulu dengan segala kerendahan hati dan tanpa mengurangi rasa hormat kami, kami mohon maaf kepada semua guru / karyawan dan pembaca semuanya apabila pada lima tulisan sebelumnya ada yang kurang/tidak berkenan, atau barangkali bahkan menusuk dan melukai hati, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya. Terutama pada manajemen -4 dan manajemen -5 yang serasa menusuk, mencabik-cabik, mengoyak tubuh dan menyebabkan luka yang sangat terasa. Hal itu ditulis bukan tanpa alasan, namun sarat akan makna, bertujuan untuk membuka sekaligus membedah masalah agar tidak menjadi penyakit / luka yang mendarah daging dan tidak tersembuhkan. Nah, pada tulisan ini kami akan berusaha mendudukkan masalah pada tempatnya sehingga mata, telinga, kaki, tangan, kepala dan hati bisa dengan benar merasakan keberadaannya. Ibarat diagnosa dan pengobatan, pada Manajemen 1-3 adalah anestesi, 4-5 adalah operasi kecil, pada 6-7 adalah pembalutan dan perawatan luka.

Kembali ke pokok bahasan guru hebat. Pada dasarnya setiap orang bisa menjadi hebat, apabila dia paham letak kekuatan dan kelemahan dirinya, mampu memahami peluang dan ancaman, yang dalam bahasa manajemen disebut analisis SWOT. Ibu Ruti Sumarni, S.Pd bisa memiliki kualifikasi dan kinerja yang bagus sehingga dipilih untuk menjadi kandidat guru hebat tidak lepas dari kepahaman beliau akan potensi dan kriteria ini. Secara mudahnya SWOT dapat dirinci sesuai kata pembentuknya S, W, O dan T. Lebih jelasnya dapat diuraikan sebagai berikut :
  1. S, Strength = Kekuatan. Sudah menjadi sunatulloh bahwa siapapun kita pasti dikarunia kekuatan/kelebihan. Oleh karena itu setiap kita harus paham dan mampu untuk mengukur diri di mana kekuatan, kelebihan dan semua hal-hal positif yang ada pada diri kita. Dengan memahami kelebihan dan kekuatan, diharapkan kita akan bisa memaksimalkan potensi, kerja dan kinerja diri kita sesuai dengan kekuatan yang menonjol tersebut. Sebaliknya kalau tidak bisa memahaminya akan biasa-biasa saja dan cenderung stagnan atau bahkan semakin lama semakin menurun.
  2. W, Weakness = Kelemahan. Bagai pedang bermata dua, di samping punya kekuatan maka setiap kita juga mempunyai kelemahan/kekurangan. Secara fitrah, hal ini justru sebagai penyeimbang agar kita tidak menjadi orang yang jumawa, sombong dan merasa serba bisa dan sempurna. Ada yang memiliki kelemahan dalam hal kecerdasan, bidang ketrampilan, komunikasi, sosial dan moral. Kita harus bisa mawas diri, instropeksi diri dimana kelemahan terbesar kita dan kelemahan dominan lainnya, karena bisa jadi kita mengumpulkan beberapa kelemahan sekaligus. Dengan memahami kelemahan kita, selanjutnya diharapkan dapat berupaya dengan berbagai latihan untuk mampu meminimalisir, mengurangi atau bahkan menghilangkan kelemahan tersebut.
  3. O, Opportunities = Peluang. Peluang ini sangat terkait dengan waktu dan kesempatan. Berapa banyak orang sukses karena paham dan bisa memanfaatkan peluang / kesempatan. Sebaliknya berapa banyak orang gagal dalam hidupnya karena salah dalam memanfaatkan peluang yang ada. Setiap kita harus benar-benar mampu membaca peluang dalam arti yang positif. Kapan, di mana, siapa dan bagaimana memanfaatkan peluang untuk kesuksesan kita dalam membangun diri dan membangun sistem, akan kami tuliskan pada Manajemen -7 mendatang.
  4. T, Threats = Ancaman. Ancaman dalam arti positif bisa diartikan tantangan, hambatan. Dalam setiap aktifitas tidak lepas dari tantangan, hambatan dan ancaman. Perlu dipahami ancaman yang mungkin terjadi dari setiap tindakan, keputusan dan sikap yang kita lakukan, agar kita bisa mengantisipasi berbagai kemungkinan yang akan terjadi. Dalam kontek manajemen yang lebih luas maka ancaman bersifat lebih kompleks dan beragam dan akan berdampak lebih krusial dan komunal, berkaitan dengan untung rugi dan keberlangsungan sistem manajemen.
Ibu Ruti Sumarni, S.Pd bisa hebat, karena mampu menganalisis diri dan mampu mengoptimalkan potensi, sehingga setiap waktu, setiap kata, setiap perbuatan beliau menjadi lebih bermakna. Tidak menutup kemungkinan bagi yang lain, siapa saja. Dan setiap kita bisa untuk menjadi lebih hebat dari yang telah terjadi selama ini. Pak Agus Yus bisa hebat dengan IPS dan kesiswaannya, Pak Aris dengan seni dan pramukanya, Pak Ismain dengan aritmatika dan BOS-nya, Bu Yuli dan Pak Bagus dengan ekonomi dan analisis kalkulusnya, Pak Widodo dengan MC permadani dan paskibranya, Bu Laras dengan sastra dan pustakanya, demikian juga untuk bapak/ibu yang lain.

Akhirnya, semua tetap kembali pada kita masing-masing. Mau berubah menjadi lebih baik atau sudah merasa cukup dengan karya dan kinerja saat ini. Satu pesan dari sebuah kata motivasi, Jangan bangga dan berhenti dengan apa yang sudah terjadi, kesuksesan yang sudah berlalu, karena hal itu tidak akan merubah apapun. Namun lakukan selalu perubahan untuk sebuah harapan yang lebih baik. Selamat berkarya, semoga sukses. (25715)

Jumat, 14 November 2014

Grup Band "D'Guru" - Ajang Kreasi dan Aktualisasi Jiwa Seni Guru SMPN 2 Kepil, Maju dan Eksiskan Sekolah Menjadi Lebih Aktif dan Dinamis

Hampir setiap Senin sore, Selasa sore dan Sabtu sore terdengar bunyi drum, gitar, bass dan organ mengiringi lagu yang sangat energik dan nyaman mengiringi aktifitas guru dan siswa dalam menyelesaikan tugas dan pelajaran tambahan.

Sejak terbentuk sekitar 3 bulan yang lalu, suasana sekolah seusai KBM serasa nampak lebih hidup. Grup band ini diprakarsai oleh Bapak Drs. Kardan (kepala sekolah) yang punya hobi di bidang seni. Grup band yang pada awalnya diperuntukkan sebagai ajang kreatifitas dan aktualisasi guru dalam seni musik dan seni vokal itu diberi nama "D'GURU". Selain sebagai ajang latihan dan aktualisasi diri dalam bidang seni, sekaligus sebagai sarana untuk relaksasi, refreshing dan hiburan di sela-sela kegiatan KBM yang sangat menyita waktu, tenaga dan pikiran sebagai guru.

Realitanya, baru dalam tahap belajar saja sudah nampak sangat kompak dan bagus. Menarik dan penuh inspiratif, terutama ketika melihat aksi Rini Ernawati siswi kelas 8 D memainkan stik drum dengan lincahnya. Ia mampu memainkan alat musik dengan feeling yang pas ketika mengiringi berbagai lagu yang dinyanyikan sang vokalis. Demikian juga untuk drumer laki-laki yang berbakat dan sering ikut berlatih adalah Feri Sulistiyo 9 D dan Arif Gunanto 9 C. Adapun untuk posisi gitar dan bass yang sedang latihan secara intensif adalah Ibu Nureani Dwi Hastuti, Tyas Rahmawati 8 D, Ratih Desi 8 D dan Bpk M. Bagus Panuntun. Untuk posisi organ sementara diisi oleh ketiga para pelatih yang sekaligus maestro seni di SMPN 2 Kepil, yaitu 1. Bpk Drs. Kardan, 2. Bpk Yosep Luhvendi, S.Pd. dan Bpk Suronto yang punya talenta serba bisa.

Vokalis, yah ... ternyata banyak guru SMPN 2 Kepil yang berbakat jadi vokalis handal. Dengan hanya beberapa kali latihan langsung bisa menempatkan diri menjadi vokalis yang hebat. Inilah mereka jajaran vokalis dengan kemampuan dan semangat yang luar biasa : Bpk Widodo, Ibu Yani Widayati, Ibu Ratna Yuli dan Bpk Agus Yuswantoro. Beliau-beliau ternyata punya bakat yang luar biasa dan serba bisa, mulai dari lagu lawas, campursari, pop hingga dangdut terpopuler seperti yang dinyanyikan Cita Citata "Sakitnya tuh disini" ....

Lagu baru yang ngetrend di kalangan guru SMPN 2 Kepil bertajuk "Wong yen lagi gemblung, ra perduli mbledose gunung ..... dst. Semangat Pak Kardan dan Pak Vendi ketika mengajari teman-teman pemain band D'GURU sangat luar biasa, semangat dan penuh inspiratif. Maju terus, selamat berkarya dan aktualisasi diri. Semoga sukses. (25650)